Category Archives: Prestasi

kaltim kaltara

Muslimah mengenali Potensi

By | Indonesia, Inspirasi, Prestasi, Puskomda | No Comments

“Muslimah adalah makhluk yang Allah ciptakan untuk beriman dan beramal sholeh, Beriman sempurnakan ibadah kepada Allah dan beramal sholeh sempurnakan kebaikan kepada manusia”
Seorang muslimah yang baik tidak hanya mampu membuat dirinya baik namun juga mampu membuat lingkungannya menjadi lebih baik dan bermanfaat, Ibu Dewi Husnul Khatimah adalah salah satu figur Muslimah inspiratif bagi muslimah lain untuk mampu mengembangkan potensi yang di miliki, beliau lahir di Balikpapan 17 November 1978 memiliki 3 orang anak yang semuanya laki – laki yaitu Hilmi Amanullah, Hanif Ihabullah, dan Harits Fadhullah Hisyam, suami ibu dewi yaitu bapak Adika Bayu Pratiyaksa yang bekerja sebagai arsitek. ibu Dewi bekerja di sekolah alam Balikpapan sebagai Litbank Sekolah yaitu bagian Penelitian dan Pengembangan sekolah, yang sebelumnya pada tahun 2008 – 2011 beliau menjabat sebagai kepala sekolah Sekolah Alam Balikpapan, pada 2011 – 2016 menjabat sebagai Direktur Sekolah Alam Balikpapan.

kaltim kaltara
Ketiga anak ibu dewi bersekolah di Sekolah Alam Balikpapan, mereka masing-masing memiliki potensi diri yang beda – beda. Ibu Dewi mengatakan bahwa sebuah prestasi bukan hanya dilihat dari sebuah penghargaan dan piagam – piagam namun bagaimana anak – anaknya mampu menjadi orang – orang yang bermanfaat bago orang lain. Contoh saja Hilmi yang sekarang berada di kelas 9, dia telah mampu menemukan potensi dirinya di bidang design grafis dan memiliki potensi memimpin yang baik sehingga menjadi asisten guru untuk kegiatan Ekspedisi, Survival dll. Contoh lain adalah Hanif yang sangat suka membaca membuatnya bersikap sangat kritis terhadap hal – hal di sekitarnya namun mampu menjadi mediator antara guru dengan teman – teman kelasnya, Hanif si adik bungsu merupakan sosok anak yang ramah, naturalis, dan teliti terhadap lingkungannya.
Aktivitas sekolah tidak menghalangi ibu dewi dalam berkegiatan di luar sekolah, beliau ikut aktif dalam RKI (Rumah Keluarga Indonesia) sebagai Konselor untuk pernikahan, keluarga, ibu dan anak, sehingga membuat beliau sering pergi keluar kota untuk memberikan seminar – seminar mengenai keluarga dan pernikahan ke daerah seperti Samarinda, Tarakan, Tanah Tidung, Bontang, Penajam, Nunukan, sepaku, dan Manado. Ibu Dewi ikut dalam struktur salah satu partai politik sebagai ketua BPKK dulu bernama bidang perempuan, dan terkadang masih sempat mengisi kajian – kajian yang ada di wilahyah Balikpapan seperti PKPU, Rumah Zakat, ataupun kepada TK yang ada di Balikpapan.
Dengan berbagai kegiatan yang dijalani oleh ibu Dewi beliau mampu membagi waktu dengan sangat baik untuk kerja dan keluarganya. “Yang penting memahamkan anak – anak apapun aktivitas yang dilakukan, serta adanya dukungan dan kerjasama dengan suami karena kita adalah satu tim untuk membangun keluarga, dakwah, dan ummat” ungkap bu Dewi. Dukungun keluarga yang besar dan kerjasama dalam pembagian tugas keluarga membuat segala aktifitas ibu Dewi dapat dilakukan dengan baik. Dalam mengatur seluruh kegiatannya, beliau selalu membuat Skedul untuk 2 bulan kedepannya sehingga maksimal dalam pembagian waktunya, untuk kegiatan sebagai konselor beliau bisa lakukakan disela-sela waktu kerjanya di Sekolah Alam Balikpapan atau setelah pulang kantor bisa melakukan konsultasi dirumah dan menemui klien karena ibu Dewi bekerja dari jam 8.00 – 16.00 sehingga masih memungkinkan adanya kegiatan setelah jam kerja.
“Seorang muslimah memiliki potensi di dalam dirinya yang mungkin belum ditemukan, muslimah yang telah mengetahui potensinya akan sangat membantu di dalam perkembangan peradaban islam karena telah mengetahui apa fungsinya sebagai sorang muslimah. Muslimah Indonesia semakin banyak kajian seharusnya menjadikan kita semakin kuat bukan semnakin terpecah – pecah, banyak muslimah yg beribadah baik namun di sisi lain ada beberapa muslimah yang mudah menjudge orang, menyalahkan orang, padahal banyak muslimah lain yang bisa dibantu untuk pengokohan keimanan dan amal sholihnya”. Tutur ibu Dewi

 

Komisi C FSLDK Kaltim-Kaltara

IMG-20170402-WA0042

Wujudkan Mimpi, Seimbangkan Hak dan Kewajiban

By | Indonesia, Inspirasi, Kerjasama, Prestasi, Puskomda | No Comments

Sebagian besar orang berfikir bahwa wanita tidak perlu berpendidikan tinggi karena toh kita akan kembali menjalani tugas sebagai ibu rumah tangga. Namun tidak dengan bu Efri, beliau berhasil menyelesaikan studi S3 nya dan kini menjabat sebagai ketua Program Studi S1 dan S2 Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran. Dr. Efri Mardawati, ST.,MT (39) yang akrab dipanggil Uni Efri ini berasal dari Agam, Sumatera Barat.

 

Pembawaan diri yang hangat dan bersahaja membuat semua orang betah untuk berlama-lama berbagi kisah dengannya. “Ya, saya kadang berfikir dibebankan oleh Allah sesuatu diluar batas kemampuan saya”, ujar beliau ketika mengawali kisah. Bagaimana tidak, disaat kelas 4 sekolah dasar, beliau dituntut untuk merawat kedua adiknya beserta seluruh pekerjaan rumah. Di masa kecilnya, beliau seringkali ditinggalkan kedua orang tuanya untuk berdagang dari satu daerah ke daerah lainnya.

Uni Efri di masa kecil tidak mengenal kata bermain layaknya anak biasa. Sepulang sekolah biasanya beliau langsung mengerjakan berbagai tugas rumah tangga dan belajar. Hebatnya, ditengah kesibukan mengurus rumah tangga, beliau tetap berprestasi . “Walaupun saya dari desa, amak selalu berpesan untuk sekolah setinggi-tingginya”, kata Bu Efri sambil mengenang masa lalu. Motivasi terbesar beliau memang dorongan dari kedua orang tuanya terutama sang ibu.

Setelah menyelesaikan studi di Sumatera Barat, beliau berhasil masuk ke salah satu perguruan tinggi Top di Indonesia yaitu Institut Pertanian Bogor. “Saya sempat mengalami culture shock saat sekolah di IPB”, tegas beliau. Perlu setidaknya 6 bulan bagi beliau untuk menyesuaikan diri. Lulus dari IPB selanjutnya beliau melanjutkan studi ke Institut Teknologi Bandung. Disana beliau menjalani studi dengan berlepas dari tunjangan finansial dari orang tua. Puncaknya adalah ketika usaha dari orang tua beliau bangkrut. Beliau ketar ketir mencari sumber penghasilan sampai akhirnya menjalani beberapa profesi yaitu guru les kecil-kecilan serta berjualan susu kedelai. Seringkali beliau menjajakan susu kedelai di pasar mingguan di sekitar pusdai atau gazibu.
“Pernah amak uni menangis karena melihat anaknya jualan susu kedelai padahal studi S2”, jelas beliau. Padahal pada saat itu, beliau masih memiliki tuntutan untuk membiayai saudara-saudaranya yang masih sekolah. Namun beliau tetap berusaha sampai akhirnya mendapatkan tunjangan untuk studi serta beberapa project yang dikerjakan bersama dosennya.

Belum usai ujian yang didapatkan, setelah lulus dari ITB kemudian dihadapkan pada realita pendidikan di perguruan tinggi swasta. Meskipun dengan gaji yang sangat kecil beliau bersyukur karena masih dipercayai Allah untuk tetap berbagi ilmu. Beberapa waktu berselang beliau bekerja di salah satu perusahaan kerudung ternama. Disana beliau menjadi kepala HRD dengan gaji yang memang bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Namun memang keinginan untuk menjadi pengajar masih besar. Bak gayung bersambut, pada waktu itu ada pembukaan bagi pendaftaran dosen di Fakultas Teknologi Industri Pertanian. Singkat cerita akhirnya beliau menjadi salah satu pengampu di FTIP Unpad. Pada awalnya memang cukup sulit untuk masuk kedalam lingkungan baru, terlebih beliau sama sekal tidak memiliki kolega di unpad dan bukan lulusan unpad. Keinginan belajar yang besar serta mencoba untuk beradaptasi membuat beliau mampu bertahan sampai sekarang. Terlepas dari jabatan yang kini dimiliki, mimpi besar beliau adalah menjadi seorang pengajar dan peneliti yang andal. “Disinilah ladang amal saya. Ilmu pengetahuan yang dikaji, mudah mudahan dapat dimanfaatkan bagi masyarakat sekitar”. 5 besar Finalis National Fellowship L’Oréal-UNESCO For Women in Science 2015 pada bidang lifescience ini aktif melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Baginya, amanah ini adalah ladang dakwah dan ikhtiar amal jariyah kedepannya.

