Peristiwa Dunia Islam Archives - FSLDK Indonesia

28children-superjumbo

Bertahanlah Aleppo!

By | Berita, Indonesia, LDK, Rilis | No Comments
main_900

Sumber Gambar : theatlantic.com

Surat Cinta dari Indonesia

Bertahanlah dan bersabarlah. Wahai Aleppo. Bangkit dan berjuanglah, wahai Bangsa Indonesia!

Senin (19/12) Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus Indonesia (FSLDK Indonesia) melakukan aksi kemanusiaan serentak untuk Aleppo. Aksi kemanusiaan dilakukan dalam rangka memprotes agresi yang dilakukan pasukan militer di bawah pemerintahan Bashar Al-Assad dan pasukan Rusia terhadap rakyat Suriah, terutama di kota Aleppo. Aksi ini juga bertujuan mengajak seluruh rakyat Indonesia dan masyarakat dunia pada umumnya untuk membuka hati nurani dan berperan aktif untuk membantu saudara kita di Aleppo melalui donasi dan doa.

Kegiatan aksi ini dilakukan di 14 kota di Indonesia,  diantaranya Aceh, Madiun, Palembang, Makassar, Tanjungpinang, Solo, Bandung, Jakarta, Ambon , Pontianak, Tasikmalaya, Malang, Pangkalpinang dan Gorontalo.

Pengumpulan donasi untuk Aleppo akan dilakukan pada 19-23 Desember 2016. Dana yang terkumpul akan diserahkan ke PKPU melalui rekening FSLDK Indonesia.

Sampai saat ini alhamdulillah telah terkumpul 25.178.400 rupiah yang terkumpul dari 3 lokasi di Indonesia yaitu Surakarta, Gorontalo dan Kalimantan Barat. Kami ucapkan terimakasih kepada masyarakat di daerah tersebut, atas kepedulian dan cintanya untuk Aleppo. Selait itu, mempertimbangkan jumlah FSLDK Daerah, jumlah tersebut masih bisa bertambah. Kami menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia, untuk dapat memberikan donasi nya dan semantiasa mendoakan keselamatan bagi Aleppo, dan kedamaian bagi Republik Indonesia.

Kondisi Aleppo sampai saat ini masih mencekam. Kondisi kian memburuk di musim dingin tanpa tempat tinggal, makanan dan pakaian hangat. Banyak yang menghabiskan malam tidur di jalan-jalan dalam suhu yang sangat ekstrim sambil menunggu giliran untuk dievakuasi.

“Kondisi di Aleppo timur tetap sangat mengerikan,” ujar reporter Al Jazeera.

Juru bicara Ahrar Al-Sham, di akun twitternya menyamakan kekejaman yang sedang berlangsung di Aleppo dengan pembantaian Srebrenica tahun 1995.

“#Aleppo adalah #Srebrenica baru di zaman kita, darah berada di tangan semua orang yang menonton dan tidak melakukan apa pun.” katanya.

Organisasi masyarakat dunia, Observatorium HAM untuk Suriah (SOHR), melaporkan jumlah korban tewas akibat perang yang berkecamuk di  Suriah selama empat tahun terakhir sudah mencapai 320.000 jiwa.

Sikap diam atas kejahatan kemanusiaan adalah bukti nyata pengkhianatan atas ras manusia. Kebiadaban ini harus dihentikan! Dunia hari ini tak mampu berbuat apa-apa saat darah semakin menggenang di Aleppo, Suriah. Korban dari warga sipil terus berjatuhan. Mereka disiksa dan dibantai.

Maka, hari ini kami dari FSLDK Indonesia atas nama hati nurani yang merdeka, berdiri menentang kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Aleppo, Suriah. Dan menggalang sebanyak mungkin rasa kemanusiaan yang masih tersisa di hati manusia. Merdeka!

fsldk-logo

Pernyataan Sikap FSLDK Indonesia

By | Berita, LDK, Puskomda, Puskomnas | No Comments

fsldk-logo

 

 

Nomor : 001/Eks/Puskomnas/FSLDK Indonesia/X/2016
Tentang: Aksi Damai Bela Islam II

Berdasarkan fatwa yang telah dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) tertanggal 11 Oktober 2016, tentang pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Kepulauan Seribu pada tanggal 27 September 2016 terkait Al Qur’an surat Al Maidah:51 yang dikategorikan: (1). menghina Al Qur’an dan/atau (2) menghina ulama yang memiliki konsekuensi hukum, maka FSLDK Indonesia menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Mendukung sepenuhnya fatwa yang telah dikeluarkan oleh MUI sebagai representasi alim ulama Indonesia.


