Sejarah Archives - FSLDK Indonesia

Heroine Week

#HeroineWeek: Tak Hanya Kartini

By | Rilis | No Comments

21 April, merupakan waktu ditetapkannya sebuah hari yang menasional, bahkan diperingati dengan adanya upacara-upacara di beberapa lembaga. Ya, hari itu hari Kartini. Hari nasional ini menjadi ajang untuk mengingat akan emansipasi wanita yang dibawa oleh seorang wanita berdarah Jawa, yang bersahabat dekat dengan bangsa Belanda, E.C. Abendanon. Wanita itu adalah Raden Adjeng Kartini. Putri seorang bupati yang dengan ketajaman tulisannya, tertuang di surat yang dikirimkannya pada karibnya di Belanda. Surat-surat itu kemudian Bangsa Indonesia mengenalnya sebagai buku dengan tajuk Habis Gelap Terbitlah Terang.

Kartini, dengan segala “curhat”-nya mengenai perlakuan Belanda terhadap wanita pribumi, menjadi sosok yang paling dikenal sebagai pelopor keluarnya penindasan terhadap wanita. Ia menjadi satu-satunya ikon majunya wanita dengan paham emansipasi-nya sampai detik ini, di negeri Indonesia. Bahkan menjadikannya sebagai pahlawan wanita terdepan melawan penjajahan. Lalu, apakah benar hanya Kartini yang bisa menjadi sosok panutan bagi sebagian besar wanita bangsa kita? Apakah hanya Kartini pahlawan wanita yang membebaskan wanita pribumi dari cengkraman keterbatasan yang diciptakan pemerintah Hindia-Belanda?

Mari sejenak mengingat nama-nama ini; Laksamana Malahayati, Ratu Zaleha, Nyi Mas Melati Putri Sejati, Nyi Ageng Serang, Atje Voorstad, Tengku Agung (Syarifah Latifah), Emmy Saelan, Siti Walidah Ahmad Dahlan. Mereka adalah sederet nama yang tak banyak dikenal kisahnya, selain mungkin hanya dikenal sebagai nama jalan. Namun sesungguhnya, mereka adalah “kartini” lainnya yang dimiliki bangsa Indonesia, yang dengan kegigihan lebih besar melawan penjajahan.

Laksamana Malahayati, merupakan sosok wanita tangguh nan kuat dari tanah rencong. Namanya tercatat sebagai pendiri dan pemimpin sebuah pasukan yang terdiri dari janda-janda prajurit yang syahid. Pasukan yang dipimpinnya bernama Armada Inong Balee dan disebut-sebut sebagai pasukan terkuat se-Asia Tenggara meski diisi oleh para wanita. Malahayati tak hanya tangguh melawan penjajah melainkan juga pandai dalam berdiplomasi, dibuktikan dengan diangkatnya beliau sebagai seorang diplomat dan pernah berdiplomasi dengan utusan Ratu Elizabeth II.

Nyi Ageng Serang, pahlawan wanita dari Serang ini tak kalah heroik perjuangannya dalam membela masyarakat Kulon Progo melawan penjajah. Beliau juga merupakan seorang yang memegang tonggak kepemimpinan di Serang, setelah Ayahnya meninggal. Dalam kepemimpinannya, beliau sangat memperhatikan masyarakatnya yang miskin dan kelaparan dengan memberikan pangan, di samping terus mengusir penjajah di daerahnya saat itu.

Ratu Zaleha, terlahir dari keluarga yang gencar melakukan perlawanan terhadap Belanda, tak heran sejak kecil beliau sudah dididik untuk melawan penjajah yang ada ditanah air. Selain itu, Ratu Zaleha disertai dengan temannya Bulan Jahid juga tetap memperhatikan pendidikan masyarakat kala itu, dengan memberikan pelajaran baca-tulis Arab Melayu dan Agama Islam kepada anak Banjar, serta memberikan penyuluhan mengenai peranan wanita dan yang lain sebagainya.

Nyi Mas Melati Putri Sejati, pahlawan dari daerah Tangerang. Pengabdian Nyi Mas Melati ini dalam melawan tuan-tuan tanah yang merupakan antek dari para kompeni patut ditiru. Ketegasan dan pembelaannya terhadap pribumi begitu kukuh. Betapa tidak, seorang wanita yang akhirnya berani untuk bersuara dan menentang para tuan tanah yang serakah lagi dzalim kepada masyarakat kala itu. Dibekali dengan kekuatan fisik yang dimilikinya, membuat luluh semangat pasukan lawan, sehingga menggentarkan lawan untuk menyerang.

Atje Voorstad, atau yang dikenal juga dengan nama Aminah adalah wanita yang semangatnya tak pernah luntur untuk mengajar dan mencerdaskan anak bangsa. Beliau mendirikan sekolah kepandaian putri (Meisje School) sebagai bentuk perlawanan terhadap sekolah yang diintervensi oleh Belanda.

Tengku Agung, nama asli beliau ialah Syarifah Lathifah. Beliau merupakan sosok pahlawan yang konsen terhadap pendidikan masyarakat yang ia pimpin. Sebagai seorang sultanah, beliau mendirikan beberapa sekolah khusus wanita yang dijadikan sarana pebelajaran bagi wanita. Selain pengetahuan, beliau juga tetap mengajarkan keterampilan kepada masyarakatnya pada saat itu, menjahit, memasak dan lain-lain sehingga wanita tidak melupakan kodratnya sebagai seorang ibu dan wanita yang memang memiliki keterampilan berumah tangga.

Emmy Saelan, ialah seorang yang telah menjadi pemimpin laskar wanita organisasi Harimau Indonesia di usianya yang belia. Emmy Saelan tercatat sebagai pahlawan wanita yang gugur di tengah medan perang pada tahun 1947 di hutan kampung Kassi-Kassi. Emmy gugur dengan telah menewaskan prajurit Belanda saat itu. Namanya diabadikan menjadi nama jalan di kota-kota di Sulawesi. Selain itu, pemerintah juga mendirikan sebuah monumen bernama “Monumen Emmy Saelan” sebagai bentuk penghormatan atas kepahlawanannya.

