Category Archives: Puskomda

kaltim kaltara

Muslimah mengenali Potensi

By | Indonesia, Inspirasi, Prestasi, Puskomda | No Comments

“Muslimah adalah makhluk yang Allah ciptakan untuk beriman dan beramal sholeh, Beriman sempurnakan ibadah kepada Allah dan beramal sholeh sempurnakan kebaikan kepada manusia”
Seorang muslimah yang baik tidak hanya mampu membuat dirinya baik namun juga mampu membuat lingkungannya menjadi lebih baik dan bermanfaat, Ibu Dewi Husnul Khatimah adalah salah satu figur Muslimah inspiratif bagi muslimah lain untuk mampu mengembangkan potensi yang di miliki, beliau lahir di Balikpapan 17 November 1978 memiliki 3 orang anak yang semuanya laki – laki yaitu Hilmi Amanullah, Hanif Ihabullah, dan Harits Fadhullah Hisyam, suami ibu dewi yaitu bapak Adika Bayu Pratiyaksa yang bekerja sebagai arsitek. ibu Dewi bekerja di sekolah alam Balikpapan sebagai Litbank Sekolah yaitu bagian Penelitian dan Pengembangan sekolah, yang sebelumnya pada tahun 2008 – 2011 beliau menjabat sebagai kepala sekolah Sekolah Alam Balikpapan, pada 2011 – 2016 menjabat sebagai Direktur Sekolah Alam Balikpapan.

kaltim kaltara
Ketiga anak ibu dewi bersekolah di Sekolah Alam Balikpapan, mereka masing-masing memiliki potensi diri yang beda – beda. Ibu Dewi mengatakan bahwa sebuah prestasi bukan hanya dilihat dari sebuah penghargaan dan piagam – piagam namun bagaimana anak – anaknya mampu menjadi orang – orang yang bermanfaat bago orang lain. Contoh saja Hilmi yang sekarang berada di kelas 9, dia telah mampu menemukan potensi dirinya di bidang design grafis dan memiliki potensi memimpin yang baik sehingga menjadi asisten guru untuk kegiatan Ekspedisi, Survival dll. Contoh lain adalah Hanif yang sangat suka membaca membuatnya bersikap sangat kritis terhadap hal – hal di sekitarnya namun mampu menjadi mediator antara guru dengan teman – teman kelasnya, Hanif si adik bungsu merupakan sosok anak yang ramah, naturalis, dan teliti terhadap lingkungannya.
Aktivitas sekolah tidak menghalangi ibu dewi dalam berkegiatan di luar sekolah, beliau ikut aktif dalam RKI (Rumah Keluarga Indonesia) sebagai Konselor untuk pernikahan, keluarga, ibu dan anak, sehingga membuat beliau sering pergi keluar kota untuk memberikan seminar – seminar mengenai keluarga dan pernikahan ke daerah seperti Samarinda, Tarakan, Tanah Tidung, Bontang, Penajam, Nunukan, sepaku, dan Manado. Ibu Dewi ikut dalam struktur salah satu partai politik sebagai ketua BPKK dulu bernama bidang perempuan, dan terkadang masih sempat mengisi kajian – kajian yang ada di wilahyah Balikpapan seperti PKPU, Rumah Zakat, ataupun kepada TK yang ada di Balikpapan.
Dengan berbagai kegiatan yang dijalani oleh ibu Dewi beliau mampu membagi waktu dengan sangat baik untuk kerja dan keluarganya. “Yang penting memahamkan anak – anak apapun aktivitas yang dilakukan, serta adanya dukungan dan kerjasama dengan suami karena kita adalah satu tim untuk membangun keluarga, dakwah, dan ummat” ungkap bu Dewi. Dukungun keluarga yang besar dan kerjasama dalam pembagian tugas keluarga membuat segala aktifitas ibu Dewi dapat dilakukan dengan baik. Dalam mengatur seluruh kegiatannya, beliau selalu membuat Skedul untuk 2 bulan kedepannya sehingga maksimal dalam pembagian waktunya, untuk kegiatan sebagai konselor beliau bisa lakukakan disela-sela waktu kerjanya di Sekolah Alam Balikpapan atau setelah pulang kantor bisa melakukan konsultasi dirumah dan menemui klien karena ibu Dewi bekerja dari jam 8.00 – 16.00 sehingga masih memungkinkan adanya kegiatan setelah jam kerja.
“Seorang muslimah memiliki potensi di dalam dirinya yang mungkin belum ditemukan, muslimah yang telah mengetahui potensinya akan sangat membantu di dalam perkembangan peradaban islam karena telah mengetahui apa fungsinya sebagai sorang muslimah. Muslimah Indonesia semakin banyak kajian seharusnya menjadikan kita semakin kuat bukan semnakin terpecah – pecah, banyak muslimah yg beribadah baik namun di sisi lain ada beberapa muslimah yang mudah menjudge orang, menyalahkan orang, padahal banyak muslimah lain yang bisa dibantu untuk pengokohan keimanan dan amal sholihnya”. Tutur ibu Dewi