Karir sebagai ibu rumah tangga, beliau selalu belajar dan berusaha membagi waktu bagi keluarga dan karirnya dikampus. Anak sulung beliau kini duduk dikelas 4 sekolah dasar dan mampu menghafal juz 30. Ibu dari 2 orang anak ini juga berpesan bahwa sudah menjadi sebuah keharusan bahwa wanita berpendidikan agar generasi yang dititipkan sang khaliq menjadi generasi terdidik. Tetap berbaik sangka atas ujian yang Allah berikan karena sesungguhnya dengan ujian itu Allah sedang mendidik kita agar siap menghadapi masa depan. Jalankan hak dan kewajiban sebagai seorang perempuan dan wujudkan mimpi tertinggi.
Komisi C FSLDK Bandung Raya

WhatsApp Image 2017-03-29 at 22.53.08

Membangun Generasi Penuh Berkah

By | Gagasan, Indonesia, Inspirasi, Kerjasama, Prestasi, Puskomda | No Comments

WhatsApp Image 2017-03-29 at 22.53.08

Nila Ristia Putri S.PdI. Ibu muda ini merupakan lulusan awal Intensif Putri LIPIA (2000-2003) bidang Bahasa Arab. Dilahirkan di Payakumbuah,22 Mei 1982, ibu muda ini akrab dipanggil dengan panggilan “Zah Nila”, beliau memiliki empat orang putri yang bernama Farhatha Adqiya’ (2004), Fadhila Azzakiyah (2006), Fudla Najiyah (2009), dan Fauzana Ramadhani (2012). Zah Nila merupakan sosok Ibu dan sosok guru yang menyenangkan bagi keluarga dan siswa-siswi nya. Dengan menerapkan metode “kemandirian” bagi anak-anak beliau, Zah Nila menjadi sosok ibu dan wanita supel serta mandiri sehingga anak-anak beliau pun menjadi ana-anak yang mandiri dan creative. Disamping tuntutan amanah beliau sebagai seorang guru dan menjadi ibu dari empat orang putri, beliau juga merupakan seorang da’iyah yang aktif mengisi majlis tahsin bagi perempuan.

Zah Nila bersyukur atas keberkahan yang diperoleh terhadap keluarganya, dengan dasar lingkungan (Bi’ah) yang baik, zah Nila tidak harus banyak mengontrol tahap belajar anak-anak nya karena secara otomatis anak-anak beliau telah mengikuti alur sesuai yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan Jargon “barang siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolong nya dan meneguhkan kedudukan nya” , Zah Nila sangat meyakini dan percaya dengan janji Allah tersebut. Dalam pekerjaan beliau menjadi guru, Zah Nila menjadi guru yang berteman dengan siswa-siswi nya

Menjadi seorang wanita di era peradaban hari ini, muslimah hendaklah menjadi sosok yang dengan setiap pekerjaan dan tanggung jawab yang dimiliki tetap memperhatikan hakikat beliau sebagai muslimah dalam menjaga nilai-nilai keislaman, menjadikan setiap kesempatan yang ada untuk menyebar nilai-nilai kebaikan dan menjadi yang terdepan dalam menjaga serta mengurusi keluarga nya.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.06.51

Ibu Yani: Harmonis di Tengah Kesibukan Karir

By | Indonesia, Inspirasi, Prestasi, Puskomda | No Comments

Feminisme merupakan kata yang sudah tak asing lagi dalam masyarakat. Kata feminisme berasal dari bahasa latin yang artinya perempuan. Feminisme telah didengungkan oleh kaum hawa pada abad ke 18. Pada umumnya gerakan feminisme diartikan sebagai gerakan untuk menuntut kesetaraan gender. Artinya, ingin diperlakukan sama dengan kaum laki-laki. Padahal pedoman hidup dalam Al-Quran sudah jelas digambarkan tidak adanya kesetaraan gender.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.06.51 

Perkembangan feminisme sangat signifikan dan bisa kita rasakan telah menjadi budaya tanpa kita sadari. Sebagian orang, menganggap feminisme adalah mutlak tanpa memperhatikan kodratnya sebagai wanita. Akibatnya, peran dan tanggungjawabnya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangaa menjadi terabaikan. Contohnya banyak TKW yang bekerja diluar negeri. Akibatnya anaknya yang harus mendapatkan kasih sayang dan pendidikan menjadi terlupakan. Bukankah madarasah terbaik adalah madrasah seorang ibu? Meskipun demikian, ada juga seorang wanita yang berkarir membantu meringankan beban suaminya namun tetap meprioritaskan keluarganya. Contohnya, seorang Guru di SMAN 1 Praya yang berkarir dibidang pendidikan, namun keluarga adalah yang utama.

Ibu Yani , lahir pada tanggal 2 januari 1970 kini telah memiliki 6 orang anak. Ia tinggal dan beraktivitas di alamat Jl Snokling 2 No 18 Perumnas Ampar Ampar Layar. Di SMA N 1 Praya ia berperan sebagai guru PNS mata pelajaran matematika. Selain menjadi seorang guru, beliau juga aktif mengikuti dan mengisi halaqah, bahkan beliau juga menjadi ketua Majelis Taklim As-Sakinah di lingkungan perumahannya. Baliau juga berperan sebagai pembina remaja muslimah. Meskipun demikian, beliau mampu fokus untuk bertanggung jawab terhadap keluarga sesuai dengan kodratnya. Bahkan beliau pernah meminta tidak diluluskan dalam TES PNS apabila ditempatkan jauh dari keluarga.

Sebut saja anak pertamanya Rasyid yang kini tengah menempuh Pendidikan Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Mataram. Anak keduanya Faruq pun kini tengah menempuh pendidikan di STAN Jakarta. Keberhasilannya dalam mendidik anak-anaknya tidak terlepas dari prinsipnya mengatakan bahwa sesibuk apapun hal yang dilakukan, namun tetap anak adalah prioritas utama. Beliau juga dengan senang hati membagikan tips dalam mengurus anak di tengah kesibukannya sebagai seorang guru. Ada 4 hal dasar yang harus ditanamkan kepada anak-anaknya yaitu ketelaudanan yang dapat dilihat oleh anaknya dari sosok seorang ibu, pembiasaan terhadap anak untuk melakukan hal-hal baik, reward sebagai bentuk penghargaan terhadap anak dan hukuman untuk menyadarkan kesalahan yang dilakukan anak.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.07.01

Menjadi wanita karir memang tak harus meninggalkan kewajiban dan tanggung jawab serta kodrat yang telah digariskan. Belajar dari Ibu Yani bahwa di tengah kesibukan, beliau mampu untuk membangun keluarga yang harmonis dan anak-anak yang berprestasi. Akhir kata, beliau tutup dengan pesan bahwa apabila kita mendahulukan urusan akhirat maka dunia akan mengikuti. Nasihat untuk wanita indonesia bahwa fenimisme merupakan adopsi dari nonmuslim bukan dari Al Quran. Bagi wanita yang kurang paham maka akan tergerus ikut dalam aliran fenimisme, tetapi tidak bagi wanita muslimah. Karena wanita muslimah memilih menjadi wanita terhormat tanpa meninggalkan kodrat.

Komisi C FSLDK Nusa Tenggara

WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.02.40

Selelah Apapun Kita di Tempat Kerja

By | Gagasan, Indonesia, Inspirasi, Prestasi, Puskomda | No Comments

Ahad, di sela waktu makan siang pada sebuah acara pelatihan media di kota Kembang, pertemuan saya dengan ibu tiga anak ini digariskan-Nya. Berawal dari percakapan ringan, tanpa diduga, menghasilkan satu prinsip hidup baru terutama bagi saya sebagai perempuan yang tengah bingung tentang isu feminisme, tentang ketercabikan posisi seorang perempuan ketika dipandang harus bekerja layaknya seorang laki-laki bekerja.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.02.40

Teh Yani namanya. Usia 39, ibu tiga anak cerdas, aktif mengisi pengajian dan seorang dosen di Stikes Respati Tasikmalaya. Pertanyaan yang diajukan sebenarnya banyak, namun ringkasnya, seperti di bawah ini. 

Apa pendapat teteh tentang ibu yang bekerja di luar? kan waktu untuk anak terkuras tuh, bisa-bisa anak merasa kehilangan sosok ibunya. Belum lagi urusan rumah, beres-beres, masak, nyuci. Gimana teh?

Menurut saya, selama suami ridha, orangtua ridha, tak ada salahnya jika kita mengoptimalkan potensi kita berkarya di luar, kemudian selama kita tidak mengedepankan kepentingan pribadi seperti mengejar karir semata atau penghasilan untuk menandingi suami, saya pikir boleh saja kita bekerja, semua tergantung niat kan? dan tentu saja hal yang harus kita pegang adalah bahwa bekerja diluar itu boleh setelah kita benar-benar paham peran kita sebagai istri dan ibu di rumah, dengan begitu, selelah apapun kita saat kerja, kita akan tetap menyiapkan waktu, tenaga, perhatian dan senyum terbaik untuk anak kita. Mereka punya hak atas diri kita. Hal terpenting adalah konsep kualitas waktu, bukan kuantitas, meski tidak full 24 jam bersama anak, namun jika kita bisa memanfaatkan waktu yang sedikit itu dengan mencurahkan kasih sayang dengan baik, itu cukup membuat anak tidak merasa kehilangan ibunya. Tentang kedekatan saya kepada anak-anak, saya optimalkan moment sholat berjama’ah, tilawah Quran bada maghrib, dan beres-beres rumah bareng.

Mendidik anak memang penting, namun saya tidak mau ketinggalan ambil peran untuk mendidik ummat, mewarnainya dengan dakwah semampu saya, setidaknya cakupan mahasiswa yang saya ajar, bisa saya ajak pada kebaikan. Jadi dosen enak, semisal menginstruksikan mahasiswa sebelum masuk kelas harus duha dan tilawah dulu,kebijakan untuk berjilbab syar’i, kan mantap? Dakwah adalah cinta, dan tentu saja menuntut pengorbanan. Yang terpenting, kita tekan ego kita, saat lelah mendera, ingat niat, ingat tekad kita. Kita harus tetap menyediakan waktu terbaik untuk keluarga. Meski lelah, namun setelah sampai rumah, kita musti tetap ceria, dengarkan cerita anak selama di sekolah, membantu anak mengerjakan PR, bercerita, bermain bersama pokoknya penuhi hak anak.

Satu hal yang saya yakini, setiap hal yang ada di hadapan, baik anugerah maupun musibah, merupakan ladang amal untuk kita, setiap masalah itu tergantung bagaimana respon kita. Yang jelas, kita minta saja ke Allah, kita ingin jadi istri yang baik, jadi ibu yang baik dengan tetap bisa berdakwah semampu kita. Pasti Allah tolong. Pasti.