2. Mendukung Aksi Damai Bela Islam II yang dilakukan oleh elemen umat Islam di seluruh Indonesia pada tanggal 4 November 2016, sebagai bentuk kepedulian terhadap persatuan bangsa dan penegakan supremasi hukum.


3. Menghimbau kepada seluruh aparat yang bertugas mengamankan jalannya Aksi Damai Bela Islam II pada tanggal 4 November 2016 untuk bisa bertugas dengan profesional, tidak terjebak dalam segala bentuk tindakan yang bersifat provokatif. Serta berpihak kepada kepentingan rakyat.


4. Menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk menjaga keharmonisan kehidupan beragama dan ikut aktif dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa serta tidak terpancing segala bentuk tindak laku provokasi dan arogansi yang mengancam keutuhan kehidupan berbangsa dan bernegara.


5. Menuntut supremasi hukum yang adil bagi setiap golongan. Serta menuntut aparat penegak hukum untuk kembali pada kedaulatan hukum dan aturan di Indonesia dengan mengusut dan mengadili terlapor pelaku penistaan agama dalam hal ini adalah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atas dugaan pelanggaran UU No.1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, serta pasal 156a KUHP tentang Penistaan Agama.


6. Menolak segala bentuk penistaan terhadap agama manapun atas nama apapun. Indonesia adalah negara hukum, maka apabila kita berdiam diri dari menegakkan keadilan hukum, hari ini kita telah menjadi penghianat negara. Ketika dagelan yang tidak lucu senantiasa dilakukan yang berakhir perpecahan, ketika hukum hanya jadi bahan tertawaan, maka Indonesia kita hari ini sedang terancam. Terjaganya Indonesia yang rukun dan damai akan kembali kepada tangan para pemuda yang tulus mencintainya.

Mari Berjuang! Karena Allah bersama kita,
ttd,


FSLDK Indonesia

A-Palestinian-man-waves-h-008

Ikrar 1000 Penjaga Al-Aqsha

By | Berita, Palestina | No Comments

 

IMG-20150921-WA0014

Aksi Al-Aqsha Memanggil di Solo

 

Menyikapi aksi anarkis dan pelecahan yang dilakukan Zionis Israel kepada Palestina, aliansi lembaga dakwah kampus se-Solo Raya yang digawangi Puskomda Solo Raya serta elemen mahasiswa se-Solo Raya mengadakan aksi solidaritas yang dipimpin oleh Pusat Komunikasi Nasional Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Indonesia (Puskomnas FSLDK Indonesia) pada 20 September 2015 di Bundaran Gladak Kota Surakarta. Aksi ini merupakan wujud kepedulian serta bentuk konsistensi dukungan Mahasiswa Indonesia kepada kemerdekaan Palestina yang sampai detik ini masih dijajah oleh Zionis Israel. Dalam aksi ini digelar orasi dari berbagai elemen mahasiswa, aksi teatrikal, pernyataan sikap, pernyataan Ikrar 1000 Penjaga Al-Aqsha, serta penggalangan dana.

Massa mulai berkumpul di Bundaran Gladak pada pukul 15.15, dengan membawa berbagai atribut aksi. Pada pukul 15.30, setelah pemasangan peralatan aksi, massa mulai memasuki area bundaran gladak dan menjalankan sholat ashar berjamaah di jalan raya. Setelah prosesi sholat ashar berjamaah, aksi dimulai dengan bacaan basmalah dan menyanyikan lagu-lagu yang menyuarakan perjuangan Palestina, serta pengibaran puluhan bendera Indonesia dan Palestina oleh massa. Sebelum memasuki rangkaian orasi, diawali terlebih dahulu dengan pembacaan Al-Qur’an oleh Yahya Ayyasy Al Hafidz.

