Category Archives: Puskomnas

WhatsApp Image 2017-04-06 at 06.28.53

PRESS RELEASE AKSI KEMANUSIAAN SUARA UNTUK SURIAH FSLDK INDONESIA

By | Indonesia, Puskomda, Puskomnas, Puskomnas, Rilis | No Comments

WhatsApp Image 2017-04-06 at 06.28.53

Kabar duka dari Suriah kembali menjadi nada sumbang omong kosong penegakan perdamaian dunia. Pada Selasa (3/4) kemarin, puluhan masyarakat sipil kembali menjadi korban serangan brutal pesawat yang diduga milik tentara suriah , melalui serangan udara menggunakan senjata kimia gas beracun di kota Idlib, Suriah. Penyerangan yang terjadi dini hari tersebut, telah menyebabkan 58 orang syahid, termasuk wanita dan 11 diantaranya anak-anak. Serangan gas beracun tersebut mengakibatkan puluhan korban menggeliat di tanah, tidak bisa bergerak dengan mata terbelalak, sesak napas akibat tersedak gas beracun yang mereka hirup.

Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia pada Kamis (6/4), melakukan aksi kemanusiaan “Suara untuk Suriah” sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas masyarakat Indonesia terhadap tragedi penyerangan masyarakat sipil yang terjadi di Suriah. Aksi kemanusiaan ini dilaksanakan serentak di 22 daerah di Indonesia, antara lain Lampung, Kalimantan Barat, Kepulauan Riau, Solo, Banten, Jambi, Aceh, Depok, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Bandung, Nusa Tenggara, Sumatera Selatan, Ternate, Malang, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Priyangan Timur, Kalimantan Barat, Surabaya, Bali, Sumatera Barat dan Bangka Belitung, dan masih akan disusul di beberapa daerah lainnya dalam beberapa hari kedepan.

Aksi kemanusiaan yang bertajuk “Suara untuk Suriah” ini berhasil melibatkan lebih dari 500 massa aksi dari berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa umum di masing-masing daerah. Serangkaian aksi berjalan lancar, diawali dengan orasi kemanusiaan oleh perwakilan Lembaga Dakwah Kampus (LDK), Puskomda dan Puskomnas, dilanjutkan dengan Freeze Mob oleh seluruh massa aksi, yang diikuti dengan pembacaan puisi kemanusiaan “Untukmu Suriah” , galang dana dan ditutup dengan doa bersama.

Hari ini kita berdiri menjawab panggilan sebagai bentuk pengabdian pada Allah.Tak peduli sengatan matahari dan guyuran hujan kita tegaskan bahwa anak kandung Indonesia berdiri bersama mujahidin Suriah menentang penjajahan asing dan rezim bashar alassad” Tegas Hanafi Ridwan Dwiatmojo, ketua Pusat Komunikasi Nasional FSLDK Indonesia.

#FSLDKIndonesia
#SuaraUntukSuriah
#SaveSuriah
========================
📍 Media FSLDK Indonesia 📍

🌏 Web: www.fsldkindonesia.org
👥 Fanspage: FSLDK Indonesia
📸 Instagram: @fsldkindonesia
🐤 Twitter: @fsldkindonesia
💡 Line@: @yok1532s
🎥 Youtube: FSLDK Indonesia
📮 Google+: FSLDK Indonesia
📧 Email: info@fsldkindonesia.org

malang

Sukses itu… Amah Nana Menjawab

By | Inspirasi, Kerjasama, Puskomnas | No Comments

Jadilah perempuan yang terbaik, berkeinginanlah dan niatkan dengan dakwah. Buatlah mindset perempuan adalah pencetak generasi bangsa yaitu peran sebagai ibu sendiri. Namun jangan lupakan peran kita sebagai anak untuk orang tua dan juga sebagai istri untuk suami.

malang
Ana Fikrotuz Zakiyah M.Pd lahir di Malang, 17 September 1970. Sapaan hangat beliau amah Nana. Amah Nana bersama suami Dr Jamal Lulail Yunus diiberikan amanah mendidik dan membentuk empat orang anak yang in syaa Allah akan menjadi generasi Rabbani penerus estafet dakwah. Keluarga kecil amah Nana yang harmonis dan bahagia memberikan banyak inspirasi bagi orang-orang disekitarnya.

Amah nana yang saat ini menjadi seorang pengajar di sebuah sekolah di kota Malang, bersama suami aktif di berbagai aktivitas pembinaan keluarga di Malang dan tentunya aktivitas menjadi ibu rumah tangga. Di tengah kesibukan yang mengiringi langkahnya, ia tidak pernah melupakan peran sebagai ibu rumah tangga dikeluarga kecilnya.
Berbicara tentang prestasi sosok seorang ibu, amah Nana menjadi salah satu contohnya. Anak pertama beliau Abdul Jabbar Jawwadurrohman menorehkan banyak prestasi dibidang akademik salah satunya menjadi Mahasiswa Berprestasi begitu pula dengan aktifitas diluar kampus. Jawwad sapaannya sering menjadi pemateri di agenda-agenda nasional. Bersama adeknya pula Silmy Kaffah Rohayna menerbitkan beberapa buku motivasi untuk anak muda.

