Category Archives: Inspirasi

kaltim kaltara

Muslimah mengenali Potensi

By | Indonesia, Inspirasi, Prestasi, Puskomda | No Comments

“Muslimah adalah makhluk yang Allah ciptakan untuk beriman dan beramal sholeh, Beriman sempurnakan ibadah kepada Allah dan beramal sholeh sempurnakan kebaikan kepada manusia”
Seorang muslimah yang baik tidak hanya mampu membuat dirinya baik namun juga mampu membuat lingkungannya menjadi lebih baik dan bermanfaat, Ibu Dewi Husnul Khatimah adalah salah satu figur Muslimah inspiratif bagi muslimah lain untuk mampu mengembangkan potensi yang di miliki, beliau lahir di Balikpapan 17 November 1978 memiliki 3 orang anak yang semuanya laki – laki yaitu Hilmi Amanullah, Hanif Ihabullah, dan Harits Fadhullah Hisyam, suami ibu dewi yaitu bapak Adika Bayu Pratiyaksa yang bekerja sebagai arsitek. ibu Dewi bekerja di sekolah alam Balikpapan sebagai Litbank Sekolah yaitu bagian Penelitian dan Pengembangan sekolah, yang sebelumnya pada tahun 2008 – 2011 beliau menjabat sebagai kepala sekolah Sekolah Alam Balikpapan, pada 2011 – 2016 menjabat sebagai Direktur Sekolah Alam Balikpapan.

kaltim kaltara
Ketiga anak ibu dewi bersekolah di Sekolah Alam Balikpapan, mereka masing-masing memiliki potensi diri yang beda – beda. Ibu Dewi mengatakan bahwa sebuah prestasi bukan hanya dilihat dari sebuah penghargaan dan piagam – piagam namun bagaimana anak – anaknya mampu menjadi orang – orang yang bermanfaat bago orang lain. Contoh saja Hilmi yang sekarang berada di kelas 9, dia telah mampu menemukan potensi dirinya di bidang design grafis dan memiliki potensi memimpin yang baik sehingga menjadi asisten guru untuk kegiatan Ekspedisi, Survival dll. Contoh lain adalah Hanif yang sangat suka membaca membuatnya bersikap sangat kritis terhadap hal – hal di sekitarnya namun mampu menjadi mediator antara guru dengan teman – teman kelasnya, Hanif si adik bungsu merupakan sosok anak yang ramah, naturalis, dan teliti terhadap lingkungannya.
Aktivitas sekolah tidak menghalangi ibu dewi dalam berkegiatan di luar sekolah, beliau ikut aktif dalam RKI (Rumah Keluarga Indonesia) sebagai Konselor untuk pernikahan, keluarga, ibu dan anak, sehingga membuat beliau sering pergi keluar kota untuk memberikan seminar – seminar mengenai keluarga dan pernikahan ke daerah seperti Samarinda, Tarakan, Tanah Tidung, Bontang, Penajam, Nunukan, sepaku, dan Manado. Ibu Dewi ikut dalam struktur salah satu partai politik sebagai ketua BPKK dulu bernama bidang perempuan, dan terkadang masih sempat mengisi kajian – kajian yang ada di wilahyah Balikpapan seperti PKPU, Rumah Zakat, ataupun kepada TK yang ada di Balikpapan.
Dengan berbagai kegiatan yang dijalani oleh ibu Dewi beliau mampu membagi waktu dengan sangat baik untuk kerja dan keluarganya. “Yang penting memahamkan anak – anak apapun aktivitas yang dilakukan, serta adanya dukungan dan kerjasama dengan suami karena kita adalah satu tim untuk membangun keluarga, dakwah, dan ummat” ungkap bu Dewi. Dukungun keluarga yang besar dan kerjasama dalam pembagian tugas keluarga membuat segala aktifitas ibu Dewi dapat dilakukan dengan baik. Dalam mengatur seluruh kegiatannya, beliau selalu membuat Skedul untuk 2 bulan kedepannya sehingga maksimal dalam pembagian waktunya, untuk kegiatan sebagai konselor beliau bisa lakukakan disela-sela waktu kerjanya di Sekolah Alam Balikpapan atau setelah pulang kantor bisa melakukan konsultasi dirumah dan menemui klien karena ibu Dewi bekerja dari jam 8.00 – 16.00 sehingga masih memungkinkan adanya kegiatan setelah jam kerja.
“Seorang muslimah memiliki potensi di dalam dirinya yang mungkin belum ditemukan, muslimah yang telah mengetahui potensinya akan sangat membantu di dalam perkembangan peradaban islam karena telah mengetahui apa fungsinya sebagai sorang muslimah. Muslimah Indonesia semakin banyak kajian seharusnya menjadikan kita semakin kuat bukan semnakin terpecah – pecah, banyak muslimah yg beribadah baik namun di sisi lain ada beberapa muslimah yang mudah menjudge orang, menyalahkan orang, padahal banyak muslimah lain yang bisa dibantu untuk pengokohan keimanan dan amal sholihnya”. Tutur ibu Dewi

 

Komisi C FSLDK Kaltim-Kaltara

malang

Sukses itu… Amah Nana Menjawab

By | Inspirasi, Kerjasama, Puskomnas | No Comments

Jadilah perempuan yang terbaik, berkeinginanlah dan niatkan dengan dakwah. Buatlah mindset perempuan adalah pencetak generasi bangsa yaitu peran sebagai ibu sendiri. Namun jangan lupakan peran kita sebagai anak untuk orang tua dan juga sebagai istri untuk suami.

malang
Ana Fikrotuz Zakiyah M.Pd lahir di Malang, 17 September 1970. Sapaan hangat beliau amah Nana. Amah Nana bersama suami Dr Jamal Lulail Yunus diiberikan amanah mendidik dan membentuk empat orang anak yang in syaa Allah akan menjadi generasi Rabbani penerus estafet dakwah. Keluarga kecil amah Nana yang harmonis dan bahagia memberikan banyak inspirasi bagi orang-orang disekitarnya.