Komisi C FSLDK Priangan Timur

nurul hidayati

Menjadi Muslimah Profesional

By | Indonesia, Inspirasi, Prestasi | No Comments

Sering kali kita sebagai seorang muslimah ragu dan bimbang tentang apa yang akan terjadi ketika kita masuk ke dalam fase hidup yang lebih serius; yaitu menikah. Bayangan-bayangan mengerikan tentang aktivitas yang tidak lagi bisa ia kerjakan seperti dahulu pun juga kebebasan bepergian yang tidak lagi ia dapatkan seperti dahulu. Ketakutan-ketakutan itu sering sekali menghantui, dan membuatnya tidak menikmati setiap peran yang seharusnya dijalani. Berikut ada cerita seorang Ibu luar biasa, yang berhasil menjawab ketakutan-ketakutan itu dan tetap happy menjalani semua peran perempuan dalam keluarga beserta fase-fase hidup yang akan terus berjalan.

nurul hidayati

 

Nurul Hidayati istri dari Al Muzzamil Yusuf, terlahir dari sebuah keluarga aktivis dan berlatar belakang da’i membuat Ibu tiga anak ini belajar banyak hal sejak ia masih kecil. Mengikuti aktivitas Bapak dan Ibu adalah sebuah rutinitas yang terkadang membuatnya bisa menebak lanjutan kalimat yang akan diutarakan oleh ayahnya. Mendapatkan seorang suami yang juga berlatar belakang sama membuat keduanya melakukan “learning by doing”, melakukan analisa terhadap apa-apa saja kekurangan-kekurangan yang tidak sebaiknya terjadi dan mempertahankan nilai positif yang ada. Sebuah kunci utama yang dipegang dengan kuat ketika seorang anak masih berstatus anak adalah bagaimana mencari ridho Allah melalui ridho orang tua. Mengejar keberkahan hidup pra menikah dengan fokus kepada tujuan sederhana ridho orang tua. Pun setelah menikah, rumus hidup yang dulunya kepada ridho orang tua bukan kemudian dihilangkan, namun dipindahkan kepada ridho suami yang telah mengikat perjanjian kepada Sang Khaliq untuk menjadi sahabat dan pemimpin baginya. Ini bukanlah sebuah fase yang mudah dalam hidup beliau, aktivitas yang semula padat dengan jam terbang yang luar biasa harus disesauaikan dengan primary job beliau sebagai istri dan ibu.

Beliau menginsafi betul bahwa manisnya iman bukan terletak pada ketenaran, harta, kecantikan dan lain-lain, namun manisnya iman terletak jauh diatas itu semua; yaitu di dalam hati. Proses pemaknaan primary job inilah yang kemudian menjadi bekal seorang perempuan untuk melaksanakan sebuah praktik mengenai norma Islam tentang hak dan kewajiban perempuan. Karena ketika kita mengikuti fitrah kita sebagai seorang perempuan dengan kemuliaan yang telah Allah dan Rosul gariskan untuk kita, kita akan mendapatkan kebahagiaan yang menentramkan. Karena adil bukan berarti kita memakai sepatu yang keduanya adalah sisi kanan.

Setelah beliau menyadari, ada porsi primary job yang harus beliau selesaikan sebalum menyelesaikan pekerjaan yang lain di luar rumah. Dari sosok ibu beliau menyadari bahwa perempuan itu powerful; bisa melakukan banyak hal. Namun, tentu saja perempuan yang satu dengan yang lain tidak bisa disamakan. Ada fungsi yang harus disesuaikan antara primary dan secondary job. Ada keseimbangan kualitas yang harus dijaga antara keprofesionalan kita diluar rumah dan luar rumah. Kadar keseriusan seseorang menjalankan amanahnya di luar rumah haruslah sama dengan kadar keseriusannya menangani pekerjaan-pekerjaan domestik; berkebun, memasak, menjadi ibu dengan anak usia bayi, balita, pra remaja, remaja, dewasa, menikah, bagaimana menjadi mertua yang baik dan lain-lain. Karena disitulah kualitas anak-anak kita akan terbentuk. Maka titik usaha terbesarnya adalah berani menolak jika itu melebihi porsi dirinya. Karena perjuangannya adalah untuk menjaga keseimbangan agar tetap proporsional.

Maka menjadi seorang muslimah profesional adalah menjadi muslimah yang memiliki ilmu di setiap fase hidupnya. Memperbaiki mindset mengenai apa yang menjadi primary dan secondary job nya, menghargai dirinya serta peranannya terhadap keluarga. Maka membaca dan menuntut ilmu adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan sama sekali oleh muslimah. Pemahaman yang mengakar mengenai peran-peran utamanya adalah kunci untuk menjadi muslimah paling bahagia. Berbahagia artinya tidak pernah lupa, bahwa semua aktivitas yang ia lakukan baik di dalam atau pun di luar rumah adalah untuk hujjahnya di hadapan Allah. Bukan untuk orang lain, maka me time seorang muslimah adalah aktivitas penuh keikhlasan agar semuanya Allah nilai sebagai ibadah. Jangan menjadi muslimah yang kehilangan kreativitas untuk menghargai waktu serta kehilangan daya kritis untuk memilah aktivitas apa saja yang harus ia konsumsi.
Biodata Singkat Narasumber :
Nama lengkap : Hj Nurul Hidayati SS MBA
TTL : Klaten, 19 Desember 1968
Alamat : Komp DPR Blok A7 No 101
Pendidikan : – FSUI/FIB UI
– STBA LIA
– Program MBA IPWI
Organisasi : Ketua Umum PP Salimah 2010-2015
Moto : Maju kembangkan diri, raih ridha Ilahi, berbuat terbaik untuk sesama

WhatsApp Image 2017-03-10 at 23.52.51 (2)

IBU, GURU PERTAMA DAN UTAMA BAGI ANAK

By | Inspirasi, Prestasi, Puskomda | No Comments

WhatsApp Image 2017-03-10 at 23.52.51 (2)

Ibu memilki peran yang sangat vital dalam keluarga. Faiqotul Himma Hamid berhasil memainkan peran ibu dengan baik tanpa melupakan tanggung jawab sosial. Peran keluarga sangat penting untuk menyiapkan generasi penerus yang berkualitas. Salah satu keluarga yang cukup sukses mencetak generasi berkualitas adalah keluarga pasangan ibu Hj. Faiqotul Himma, S.Pd , 62 dan bapak H. Abd. Hamid Chidlir, S.Pd, 67 yang beralamat rumah di Jl. Letjen Panjaitan No. 109 Jember.
Rumah tangganya selalu dilingkupi kebahagiaan dan kesuksesan. Letak kesuksesannya terlihat dengan keenam anaknya yang sudah sukses. “Alhamdulillah, semua anak saya sukses,” kata ibu yang akrab di panggil Bu Faiq tersebut. Kesuksesan tersebut bukan sebuah kebetulan. Walau dia mengaku biasa-biasa saja dalam mendidik anak, namun ada sesuatu yang banyak orang dianggap sepele, padahal bernilai tinggi. Ibu keenam anak tersebut mengaku selalu menjaga kebersamaan dan rasa saling menghormati. “Saya dan anak saya biasa-biasa saja, namun kami selalu terbuka dan tidak banyak menuntut mengenai masa depan mereka,” katanya. Keenam anak Bu Faiq kini menjadi orang sukses. “Ada yang masih menempuh study di Malaysia,” katanya. Dia menjelaskan, hanya ada seorang anaknya yang tinggal di Jember dan berprofesi sebagai dokter gigi. “Banyak orang bertanya kepada saya, bagaimana kok bisa sukses semua,” akunya.
Bu Faiq mengatakan, tidak ada yang spesial yang dilakukan untuk mendidik anaknya. hanya, sejak pertama berkeluarga, dia selalu membiasakan salat berjamaah dengan anaknya. “Saya selalu berjamaah jika sholat,” katanya. Selain berjamaah, dia selalu membudayakan makan bersama anak-anaknya. “Ini yang biasa memakan waktu lama,” akunya. makan bersama dalam keluarga adalah sesuatu yang “wajib”. Dalam makan bersama itulah setiap anggota keluarga bisa saling curhat, tukar pikiran, dan membangun kedekatan emosional.
Bu Faiq merupakan wanita yang berhasil mendidik anaknya di antara segudang aktivitas sosial yang dia jalani. Bu Faiq sejak lama dikenal sebagai aktivis sosial. Dia pernah menjadi guru MTs. Ashri, pengurus muslimat NU, pengurus Jamiyah Qurro’ wal Khuffat, dan aktivitas lain yang berhubungan dengan masyarakat sekitar. Namun, dalam kesibukannya tersebut, dirinya tidak lantas meninggalkan kewajibannya dalam mendidik anak dan mengurus keluarga. “Jika keluarga mengharuskan ada saya, maka saya harus ada,” katanya.
Dia meyakini, kesuksesan anak tidak lepas dari do’a seorang ibu. “Saya tidak lepas akan do’a untuk anak-anak saya, ” katanya. Selain itu, yang penting adalah jangan sampai ada sedikitpun makanan dan minuman haram yang diberikan kepada anak-anaknya. Sebab, jika seorang anak diberi makanan haram, akan jadi daging yang haram dan menyebabkan perilaku yang menyeleweng dari agama.Untuk menjadikan anak-anaknya berhasil mencapai cita-cita, ada beberapa tahapan yang ditempuhnya. Yaitu, pendidikan agama sejak dini, mengarahkan belajar anak sesuai dengan bakat dan minat, mengajarkan kemandirian dan bertanggung jawab, menanamkan rasa senang bersilaturrahim, menanamkan kepedulian, teladan dari orang tua, dan kerukunan, serta keharmonisan dalam keluarga. “Namun, yang sangat utama adalah kebersamaan dan keterbukaan dalam keluarga,” katanya.

