Category Archives: Gagasan

WhatsApp Image 2017-03-29 at 22.53.08

Membangun Generasi Penuh Berkah

By | Gagasan, Indonesia, Inspirasi, Kerjasama, Prestasi, Puskomda | No Comments

WhatsApp Image 2017-03-29 at 22.53.08

Nila Ristia Putri S.PdI. Ibu muda ini merupakan lulusan awal Intensif Putri LIPIA (2000-2003) bidang Bahasa Arab. Dilahirkan di Payakumbuah,22 Mei 1982, ibu muda ini akrab dipanggil dengan panggilan “Zah Nila”, beliau memiliki empat orang putri yang bernama Farhatha Adqiya’ (2004), Fadhila Azzakiyah (2006), Fudla Najiyah (2009), dan Fauzana Ramadhani (2012). Zah Nila merupakan sosok Ibu dan sosok guru yang menyenangkan bagi keluarga dan siswa-siswi nya. Dengan menerapkan metode “kemandirian” bagi anak-anak beliau, Zah Nila menjadi sosok ibu dan wanita supel serta mandiri sehingga anak-anak beliau pun menjadi ana-anak yang mandiri dan creative. Disamping tuntutan amanah beliau sebagai seorang guru dan menjadi ibu dari empat orang putri, beliau juga merupakan seorang da’iyah yang aktif mengisi majlis tahsin bagi perempuan.

Zah Nila bersyukur atas keberkahan yang diperoleh terhadap keluarganya, dengan dasar lingkungan (Bi’ah) yang baik, zah Nila tidak harus banyak mengontrol tahap belajar anak-anak nya karena secara otomatis anak-anak beliau telah mengikuti alur sesuai yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan Jargon “barang siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolong nya dan meneguhkan kedudukan nya” , Zah Nila sangat meyakini dan percaya dengan janji Allah tersebut. Dalam pekerjaan beliau menjadi guru, Zah Nila menjadi guru yang berteman dengan siswa-siswi nya

Menjadi seorang wanita di era peradaban hari ini, muslimah hendaklah menjadi sosok yang dengan setiap pekerjaan dan tanggung jawab yang dimiliki tetap memperhatikan hakikat beliau sebagai muslimah dalam menjaga nilai-nilai keislaman, menjadikan setiap kesempatan yang ada untuk menyebar nilai-nilai kebaikan dan menjadi yang terdepan dalam menjaga serta mengurusi keluarga nya.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.02.40

Selelah Apapun Kita di Tempat Kerja

By | Gagasan, Indonesia, Inspirasi, Prestasi, Puskomda | No Comments

Ahad, di sela waktu makan siang pada sebuah acara pelatihan media di kota Kembang, pertemuan saya dengan ibu tiga anak ini digariskan-Nya. Berawal dari percakapan ringan, tanpa diduga, menghasilkan satu prinsip hidup baru terutama bagi saya sebagai perempuan yang tengah bingung tentang isu feminisme, tentang ketercabikan posisi seorang perempuan ketika dipandang harus bekerja layaknya seorang laki-laki bekerja.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.02.40

Teh Yani namanya. Usia 39, ibu tiga anak cerdas, aktif mengisi pengajian dan seorang dosen di Stikes Respati Tasikmalaya. Pertanyaan yang diajukan sebenarnya banyak, namun ringkasnya, seperti di bawah ini. 

Apa pendapat teteh tentang ibu yang bekerja di luar? kan waktu untuk anak terkuras tuh, bisa-bisa anak merasa kehilangan sosok ibunya. Belum lagi urusan rumah, beres-beres, masak, nyuci. Gimana teh?

Menurut saya, selama suami ridha, orangtua ridha, tak ada salahnya jika kita mengoptimalkan potensi kita berkarya di luar, kemudian selama kita tidak mengedepankan kepentingan pribadi seperti mengejar karir semata atau penghasilan untuk menandingi suami, saya pikir boleh saja kita bekerja, semua tergantung niat kan? dan tentu saja hal yang harus kita pegang adalah bahwa bekerja diluar itu boleh setelah kita benar-benar paham peran kita sebagai istri dan ibu di rumah, dengan begitu, selelah apapun kita saat kerja, kita akan tetap menyiapkan waktu, tenaga, perhatian dan senyum terbaik untuk anak kita. Mereka punya hak atas diri kita. Hal terpenting adalah konsep kualitas waktu, bukan kuantitas, meski tidak full 24 jam bersama anak, namun jika kita bisa memanfaatkan waktu yang sedikit itu dengan mencurahkan kasih sayang dengan baik, itu cukup membuat anak tidak merasa kehilangan ibunya. Tentang kedekatan saya kepada anak-anak, saya optimalkan moment sholat berjama’ah, tilawah Quran bada maghrib, dan beres-beres rumah bareng.

Mendidik anak memang penting, namun saya tidak mau ketinggalan ambil peran untuk mendidik ummat, mewarnainya dengan dakwah semampu saya, setidaknya cakupan mahasiswa yang saya ajar, bisa saya ajak pada kebaikan. Jadi dosen enak, semisal menginstruksikan mahasiswa sebelum masuk kelas harus duha dan tilawah dulu,kebijakan untuk berjilbab syar’i, kan mantap? Dakwah adalah cinta, dan tentu saja menuntut pengorbanan. Yang terpenting, kita tekan ego kita, saat lelah mendera, ingat niat, ingat tekad kita. Kita harus tetap menyediakan waktu terbaik untuk keluarga. Meski lelah, namun setelah sampai rumah, kita musti tetap ceria, dengarkan cerita anak selama di sekolah, membantu anak mengerjakan PR, bercerita, bermain bersama pokoknya penuhi hak anak.

Satu hal yang saya yakini, setiap hal yang ada di hadapan, baik anugerah maupun musibah, merupakan ladang amal untuk kita, setiap masalah itu tergantung bagaimana respon kita. Yang jelas, kita minta saja ke Allah, kita ingin jadi istri yang baik, jadi ibu yang baik dengan tetap bisa berdakwah semampu kita. Pasti Allah tolong. Pasti.

Komisi C FSLDK Priangan Timur

Film-Nasionalisme

Mencinta Indonesia

By | Gagasan, Inspirasi | No Comments
Film-Nasionalisme

Sumber Gambar : blog.bukalapak.com

Oleh: Putra Abdi Ramadan
(Universitas Negeri Padang)

Tidak ada manusia yang sempurna. Memang itulah kenyataannya. Akan tetapi, pada waktu yang sama kita juga diperintahkan untuk berusaha menjadi sempurna. Atau, setidaknya mendekati kesempurnaan. Inilah masalahnya. Adakah kesalahan dalam perintah ini? Tidak! Namun, mengapa kita diperintahkan melakukan sesuatu yang tidak mungkin menjadi kenyataan? Jawabannya adalah kesempurnaan itu relatif. Ukuran kesempurnaan adalah batas maksimum dari kemampuan setiap individu untuk berkembang. Karena, “Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (AI-Baqarah: 286).”(Mencari Pahlawan Indonesia, Anis Matta).