Amah nana yang saat ini menjadi seorang pengajar di sebuah sekolah di kota Malang, bersama suami aktif di berbagai aktivitas pembinaan keluarga di Malang dan tentunya aktivitas menjadi ibu rumah tangga. Di tengah kesibukan yang mengiringi langkahnya, ia tidak pernah melupakan peran sebagai ibu rumah tangga dikeluarga kecilnya.
Berbicara tentang prestasi sosok seorang ibu, amah Nana menjadi salah satu contohnya. Anak pertama beliau Abdul Jabbar Jawwadurrohman menorehkan banyak prestasi dibidang akademik salah satunya menjadi Mahasiswa Berprestasi begitu pula dengan aktifitas diluar kampus. Jawwad sapaannya sering menjadi pemateri di agenda-agenda nasional. Bersama adeknya pula Silmy Kaffah Rohayna menerbitkan beberapa buku motivasi untuk anak muda.

Itulah sekilas cerita tentang buah hati amah Nana yang berprestasi, banyak cerita yang tak terungkap. Ada hal yang membuat itu bermakna. “Saya dan suami tidak memaksakan nilai dan apapun prestasi yang sudah ditorehkan, itu harus disyukuri. Jadi, bersyukurlah maka itu bisa menjadi proses yang in syaa Allah yang dikehendaki. Karena Allah tidak semata-mata menilai kepada hasil tetapi prosesnya pula. Di keluarga kami meyakini bahwa kesuksesan bukan berada pada penilaian sukses atau tidak. Maka sukses apabila sepeninggal kami masih tersisa manfaat-manfaat yang dulu pernah kami torehkan.” ucapnya dengan penuh senyum.

Di akhir cerita, amah Nana memberikan tips keluarga harmonis nih buat teman-teman. Memiliki persiapan sebelum menikah nantinya dengan memperbanyak doa dan selalu bersyukur dengan hal yang baik maupun buruk yang terjadi pada diri kita. Karena menikah itu ibadah, maka jangan menunggunya dengan keresahan. Lakukanlah proses memantaskan diri itu dengan segala persiapan. Ketika kelak menjalani pernikahan dan mengelola keluarga yaitu menjadi istri dan ibu maka kuncinya ada di komunikasi. Kurangi sikap perhitungan dan lapang dadalah. Selain itu tipsnya adalah diadakannya forum keluarga yang harus di agendakan secara khusus dimana setiap anggota keluarga hadir maka disitulah nanti akan berjalan komunikasi yang harmonis. Bukan hanya satu arah dari orangtua kepada anak, namun saling memberi feedback satu sama lain. Forum ini juga melatih kejujuran dan keterbukaan didalam keluarga. Inilah yang diterapkan amah nana bersama keluarga.

Komisi C Malang Raya

IMG-20170402-WA0042

Wujudkan Mimpi, Seimbangkan Hak dan Kewajiban

By | Indonesia, Inspirasi, Kerjasama, Prestasi, Puskomda | No Comments

Sebagian besar orang berfikir bahwa wanita tidak perlu berpendidikan tinggi karena toh kita akan kembali menjalani tugas sebagai ibu rumah tangga. Namun tidak dengan bu Efri, beliau berhasil menyelesaikan studi S3 nya dan kini menjabat sebagai ketua Program Studi S1 dan S2 Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran. Dr. Efri Mardawati, ST.,MT (39) yang akrab dipanggil Uni Efri ini berasal dari Agam, Sumatera Barat.

 

Pembawaan diri yang hangat dan bersahaja membuat semua orang betah untuk berlama-lama berbagi kisah dengannya. “Ya, saya kadang berfikir dibebankan oleh Allah sesuatu diluar batas kemampuan saya”, ujar beliau ketika mengawali kisah. Bagaimana tidak, disaat kelas 4 sekolah dasar, beliau dituntut untuk merawat kedua adiknya beserta seluruh pekerjaan rumah. Di masa kecilnya, beliau seringkali ditinggalkan kedua orang tuanya untuk berdagang dari satu daerah ke daerah lainnya.

Uni Efri di masa kecil tidak mengenal kata bermain layaknya anak biasa. Sepulang sekolah biasanya beliau langsung mengerjakan berbagai tugas rumah tangga dan belajar. Hebatnya, ditengah kesibukan mengurus rumah tangga, beliau tetap berprestasi . “Walaupun saya dari desa, amak selalu berpesan untuk sekolah setinggi-tingginya”, kata Bu Efri sambil mengenang masa lalu. Motivasi terbesar beliau memang dorongan dari kedua orang tuanya terutama sang ibu.

Setelah menyelesaikan studi di Sumatera Barat, beliau berhasil masuk ke salah satu perguruan tinggi Top di Indonesia yaitu Institut Pertanian Bogor. “Saya sempat mengalami culture shock saat sekolah di IPB”, tegas beliau. Perlu setidaknya 6 bulan bagi beliau untuk menyesuaikan diri. Lulus dari IPB selanjutnya beliau melanjutkan studi ke Institut Teknologi Bandung. Disana beliau menjalani studi dengan berlepas dari tunjangan finansial dari orang tua. Puncaknya adalah ketika usaha dari orang tua beliau bangkrut. Beliau ketar ketir mencari sumber penghasilan sampai akhirnya menjalani beberapa profesi yaitu guru les kecil-kecilan serta berjualan susu kedelai. Seringkali beliau menjajakan susu kedelai di pasar mingguan di sekitar pusdai atau gazibu.
“Pernah amak uni menangis karena melihat anaknya jualan susu kedelai padahal studi S2”, jelas beliau. Padahal pada saat itu, beliau masih memiliki tuntutan untuk membiayai saudara-saudaranya yang masih sekolah. Namun beliau tetap berusaha sampai akhirnya mendapatkan tunjangan untuk studi serta beberapa project yang dikerjakan bersama dosennya.