Itulah sekilas cerita tentang buah hati amah Nana yang berprestasi, banyak cerita yang tak terungkap. Ada hal yang membuat itu bermakna. “Saya dan suami tidak memaksakan nilai dan apapun prestasi yang sudah ditorehkan, itu harus disyukuri. Jadi, bersyukurlah maka itu bisa menjadi proses yang in syaa Allah yang dikehendaki. Karena Allah tidak semata-mata menilai kepada hasil tetapi prosesnya pula. Di keluarga kami meyakini bahwa kesuksesan bukan berada pada penilaian sukses atau tidak. Maka sukses apabila sepeninggal kami masih tersisa manfaat-manfaat yang dulu pernah kami torehkan.” ucapnya dengan penuh senyum.

Di akhir cerita, amah Nana memberikan tips keluarga harmonis nih buat teman-teman. Memiliki persiapan sebelum menikah nantinya dengan memperbanyak doa dan selalu bersyukur dengan hal yang baik maupun buruk yang terjadi pada diri kita. Karena menikah itu ibadah, maka jangan menunggunya dengan keresahan. Lakukanlah proses memantaskan diri itu dengan segala persiapan. Ketika kelak menjalani pernikahan dan mengelola keluarga yaitu menjadi istri dan ibu maka kuncinya ada di komunikasi. Kurangi sikap perhitungan dan lapang dadalah. Selain itu tipsnya adalah diadakannya forum keluarga yang harus di agendakan secara khusus dimana setiap anggota keluarga hadir maka disitulah nanti akan berjalan komunikasi yang harmonis. Bukan hanya satu arah dari orangtua kepada anak, namun saling memberi feedback satu sama lain. Forum ini juga melatih kejujuran dan keterbukaan didalam keluarga. Inilah yang diterapkan amah nana bersama keluarga.

Komisi C Malang Raya

fsldk-logo

FSLDK Indonesia Mengecam Kriminalisasi Ulama dan Tindakan Inkonstitusional Aparat Negara

By | Indonesia, LDK, Puskomnas, Rilis | No Comments

fsldk-logo

Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus Indonesia (FSLDK Indonesia) menyatakan kekecewaannya terhadap Polda Metro Jaya yang pada Kamis kemarin (30/3/17) melakukan penangkapan terhadap Sekjend Forum Umat Islam (FUI) K.H Al-Khaththath, dan lima ulama lainnya dengan tuduhan makar. Penangkapan ini dilakukan pada malam hari, sebelum dilaksanakannya aksi 313.

K.H Al-Khaththath merupakan pimpinan aksi 313, yang dalam tuntuntannya hendak mendesak kembali pemerintah menuntaskan kasus penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang semakin kabur. Dugaan makar yang menjadi alasan kuat ditangkapnya ulama umat Islam, K.H Al-Khaththath, telah menunjukkan bahwa pemerintah semakin gentar dengan desakan umat Islam melalui aksi-aksi besar yang berkelanjutan menyerukan ketegasan sikap pemerintah terhadap penista agama.

Tertanggal 16 November 2016 Bareskrim Mabes Polri menetapkan Ahok sebagai tersangka dan pada sidang perdana yang digelar di Gedung Bekasi Pengadilan Jakarta Pusat menetapkan Ahok sebagai terdakwa dalam gelar perkara terbuka terbatas kasus penistaan agama. Namun hingga saat ini proses hukum berjalan lambat dan terkesan bertele-tele. Hal ini merupakan wujud penanganan hukum yang serampangan dan tidak segera, bahkan mengindikasikan aparat berlama-lama dan tidak tegas dalam menyelesaikan perkara tersebut, mengaburkan perkara dan melemahkan kekuatan hukum. Karena tak selayaknya seorang penista agama yang telah menodai kebhinnekaan dan keutuhan bangsa bebas melenggang dan bahkan bebas hukum.

Undang-undang No. 9 Tahun 1998 menyatakan tiap indvidu di Indonesia dapat mengemukakan aspirasinya sebagai perwujudan kebebabasan berpendapat. Hal tersebut adalah bukti shohih bahwa rakyat mengemukakan pendapat dijamin kebebasan dan keberadaannya secara konstitusi. Namun sikap represif aparat dan sikap inkonstitusional pemerintah yang dengan mudahnya menyematkan tuduhan makar pada rakyat, terlebih pada alim ulama dan para asatidz yang menjadi pewaris para nabi dan kepercayaan umat Islam, telah menodai demokrasi Indonesia dan mengganggu keutuhan berbangsa dan bernegara.

