Wujudkan Mimpi, Seimbangkan Hak dan Kewajiban

Sebagian besar orang berfikir bahwa wanita tidak perlu berpendidikan tinggi karena toh kita akan kembali menjalani tugas sebagai ibu rumah tangga. Namun tidak dengan bu Efri, beliau berhasil menyelesaikan studi S3 nya dan kini menjabat sebagai ketua Program Studi S1 dan S2 Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran. Dr. Efri Mardawati, ST.,MT (39) yang akrab dipanggil Uni Efri ini berasal dari Agam, Sumatera Barat.

 

Pembawaan diri yang hangat dan bersahaja membuat semua orang betah untuk berlama-lama berbagi kisah dengannya. “Ya, saya kadang berfikir dibebankan oleh Allah sesuatu diluar batas kemampuan saya”, ujar beliau ketika mengawali kisah. Bagaimana tidak, disaat kelas 4 sekolah dasar, beliau dituntut untuk merawat kedua adiknya beserta seluruh pekerjaan rumah. Di masa kecilnya, beliau seringkali ditinggalkan kedua orang tuanya untuk berdagang dari satu daerah ke daerah lainnya.

Uni Efri di masa kecil tidak mengenal kata bermain layaknya anak biasa. Sepulang sekolah biasanya beliau langsung mengerjakan berbagai tugas rumah tangga dan belajar. Hebatnya, ditengah kesibukan mengurus rumah tangga, beliau tetap berprestasi . “Walaupun saya dari desa, amak selalu berpesan untuk sekolah setinggi-tingginya”, kata Bu Efri sambil mengenang masa lalu. Motivasi terbesar beliau memang dorongan dari kedua orang tuanya terutama sang ibu.

Setelah menyelesaikan studi di Sumatera Barat, beliau berhasil masuk ke salah satu perguruan tinggi Top di Indonesia yaitu Institut Pertanian Bogor. “Saya sempat mengalami culture shock saat sekolah di IPB”, tegas beliau. Perlu setidaknya 6 bulan bagi beliau untuk menyesuaikan diri. Lulus dari IPB selanjutnya beliau melanjutkan studi ke Institut Teknologi Bandung. Disana beliau menjalani studi dengan berlepas dari tunjangan finansial dari orang tua. Puncaknya adalah ketika usaha dari orang tua beliau bangkrut. Beliau ketar ketir mencari sumber penghasilan sampai akhirnya menjalani beberapa profesi yaitu guru les kecil-kecilan serta berjualan susu kedelai. Seringkali beliau menjajakan susu kedelai di pasar mingguan di sekitar pusdai atau gazibu.
“Pernah amak uni menangis karena melihat anaknya jualan susu kedelai padahal studi S2”, jelas beliau. Padahal pada saat itu, beliau masih memiliki tuntutan untuk membiayai saudara-saudaranya yang masih sekolah. Namun beliau tetap berusaha sampai akhirnya mendapatkan tunjangan untuk studi serta beberapa project yang dikerjakan bersama dosennya.

Belum usai ujian yang didapatkan, setelah lulus dari ITB kemudian dihadapkan pada realita pendidikan di perguruan tinggi swasta. Meskipun dengan gaji yang sangat kecil beliau bersyukur karena masih dipercayai Allah untuk tetap berbagi ilmu. Beberapa waktu berselang beliau bekerja di salah satu perusahaan kerudung ternama. Disana beliau menjadi kepala HRD dengan gaji yang memang bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Namun memang keinginan untuk menjadi pengajar masih besar. Bak gayung bersambut, pada waktu itu ada pembukaan bagi pendaftaran dosen di Fakultas Teknologi Industri Pertanian. Singkat cerita akhirnya beliau menjadi salah satu pengampu di FTIP Unpad. Pada awalnya memang cukup sulit untuk masuk kedalam lingkungan baru, terlebih beliau sama sekal tidak memiliki kolega di unpad dan bukan lulusan unpad. Keinginan belajar yang besar serta mencoba untuk beradaptasi membuat beliau mampu bertahan sampai sekarang. Terlepas dari jabatan yang kini dimiliki, mimpi besar beliau adalah menjadi seorang pengajar dan peneliti yang andal. “Disinilah ladang amal saya. Ilmu pengetahuan yang dikaji, mudah mudahan dapat dimanfaatkan bagi masyarakat sekitar”. 5 besar Finalis National Fellowship L’Oréal-UNESCO For Women in Science 2015 pada bidang lifescience ini aktif melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Baginya, amanah ini adalah ladang dakwah dan ikhtiar amal jariyah kedepannya.

Karir sebagai ibu rumah tangga, beliau selalu belajar dan berusaha membagi waktu bagi keluarga dan karirnya dikampus. Anak sulung beliau kini duduk dikelas 4 sekolah dasar dan mampu menghafal juz 30. Ibu dari 2 orang anak ini juga berpesan bahwa sudah menjadi sebuah keharusan bahwa wanita berpendidikan agar generasi yang dititipkan sang khaliq menjadi generasi terdidik. Tetap berbaik sangka atas ujian yang Allah berikan karena sesungguhnya dengan ujian itu Allah sedang mendidik kita agar siap menghadapi masa depan. Jalankan hak dan kewajiban sebagai seorang perempuan dan wujudkan mimpi tertinggi.
Komisi C FSLDK Bandung Raya

Categories