Siti Walidah Ahmad Dahlan, dibalik pria sukses ada wanita hebat, mungkin peribahasa ini yang cocok untuk disandang oleh Siti Walidah. Tak hanya suaminya, Ahmad Dahlan yang bisa menoreh prestasi tiada dua di nusantara, namun beliau juga berjasa dalam membantu kerja-kerja suaminya. Dalam catatan sejarah hidupnya, Siti Walidah telah tumbuh menjadi seorang wanita yang taat beragama dan cerdas. Beliau menjadi sosok wanita penting bagi pelurusan Islam di Kauman kala itu. Selain mengajarkan Al-Qur’an, beliau juga mengajarkan baca dan tulis serta keterampilan-keterampilan bagi kaum hawa di Kauman. Tak hanya itu, Siti Walidah juga memiliki kiprah dalam melawan penjajahan dengan mendirikan Dapur Umum untuk membantu para tentara pribumi dalam jihadnya.

Itulah sekelumit kisah dari pahlawan wanita selain Kartini yang juga memiliki semangat dan kekukuhan sama besar bahkan lebih besar dari Kartini itu sendiri. Mari insyafi bahwa keteladanan dan semangat juang tak hanya dinisbatkan untuk satu orang, namun juga pada rerimbun sosok yang telah nyata gerak dan langkah juangnya. Selamat hari pahlawan muslimah, semangat mendaras sari-sari manisnya perjuangan mereka.

Ebook terkait Heroine Week silahkan di download disini

Diana Herlianita
Ketua Keputrian LDK Salim UNJ
Badan Khusus Isu Kemuslimahan FSLDK Indonesia

Opu Daeng Risadju

Opu Daeng Risadju, Bangsawan Pejuang Kemerdekaan

By | Berita, Indonesia, Puskomda, Puskomnas | No Comments

#HeroineWeek #12

Opu Daeng Risadju

Perempuan fenomenal ini, memiliki nama kecil Famajjah. Ia dilahirkan di Palopo pada tahun 1880 hasil perkawinan antara Opu Daeng Mawelu dengan Muhammad Abdullah To Bareseng. Opu Daeng Mawelu adalah anak dari Opu Daeng Mallongi, sedangkan Opu Daeng Mallogi adalah anak dari Petta Puji. dari silsilah keturunan Opu Daeng Risadju, dapat dikatakan bahwa ia berasal dari keturunan raja-raja Tellumpoccoe Maraja, yaitu: Gowa, Bone dan Luwu.
Sebagai seorang puteri bangsawan di daerah Luwu, sudah menjadi tradisi bagi keluarga bangsawan untuk mengajarkan kepada keluarga atau anak-anaknya tentang pola perilaku yang harus dimiliki oleh seorang perempuan. Pengajaran tentang tata cara kehidupan seorang bahsawan dilaksanakan baik di istana sendiri maupun di luar lingkungan istana. Diajarkan pula tentang tata cara memimpin, bergaul, berbicara dan memerintah rakyat kebanyakan. Di samping itu, diajarkan pula keharusan senantiasa menampilkan keluhuran budi yang memupuk simpatik orang banyak.
Disamping belajar moral yang didasarkan pada adat kebangsawanan, Opu Daeng Risadju belajar pula peribadatan dan akidah sebagaimana yang diajarkan dalam agama Islam. Dalam tradisi di Luwu, agama dan budaya menjadi satu. Famajjah sejak kecil membaca Al Quran sampai tamat 30 juz. Setelah membaca Al Quran, ia mempelajari fiqih dari buku yang ditulis tangan sendiri oleh Khatib Sulaweman Datuk Patimang, salah seorang tokoh penyebar agama Islam di Sulawesi Selatan. Dalam pengajaran agama tersebut, Famajjah dibimbing oleh seorang ulama. Ilmu lain yang ia pelajari dalam agama yaitu nahwu, sharaf dan balagah. Dengan demikian, Opu Daeng Risadju sejak kecil tidak pernah memasuki pendidikan Barat (Sekolah Umum), walaupun ia keluarga bangsawan, sebagaimana lazimnya aktivitas pergerakan di Indonesia pada waktu itu. Boleh dikatakan, Opu Daeng Risadju adalah seorang yang “buta huruf” latin, dia dapat membaca dengan cara belajar sendiri yang dibimbing oleh saudaranya yang pernah mengikuti sekolah umum.
Setelah dewasa Famajjah kemudian dinikahkan dengan H. Muhammad Daud, seorang ulama yang pernah bermukim di Mekkah.Suami Famajjah adalah anak dari teman dagang ayahnya. Karena menikah dengan keluarga bangsawan dan memiliki pengetahuan yang luas tentang agama, H. Muhammad Daud kemudian diangkat menjadi imam masjid istana Kerajaan Luwu. Nama Famajjah bertambah gelar menjad Opu Daeng Risadju.
Sebagai seorang putri keturunan berdarah biru/bangsawan, Opu Daeng Risadju telah tertanam sikap dan jiwa patriotisme dalam dirinya apalagi punya daya kharismatik terhadap masyarakat Luwu baik Luwu bagian selatan, Utara dan Luwu bagian Timur serta palopo ibukota Kerajaan Luwu. Kemampuan dan kepemimpinan yang melekat pada jiwa dan semangat Opu Daeng Risadju terlihat juga pada usaha dan pengorbanan beliau didalam melakukan berbagai aktifitas perjuangan merintis kemerdekaan Republik Indonesia.