Maka kami, FSLDK Indonesia dengan ini menyatakan sikap:

1. Pemerintah dan para aparat penegak hukum harus menyelesaikan perkara ini dengan segera dan tidak bertele-tele

2. Pemerintah dan aparat penegak hukum harus menegakkan hukum dengan seadil-adilnya

3. Mengecam keras tindakan Polda Metro Jaya atas tindakan penangkapan dan sikap represif aparat yang semena-mena

4. Mengecam keras tindakan pemerintah dan aparat negara yang dengan mudahnya menyematkan tuduhan makar pada rakyat yang menyampaikan aspirasinya secara benar sesuai hukum

5. Menghimbau kepada seluruh rakyat Indonesia, khususnya umat Islam agar berdoa dengan sebaik-baik doa untuk kebaikan Negara dan Bangsa Indonesia

Apabila pemerintah dan aparat penegak hukum tidak mengindahkan konstitusi dan peraturan yang berlaku, maka sesungguhnya telah terjadi penodaan terhadap supremasi hukum dan tindakan yang inkonstitusional dan sewenang-wenang.

Semoga Allah menjaga negeri ini dari tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab.

Allahu Akbar!

Surakarta, 1 April 2017
Ketua Puskomnas FSDLK Indonesia

Hanafi Ridwan Dwiatmojo

kewajiban-anak-laki-terhadap-ibunya

Untukmu, Ibu

By | Inspirasi, Puskomnas | No Comments
hadiah-terindah-di-hari-ibu

Sumber Gambar : kabarmakkah.com

Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Ku pandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku

Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang

Nada nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci
Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan

Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang

Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan slalu ada di dalam hatiku

Lirik lagu itu tak asing, bukan? Ya, Bunda judulnya. Lagu yang menggambarkan sosok ibu. Hari ini menjadi ramai pembicaraan tentang ibu. Karena hari ini Hari Ibu Nasional. Kenapa hanya satu hari dalam setahun? Kenapa tidak setiap hari adalah hari ibu?

Ibu, adalah wanita yang paling hebat. Mungkin yang nanti akan “menyaingi” kehebatanmu hanyalah istri. Istri? Ah itu nanti saja. Sembilan bulan sepuluh hari kata teori, engkau mengandung kami. Kemana-mana ikut. Aktivitasmu jadi tidak seleluasa biasanya. Tidur pun tidak bebas. Bahkan makan pun bisa jadi akan pilih-pilih. Kata orang, karena bawaan yang di dalam perut.

Semua tau pengorbananmu. Saat kami ingin menatap dunia, maka engkau akan mendekat gerbang maut. Menahan rasa yang amat sangat sakit. Hanya agar engkau bisa bertemu bayimu. Dan seketika sakit itu hilang saat kau lihat anakmu. Dari situ mulailah engkau rawat kami. Dengan segala kesusahan dan kerewelan yang ada. Yang kadang menguras kesabaran. Tak jarang pula memancing emosi. Namun, pasti engkau berusaha sabar sepenuh hati.

Engkau pastikan kami tidur nyenyak. Walau harus kau tahan kantukmu. Engkau pastikan kami kenyang dan makan enak. Walau harus kau tahan laparmu. Engkau pastikan kebutuhan kami tercukupi. Walau harus kau tahan lelahmu. Engkau pastikan kami dapat yang terbaik. Walau harus kau korbankan banyak hal. Lalu perlahan kami tumbuh besar, dan akan semakin jarang pulang. Semakin sedikit waktu untukmu.

Ibu, bagaimana perasaanmu saat kami jauh? Saat kami jarang memberi sapa. Jarang bertanya kabar. Bagaimana perasaanmu saat kau melepas kami pergi? Kau lepas dengan selalu menitipkan pesan. Mencoba tegar. Namun kadang kau tak mampu membendung air matamu. Bagaimana perasaanmu? Kami tak mampu membaca perasaanmu. Tak mampu merasa batinmu. Maafkan anakmu, Ibu. Maafkan.

Apa yang kami berikan padamu tak akan pernah sebanding dengan segala pemberianmu. Tak akan pernah. Lalu bagaimana andai kami belum bisa memberi apa-apa? Kecuali kenakalan yang membuatmu sedih. Dan segala beban yang membuatmu banyak pikiran. Ya Allah. Maafkan kami.

Saat kami sadar bahwa tiap detik berlalu berarti semakin dekat kita dengan senja. Kami tak mampu memberi apa-apa. Hanya bisa berharap dan berusaha, kelak suatu saat nanti kami bisa simpulkan senyum di bibirmu. Membuatmu bahagia. Dan, tentu kami selalu ingin menjadi hartamu yang paling berharga. Yang menjadi penyambung amal baikmu saat kau berpisah dengan dunia. Menjadi amal terbaikmu dan menjembatani hingga surga.

Ibu, walau mungkin jarak dan waktu mulai jarang mempertemukan kita, namun yakinlah bahwa harimu bukanlah satu diantara 365. Tapi harimu adalah satu diantara 7. Harimu bersama anakmu adalah sepanjang masa. Karena kami akan selalu bersamamu dalam doa. Seperti engkau yang tak luput menyebut kami setiap hari, dalam munajat pada Sang Mahakuasa.

Wahai Tuhan Pencipta dan Penguasa Alam Raya, Allah ‘azza wa jala, semoga tiap letih, tiap tetes peluh, air mata, bahkan darah yang dikorbankan ibu kami terbayarkan pada diri kami yang Kau ridhai untuk menjadi sebaik hartanya. Sebaik amalnya. Hingga nanti ia bertemu dengan-Mu di surga, dalam keabadian. Semoga hadirnya kami memang untukmu, Ibu.