Belum usai ujian yang didapatkan, setelah lulus dari ITB kemudian dihadapkan pada realita pendidikan di perguruan tinggi swasta. Meskipun dengan gaji yang sangat kecil beliau bersyukur karena masih dipercayai Allah untuk tetap berbagi ilmu. Beberapa waktu berselang beliau bekerja di salah satu perusahaan kerudung ternama. Disana beliau menjadi kepala HRD dengan gaji yang memang bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Namun memang keinginan untuk menjadi pengajar masih besar. Bak gayung bersambut, pada waktu itu ada pembukaan bagi pendaftaran dosen di Fakultas Teknologi Industri Pertanian. Singkat cerita akhirnya beliau menjadi salah satu pengampu di FTIP Unpad. Pada awalnya memang cukup sulit untuk masuk kedalam lingkungan baru, terlebih beliau sama sekal tidak memiliki kolega di unpad dan bukan lulusan unpad. Keinginan belajar yang besar serta mencoba untuk beradaptasi membuat beliau mampu bertahan sampai sekarang. Terlepas dari jabatan yang kini dimiliki, mimpi besar beliau adalah menjadi seorang pengajar dan peneliti yang andal. “Disinilah ladang amal saya. Ilmu pengetahuan yang dikaji, mudah mudahan dapat dimanfaatkan bagi masyarakat sekitar”. 5 besar Finalis National Fellowship L’Oréal-UNESCO For Women in Science 2015 pada bidang lifescience ini aktif melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Baginya, amanah ini adalah ladang dakwah dan ikhtiar amal jariyah kedepannya.

Karir sebagai ibu rumah tangga, beliau selalu belajar dan berusaha membagi waktu bagi keluarga dan karirnya dikampus. Anak sulung beliau kini duduk dikelas 4 sekolah dasar dan mampu menghafal juz 30. Ibu dari 2 orang anak ini juga berpesan bahwa sudah menjadi sebuah keharusan bahwa wanita berpendidikan agar generasi yang dititipkan sang khaliq menjadi generasi terdidik. Tetap berbaik sangka atas ujian yang Allah berikan karena sesungguhnya dengan ujian itu Allah sedang mendidik kita agar siap menghadapi masa depan. Jalankan hak dan kewajiban sebagai seorang perempuan dan wujudkan mimpi tertinggi.
Komisi C FSLDK Bandung Raya

WhatsApp Image 2017-03-29 at 22.53.08

Membangun Generasi Penuh Berkah

By | Gagasan, Indonesia, Inspirasi, Kerjasama, Prestasi, Puskomda | No Comments

WhatsApp Image 2017-03-29 at 22.53.08

Nila Ristia Putri S.PdI. Ibu muda ini merupakan lulusan awal Intensif Putri LIPIA (2000-2003) bidang Bahasa Arab. Dilahirkan di Payakumbuah,22 Mei 1982, ibu muda ini akrab dipanggil dengan panggilan “Zah Nila”, beliau memiliki empat orang putri yang bernama Farhatha Adqiya’ (2004), Fadhila Azzakiyah (2006), Fudla Najiyah (2009), dan Fauzana Ramadhani (2012). Zah Nila merupakan sosok Ibu dan sosok guru yang menyenangkan bagi keluarga dan siswa-siswi nya. Dengan menerapkan metode “kemandirian” bagi anak-anak beliau, Zah Nila menjadi sosok ibu dan wanita supel serta mandiri sehingga anak-anak beliau pun menjadi ana-anak yang mandiri dan creative. Disamping tuntutan amanah beliau sebagai seorang guru dan menjadi ibu dari empat orang putri, beliau juga merupakan seorang da’iyah yang aktif mengisi majlis tahsin bagi perempuan.

Zah Nila bersyukur atas keberkahan yang diperoleh terhadap keluarganya, dengan dasar lingkungan (Bi’ah) yang baik, zah Nila tidak harus banyak mengontrol tahap belajar anak-anak nya karena secara otomatis anak-anak beliau telah mengikuti alur sesuai yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan Jargon “barang siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolong nya dan meneguhkan kedudukan nya” , Zah Nila sangat meyakini dan percaya dengan janji Allah tersebut. Dalam pekerjaan beliau menjadi guru, Zah Nila menjadi guru yang berteman dengan siswa-siswi nya

Menjadi seorang wanita di era peradaban hari ini, muslimah hendaklah menjadi sosok yang dengan setiap pekerjaan dan tanggung jawab yang dimiliki tetap memperhatikan hakikat beliau sebagai muslimah dalam menjaga nilai-nilai keislaman, menjadikan setiap kesempatan yang ada untuk menyebar nilai-nilai kebaikan dan menjadi yang terdepan dalam menjaga serta mengurusi keluarga nya.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.06.51