Diawal abad XX merupakan cikal bakal awal perjuangan Opu Daeng Risadju dengan ikut menjadi anggota Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) cabang Pare-Pare pada tahun 1927 dan pada tanggal 14 Januari 1930 beliau terpilih sebagai Ketua PSII di wilayah Tanah Luwu Palopo, sehingga dengan jabatan sebagai ketua partai Opu Daeng Risadju sering mengikuti/menghadiri kongres PSII baik dari Sulawesi Selatan maupun PSII Pusat dari Batavia. Karena dianggap sebagai duri bagi Pemerintahan Kolonial Belanda di Tanah Luwu akhirnya Controleur Masamba menangkap Opu Daeng Risadju bersama ± 70 orang anggota PSII di Malangke dan dimasukan ke dalam penjara Masamba dengan maksud untuk mengurangi aksi-aksi atau gerakan perlawanan beliau terhadap Belanda serta menghadang perluasan ajaran PSII.
Pada tanggal 9 Pebruari 1942 Jepang melakukan pendaratan di Makassar Sulawesi Selatan yang kemudian menyusul pula ke daerah-daerah sekitarnya termasuk Tana Luwu. Dengan adanya pendudukan Jepang di Tana Luwu membuat semakin berkobar semangat Opu Daeng Risadju untuk melakukan perlawanan terhadap penjajahan di daerahnya. Pada tahun 1946 Opu Daeng Risadju beserta pemuda republik melakukan serangan terhadap tentara NICA namun sebulan kemudian tentara NICA melakukan serangan balik terhadap pasukan Opu Daeng Risadju meskipun banyak anggota pemuda republik yang gugur.
Beberapa bulan kemudian mata-mata NICA berhasil mengetahui keberadaan beliau didaerah Latonro dan akhirnya beliau disergap dan ditangkap kemudian dipaksa berjalan kaki ± 40 Km menuju Watampone. Disanalah beliau dipenjarakan selama sebulan lalu dibawa ke Sengkang dan dipulangkan ke Bajo. Beliau menjalani tahanan tanpa diadili selama 11 bulan.
Ketika berada di Bajo, Opu Daeng Risadju disiksa oleh Kepala Distrik Bajo yang bernama Ladu Kalapita. Opu Daeng Risadju dibawa ke lapangan sepak bola. Dia disuruh berlari mengelilingi tanah lapangan yang diiringi dengan letusan senapan. Setelah itu Opu disuruh berdiri tegap menghadap matahari, lalu Ludo Kalapita mendekatinya dan meletakkan laras senapannya pada pundak Opu yang waktu itu sudah berusia 67 tahun. Kemudian Ludo Kalapita meletuskan senapannya. Akibatnya Opu Daeng Risadju jatuh tersungkur mencium tanah di antara kaki Luda Kalapita dan masih sempat menyepaknya. Opu Daeng Risadju kemudian dimasukkan ke “penjara” semacam tahanan darurat di bawah kolong tanah, akibat penyiksaan yang dilakukan oleh Ludo Kalapita terhadap Opu Daeng Risadju yaitu Opu menjadi tuli seumur hidup. Seminggu kemudian Opu dikenakan tahanan luar dan beliau tinggal di rumah Daeng Matajang. Tanpa diadili Opu dibebaskan dari tahanan sesudah menjalaninya selama 11 bulan dan kembali ke Bua kemudian menetap di Belopa.
Setelah pengakuan kedahulatan RI tahun 1949, Opu Daeng Risadju pindah ke Pare-Pare mengikuti anaknya Haji Abdul Kadir Daud yang waktu itu bertugas di Pare-Pare. Sejak tahun 1950 Opu Daeng Risadju tidak aktif lagi di PSII, ia hanya menjadi sesepuh dari organisasi itu. Pada tanggal 10 Februari 1964, Opu Daeng Risadju meninggal dunia. Beliau dimakamkan di pekuburan raja-raja Lokkoe di Palopo, tanpa ada upacara kehormatan sebagaimana lazimnya seorang pahlawan yang baru meninggal.
Opu Daeng Risadju adalah potret nyata eksistensi perempuan Sulawesi Selatan dalam menggerakkan realitas sosial masyarakatnya justru ketika bangsa ini masih berada dalam cengkraman penjajahan Belanda. Ia begitu teguh dengan keyakinannya seolah mengingatkan kita pada Khaulah binti Azur sang kesatria berkuda hitam, muslimah kuat jiwa dan raga yang dengan gigihnya membela Islam. Opu Daeng Risadju adalah potret nilai konsistensi manusia dalam memperjuangan rakyat yang masih memiliki relevansi dengan kondisi kekinian. Juga refleksi bagi tokoh-tokoh agama hari ini untuk lebih memposisikan diri dibarisan terdepan dalam membela kepentingan ummat agar bebas dari pembodohan,kemiskinan,dan kezaliman.