Penulis,

@hanafiridwan

fsldk-logo

Diam Adalah Penghianatan

By | Puskomnas, Rilis | No Comments

fsldk-logo

 

 

Pada hari Jum’at yang penuh barokah ini, 28 Oktober 2016 bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, kami FSLDK Indonesia kembali melakukan aksi turun ke jalan, setelah 10 hari yang lalu aksi kami tidak digubris. Aksi ini dilakukan di berbagai kota di Indonesia, diantaranya adalah Pangkalpinang, Bandung, Tasikmalaya, Semarang, Bandar Lampung, Jogjakarta, dan Solo. Yang kami ingin lakukan sederhana, untuk Menjaga Indonesia. Menjaga dari tindak arogansi yang mengancam keutuhan NKRI. Menjaga dari adab dan etika tercela seorang pejabat publik.

Aksi kami akan senantiasa dilakukan dengan tertib, sebagaimana W. R. Supratman menggesek biola untuk memainkan lagu Indonesia Raya. Namun tujuan kami jelas, tuntutan kami tegas. Sebagaimana teks sumpah pemuda 88 tahun lalu.

Kehadiran kami hari ini dilakukan untuk :
1.  Menjaga supremasi kebhinekaan yang mengayomi dan anti-provokasi
2. Menuntut sistem kepemimpinan yang beradab, bertata krama, serta mengutamakan persatuan dan kesatuan daripada ego individu atau golongan
3. Menyerukan penjagaan Indonesia bagi siapa yang mencintainya. Dengan cara menolak tindak laku provokatif dan arogan.
4. Supremasi hukum yang adil bagi setiap golongan. Serta menuntut aparat penegak hukum untuk kembali pada kedaulatan hukum dan aturan di Indonesia dengan mengadili secepatnya pelaku, penistaan agama dalam hal ini adalah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atas dugaan pelanggaran UU No.1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, serta pasal 156a KUHP tentang Penistaan Agama.

Indonesia adalah negara hukum, maka apabila kita berdiam diri dari menegakkan keadilan hukum, hari ini kita adalah penghianat negara. Ketika dagelan yang tidak lucu senantiasa dilakukan yang berakhir perpecahan, ketika hukum hanya jadi bahan tertawaan, maka Indonesia kita hari ini sedang terancam. Terjaganya Indonesia yang rukun dan damai akan kembali kepada tangan para pemuda yang tulus mencintainya.

Mari berjuang! Karena Allah bersama kita.

 

e382aae38390e3839ee381aee3818ae8be9ee58480

Berlelah-Lelah di Tempat Yang Salah

By | Inspirasi, Puskomnas | No Comments
e382aae38390e3839ee381aee3818ae8be9ee58480

Sumber Gambar: copypastenih.files.wordpress.com

Penulis: M. Syukri Kurnia Rahman

Tadi pagi pas sholat ied, ada bocah ingusan lari-lari di sepanjang muka sajadah. Dari ujung shaff ke ujung yg lain, nabrakin apa aja yg jadi pengganggu “jogging” paginya. Asik kali ya, pas sholat lari-lari, selesai sholat liat orang nyembelih sapi. Hajar terus, son!

Lama-lama bocah ini mendekat ke sajadah saya. Di ujung sajadah itu udah ada kacamata yg saya lepas dari kepala. Kalo keinjek, lumayan juga. Lagian saya pikir, bocah ini harus segera dihentikan sebelum banyak korban yg berjatuhan. Maka tepat sebelum kakinya menjejak sajadah saya, saya hadang dia dengan tangan saya. “Udah dek, hentikan semua sandiwara ini!!” Kira-kira begitu. Haha.

Dia berhenti sejenak. Maju-mundur nggak jelas. Mau maju, kehadang tangan. Mau mundur, tengsin lah ya. Awkward moment tak bisa dihindarkan. Begitu tangan saya saya lepas, dia nyelonong aja tanpa dosa. Kabur. Setelah menghilang entah kemana, eh si unyil ini balik lagi, tapi sekarang doi nangis sambil manggil-manggil bapaknya.

“Aaaayyaaaahhh”

Ternyata dari tadi bocah ini mondar mandir nyari bapaknya. Baru ngeh gue. Masalahnya, ini baru permulaan rokaat kedua, dan imamnya lagi baca surah An-Naba’. Bakal panjang pencarian lu, nyil. Jadilah dia nangis sampai salam, sambil mondar mandir di sekitar shaff saya. Selesai salam, sang bapak segera berdiri dan menghampiri sang anak.

Ini yg membuat saya geleng2 kepala: tempat sholat sang bapak ternyata persis ada di depan shaff saya. Jadi sebenarnya sepanjang pencariannya tadi, bocah ini udah ngelewatin bapaknya berkali-kali! Tapi karena doi lewat di belakangnya, jadilah wajah sang bapak tak terdeteksi. Ketemunya cuma sama sarung. Dia hafal wajah bapaknya, tapi tidak dengan sarung yg beliau pakai pagi itu. Haha.