Ibu Yani: Harmonis di Tengah Kesibukan Karir

By | Indonesia, Inspirasi, Prestasi, Puskomda | No Comments

Feminisme merupakan kata yang sudah tak asing lagi dalam masyarakat. Kata feminisme berasal dari bahasa latin yang artinya perempuan. Feminisme telah didengungkan oleh kaum hawa pada abad ke 18. Pada umumnya gerakan feminisme diartikan sebagai gerakan untuk menuntut kesetaraan gender. Artinya, ingin diperlakukan sama dengan kaum laki-laki. Padahal pedoman hidup dalam Al-Quran sudah jelas digambarkan tidak adanya kesetaraan gender.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.06.51 

Perkembangan feminisme sangat signifikan dan bisa kita rasakan telah menjadi budaya tanpa kita sadari. Sebagian orang, menganggap feminisme adalah mutlak tanpa memperhatikan kodratnya sebagai wanita. Akibatnya, peran dan tanggungjawabnya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangaa menjadi terabaikan. Contohnya banyak TKW yang bekerja diluar negeri. Akibatnya anaknya yang harus mendapatkan kasih sayang dan pendidikan menjadi terlupakan. Bukankah madarasah terbaik adalah madrasah seorang ibu? Meskipun demikian, ada juga seorang wanita yang berkarir membantu meringankan beban suaminya namun tetap meprioritaskan keluarganya. Contohnya, seorang Guru di SMAN 1 Praya yang berkarir dibidang pendidikan, namun keluarga adalah yang utama.

Ibu Yani , lahir pada tanggal 2 januari 1970 kini telah memiliki 6 orang anak. Ia tinggal dan beraktivitas di alamat Jl Snokling 2 No 18 Perumnas Ampar Ampar Layar. Di SMA N 1 Praya ia berperan sebagai guru PNS mata pelajaran matematika. Selain menjadi seorang guru, beliau juga aktif mengikuti dan mengisi halaqah, bahkan beliau juga menjadi ketua Majelis Taklim As-Sakinah di lingkungan perumahannya. Baliau juga berperan sebagai pembina remaja muslimah. Meskipun demikian, beliau mampu fokus untuk bertanggung jawab terhadap keluarga sesuai dengan kodratnya. Bahkan beliau pernah meminta tidak diluluskan dalam TES PNS apabila ditempatkan jauh dari keluarga.

Sebut saja anak pertamanya Rasyid yang kini tengah menempuh Pendidikan Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Mataram. Anak keduanya Faruq pun kini tengah menempuh pendidikan di STAN Jakarta. Keberhasilannya dalam mendidik anak-anaknya tidak terlepas dari prinsipnya mengatakan bahwa sesibuk apapun hal yang dilakukan, namun tetap anak adalah prioritas utama. Beliau juga dengan senang hati membagikan tips dalam mengurus anak di tengah kesibukannya sebagai seorang guru. Ada 4 hal dasar yang harus ditanamkan kepada anak-anaknya yaitu ketelaudanan yang dapat dilihat oleh anaknya dari sosok seorang ibu, pembiasaan terhadap anak untuk melakukan hal-hal baik, reward sebagai bentuk penghargaan terhadap anak dan hukuman untuk menyadarkan kesalahan yang dilakukan anak.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.07.01

Menjadi wanita karir memang tak harus meninggalkan kewajiban dan tanggung jawab serta kodrat yang telah digariskan. Belajar dari Ibu Yani bahwa di tengah kesibukan, beliau mampu untuk membangun keluarga yang harmonis dan anak-anak yang berprestasi. Akhir kata, beliau tutup dengan pesan bahwa apabila kita mendahulukan urusan akhirat maka dunia akan mengikuti. Nasihat untuk wanita indonesia bahwa fenimisme merupakan adopsi dari nonmuslim bukan dari Al Quran. Bagi wanita yang kurang paham maka akan tergerus ikut dalam aliran fenimisme, tetapi tidak bagi wanita muslimah. Karena wanita muslimah memilih menjadi wanita terhormat tanpa meninggalkan kodrat.

Komisi C FSLDK Nusa Tenggara

WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.02.40

Selelah Apapun Kita di Tempat Kerja

By | Gagasan, Indonesia, Inspirasi, Prestasi, Puskomda | No Comments

Ahad, di sela waktu makan siang pada sebuah acara pelatihan media di kota Kembang, pertemuan saya dengan ibu tiga anak ini digariskan-Nya. Berawal dari percakapan ringan, tanpa diduga, menghasilkan satu prinsip hidup baru terutama bagi saya sebagai perempuan yang tengah bingung tentang isu feminisme, tentang ketercabikan posisi seorang perempuan ketika dipandang harus bekerja layaknya seorang laki-laki bekerja.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.02.40

Teh Yani namanya. Usia 39, ibu tiga anak cerdas, aktif mengisi pengajian dan seorang dosen di Stikes Respati Tasikmalaya. Pertanyaan yang diajukan sebenarnya banyak, namun ringkasnya, seperti di bawah ini. 

Apa pendapat teteh tentang ibu yang bekerja di luar? kan waktu untuk anak terkuras tuh, bisa-bisa anak merasa kehilangan sosok ibunya. Belum lagi urusan rumah, beres-beres, masak, nyuci. Gimana teh?

Menurut saya, selama suami ridha, orangtua ridha, tak ada salahnya jika kita mengoptimalkan potensi kita berkarya di luar, kemudian selama kita tidak mengedepankan kepentingan pribadi seperti mengejar karir semata atau penghasilan untuk menandingi suami, saya pikir boleh saja kita bekerja, semua tergantung niat kan? dan tentu saja hal yang harus kita pegang adalah bahwa bekerja diluar itu boleh setelah kita benar-benar paham peran kita sebagai istri dan ibu di rumah, dengan begitu, selelah apapun kita saat kerja, kita akan tetap menyiapkan waktu, tenaga, perhatian dan senyum terbaik untuk anak kita. Mereka punya hak atas diri kita. Hal terpenting adalah konsep kualitas waktu, bukan kuantitas, meski tidak full 24 jam bersama anak, namun jika kita bisa memanfaatkan waktu yang sedikit itu dengan mencurahkan kasih sayang dengan baik, itu cukup membuat anak tidak merasa kehilangan ibunya. Tentang kedekatan saya kepada anak-anak, saya optimalkan moment sholat berjama’ah, tilawah Quran bada maghrib, dan beres-beres rumah bareng.