 

Komisi C FSLDK Kaltim-Kaltara

WhatsApp Image 2017-04-06 at 06.28.53

PRESS RELEASE AKSI KEMANUSIAAN SUARA UNTUK SURIAH FSLDK INDONESIA

By | Indonesia, Puskomda, Puskomnas, Puskomnas, Rilis | No Comments

WhatsApp Image 2017-04-06 at 06.28.53

Kabar duka dari Suriah kembali menjadi nada sumbang omong kosong penegakan perdamaian dunia. Pada Selasa (3/4) kemarin, puluhan masyarakat sipil kembali menjadi korban serangan brutal pesawat yang diduga milik tentara suriah , melalui serangan udara menggunakan senjata kimia gas beracun di kota Idlib, Suriah. Penyerangan yang terjadi dini hari tersebut, telah menyebabkan 58 orang syahid, termasuk wanita dan 11 diantaranya anak-anak. Serangan gas beracun tersebut mengakibatkan puluhan korban menggeliat di tanah, tidak bisa bergerak dengan mata terbelalak, sesak napas akibat tersedak gas beracun yang mereka hirup.

Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia pada Kamis (6/4), melakukan aksi kemanusiaan “Suara untuk Suriah” sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas masyarakat Indonesia terhadap tragedi penyerangan masyarakat sipil yang terjadi di Suriah. Aksi kemanusiaan ini dilaksanakan serentak di 22 daerah di Indonesia, antara lain Lampung, Kalimantan Barat, Kepulauan Riau, Solo, Banten, Jambi, Aceh, Depok, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Bandung, Nusa Tenggara, Sumatera Selatan, Ternate, Malang, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Priyangan Timur, Kalimantan Barat, Surabaya, Bali, Sumatera Barat dan Bangka Belitung, dan masih akan disusul di beberapa daerah lainnya dalam beberapa hari kedepan.

Aksi kemanusiaan yang bertajuk “Suara untuk Suriah” ini berhasil melibatkan lebih dari 500 massa aksi dari berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa umum di masing-masing daerah. Serangkaian aksi berjalan lancar, diawali dengan orasi kemanusiaan oleh perwakilan Lembaga Dakwah Kampus (LDK), Puskomda dan Puskomnas, dilanjutkan dengan Freeze Mob oleh seluruh massa aksi, yang diikuti dengan pembacaan puisi kemanusiaan “Untukmu Suriah” , galang dana dan ditutup dengan doa bersama.

Hari ini kita berdiri menjawab panggilan sebagai bentuk pengabdian pada Allah.Tak peduli sengatan matahari dan guyuran hujan kita tegaskan bahwa anak kandung Indonesia berdiri bersama mujahidin Suriah menentang penjajahan asing dan rezim bashar alassad” Tegas Hanafi Ridwan Dwiatmojo, ketua Pusat Komunikasi Nasional FSLDK Indonesia.

#FSLDKIndonesia
#SuaraUntukSuriah
#SaveSuriah
========================
📍 Media FSLDK Indonesia 📍

🌏 Web: www.fsldkindonesia.org
👥 Fanspage: FSLDK Indonesia
📸 Instagram: @fsldkindonesia
🐤 Twitter: @fsldkindonesia
💡 Line@: @yok1532s
🎥 Youtube: FSLDK Indonesia
📮 Google+: FSLDK Indonesia
📧 Email: info@fsldkindonesia.org

IMG-20170402-WA0042

Wujudkan Mimpi, Seimbangkan Hak dan Kewajiban

By | Indonesia, Inspirasi, Kerjasama, Prestasi, Puskomda | No Comments

Sebagian besar orang berfikir bahwa wanita tidak perlu berpendidikan tinggi karena toh kita akan kembali menjalani tugas sebagai ibu rumah tangga. Namun tidak dengan bu Efri, beliau berhasil menyelesaikan studi S3 nya dan kini menjabat sebagai ketua Program Studi S1 dan S2 Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran. Dr. Efri Mardawati, ST.,MT (39) yang akrab dipanggil Uni Efri ini berasal dari Agam, Sumatera Barat.

 

Pembawaan diri yang hangat dan bersahaja membuat semua orang betah untuk berlama-lama berbagi kisah dengannya. “Ya, saya kadang berfikir dibebankan oleh Allah sesuatu diluar batas kemampuan saya”, ujar beliau ketika mengawali kisah. Bagaimana tidak, disaat kelas 4 sekolah dasar, beliau dituntut untuk merawat kedua adiknya beserta seluruh pekerjaan rumah. Di masa kecilnya, beliau seringkali ditinggalkan kedua orang tuanya untuk berdagang dari satu daerah ke daerah lainnya.