Rohana Kudus

Rohana Kudus, Seorang Perempuan Multitalenta dari Sumatera Barat

By | Berita, Puskomda, Puskomnas | One Comment

#HeroineWeek# #11

Rohana KudusRohana Kudus, Seorang Perempuan Multitalenta dari Sumatera Barat

Rohana Kudus, seorang perempuan multitalenta dari kampung kami, Sumatera Barat. Beliau seorang guru, pendiri sekolah khusus perempuan, penulis, wirausaha, dan juga pemimpin redaksi pada berbagai surat kabar perempuan. Rohana Kudus, nama Kudus sendiri ambil dari nama suaminya: Abdul Kudus. Beliau lahir dan dibesarkan di Koto Gadang, Sumatera Barat pada tanggal 20 Desember 1884. Ayah beliau seorang pegawai pemerintahan Belanda. Namun beberapa dari keluarga besarnya menjadi orang terpandang di negeri ini. Kakak tiri beliau adalah Soetan Sjahrir yang kita kenal sebagai Perdana Menteri Indonesia pertama. Beliau juga memiliki seorang keponakan yang menjadi sastrawan ternama di negeri ini, Chairil Anwar.
Rohana juga sepupu dari H. Agus Salim. Sama seperti R.A Kartini, Rohana hidup dijaman dimana perbedaan kehidupan kaum lelaki dan perempuan begitu timpang. Dari keadaan inilah perjuangan Rohana dimulai. Semasa kecilnya, Rohana tak pernah merasakan pendidikan formal. Beliau mengenal baca-tulis dari berbagai bacaan yang ayahnya bawa dari kantor. Dari berbagai bacaan inilah Rohana akhirnya tak hanya mengenal baca-tulis, tapi juga fasih berbahasa Belanda. Rohana juga menguasai tiga bahasa asing lainnya, yaitu bahasa Arab, Latin, dan Arab Melayu.
Rohana pindah dari kediaman masa kecilnya di Koto Gadang ke Alahan Panjang dikarenakan ayahnya dipindah-tugaskan. Di sana, Rohana bertetangga dengan istri pejabat Belanda yang bermurah hati untuk mengajarkan Rohana menyulam, menjahit, merajut, dan merenda. Tak hanya mengajarkan berbagai keterampilan perempuan, istri pejabat Belanda tersebut juga mengenalkan berbagai majalah berbahasa Belanda. Di usianya yang ke 24, Rohana kembali ke Koto Gadang dan menikah dengan Abdul Kudus. Pernikahan tak membuat semangat belajarnya meredup.
Pada tanggal 11 Februari 1911, Rohana mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia. Sebuah sekolah khusus perempuan yang berfokus pada keterampilan. Namun, walau berfokus pada keterampilan, Rohana juga mengajarkan berbagai pelajaran umum, seperti pendidikan baca-tulis, agama, budi pekerti, keuangan, dan juga bahasa Belanda.
Perjuangan Rohana dalam memajukan kaum perempuan di Sumatera Barat bukanlah hal yang mudah. Berbagai penentangan didapat dari pemuka adat dan masyarakat lelaki Minangkabau. Mereka beranggapan, untuk apa perempuan harus ‘menyerupai’ laki-laki. Di zaman itu, Rohana sangat hebat dalam menjalin hubungan kerja sama dengan pemerintah Belanda. Rohana sering memesan peralatan dan kebutuhan jahit menjahit. Dalam sisi berwirausaha, Rohana menjadi ‘marketing’ bagi murid-muridnya dengan menyalurkan hasil karya murid-muridnya untuk diekspor ke Belanda.
Pada tanggal 10 Juli 1912, Rohana membuat sebuah gebarakan baru dengan mendirikan surat kabar ‘Sunting Melayu’, dimana mulai dari pemimpin rdaksi, redaktur, dan penulisnya seluruhnya perempuan. Pada tanggal 22 Oktober 1916, batu sandungan kembali menghadang. Kali ini bukan dari pemuda adat atau masyarakat, namun dari murid beliau sendiri. Rohana difitnah dengan tuduhan korupsi. Nyaris dicopot jabatan Direktrisnya di Sekolah Amai, dan harus mengikuti berkali-kali persidangan dengan didampingi suaminya. Karena tidak terbukti korupsi, maka jabatan Direktris pun kembali dipercayakan, namun Rohana menolak karena ingin pindah ke Bukittinggi.
Rohana selanjutnya merantau ke Lubuk Pakam dan Medan. Di sana beliau kembali mengajar dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Lalu kembali ke Padang dan menjadi redaktur Surat Kabar Radio yang diterbitkan oleh Tionghoa-Melayu di Padang. Beliau juga menjadi redaktur Surat Kabar Cahaya Sumatera. Atas jasa-jasanya beliau yang begitu sempurna, Rohana Kudus pun mendapat penghargaan sebagai Wartawati Pertama Indonesia, Perintis Pers Indonesia, dan Bintang Jasa Utama.

Rohana Kudus wafat di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1972. Perjuangannya dalam memajukan perempuan begitu luar biasa, menggugah semangat saya untuk terus belajar dan belajar. Perempuan memang harus cerdas seperti lelaki, namun bukan untuk mengalahkannya.
Seperti yang diucapakan Rohana, “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibanya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan”. Ya, lelaki dan perempuan diciptakan bukan untuk bersaing, tapi untuk hidup saling berdampingan.

Rasuna Said

Sang Orator Perempuan, Srikandi Kemerdekaan, Rasuna Said

By | Berita, Indonesia, Puskomda, Puskomnas | No Comments

#HeroineWeek #10

Rasuna Said

Pemilik nama lengkap Hajjah Rangkayo Rasuna Said ini merupakan salah satu pejuang wanita keturunan bangsawan Minang yang lahir di Maninjau, Agam, Sumatera Barat 14 September 1910. Ia juga seorang putri yang pernah masuk penjara karena berkorban untuk pergerakan nasional. Ayahnya bernama Muhamad Said, seorang saudagar Minangkabau dan mantan aktivis pergerakan.
Rasuna Said remaja dikirimkan sang ayah untuk melanjutkan pendidikan di pesantren Ar-Rasyidiyah. Saat itu, ia merupakan satu-satunya santri perempuan. Ia dikenal sebagai sosok yang pandai, cerdas, dan pemberani. Rasuna Said kemudian melanjutkan pendidikan di Diniyah Putri Padang Panjang, dan bertemu dengan Rahmah El Yunusiyyah.
Rasuna Said sangatlah memperhatikan kemajuan dan pendidikan kaum wanita, ia sempat mengajar di Diniyah Putri sebagai guru. Namun pada tahun 1930, Rasuna Said berhenti mengajar karena memiliki pandangan bahwa kemajuan kaum wanita tidak hanya bisa didapat dengan mendirikan sekolah, tapi harus disertai perjuangan politik.
Awal perjuangan politik Rasuna Said dimulai dengan beraktifitas di Sarekat Rakyat (SR) sebagai Sekretaris cabang. Rasuna Said juga ikut mengajar di sekolah-sekolah yang didirikan oleh PERMI. Rasuna Said sangat mahir dalam berpidato mengecam pemerintahan Belanda. Rasuna Said juga tercatat sebagai wanita pertama yang terkena hukum Speek Delict, yaitu hukum kolonial Belanda yang menyatakan bahwa siapapun dapat dihukum karena berbicara menentang Belanda. Rasuna Said sempat di tangkap bersama teman seperjuangannya Rasimah Ismail, dan dipenjara pada tahun 1932 di Semarang.
Pada tahun 1937, Rasuna Said pindah ke Medan, disana Ia mendirikan perguruan putri. Untuk menyebarluaskan gagasan-gagasannya, ia membuat majalah mingguan bernama Menara Poeteri. Slogan koran ini mirip dengan slogan Bung Karno, “Ini dadaku, mana dadamu”.
Setelah kemerdekaan Indonesia, Rasuna Said aktif di Badan Penerangan Pemuda Indonesia dan Komite Nasional Indonesia. Rasuna Said duduk dalam Dewan Perwakilan Sumatera mewakili daerah Sumatera Barat setelah Proklamasi Kemerdekaan. Ia diangkat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS), kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 sampai akhir hayatnya, 2 November 1965 di Jakarta. H.R. Rasuna Said meninggalkan seorang putri (Auda Zaschkya Duski) dan 6 cucu (Kurnia Tiara Agusta, Anugerah Mutia Rusda, Moh. Ibrahim, Moh. Yusuf, Rommel Abdillah dan Natasha Quratul’Ain).
Jangan takut jatuh, kerana yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh. Yang takut gagal, kerana yang tidak pernah gagal hanyalah orang-orang yang tidak pernah melangkah. Jangan takut salah, kerana dengan kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan untuk mencari jalan yang benar pada langkah yang kedua (Buya Hamka)