Nah selama ini, bisa jadi kita kayak gitu juga sama Allah. Kita kayak ngerasa lg nyari Allah, padahal kita salah jalur. Kita berlelah-lelah di tempat yang salah.

Saya pernah kenal sama mahasiswa semester 3 yang ngerasa hidupnya kok datar2 aja. Nggak ngerasain asiknya kejutan2 baru gitu. Dia pikiriiiiiin terus gimana caranya biar hidupnya berwarna. Tapi teteeeep aja nggak ketemu jawabannya. Akhirnya dia sadar kalo dia salah. Selama ini dia cuma ngandalin otak, padahal yg bisa ngabulin keinginannya adalah Allah, bukan itu otak. Maka dia putusin buat cari Allah. Datenglah dia ke ATM. Ngapain? Cari Allah di ATM? Bukan, tapi nguras duit. Diambil lah semua duit yg ada di atm nya. Abis itu dia sumbangin semua ke panti asuhan. Dia cari Allah disana. Eh, bener.. Nggak lama setelah itu, doi dapet kesempatan buat keliling indonesia gratis. Sama Allah diterbangin dari ujung barat sampai ke hampir ujung timur Indonesia. Kok bisa? Gimana caranya? Namanya juga keajaiban, yawis jangan dipikir. Jalani aja. Sama kayak ibrahim mau nyembelih ismail, mau dipikir kayak gimana juga tetep nggak masuk akal. Masa iya Allah nyuruh bapak nyembelih anaknya sendiri? Tapi ibrahim udah “ketemu” sama Allah. Dia yakin itu perintah Allah, jadi ya dia jalan aja. Dan bener kan, ibadah qurban kita saat ini berawal dari keajaiban yg dialami Nabi Ibrahim saat itu.

Jadi udahlah.. Saatnya kita berhenti untuk berlelah2 di tempat yang salah. Sekarang waktunya kita bersibuk ria di track yg tepat. Jalani saja kewajiban dari Allah, biar hidup kita enteng tapi berkelas. Santai tapi berkualitas.

Bayangin kalau kita sibuk kerja siang malem sampai lupa sholat. Begitu uang milyaran udah di depan mata, trus sama Allah kita dibuat kena stroke, mau apa lagi? Capek iya, nikmatin enggak.

Jare wong malang, lak yo tewur to sam.

whatsapp-image-2016-09-12-at-07-21-56

Menuju 30.000 Generasi Baru FSLDK Indonesia

By | Puskomnas | 2 Comments

whatsapp-image-2016-09-12-at-07-21-56

Penulis: Hanafi Ridwan Dwiatmojo

Memasuki usia 30 tahun, Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia bertekad untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas anggotanya untuk lebih istiqomah dalam mencetak calon pemimpin bagi bangsa Indonesia. Dalam usia 30 tahun ini, FSLDK memproklamirkan suatu program yang diharapkan dapat menambah kapabilitas para anggotanya dalam kebermanfaatan bagi umat. Program tersebut diberi nama 30.000 Generasi Baru FSLDK Indonesia. Program ini adalah suatu program yang dicanangkan oleh FSLDK Indonesia dalam rangka untuk meningkatkan semangat dan kreativitas kaderisasi LDK seluruh Indonesia dalam menjaring mahasiswa-mahasiswa muslim baru agar bergabung bersama FSLDK Indonesia.

Mengapa program ini penting untuk setiap LDK? Karena kaderisasi bisa diibaratkan sebagi jantungnya sebuah organisasi, tanpa adanya kaderisasi rasanya sulit dibayangkan suatu organisasi mampu bergerak maju dan dinamis. Sebagai salah satu lembaga yang menginisiasi perubahan bangsa, FSLDK Indonesia bergerak melaju dalam ranah perbaikan pemuda khususnya mahasiswa. FSLDK Indonesia melalui bermacam tahapan telah menorehkan berbagai prestasi di lebih dari 700 Lembaga Dakwah Kampus dan 32.000 Aktivis Dakwah Kampus yang tersebar diseluruh penjuru Indonesia. Mereka telah mampu menciptakan perubahan-perubahan perbaikan di seluruh baik kecil maupun besar.

Banyak aktifis dakwah yang mendapat prestasi yang membanggakan. Ada yang mendapat IPK 4,00 yaitu Rian Mantasa Salve, aktivis JN UKMI UNS angkatan 2011, atau Akhmad Rapiudin aktivis LDK UKMI Ad-Dakwah Universitas Sumatera Utara meraih The 1st Best Essay Presentations diselenggarakan oleh World Universal Peace Federation di Historic Manila Hotel, Philipinnes pada Asian Summit 2015 yang diikuti 112 Negara dari seluruh Asia, ada juga nama Puguh dari LDK Jama’ah Al-Anhar UMY yang melancong ke berbagai penjuru negeri, termasuk Bali dan Lombok dengan 100.000 – 250.000, serta masih banyak aktivis-aktivis LDK lainnya yang memiliki segudang prestasi baik akademik maupun non-akademik lainnya. Selain itu banyak juga aktifis dakwah kampus yang menjadi Presiden Mahasiswa di berbagai universitas di tanah air. Mereka yang bertugas menjaga dan mengadvokasi hal-hal yang berkaitan dengan nilai maupun syariat Islam di tengah mahasiswa umum. Ini semua membuktikan bahwa mereka semua layak dan siap untuk memimpin negeri ini. Inilah yang disebut sebagai Ruh Pembaharu di tanah air Indonesia.