Uni Efri di masa kecil tidak mengenal kata bermain layaknya anak biasa. Sepulang sekolah biasanya beliau langsung mengerjakan berbagai tugas rumah tangga dan belajar. Hebatnya, ditengah kesibukan mengurus rumah tangga, beliau tetap berprestasi . “Walaupun saya dari desa, amak selalu berpesan untuk sekolah setinggi-tingginya”, kata Bu Efri sambil mengenang masa lalu. Motivasi terbesar beliau memang dorongan dari kedua orang tuanya terutama sang ibu.

Setelah menyelesaikan studi di Sumatera Barat, beliau berhasil masuk ke salah satu perguruan tinggi Top di Indonesia yaitu Institut Pertanian Bogor. “Saya sempat mengalami culture shock saat sekolah di IPB”, tegas beliau. Perlu setidaknya 6 bulan bagi beliau untuk menyesuaikan diri. Lulus dari IPB selanjutnya beliau melanjutkan studi ke Institut Teknologi Bandung. Disana beliau menjalani studi dengan berlepas dari tunjangan finansial dari orang tua. Puncaknya adalah ketika usaha dari orang tua beliau bangkrut. Beliau ketar ketir mencari sumber penghasilan sampai akhirnya menjalani beberapa profesi yaitu guru les kecil-kecilan serta berjualan susu kedelai. Seringkali beliau menjajakan susu kedelai di pasar mingguan di sekitar pusdai atau gazibu.
“Pernah amak uni menangis karena melihat anaknya jualan susu kedelai padahal studi S2”, jelas beliau. Padahal pada saat itu, beliau masih memiliki tuntutan untuk membiayai saudara-saudaranya yang masih sekolah. Namun beliau tetap berusaha sampai akhirnya mendapatkan tunjangan untuk studi serta beberapa project yang dikerjakan bersama dosennya.

Belum usai ujian yang didapatkan, setelah lulus dari ITB kemudian dihadapkan pada realita pendidikan di perguruan tinggi swasta. Meskipun dengan gaji yang sangat kecil beliau bersyukur karena masih dipercayai Allah untuk tetap berbagi ilmu. Beberapa waktu berselang beliau bekerja di salah satu perusahaan kerudung ternama. Disana beliau menjadi kepala HRD dengan gaji yang memang bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Namun memang keinginan untuk menjadi pengajar masih besar. Bak gayung bersambut, pada waktu itu ada pembukaan bagi pendaftaran dosen di Fakultas Teknologi Industri Pertanian. Singkat cerita akhirnya beliau menjadi salah satu pengampu di FTIP Unpad. Pada awalnya memang cukup sulit untuk masuk kedalam lingkungan baru, terlebih beliau sama sekal tidak memiliki kolega di unpad dan bukan lulusan unpad. Keinginan belajar yang besar serta mencoba untuk beradaptasi membuat beliau mampu bertahan sampai sekarang. Terlepas dari jabatan yang kini dimiliki, mimpi besar beliau adalah menjadi seorang pengajar dan peneliti yang andal. “Disinilah ladang amal saya. Ilmu pengetahuan yang dikaji, mudah mudahan dapat dimanfaatkan bagi masyarakat sekitar”. 5 besar Finalis National Fellowship L’Oréal-UNESCO For Women in Science 2015 pada bidang lifescience ini aktif melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Baginya, amanah ini adalah ladang dakwah dan ikhtiar amal jariyah kedepannya.

Karir sebagai ibu rumah tangga, beliau selalu belajar dan berusaha membagi waktu bagi keluarga dan karirnya dikampus. Anak sulung beliau kini duduk dikelas 4 sekolah dasar dan mampu menghafal juz 30. Ibu dari 2 orang anak ini juga berpesan bahwa sudah menjadi sebuah keharusan bahwa wanita berpendidikan agar generasi yang dititipkan sang khaliq menjadi generasi terdidik. Tetap berbaik sangka atas ujian yang Allah berikan karena sesungguhnya dengan ujian itu Allah sedang mendidik kita agar siap menghadapi masa depan. Jalankan hak dan kewajiban sebagai seorang perempuan dan wujudkan mimpi tertinggi.
Komisi C FSLDK Bandung Raya

WhatsApp Image 2017-03-29 at 22.53.08

Membangun Generasi Penuh Berkah

By | Gagasan, Indonesia, Inspirasi, Kerjasama, Prestasi, Puskomda | No Comments

WhatsApp Image 2017-03-29 at 22.53.08

Nila Ristia Putri S.PdI. Ibu muda ini merupakan lulusan awal Intensif Putri LIPIA (2000-2003) bidang Bahasa Arab. Dilahirkan di Payakumbuah,22 Mei 1982, ibu muda ini akrab dipanggil dengan panggilan “Zah Nila”, beliau memiliki empat orang putri yang bernama Farhatha Adqiya’ (2004), Fadhila Azzakiyah (2006), Fudla Najiyah (2009), dan Fauzana Ramadhani (2012). Zah Nila merupakan sosok Ibu dan sosok guru yang menyenangkan bagi keluarga dan siswa-siswi nya. Dengan menerapkan metode “kemandirian” bagi anak-anak beliau, Zah Nila menjadi sosok ibu dan wanita supel serta mandiri sehingga anak-anak beliau pun menjadi ana-anak yang mandiri dan creative. Disamping tuntutan amanah beliau sebagai seorang guru dan menjadi ibu dari empat orang putri, beliau juga merupakan seorang da’iyah yang aktif mengisi majlis tahsin bagi perempuan.