Memasuki rangkaian orasi, setelah bersama menyanyikan lagu “Untukmu Palestina”, orasi pertama disampaikan oleh perwakilan dari lembaga dakwah kampus UNS, Muhammad Abdullah ‘Azzam. Dengan mengangkat tema besar peran dan tanggung jawab pemuda serta hutang bangsa Indonesia kepada Palestina, beliau meminta kesediaan peserta aksi dan masyarakat secara umum untuk memberikan apa yang terbaik untuk Palestina, meskipun maknanya sangat sederhana. Orasi kedua disampaikan oleh perwakilan dari Pusat Komunikasi Nasional FSLDK Indonesia, ketua komisi A, Hanafi Ridwan. Beliau menyampaikan bahwa aksi-aksi terorisme, pelecehan dan perusakan masjid Al-Aqsha merupakan hal yang tidak dapat diterima. Maka, guna membantu perjuangan Rakyat Palestina, diperlukan konsistensi dalam aksi, keikhlasan serta ketulusan. Terakhir, keberadaan peserta aksi yang ikhlas digambarkan seolah-olah seperti barisan pejuang Izzuddin Al-Qassam dalam paradenya.

Selepas kedua orasi tersebut, kembali dinyanyikan lagu perjuangan oleh para peserta aksi guna memasuki orasi ke tiga yang disampaikan perwakilan Puskomda FSLDK Soloraya, Nugroho Sunu Pratama. Beliau menyampaikan bahwa sudah saatnya aksi nyata mahasiswa dutunjukkan untuk memerdekakan Palestina. Sebagai negara tempat berdirinya kiblat pertama ummat islam, kemerdekaan Palestina adalah harga mati, dan pelecehan terhadap Masjid Al-Aqsha merupakan penghinaan besar bagi ummat islam. Kemudian, orasi ke empat disampaikan oleh saudara Hisyam Latief, perwakilan dari kesatuan aksi mahasiswa muslim Indonesia (KAMMI) komisariat UNS. Beliau menyampaikan sudah sewajarnya pemerintah dan politik luar negeri Indonesia memihak kepada kepentingan bangsa Palestina. Serta pelajaran mahal harus diterima Bangsa Yahudi atas kelancangan yang diperbuat. Orasi terakhir disampaikan oleh saudara Aditya dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Beliau menyampaikan, kemerdekaan Palestina dapat dicapai jika terciptanya Republik Indonesia yang kokoh, serta tegaknya khilafah. Maka, sepatutnya bangsa Indonesia menjaga kesatuan negaranya, serta memperjuangkan khilafah.

Setelah rangkaian orasi, aksi dilanjutkan dengan teatrikal dengan lakon “Bangsa Indonesia yang Pengecut”. Digambarkan seorang bangsa Palestina diinjak-injak dan dihinakan, sedang bangsa Indonesia tidak mampu berbuat apa-apa kecuali hanya terdiam dan melakukan perlawanan tidak berarti.

Setelah acara teatrikal, dibacakanlah pernyataan sikap dari FSLDK Indoensia yang menyadur dari kesepakatan-kesepakatan NGO serta LSM yang memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Poin-poin pernyataan sikap tersebut adalah :

  1. Mengutuk keras segala upaya Yahudisasi wilayah Al-Quds dan penyerangan Masjid Al-Aqsha oleh Zionis Israel.
  2. Mengajak semua ummat islam untuk melakukan kondolidasi umum guna melindungi kiblat pertama kaum muslimin dan tempat isra’ Nabi besar Muhammad Shallallahu Alaihi wa Salam dari semua serangan yang dilakukan oleh Zionis Israel dari waktu ke waktu.
  3. Mendukung para Murabithun (warga Al-Quds yang secara bergiliran melakukan i’tikaf, menjaga dan mempertahankan Masjid Al-Aqsha) dari serangan dan penistaan Zionis Israel dan penduduk illegal.
  4. Mendukung langkah rekonsiliasi dan persatuan nasional untuk semua faksi di Palestina sebagai upaya menyongsong kemerdekaan Negara Palestina kedepan dalam bingkai persatuan dan kesatuan.
  1. Menyeru kepada Pemerintah Indonesia dan negra-negara kawasan serta internasional untuk mendukung kemerdekaan Palestina yang berdauat serta melindungi situs-situs bersejarah dari perusakan dan penistaan yang bisa berakibat menggangu keharmonisan antar ummat bergama.
  2. Kami berdoa, semoga Bangsa Arab dan Dunia Islam serta kaum muslimin di seluruh dunia berada dalam satu barisan mendukung perjuangan Bangsa Palestina dalam meraih kemerdekaannya dan Masjid Al-Aqsha tetap berada di bawah bendera kaum muslimin.