“Berkarya untuk Indonesia” merupakan slogan bagi FSLDK Indonesia untuk dapat lebih berkontribusi pada negeri ini. Maka dari itu diharapkan Program 30.000 Generasi Baru FSLDK Indonesia akan dapat membuat mahasiswa-mahasiswa muslim Indonesia berlomba untuk bergabung dengan FSLDK Indonesia.

footballwallpapers-sepak-bola-daez

Sepak Bola dan Pesan Kemanusiaan

By | Gagasan, Puskomnas | No Comments
footballwallpapers-sepak-bola-daez

Sumber Gambar: www.iberita.com

Penulis: Hanafi Ridwan Dwiatmojo

Apa yang pertama kali terlintas di pikiran kita saat ditanya tentang sepak bola? Ya, sepak bola. Olah raga paling populer di planet ini. Olah raga ini tidak memandang “kasta”, dia bisa dimainkan siapa saja. Kembali ke pertanyaan tadi, pasti akan ada banyak jawaban tentang sepak bola. Mulai dari bola sampai piala dunia. Dari sekedar olah raga sampai gengsi yang bertaruh harga diri. Sepak bola memang membawa banyak arti. Lalu bagaimana awal mula olah raga ini dikenal manusia dan perkembagannya hari ini?

Diteliti oleh FIFA sebagai otoritas tertinggi sepak bola dunia, awal mula sepak bola berasal dari negeri China. Olah raga ini mulai ada pada abad ke-2 dimasa dinasti Han. Dikenal dengan nama Tsu Chu yang berarti bermain dengan menggiring bola kulit kemudian memasukkan bola kedalam jaring berukuran kecil. Dimasa itu tujuan sepak bola adalah untuk melatih fisik para tentara dan biasanya sepak bola juga dimainkan saat ulang tahun kaisar. Selain China, negara-negara yang memiliki sejarah tentang awal mula sepak bola diantaranya adalah Jepang, Inggris, dan Romawi.

Sepak bola terus berkembang melewati ruang dan waktu. Beradaptasi dengan zaman yang semakin modern. Perhelatan kompetisi pun lengkap dari sepak bola amatir level tarkam sampai level profesional di piala dunia. Piala dunia adalah kompetisi paling bergengsi yang memperebutkan mahkota raja sepak bola di level negara. Namun, dewasa ini ada hal “tidak biasa” yang mewarnai sepak bola. Sepak bola tidak lagi berkutat pada kompetisi. Memperebutkan piala maupun memuncaki klasemen. Hari ini sepak bola bisa menjadi sebuah alat pengirim pesan yang sangat efektif. Pesan ini bisa disampaikan oleh para pemain maupun mereka yang tergabung dalam tifosi.

Sejenak menengok tulisan sebelumnya pada “Omran, Celtic, dan Sekeping Kemanusiaan”, sudah ada sedikit contoh tentang fungsi baru sepak bola ini. Lalu setelahnya, peran baru yang diemban sepak bola ini semakin populer di mata publik. Peran sebagai pembawa pesan kemanusiaan. Salah satu pesan kemanusiaan yang dikirimkan adalah dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Celtic pada kemengangan 5-2 atas Hapoel Beer Sheva mungkin bukan yang mengawali, tapi boleh jadi mereka yang telah mempopulerkan. Bahkan ketika UEFA memberikan denda pun mereka tidak menggubris, malah melakukan galang dana untuk Palestina yang menghasilkan lebih dari 75 ribu pounds. Setelahnya ada St. Etiene dari Perancis yang mengikuti ketika melawan Beitar Jerusalem. Dan yang terbaru ditunjukkan oleh suporter tim nasional Indonesia.

Tertanggal 4 September 2016, untuk pertama kalinya setelah terbebas dari hukuman FIFA, akhirnya timnas Indonesia dapat menyelenggarakan pertandingan persahabatan. Kali ini yang menjadi sparing partner adalah negeri tetangga, Malaysia. Suasana rivalitas begitu kental ketika harus bertemu negeri jiran ini. Padahal Indonesia dan Malaysia adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim dan secara rumpun masih dekat dari garis persaudaraan melayu. Namun di pertandingan kemarin aroma perseteruan tidak terlalu tercium. Malah ada pertunjukan mengejutkan yang dipertontonkan oleh tifosi pasukan Garuda, kali ini dipelopori Pasoepati, suporter Persis Solo.

Memenuhi tiga tribun stadiun manahan, sekitar 20.000 manusia memperagakan koreografi yang mengundang decak kagum penonton yang lain. Peragaan kata Garuda menjadi tampilan pembuka, dilanjut dengan sang saka Merah-Putih yang disambut sorak sorai, lalu pertunjukan yang tidak diduga pun muncul di akhir, formasi bendera Palestina! Sontak riuh ramai tepuk tangan pun menyambutnya dan kamera-kamera handphone menjalankan tugasnya dengan sempurna. Sejenak setelah pertandingan berakhir, pesan yang disampaikan suporter Indonesia pun langsung viral di media sosial. Dari Solo untuk Indonesia dan Palestina.