Zah Nila bersyukur atas keberkahan yang diperoleh terhadap keluarganya, dengan dasar lingkungan (Bi’ah) yang baik, zah Nila tidak harus banyak mengontrol tahap belajar anak-anak nya karena secara otomatis anak-anak beliau telah mengikuti alur sesuai yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan Jargon “barang siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolong nya dan meneguhkan kedudukan nya” , Zah Nila sangat meyakini dan percaya dengan janji Allah tersebut. Dalam pekerjaan beliau menjadi guru, Zah Nila menjadi guru yang berteman dengan siswa-siswi nya

Menjadi seorang wanita di era peradaban hari ini, muslimah hendaklah menjadi sosok yang dengan setiap pekerjaan dan tanggung jawab yang dimiliki tetap memperhatikan hakikat beliau sebagai muslimah dalam menjaga nilai-nilai keislaman, menjadikan setiap kesempatan yang ada untuk menyebar nilai-nilai kebaikan dan menjadi yang terdepan dalam menjaga serta mengurusi keluarga nya.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.06.51

Ibu Yani: Harmonis di Tengah Kesibukan Karir

By | Indonesia, Inspirasi, Prestasi, Puskomda | No Comments

Feminisme merupakan kata yang sudah tak asing lagi dalam masyarakat. Kata feminisme berasal dari bahasa latin yang artinya perempuan. Feminisme telah didengungkan oleh kaum hawa pada abad ke 18. Pada umumnya gerakan feminisme diartikan sebagai gerakan untuk menuntut kesetaraan gender. Artinya, ingin diperlakukan sama dengan kaum laki-laki. Padahal pedoman hidup dalam Al-Quran sudah jelas digambarkan tidak adanya kesetaraan gender.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.06.51 

Perkembangan feminisme sangat signifikan dan bisa kita rasakan telah menjadi budaya tanpa kita sadari. Sebagian orang, menganggap feminisme adalah mutlak tanpa memperhatikan kodratnya sebagai wanita. Akibatnya, peran dan tanggungjawabnya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangaa menjadi terabaikan. Contohnya banyak TKW yang bekerja diluar negeri. Akibatnya anaknya yang harus mendapatkan kasih sayang dan pendidikan menjadi terlupakan. Bukankah madarasah terbaik adalah madrasah seorang ibu? Meskipun demikian, ada juga seorang wanita yang berkarir membantu meringankan beban suaminya namun tetap meprioritaskan keluarganya. Contohnya, seorang Guru di SMAN 1 Praya yang berkarir dibidang pendidikan, namun keluarga adalah yang utama.

Ibu Yani , lahir pada tanggal 2 januari 1970 kini telah memiliki 6 orang anak. Ia tinggal dan beraktivitas di alamat Jl Snokling 2 No 18 Perumnas Ampar Ampar Layar. Di SMA N 1 Praya ia berperan sebagai guru PNS mata pelajaran matematika. Selain menjadi seorang guru, beliau juga aktif mengikuti dan mengisi halaqah, bahkan beliau juga menjadi ketua Majelis Taklim As-Sakinah di lingkungan perumahannya. Baliau juga berperan sebagai pembina remaja muslimah. Meskipun demikian, beliau mampu fokus untuk bertanggung jawab terhadap keluarga sesuai dengan kodratnya. Bahkan beliau pernah meminta tidak diluluskan dalam TES PNS apabila ditempatkan jauh dari keluarga.

Sebut saja anak pertamanya Rasyid yang kini tengah menempuh Pendidikan Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Mataram. Anak keduanya Faruq pun kini tengah menempuh pendidikan di STAN Jakarta. Keberhasilannya dalam mendidik anak-anaknya tidak terlepas dari prinsipnya mengatakan bahwa sesibuk apapun hal yang dilakukan, namun tetap anak adalah prioritas utama. Beliau juga dengan senang hati membagikan tips dalam mengurus anak di tengah kesibukannya sebagai seorang guru. Ada 4 hal dasar yang harus ditanamkan kepada anak-anaknya yaitu ketelaudanan yang dapat dilihat oleh anaknya dari sosok seorang ibu, pembiasaan terhadap anak untuk melakukan hal-hal baik, reward sebagai bentuk penghargaan terhadap anak dan hukuman untuk menyadarkan kesalahan yang dilakukan anak.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.07.01