Melihat wajah negeri Indonesia pada saat sekarang ini, mungkin akan membuat kita merasa kurang percaya diri. Kita tahu negeri kita saat ini sedang mengalami krisis dan masalah di segala bidang di dalam kehidupannya. Sesuai dengan kutipan pernyataan Anis Matta di atas tidak ada manusia yang sempurna namun kita diperintahkan untuk menjadi sempurna dan Allah telah berfirman, bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya. Begitu juga dengan sebuah negeri tidak ada negeri yang sempurna, namun kita diharapkan bisa memperbaiki negeri ini, karena Allah juga hendak melihat sesiapa hambaNya yang benar-benar beriman dan bertakwa kepadaNya dengan diberikannya ujian berupa permasalahan-permasalahan dalam kehidupannya. Tentu itu sebagai ladang amal untuk kita. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kehidupan suatu bangsa itu ditentukan oleh akhlak masyarakatnya.

Jika kita melihat sejarah peradaban manusia masyarakat memiliki peranan yang sangat besar dalam menentukan bagaimana keadaan bangsa dan negaranya. Dari diciptakannya manusia pertama Nabi Adam Alaihisallam hingga pada saat sekarang ini kita bisa melihat dan mengambil pelajaran yang sangat berharga mengenai hancur dan bangkitnya suatu bangsa akan sangat ditentukan oleh akhlak masyarakatnya. Salah satu contohnya kisah dari perbuatan keji kaum Nabi Luth Alaihisalam yang terdapat didalam al-Quran. Dikisahkan bahwa Kota Sodom yaitu kota kaum Nabi Luth Alaihisalam tinggal, disana masyarakatnya memiliki kebiasaan buruk yaitu homoseksual dan lesbian atau istilah sekarang lgbt, ketika sudah diingatkan dan didakwahi oleh Nabi Luth Alaihisalam agar tidak melakukan perbuatan tercela tersebut, namun kaumnya tidak menghiraukannya, maka Allah Subhana wa Taa’la mengazab mereka dengan suara yang keras, dibolak-balikkan negeri mereka, dan hujan batu membinasakan mereka semuanya.

Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala membinasakan kota Sodom karena kedzaliman penduduknya, agar menjadi i’tibar bagi orang-orang yang mau berfikir dan menambah keimanan mereka. Kita juga sama-sama mengetahui bahwa tujuan Allah Subhana wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidak lain untuk memperbaiki Akhlak manusia yang sudah rusak dan berjalan tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya. Untuk itu jika kita memang mencintai bangsa Indonesia, marilah kita sama-sama memperbaiki bangsa kita untuk masa depan yang indah, dalam setiap kesempatan yang ada, di saat waktu masih tersisa, kita dedikasikan diri untuk selalu melakukan yang terbaik, dimulai dari diri kita masing-masing dahulu. Mungkin orang tua kita hebat, mungkin pendahulu kita hebat, tetapi yeng lebih penting ialah sehebat apa diri kita. Mungkin kita bisa menikmati apa yang sudah diperoleh oleh para pendahulu kita, tetapi jika kita hanya menikmati dan membangga-banggakan hasil pendahulu kita, itu tidak ada artinya, karena yang hebat bukan diri kita, tetapi pendahulu kita. Kita tidak akan mendapatkan apa-apa atas yang dilakukan oleh pendahulu kita. Pahala mereka bagi mereka, kita tidak akan kebagian kecuali kita memanfaatkan apa yang telah diperoleh oleh pendahulu kita untuk tujuan yang baik. Kita boleh memanfaatkan yang sudah ada sebagai pijakan perjuangan selanjutnya. Islam menginginkan perbaikan secara terus menerus.

Kita tidak bisa mengandalkan pada apa yang sudah dicapai oleh pendahulu kita. Atau, jika pun pendahulu kita tidak baik. Itu bukan alasan kita untuk mengikuti jejak mereka. Apa yang mereka lakukan untuk mereka. Sekarang tinggal apa yang akan kita lakukan dan untuk diri kita sendiri. Kita tidak akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang diperlakukan oleh mereka. Jadi apapun yang dilakukan oleh pendahulu kita, baik atau buruk, kita harus tetap bertindak untuk diri kita. Karena Allah berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali ‘Imraan:110). Karena kita adalah umat yang terbaik, konsekuensinya kita harus menjadi pemimpin yang mengarahkan kepada kebaikan, kita harus memimpin dalam teknologi agar teknologi diarahkan untuk kebaikan. Kita harus memimpin dibidang informasi, agar informasi digunakan untuk kebaikan. Kita harus memimpin di bidang politik agar politik dimanfaatkan untuk kebaikan, dan kita harus memimpin di berbagai bidang lainnya agar bisa digunakan untuk kebaikan.

Kebaikan bukan hanya hasil bicara, kebaikan akan lebih nyata jika merupakan hasil kerja. Apalagi hanya bicara kritik sana kritik sini seperti seorang calo, banyak ngomong tetapi dia sendiri hanya diam saja. Kita harus bergerak, bertindak, dan berbuat agar negeri yang kta cintai ini diberkahi dan dilindungi oleh Allah Subhana wa Ta’ala. Sesuai dengan firmanNya dalam Al-Qur’an “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami itu), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Q.S. Al-A’raf : 96).

 

fsldk-logo

Pernyataan Sikap Aksi Nasional FSLDK Indonesia

By | Gagasan | No Comments

fsldk-logo

 

 

Pada hari Selasa (18/10), FSLDK Indonesia turun ke jalan untuk menyuarakan pendapat tentang kondisi di negeri ini sebagai aksi nyata dalam menjaga Indonesia. Menjaga Indonesia adalah semangat perjuangan yang sekaligus menjadi tema aksi yang digelar untuk mewakili suara masyarakat di berbagai kota di Indonesia.

Indonesia adalah perwujudan negara berperadaban luhur dengan ketinggian etika serta adab. Namun hari ini, negeri ini sedang berada dalam kondisi yang tidak baik. Seorang pejabat publik yang dibayar dengan uang rakyat tidak bersikap selayaknya seorang negarawan. Sikap, etika, dan adab yang baik seolah bukan lagi hal penting untuk dicontohkan, apalagi bagi pemimpin di ibu kota negara yang terkenal santun ini.

Apa yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama, saat berkunjung ke Pulau Seribu pada 6 Oktober yang lalu menyisakan luka mendalam di hati umat Islam. Dengan membawa ayat Al-Qur’an, ia memancing amarah umat. Bahkan banyak pihak menilai, tindakannya yang tidak hati-hati tersebut telah memicu provokasi. Ulama sepakat bahwa tindakan yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta tersebut sudah melewati batas. Tindakannya dianggap telah menistakan agama Islam dengan menuduh Al-Qur’an Surat Al Maidah: 51 sebagai alat untuk membohongi dan membodohi masyarakat. Dimana secara implisit hal ini juga menuduh ulama/ustadz sebagai pembohong yang menggunakan ayat Al Qur’an sebagai alat.