Inilah fungsi baru sepak bola hari ini. Sekarang ia tak hanya berkaitan dengan kompetisi dan gengsi. Tapi merambah pada rasa hormat dan peduli. Football teach us about respect and humanity. Terlepas motif dan niat apa yang ada dibaliknya, entah psywar, sekedar mengikuti tren, atau benar-benar peduli dari dalam hati, bagi saya itu tidak terlalu penting. Karena yang lebih penting adalah, dunia melihat Palestina! Dan beriring harap berangkat dari sana, akan lebih banyak lagi hati yang tergerak untuk peduli.

Ditulis dalam perjalanan menuju Solo, dihari ke-10 bulan September.

Taxi

Yasin, Fauzi, dan Seorang Supir Taksi

By | Inspirasi, Puskomnas | No Comments

Oleh : Muhammad Syukri

“Itu tato sekujur tubuh gitu udah nggak bisa di-ilangin mas?”

Telisik saya ke supir taksi yang membawa kami ke bandara Adi Soemarmo. Perjalanan sore itu begitu berkesan. Saya dan istri belajar dari guru kehidupan kami yang ke-sekian. Bukan professor-professor seperti yang kami temui di kampus kami. ‘”Hanya” supir taksi lulusan SMA, yang bercerita tentang kesemrawutan kisah hidupnya. Masa kecil, usia remaja, hingga kini dewasa, kacau semuanya. Hanya masa depan yang saat ini dia punya, dan dia sedang bertarung mati-matian untuk itu.

Beberapa menit ngobrol ngalor-ngidul, tetiba saja dia berujar ke kami berdua.

“Kalau mau lebaran kayak gini saya harus kerja ekstra keras mas… istirahat paling berapa jam aja, trus narik lagi sampai pagi.”

“Lha emang ngapain?”

Saya pikir mah, palingan kalau mau lebaran penumpang taksi nggak sebanyak biasanya, wajar kalo dia musti kerja keras. Di luar dugaan kami berdua, dengan santainya mas-mas yang tak terhitung lagi berapa kali dia berzina ini berkata…

“Iya mas… belum beli sarung sama baju koko buat anak-anak panti, belum ngasih THR buat ereka juga. Kalau nggak nambah tarikan, nggak kekejar mas.”

Saya dan istri berpandangan. Mulia sekali orang ini. Jadi terharu :”

Kepeduliannya kepada panti membuat kejadian pekan lalu teringat kembali, saat seorang pemuda dengan determinasi luar biasa datang menemui saya. Namanya Yasin. Ahmad Yasin. Nama yang sama dengan seorang pejuang Palestina. Dia bilang, “Mas, aku pengen nyumbang ke panti asuhan.”

Saya tanya ke dia, “Ada duit berapa emangnya?”

Dia sebutkan nominal. Sekian ratus ribu. Saya katakan, “Uang segitu mah nggak cukup buat nyenengin anak panti. Wkwk. Tapi tenang, kamu punya sesuatu yang nilainya jauh lebih besar dari uang yang kamu punya. Coba lihat, Allah kasih kamu mulut, kasih kamu tangan, dan Allah juga kasih kamu banyak teman. Manfaatin itu semua. Pakai tangan dan mulut kamu buat ngajakin temen-temen kamu, biar mereka juga ikutan nyumbang. Nggak asik kalau manisnya kebaikan Cuma kamu nikmati sendirian. Gerakkan tangan sama mulut kamu, dan minta tolong sama Allah buat nge-gerakkin hati temen-temen kamu.”

Lalu, malam itu dia ajak satu rekannya. Rekan yang sama-sama luar biasa. Fauzi namanya. Fadlan Akhyar Fauzi. Dengan cekatan, mereka berdua bikin proposal, bikin jarkoman, dan ajak orang-orang untuk ikutan nyumbang. Kurang dari satu pekan, uang 8 jutadan 29 pack alat tulis berhasil mereka kumpulkan. Lantas mereka bergerak. Membeli pakaian, Al-Qur’an, dan apapun yang anak panti butuhkan menjelang lebaran. Lalu mereka gelar acara sederhana, dengan format acara sahur bersama dibantu beberapa rekan yang lainnya. And that’s it!

Sendunya pagi menjadi saksi betapa bahagia itu kini merekah dengan sangat indah. Bahagianya para donatur, bahagianya Yasin, dan Fauzi, bahagianya rekan-rekan yang membantu mereka berdua, dan bahagianya anak-anak panti mendapat kakak baru seperti mereka. saya sendiri, bahagia saya lebih karena melihat ada pemuda-pemuda yang membuat kebaikan sederhana ini nampak begitu sempurna. Dari niat awal berupa “kepedulian”, lalu berkembang menjadi sebuah gerakan kebaikan yang melibatkan banyak orang. Sederhana, namun penuh makna. Maka pertanyaannya, kebaikan sederhana apa yang telah kita telurkan bulan ini?