Selepas pernyataan sikap, agenda dilanjutkan dengan ikrar 1000 penjaga Al-Aqsha. Ikrar tersebut dipimpin oleh Hanafi Ridwan selaku koordinator aksi, dan diikuti seluruh peserta aksi. Adapun poin-poin ikrar tersebut adalah :

  1. Menolak segala bentuk penjajahan Zionis Israel di Palestina.
  2. Secara konsisten mendukung kemerdekaan Palestina dengan cara apapun.
  3. Secara bertahap dan konsisten memblokade seluruh produk Yahudi.
  4. Secara konsisten mendoakan seluruh Pejuang Palestina dan para mujahidin di seluruh dunia.
  5. Secara konsisten berproses menjadi penjaga Al-Aqsha yang setia.

Setelah ikrar, peserta aksi menuliskan pernyataan sikapnya di selembar kain putih yang disediakan, pernyataan sikap tersebut berupa perjuangan yang akan dilakukan demi perjuangan kemerdekaan Palestina. Ditutup dengan doa, aksi selesai pada pukul 17.15 dan sepanjang berjalannya aksi, peserta menyebarkan beberapa kotak donasi, dan hasil donasi yang terkumpul sejumlah Rp. 4.000.000 yang akan disalurkan menuju Palestina melalui Komite Nasional Rakyat Palestina (KNRP).

Aksi yang dilakukan di Bundaran Gladak Surakarta berhasil mengumpulkan massa sejumlah 100 orang dari berbagai kalangan. Aksi ini juga merupakan aksi nasional yang dilakukan secara bersama, diawali dari Aceh pada hari sabtu (19/09/2015), lalu, pada hari ini juga dilakukan aksi serupa di Banten, Bandung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Sekali lagi, aksi ini merupakan wujud kepedulian Mahasiswa Indonesia kepada penjajahan yang dialami Bangsa Palestina, serta wujud konsitensi mengenyahkan penjajahan Zionis Israel atas Palestina untuk selamanya.

FSLDK Indonesia

Muhammad Abdullah ‘Azzam

mass-demo-in-Cairo

Perlu Diingat! Dia Adalah Jagal

By | Gagasan, Puskomnas | No Comments

 

kronologi-kudeta

As-Sisi sang ‘Penjagal Rakyat Mesir’

 

Bukan nama yang semua orang tahu ketika pertama kali kudeta dilancarkan, bukan juga seorang tokoh berpengaruh di penjuru negeri, Abdul Fattah As-Sisi. Hanya seorang jenderal biasa diantara para jenderal, hanya seorang fungsionaris dari sebuah partai, tetapi butir peluru dan kekejamannya, setara dengan Slobodan Milosevic dan Ariel Sharon. Milosevic dihukumi penjahat perang karena membantai 8.000 orang Bosnia pada Perang Bosnia-Serbia pada tahun 80-an, sedangkan Sharon digelari ‘Jagal dari Lebanon’ karena membantai 2.000 pengungsi di Shabra-Shatilla. Lantas, julukan apa bagi jenderal yang membantai ribuan orang di sebuah masjid, jalanan, dan lebih penting lagi, warganya sendiri? Presiden? Jangan bercanda. Tidak ada pemimpin tanpa rakyat, tapi rakyat akan tegak berdiri meski tanpa pemimpin. Dia adalah jagal kawan, jagal pengecut yang hanya berani menodongkan senapan kepada warganya sendiri, dan tunduk sujud pada kekuatan asing.