Fatmawati Soekarno

Fatmawati, Ibu Negara Indonesia Pertama

By | Berita, Indonesia, Puskomda, Puskomnas | No Comments

#HeroineWeek #9

Fatmawati Soekarno

Fatmawati, ibu negara Indonesia pertama, yang lahir di sebuah rumah bergandeng, di Kampung pasar Malabro Bengkulu, anak dari pasangan Hassan din seorang tokoh Muhammadiyah di Bengkulu pada masanya dan Siti Chadijah yang merupakan keturunan putri kerajaan Indrapura, pesisir selatan, Sumatera Barat. Yang kerap dipangil sang bunga teratai dari sebuah kota kecil Bengkulu, Sumatera.

Fatmawati yang memiliki nama asli Fatimah adalah seorang sosok wanita yang sangat luar biasa, nama yang sama seperti Rasulullah berikan kepada anaknya yaitu Fatimah. Pengaruh sosialisasi melalui ajaran dan pengalaman dalam kehidupan keluarga dan lingkungan sosialnya telah mampu membentuk karakter dan budi pekertinya, sehingga ia tak hanya menjadi anak yang patuh kepada ke dua orangtuanya atau pun hanya menjadi seorang pemegang teguh tradisinya tetapi juga menjadi seseorang yang peka terhadap kehidupan dan keadaan di sekitarnya.

Pada 1 juni 1943 ia menikah dengan Soekarno. Pernikahan ini dikaruniai 5 orang anak yaitu, Guntur Soekarno Putra, Megawati Soekarno Putri, Rachmawati Soekarno Putri, Sukmawati Soekarno Putri, dan Guruh Soekarno Putra.

Akhlaq beliau ketika masa ia menjadi ibu negara jiwa kemanusiaanya kerap kali diuji, tak jarang ia memberikan pasokan makanan kepada para pejuang secara sembunyi-sembunyi pada malam harinya, ketika sidang BPUPKI ia pun ikut ambil andil. Ia menyediakan makan dan minum, selayaknya tuan rumah yang baik, tak jarang pula ia bersuara ketika ada hal-hal yang dirasaperlu dikoreksi dan kurang tepat, ia berusaha meluruskan dan memberikan ide-ide cemerlang yang ia miliki dan masih banyak lagi karya lainnya.

Ia wafat pada usia 57 tahun pada 14 Mei 1980, di Kuala Lumpur, Malaysia dan dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta. Feminisme dalam emansipasi wanita, harusnya bukan ajang untuk menutut hak seorang wanita agar benar-benar setara dengan kaum lelaki sehingga terkadang menuntut sesuatu yang tak masuk akal, inggin benar-benar berada di atas para kaum lelaki, sehingga melupakan fitrahnya sebagai wanita, dan tak lagi perduli dengan kewajiban-kewajiban serta batasan-batasan yang tertuju pada wanita. Dapat menyeimbangkan antara fitrah sebagai wanita, kewajiban sebagai seorang hamba, seorang anak, istri, ibu dan kedudukan atau setatus sosial di tengah masyarakat, itulah harusnya wujud dari feminisme dalam emansipasi wanita yang sesungguhnya. Fatmawati telah menunjukkan hal itu.

Siti Walidah Ahmad Dahlan

Pahlawan Perempuanku, Siti Walidah Ahmad Dahlan

By | Berita, Indonesia, Puskomda, Puskomnas | No Comments

#HeroineWeek #8

 

Siti Walidah Ahmad DahlanSiti Walidah merupakan sang Istri dari seorang pendiri Muhammadiyah yakni K.H Ahmad Dahlan yang  lahir pada tahun 1872 di Kauman Yogyakarta.  Ayahnya seorang pedaganga batik yang bernama Kiai Haji Muhammad Fadlil, dan Ibunya akrab disapa Nyai Fadlil. Dan Ia pun akrab di sapa sebagai Nyai Ahmad Dahlan.

Islam datang menerangi kota Jogja sudah cukup lama, dan Siti Walidah pun sejak kecil sudah terbiasa untuk mempelajari agama islam, Ayahnya dan juga orang-orang tua kala itu pun sangat memberi apresiasi terhadap anaknya yang gemar belajar agama, walau di sisi lain, sudut Jogja pun masih teriris dosa-dosa kemusyrikan yang tak kunjung reda sampai pahlawan menghentikannya. Siti Walidah pun mendapatka kepercayaan dirinya yang tinggi, Ia pun mulai menapaki jejak sang Ayah yang tidak hanya sebaga saudagar batik, tapi juga sebagai Kiai yang menyebarkan Islam melalui lisannya di sanggar miliknya.

Siti Walidah pun tumbuh menjadi gadis yang sholehah nan cerdas, dan pada tahun 1889 Ia pun menikah dengan Ahmad Dahlan secara kekeluargaan, karena Ahmad Dahlan merupakan saudara sepupunya. Ahmad Dahlan pun memberi kekuatan baru dalam jalan dakwahnya, tahun 1912 Ia mendirikan Muhammadiyah, setelahnya Ia memiliki tekad  memberikan dukungan untuk didirikanya Aisiyah sebagai apresiasi kemajuan kaum perempuan. Tak hanya sampa pada Ahmad Dahlan, namun getar darah perjuagan pun dirasakan oleh Siti Walidah, dengan kepandaiannya dalam dakwah dan mengajar sejak kecil, Siti Walidah merintis kaum perempuan dari pengajian-pengajian yang digelar di Kauman sebagai pendidik generasi bangsa.