Mendidik anak memang penting, namun saya tidak mau ketinggalan ambil peran untuk mendidik ummat, mewarnainya dengan dakwah semampu saya, setidaknya cakupan mahasiswa yang saya ajar, bisa saya ajak pada kebaikan. Jadi dosen enak, semisal menginstruksikan mahasiswa sebelum masuk kelas harus duha dan tilawah dulu,kebijakan untuk berjilbab syar’i, kan mantap? Dakwah adalah cinta, dan tentu saja menuntut pengorbanan. Yang terpenting, kita tekan ego kita, saat lelah mendera, ingat niat, ingat tekad kita. Kita harus tetap menyediakan waktu terbaik untuk keluarga. Meski lelah, namun setelah sampai rumah, kita musti tetap ceria, dengarkan cerita anak selama di sekolah, membantu anak mengerjakan PR, bercerita, bermain bersama pokoknya penuhi hak anak.

Satu hal yang saya yakini, setiap hal yang ada di hadapan, baik anugerah maupun musibah, merupakan ladang amal untuk kita, setiap masalah itu tergantung bagaimana respon kita. Yang jelas, kita minta saja ke Allah, kita ingin jadi istri yang baik, jadi ibu yang baik dengan tetap bisa berdakwah semampu kita. Pasti Allah tolong. Pasti.

Komisi C FSLDK Priangan Timur

nurul hidayati

Menjadi Muslimah Profesional

By | Indonesia, Inspirasi, Prestasi | No Comments

Sering kali kita sebagai seorang muslimah ragu dan bimbang tentang apa yang akan terjadi ketika kita masuk ke dalam fase hidup yang lebih serius; yaitu menikah. Bayangan-bayangan mengerikan tentang aktivitas yang tidak lagi bisa ia kerjakan seperti dahulu pun juga kebebasan bepergian yang tidak lagi ia dapatkan seperti dahulu. Ketakutan-ketakutan itu sering sekali menghantui, dan membuatnya tidak menikmati setiap peran yang seharusnya dijalani. Berikut ada cerita seorang Ibu luar biasa, yang berhasil menjawab ketakutan-ketakutan itu dan tetap happy menjalani semua peran perempuan dalam keluarga beserta fase-fase hidup yang akan terus berjalan.

nurul hidayati

 

Nurul Hidayati istri dari Al Muzzamil Yusuf, terlahir dari sebuah keluarga aktivis dan berlatar belakang da’i membuat Ibu tiga anak ini belajar banyak hal sejak ia masih kecil. Mengikuti aktivitas Bapak dan Ibu adalah sebuah rutinitas yang terkadang membuatnya bisa menebak lanjutan kalimat yang akan diutarakan oleh ayahnya. Mendapatkan seorang suami yang juga berlatar belakang sama membuat keduanya melakukan “learning by doing”, melakukan analisa terhadap apa-apa saja kekurangan-kekurangan yang tidak sebaiknya terjadi dan mempertahankan nilai positif yang ada. Sebuah kunci utama yang dipegang dengan kuat ketika seorang anak masih berstatus anak adalah bagaimana mencari ridho Allah melalui ridho orang tua. Mengejar keberkahan hidup pra menikah dengan fokus kepada tujuan sederhana ridho orang tua. Pun setelah menikah, rumus hidup yang dulunya kepada ridho orang tua bukan kemudian dihilangkan, namun dipindahkan kepada ridho suami yang telah mengikat perjanjian kepada Sang Khaliq untuk menjadi sahabat dan pemimpin baginya. Ini bukanlah sebuah fase yang mudah dalam hidup beliau, aktivitas yang semula padat dengan jam terbang yang luar biasa harus disesauaikan dengan primary job beliau sebagai istri dan ibu.

Beliau menginsafi betul bahwa manisnya iman bukan terletak pada ketenaran, harta, kecantikan dan lain-lain, namun manisnya iman terletak jauh diatas itu semua; yaitu di dalam hati. Proses pemaknaan primary job inilah yang kemudian menjadi bekal seorang perempuan untuk melaksanakan sebuah praktik mengenai norma Islam tentang hak dan kewajiban perempuan. Karena ketika kita mengikuti fitrah kita sebagai seorang perempuan dengan kemuliaan yang telah Allah dan Rosul gariskan untuk kita, kita akan mendapatkan kebahagiaan yang menentramkan. Karena adil bukan berarti kita memakai sepatu yang keduanya adalah sisi kanan.

Setelah beliau menyadari, ada porsi primary job yang harus beliau selesaikan sebalum menyelesaikan pekerjaan yang lain di luar rumah. Dari sosok ibu beliau menyadari bahwa perempuan itu powerful; bisa melakukan banyak hal. Namun, tentu saja perempuan yang satu dengan yang lain tidak bisa disamakan. Ada fungsi yang harus disesuaikan antara primary dan secondary job. Ada keseimbangan kualitas yang harus dijaga antara keprofesionalan kita diluar rumah dan luar rumah. Kadar keseriusan seseorang menjalankan amanahnya di luar rumah haruslah sama dengan kadar keseriusannya menangani pekerjaan-pekerjaan domestik; berkebun, memasak, menjadi ibu dengan anak usia bayi, balita, pra remaja, remaja, dewasa, menikah, bagaimana menjadi mertua yang baik dan lain-lain. Karena disitulah kualitas anak-anak kita akan terbentuk. Maka titik usaha terbesarnya adalah berani menolak jika itu melebihi porsi dirinya. Karena perjuangannya adalah untuk menjaga keseimbangan agar tetap proporsional.