Menjadi wanita karir memang tak harus meninggalkan kewajiban dan tanggung jawab serta kodrat yang telah digariskan. Belajar dari Ibu Yani bahwa di tengah kesibukan, beliau mampu untuk membangun keluarga yang harmonis dan anak-anak yang berprestasi. Akhir kata, beliau tutup dengan pesan bahwa apabila kita mendahulukan urusan akhirat maka dunia akan mengikuti. Nasihat untuk wanita indonesia bahwa fenimisme merupakan adopsi dari nonmuslim bukan dari Al Quran. Bagi wanita yang kurang paham maka akan tergerus ikut dalam aliran fenimisme, tetapi tidak bagi wanita muslimah. Karena wanita muslimah memilih menjadi wanita terhormat tanpa meninggalkan kodrat.

Komisi C FSLDK Nusa Tenggara

WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.02.40

Selelah Apapun Kita di Tempat Kerja

By | Gagasan, Indonesia, Inspirasi, Prestasi, Puskomda | No Comments

Ahad, di sela waktu makan siang pada sebuah acara pelatihan media di kota Kembang, pertemuan saya dengan ibu tiga anak ini digariskan-Nya. Berawal dari percakapan ringan, tanpa diduga, menghasilkan satu prinsip hidup baru terutama bagi saya sebagai perempuan yang tengah bingung tentang isu feminisme, tentang ketercabikan posisi seorang perempuan ketika dipandang harus bekerja layaknya seorang laki-laki bekerja.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.02.40

Teh Yani namanya. Usia 39, ibu tiga anak cerdas, aktif mengisi pengajian dan seorang dosen di Stikes Respati Tasikmalaya. Pertanyaan yang diajukan sebenarnya banyak, namun ringkasnya, seperti di bawah ini. 

Apa pendapat teteh tentang ibu yang bekerja di luar? kan waktu untuk anak terkuras tuh, bisa-bisa anak merasa kehilangan sosok ibunya. Belum lagi urusan rumah, beres-beres, masak, nyuci. Gimana teh?

Menurut saya, selama suami ridha, orangtua ridha, tak ada salahnya jika kita mengoptimalkan potensi kita berkarya di luar, kemudian selama kita tidak mengedepankan kepentingan pribadi seperti mengejar karir semata atau penghasilan untuk menandingi suami, saya pikir boleh saja kita bekerja, semua tergantung niat kan? dan tentu saja hal yang harus kita pegang adalah bahwa bekerja diluar itu boleh setelah kita benar-benar paham peran kita sebagai istri dan ibu di rumah, dengan begitu, selelah apapun kita saat kerja, kita akan tetap menyiapkan waktu, tenaga, perhatian dan senyum terbaik untuk anak kita. Mereka punya hak atas diri kita. Hal terpenting adalah konsep kualitas waktu, bukan kuantitas, meski tidak full 24 jam bersama anak, namun jika kita bisa memanfaatkan waktu yang sedikit itu dengan mencurahkan kasih sayang dengan baik, itu cukup membuat anak tidak merasa kehilangan ibunya. Tentang kedekatan saya kepada anak-anak, saya optimalkan moment sholat berjama’ah, tilawah Quran bada maghrib, dan beres-beres rumah bareng.

Mendidik anak memang penting, namun saya tidak mau ketinggalan ambil peran untuk mendidik ummat, mewarnainya dengan dakwah semampu saya, setidaknya cakupan mahasiswa yang saya ajar, bisa saya ajak pada kebaikan. Jadi dosen enak, semisal menginstruksikan mahasiswa sebelum masuk kelas harus duha dan tilawah dulu,kebijakan untuk berjilbab syar’i, kan mantap? Dakwah adalah cinta, dan tentu saja menuntut pengorbanan. Yang terpenting, kita tekan ego kita, saat lelah mendera, ingat niat, ingat tekad kita. Kita harus tetap menyediakan waktu terbaik untuk keluarga. Meski lelah, namun setelah sampai rumah, kita musti tetap ceria, dengarkan cerita anak selama di sekolah, membantu anak mengerjakan PR, bercerita, bermain bersama pokoknya penuhi hak anak.

Satu hal yang saya yakini, setiap hal yang ada di hadapan, baik anugerah maupun musibah, merupakan ladang amal untuk kita, setiap masalah itu tergantung bagaimana respon kita. Yang jelas, kita minta saja ke Allah, kita ingin jadi istri yang baik, jadi ibu yang baik dengan tetap bisa berdakwah semampu kita. Pasti Allah tolong. Pasti.