Pengajiannya pun dimulai dengan memahami makna surah al-ma’un dengan sebaik-baiknya, karena erat katannya denga kondiri Kauman kala itu. Mendustkana agama masih menjadi hal yang lumarah, menghadir anak yatim dan kemiskianan masih menyelimuti. Selain itu, pengajian yang diadaka setelah shalat Magrib ini tidak hanya tentang agama, melanka juga tentang membaca dan menulis.

Pada tahun 1918, Aisiyah pun di dirikan walau belum adanya anggaran dan tatakelola organisasi, namun jihadnya telah di mulai dengan mengasuh anak yatim, selaras dengan pengamalan surah Al-ma’un. Adapun Siti Walidah hadir sebagai penasehat dengan sejuta tutur kata yang sarat mana kebaikan. Meski rintangan yang di hadapinya sangat berliku bahkan nyawa menjadi taruhannya.

Siti Walidah, berkortibusi di jalan dakwahnya dengan berupaya turut serta mengembangkan Muhammadiyah untuk berdakwah hingga pelosok-pelosok nusantara. Ia juga memperjuangkan persamaan hak antara perempuan dan laki-laki, serta mendirikan sebuah asrama untuk para pelajar yang giat mencari ilmu dan Siti Walidah menanamkan kepada mereka semua rasa cinta kebangsaan kaum perempuan untuk berperan aktif dalam peregerakan nasional, mengiringi Muhammadiyah.

Di Era revolusi, siti Walidah menggerakan seluruh perempuan untuk mendirikan sebauh dapur umum, sebaga bentuk dukungan kepada para tentara yang kala itu tengah berperang, tak hanya berupa jihad secara fisik karena kecerdasannya membawa Siti Walidah di kenal sebagai perempuan yang rajin bertukar pikiran dengan petinggi negara.

Siti Walidah pun tiba pada masa renta, di usianya yang menginjak 74 tahun tepatnya pada tanggal 31 Mei 1946 Ia menghembuskan napas terakhirnya di langit Jogja. Namun,  napas-napas perjuagannya masih mampu dirasakan oleh penerus ‘Aisyiyah dan perempuan pada umumnya, bahkan negara menghormatinya dengan memberinya gelar pahlawan nasional pada tanggal 22 september 1971.

Muslimah, kisah teladanya Siti Walidah tak lekang oleh waktu, hidupnya di tertulis di atas batu yang memiliki keabadian. Mari berkaca pada diri ini, sudah sejauh manakah perjuagan yang telah di jalani? Seberapa banyakkah orag lain yang terbantu dengan kehadira kita. Berjuang bersama, lakuan dengan kerja Keras, kerja Cerdas, tak lupa Kerja Ikhlas. Allahu Akbar.

Emmy Saelan

Emmy Saelan, Jiwa Muda Pahlawan Kota Daeng

By | Berita, Indonesia, Puskomda, Puskomnas | No Comments

#HeroineWeek #7

Emmy Saelan

 

Masyarakat Makassar mungkin tidak asing dengan nama “Emmy Saelan”. Namun masih banyak masyarakat Makassar dan Indonesia pada umumnya khususnya para pemuda yang belum mengetahui siapa sebenarnya Emmy Saelan ini.

Emmy Saelan adalah pahlawan perempuan yang lahir di Makassar, pada 15 oktober 1924, sebagai putri sulung dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Amin Saelan, adalah tokoh pergerakan taman siswa di Makassar dan sekaligus penasehat organisasi pemuda. Sejak berita proklamasi kemerdekaan Indonesia sampai ke telinga masyarakat Sulawesi, lalu pada 19 Agustus 1945 Pemerintah pusat menunjuk Dr. Sam Ratulangi sebagai gubernur provinsi Sulawesi. Belum juga membentuk pemerintahannya secara resmi di Sulawesi. Dr Sam Ratulangi malah ditangkap oleh Belanda pada bulan April 1946.

Pada bulan Juli 1946, 19 organisasi pemuda se-Sulawesi Selatan telah berkumpul di Polombankeng, sebuah daerah di Takalar, Sulawesi Selatan. Emmy Saelan dan adiknya, Maulwi Saelan, turut dalam pertemuan itu. Hadir pula pelajar-pelajar SMP Nasional seperti Wolter Monginsidi, Lambert Supit, Abdullah, Sirajuddin, dan lain-lain.

Salah satu kesepakatan dari konferensi organisasi pemuda itu adalah pembentukan sebuah wadah bernama Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS). Panglimanya adalah seorang pejuang pemberani, Ranggong Daeng Romo.

Lalu, seiring dengan semakin banyaknya senjata hasil rampasan, para pelajar SMP Nasional lalu membentuk organisasi gerilya bernama ‘Harimau Indonesia’. Emmy Saelan ditunjuk sebagai pimpinan laskar wanita dalam organisasi ini dan sekaligus memimpin Palang Merah.

Peran Emmy di laskar Harimau Indonesia yaitu memimpin laskar wanita, sekaligus bertugas di palang merah. Karena kulitnya yang putih, dia mendapat nama sandi Daéng Kébo. Menjadi laskar pejuang di usia teramat muda benar-benar membutuhkan keberanian besar. Mana kala di usia remaja kita lebih senang berjalan-jalan dan bersenda gurau. Sosok Emmy Saelan justru bergabung dengan perjuangan yang penuh mara bahaya.

Anggota laskar lainnya mengenang, bagaimana Emmy menentukan aturan menggunakan sandi untuk mengenal sesama pejuang. Misalnya jika dia memegang rambut dan orang yang ditemui juga memegang rambut, maka artinya orang itu adalah sesama teman pejuang. Takdir tak dapat ditolak. Tengah malam, di hutan kampung Kassi-Kassi di luar kota Makassar, tanggal 23 Januari 1947 adalah akhir hidup Emmy.

Ketika itu Emmy yang memimpin 40 orang sekaligus memimpin palang merah, terjebak dalam pertempuran. Pertempuran itu dikoordinasi Robert Wolter Mongisidi, yang kala itu sedang berada di kampung Tidung, tak jauh, namun terpisah dari lokasi Emmy. Karena terkepung dengan pasukan tank Belanda dan dihujani tembakan, Mongisidi memerintahkan anak buahnya untuk mundur.