Maka menjadi seorang muslimah profesional adalah menjadi muslimah yang memiliki ilmu di setiap fase hidupnya. Memperbaiki mindset mengenai apa yang menjadi primary dan secondary job nya, menghargai dirinya serta peranannya terhadap keluarga. Maka membaca dan menuntut ilmu adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan sama sekali oleh muslimah. Pemahaman yang mengakar mengenai peran-peran utamanya adalah kunci untuk menjadi muslimah paling bahagia. Berbahagia artinya tidak pernah lupa, bahwa semua aktivitas yang ia lakukan baik di dalam atau pun di luar rumah adalah untuk hujjahnya di hadapan Allah. Bukan untuk orang lain, maka me time seorang muslimah adalah aktivitas penuh keikhlasan agar semuanya Allah nilai sebagai ibadah. Jangan menjadi muslimah yang kehilangan kreativitas untuk menghargai waktu serta kehilangan daya kritis untuk memilah aktivitas apa saja yang harus ia konsumsi.
Biodata Singkat Narasumber :
Nama lengkap : Hj Nurul Hidayati SS MBA
TTL : Klaten, 19 Desember 1968
Alamat : Komp DPR Blok A7 No 101
Pendidikan : – FSUI/FIB UI
– STBA LIA
– Program MBA IPWI
Organisasi : Ketua Umum PP Salimah 2010-2015
Moto : Maju kembangkan diri, raih ridha Ilahi, berbuat terbaik untuk sesama

WhatsApp Image 2017-03-10 at 23.52.51 (2)

IBU, GURU PERTAMA DAN UTAMA BAGI ANAK

By | Inspirasi, Prestasi, Puskomda | No Comments

WhatsApp Image 2017-03-10 at 23.52.51 (2)

Ibu memilki peran yang sangat vital dalam keluarga. Faiqotul Himma Hamid berhasil memainkan peran ibu dengan baik tanpa melupakan tanggung jawab sosial. Peran keluarga sangat penting untuk menyiapkan generasi penerus yang berkualitas. Salah satu keluarga yang cukup sukses mencetak generasi berkualitas adalah keluarga pasangan ibu Hj. Faiqotul Himma, S.Pd , 62 dan bapak H. Abd. Hamid Chidlir, S.Pd, 67 yang beralamat rumah di Jl. Letjen Panjaitan No. 109 Jember.
Rumah tangganya selalu dilingkupi kebahagiaan dan kesuksesan. Letak kesuksesannya terlihat dengan keenam anaknya yang sudah sukses. “Alhamdulillah, semua anak saya sukses,” kata ibu yang akrab di panggil Bu Faiq tersebut. Kesuksesan tersebut bukan sebuah kebetulan. Walau dia mengaku biasa-biasa saja dalam mendidik anak, namun ada sesuatu yang banyak orang dianggap sepele, padahal bernilai tinggi. Ibu keenam anak tersebut mengaku selalu menjaga kebersamaan dan rasa saling menghormati. “Saya dan anak saya biasa-biasa saja, namun kami selalu terbuka dan tidak banyak menuntut mengenai masa depan mereka,” katanya. Keenam anak Bu Faiq kini menjadi orang sukses. “Ada yang masih menempuh study di Malaysia,” katanya. Dia menjelaskan, hanya ada seorang anaknya yang tinggal di Jember dan berprofesi sebagai dokter gigi. “Banyak orang bertanya kepada saya, bagaimana kok bisa sukses semua,” akunya.
Bu Faiq mengatakan, tidak ada yang spesial yang dilakukan untuk mendidik anaknya. hanya, sejak pertama berkeluarga, dia selalu membiasakan salat berjamaah dengan anaknya. “Saya selalu berjamaah jika sholat,” katanya. Selain berjamaah, dia selalu membudayakan makan bersama anak-anaknya. “Ini yang biasa memakan waktu lama,” akunya. makan bersama dalam keluarga adalah sesuatu yang “wajib”. Dalam makan bersama itulah setiap anggota keluarga bisa saling curhat, tukar pikiran, dan membangun kedekatan emosional.
Bu Faiq merupakan wanita yang berhasil mendidik anaknya di antara segudang aktivitas sosial yang dia jalani. Bu Faiq sejak lama dikenal sebagai aktivis sosial. Dia pernah menjadi guru MTs. Ashri, pengurus muslimat NU, pengurus Jamiyah Qurro’ wal Khuffat, dan aktivitas lain yang berhubungan dengan masyarakat sekitar. Namun, dalam kesibukannya tersebut, dirinya tidak lantas meninggalkan kewajibannya dalam mendidik anak dan mengurus keluarga. “Jika keluarga mengharuskan ada saya, maka saya harus ada,” katanya.
Dia meyakini, kesuksesan anak tidak lepas dari do’a seorang ibu. “Saya tidak lepas akan do’a untuk anak-anak saya, ” katanya. Selain itu, yang penting adalah jangan sampai ada sedikitpun makanan dan minuman haram yang diberikan kepada anak-anaknya. Sebab, jika seorang anak diberi makanan haram, akan jadi daging yang haram dan menyebabkan perilaku yang menyeleweng dari agama.Untuk menjadikan anak-anaknya berhasil mencapai cita-cita, ada beberapa tahapan yang ditempuhnya. Yaitu, pendidikan agama sejak dini, mengarahkan belajar anak sesuai dengan bakat dan minat, mengajarkan kemandirian dan bertanggung jawab, menanamkan rasa senang bersilaturrahim, menanamkan kepedulian, teladan dari orang tua, dan kerukunan, serta keharmonisan dalam keluarga. “Namun, yang sangat utama adalah kebersamaan dan keterbukaan dalam keluarga,” katanya.