Komisi C FSLDK Priangan Timur

WhatsApp Image 2017-03-10 at 23.52.51 (2)

IBU, GURU PERTAMA DAN UTAMA BAGI ANAK

By | Inspirasi, Prestasi, Puskomda | No Comments

WhatsApp Image 2017-03-10 at 23.52.51 (2)

Ibu memilki peran yang sangat vital dalam keluarga. Faiqotul Himma Hamid berhasil memainkan peran ibu dengan baik tanpa melupakan tanggung jawab sosial. Peran keluarga sangat penting untuk menyiapkan generasi penerus yang berkualitas. Salah satu keluarga yang cukup sukses mencetak generasi berkualitas adalah keluarga pasangan ibu Hj. Faiqotul Himma, S.Pd , 62 dan bapak H. Abd. Hamid Chidlir, S.Pd, 67 yang beralamat rumah di Jl. Letjen Panjaitan No. 109 Jember.
Rumah tangganya selalu dilingkupi kebahagiaan dan kesuksesan. Letak kesuksesannya terlihat dengan keenam anaknya yang sudah sukses. “Alhamdulillah, semua anak saya sukses,” kata ibu yang akrab di panggil Bu Faiq tersebut. Kesuksesan tersebut bukan sebuah kebetulan. Walau dia mengaku biasa-biasa saja dalam mendidik anak, namun ada sesuatu yang banyak orang dianggap sepele, padahal bernilai tinggi. Ibu keenam anak tersebut mengaku selalu menjaga kebersamaan dan rasa saling menghormati. “Saya dan anak saya biasa-biasa saja, namun kami selalu terbuka dan tidak banyak menuntut mengenai masa depan mereka,” katanya. Keenam anak Bu Faiq kini menjadi orang sukses. “Ada yang masih menempuh study di Malaysia,” katanya. Dia menjelaskan, hanya ada seorang anaknya yang tinggal di Jember dan berprofesi sebagai dokter gigi. “Banyak orang bertanya kepada saya, bagaimana kok bisa sukses semua,” akunya.
Bu Faiq mengatakan, tidak ada yang spesial yang dilakukan untuk mendidik anaknya. hanya, sejak pertama berkeluarga, dia selalu membiasakan salat berjamaah dengan anaknya. “Saya selalu berjamaah jika sholat,” katanya. Selain berjamaah, dia selalu membudayakan makan bersama anak-anaknya. “Ini yang biasa memakan waktu lama,” akunya. makan bersama dalam keluarga adalah sesuatu yang “wajib”. Dalam makan bersama itulah setiap anggota keluarga bisa saling curhat, tukar pikiran, dan membangun kedekatan emosional.
Bu Faiq merupakan wanita yang berhasil mendidik anaknya di antara segudang aktivitas sosial yang dia jalani. Bu Faiq sejak lama dikenal sebagai aktivis sosial. Dia pernah menjadi guru MTs. Ashri, pengurus muslimat NU, pengurus Jamiyah Qurro’ wal Khuffat, dan aktivitas lain yang berhubungan dengan masyarakat sekitar. Namun, dalam kesibukannya tersebut, dirinya tidak lantas meninggalkan kewajibannya dalam mendidik anak dan mengurus keluarga. “Jika keluarga mengharuskan ada saya, maka saya harus ada,” katanya.
Dia meyakini, kesuksesan anak tidak lepas dari do’a seorang ibu. “Saya tidak lepas akan do’a untuk anak-anak saya, ” katanya. Selain itu, yang penting adalah jangan sampai ada sedikitpun makanan dan minuman haram yang diberikan kepada anak-anaknya. Sebab, jika seorang anak diberi makanan haram, akan jadi daging yang haram dan menyebabkan perilaku yang menyeleweng dari agama.Untuk menjadikan anak-anaknya berhasil mencapai cita-cita, ada beberapa tahapan yang ditempuhnya. Yaitu, pendidikan agama sejak dini, mengarahkan belajar anak sesuai dengan bakat dan minat, mengajarkan kemandirian dan bertanggung jawab, menanamkan rasa senang bersilaturrahim, menanamkan kepedulian, teladan dari orang tua, dan kerukunan, serta keharmonisan dalam keluarga. “Namun, yang sangat utama adalah kebersamaan dan keterbukaan dalam keluarga,” katanya.

FSLDK Jember Raya

5093b800-9fc5-44c1-b983-d9dc902c7b08

GSJN 18 : FSLDK Indonesia Selenggarakan Khataman Quran Serentak Perguruan Tinggi Se-Indonesia

By | Berita, LDK, Puskomda, Puskomnas, Rilis | No Comments
5093b800-9fc5-44c1-b983-d9dc902c7b08

GSJN #18

SOLO – Gerakan Subuh Jamaáh Nasional (GSJN) telah menginjak kali ke 18. Agenda yang rutin diselenggarakan oleh Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus se-Indonesia tersebut, selalu mengangkat permasalahan-permasalahan teraktual di Indonesia. Sebagaimana GSJN #18 yang dilaksanakan pada Jumat (10/03/2017), FSLDK Indonesia mengangkat tema “Membangun Generasi Pewaris Negeri Menuju Indonesia Jaya” dengan tajuk spesial Kampus Nusantara Mengaji.