Di saat yang sama di lokasi terpisah, Emmy yang juga membawa korban-korban luka, berusaha mundur. Tapi sudah terlambat. Kepungan begitu ketat. Persenjataan musuh jauh lebih kuat. Tak ada lagi ruang gerak bagi pejuang-pejuang muda yang bersenjata seadanya itu. Emmy semakin terdesak dan terkepung. Tentara Belanda berteriak padanya untuk segera menyerah Teman Emmy semua sudah gugur tertembak. Tinggal Emmy sendiri yang masih hidup. Perintah untuk menyerah tak digubris Emmy. Sebagai jawaban, dilemparkannya granat ke pasukan Belanda itu. Sejumlah tentara Belanda tewas karenanya. Namun Emmy juga akhirnya gugur oleh ledakan granatnya sendiri.

Nama Emmy Saelan terus abadi. Di makassar, ada sebuah jalan, yang dulunya rute gerilya Emmy, telah dinamai “Jalan Emmy Saelan”. Tidak hanya di Makassar, tetapi nama “Jalan Emmy Saelan” hampir terdapat di semua kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Lalu, sebagai bentuk penghormatan atas perjuangannya, pemerintah telah mendirikan sebuah monemen bernama ‘Monumen Emmy Saelan’. Monumen itu berdiri tepat di atas tanah tempat gugurnya Emmy yang terletak di Jl. Hertasning Timur, yang bertuliskan “Monumen Maha Putera Emmy Saelan”.

Sebagai generasi bangsa, kita tidak boleh kalah dengan sosok Emmy Saelan. Kita harus lebih giat lagi belajar dan memperbaiki moral bangsa, hal terkecilnya dimulai pada diri kita sendiri dengan menjadi pribadi yang kuat dalam aspek jasadiyah (fisik), fikriyah (akal) dan ruhiyah (spiritual).

Pahlawan Wanita Siak Sri Indrapura

Tengku Agung, Pahlawan Wanita Siak Sri Indrapura

By | Berita, Indonesia, Puskomda, Puskomnas | No Comments
Pahlawan Wanita Siak Sri Indrapura

Pahlawan Wanita Siak Sri Indrapura

Tengku agung, nama yang kerap terdengar di negeri melayu Riau ini memiliki nama asli Syarifah Latifah. Ia berasal dari Siak Sri Indrapura. Pada 27 Oktober 1912, ia menikah dengan sultan syarif kasim II.

Sultan syarif kasim II memerintah kerajaan Siak sejak 1915-1946. Sejak itu pula Syarifah latifah digelari sebagai permaisuri kerajaan Siak sri indrapura dan dikukuhkan sebagai seorang sultanah. jabatan sultanah berarti jabatan yang mapu menggantikan posisi sultan apabila sultan sedang berhalangan.
Selain jabatannya sebagai sultanah dan permaisuri, tengku agung juga membangun lembaga sultanah latifah school. Pada masa itu, perempuan melayu siak sangat tertinggal, sedikit yang merasakan pendidikan, serta kemampuan keterampilan yang terbatas. Oleh sebab itu, tengku agung mendirikan sekolah Sultanah latifah school. Sekolah ini didirikan pada tahun 1926. Sekolah ini diperuntukkan untuk kaum wanita dwngan tujuan agar perempuan Siak dan pantai Sumatera dapat berhubungan dan membuka diri dengan dunia luar.

Tengku agung merupakan ikon yang berjuang mengangkat martabat wanita. Pendidikannya memberi bekal berupa kecerdasan dan keterampilan bagi kaum perempuan jika kelak berumah tangga. Keterampilan seperti memasak, menjahit, dan membuat kerajinan tenun juga diajarkan di sekolahnya.

Selain itu, Tengku agung juga mendirikan sekolah agama khusus perempuan yang diberi nama Madrasatun Nisa. Yang kemudian murid-muridnya melanjutkan ke kuliatul muammalat islamiah (KMI) di Padang Panjang.

Tengku agung wafat pada tahun 1929 dan dikebumikan di halaman masjid syahabudin. Pada tahun 2007, nama Tengku Agung diresmikan menjadi nama jembatan sungai siak yang memiliki panjang 1196 meter, yang menjadi penghubung wilayah utara dan selatan kabupaten siak.

Dari Tengku Agung kita belajar bahwa wanita juga harus terdidik karena kelak ia merupakan pendidik bagi keluarganya dan khususnya anak-anaknya. Sejak dahulu, wanita2 sudah memiliki peran penting dalam keikutsertaan membangun negara. Maka sejak dahulu pula kita sudah belajar bahwa wanita2 mampu memilih jalannya untuk ikut membantu memperjuangkan negeri tanpa ada yang mempersempit atau menghalangi. Mari kita wanita masa kini, melanjutkan kejayaan para pahlawan kita dalam membangun negeri.

Ditulis oleh:
Mariana
Jarmusda Riau

Atje Voorstad

Atje Voorstad, Srikandi Terbaik di Samarinda

By | Berita, Indonesia, Puskomda, Puskomnas | 2 Comments

Atje Voorstad

Atje Voorstad, nama ini memang terdengar asing. Namun pemilik nama ini merupakan salah satu srikandi terbaik di Samarinda. Kisah perempuan berdarah Indo-Belanda ini tidak terlalu diketahui oleh banyak orang. Bliau merupakan tokoh yang berjasa dalam pendidikan di kota amplang ini.

Atje Voorstad memang tidak dibesarkan di Samarinda. Atje datang ke Samarinda bersama dengan suaminya Raden Rawan. Pada saat pindah ke Samarinda Atje menjadi seorang mualaf dan mengganti namanya menjadi Aminah. Pernikahanny tidak berlngsung langgeng, hingga akhirnya memutuskan untk berpisah.

Aminah kmudian menikah dengan seorang pria bernama M.Yacob, dari beberapa sumber menyatakan bahwa pernikahanny pun tidak bertahan. Namun bersma dengan M.Yacob, Aminah mendirikan Meisje School (Sekolah Kepandaian Putri). Sekolah yang bliau dirikan merupakan bentuk perlawanan pada intervensi kolonial Belanda (1928) yang mengambil alih Hollandsch Inlandsche School (sekolah ningrat pribumi).