Seorang jagal pengecut akan menginjakkan kaki di sebuah negara yang konstitusinya tegas menyebutkan menolak segala bentuk penjajahan. (baca: http://www.islamicgeo.com/2015/08/90-sisi-akan-berkunjung-ke-indonesia.html) Apa manfaat yang dapat dia berikan? Apakah dia akan mengajari pemerintah cara menjagal rakyatnya? Pemimpin yang bahkan tidak mampu memberi rakyatnya gandum dan lapangan pekerjaan, ekspor luar negeri yang tersendat, dan tidak paham beda peluru dan kelereng, tidak akan memberi apa-apa kecuali butiran debu dan pemborosan anggaran. Maka untuk apa menyambut dia? Hubungan luar negeri Mesir dan Indonesia adalah dengan presiden yang sah dan melalui pilihan rakyat, bukan dengan penjagal yang merampas kekuasaan dan ‘menelanjangi’ kebenaran suara rakyat.

Indonesia sebagai negara, memiliki sejarah panjang dalam perjuangan kemerdekaan berbagai negara di Asia dan Afrika, dengan titik tolak Konferensi Asia dan Afrika yang dilaksanakan pertama kali di Bandung pada tahun 1955. Setelah itu, peran Indonesia semakin terasa dengan rutin mengirimkan Kontingen Garuda di berbagai wilayah konflik. Tercatat negara-negara seperti Kongo, Kamboja, Afghanistan, dan terakhir Lebanon merasakan dampak positif dari Kontingen Garuda. Saudara muslim yang mengunjungi dan meneneramkan hati yang berdiri sejajar dengan kulit putih di medan pertempuran. Maka, peran tersebut tidak ternodai dengan menyambut, menghormati, dan menjamu penjahat perang yang tindakan kriminalnya tidak lagi dipungkiri masyarakat internasional. Sebuah ironi ketika para pengungsi Rohingya atau negara Palestina ditolak keberadaannya di tanah Indonesia, sedangkan seorang As-Sisi diterima, bahkan dimuliakan.

Peran Indonesia yang sebesar itu, tentunya tidak lepas dari berbagai pijakan historis negara ini, terutama pada proses menuju kemerdekaan. Sejarah mencatat, Mesir adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia, berperan besar pada kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan perlawanan Indonesia atas agresi militer oleh Sekutu pada tahun-tahun berikutnya. Jika tanpa pengakuan Mesir, apa yang dapat Indonesia lakukan pada 1955, Ganefo, dan berbagai forum Non-blok? Atau akankah Indonesia dapat merebut kembali Papua dan leluasa melakukan berbagai konfrontasi dengan negara-negara yang menginjak-injak martabat negara?. Indonesia berhutang besar, dan inilah saat yang tepat untuk melakukan pembalasan budi. Tunjukkan pada As-Sisi, bahwa Indonesia berdiri bersama para pahlawan Tahrir dan Rabi’ah yang mengusung demokrasi, dan berikan pada As-Sisi pukulan telak yang pantas bagi penjagal dengan tidak menggelar karpet merah atau jamuan kenegaraan yang sama sekali tidak memberi manfaat pada negara ini.

Kondisi ekonomi, sosial, politik, dan kebijakan internasional Mesir, sebenarnya sama sekali tidak mendatangkan manfaat bagi Indonesia karena berbagai faktor. Faktor pertama, Mesir di era Mubarok masih memiliki stabilitas di bidang ekonomi, meskipun apabila dibandingkan di era Mursi masih jauh tetringgal. Perlu dicatat, kepemimpinan Mursi yang seumur jagung mampu meningkatkan kondisi moneter dan sektor riil Mesir hingga 27 persen. Bahkan pada beberapa komoditas, mampu didongkrak hingga 300 persen, terutama di sektor pertanian, seperti gandum dan kapas. Sedangkan di era As-Sisi,  konflik politik yang berkepanjangan menghambat laju perekonomian Mesir. Dengan tanpa pertumbuhan perekonomian yang berarti, harapan yang timbul dari kunjungan kenegaraan As-Sisi hanyalah simbiosis komensialisme, di satu sisi Mesir memperoleh keuntungan besar, sedangkan Indonesia tidak memperoleh keuntungan apa-apa.

