Surat Cinta Untuk Ibu Archives - FSLDK Indonesia

puisi-kasih-ibu

Juara 1 Sayembara Surat Cinta Untuk Ibu

By | Gagasan | No Comments
puisi-kasih-ibu

Sumber Gambar: http://www.hipwee.com/narasi/untukmu-ibu-seseorang-dengan-kasih-sayang-sampai-akhir-zaman/

Oleh: Windi Ariesti Anggraeni (Universitas Garut)

Singgasana fana, waktu mentari masih memamerkan sinarnya

Teruntuk Ibu yang sedang memasak di dapur,
Wanginya tercium hingga tak lagi bisa kubedakan mana masakan dan mana hujan, karena keduanya selalu mengandung aroma kerinduan.

Jujur saja aku tidak tahu harus memulai paragraf ini dengan apa. Jika kutanya kabarmu, “Apa kabar, Mah?” Aku tahu kau pasti menjawab “Baik – baik saja”, karena selalu begitu, bukan? Betapa pun sakitnya dirimu, kau tak pernah mengatakannya. Kau tak ingin membuat siapapun khawatir. Kau selalu tegar. Tidak seperti aku, yang masalah sabun habis saja harus rewel. Masalah tugas menumpuk saja harus mengeluh. Padahal… tugas apa sih yang terasa membebani? Satu per empatnya saja tidak dari tugas yang kau miliki. Bahkan aku seringkali lupa waktu. Seolah dunia telah merenggut sisa hidupku. Seolah kesibukan telah menjadi kebiasaan yang membuat aku menjadikan rumah hanya sebagai tempat persinggahan. Sebenarnya bukan begitu, Mah. Rumah selalu menjadi tempat yang kurindukan, selama ada dirimu disana, ia menjadi lebih dari segalanya. Rumah tanpamu, seperti bangunan tanpa atap. Dan aku tanpamu, seperti merpati tanpa sayap.

Sungguh, ini terdengar berlebihan, bukan? Namun sepertinya bukan buaianku yang berlebihan, Mah. Melainkan kesempurnaanmu. Kesempurnaan dalam memberikan kasih yang tulus untuk kepompong kecilmu yang sangat jarang mengucap terima kasih ini. Dari halaman pertama dalam buku kehidupanku, mungkin kau telah menjadi tokoh terpenting setelah pemeran utama. Memang tak banyak yang aku ketahui, namun yang pasti kau adalah orang pertama dan mungkin akan menjadi satu – satunya yang rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan anak yang bahkan belum kau kenal sebelumnya. Ya, aku. Aku yang tak mengenalmu namun sudah berani menghuni perut kecilmu. Membuat sesak, berat dan kadang merepotkan. Namun kau begitu sabar. Justru menganggapku sebagai bagian dari anugerah terbesar.

Hingga kini, seolah sabar telah melekat dalam peredaran darahmu. Walau aku yang keras kepala ini, aku yang tidak sadar pernah menyakitimu dengan lisanku, aku yang sering lupa tak mengabarimu, belum bisa mempersembahkan apapun sebagai bentuk penghargaan atas kesabaranmu. Aku -yang sering menunjukkan kekesalan saat kau mulai sering mengulang pertanyaan yang sama padahal aku telah menjawabnya- tak ingat tentang dirimu yang selalu sabar ketika mengajariku bicara, bahkan dari mulai merangkak hingga bisa menggapai langit. Ketika aku terjatuh, bukan kau marahi, bukan kau kesal, justru kau malah terus memberiku semangat dan pujian. Tidak seperti aku, yang sering menggerutu ketika kau mintai tolong. Tidak seperti aku, yang sering ‘merasa lebih tahu’ darimu ketika kau nasehati.

Mah, aku tahu, pasti pernah ada hati yang tersayat karena nadaku yang sedikit lantang. Aku tahu, pasti pernah ada bulir air yang membasahi pipi karena sikapku yang kekanakan. Aku tahu, pasti pernah ada noda yang membekas dalam sukma karena lisan tajamku yang sulit tuk bisa dilupakan. Maafkan aku, Mah.. Maafkan..

Aku takut tak lagi miliki banyak waktu untuk bisa menyembuhkan luka hingga membalutnya dengan kebahagiaan. Tiap pagi berganti, kulihat kau semakin berubah. Waktu menggerus tubuh tegapmu. Meski senyuman itu selalu lebih menenangkan dari obat apapun di dunia ini, namun tampak ada raut yang tetap tak dapat kau tutupi. Lelah yang kau sembunyikan perlahan terpamerkan dengan kondisi tubuhmu yang tak lagi sekokoh dulu. Maafkan aku, Mah. Bukan aku tak lagi mempercayai kekuatan fisikmu, aku tahu, kau selalu lebih hebat dari super hero manapun yang sering muncul dalam dongeng. Tapi sekuat apapun mereka, itu hanyalah ada dalam karangan hasil karya tangan manusia. Sedangkan aku punyamu yang ada dalam nyata, anugerah terindah yang Allah kirimkan untukku. The real mother that I have; the real super woman.

Aku tidak tahu bagaimana sejarah dapat menetapkan satu hari sebagai peringatan hari ibu, sementara kau selalu menjadi ibuku setiap hari, tanpa absen, tanpa jeda, atau tanpa ada satu pun hari yang diingkari.

Mah, tahukah kau apa yang paling aku benci dari hidup ini? Itu adalah perpisahan. Meski kita tahu, semua hal akan memiliki akhir. Dan ini adalah tentang detik yang terus berjalan. Ada dua kenyataan dalam kehidupan yang tak bisa kita hindarkan; bertahan atau merelakan, dan meninggalkan atau ditinggalkan.
Mah, aku tidak sanggup untuk membayangkan hari itu. Hari dimana jemari kita tak bisa lagi bersatu. Namun bukankah kasih tak melulu tentang raga yang bertemu? Melainkan hati yang selalu saling terpaut walau jarak dan waktu selalu berusaha memisahkan apa yang seharusnya bersatu.

Maafkan aku, Mah…. Bila kau lihat langit malam dihiasi bintang, banyaknya yang terbilang, itu masih kurang dibanding jumlah permohonan maaf dan terimakasihku untukmu.
Dan bila kau hitung banyaknya daun pada pohon lengkeng di kebun, itu masih kurang dibanding banyaknya kata yang ingin kutulis disini. Namun rimbunnya mengingatkanku dengan besarnya cinta yang ada. Mah, yang pasti aku selalu berdo’a, yang terbaik untukmu. Dan kala semoga aku bisa kembali bersandar di pangkuanmu di taman surga yang di bawahnya mengalir sungai – sungai indah, yang sama indahnya dengan sorot matamu.

Mah, bahagia memang tidak selalu tentangmu, tetapi denganmu, bahagia itu selalu.

Dariku,

Yang selalu dihujani rindu

Categories