FSLDK Jember Raya

7952520a-71f6-4427-8f13-10e66bd602b6

Terpaksa Ngamen Saat Jadi Mahasiswa, Kini Beliau jadi Pengusaha Sukses

By | Prestasi | No Comments

Fitra

Fitra Jaya Saleh

“Ya Allah, jika memang Kau menginginkanku mati hari ini, maka matikanlah aku sebagai syuhada. Dan jika Kau izinkan aku tetap hidup, maka jadikanlah hidupku penuh kemanfaatan bagi orang lain”

-Fitra Jaya Saleh, doa yang diucapkan sambil berlari di tengah buruan peluru, saat meletusnya Konflik Ambon-

Beliau asli orang timur. Lahir dan merasakan manisnya perjuangan dari tanah Maluku. Ayahnya seorang penjahit, dan ibunya seorang penjual baju. Tentu beliau bukan berasal dari keluarga kaya. Lihat saja perjuangan beliau yang harus turun tangan membantu perekonomian keluarga. Beliau yang waktu itu masih seumuran SD-SMP harus berbagi tugas dengan Ibunya. Sang Ibu menjual baju dengan cara kredit, dan beliau -yang terlahir dengan nama Fitra Jaya Saleh- bertugas menjadi penarik setoran dari mereka yang menghutang baju ke sang ibu. Tentu bukan pekerjaan yang ringan untuk anak seusia itu. Bayangkan saja, anak sekecil itu harus datang dari satu rumah ke rumah yang lain untuk menagih hutang. Tak jarang pula rumah yang beliau kunjungi –saking jauhnya- harus ditempuh dengan angkot. Tapi inilah hebatnya Mas Fitra. Beliau memilih jalan kaki, sejauh apapun rumah yang harus didatangi. Beliau tidak rela uang yang dikumpulkan dari rumah ke rumah –yang tak jarang juga dapet rumah zonk- itu harus berpindah tangan lagi ke sopir angkot. Hehe. Anak sekecil itu sudah benar-benar memahami arti sebuah perjuangan. Ini kan hebat!

Seperti itu kira-kira, gambaran singkat masa kecil yang dialami mantan presiden BEM Fakultas Ekonomi UNS ini. Sampai kemudian, ada dua tragedi beruntun yang menghampiri kehidupan beliau: sang ayah meninggal, lalu meletuslah Konflik Ambon. Beliau menceritakan dengan sangat detail bagaimana dulu keadaan yang beliau alami saat konflik. Mulai dari apa yang beliau lakukan saat meletusnya konflik tersebut, hingga sebuah cerita yang tak pernah beliau lupakan sampai saat ini. Waktu itu, di tengah-tengah medan peperangan yang sedang memanas, beliau bersama rekan-rekannya yang lain mendapatkan hujan peluru yang luar biasa. Sambil berlari ketakutan, beliau menyaksikan bahwa rekan-rekan di kanan-kirinya mulai bertumbangan. Satu persatu mereka kehilangan nyawa. Di tengah-tengah keadaan mencekam ini, beliau mengucapkan sebuah doa yang amat menakjubkan “Ya Allah, jika memang Kau menginginkanku mati hari ini, maka matikanlah aku sebagai syuhada. Dan jika Kau izinkan aku tetap hidup, maka jadikanlah hidupku penuh kemanfaatan bagi orang lain”

Dan, kata pemilik raihanshop.com kepada kami saat diskusi sore tadi, “Saya tidak tahu apa yang diinginkan Allah. Saya hanya ber-husnudzon bahwa kesempatan hidup ini diberikan agar saya bisa menebarkan manfaat kepada yang lainnya.” Beliau mengucapkan dengan penuh keyakinan. Dan saat itulah, kami terpesona. Hehehe.

Kita tahu bahwa konflik di Ambon waktu itu berlangsung cukup lama, dan tentu keadaan sangat tidak kondusif untuk aktivitas pendidikan. Maka Mas Fitra memutuskan untuk keluar dari Ambon. Kemana? Jakarta. Kenapa memilih Jakarta? Tidak tahu. Disana tinggal dengan siapa? Tidak tahu. Ke Jakarta dengan biaya siapa? Tidak tahu. Semua serba tidak tahu. Pokoknya, beliau hanya punya Allah, dan bagi beliau, modal itu sudah cukup untuk memulai sebuah perjalanan kehidupan.

Akhirnya beliau ke Jakarta sendirian tanpa kenalan. Bermodalkan uang tabungan sang nenek –entah ini tabungan beliau berapa tahun-, orang yang pernah menaikkan omset suatu perusahaan dari 2 Milyar menjadi 14 Milyar ini, berangkat ke Jakarta dengan kapal laut. Empat hari empat malam beliau di atas lautan. Begitu sampai di Jakarta, celingak-celinguk kanan kiri, tanya sana-sini, dipertemukanlah beliau seorang saudaranya dari Ambon. Saudaranya ini sangat membantu kehidupan Mas Fitra selama di Jakarta, hingga beliau berhasil masuk ke SMAN 13 Jakarta. Disana perjuangan beliau tidak berhenti walau sejenak. Tinggal di tempat saudara yang juga bukan orang kaya, beliau harus berjualan minyak di pasar dan menjadi loper koran kalau mau tetap hidup dan sekolah. Itu semua beliau alami, hingga suatu hari, saat sedang berjaga di kios, beliau melihat ada pengumuman UMPTN, dan nama beliau ada disana! Diterima di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta. Langsung saja, seisi pasar menyalami dan mengucapkan selamat kepada beliau. Ceritanya, ada lebaran dadakan hari itu. Hehe.

Lepas dari SMA, beliau ke Solo untuk melanjutkan pendidikan. Ternyata, episode perjuangan itu tak kunjung berakhir. Sekali lagi Mas Fitra menunjukkan, bahwa semua ini bukanlah tentang secepat apa kita berlari, tapi seberapa lama kita mampu bertahan untuk tetap berdiri. Tanpa modal apapun, beliau nekat kuliah di Solo. Yang unik adalah saat saya tanya bagaimana dulu membayar uang masuk dan keperluan lain untuk kuliah. Kata beliau “Saya lupa. Hehe”. Iya deh, mas.. Hehe.

Ini yang paling seru: karena harus tetap hidup, maka sejak semester dua beliau menjalankan dua aktivitas yang menghasilkan uang. Pertama, beliau dan 4 orang rekannya menjalankan usaha pembukuan untuk toko-toko di sekitar Solo. Hanya saja, pemasukan dari kantong ini hanya mengalir saat ada proyek. Di luar itu, beliau harus memutar otak. Dan, karena memang tidak ada pilihan lain, beliau terpaksa, sekali lagi, benar-benar terpaksa untuk menjadi seorang pengamen! Kisah mahasiswa semester 2 ngamen di hari pertamanya ini yang tadi membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Jadi ceritanya, Mas Fitra berangkat ke Terminal Tirtonadi dengan gitar pinjaman. Disana, dengan wajah tanpa dosa, langsung saja dia naik bis yang sedang berhenti. Lagu pertama selesai, dia lihat ke jendela. Dan, wow! Segelintir pengamen lain telah menunggunya di bawah. Ternyata, itu adalah lahan milik sekelompok pengamen! Dan beliau baru sadar bahwa sedang masuk ke dalam kandang singa. Gawat! Tapi beliau yakin bahwa selalu ada jalan keluar. Lalu apa yang beliau lakukan? Menyanyikan lagu kedua! Ternyata ini fatal. Selesai lagu kedua, komplotan pengamen itu justru semakin banyak. Karena tak tahu harus bagaimana lagi, beliau malah teruskan ke lagu yang ketiga! Sumpah ini benar-benar konyol. Jelas, justru semakin banyak pengamen yang berkumpul untuk siap-siap menghajar beliau.

Karena bis sudah mau berjalan, mau tak mau dia harus turun. Dan benar, di luar bis, pengamen-pengamen yang sejak tadi berkumpul itu sudah siap dengan bogem mereka masing-masing. Sebelum keluar dari bis, beliau berdoa untuk solusi yang sepertinya sudah tak mungkin datang lagi. Namun Allah tetaplah Allah Yang Maha Baik. Solusi itu akhirnya datang juga! Beliau tiba-tiba teringat cerita Hudzaifah Bin Yaman, sahabat Rasulullah Shalallaahu ‘Alayhi Wa Sallam yang diperintahkan untuk menjadi mata-mata. Dan itu yang beliau praktikkan. Maka begitu keluar dari bis, beliau katakan pada pengamen-pengamen yang mengerubunginya itu.

“Sebentar-sebentar. Saya ini mahasiswa, sedang penelitian. Mana bos kalian? Saya mau ketemu. Kamu, bosnya? Atau kamu? Atau kamu yang di belakang itu?” Dengan santainya beliau tunjuk muka mereka satu per satu. Yang awalnya emosi, kini mereka malah terkagum-kagum “Wah, ada mahasiswa. Mau penelitian, lagi! Kan keren.” begitu kira-kira. Maka akhirnya, beliau diantar ke bos para pengamen itu. Bocah semester dua ini pun sok-sok-an melakukan wawancara penelitian. Amanlah nasib beliau saat itu. Namun, uang hasil ngamen hari itu terpaksa diberikan karena si bos mengatakan “Mas, anda kan mahasiswa, udah nggak butuh duit itu kan? Sini, duitnya ditinggal aja”. Ya udah deh, 1500 melayang begitu saja. pasca kejaidan itu, beliau tak pernah ngamen di bis yang sedang berhenti. Jadi beliau selalu mencari bis yang sedang berjalan sebagai panggung beliau.

Sekali lagi, beliau melakukan semua ini karena terpaksa. Bagaimana tidak, beliau sering menangis sebelum tidur karena harus memaksa matanya terpejam dalam keadaan perut melilit karena lapar. Maka beliau berusaha melakukan apapun yang beliau bisa lakukan. Dan ngamen ini beliau lakukan sampai di semester tiga. Memasuki semester berikutnya, Mas Fitra mulai mendapatkan penghasilan lain dari bisnis dan beasiswa. Beliau juga mendapatkan beasiswa ikatan dinas dari sebuah BUMN yang sudah “menjamin” kehidupannya selepas lulus kuliah.

