MuhasabahDiri Archives - FSLDK Indonesia

lilin

FSLDK Bukanlah Sebuah Lilin

By | Puskomnas | No Comments

Ilustrasi Lilin

Taujih Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia, di pembukaan FSLDKD Surabaya Raya.

‘Amma Ba’du.

Saudara-saudara sekalian… inilah wajah umat kita saat ini. Wajah yang penuh dengan coretan-coretan kemalangan. Coretan-coretan yang jika dibaca dengan seksama, maka dia akan berbunyi seperti ini: Kami terusir dari tanah kami sendiri. Atau jika kita baca di coretan yang lainnya, dia akan terbaca: Kami hanyalah budak di tanah tempat kami menjejak.

Tak ada lagi cahaya di ruang kejayaan umat kita saat ini. Yang ada hanyalah sebuah ruangan besar, pengap, dan tentu saja… Gelap. Tak ada cahaya. Tak ada sebuah nyala. Dan urusan ini menjadi semakin rumit karena kita berada di sana, di tengah-tengah kegelapannya.

Maka pertanyaaannya, sanggupkah kita menjadi lilin pemancar cahaya?

Entahlah. Yang jelas kita sama-sama mengerti hakekat sebuah cahaya. Cahaya itu materi. Dia ada. Sedangkan gelap, dia hanyalah ruang hampa. Maka sebenarnya, sehebat apapun kegelapan, asal lilin itu mampu memancarkan cahayanya, maka dia mampu mengusir kegelapan!

Oleh karena itu, masalah yang sesungguhnya bukan terletak pada sebesar apa kegelapan yang ada, tapi apakah sang lilin benar-benar bisa menyala!

Dan yang perlu saya sampaikan di sini adalah: FSLDK Bukanlah Sebuah Lilin. Dia adalah kumpulan dari cahaya lilin-lilin yang telah menyala sebelumnya. Dan lilin-lilin itu adalah kita, para aktivis dakwah kampus yang tergabung di dalamnya!

Maka saya ingin mengingatkan kepada diri saya dan kepada antum semua. Sholat jamaah kita, tahajud kita, dhuha kita, baca qur’an kita, istighfar kita, buku-buku kita, anak-anak yatim sekitar kita. Masihkah kita sering meninggalkan mereka semua?

Itulah sumber nyala kita! Kita hanya akan menjadi lilin tak berdaya guna jika sumber-sumber kekuatan yang bisa membuat kita menyala-nyala itu kita tinggalkan begitu saja. Kita ini adalah makhluk istimewa. Umat istimewa. Generasi istimewa. Kita perlu cara-cara istimewa untuk membuat nyala kita tetap terjaga. Semakin sering kita melupakan sumber-sumber nyala kita, hanya soal waktu untuk menjadikan kita bagian dari kegelapan itu sendiri.

Maka sekarang, kalau ternyata kegelapan itu masih terasa di sekitar kita, tantangan-tantangan dakwah kita tak kunjung berakhir juga, sudah saatnya kita bertanya… Akankah itu semua karena hebatnya kegelaan, atau karena lilin kita tak mampu lagi untuk menyala?

gunung-lawu12

Sepertiga Malam di Lereng Lawu

By | Puskomnas | No Comments
gunung-lawu12

Gunung Lawu

Penulis: Muhammad Syukri Kurnia Rahman

Beberapa hari yang lalu Gunung Lawu terbakar. Para pendaki dan orang-orang yang sedang melakukan ritual “lelaku” terjebak di atas sana. Tanpa komando, para relawan dari berbagai macam lembaga sama-sama menyingsingkan lengan baju mereka. Turun bersama, merelakan waktu dan tenaga untuk mereka yang membutuhkan kehadirannya. Satu di antara mereka, izinkan saya memperkenalkannya pada anda. Namanya Angga Suryawinata, rekan saya di Fakultas Kedokteran UNS yang selama dua hari berada di sana untuk keperluan evakuasi. Dari tutur ceritanya lah tulisan ini dilahirkan.

Tapi, tapi. Kita tidak sedang berbincang tentang heroiknya proses evakuasi. Kita akan berbincang tentang cerita istimewa yang ada di sela-sela tugas utama para relawan di sana. Kata Angga, “Selalu ada cerita istimewa di antara momen-momen menegangkan saat proses evakuasi bencana.”

Dan cerita itu dimulai di sini.

Pukul 23.30, Angga dan timnya mencoba untuk istirahat. Mencoba? Iya, mencoba. Kita sama-sama mengerti, membuat mata terpejam di tengah-tengah dingin yang menghantam, tentu bukan pekerjaan gampang. Dan Angga adalah orang yang gagal dalam percobaan itu. Haha. Sampai menjelang shubuh, matanya tak kunjung terpejam. Molet-molet saja dari tadi. Namun, seolah-olah, skenarionya memang harus berjalan demikian. Angga sepertinya memang tidak boleh tidur. Karena tepat di jam 03.00, saat percobaan mata yang kesekian ribu kalinya gagal total, Angga melihat sebuah pemandangan yang aduhai! Wow! Menakjubkan!