Faktor kedua, ketidakstabilan politik Mesir, berarti mempengaruhi citra, iklim investasi, dan penyikapan masyarakat internasional kepada suatu negara. Era Mursi, Mesir dianggap negara yang setara dengan Israel dan diyakini mampu membawa perdamaian dengan cara yang ideal antara Palestina dan Israel, bahkan oleh negara-negara barat. Sedangkan yang terjadi di era As-Sisi adalah sebaliknya, tidak hanya dipandang sebelah mata negara barat, kehadiran Mesir pada konflik Palestina dan Israel malah memperkeruh suasana. Apalagi, dampak yang muncul di liga arab, pandangan para pemerhati hak asasi manusia, dan masyarakat internasional, semua sepakat bahwa Mesir merupakan negara bermasalah dan sudah ketahuan akar masalahnya dimana. Maka, sebuah keanehan jika akar masalah tersebut hadir dengan dalih menyambung hubungan diplomatis antar negara. Manfaat apa yang ditawarkan? dan apa yang dapat diperoleh dari negara seperti Mesir di tangan pemimpin, yang bahkan tidak mampu meredam kericuhan dalam negerinya?

Perbedaan posisi Mesir dan Palestina, ketika Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina, dengan pernyataan mendukung kemerdekaan dan sebagainya, akan mencatat Indonesia dalam sejarah panjang kemanusiaan. Dikarenakan, pembebasan dan pengentasan masalah Palestina merupakan isu yang telah diangkat sejak 50 tahun yang lalu. Sedangkan As-Sisi, tidak lain merupakan dedengkot permasalahan Mesir. Maka, sudah seyogyanya Indonesia menunjukkan sikap yang pantas, dengan tidak mendukung legitimasi dari As-Sisi, karena bagaimanapun, dengan menyambut dan berperilaku layaknya sekutu, akan mendongkrak legitimasi As-Sisi sebagai pemimpin Mesir yang sah, walapun faktanya dia adalah penjahat terbesar dalam kasus Mesir.

Dua faktor diatas, baik di segi politik maupun ekonomi, merupakan dua faktor fundamental dalam hubungan antarnegara. Ketika dua hal diatas tidak dapat memberikan dampak positif pada salah satu negara, atau pada kedua negara, maka yang tersisa adalah kesia-siaan. Justru akan memberi dampak ketika Indonesia sebagai negara sahabat Mesir memberikan masukan dan teguran pada As-Sisi untuk menghentikan perilaku negatif pasca kudeta, menghentikan pembunuhan pada demonstran, pemberangusan pada oposisi, dan kembali berfokus membangun Mesir. Jangan kemudian memmosisikan diri sebagai negara yang setara, posisikan Indonesia sebagai pembela kebenaran sebagaimana yang dilakukan di masa lalu, baik di KAA, konflik Bosnia-Serbia, atau Israel-Palestina. Inilah sikap yang tepat dilakukan, jika Indonesia tidak memiliki kekuatan, atau enggan menolak kehadiran As-Sisi di Indonesia.

Konstitusi Indonesia menjelaskan, ketika kemerdekaan menjadi harga mati sebuah bangsa, maka eksistensi pemerintah yang korup dan menindas rakyatnya sendiri merupakan penghinaan terhadap dunia yang bebas dan merdeka. Kehadiran mereka di tanah-tanah bangsa Indonesia merupakan pelecehan dan penghinaan, dan menandakan bahwa membungkuknya bangsa ini pada mereka tak ubahnya seperti raja yang membungkuk pada budak belian. Maka, tunjukkan harga diri Pahlawan Konferensi Asia-Afrika, Pahlawan Gerakan Non-Blok, Juru Damai Bosnia-Serbia, dan Pendukung Kemerdekaan Palestina!

Penulis: Muhammad Abdullah ‘Azzam (Komisi A Puskomnas FSLDK Indonesia)

——————————————————- Media FSLDK Indonesia —————————————————-

Email : info@fsldkindonesia.org

Fanpage : FSLDK Indonesia

Twitter : @FsdkIndonesia | @JarmusnasFSLDKI

Line : @yok1532s

G+ : FSLDK Indonesia

 

r4bia

Rabi’ah, Tragedi Kepemimpinan Tirani

By | Berita, Puskomda, Puskomnas | No Comments
IMG-20150820-WA0016

Sumber Gambar: Dokumen Pribadi FSLDK Indonesia

Tujuh puluh tahun yang lalu, tepatnya 17 Agustus 1945, Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta mendeklarasikan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Secara cepat berita itu tersebar ke berbagai penjuru negeri, bahkan hingga terdengar di dunia internasional. Setelah kumandang proklamasi bergema, H. Agus Salim, M. Natsir bersama rekan-rekannya melakukan safari dari satu negara ke negara lain untuk mendapat dukungan dan pengakuan dunia.