Pada akhirnya aminah menikah lagi dengan Sjoekoer. Sehingga namanya menjadi Aminah Sjoekoer. Bersama dengan Sjoekoer Aminah semakin bersemangat untuk mengajar. Bliau wafat pada tanggal 3 Maret 1968 di Jakarta. Jasadny di pindahkan di Taman Makam Pahlawan Samarinda, pada saat Kadrie Oening menjadi Walikota Samarinda.

Tidak banyak literatur yang menceritakan sejarah perjuangan Aminah Sjoekoer. Namanya di abadikan sebagai nama jalan di salah satu ruas jalan Samarinda, dan juga sebagai nama sebuah sekolah, yang diperkirakan sebagai tempatny mengajar dulu.

“Bekerjalah kamu hingga Allah dan Rosulnya, serta orang2 muslim yang menyaksikan.”

Dari kisahnya ada pelajaran yang didapat, diantarany adalah kegigihan untuk terus berjuang di antara ujian2 hidup pribadi yg dihadapi. Butuh keuletan, kesabaran serta niat yg ikhlas dlm memperjuangkan sebuah kebaikan. Aminah Sjoekoer yg tak banyak di kenal riwayatnya, memberikan aksi nyata dengan mendirikan sekolah sebagai perlawananny terhadap Belanda.
Semoga menginspirasi untk terus berkarya.

Salam :
Nurvita Widya P.
Jarmusda Kaltim-Tara

Pahlawan wanita pemberani dari Banten

Nyimas Melati, Putri Sejati

By | Berita, Indonesia, Puskomda, Puskomnas | No Comments
pahlawan wanita pemberani dari Banten

pahlawan wanita pemberani dari Banten

Dengan semangat membara para pahlawan muslimah Indonesia, kami Jarmusda Banten mempersembahkan tulisan tentang “Nyimas Melati Putri sejati” Pahlawan wanita pemberani dari Banten.
Dahulu kala,tahun 1918, sebagian besar daerah di Tangerang telah dikuasai oleh tuan tanah, kaum pribumi sendiri sedikit sekali yang memiliki tanah pribadi. Sebutan tanah dalam tanam paksa disebut tanah partikelir.

Tanah Partikelir antara tahun 1921-1930 di bagi dalam 3 distrik diantaranya : 1. Distrik Balaraja, seperti Balaraja bu niaju , Tigaraksa, cikupa, Karangserang dalem of Kemiri, Pasilian,cenggati, cakung of Kresek.
2. Distrik Tangerang diantaranya cilik Panunggangan, Pondok jagung, Parung kuda, Batu ceper, Tanah Koja.
3.Distrik Mauk antara lain: Kramat n pakuaji, Sepatan, Teluk naga, Ketapang Mauk, Rawakidang, Kampung Malaju, Pekacangan, Tegalangus, Bojong Renget, Ketos dan lain sebagainya.

Hampir semua tanah dikuasai Tuan Tanah yang serakah.
Saat sekelompok tuan tanah mendapat dukungan dari kompeni kehidupan Masyarakat Tangerang dikuasai menyebabkan masyarakat melarat akan pemaksaan, pemerasan, dan tekanan atas tanahnya. Salah satu perjuangan milisi yang terkenal adalah Milisi Raden Kabal.

Milisi Raden Kabal sering mengadakan penghadangan di daerah-daerah Tangerang. Dalam pertempuran melawan Kompeni Belanda Sang Raden dibantu putrinya, Nyimas Melati dan Pangeran Pabuaran Subang.

Salah satu pertempuran yang tertulis pertempuran Pabuaran Subang yang dijadikan tempat gugurnya Pangerang Pabuaran dari Subang saat perang dengan Kompeni.
Keberanian Nyimas Melati terkenal akan ketangguhannya dalam ilmu bela diri maupun olah kanuragan.
Konon, kesaktiannya menjadi tuturan para orang tua tempo dulu. Saat bentrok pasukan terjadi di daerah perbatasan Balaraja. Sambil mengacungkan keris lalu berteriak lantang “Serang…!” pasukan Kompeni yang dibantu Cina pro Kompeni langsung ciut nyalinya. Suaranya, yang menggelegar meluluhlantakan semangat pasukan lawan. Bahkan diceritakan burung-burung yang mendengar teriakannya beterbangan karena gaungannya.

Nyimas Melati laksana Singa Betina ketika menyerang musuh-musuhnya keberaniannya tercatat dalam benak para orang tua dahulu. Sehingga untuk mengubur jejak kepahlawanannya Nyimas Melati akhirnya dimakamkan dibanyak tempat, diantaranya di Desa Bunar Kec. Sukamulya (pemekaran Balaraja), Tangerang Barat
Banyak sekali ibroh yang bisa kita pelajari dari kisah Nyimas Melati Putri sejati diantaranya :
1. Betapa beliau begitu berbakti kepada kedua orang tuanya, dengan membantu ayahnya berperang di Medan perang.
2. Beliau begitu rela mengorbankan jiwa, harta ,benda untuk membela rakyat kecil yang tertindas
3. Beliau adalah perempuan hebat yang begitu berani melawan kebatilan demi membela kebenaran , berani karena benar takut karena salah.
4. Beliau adalah wanita yang rela menghabiskan hidupnya untuk rakyat mengesampingkan kepentingan pribadi dan kehidupannya.
Sisi lain Nyimas Melati Putri sejati benar – benar menggalakkan semangat mengelora , walaupun dia wanita namun tidak lemah dan mengandalkan kaum pria , semangat yang dia tularkan benar – benar untuk kepentingan rakyat bukan seperti emansipasi yang diartikan pada zaman sekarang ,yang tidak lagi hormat seorang istri kepada suami ,yang mengesampingkan hak anak – anak nya demi mengejar karir dan dunia semata ,mendahulukan ego diri masing – masing beda dengan semangat Nyimas Melati Putri sejati yang sebenarnya.
Demikian, tulisan mengenai Nyimas Melati Putri Sejati semoga bermanfaat bagi para pembaca.

Nurlela,
Ketua Jarmusda Banten 2015

Categories