Angga dan tim tidur di sebuah ambulans. Tim perempuan tidur di bagian depan, sedangkan laki-laki di bagian belakang. Angga mendengar suara berbisik di bagian depan. Percakapan dua orang perempuan. Semakin lama semakin terdengar. Dan pada akhirnya, telinga Angga menangkap satu di antara mereka berucap,

“Aku turun dulu ya. Mau shalat tahajjud.”

Sebentar, sebentar. Nggak salah denger tuh? Seorang perempuan, di tengah-tengah dingin yang mendekap kuat di saat badan seharusnya diistirahatkan, bukannya merapatkan selimut, eh malah turun menyambut kabut. Tidak salahkah telinga Angga menangkap kata? Faktanya, memang itulah yang terjadi. Percakapan kecil itu berhenti, disusul langkah kaki menuruni lereng Gunung Lawu. Menyambut kedatangan Allah di langit dunia. Menganggungkan nama bersar-Nya, dan mempertegas kerendahan dirinya sebagai manusia.

Yang perlu digaris bawahi, ini bukanlah kisah tentang pria perkasa yang sedang bersiap untuk sholat malam di masjid megah mliknya. Ini adalah kisah sepertiga malam terakhir di lereng Lawu, yang diperankan oleh seorang relawan perempuan yang baru saja menyelesaikan peran kerelawanannya. Tentu dingin, tentu capek. Namun nyatanya, dua hal itu tak mampu menghentikan langkah kakinya untuk menyambut seruan Tuhannya.

Kata Angga, “Udah, ceritanya selesai.”

Kata saya, “Enak aja! Masak gitu doang. Lanjutin lah!”

Metode pemaksaan seperti ini biasanya berjalan efektif. Haha. Dan akhirnya, Angga melanjutkan ceritanya. Jadi di pagi harinya, tim relawan itu sarapan bareng. Membuat lingkaran kecil yang penuh kehangatan. Memang saat bersama-sama berjuang seperti itu, tak ada kehangatan yang bisa mengalahkan hangatnya persaudaraan. Dan sudah barang tentu, harus ada bumbu untuk menikmati kehangatan itu. Bumbunya apalagi kalau bukan cerita. Maka mereka segera melempar cerita, dan juga pastinya, melempar tawa, hingga sampailah pada perempuan yang sedang kita bicarakan ini.

Dia memperkenalkan diri. Namanya Bulan, anak dari ayah-ibu yang memilih untuk murtad, meninggalkan kenikmatan Islam yang telah sekian lama mereka rasakan. Lalu bagaimana dengan Bulan? Sang ayah tak pernah memaksakan agama anak-anaknya. Bagaimanapun, mereka mengerti bahwa Islam adalah agama yang baik. Maka dia bebaskan Bulan untuk memeluk Islam secara ‘wajar’.

“Kalau ke-Islam-an saya dipandang ekstim oleh mereka, saya diajak diskusi, mas. Mungkin beliau khawatir saya ikut aliran-aliran sesat yang mengatasnamakan Islam.”, begitu dia berujar.

Contohnya? Kerudung. Saat dia memutuskan untuk memakai kerudung panjang sesuai syariat Islam, sang ayah mengajaknya ‘diskusi’. Tentu agar Bulan kembali memangkas kerudung panjangnya. Namun pada akhirnya, sang putri dipersilahkan membuat keputusan sendiri. Nyatanya, Bulan juga menunjukkan bahwa semakin panjang kerudung yang dia kenakan, semakin besar bakti yang dia berikan.

Masih seputar kerudung, Bulan kembali menuturkan ceritanya. Setelah sekian lama berkutat dengan aktivitas perkuliahan, dia selipkanejn waktu sejenak untuk berkunjung ke kampung halaman. Perlu sekian jam perjalanan naik bus untuk sampai di kampungnya. Celakanya, begitu sampai di sana, matahari sudah berada di peraduannya. Malam telah menyapa. Tak ada lagi angkot yang bisa membawanya dari tempat sekarang ia berdiri ke depan pekarangan rumahnya sendiri. Dia hubungi ayah-ibunya. Memang malang, petang itu mereka sedang ada urusan. Namun, mereka menawarkan solusi,

“Coba kamu hubungi pastur kenalan ayah di deket situ, minta dianter sama dia saja. Tapi kamu juga harus menghormati beliau ya. Kamu lepas kerudungmu sebentar, nanti kalau sampai rumah boleh kamu lepas lagi.”

Lalu apa yang dilakukan Bulan? Kata dia pagi itu di depan rekan-rekannya,

“Mas, daripada saya disuruh melepas kerudung saya, mending saya jalan kaki!”

Berapa jauh? Entahlah. Kadang jarak tak lagi menjadi masalah jika yang kita pikirkan hanyalah melangkah dan terus melangkah.