FSLDK Jember Raya

Film-Nasionalisme

Mencinta Indonesia

By | Gagasan, Inspirasi | No Comments
Film-Nasionalisme

Sumber Gambar : blog.bukalapak.com

Oleh: Putra Abdi Ramadan
(Universitas Negeri Padang)

Tidak ada manusia yang sempurna. Memang itulah kenyataannya. Akan tetapi, pada waktu yang sama kita juga diperintahkan untuk berusaha menjadi sempurna. Atau, setidaknya mendekati kesempurnaan. Inilah masalahnya. Adakah kesalahan dalam perintah ini? Tidak! Namun, mengapa kita diperintahkan melakukan sesuatu yang tidak mungkin menjadi kenyataan? Jawabannya adalah kesempurnaan itu relatif. Ukuran kesempurnaan adalah batas maksimum dari kemampuan setiap individu untuk berkembang. Karena, “Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (AI-Baqarah: 286).”(Mencari Pahlawan Indonesia, Anis Matta).

Melihat wajah negeri Indonesia pada saat sekarang ini, mungkin akan membuat kita merasa kurang percaya diri. Kita tahu negeri kita saat ini sedang mengalami krisis dan masalah di segala bidang di dalam kehidupannya. Sesuai dengan kutipan pernyataan Anis Matta di atas tidak ada manusia yang sempurna namun kita diperintahkan untuk menjadi sempurna dan Allah telah berfirman, bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya. Begitu juga dengan sebuah negeri tidak ada negeri yang sempurna, namun kita diharapkan bisa memperbaiki negeri ini, karena Allah juga hendak melihat sesiapa hambaNya yang benar-benar beriman dan bertakwa kepadaNya dengan diberikannya ujian berupa permasalahan-permasalahan dalam kehidupannya. Tentu itu sebagai ladang amal untuk kita. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kehidupan suatu bangsa itu ditentukan oleh akhlak masyarakatnya.

Jika kita melihat sejarah peradaban manusia masyarakat memiliki peranan yang sangat besar dalam menentukan bagaimana keadaan bangsa dan negaranya. Dari diciptakannya manusia pertama Nabi Adam Alaihisallam hingga pada saat sekarang ini kita bisa melihat dan mengambil pelajaran yang sangat berharga mengenai hancur dan bangkitnya suatu bangsa akan sangat ditentukan oleh akhlak masyarakatnya. Salah satu contohnya kisah dari perbuatan keji kaum Nabi Luth Alaihisalam yang terdapat didalam al-Quran. Dikisahkan bahwa Kota Sodom yaitu kota kaum Nabi Luth Alaihisalam tinggal, disana masyarakatnya memiliki kebiasaan buruk yaitu homoseksual dan lesbian atau istilah sekarang lgbt, ketika sudah diingatkan dan didakwahi oleh Nabi Luth Alaihisalam agar tidak melakukan perbuatan tercela tersebut, namun kaumnya tidak menghiraukannya, maka Allah Subhana wa Taa’la mengazab mereka dengan suara yang keras, dibolak-balikkan negeri mereka, dan hujan batu membinasakan mereka semuanya.

Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala membinasakan kota Sodom karena kedzaliman penduduknya, agar menjadi i’tibar bagi orang-orang yang mau berfikir dan menambah keimanan mereka. Kita juga sama-sama mengetahui bahwa tujuan Allah Subhana wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidak lain untuk memperbaiki Akhlak manusia yang sudah rusak dan berjalan tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya. Untuk itu jika kita memang mencintai bangsa Indonesia, marilah kita sama-sama memperbaiki bangsa kita untuk masa depan yang indah, dalam setiap kesempatan yang ada, di saat waktu masih tersisa, kita dedikasikan diri untuk selalu melakukan yang terbaik, dimulai dari diri kita masing-masing dahulu. Mungkin orang tua kita hebat, mungkin pendahulu kita hebat, tetapi yeng lebih penting ialah sehebat apa diri kita. Mungkin kita bisa menikmati apa yang sudah diperoleh oleh para pendahulu kita, tetapi jika kita hanya menikmati dan membangga-banggakan hasil pendahulu kita, itu tidak ada artinya, karena yang hebat bukan diri kita, tetapi pendahulu kita. Kita tidak akan mendapatkan apa-apa atas yang dilakukan oleh pendahulu kita. Pahala mereka bagi mereka, kita tidak akan kebagian kecuali kita memanfaatkan apa yang telah diperoleh oleh pendahulu kita untuk tujuan yang baik. Kita boleh memanfaatkan yang sudah ada sebagai pijakan perjuangan selanjutnya. Islam menginginkan perbaikan secara terus menerus.