Agenda berbeda dilangsungkan pada GSJN #18 kali ini, yaitu khataman qurán yang diselenggarakan secara serentak bersama 40 Perguruan Tinggi yang tergabung dalam FSLDK Indonesia. Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia, Hanafi Ridwan menyampaikan, “salah satu penyebab utama permasalahan muslim saat ini adalah kian menjauhnya umat dari nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang semestinya menjadi pedoman hidup. Maka dari itu, melalui agenda GSJN ini, kami mencoba untuk mengajak pemuda-pemudi Indonesia kembali dekat dengan al-qurán sebagai salah satu bekal menuju bangkitnya islam kembali.”

GSJN #18 yang diselenggarakan serentak di 40 Perguruan Tinggi se Indonesia ini, juga terhubung melalui Video Conference Sambutan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (MENRISTEKDIKTI) yang berpusat di Masjid Nurul Huda Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Selain itu, agenda ini didukung dengan hadirnya beberapa tokoh nasional yang turut memberikan sambutan diantaranya, Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, DEA, Prof. H.M. Mahfud M.D., S.H., S.U. dan Dr. (H.C) H. Ary Ginanjar Agustian. Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti) secara langsung memimpin khatmil qurán yang dilanjutkan doa oleh Ketua MUI Solo Prof. Zainal Arifin Adnan.

Antusiasme yang sangat baik ditunjukkan dari membludaknya peserta GSJN #18 hingga mencapai 1500 jamaáh menyesaki Masjid Nurul Huda UNS. Hal yang serupa tampak juga dari antusiasme jamaáh yang juga melaksanakan GSJN di 40 masjid kampus se-Indonesia. “Masa-masa keemasan yang dulunya menghiasi lembaran sejarah umat manusia, sekarang hanya menjadi nostalgia manis pengisi kenangan umat muslim. Kemudian, kita tidak bisa tinggal diam menyaksikan Islam berada di titik nadir. Pelaksanaan GSJN ini, menjadi wujud komitmen kami dan seluruh mahasiswa Indonesia untuk memuliakan al-qurán dan menjaga waktu subuh untuk menyongsong kebangkitan islam,” terang Hanafi Ridwan Dwiatmojo, Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia.

16788773_521140031416371_2365961822529388544_n

Rapimnas FSLDK Indonesia Deklarasikan Gerakan Nasional Peduli Negeri

By | Berita, Kerjasama, Puskomda, Puskomnas, Rilis | No Comments
16788773_521140031416371_2365961822529388544_n

FSLDK Indonesia Mendeklarasikan Generasi Peduli Negeri

Solo – FSLDK Indonesia sukses menyelenggarakan Rapimnas (Rapat Pimpinan Nasional) III pada tanggal 24-26 Februari 2017 bertempat di Surakarta. Agenda ini dihadiri oleh 120 peserta yang merupakan pimpinan dari 37 Pusat Komunikasi Daerah sebagai perwakilan dari Lembaga Dakwah Kampus se-Indonesia.

Rapat Pimpinan Nasional membahas arahan kerja serta evaluasi dari program-program FSLDK Indonesia dalam upayanya untuk membangun Indonesia. Tak hanya itu, pada kesempatan ini FSLDK Indonesia juga mendeklarasikan “Gerakan Nasional Peduli Negeri” yang akan fokus pada pencegahan narkoba dan miras serta membangun jiwa nasionalisme pada mahasiswa. Gerakan ini bekerja sama dengan DPR RI Komisi 1, Ganas Annar (Gerakan Nasional Anti Narkoba) MUI, Genam (Gerakan Anti Miras), dan DPD RI.

Salah satu poin penting dari simpul pergerakan ini adalah adanya advokasi kurikulum anti narkoba, anti miras, dan wawasan kebangsaan pada saat orientasi mahasiwa baru.

Narkoba dan miras adalah induk dari degradasi moral generasi muda Indonesia. “Miras adalah salah satu gerbang menuju kepada penggunaan narkoba. Sebagai generasi muda kita harus lawan miras dengan peran kita masing masing” tutur Fahira Idris selaku ketua Gerakan Nasional Anti Miras. Sedangkan Titik Haryati wakil pimpinan pusat Gerakan Nasional Anti Narkoba MUI menegaskan bahwa aktivis dakwah harus siap untuk melawah narkoba, bahkan Ganas Annar siap memfasilitasi pelatihan untuk menjadi satgas anti narkoba.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Komisi 1 DPR RI memaparkan tentang pentingnya peran pemuda untuk menjaga kedaulatan NKRI. “Apa yg anda kerjakan hari ini mungkin biasa-biasa saja.Tapi 20 tahun yang akan datang peristiwa ini akan menjadi sejarah dan kalian akan memimpin negeri ini. Karena kalian adalah pemilik sah negeri ini, “paparnya.