Tak perlu menunggu hebat untuk berbuat baik. Berbuat baiklah. Rebut cinta Allah, dan Allah akan menghebatkanmu karena itu.

Selamat Berpuasa…

siluet3

Calon Istri Anda, Yang Mana?

By | Puskomnas | No Comments
siluet3

Sumber Gambar: fimadani.com

-Ditulis dalam rangka menyambut Gerakan Menutup Aurat (GEMAR) Pagi ini, 14 Februari. Serentak di seluruh Indonesia-

Enak banget lho. Coba bayangkan, kita punya istri. Cantik. Matanya dua, biru semua. Pipinya dua, chubby semua. Hidungnya dua (lubangnya), kecil semua. Haha. Nggak, hidungnya satu. Nggak begitu mancung, nggak sempok juga. Pas. Mantep. Posturnya, nggak ada duanya. Tinggi enggak, pendek juga enggak. Wes, pas tenan.  Cara jalannya, wuis.. nggak ada yang ngalahin. Foto model? Lewat. Kurang satu, pakaiannya. Menutup. Bagian yang hanya “perlu” ditutup. Dan melekat, bener-bener “melekat”. Biar gak lepas tiba-tiba. Rambut? Ah, ntar kalo gerah, make-up bisa luntur. Kaki sama lengan? Yaelah.. apa gunanya kulit putih bersih kalau hanya berakhir dibawah “kekuasaan” kain? Biarin kebuka aja dah. Biar orang2 pada tau, bidadari itu nggak hanya ada di surga. Versi terbaru udah release. Yang edisi bumi. Namanya “Istriku”.

Dan si doi kita bawa pas reunian kampus. Wedeeh… bisa bayangin, segudang pujian bakalan adu balap masuk ke telinga kita. “hebat lu, nemu dimana yang kayak gitu? Kalah nih gua.” Atau minimal gini dah “kok dia mau ya sama elu. haha”. 

Enak banget kan? Kita kaya, pinter, istri cantik (cantik seperti klasifikasi diatas). Kurang apa coba? Kayaknya indah banget nih dunia. Tapi coba mikir. Dikit aja. Berapa orang yang kemudian “menghina” istri kita tanpa kita tahu? Walau hanya dengan lirikan brengsek. Walau dengan candaan rendahan dibelakang mereka. Obrolan receh! Dan kalau sudah seperti ini, apa masih pantas kita disebut terhormat? Maaf ya, pedagang disebut terhormat jika dia brani tampil jujur. Pejabat dibilang terhormat jika dia nggak doyan korupsi. Orang miskin –semiskin apapun- tetap akan terhormat jika nggak sudi jadi peminta-minta. Lha kalo suami? Apa iya dibilang terhormat kalau istrinya aja jadi “konsumsi gratis” kayak begitu?

Maka kalau kita benar-benar mencintai pasangan kita, harusnya kita nggak tenang dong kalau istri kita keluar dengan penampilan “liar” begitu. Maka dari itulah islam hadir. Menawarkan ketenangan bagi lelaki yang benar-benar mencintai istrinya. Caranya? Kerudung. Kerudung yang kayak diajarin di surah An-Nur ayat 31. Karena islamlah yang paling realistis. Islam tahu tidak selamanya kita para lelaki selalu berdampingan dengan istri kita. Maka saat kita jauh, kita perlu “penjaga”. Minimal dalam hal pakaian, yang akan membuat kita merasa lebih tenang. Itulah yang disebut sakinah. Hati tenang walau raga tak dekat berdampingan.

Dengan mengajarkan mereka berkerudung panjang, sebenarnya kita sedang melabeli diri kita sendiri bahwa kita adalah suami dari istri yang bisa menjaga diri. Dan kita terhormat, men.. 

Oke. Sekarang kita lihat. Klasifikasi yang saya tulis di dua paragraph paling awal, nggak usah kita rubah. Kita hapus aja yang bab pakaian. Hapus itu, dan kita ganti bareng-bareng. Saudara mau yang seperti apa? Berkerudung ungu dengan bawahan panjang yang anggun? Atau pake pasmina? Atau paris? Ah, apa lah itu. Yang jelas menutup aurat, longgar dan warna yang serasi. Apa lantas dengan memakai pakaian itu, pipi yang tadinya cubbhi berganti jadi pipinya mak lampir? Apa dengan memakai kerudung, hidung mancung istri saudara tiba-tiba kehilangan kartilago-nya? Dibungkus serapet apapun, cantik mah cantik aja. 

Ada satu kata yang tak bisa dibeli kecuali dengan kerudung dan pakaian longgar. Anggun. Kalau cantik, mungkin sama. Mempesona, mungkin sama. Tapi anggun inilah yang susah. Ah, kata siapa? Pakaian ketat juga bisa bikin cewek anggun kok. Begini…. kalau istri saudara pakai pakaian ketat, orang nggak bakalan bilang anggun. Mereka pasti lebih milih kata “seksi beneer..”. Nggak percaya? Ambil cermin trus bilang, “iya juga ya” haha.

Karena cewek yang menutup aurat itu lebih sesuatu!

Penulis: Muhammad Syukri (Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia)

Categories