Sejarah mencatat bahwa negara Mesir adalah negara pertama, dan secara de facto mengakui kemerdekaan Indonesia pada tanggal 22 Maret 1946. Kemudian pada tanggal 10 Juni 1947, Mesir mengakui kedaulatan RI secara de jure, maka pada saat itu pemerintah NKRI mendirikan kedutaan RI pertama di luar negeri.

Mesir, negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia itu, pada dua tahun yang silam mengalami sebuah tragedi berdarah. Pada tanggal 14 Agustus 2013, di kawasan Rabi’ah dan Nahdoh terjadi genosida atau pembantaian. Pada saat itu ribuan rakyat Mesir turun ke jalan raya menuntut hak kemerdekaan. Alih-alih mendengarkan aspirasi rakyatnya, presiden kudeta malah memilih untuk memberangus para demonstran. Lebih dari 1000 orang tak berdosa meninggal dunia di kawasan Rabi’ah, hanya dalam kurun waktu 10 jam. Tercatat 868 orang meregang nyawa di dalam kawasan Rabi’ah, 199 orang meninggal di luar kawasan Rabi’ah, 37 orang lainnya tidak diketahui, dan jumlah korban luka-luka yang dilarikan ke rumah sakit tidak diketahui berapa besar totalnya. Sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bertaraf nasional, Human Rights Watch, mengungkapkan bahwa rezim militer membunuh jiwa tidak kurang dari 1150 jiwa.

Hingga kini pemerintahan sah Mesir belum kembali ke pangkuan rakyatnya. Presiden kudeta masih melakukan penindasan kepada rakyat yang meminta hak kemerdekaan dan kebebasan. Dua tahun berlalu, tragedi itu masih teringat dan terkenang di mata dunia. Oleh karena itu, kami menggelar sebuah aksi sebagai bentuk kepedulian terhadap rakyat Mesir yang memiliki jasa besar terhadap bangsa ini, sekaligus mengenang tragedi berdarah yang menghilangkan banyak nyawa tak berdosa.

*************************************************************************************************************

Mengenang Dua Tahun Tragedi Rabi’ah dalam Perayaan Hari Kemerdekaan Nasional

Mahasiswa yang tergabung dalam Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Indonesia (FSLDK Indonesia), yang diwakili oleh Puskomda Bandung Raya bersama Badan Khusus Isu Dunia Islam (BK IDI) FSLDK Indonesia, menggelar aksi dan pameran foto dua tahun pasca kekejaman rezim militer Mesir, tepatnya 14 Agustus 2013. Aksi ini digelar untuk mengenang tragedi berdarah Rabi’ah, sekaligus sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Mesir yang telah dibantai oleh rezim kudeta.

Pameran foto tersebut digelar di Lapangan Gasibu, Bandung, tepat pada saat Upacara Kemerdekaan RI Ke-70 sedang berlangsung. Foto-foto yang memperlihatkan kekejaman rezim militer Mesir, terpampang pada kain hitam panjang. Nampak dalam foto-foto tersebut, terlihat aparat keamanan Mesir tanpa tega memukuli, menembak, bahkan membunuh masyarakat. Gambar ratusan mayat berderet panjang, gambar istri yang menangisi kepergian suaminya, gambar kawasan Rabi’ah yang penuh asap, dan gambar-gambar lainnya dipampang untuk mengundang simpati pengunjung.

Selain memajang foto-foto tragedi Rabi’ah, para mahasiswa mengajak pengunjung untuk menunjukkan solidaritas dengan berekspresi memegang tulisan dengan #rememberRABAAH.

Mereka juga membagikan selembaran berisi seruan kepada masyarakat. Untuk aksi tersebut berjalan dengan baik dan cukup banyak mendapat perhatian warga. Terdapat lebih dari 5.000 orang yang mengikuti aksi tersebut.

-FSLDK Indonesia

 

Categories