Satu hal besar yang tak bisa dilepaskan dari seorang Mas Fitra adalah: keberanian dalam membuat keputusan besar. Salah satu diantara keputusan besar itu adalah, menikah di semester enam! Bayangkan, pemuda dua puluh tahun yang belum lulus dan bukan anak orang kaya ini berani meminang perempuan dalam usia semuda itu. Keputusan besar lain yang beliau ambil selain itu adalah: keluar dari perusahaan setelah dua tahun bekerja karena ingin menjadi pengusaha! Coba kita lihat. Waktu beliau keluar itu, Mas Fitra harus menanggung seorang istri dan seorang anak! Bagaimana mungkin seorang pengangguuran harus menghidupi seorang istri dan seorang anak? Maka beliau harus bertindak. Lalu apa yang beliau lakukan?

Selama menjadi pengangguran, beliau selalu berdandan rapi dan keluar rumah sebelum jam 6 pagi. Kemana? Tidak tahu. sama seperti waktu beliau berangkat ke Jakarta. Beliau tidak tahu. Beliau hanya tahu bahwa beliau punya Allah yang siap menuntun jalan beliau. Bahkan saat di luar rumah pun, beliau bingung, “Hari ini gua jalan ke kanan apa ke kiri yak?” Ampun, deh. Jagoan banget abang kita ini. Kata beliau “Pokoknya jangan sampai kita itu diam. Bismillah, jalan aja dulu. Mau nanti akhirnya gimana, itu urusan Allah. Rezeki itu ada di depan kita. maka kita harus jalan ke depan agar bisa ketemu. Lha kalau kita diam, gimana mau ketemu?”

Tiga bulan mengalami fase-fase itu, akhirnya sampailah beliau pada sebuah kejadian unik. Oiya, saya lupa menyampaikan sesuatu. Jadi, Mas Fitra ini mempunyai kemampuan Interpersonal yang benar-benar diatas rata-rata. Easy going banget lah pokoknya. Saat mahasiswa saja, beliau bisa menjalin hubungan yang sangat dekat mulai dari satpam, sesama dosen, hingga kepada rektor. Pernah suatu kejadian, waktu jadi mahasiswa baru, yang seharusnya masih takut-takut sama dosen, beliau samperin seorang dosen yang badannya gemuk dan dengan santainya mengatakan “Pak, bapak nggak pernah olahraga ya?” Bayangkan. Mahasiswa baru sudah berani seperti itu. Dan apa yang terjadi setelahnya? Sang dosen justru minta diajari renang sama Mas Fitra! Kata Mas Fitra tadi “Alhamdulillah, sekarang beliau udah langsing. Haha.”

Baik, lanjut ke tiga bulan pasca mengalami fase-fase “pengangguran” tersebut. Suatu hari, beliau menghadiri sebuah seminar bisnis. Beliau duduk disamping dua pengusaha. Seperti biasa, beliau membuka obrolan ringan sebelum sesi materi dimulai. Beliau mulai dari orang di sebelah kirinya. Dari obrolan singkat itu, akhirnya beliau tahu bahwa orang ini adalah pengusaha yang omsetnya puluhan juta per bulan. Wah, hebat juga! Lalu beliau bergeser ke orang di samping kanannya. Namanya Pak Haryadi. Setelah ngobrol panjang lebar, Mas Fitra ini memberikan masukan bisnis kepada beliau –yang ternyata adalah pengusaha percetakan-. Kata Mas Fitra “baiknya perusahaan bapak begini dan begini. Karyawannya diberikan ini dan ini, lalu begini-begini” beberapa saran dan masukan bisnis beliau berikan. Pak Haryadi Pun mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan Mas Fitra. Hingga sampailah pada acara inti. Moderator membacakan CV pembicara. Menyebutkan bahwa pembicara yang akan tampil ini adalah seorang pengusaha dengan omset miliran rupiah per bulan. Lalu Moderator itu mengakhiri dengan “Mari kita sambut pembicara kita kali ini, Pak Haryadi! Beri tepuk tangan yang meriah!!”

Jederrr!!!!! Ibarat kena petir di siang bolong. Ternyata, orang yang tadi beliau “ajari” cara berbisnis itu adalah orang kaya raya yang di seminar itu menjadi pembicara! Jelas Mas Fitra malu. Tapi, beliau tidak lari. Selepas acara, beliau meminta maaf. Beliau katakan “Maaf pak, saya tidak tahu kalau ternyata bapak ini orang hebat”. Betapa terkejut Mas Fitra saat Pak Haryadi ini justru mengatakan “Nggak papa mas, Yang Mas Fitra sampaikan tadi benar kok. Besok main ke rumah saya ya.”

Besoknya Mas Fitra main ke rumah Pak Haryadi. Memang benar, beliau kaya raya nggak ketulungan. Gapura rumahnya saja udah kayak gapura RT. Besar luar biasa. Setelah ngobrol sana-sini, Mas Fitra ditanya, “Mas Fitra ada rencana bisnis apa?”. Lalu beliau menyampaikan bahwa ingin membangun Warung Internet. Setelah ditanya berapa biaya untuk membeli tempat dan sebagainya, Pak Haryadi ini mengeluarkan cek senilai 850 juta dan menyerahkannya langsung ke Mas Fitra! “Udah, segera buat warnet, nanti bagi hasilnya kita urus belakangan.”

Allahu Akbar! Rejeki anak sholeh bener dah, bang..

By the way, nama warnetnya adalah Spider Net. Anak UNS pasti tahu warnet ini lah ya. Tapi warnet ini udah beliau jual. Ke siapa? Ke anaknya Pak Haryadi. Balik lagi deh ke keluarga Haryadi. Hehe.

Rekan-rekan @FsdkIndonesia..

Dari bisnis warnet itulah karir pengusaha Mas Fitra dimulai. Mas Fitra kini menjalankan beberapa perusahaan. Satu milik beliau, sedangkan yang lainnya adalah perusahaan orang lain yang beliau garap dengan sangat luar biasa. Kini, Aktivis Dakwah Kampus yang dulu pernah aktif di Badan Pengamalan dan Pengembangan Islam (BPPI) UNS ini adalah pengusaha kaya raya yang telah menginspirasi ribuan orang melalui pelatihan, sekolah bisnis, dan kelas-kelas bisnis yang beliau buka baik melalui online maupun secara langsung.

Dua hal besar yang bisa kita pelajari dari seorang Mas Fitra:

  1. Yakinlah bahwa ketika kita tidak tahu jalan, kita selalu punya Allah Yang Maha Tahu. Maka, saat kita tidak tahu kemana harus melangkah, dekat-dekat saja sama Allah, biar dikasih tahu.
  2. Kekuatan membangun relasi itu adalah modal paling besar yang harus kita siapkan. Allah itu Maha Pemberi Rezeki. Tapi, Dia “perlu” orang lain sebagai sarana penyalurannya. Maka, jika kita mau dapet banyak rezeki, akrabi saja banyak orang, agar lebih banyak saluran rezeki yang terbuka untuk kita. Nah, Rasulullah Shalallaahu ‘Alayhi Wa Sallam paham betul konsep ini, dan beliau ingin agar umatnya juga merasakan manfaatnya. Maka, beliau Shalallaahu ‘Alayhi Wa Sallam perintahkan kita menjalin silaturrahim.

Aktor LDK.Saya! : Fitra Jaya Saleh

Penulis : Muhammad Syukri Kurnia Rahman, S.Ked

——————————————————- Media FSLDK Indonesia —————————————————-

Email : info@fsldkindonesia.org

Fanpage : FSLDK Indonesia

Twitter : @FsdkIndonesia | @JarmusnasFSLDKI

Line : @yok1532s

G+ : FSLDK Indonesia

11402927_1006908705986645_876222872962450174_o

Syukri, Keajaiban Di Balik Setiap Pengorbanan

By | Prestasi | 7 Comments
IMG-20150826-WA0011

Muhammad Syukri Kurnia Rahman

“Ya Allah, Kau telah menunjukkanku awal dari jalan ini. Maka perlihatkan pula padaku, bagaimana akhir dari ujungnya.” –Muhammad Syukri-

Sewaktu SMA, dia pernah menjadi bahan tertawaan seisi kelas lantaran Ujian Akhir Sekolah (UAS) matematikanya mendapat nilai terendah di sekolahnya. Gara-gara itu pula, orangtuanya harus rela dipanggil menghadap ke guru BP. Betapa malu dirinya saat itu, mengingat sang ayah adalah seorang kepala sekolah di sebuah SMA. Meskipun dia mengatakan kepada guru-gurunya bahwa dia mendapatkan nilai itu dengan kejujuran, tapi tak ada yang peduli dengan itu semua. Bahkan ada seorang guru yang juga ikut menertawakannya! Namun dia tetap berjalan. Dia hanya yakin bahwa ketika dia menjalankan apa yang Allah mau, pasti Allah juga akan memberi apa yang dia perlu. Dan memang Allah tak akan pernah tidur! Saat rekan-rekan yang lain kesusahan masuk PTN, Allah menghadiahkan untuknya sebuah tempat di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Tak hanya itu, dia juga mampu mencatatkan namanya menjadi salah satu diantara 8 orang Asisten Laboratorium Fisiologi dan merupakan satu-satunya mahasiswa FK UNS yang mendapat Beasiswa Aktivis Nusantara angkatan 4 dari Dompet Dhuafa. Selain itu, dia juga berhasil mendapatkan beasiswa Bank BRI, memperoleh beberapa penghargaan nasional dan menjadi pembicara tingkat nasional. Dia juga pernah ditunjuk oleh pihak kampus mewakili mahasiswa untuk menjadi pembicara dalam sebuah seminar nasional Al-Qur’an dan Sains bersama imam besar masjid kesultanan Brunei Darussalam di acara Pembukaan Dies Natalis UNS. Saat itu dia menjelaskan tentang Al-Qur’an dan kedokteran di depan rektor, para dekan, dan jajaran ulama jawa tengah. Sungguh sebuah kebanggaan yang luar biasa bagi pemuda yang kemarin sore ditertawakan oleh rekan-rekannya!

Pemuda yang selalu memberikan seluruh uang beasiswanya kepada orang lain itu, juga pernah menjual motornya untuk membelikan motor seorang sahabatnya. Dia kasihan karena sang sahabat harus mencari angkot untuk pergi kemana-mana. Dan Mas Syukri sendiri memilih untuk berjalan kaki! Kini, pemuda yang dulunya menyelesaikan skripsi dan menulis bukunya (bulan depan diterbitkan oleh penerbit ProYou, InsyaAllah) dengan laptop pinjaman ini merupakan mahasiswa fakultas kedokteran pertama yang memimpin forum mahasiswa muslim terbesar di Indonesia, FSLDK Indonesia.