Maka, FSLDK Indonesia, ingin menyampaikan pesan ini kepada seluruh bangsa Indonesia bahwa :

1. FSLDK Indonesia mengecam keras tindakan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama, atas tindakannya menghina dan menistakan ayat Al-Qur’an sebagai alat untuk membohongi dan membodohi umat. Menjalankan tuntunan kitab suci adalah hak yang dijamin oleh negara, maka tidak pantas seorang warga negara apalagi seorang pejabat publik berpendapat yang mengintervensi keimanan umat yang berbeda keyakinan, apalagi menempatkannya sebagai alat untuk membohongi.

2. Mendesak aparat hukum untuk melanjutkan proses hukum secara tuntas, tegas, cepat, tepat, proporsional, dan profesional atas dugaan pelanggaran UU No.1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, serta KUHP 156a tentang penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama. Serta menghimbau aparat hukum untuk menindak segala penistaan terhadap agama apapun.

3. Menghimbau kepada seluruh umat Islam, dari golongan manapun, untuk mendukung penuh sikap atau putusan yang telah dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai representasi para alim ulama di Indonesia dan tetap menjaga keharmonisan kehidupan antarumat beragama, serta tidak mudah terpancing oleh perkataan atau sikap dari sumber-sumber yang tidak bertanggung jawab.

4. Umat Islam adalah umat yang menjaga kedamaian dan menjunjung tinggi toleransi beragama. Namun perlu diperhatikan bahwa umat Islam pun memiliki nilai dan prinsip dasar yang harus dihargai dan dihormati oleh pemeluk agama lainnya. Sebab toleransi bukanlah pekerjaan satu arah dari satu pihak, lebih-lebih jika sudah menyangkut akidah.

5. Menegaskan kembali bahwa :
a. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang menjunjung tinggi etika dan adab dengan jalan memberi teladan dan meneladani. Ing ngarso sung tuladha, yang di depan memberi teladan.
b. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang mengayomi, menghormati pendapat mayoritas, dan menjaga minoritas.
c. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang menolak provokasi, baik oleh kelompok atau perseorangan untuk memecah-belah persatuan Indonesia.
d. Perlu diingat kembali bahwa umat Islam memiliki andil besar dalam kemerdekaan bangsa dan negara ini melalui keterlibatan begitu banyak ulama dan santri dalam menggalang usaha dan doa untuk melawan kolonialisme di Indonesia.

Dan perlawanan kami atas hinaan terhadap agama Islam ini bukanlah bentuk arogansi, melainkan suatu kewajiban yang memang semestinya kami lakukan atas dasar iman. Sebagaimana tidak ada seorang pemeluk agama apapun yang rela agamanya dinistakan dan dihinakan di muka umum. Hal ini kami pahami dari apa yang Islam ajarkan untuk menghargai dan tidak menistakan agama manapun. Kami akan terus menyuarakan ketidakadilan dan melawan segala bentuk upaya memecah belah bangsa dan negara Indonesia.

fsldk-logo

Pernyataan Sikap FSLDK Indonesia

By | Gagasan | No Comments

fsldk-logo

 

Bismihirrahmanirrahim. Segala puji hanya untuk Allah ta’ala, Tuhan Yang Maha Esa. Shalawat beriring salam untuk baginda Rasulullah SAW. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, hari-hari ini tersiar kabar yang cukup mengusik telinga umat Islam. Tertanggal 5 Oktober 2016 ada sebuah video yang diunggah ke youtube dan menjadi viral dalam waktu singkat. Video itu adalah potongan dari pidato gubernur DKI Jakarta Basuki Thahaja Purnama, atau masyhur orang-orang mengenalnya dengan sebutan Ahok. Pidato itu disampaikan di depan warga Kepulauan Seribu. Dalam video tersebut bapak Ahok dengan jelas menyatakan “Bapak ibu ga bisa pilih saya. Dibohongin dengan surat Al Maidah: 51, macem-macem itu. Itu hak bapak ibu”. Entah dengan maksud apa, yang jelas pernyataan ini sudah terlanjur diketahui banyak pihak.

Selama dua hari kami mencoba menunggu sambil mencari informasi yang valid. Apakah video ini asli atau tidak. Dengan maksud agar tidak mengambil sikap yang semakin memperkeruh suasana. Karena memang yang tersebar hanya potongan saja. Akhirnya video lengkap bisa kami dapatkan dan bagian potongan yang tersebar itu memang asli. Rekaman penuh juga hasil dokumentasi dari tim pemprov, dilengkapi dengan lambang kota Jakarta. Dalam pernyataannya Q.S. Al Maidah: 51 diucapkan seolah-olah dijadikan sebagai alat untuk membohongi publik. Begini bapak Ahok, Al Qur’an itu kitab suci kami umat Islam. Keasliannya terjamin, isinya pun terjaga. Maka ketika ada pernyataan yang menyebutkan bahwa ada bagian dari Al Qur’an ini yang dijadikan sebagai alat membohongi maupun membodohi tentu hal ini begitu menyakiti kami sebagai umat Islam. Karena hal ini sudah menyentuh perihal keimanan kami. Dalam hemat kata kami menyimpulkan apa yang bapak ucapkan ini bagian dari tindakan yang melampaui batas. Yang apabila dikorelasikan dengan UU KUHP Pasal 156a hal ini bisa termasuk penodaan agama.

Sebagai umat muslim tentu kami marah dengan hal ini, bukankah bapak juga akan marah apabila agamanya dilecehkan? Namun, tanpa bermaksud menyinggung SARA, agama yang kami imani ini mengajarkan tentang sabar. Sabar itu tidak ada batasnya, petuah dari guru kami, namun bentuknya bisa dipilih. Maka inilah bentuk sabar kami pak Ahok, kami tidak rela agama kami dilecehkan, karena kami sadar saat kami dilarang melecehkan agama lain, berarti hal itu bisa berdampak pada cideranya hati. Inilah bentuk komitmen kami sebagai seorang muslim, sebagai seorang Indonesia. Kami akan menjaga persatuan bangsa dan negara. Seperti halnya yang diajarkan oleh Rasul kami Muhammad SAW, saat beliau sebagai pemimpin mampu mengayomi seluruh umat bergama di Madinah, mengatur hubungannya dalam Piagam Madinah yang lebih dulu ada sebagai konstitusi tertulis, mendahului Magna Carta kerajaan Inggris. Inilah Islam yang diajarkan kepada kami.