“Kita adalah anak kandung Indonesia, yang berhak mewarisi negeri ini adalah kita, bukan bangsa lain. Maka membangun dan menjaga Indonesia adalah tanggung jawab kita bersama”, tegas Hanafi Ridwan Dwiatmojo dalam akhir deklarasi.

Deklarasi ini ditandatangani oleh perwakilan dari masing-masing stakeholder dari berbagai elemen yaitu, Fahira Idris, S.E., M.H (Ketua Umum Gerakan Nasional Anti Miras), Dr. Hj. Titik Haryati, M.Pd (Wakil Ketua Pimpinan Pusat Gerakan Nasional Anti Narkoba), Dr. Abdul Kharis Almasyhari, S.E., M.Si., Akt., C.A (Ketua Komisi 1 DPR RI), serta perwakilan dr FSLDK Indonesia yang diwakili Hanafi Ridwan Dwiatmojo selaku Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia.

4032138d-0ddc-412e-96fc-00838d945704_orig

Islam dalam Sorotan Media

By | Berita, Indonesia, Puskomda, Puskomnas, Rilis | No Comments
media

Sumber Gambar : brusselmedia.be

Tanggal 4 November 2016 menjadi sejarah baru Indonesia. Lebih dari dua juta umat Islam turun ke jalan, memutih di Ibukota. Dibersamai dengan puluhan ribu massa di wilayah Indonesia lainnya, seperti Medan, Pangkalpinang, Palembang, Pekanbaru, Jambi, Banjarmasin, Samarinda, Balikpapan, Pontianak, Solo, Malang, Semarang, Jember, Purwokerto, Makassar, Kendari, Ambon, Bandung, Cirebon, Bogor, Tangerang, dan Madiun.

Mengadakan aksi damai, yang berikutnya disebut aksi damai 411. Tuntutan aksi jelas, massa meminta keadilan dan menuntut proses hukum terhadap pelaku penista agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang pada tanggal 27 September 2016 di Kepulauan Seribu telah menciderai kebhinnekaan bangsa ini. Terekam dengan jelas, dalam video yang dirilis oleh pemprov DKI Ahok telah menistakan Al Qur’an surat Al-Maidah ayat 51 sebagai alat untuk membohongi. Serta menghina ulama sebagai pembohong. Hal ini jelas melanggar setidaknya dua undang-undang, yaitu KUHP pasal 156a tentang Penistaan Agama dan UU No.1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. 

Namun media dan pihak yang bermain di belakangnya (man behind the gun) dengan provokatif mengatakan bahwa Ahok tidak melakukan penistaan dan salah kaprahnya media memberitakan soal aksi damai 411 dengan menggambarkan Islam anti nasionalisme dan agresif. Dan memelintir fakta jumlah massa yang turun ke jalan hanya berkisar dua ratus ribu.

Jakarta, 16 November 2016 gelar perkara penistaan agama menetapkan Ahok sebagai tersangka. Hal ini masih merupakan proses yang panjang dan tetap berjalan, pasca ini masih ada proses peradilan. Status Ahok masih tersangka, belum terdakwa, belum terpidana. Namun kami akan terus mengawal sampai keadilan ditegakkan. Khawatir ini adalah sarana penggembosan ummat. Dan gurita-gurita media yang memutarbalikkan fakta, memainkan opini masyarakat, bisa jadi untuk menuai simpatik publik terhadap Ahok.

Adanya fenomena demikian membuat Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia ikut menjadi garda terdepan mengawal isu yang beredar di media.

Salah satu usaha FSLDK Indonesia yaitu dengan memasukkan konten kajiannya yang dikemas dalam acara Gerakan Subuh Jama’ah Nasional (GSJN) Ke-14 dengan tema Islam dalam Sorotan Media: Membangun atau Merusak Citra. Tema ini menggambarkan suatu fenomena dari media, kekuatan terbesar di dunia modern dan para aktor yang bermain di depan atau di belakang layar dengan menyajikan informasi yang salah kaprah tentang Islam dan hasratnya untuk menyudutkan Islam.

Apa alasan dan siapa tokoh di balik itu semua? Dan pentingnya masyarakat membaca berita yang sehat.

 “Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang seorang yang fasik dengan membawa suatu informasi maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena suatu kebodohan, sehingga kalian menyesali perbuatan yang telah kalian lakukan.” (Al-Hujurat: 6)

GSJN ke-14 ini dilaksanakan pada tanggal 19-20 November 2016 serempak di lebih dari 10 titik di Indonesia. Diantaranya Kalbar (IAIN Pontianak), Aceh (Univ. Leuser Kutacane),  Solo (Univ. Sebelas Maret), Jakarta (Univ. Trilogi), Lampung (Univ Bandar Lampung), dan Riau (Univ. Lancang Kuning Pekanbaru).

Melalui tema GSJN kali ini, FSLDK Indonesia ingin menyampaikan pesan kepada ummat agar cerdas berita dan media. Semoga Allah senantiasa menguatkan dan membela.

Categories