Sobat muda @FsldkIndonesia.. Mari kita hadirkan seorang sosok inspiratif yang punya hobi memberikan uang kaget kepada orang lain ini. Please welcome, Mas Muhammad Syukri, S.Ked..

Merdeka!

Sepertinya akan seru jika kita memulai cerita seorang Mas Syukri dari sini. Berawal dari niatan dia dan empat orang temannya untuk tidak mencontek saat UAS dan UNAS, Mas Syukri membulatkan tekad untuk siap menerima segala konsekuensi logis dari keputusannya itu. Dia tahu kalau dia belum siap menghadapi UAS, apalagi UNAS. Dan dia sadar bahwa dia bukan orang pintar. Maka kalau dia mengandalkan kemampuannya sendiri, urusannya akan sangat panjang dan rumit. Namun dia yakin dengan kekuasaan Allah. Dan ternyata, “bencana” itu akhirnya datang juga. Nilai UAS matematika diumumkan di depan kelas. Disebutkanlah nama siswa dan nilai yang diperoleh. Satu persatu nilai rekan-rekannya dibacakan. Mayoritas mendapat nilai 90, atau setidaknya 80. Tibalah giliran dia. Namanya disebut. Muhammad Syukri Kurnia Rahman. Tak lama berselang, sang pembaca nilai meneriakkan “Merdeka!”. Seisi kelas terdiam sejenak. Hening. Ada sedikit kasak-kusuk tentang pertanyaan “Apa maksudnya merdeka?”. Lalu sang pembaca nilai yang juga temannya sendiri itu mengatakan “Tahun 45! Merdeka! Nilainya 45”. Mendadak kelas riuh. Tertawa terbahak-bahak menggema dimana-mana.

Pemuda desa itu hanya bisa tersenyum pasrah diatas bangku kayunya. Menatap kosong entah kemana. Gejolak hatinya ingin berontak. Lisannya rasanya ingin sekali berteriak, “YA, NILAI SAYA JELEK! Tapi saya terhormat! Saya tidak mencontek seperti kalian!”. Tapi dia menyadari bahwa dia tak punya kuasa untuk mengatakan itu semua. Apalagi kejadian itu bukan yang terakhir. Masih ada nilai biologi, kimia dan pelajaran-pelajaran lain yang juga tak bisa membuatnya tersenyum bangga. Yang lebih menyedihkan, karena nilainya yang mengenaskan itulah, orangtuanya diberi surat panggilan untuk menghadap ke guru BP. Dan -sekali lagi-, itu diumumkan di depan kelas. Betapa malunya dia mengingat sang ayah adalah seorang kepala sekolah SMA. Tapi sekali lagi, dia tak punya kuasa apa-apa. Maka dia hanya bisa menangis di sujud-sujud panjangnya. Dia hanya bisa mengadu pada Allah, harus sampai kapan dia menanggung pahitnya sebuah kejujuran? Dan sebuah perjalanan tentang kejujuran itu ternyata justru ditutup dengan kabar bahwa Mas Syukri lulus UNAS dengan nilai yang benar-benar tidak bisa dibanggakan!

Keyakinan yang menemukan ujungnya.

Pasca itu, Mas Syukri berusaha bangkit perlahan. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa saat kita merapat ke jalan Allah, Dia pasti tak akan meninggalkan kita sendirian. Dia pasti akan menemani kita di jalan itu sampai ujung yang paling akhir. Mas Syukri sadar bahwa dia telah memiliih jalan kejujuran, dan itu adalah jalan Allah, maka pasti tak lama lagi cahaya terang itu akan segera datang. Dia lantas berhijrah ke Malang. Mengikuti persiapan SNMPTN di sana sendirian tanpa teman. Hanya belajar dan berdoa. Tiap hari itu saja yang dia lakukan. Tak pernah terpikir untuk menghabiskan sehari-dua hari untuk jalan-jalan ke suatu tempat hiburan. Dia berpikir sudah terlalu sering merepotkan ayah dan ibunya, maka dia memutuskan bahwa mulai detik itu, dia tak akan melakukan hal itu lagi. Untuk makan saja, dia berhemat habis-habisan. Beli makanan di malam hari, lalu di sisakan separuh untuk sarapan pagi. Begitu terus sampai akhirnya satu hari menjelang SNMPTN, dia mendapat kabar bahwa ada salah seorang saudara yang memerlukan uang untuk tambahan biaya operasi usus buntu. Karena berhemat habis-habisan itulah, uang yang dia punya masih tersisa 600 ribu. Tanpa berfikir panjang, dia kuras seluruh dompet dan uang itu diberikan kepada saudaranya, sambil terus berdoa “Ya Allah, Kau telah menunjukkan awal dari jalan ini. Maka perlihatkan pula padaku, bagaimana akhir dari ujungnya.”

Beberapa pekan berselang, kabar gembira itu benar-benar sampai kepadanya. Allah tidak hanya memberikan satu tempat baginya di perguruan tinggi negeri, tapi juga menempatkannya di fakultas yang menjadi incaran banyak orang, Fakultas Kedokteran. Bayangkan. Seorang Syukri yang baru saja kemarin sore ditertawakan rekan-rekannya, kini berada di tempat yang tak bisa dijangkau mereka yang kemarin menertawakannya. Dia resmi tercatat sebagai mahasiswa Pendidikan Dokter FK UNS angkatan 2011.

Sebuah lompatan besar.

Ternyata, menjalani kehidupan sebagai mahasiswa fakultas kedokteran itu tak semudah yang dibayangkan. Semester satu, dua, tiga, Mas Syukri selalu pulang dengan membawa kesedihan. Tak ada kebanggaan yang bisa dibawa pulang, tak ada kejutan yang bisa diceritakan. Yang ada hanyalah kabar bahwa ujiannya selalu mengulang dan mengulang. Bahkan di semester tiga, dia sudah mengatakan kepada orang tuanya untuk mundur dari FK UNS. Dia tak sanggup lagi menyusul kereta yang melaju begitu cepat ini. Tapi itulah hebatnya Mas Syukri. Dia bagkit sebanyak dia gagal. Maka di semester tiga itu dia berusaha mengoreksi kembali perjalanan hidupnya. Dan dia menemukan satu jawaban menarik: dia terlalu sibuk dengan urusan pribadinya sendiri! Dia teringat sebuah hadits yang mengatakan bahwa barangsiapa memudahkan urusan saudaranya, maka Allah akan memudahkan urusannya.

Dan akhirnya, lompatan besar itu benar-benar dia lakukan! Dia datangi mesin ATM, dan dia kuras semua tabungan yang dia punya. Ada hampir tiga juta waktu itu. Lalu, dia kunjungi satu persatu panti asuhan di Solo. Dia  bagi-bagi uang itu ke mereka, hingga uang di dompetnya tersisa 15 ribu saja! Pekan berikutnya, karena tak punya uang lagi, maka dia kumpulkan baju-baju yang dia punya, lalu dia berikan lagi ke panti asuhan yang sama. Pekan berikutnya lagi, dia belikan anak-anak yatim itu susu segar dan makanan ringan. Hampir setiap pekan dia mengunjungi panti asuhan. Menyapa mereka, mendengar ceritanya, dan memberikan apapun yang dia punya. Dan sekali lagi, Allah benar-benar tak akan menyalahi janjinya. Semenjak uang di dompetnya hanya tersisa 15 ribu itu, satu demi satu keajaiban mendatangi Mas Syukri.

Yang pertama adalah terpilihnya dia sebagai Asisten Laboratorium Fisiologi FK UNS. Sungguh tak menyangka bahwa orang yang sering mengulang ujian itu kini menjadi asisten laboratorium. Berikutnya, Mas Syukri terpilih untuk memimpin Lembaga Dakwah Fakultas SKI FK UNS yang beranggotakan 190-an orang. Pasca itu, dia mendapatkan beasiswa dari Bank BRI dan terpilih sebagai satu-satunya mahasiswa FK UNS yang mendapat beasiswa dari Dompet Dhuafa di angkatannya. Dia juga sempat menjadi juara tiga nasional dalam ajang Islamic Lesson and Essay Competition. Sebelum itu, dia juga terpilih sebagai The Best Participant Moslem Managerial And Leadership Camp mahasiswa muslim Fakultas Kedokteran Se-Indonesia. Mas Syukri sebenarnya juga memiliki kesempatan untuk berangkat ke Belanda dalam sebuah ajang presentasi ilmiah bersama rekannya, hanya saja karena suatu sebab, dia tidak jadi berangkat.  

Lambat laun, Mas Syukri terkenal sebagai seorang pembicara yang handal. Dia sering diundang untuk mengisi seminar di forum-forum pemuda, kepemimpinan dan juga yang lainnya. Bahkan beliau pernah ditunjuk oleh pihak kampus mewakili mahasiswa untuk menjadi pembicara dalam sebuah seminar nasional Al-Qur’an dan Sains bersama imam besar masjid kesultanan Brunei Darussalam di acara Pembukaan Dies Natalis UNS. Saat itu dia menjelaskan tentang Al-Qur’an dan kedokteran di depan rektor, para dekan dan jajaran ulama jawa tengah. Bayangkan. Pemuda yang tahun lalu selalu membawa kesedihan setiap kali pulang ke rumah itu, kini bisa pulang dengan kebanggaan. Pengalaman-pengalaman hidup yang dia lalui mengantarkannya menjadi seorang pembicara tingkat nasional yang telah menjejakkan kaki di berbagai pulau di Indonesia.

Episode-episode kehidupan Mas Syukri ternyata benar-benar unik dan menarik! Lihatlah bagaimana dia mempunyai kebiasaan memberikan “uang kaget”. Apa itu uang kaget? Jadi, tanpa ada hujan tanpa ada angin, langsung saja dia ngasih uang lebih kepada pedagang makanan yang dia beli. Kata beliau “Ya, misal kalau lagi beli sate ya. Harganya kan 10 ribu tuh, kasih aja duit 50 ribu dan gak usah minta kembalian. Pasti yang jualan bakalan kaget. Hehe”

Lanjut beliau “Kalau kita sering memberikan orang lain uang kaget, Insyaallah, Allah juga akan sering ngagetin kita dengan keajaiban-keajaiban-Nya”.