Selanjutnya kami sampaikan bahwa, posisi bapak sekarang adalah sebagai seorang Gubernur DKI Jakarta. Pemimpin dari sebuah kota yang merepresentasikan Indonesia. Pemimpin adalah perwajahan dari mereka yang dipimpin. Tentu kita tidak ingin dinilai sebagai warga yang akhlaknya buruk, tindakannya sering melampaui batas, yang -boleh jadi- intoleran, hanya karena tindakan bapak yang di mata umum tidak mencerminkan sikap sebagai seorang pemimpin. Orang akan semakin sadar bahwa teko yang berisi teh hanya akan mengeluarkan teh. Teko yang berisi susu hanya akan berisi susu. Teko yang berisi comberan? Tidak mungkin mengeluarkan yang lain.

Terakhir kami meminta kepada bapak untuk meminta maaf secara terus terang kepada seluruh umat Islam khususnya dan umumnya kepada seluruh masyarakat Indonesia atas tindakan yang menciderai sebagian besar bangsa ini. Karena klarifikasi yang bapak sampaikan di media hari ini tidak akan menyelesaikan masalah. Kami tunggu keberanian bapak. Salam.

Surakarta Hadiningrat, 7 Oktober 2016
Atas nama FSLDK Indonesia

Hanafi Ridwan Dwiatmojo

no image added yet.

Kami Menolak Lupa!

By | Gagasan | No Comments

Penulis: Hanafi Ridwan D.

Hari ini tertanggal 30 September, tepat saat sholat jumat hujan deras mengguyur kota Surakarta. Menganalogikan langit menangis mungkin berlebihan. Tapi tak bisa dipungkiri hari ini (seharusnya) menjadi hari berduka bagi bangsa Indonesia, khususnya umat Islam. Tepat 51 tahun yang lalu telah pecah pemberontakan PKI terhadap pemerintah Indonesia. Mahsyur pada ingatan bangsa Indonesia bahwa pada 30 September 65 adalah dibantainya dengan biadab jendral dan perwira TNI. Sebelum dibunuh, mereka disiksa dan diperlakukan lebih rendah dari binatang. Jasadnya ditumpuk bagai sampah pada lubang sumur sempit di Lubang Buaya.

Namun sebagai seorang muslim, seharusnya ingatan kita terbuka lebar ke belakang. Fakta tidak bisa ditutupi, sejarah tidak bisa dihapus, bahwa dalam parade pemberontakan kaum komunis yang menjadi tumbal mayoritas adalah kaum muslimin. Ini memang bukan sebuah perwujudan ungkapan “mata dibalas dengan mata”. Tapi ini adalah bentuk kemarahan terhadap kebiadaban yang menimpa kaum muslimin. Saat genangan darah menyentuh mata kaki. Saat tubuh digergaji, diterjang palu arit, disiksa sampai mati. Juga saat patriot yang dituduh penghianat negara untuk sebuah legalisasi eksekusi.

Untuk setiap darah yang tertumpah. Untuk setiap air mata yang mengalir, membanjir. Untuk setiap jiwa yang direnggut paksa. Kami menolak lupa! Karena dalam jiwa dan pikiran kami, bendera setengah tiang akan tetap berkibar sebagai tanda duka. Pemalang Siantar, Jakarta, Semarang, Madiun, Solo, adalah satu diantara sekian banyak saksi sejarah yang telah melintas zaman. Kami tidak akan diam berpangku tangan untuk setiap ancaman pada keutuhan dan kedaulatan NKRI. Karena negeri ini adalah warisan perjuangan para pejuang, ulama, dan santri. Semogalah engkau para pejuang muslim, ulama dan santri yang telah gugur dalam pembelaan tercatat sebagai syahid fi sabilillah dan Allah berkenan menerima ruh yang kembali dalam kedamaian.

footballwallpapers-sepak-bola-daez

Sepak Bola dan Pesan Kemanusiaan

By | Gagasan, Puskomnas | No Comments
footballwallpapers-sepak-bola-daez

Sumber Gambar: www.iberita.com

Penulis: Hanafi Ridwan Dwiatmojo

Apa yang pertama kali terlintas di pikiran kita saat ditanya tentang sepak bola? Ya, sepak bola. Olah raga paling populer di planet ini. Olah raga ini tidak memandang “kasta”, dia bisa dimainkan siapa saja. Kembali ke pertanyaan tadi, pasti akan ada banyak jawaban tentang sepak bola. Mulai dari bola sampai piala dunia. Dari sekedar olah raga sampai gengsi yang bertaruh harga diri. Sepak bola memang membawa banyak arti. Lalu bagaimana awal mula olah raga ini dikenal manusia dan perkembagannya hari ini?

Diteliti oleh FIFA sebagai otoritas tertinggi sepak bola dunia, awal mula sepak bola berasal dari negeri China. Olah raga ini mulai ada pada abad ke-2 dimasa dinasti Han. Dikenal dengan nama Tsu Chu yang berarti bermain dengan menggiring bola kulit kemudian memasukkan bola kedalam jaring berukuran kecil. Dimasa itu tujuan sepak bola adalah untuk melatih fisik para tentara dan biasanya sepak bola juga dimainkan saat ulang tahun kaisar. Selain China, negara-negara yang memiliki sejarah tentang awal mula sepak bola diantaranya adalah Jepang, Inggris, dan Romawi.

Sepak bola terus berkembang melewati ruang dan waktu. Beradaptasi dengan zaman yang semakin modern. Perhelatan kompetisi pun lengkap dari sepak bola amatir level tarkam sampai level profesional di piala dunia. Piala dunia adalah kompetisi paling bergengsi yang memperebutkan mahkota raja sepak bola di level negara. Namun, dewasa ini ada hal “tidak biasa” yang mewarnai sepak bola. Sepak bola tidak lagi berkutat pada kompetisi. Memperebutkan piala maupun memuncaki klasemen. Hari ini sepak bola bisa menjadi sebuah alat pengirim pesan yang sangat efektif. Pesan ini bisa disampaikan oleh para pemain maupun mereka yang tergabung dalam tifosi.

Sejenak menengok tulisan sebelumnya pada “Omran, Celtic, dan Sekeping Kemanusiaan”, sudah ada sedikit contoh tentang fungsi baru sepak bola ini. Lalu setelahnya, peran baru yang diemban sepak bola ini semakin populer di mata publik. Peran sebagai pembawa pesan kemanusiaan. Salah satu pesan kemanusiaan yang dikirimkan adalah dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Celtic pada kemengangan 5-2 atas Hapoel Beer Sheva mungkin bukan yang mengawali, tapi boleh jadi mereka yang telah mempopulerkan. Bahkan ketika UEFA memberikan denda pun mereka tidak menggubris, malah melakukan galang dana untuk Palestina yang menghasilkan lebih dari 75 ribu pounds. Setelahnya ada St. Etiene dari Perancis yang mengikuti ketika melawan Beitar Jerusalem. Dan yang terbaru ditunjukkan oleh suporter tim nasional Indonesia.

