Untuk Ibu Archives - FSLDK Indonesia

kewajiban-anak-laki-terhadap-ibunya

Untukmu, Ibu

By | Inspirasi, Puskomnas | No Comments
hadiah-terindah-di-hari-ibu

Sumber Gambar : kabarmakkah.com

Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Ku pandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku

Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang

Nada nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci
Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan

Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang

Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan slalu ada di dalam hatiku

Lirik lagu itu tak asing, bukan? Ya, Bunda judulnya. Lagu yang menggambarkan sosok ibu. Hari ini menjadi ramai pembicaraan tentang ibu. Karena hari ini Hari Ibu Nasional. Kenapa hanya satu hari dalam setahun? Kenapa tidak setiap hari adalah hari ibu?

Ibu, adalah wanita yang paling hebat. Mungkin yang nanti akan “menyaingi” kehebatanmu hanyalah istri. Istri? Ah itu nanti saja. Sembilan bulan sepuluh hari kata teori, engkau mengandung kami. Kemana-mana ikut. Aktivitasmu jadi tidak seleluasa biasanya. Tidur pun tidak bebas. Bahkan makan pun bisa jadi akan pilih-pilih. Kata orang, karena bawaan yang di dalam perut.

Semua tau pengorbananmu. Saat kami ingin menatap dunia, maka engkau akan mendekat gerbang maut. Menahan rasa yang amat sangat sakit. Hanya agar engkau bisa bertemu bayimu. Dan seketika sakit itu hilang saat kau lihat anakmu. Dari situ mulailah engkau rawat kami. Dengan segala kesusahan dan kerewelan yang ada. Yang kadang menguras kesabaran. Tak jarang pula memancing emosi. Namun, pasti engkau berusaha sabar sepenuh hati.

Engkau pastikan kami tidur nyenyak. Walau harus kau tahan kantukmu. Engkau pastikan kami kenyang dan makan enak. Walau harus kau tahan laparmu. Engkau pastikan kebutuhan kami tercukupi. Walau harus kau tahan lelahmu. Engkau pastikan kami dapat yang terbaik. Walau harus kau korbankan banyak hal. Lalu perlahan kami tumbuh besar, dan akan semakin jarang pulang. Semakin sedikit waktu untukmu.

Ibu, bagaimana perasaanmu saat kami jauh? Saat kami jarang memberi sapa. Jarang bertanya kabar. Bagaimana perasaanmu saat kau melepas kami pergi? Kau lepas dengan selalu menitipkan pesan. Mencoba tegar. Namun kadang kau tak mampu membendung air matamu. Bagaimana perasaanmu? Kami tak mampu membaca perasaanmu. Tak mampu merasa batinmu. Maafkan anakmu, Ibu. Maafkan.

Apa yang kami berikan padamu tak akan pernah sebanding dengan segala pemberianmu. Tak akan pernah. Lalu bagaimana andai kami belum bisa memberi apa-apa? Kecuali kenakalan yang membuatmu sedih. Dan segala beban yang membuatmu banyak pikiran. Ya Allah. Maafkan kami.

Saat kami sadar bahwa tiap detik berlalu berarti semakin dekat kita dengan senja. Kami tak mampu memberi apa-apa. Hanya bisa berharap dan berusaha, kelak suatu saat nanti kami bisa simpulkan senyum di bibirmu. Membuatmu bahagia. Dan, tentu kami selalu ingin menjadi hartamu yang paling berharga. Yang menjadi penyambung amal baikmu saat kau berpisah dengan dunia. Menjadi amal terbaikmu dan menjembatani hingga surga.

Ibu, walau mungkin jarak dan waktu mulai jarang mempertemukan kita, namun yakinlah bahwa harimu bukanlah satu diantara 365. Tapi harimu adalah satu diantara 7. Harimu bersama anakmu adalah sepanjang masa. Karena kami akan selalu bersamamu dalam doa. Seperti engkau yang tak luput menyebut kami setiap hari, dalam munajat pada Sang Mahakuasa.

Wahai Tuhan Pencipta dan Penguasa Alam Raya, Allah ‘azza wa jala, semoga tiap letih, tiap tetes peluh, air mata, bahkan darah yang dikorbankan ibu kami terbayarkan pada diri kami yang Kau ridhai untuk menjadi sebaik hartanya. Sebaik amalnya. Hingga nanti ia bertemu dengan-Mu di surga, dalam keabadian. Semoga hadirnya kami memang untukmu, Ibu.

Penulis,

@hanafiridwan

Categories