Dia juga punya kebiasaan menguras dompet untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan. “Coba deh, kita biasain nguras dompet kita. Cari tuh orang-orang yang berada di tempat pembuangan sampah. Coba malem-malem gitu kesana. Dengerin ceritanya, lalu kasih aja semua yang ada di dompet kita. Insyaallah justru semakin bertambah rezeki kita karena itu.”

Yang benar-benar unik adalah, Mas Syukri ini ternyata tidak pernah mengambil uang beasiswa yang dia terima. Selalu saja dia kasihkan ke mereka yang membutuhkan. Kadang sekali waktu juga dibelikan cincin untuk ibunya. Beliau mengatakan “I believe in something that cannot seen by eyes. Ada tangan-tangan lain yang bergerak menolong kita begitu kita menolong orang lain. Lihatlah saya. Di semester-semester awal berat badan saya 60 kilo. Sekarang, setelah terbiasa menguras dompet, berat badan saya justru nambah jadi 80 kilo. Haha. Tenang aja. Kalau kita ngasih makan orang lain, Allah yang bakalan ngasih makan kita. Nggak usah takut miskin kalau mau bantu orang.”

Ada cerita menarik juga yang mungkin bisa membuat kita kaget. Mas Syukri ternyata pernah menjual motor kesayangannya demi membelikan sahabatnya sebuah motor. Mas Syukri merasa kasihan kepada sahabatnya itu karena harus naik angkot setiap hari. Maka dia jual motornya, dan dia belikan sebuah motor bebek untuk sahabatnya itu. Lalu dia? Dia memutuskan untuk jalan kaki! Tapi subhanallah, tak lama setelah itu, Allah kembali menurunkan keajaiban untuknya. Dia mendapatkan sebuah motor yang jauh lebih bagus dan mewah dari motor yang dulu dia jual (lihat foto, hehe).  

Terkahir, kisah menarik dari mas syukri adalah saat dia menyelesaikan skripsi dan bukunya (Insyallah segera diterbitkan oleh ProYou media) dengan laptop pinjaman. Dia tak sampai hati untuk minta dibelikan laptop oleh ayahnya. Maka solusi yang paling memungkinkan adalah: meminjam. Dan hebatnya, bukan hanya bisa menyelesaikan skripsi, mas Syukri juga merampungkan pembuatan bukunya dengan laptop itu. Pelajaran juga nih buat kita yang lagi males ngerjain skripsi padahal udah punya laptop pribadi. Ayok, kapan mau diberesin tuh kak?

Kini, Ketua Pusat Komunikasi Nasional FSLDK yang menunda pendidikan profesi dokternya untuk menjadi ketua FSLDK ini sedang mengembangkan gerakan #BacaDuaLima bersama rekan-rekannya, yang Alhamdulillah mampu merubah seseorang dari tidak pernah membaca buku sama sekali menjadi orang yang mampu membaca 5 sampai enam buku dalam waktu tiga pekan saja! Dan ini sudah dijadikan gerakan nasional lho oleh FLSDK. Jadi, segera gabung yak! 

Sobat muda @FSLDKIndonesia.. Terakhir, mari kita simak pesan dari calon dokter ini kepada kita sebagai aktivis dakwah kampus. Kata beliau, “Ciptakanlah sebuah ruang dalam kehidupan kita agar Allah masuk dan mengisinya dengan keajaiban-keajaiban besar. Dan cara menciptakan ruang-ruang itu sederhana saja. Ringankanlah urusan orang lain!”

Semoga kehadiran aktor LDK.Saya! ke-5 kali ini semakin membuat kita terinspirasi untuk menciptakan keajaiban-keajaiban baru dalam kehidupan kita. Simak terus cerita seru nan inspiratif dari serial LDK,Saya! Di web kesayangan ini ya.. Selamat beraktivitas kembali 

Terima kasih kepada:

Penulis : Ahmad Yasin, Komisi D Puskomnas FSLDK

Aktor LDK, Saya!: Muhammad Syukri Kurnia Rahman, S.Ked

Tim Komisi D Puskomnas FSLDK

Rumah Besar FSLDK Indonesia

*Mau gabung #BacaDuaLima? Klik Facebook.com/BacaDuaLima

——————————————————- Media FSLDK Indonesia —————————————————-

Email : info@fsldkindonesia.org

Fanpage : FSLDK Indonesia

Twitter : @FsdkIndonesia | @JarmusnasFSLDKI

Line : @yok1532s

G+ : FSLDK Indonesia

 

mas fadly

Bang Fadly, ADK Segudang Prestasi!

By | Prestasi | One Comment
mas fadly

Fadly Irmawan

Di semester satu kuliahnya, dia ditertawakan banyak orang hanya karena mengatakan bahwa dia ingin ke luar negeri. Mimpi yang terlalu muluk memang, untuk ukuran seorang anak wartawan yang harus membiayai kuliahnya dengan keringat dan usahanya sendiri. Namun bukan aktivis dakwah kampus namanya, kalau harus menangis di bawah tertawaan orang lain. Maka dia Bangkit! Membuktikan bahwa selama ada Allah di samping kita, kesuksesan hanyalah soal waktu. Saat ini, mantan ketua Pusat Komunikasi Daerah (Puskomda) FSLDK Kalimantan Barat ini telah berhasil menjejakkan kaki di 30 negara berbeda! Sebuah pembuktian telak bagi mereka yang selama ini menertawakannya.

Tidak hanya itu, aktivis dakwah kampus yang menguasai 5 bahasa ini juga pernah menorehkan namanya di ajang paling bergengsi di kalangan mahasiswa dengan menjadi Mahasiswa Berprestasi Ke-3 Tingkat Nasional! Benar-benar sebuah pencapaian yang membuat kita geleng-geleng kepala. Saat ini, pria yang tidak pernah meninggalkan sholat malamnya ini sedang menyelesaikan pendidikannya di program pasca sarjana ITB dengan mengantongi beasiswa LPDP.    

Waktu saya tanya apa tanggapan beliau kalau LDK disebut sebagai sarang teroris, beliau mengatakan “Udah, kasih senyum aja. Buktikan dengan prestasi dan karya-karya besar kita. Toh nyatanya, orang-orang besar yang lahir dari LDK itu jumlahnya udah nggak keitung lagi. Iya kan? Maka justru seharusnya, mereka berterimakasih kepada FSLDK!”

Sobat muda @fsldkindonesia.. Yuk, bercengkerama bareng aktivis dakwah kampus keren yang satu ini.. Please welcome, Bang Fadly..

Maaf menyela bentar, hehe. Sebelum kita mulai tulisan ini, FYI aja, akhir bulan ini Bang Fadly mau berangkat ke Swiss untuk sebuah acara yang berkaitan dengan studinya. Kalau jadi, insyaallah beliau juga sekalian nyiapin berbagai hal dalam rangka melanjutkan S3 nya disana. Kita doakan yak, semoga aktivis dakwah inspiratif yang satu ini mendapat kelancaran dalam urusan-urusannya.. Aammiiinn..

Well, kembali ke laptop! Sekarang saatnya kita kupas tentang Bang Fadly..

Segudang prestasi dan organisasi

Nama lengkap beliau Fadly Irmawan. Menguasai lima bahasa: Inggris, Jepang, Perancis, Arab, dan Hangeul. Ayah beliau seorang wartawan, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga. Beliau adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Nah, kita mulai perjalanan kesuksesan Bang Fadly ini dari diterimanya beliau di Fakultas MIPA Jurusan Biologi Universitas Tanjung Pura. Waktu ospek kampus, di tahun 2005, beliau sempat mengatakan kepada rekan-rekannya bahwa beliau ingin ke luar negeri. Sontak omongan itu menjadi bahan tertawaan bagi teman-temannya yang lain. Tapi anehnya, Bang Fadly justru semakin bersemangat untuk mengejar impiannya ini. Dengan modal doa dan tekad baja, di tahun yang sama, Bang Fadly berhasil menginjakkan kakinya di Vancouver, Kanada, untuk mengikuti pendidikan non gelar disana selama satu tahun. Maka praktis, cukup beberapa bulan untuk membuktikan apa yang selama ini orang lain tertawakan! Selama satu tahun disana, beliau menimba ilmu tentang bahasa prancis. Bagaimana kuliahnya di UNTAN? Ditinggal. Udah, gitu aja. Enteng banget yak. Hehe.

Satu tahun selepas dari Kanada, beliau mendapat kesempatan belajar Japanese Lietheracy di Hokkaido University dengan progam setara diploma satu. Satu tahun di Jepang, beliau kembali ke Indonesia. Apa yang beliau lakukan? Beliau datang ke Universitas Tanjung Pura, menanyakan status kemahasiswaannya, dan ternyata, masih berlaku! Detik itu pula, beliau memutuskan untuk melanjutkan studinya yang pernah berjalan satu tahun disana.

Sejak saat itulah kecemerlangan seorang Bang Fadly benar-benar terlihat. Bayangkan saja, hampir setiap tahun beliau selalu memegang posisi Top Level Manager di setiap UKM yang dia ikuti. Mulai dari presiden mahasiswa UNTAN, Ketua BKMI (Badan Kerohanian Mahasiswa Islam) UNTAN, sampai ke Ketua Pusat Komunikasi Daerah (Puskomda) FSLDK Kalimantan Barat. Tidak berhenti sampai disitu, beliau juga mendirikan dua lembaga Akademik dan Profesi (Akpro) di dua fakultas, yakni KOTAK PENSIL di FMIPA dan FORMASI di Fakulas Ekonomi. Yang terakhir ini yang menarik. Jadi, lembaga profesi yang beliau dirikan ini bertujuan untuk meningkatkan kultur keilmiahan mahasiswa FE UNTAN. Bagaimana ceritanya beliau bisa berkarya di Fakultas Ekonomi? Ternyata beliau kenal akrab dengan Pembantu Dekan III Fakulas Ekonomi. Nah, kemudian Bang Fadly dan PD III FE UNTAN waktu itu berusaha agar gimana caranya kultur keilmiahan mahasiswa FE saat itu menjadi tumbuh. Maka, mereka berdua berbagi tugas. Bang Fadly menjadi pelaksana teknis, PD III yang bertugas ngurusin birokrasi. Lalu mereka bekerja! Sang PD III membuat sebuah aturan yang mewajibkan semua mahasiswa baru FE untuk membuat PKM, dan Bang Fadly dengan FORMASI nya bertugas menjadi pelaksana teknis untuk penyeleksian dan semua yang berkaitan dengan urusan lapangan. Hasilnya luar biasa! Fakultas Ekonomi yang awalnya sepi dengan karya PKM, kini menjadi fakultas yang paling banyak meloloskan karyanya untuk didanai oleh DIKTI. Bahkan ada yang melenggang sampai ke PIMNAS. Jadi praktis, Bang Fadly ini menjadi staff ahli PD III Fakultas Ekonomi. Hebat!