Kita tidak bisa mengandalkan pada apa yang sudah dicapai oleh pendahulu kita. Atau, jika pun pendahulu kita tidak baik. Itu bukan alasan kita untuk mengikuti jejak mereka. Apa yang mereka lakukan untuk mereka. Sekarang tinggal apa yang akan kita lakukan dan untuk diri kita sendiri. Kita tidak akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang diperlakukan oleh mereka. Jadi apapun yang dilakukan oleh pendahulu kita, baik atau buruk, kita harus tetap bertindak untuk diri kita. Karena Allah berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali ‘Imraan:110). Karena kita adalah umat yang terbaik, konsekuensinya kita harus menjadi pemimpin yang mengarahkan kepada kebaikan, kita harus memimpin dalam teknologi agar teknologi diarahkan untuk kebaikan. Kita harus memimpin dibidang informasi, agar informasi digunakan untuk kebaikan. Kita harus memimpin di bidang politik agar politik dimanfaatkan untuk kebaikan, dan kita harus memimpin di berbagai bidang lainnya agar bisa digunakan untuk kebaikan.

Kebaikan bukan hanya hasil bicara, kebaikan akan lebih nyata jika merupakan hasil kerja. Apalagi hanya bicara kritik sana kritik sini seperti seorang calo, banyak ngomong tetapi dia sendiri hanya diam saja. Kita harus bergerak, bertindak, dan berbuat agar negeri yang kta cintai ini diberkahi dan dilindungi oleh Allah Subhana wa Ta’ala. Sesuai dengan firmanNya dalam Al-Qur’an “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami itu), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Q.S. Al-A’raf : 96).

 

kewajiban-anak-laki-terhadap-ibunya

Untukmu, Ibu

By | Inspirasi, Puskomnas | No Comments
hadiah-terindah-di-hari-ibu

Sumber Gambar : kabarmakkah.com

Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Ku pandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku

Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang

Nada nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci
Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan

Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang

Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan slalu ada di dalam hatiku

Lirik lagu itu tak asing, bukan? Ya, Bunda judulnya. Lagu yang menggambarkan sosok ibu. Hari ini menjadi ramai pembicaraan tentang ibu. Karena hari ini Hari Ibu Nasional. Kenapa hanya satu hari dalam setahun? Kenapa tidak setiap hari adalah hari ibu?

Ibu, adalah wanita yang paling hebat. Mungkin yang nanti akan “menyaingi” kehebatanmu hanyalah istri. Istri? Ah itu nanti saja. Sembilan bulan sepuluh hari kata teori, engkau mengandung kami. Kemana-mana ikut. Aktivitasmu jadi tidak seleluasa biasanya. Tidur pun tidak bebas. Bahkan makan pun bisa jadi akan pilih-pilih. Kata orang, karena bawaan yang di dalam perut.

Semua tau pengorbananmu. Saat kami ingin menatap dunia, maka engkau akan mendekat gerbang maut. Menahan rasa yang amat sangat sakit. Hanya agar engkau bisa bertemu bayimu. Dan seketika sakit itu hilang saat kau lihat anakmu. Dari situ mulailah engkau rawat kami. Dengan segala kesusahan dan kerewelan yang ada. Yang kadang menguras kesabaran. Tak jarang pula memancing emosi. Namun, pasti engkau berusaha sabar sepenuh hati.

Engkau pastikan kami tidur nyenyak. Walau harus kau tahan kantukmu. Engkau pastikan kami kenyang dan makan enak. Walau harus kau tahan laparmu. Engkau pastikan kebutuhan kami tercukupi. Walau harus kau tahan lelahmu. Engkau pastikan kami dapat yang terbaik. Walau harus kau korbankan banyak hal. Lalu perlahan kami tumbuh besar, dan akan semakin jarang pulang. Semakin sedikit waktu untukmu.

Ibu, bagaimana perasaanmu saat kami jauh? Saat kami jarang memberi sapa. Jarang bertanya kabar. Bagaimana perasaanmu saat kau melepas kami pergi? Kau lepas dengan selalu menitipkan pesan. Mencoba tegar. Namun kadang kau tak mampu membendung air matamu. Bagaimana perasaanmu? Kami tak mampu membaca perasaanmu. Tak mampu merasa batinmu. Maafkan anakmu, Ibu. Maafkan.

Apa yang kami berikan padamu tak akan pernah sebanding dengan segala pemberianmu. Tak akan pernah. Lalu bagaimana andai kami belum bisa memberi apa-apa? Kecuali kenakalan yang membuatmu sedih. Dan segala beban yang membuatmu banyak pikiran. Ya Allah. Maafkan kami.

Saat kami sadar bahwa tiap detik berlalu berarti semakin dekat kita dengan senja. Kami tak mampu memberi apa-apa. Hanya bisa berharap dan berusaha, kelak suatu saat nanti kami bisa simpulkan senyum di bibirmu. Membuatmu bahagia. Dan, tentu kami selalu ingin menjadi hartamu yang paling berharga. Yang menjadi penyambung amal baikmu saat kau berpisah dengan dunia. Menjadi amal terbaikmu dan menjembatani hingga surga.

Ibu, walau mungkin jarak dan waktu mulai jarang mempertemukan kita, namun yakinlah bahwa harimu bukanlah satu diantara 365. Tapi harimu adalah satu diantara 7. Harimu bersama anakmu adalah sepanjang masa. Karena kami akan selalu bersamamu dalam doa. Seperti engkau yang tak luput menyebut kami setiap hari, dalam munajat pada Sang Mahakuasa.

Wahai Tuhan Pencipta dan Penguasa Alam Raya, Allah ‘azza wa jala, semoga tiap letih, tiap tetes peluh, air mata, bahkan darah yang dikorbankan ibu kami terbayarkan pada diri kami yang Kau ridhai untuk menjadi sebaik hartanya. Sebaik amalnya. Hingga nanti ia bertemu dengan-Mu di surga, dalam keabadian. Semoga hadirnya kami memang untukmu, Ibu.

Penulis,

@hanafiridwan

Categories