Tertanggal 4 September 2016, untuk pertama kalinya setelah terbebas dari hukuman FIFA, akhirnya timnas Indonesia dapat menyelenggarakan pertandingan persahabatan. Kali ini yang menjadi sparing partner adalah negeri tetangga, Malaysia. Suasana rivalitas begitu kental ketika harus bertemu negeri jiran ini. Padahal Indonesia dan Malaysia adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim dan secara rumpun masih dekat dari garis persaudaraan melayu. Namun di pertandingan kemarin aroma perseteruan tidak terlalu tercium. Malah ada pertunjukan mengejutkan yang dipertontonkan oleh tifosi pasukan Garuda, kali ini dipelopori Pasoepati, suporter Persis Solo.

Memenuhi tiga tribun stadiun manahan, sekitar 20.000 manusia memperagakan koreografi yang mengundang decak kagum penonton yang lain. Peragaan kata Garuda menjadi tampilan pembuka, dilanjut dengan sang saka Merah-Putih yang disambut sorak sorai, lalu pertunjukan yang tidak diduga pun muncul di akhir, formasi bendera Palestina! Sontak riuh ramai tepuk tangan pun menyambutnya dan kamera-kamera handphone menjalankan tugasnya dengan sempurna. Sejenak setelah pertandingan berakhir, pesan yang disampaikan suporter Indonesia pun langsung viral di media sosial. Dari Solo untuk Indonesia dan Palestina.

Inilah fungsi baru sepak bola hari ini. Sekarang ia tak hanya berkaitan dengan kompetisi dan gengsi. Tapi merambah pada rasa hormat dan peduli. Football teach us about respect and humanity. Terlepas motif dan niat apa yang ada dibaliknya, entah psywar, sekedar mengikuti tren, atau benar-benar peduli dari dalam hati, bagi saya itu tidak terlalu penting. Karena yang lebih penting adalah, dunia melihat Palestina! Dan beriring harap berangkat dari sana, akan lebih banyak lagi hati yang tergerak untuk peduli.

Ditulis dalam perjalanan menuju Solo, dihari ke-10 bulan September.

040346000_1452745950-20150114-Ledakan-Sarinah-twitter-5

Bom, Uang, Kekuasaan, dan Kita

By | Berita, Gagasan, Indonesia | No Comments
bom-sarinah-1_20160114_124016

Sumber Gambar: plus.kapanlagi.com

Hari ini Indonesia kembali berduka. Negara kaya ini agaknya masih terlampau susah untuk bisa tersenyum bahagia. Dipapar asap berbulan-bulan, diteror isu aliran sesat yang menyesatkan, dan hari ini, ibukota menangis lagi. Ledakan yang membabi buta di enam titik yang berbeda, seolah dengan angkuhnya memecundangi janji keamanan dan ketentraman yang ditawarkan pemerintah kita. Masyarakat was-was, beberapa mungkin tak peduli, namun tak sedikit pula yang terus menerus menggeretakkan gigi tanda emosi.

Aksi teror dalam bentuk apapun tidak bisa dimaafkan. Apalagi terjadi di sebuah negara aman sentosa, Indonesia.

Sebagian mungkin akan berteriak lantang bahwa ini adalah kutukan Tuhan, sebagian yang lain lebih sepakat untuk menghakimi para ekstrimis dan fundamentalis, dan tak sedikit yang gagahnya berkata: Ini skenario!! Apapun itu, pelaku kejahatan ini dan mereka yang berdiri di belakangnya harus dihukum yang berbicara. Meski kita tahu bersama bahwa hukum di negeri ini masih saja sumbang!

Namun, kita harus catat. Negara kita adalah negara kuat. Bahkan terkuat di Asia Tenggara (menurut globalfirepower) dan peringkat 12 di dunia. Tentu seharusnya mudah jika hanya meringkus segelintir tikus-tikus pengecut. Tapi kenapa sampai sejauh ini??? Lalu, kalau sudah begini, akan dibawa kemana kemarahan rakyat Indonesia? Pihak mana yang berhak disalahkan? Dan siapa yang sebenarnya tertawa melihat jasad-jasad berhamburan di jalanan ibukota.

Tiga abad yang lalu, bahan peledak menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap pemerintahan korup, namun saat ini, rakyat tak lagi punya bahan peledak. Bahan peledak itu telah kalah oleh buaian manis media-media, mimpi-mimpi usang tentang kebebasan, dan harapan kosong akan kesejahteraan. Kedaulatan rakyat tercabik, uang rakyat dirampas, dan pada akhirnya, peledak justru digunakan untuk membungkam rakyat! Bom digunakan untuk membuat rakyat kalap, lupa akan pertaruhan kesejahteraan bangsa ini. Ingatan negara yang hampir tergadai, menjadi sirnam tersapu bom di ibukota.

Berkali-kali bangsa kita dipaksa mempertaruhkan harga dirinya. Namun bagaimana lagi. Pilihan itulah yang dipilih pemimpin kita. Karena kita yang memilih mereka, maka -mau tak mau- pilihan itu juga pilihan kita, maka untuk saat ini, cobalah bersikap lebih dewasa! Cukup berbelasungkawa dengan para korban. Mereka memang pahlawan, namun saat ini kita juga harus menjadi pahlawan untuk negara kita sendiri! Tenggat waktu penjualan saham Freeport adalah hari ini! Hari ini juga persidangan yang melibatkan wakil presiden kita yang terhormat digelar. Awasi! Jangan sampai harta ibu pertiwi terampas lagi, jangan sampai kita kembali memasuki era kegelapan yang penuh kemiskinan. Rupiah hampir menyentuh angka Rp 15.000! Bersikaplah dewasa! Simpan doa-doa kita untuk para martir yang memperjuangkan kedaulatan bangsa ini dari asing! Jangan mudah diadu. Pelaku bukan representasi dari kelompok masyarakat tertentu. Sekali lagi ingat, negara ini tengah mempertaruhkan masa depannya!

Bom kecil yang meledak di ibukota bukan apa-apa dibandingkan dengan apa yang terjadi di Suriah, Palestina, Iraq, dan negara lain yang tengah memperjuangkan martabat bangsanya. Anak-anak Suriah terbiasa dengan dentuman senjata kimia yang membutakan. Pemuda Palestina terbiasa dengan nuklir yang dihujam ke pemukiman-pemukiman, dan semuanya atas restu atas NATO. Iraq terbiasa dengan desing peluru. Jangan bicara soal mata uang dengan mereka. Mereka hanya ingin hidup dan itu cukup. Maka belajarlah dari mereka. Belajar untuk lebih dewasa. Siapa di balik ini semua?

