Visa Untuk Penjajah

Visa Untuk Penjajah

IMG-20150813-WA0029

Olahraga, hak untuk bepergian, berwisata, dan berkunjung ke berbagai negara, merupakan milik manusia yang merdeka. Karena sudah tidak ada perbudakan, katanya, di zaman modern, zaman kapital, politik, dan lobi. Jadi sah-sah saja, jika kita memberikan suaka politik pada warga negara tertentu yang mungkin musuh kita, mempersenjatai para gerilyawan di suatu negara untuk melakukan perlawanan, atau memberi berbagai hak-hak khusus bagi negara-negara yang katanya sahabat, dan bisa mendatangkan keuntungan bagi negara. Bukan sebuah zaman, ketika kita berpegang teguh pada idealisme leluhur, politik yang jujur dan adil, dan ekonomi yang bebas dari penipuan.

Jadi, bukan sebuah kesalahan memberikan hak visa Indonesia, mungkin visa tinggal atau visa berwisata, atau visa menjadi atlet untuk pebulutangkis dari Israel, toh mereka juga manusia merdeka. Bukan kesalahan juga membiarkan mereka unjuk kemampuan dan kebolehan dalam perlombaan yang bertajuk bulutangkis, atau apapun itu karena mereka tidak sedang bertempur dan mencincang orang Indonesia, hanya orang Palestina kok yang mereka cincang. Sebuah tindakan mulia juga bangsa Indonesia menyambut tamu, memberi hak-hak diplomatik, walaupun katanya kita tidak memiliki hubungan diplomatik apapun dengan Israel, bahkan tidak ada kedutaan besar Israel di Indonesia, maksudnya, tidak ada kedutaan formalnya.

Justru Soekarno yang salah, para pendiri bangsa ini yang salah, para pendahulu ini yang salah, karena berpegang pada prinsip membalas budi kepada sesama negara merdeka ketika membela hak-hak Palestina dan menolak hak-hak penjajah. Salah Soekarno juga mengusir para atlet dari Israel dalam Asian Games 1962 (meskipun diusir bersama atlet dari Taiwan), sehingga Indonesia dilarang tampil pada Olimpiade Tokyo. Salah Soekarno dan para pendiri bangsa juga yang mengatakan, akan terus menolak penjajahan di muka bumi dan Indonesia akan menjadi yang terdepan membela Palestina ketika Palestina terjajah,  meskipun kata-kata itu tertuang pada pembukaan undang-undang dasar 1945.

Ketika dunia modern membuat kita memandang benar apa yang salah, ketika lobi dan kepentingan ekonomi-politik membuat kita buta akan realita, maka sejarah akan membuktikan siapa sebenarnya yang benar dan siapa yang salah. Sejarah membuktikan kita pernah menjadi bangsa yang sangat kuat, berdaulat, dan teguh dalam memegang prinsip dan balas budi, serta kesadaran bersama. Sejatinya, Indonesia masih merupakan keturunan dari mereka yang tahu balas budi dan tahu siapa penjahat, siapa sekutu. Lantas, apakah saat ini kita tidak memiliki kemampuan apapun guna berkata kami menolak penjajahan!?. Bukan dari nilai visa dan hak asasi yang harus dipenuhi atau hak-hak tamu, tetapi prinsip seperti apa yang sedang Indonesia pegang dan perjuangkan? Sehingga beramah tamah pada penjahat dan perampas?. Visa untuk atlet Israel, bukan pemberian hak, tetapi sebuah bukti tumbangnya prinsip para pendiri bangsa ini di tangan para penerusnya.

Maka, kami atas nama bangsa Indonesia yang masih teguh menjujung kemerdekaan atas segala bangsa, menolak sebuah tindakan yang mencoreng nilai-nilai luhur bangsa Indonesia dengan memberikan visa kepada atlet israel yang terbukti masih setia sebagai penjajah dunia.

FSLDK Indonesia

Categories