Sisi menarik lain dari Bang Fadly adalah, dengan sekian banyak aktivitas organisasi, IPK beliau waktu lulus adalah 3,89! Praktis, IPK beliau tidak pernah nangkring di bawah 3,5 di tiap semesternya. Padahal, diluar aktivitas organsisasi dan akademik itu, Bang Fadly harus mencari pekerjaan untuk membiayai kuliahnya sendiri. Beliau menjadi pengajar bimbingan privat dengan jadwal yang benar-benar padat. Sore hari selepas kuliah dan menyelesaikan urusan organisasi, beliau harus segera estafetan ke pekerjaan lain: menjadi pengajar les. Ba’da maghrib sampai jam 10 malam beliau mengajar di beberapa tempat. Setelah semuanya beres, beliau baru pulang kembali ke rumahnya. Tentu saat malam sudah benar-benar larut.

Pertanyaannya, mengapa beliau harus repot-repot kayak gitu?

Kata beliau “Ya kalau nggak gini, saya nggak bsia kuliah dek. Hehe”

Qiyamul Layl yang Selalu Bersambung

Saya benar-benar penasaran waktu beliau mengatakan bahwa beliau sanggup tidur jam  satu pagi, bangun lagi sebelum subuh dan tidak istirahat di siang hari. Nggak mungkin orang ini nggak punya rahasia. Pasti ada! Awalnya beliau tidak bercerita tentang ini. Tapi akhirnya beliau buka suara juga. Hehe. Beliau mengatakan bahwa salah satu rahasianya adalah Qiyamul Layl atau sholat malam. Bagi beliau, Qiyamul Layl itu adalah kebutuhan primer. Itulah yang menjadi sumber kekuatan dan produktivitas dari waktu-waktu yang beliau lewati. Qiyamul Layl itu memberikan tenaga yang tidak bisa kita jelaskan, tapi benar-benar bisa kita rasakan. Beliau mengatakan, ibarat mobil yang harus diistirahatkan setelah dipakai seharian, maka manusia juga sama. Istirahatnya manusia itu ya di Qiyamul Layl itu. Begitu diistirahatkan disana, kita akan siap untuk melakukan kerja-kerja besar berikutnya. Kalau nggak Qiyamul Layl? Ya kita akan loyo.

Saya sela perkataan beliau “Tapi kenapa ada orang yang udah Qiyamul Layl tapi tetep gampang capek?”

Kata beliau “Mungkin mereka tidak menganggap bahwa Qiyamul Layl itu sebuah kebutuhan utama yang harus dijalani dengan gembira. Mungkin saja mereka merasa terpaksa melakukan itu semua. Coba kalau enjoy, pasti efeknya akan beda. Bagi saya, Qiyamul Layl itu benar-benar menenangkan dan menggembirakan. Qiyamul Layl itu, sesuatu banget. Hehe.”

Tiga sampai lima juz seharian!

Lagi-lagi, waktu saya ngobrol dengan beliau, beliau tidak menceritakan soal ini. Beliau hanya mengatakan “Begitu ada waktu kosong, ya udah langsung aja baca Al-Qur’an”. Sebatas itu. Beliau tidak menyebutkan jumlah ayat atau juz yang bisa beliau selesaikan dalam seharian. Sampai akhirnya ada seorang informan yang memberi tahu saya bahwa Bang Fadly ini dalam sehari baca qur’annya tidak kurang dari tiga juz. Tiga juz!! Setelah saya cek –dengan sedikit pemaksaan tentunya, hehe- beliau membenarkan. Bahkan, kalau tidak sedang banyak tugas, beliau bisa membaca lima juz seharian! Ini udah bukan ODOJ lagi. Ini ODFJ! Hehe.

Maka sekali lagi, Bang Fadly mengajari kita, bahwa seberapa besar kemudahan yang diberikan kepada kita dalam satu hari, itu sebanding lurus dengan jumlah bacaan alqur’an kita hari itu juga.

Coba kita lihat, aktivitas Bang Fadly selama ini udah bener-bener sebesar gudang penyimpanan cadangan beras indoensia selama lima belas  tahun (maaf, ini alay), tapi bagaimana mungkin beliau bisa menghandle semua pekerjaan itu dan selesai tepat pada waktunya?

Second hand! Itulah jawabannya. Ada tangan-tangan lain yang bergerak mengatur urusan Bang Fadly. Saat Bang Fadly beraktivitas, tangan-tangan itulah yang membukakan jalan keluar satu demi satu sampai akhirnya pekerjaan Bang Fadly yang seharusnya terasa berat itu tiba-tiba saja menjadi terasa ringan dan mudah untuk diselesaikan.

Sekali lagi, second hand! Ada malaikat-malaikat Allah yang diperbantukan untuk mengawal segala urusan Bang Fadly. Dan itu terjadi karena beliau terus menerus melantukan bacaan Qur’annya tanpa henti.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan janganlahh kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada nya.“ (Q.S. Fushilat 41;30)

Setelah Qiyamul Layl yang selalu bersambung, maka sekarang kita belajar tentang lantunan Al-Qur’an yang tak pernah terputus!

Doa Tanpa Jeda

Menarik ketika kita mengikuti perjuangan beliau menjadi warga Bandung. Selepas dari UNTAN, beliau sebenarnya sudah diterima sebagai seorang kepala sekolah di salah satu SMA di kalimantan barat, namun beliau kembali merenungi apa yang ingin beliau lakukan di masa depan. Dan jawaban itu adalah: mengembangkan dakwah kampus sampai mati. Kenapa dakwah kampus? Karena bagi beliau, dakwah kampus lah yang paling strategis mencetak pemimpin-pemimpin terbaik bangsa ini. Oleh karena itu, jika beliau berlama-lama di sekolah, beliau justru akan semakin jauh dari dunia kampus. Maka pilihan berat itu diambil. Beliau mundur dari jabatan barunya, dan melanjutkan ke jenjang S2. Dimana? ITB. Beliau mendaftar, tes, dan diterima! Permasalahan baru muncul. Biayanya bagaimana? Tidak tahu. Beliau juga tidak bisa menjawab itu. Tapi beliau yakin, pasti ada yang bisa menjawab persoalan ini. Siapa? Allah. Maka, beliau berdoa. Berdoa saja. Terus menerus tanpa putus. Dan akhirnya, walau harus memulai kehidupan di Bandung dengan “terlunta-lunta”, kini beliau mendapatkan beasiswa LPDP untuk menyelesaikan pendidikannya disana. Hebat!

Bukankah saat kita butuh, Allah selalu hadir? Dan bukankah ketika Allah telah hadir, semuanya akan berakhir indah? Maka, berdoalah. Katakan pada Allah bahwa kita benar-benar membutuhkan pertolongan-Nya. Agar Dia hadir, dan menjadikan indah segala yang ada di depan mata kita.    

Sobat muda @fsldkindonesia.. Kalau kita cermat membaca perjalanan kehidupan Bang Fadly, maka kita akan melihat satu rumus besar yang beliau terapkan dalam kehidupannya: kalau ingin mendapatkan kecemerlangan di dalam urusan-urusan dunia, maka sempurnakanlah urusan akhirat kita! Beliau bisa sebesar itu karena beliau tidak pernah meninggalkan Qiyamul Layl-nya. Beliau secemerlang itu karena tidak pernah putus bacaan qur’annya. Dan lagi, beliau bisa seperkasa itu karena doa-doa yang selalu diucapkannya tanpa jeda. Maka sekarang apa lagi yang perlu dibuktikan? Semua sudah benar-benar nyata, bahwa orang-orang yang dekat dengan Allah, mereka akan menjadi raja untuk urusan dunianya.

Jangan menunggu bukti lebih banyak lagi, tapi jadilah bagian dari bukti itu sendiri!

Oya ada satu lagi yang masih kurang. Sengaja saya sampaikan di akhir agar menjadi penyempurna catatan kegemilangan seorang Fadly Irmawan. Apa itu? Coba catat. Bang Fadly tidak pernah absen menjadi seorang murobbi! Beliau adalah pahlawan-pahlawan mentoring atau liqo atau halaqoh, atau apapun itu kita menyebutnya. Beliau adalah seorang pendidik ulung dari lingkaran-lingkaran kecil itu, karena beliau juga menyadari, bahwa apa yang beliau dapatkan saat ini adalah hasil dari proses pendidikan di mentoring-mentoring seperti itu.

Maka akhirnya, melalui tulisan ini saya ingin mengajak kepada seluruh sobat muda @fsldkindonesia di seluruh penjuru tanah air.. Kalau seorang Fadly Irmawan saja bisa melakukan itu semua, itu artinya kita juga mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan itu semua. Maka, lakukan apa yang telah dilakukan oleh Bang Fadly. Jadilah hebat, jadilah besar, jadilah menawan! Karena aktivis dakwah kampus itu, mereka selalu mempesona sejak dari awalnya!

*Terimakasih kepada:

Aktor LDK.Saya! @Fadlyirmawan

Penulis: @densyukri

Rumah Besar FSLDK Indonesia : fsldkindonesia.org, @fsldkindonesia, FSLDK Indonesia

#BerkaryaUntukIndonesia

#MainKeRumah

Edisi Sebelumnya:

– Rian Mantasa, ADK Ber-IPK Sempurna!

– Syayma, Sebuah Mahkota Untuk Orangtuanya

– Puguh, ADK Penjelajah Nusantara

Categories