Indonesia adalah bangsa besar. Kita masih pantas berbicara tentang kemakmuran, kejayaan dan kemerdekaan dipertaruhkan di hadapan para penjarah. Berikan ucapan belasungkawa, bersedihlah untuk mereka, dan cukup! Tunjukkan kemuliaan dan martabat bangsa ini! Bawa kemarahan itu di hadapan para penjarah. Saling menjaga, bergandengan tangan dalam toleransi, bersama-sama kita libas mereka yang menjual martabat bangsa. Jangan mau dibutakan oleh media yang jelas-jelas memihak. Dan terakhir, tunjukkan cinta kita pada ibu pertiwi dengan menjadi mereka yang bersabar, dan mereka yang menolak martabat bangsanya dirampas oleh siapa pun juga!

-Dan mereka berbuat makar padahal ketahuilah bahwa Allah sebaik-baik pembuat makar-

Oleh: Muhammad Abdullah ‘Azzam (Komisi A Puskomnas FSLDK Indonesia)

puisi-kasih-ibu

Juara 1 Sayembara Surat Cinta Untuk Ibu

By | Gagasan | No Comments
puisi-kasih-ibu

Sumber Gambar: http://www.hipwee.com/narasi/untukmu-ibu-seseorang-dengan-kasih-sayang-sampai-akhir-zaman/

Oleh: Windi Ariesti Anggraeni (Universitas Garut)

Singgasana fana, waktu mentari masih memamerkan sinarnya

Teruntuk Ibu yang sedang memasak di dapur,
Wanginya tercium hingga tak lagi bisa kubedakan mana masakan dan mana hujan, karena keduanya selalu mengandung aroma kerinduan.

Jujur saja aku tidak tahu harus memulai paragraf ini dengan apa. Jika kutanya kabarmu, “Apa kabar, Mah?” Aku tahu kau pasti menjawab “Baik – baik saja”, karena selalu begitu, bukan? Betapa pun sakitnya dirimu, kau tak pernah mengatakannya. Kau tak ingin membuat siapapun khawatir. Kau selalu tegar. Tidak seperti aku, yang masalah sabun habis saja harus rewel. Masalah tugas menumpuk saja harus mengeluh. Padahal… tugas apa sih yang terasa membebani? Satu per empatnya saja tidak dari tugas yang kau miliki. Bahkan aku seringkali lupa waktu. Seolah dunia telah merenggut sisa hidupku. Seolah kesibukan telah menjadi kebiasaan yang membuat aku menjadikan rumah hanya sebagai tempat persinggahan. Sebenarnya bukan begitu, Mah. Rumah selalu menjadi tempat yang kurindukan, selama ada dirimu disana, ia menjadi lebih dari segalanya. Rumah tanpamu, seperti bangunan tanpa atap. Dan aku tanpamu, seperti merpati tanpa sayap.

Sungguh, ini terdengar berlebihan, bukan? Namun sepertinya bukan buaianku yang berlebihan, Mah. Melainkan kesempurnaanmu. Kesempurnaan dalam memberikan kasih yang tulus untuk kepompong kecilmu yang sangat jarang mengucap terima kasih ini. Dari halaman pertama dalam buku kehidupanku, mungkin kau telah menjadi tokoh terpenting setelah pemeran utama. Memang tak banyak yang aku ketahui, namun yang pasti kau adalah orang pertama dan mungkin akan menjadi satu – satunya yang rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan anak yang bahkan belum kau kenal sebelumnya. Ya, aku. Aku yang tak mengenalmu namun sudah berani menghuni perut kecilmu. Membuat sesak, berat dan kadang merepotkan. Namun kau begitu sabar. Justru menganggapku sebagai bagian dari anugerah terbesar.

Hingga kini, seolah sabar telah melekat dalam peredaran darahmu. Walau aku yang keras kepala ini, aku yang tidak sadar pernah menyakitimu dengan lisanku, aku yang sering lupa tak mengabarimu, belum bisa mempersembahkan apapun sebagai bentuk penghargaan atas kesabaranmu. Aku -yang sering menunjukkan kekesalan saat kau mulai sering mengulang pertanyaan yang sama padahal aku telah menjawabnya- tak ingat tentang dirimu yang selalu sabar ketika mengajariku bicara, bahkan dari mulai merangkak hingga bisa menggapai langit. Ketika aku terjatuh, bukan kau marahi, bukan kau kesal, justru kau malah terus memberiku semangat dan pujian. Tidak seperti aku, yang sering menggerutu ketika kau mintai tolong. Tidak seperti aku, yang sering ‘merasa lebih tahu’ darimu ketika kau nasehati.

Mah, aku tahu, pasti pernah ada hati yang tersayat karena nadaku yang sedikit lantang. Aku tahu, pasti pernah ada bulir air yang membasahi pipi karena sikapku yang kekanakan. Aku tahu, pasti pernah ada noda yang membekas dalam sukma karena lisan tajamku yang sulit tuk bisa dilupakan. Maafkan aku, Mah.. Maafkan..

Aku takut tak lagi miliki banyak waktu untuk bisa menyembuhkan luka hingga membalutnya dengan kebahagiaan. Tiap pagi berganti, kulihat kau semakin berubah. Waktu menggerus tubuh tegapmu. Meski senyuman itu selalu lebih menenangkan dari obat apapun di dunia ini, namun tampak ada raut yang tetap tak dapat kau tutupi. Lelah yang kau sembunyikan perlahan terpamerkan dengan kondisi tubuhmu yang tak lagi sekokoh dulu. Maafkan aku, Mah. Bukan aku tak lagi mempercayai kekuatan fisikmu, aku tahu, kau selalu lebih hebat dari super hero manapun yang sering muncul dalam dongeng. Tapi sekuat apapun mereka, itu hanyalah ada dalam karangan hasil karya tangan manusia. Sedangkan aku punyamu yang ada dalam nyata, anugerah terindah yang Allah kirimkan untukku. The real mother that I have; the real super woman.

Aku tidak tahu bagaimana sejarah dapat menetapkan satu hari sebagai peringatan hari ibu, sementara kau selalu menjadi ibuku setiap hari, tanpa absen, tanpa jeda, atau tanpa ada satu pun hari yang diingkari.

Mah, tahukah kau apa yang paling aku benci dari hidup ini? Itu adalah perpisahan. Meski kita tahu, semua hal akan memiliki akhir. Dan ini adalah tentang detik yang terus berjalan. Ada dua kenyataan dalam kehidupan yang tak bisa kita hindarkan; bertahan atau merelakan, dan meninggalkan atau ditinggalkan.
Mah, aku tidak sanggup untuk membayangkan hari itu. Hari dimana jemari kita tak bisa lagi bersatu. Namun bukankah kasih tak melulu tentang raga yang bertemu? Melainkan hati yang selalu saling terpaut walau jarak dan waktu selalu berusaha memisahkan apa yang seharusnya bersatu.

Maafkan aku, Mah…. Bila kau lihat langit malam dihiasi bintang, banyaknya yang terbilang, itu masih kurang dibanding jumlah permohonan maaf dan terimakasihku untukmu.
Dan bila kau hitung banyaknya daun pada pohon lengkeng di kebun, itu masih kurang dibanding banyaknya kata yang ingin kutulis disini. Namun rimbunnya mengingatkanku dengan besarnya cinta yang ada. Mah, yang pasti aku selalu berdo’a, yang terbaik untukmu. Dan kala semoga aku bisa kembali bersandar di pangkuanmu di taman surga yang di bawahnya mengalir sungai – sungai indah, yang sama indahnya dengan sorot matamu.

Mah, bahagia memang tidak selalu tentangmu, tetapi denganmu, bahagia itu selalu.

Dariku,

Yang selalu dihujani rindu

pray-islam-kyrgyzstan_12346_600x450

Aku Ingin Mengaji , Tapi Orangtuaku Curiga…

By | Gagasan | 2 Comments

 

al-quran-2

Sumber Gambar: Arrahmah.com

 

Saya adalah seorang mahasiswa sebuah universitas di kota Padang.  Saya berasal dari Riau, saya lahir dan besar di sana, orangtua dan keluarga saya juga berada disana. Saya merantau ke kota padang saat dinyatakan lulus di kampus saya sekarang, setelah mengikuti ujian seleksi perguruan tinggi negeri tahun 2011 lalu. Sebagai mahasiswa perantauan, praktis saya bisa hidup lebih bebas. Karena hidup sendiri jadi mengatur waktu dan kegiatan sendiri tanpa harus mengahadapi pantauan orang tua setiap saat. Hidup sendiri tentu saya harus betanggung jawab penuh atas apa saja yang saya lakukan.

Hidup sebagai mahasiswa perantauan memang terasa enak, tapi bukan berarti tidak ada tantangan. Justru sebagai mahasiswa perantauan kita dituntut untuk berpandai-pandai terutama dalam memilih pergaulan.  Inilah yang menjadi salah satu kecemasan para orangtua.  Karena hidup di kota besar semua serba ada, semua serba lengkap. Pergaulan pun juga bervariasi mulai anak kafe, club malam, anak alay suka nongkrong di mall, anak band, komunitas game online, juga ada komunitas  anak-anak pengajian kampus, pengajian luar kampus, dan sebagainya. Biasanya mahasiswa memilih dua sampai tiga komunitas dan mengombinasikannya, selain sebagai kesenangan juga sarana mencari pengalaman dan menambah teman.

Setiap diri mempunyai hak penuh terhadap diri sendiri untuk memilih pergaulan mana yang akan diikuti. Tetapi yang pasti setiap pilihan memiliki konsekuensi, baik untuk pendukung studi di kampus, maupun bekal jangka panjang dari pergaulan masa muda untuk pola pikir di masa depan.  Alhamdulillah saya cukup bersyukur, saya pikir saya memilih sebuah pilihan yang benar, yaitu memilih salah satu komunitas yang cukup bermanfaat bagi  diri saya, komunitas pengajian dakwah kampus.

Pengajian mahasiswa atau di kampus saya, dikenal dengan dakwah kampus merupakan aktivitas keagaman yang digalakkan oleh mahasiswa muslim dikampus. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan bekal ilmu pengetahuan agama baik aqidah, fiqih, ibadah, syariat, dan segala seluk beluk kehidupan manusia yang diatur dengan tingginya aturan Islam. Sehingga dengan mengikuti kajian rutin dan berkala, diharapkan kampus tidak hanya melahirkan generasi cerdas intelektual, tetapi juga generasi yang beriman dan memiliki pemahaman agama yang memadai untuk menyongsong kehidupan pasca kampus yang penuh dengan gejolak dan tantangan.

Kegiatan pengajian mahasiswa atau dakwah kampus ini bukanlah aktivitas yang illegal, dilakukan mahasiswa secara diam-diam atau tanpa sepengetahuan (izin) dari pihak pimpinan kampus. Justru kegiatan-kegiatan dakwah kampus merupakan aktivitas yang menjadi program yang didukung penuh oleh pihak pimpinan kampus, baik itu dukungan perizinan, fasilitas, dana, dan sebagainya.  Hal ini tentu karena pimpinan kampus sangat sadar akan pentingnya pendidikan karakter dan agama bagi generasi bangsa ini.  Bentuk komunitas pengajian dakwah kampus memiliki sarana yang cukup beragam.  Mulai dari lembaga yang formal  sebagai salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang disebut dengan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) atau di kampus saya dikenal Forum Studi Islam (FSI), aktivitas takmir masjid kampus yang diisi oleh para mahasiswa, selanjutnya juga ada kegiatan mentoring agama Islam yang diwajibkan oleh pihak kampus bagi seluruh mahasiswa baru, dan tentu masih banyak lagi.  

Bentuk kegiatan pengajian dakwah kampus juga bervariasi, salah satu contohnya  adalah pengajian rutin di masjid kampus yang dilakukan setiap minggu. Di kampus saya kegiatan ini dikenal dengan OASIS (Obrolan Asyik Seputar Islam). Kegiatan ini dilakukan setiap jumat sore ba’da ashar, dengan mengundang para guru atau ustadz dari luar kampus. Biasanya dari dosen IAIN atau dari lembaga pendidikan agama yang lain. Para guru yang diundang biasanya lulusan dari Mesir, Madinah, atau perguruan tinggi di timur tengah lainnya, atau juga bisa para ustadz atau dosen dari kampus sendiri. Setiap minggunya membahas bahasan yang berbeda mulai dari kajian fiqih ibadah, kajian syariat, kajian hadist, sejarah rasul, pergerakan mahasiswa dalam pandangan Islam dan lainnya. Kegiatan ini sangat bagus untuk menambah wawasan dan pemahaman mahasiswa terhadap Islam. Kegiatan ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa setiap minggunya.

Salah satu kegiatan lainnya yaitu mentoring. Di Kampus saya, mentoring merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa baru, karena ini merupakan bentuk pratikum mata kuliah pendidikan agama Islam. Apakah itu mentoring? Mentoring merupakan aktivitas pengajian kelompok yang diisi oleh peserta mahasiswa baru dan dibimbing oleh seorang senior.  Biasanya setiap kelompok mentoring berisi 7-12 orang peserta mahasiswa baru (mente) dan satu orang senior pendamping (mentor).  Seorang senior pendamping mentoring (mentor) tentu sudah mengikuti pembekalan atau pelatihan.

Saya juga merupakan peserta mentoring sewaktu menjadi mahasiswa baru. Kegiatan mentoring dilakukan pada suatu jadwal luang di sela-sela jadwal kuliah. Pertemuan dilakukan setiap minggu selama satu semester.  Pada kegiatan mentoring ini memiliki kurikulum materi yang telah di rancang oleh LMAI (Lembaga Mentoring Agama Islam), sebuah lembaga yang berada dibawah bidang akademik kampus atau wakil rektor  satu (WR 1). Beberapa materi mentoring seperti aqidah, yang mencakup materi mengenal Allah Sang Pencipta (Ma’rifatullah), mengenal ajaran Islam (ma’rifatul Islam), mengenal kepribadian dan perjuangan Rasulullah (ma’rifaturrasul) dan lain sebagainya. Berikutnya materi yang mencakup fiqih  ibadah, seperti tata cara shalat, berwudhu, bersuci dan lain sebagainya. Juga materi-materi dasar Islam lainnya. Dalam mentoring juga dilakukan aktivitas tutorial baca al-qur’an bagi mahasiswa yang masih belum lancar membaca al-qur’an.

Inilah beberapa contoh aktivitas pengajian dakwah kampus. Aktivitas ini tentu sangat dibutuhkan oleh mahasiswa generasi bangsa ini. Melihat dekadensi moral dan merosotnya kepribadian generasi muda saat ini, tentu salah satu penyebabnya adalah karena minimnya sarana atau fasilitas bagi generasi muda untuk belajar agama. Jika mengharapkan hanya satu semester mata kuliah agama Islam di kampus tentu ini sangatlah tidak cukup. Para mahasiswa generasi bangsa ini sebagian besar adalah anak-anak muslim, tetapi sangat minim dalam belajar agama. Dengan aktivitas dakwah kampus ini tentu diharapkan orang tua dapat sedikit tenang dengan keikutsertaan anaknya.

Tetapi walaupun begitu, aktivitas dakwah kampus bukan tanpa hambatan. Dengan banyaknya isu yang berkembang terkait Islam garis keras membuat semua orang terutama para orangtua merasa was was jika anaknya mengikuti akvititas pengajian keIslaman.  Sebagai seorang mentor di kampus,  tak jarang saya menerima keluhan dari adik-adik peserta mentoring, terutama yang tinggal bersama orangtua. Mereka mengatakan bahwa orangtua mereka gelisah, jika mereka mengikuti suatu pengajian, nanti akan terjerumus pada ajaran Islam aliran sesat atau Islam garis keras (sebagian orang bilang Islam radikal). Apalagi banyak berkembang isu teroris, ISIS, aliran sesat, dan lain sebagainya.  Hal ini merupakan salah satu tantangan juga bagi para penggiat dakwah yang lurus di mana pun berada, termasuk di kampus.

Kita kembali ke dakwah kampus. Sebagai mahasiswa tahun akhir yang sudah cukup lama di kampus,  dari awal ikut kegiatan dakwah kampus. Saya berani katakan, bahwa hal-hal yang diisukan tersebut InsyaAllah tidak ada pada aktivitas dakwah kampus. Dakwah kampus merupakan aktivitas yang terintegrasi dengan kegiatan kampus, tentu pengelolaan dan programnya berada dalam pantauan pihak kampus. Serta pengevaluasian dan kontrol kegiatannya juga dilakukan secara berkala, sehingga sangat kecil kemungkinan adanya  pengaruh dari paham-paham yang dikhawatirkan teresbut.

Saya ingin sampaikan kepada para orangtua, bahwasanya kita menyadari Islam memang sedang diuji dengan adanya  gerakan-gerakan kekerasan yang mengatasnamakan Islam. Tetapi hal ini, tentu tidak dengan serta merta kita menelan bulat-bulat seluruh isu yang ada, dan menyamaratakan persepsi negatif kepada seluruh aktivitas dakwah Islam. Karena jika ini terjadi, akan timbul keadaan yang miris saat ini, yaitu para orangtua justru lebih nyaman jika anak-anaknya mengikuti aktivitas kelalaian bersama teman-temannya seperti acara-acara anak muda yang dekat dengan pergaulan bebas, narkoba, hiburan-hiburan, pacaran dan sebagainya, ketimbang melihat anaknya rajin beribadah dan ikut pengajian remaja/mahasiswa. Karena takut anaknya mengikuti pengajian yang salah.

Sebenarnya kekhatiwaran para orangtua sungguh wajar, tetapi tentu jangalah serta merta melarang anaknya untuk menjadi taat dalam beragama. Berikut ada beberapa tips, untuk menguji aktivitas pengajian yang diikuti oleh seorang anak:

  1. Pastikan sang anak jujur menyatakan perihal suatu pengajian yang diikutinya dimana tempatnya, materi kajiannya, dan pengisi kajiannya. Berikan kepercayaan kepada anak.
  2. Sesekali minta sang anak mengajak teman-teman pengajiannya untuk ke rumah bersama ustadz atau guru pengajiannya. Pada kesempatan ini para orang tua bisa lebih dekat mengenal dan memahami apakah pengajian yang diikuti anaknya ini lurus atau tidak. Jika sang anak menolak atau terkesan menghindar maka ini patut dicurigai.
  3. Sesekali para orangtua ikut ke lokasi pengajian, baik atas sepengatahuan sang anak atau diam-diam dalam rangka mencari tahu.
  4. Ciri khas mahasiswa yang mengikuti pengajian dakwah kampus, mereka akan lebih rajin ibadahnya. Shalat ke masjid, membaca al qur’an secara teratur dan sebagainya, dan ini tentu positif.
  5. Doakan sang anak agar diberikan petunjuk jalan yang lurus oleh Allah Swt.

Beberapa hal ini tentu lebih adil dilakukan dibanding langsung memvonis sang anak sehingga  dia tidak diberikan kesempatan untuk belajar mendekatkan diri kepada Allah Swt. Karena anak yang sholeh tentu juga menjadi dambaan setiap orangtua.

Dakwah kampus telah lahir dan tumbuh di kampus-kampus di seluruh Indonesia. Ia telah banyak berjasa melahirkan para sarjana yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki kepribadian yang unggul. Dakwah kampus dilahirkan dari para pemuda yang mencintai agamanya. Merekalah para pemuda yang jernih pikirannya, bersih hatinya, dan cerdas akhlaknya. Ia lahir semata-mata hanya sebagai bentuk jawaban akan segenap permasalahan moral generasi bangsa ini. Ia dibesarkan dari jiwa-jiwa muda yang semangat berjuang tanpa pamrih. Hanya secercah harapan Indonesia bangkit dan jaya di masa depan dengan para pemuda cerdas dan shalih, sebagaimana dulu para pendiri bangsa ini berjuang mengorbankan diri, diiringi oleh lantunan takbir dan kedekatan dengan Al-Qur’an. Kedekatan dengan Rabb-nya dengan kedekatan yang sedekat-dekatnya.

Penulis: Muhammad Shadri (Ketua Puskomda FSLDK Sumatera Barat)

——————————————————- Media FSLDK Indonesia —————————————————-

Email : info@fsldkindonesia.org

Fanpage : FSLDK Indonesia

Twitter : @FsdkIndonesia | @JarmusnasFSLDKI

Line : @yok1532s

G+ : FSLDK Indonesia

Categories