Maka sebenarnya, sebelum lereng Lawu menjadi saksi ketaatan dia pada Tuhannya, debu-debu jalanan telah lebih dulu menjadi saksi akan keteguhannya dalam menjaga kehormatan. Kehormatan sebagai perempuan, dan tentu, sebagai muslimah yang beriman. Lalu, pertanyaannya bagi kita, siapa yang akan tampil menjadi saksi bahwa kita lebih mencintai Tuhan kita dibanding segala yang ada di depan mata kita?

Mari sejenak berpikir, dan terus menerus bertanya “Dengan ke-Islam-an kita, kita sudah ngapain aja?”

Ditulis di Villa Sandria, Tawangmangu.

pendaki

Tugas Kita Hanya Berjuang

By | Puskomnas | One Comment
pendaki

Sumber Gambar: http://tekooo.com/nggak-nyampek-puncak-bukan-berarti-gagal-jadi-pendaki/

Lebih dari 1 tahun yang lalu kami memulai sebuah kepengurusan Lembaga Dakwah Fakultas di kampus kami. Ada banyak cerita menarik yang kami alami selama berada di lembaga ini. Salah satunya adalah ketika kami melakukan kegiatan outbond.

Begini ceritanya. Sebelum outbond dimulai, instruktur outbond menjelaskan permainan apa yang akan kita lakukan. Ia mengibaratkan permainan outbond ini seperti seorang pemborong yang akan mendirikan sebuah bangunan. Ada beberapa hal yang menjadi catatan dalam outbond ini. Pertama, kami harus membagi tim kami menjadi 6 tim kecil dan dibagi ke beberapa pos. Kedua, ada jangka waktu berapa lama bangunan ini harus diselesaikan. Apabila waktu berakhir sedangkan pembangunan belum selesai, maka kami akan mendapat denda. Ketiga, kami diberikan sejumlah modal tertentu untuk membeli alat dan bahan, sehingga kami harus benar-benar cermat dalam membeli alat. Tentu tiap alat memiliki harganya masing-masing.

Tujuan akhir dari game ini adalah mengeluarkan bola pingpong yang berada pada pipa air berdiri yang dilobangi. Kami harus mengisi pipa tersebut dengan air hingga bolanya keluar, bersamaan dengan tumpahya air. Untuk membawa air ini dari sungai menuju ke titik akhir permainan, kami harus melewati beberapa pos dan menggunakan beberapa cara. Tiap tim kecil yang dibentuk tadi memainkan 1 cara. Tim 1 mengambil air dari pos 1 ke pos 2. Tim 2 dari pos 2 ke pos 3 dan seterusnya. Mereka harus terus mengambil air tanpa berhenti.

Pada awalnya kami berhasil menjalankan game ini sesuai dengan rencana yang kami susun. Semuanya berjalan lancar. Bola sedikit lagi akan bisa dikeluarkan. Waktunya pun masih tersisa banyak. Melihat hal ini, ketua tim berpikir bahwa keberhasilan yang sudah di depan mata ini merupakan keberhasilan setiap elemen tim, sehingga ia merasa semua tim harus melihat dan merasakan keberhasilan ini. Akhirnya ia meminta seluruh tim kecuali tim 6 untuk berhenti bekerja dan bersama-sama menyaksikan tim 6 yang sebentar lagi akan mengeluarkan bola.

Lalu apa yang terjadi?

Fatal! Air di dalam pipa bocor! Padahal suplai air sedang terhenti. Akibatnya, air di dalam pipa justru semakin berkurang. Akhirnya, ketua tim memerintahkan semua tim untuk kembali ke posisinya dan melanjutkan pekerjaannya masing-masing. Beberapa waktu kemudian proyek ini berhasil diselesaikan. Bola berhasil dikeluarkan dari dalam pipa. Tapi waktu yang dibutuhkan melebihi batas yang ditentukan dan tidak semua tim menyaksikan bola keluar dari pipa.

***

Ikhwah fillah, ada 1 pelajaran berharga yang kami ambil dari permainan itu. Kita sering mendengar bahwa jalan dakwah adalah jalan yang panjang, bahkan lebih panjang dari usia kita. Bisa jadi kita tidak akan menyaksikan saat-saat dimana kemenangan dakwah datang. Apa yang kita lakukan saat ini, mungkin tidak akan kita rasakan hasilnya. Sebab, tugas kita memang hanya berusaha, dan berdoa atas usaha-usaha yang telah kita lakukan. Perkara hasil adalah murni hak Allah.

 “Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (QS. Al-Qashash: 56)

Namun, apakah dengan begitu kita akan menyurutkan semangat kita? Padahal berjuang saja sudah merupakan kemenangan. Kemenangan atas rasa takut, kemenangan atas sifat pengecut, kemenangan atas cinta dunia, dan kemenangan atas diri sendiri.

Dan tidakkah kita tergiur dengan janji-Nya? Padahal tidak ada yang lebih menepati janji selain Allah.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. .” (QS. At-Taubah : 111)

Ikhwah fillah, jalan dakwah tidak ditaburi dengan bunga-bunga. Tetapi, ia merupakan satu jalan yang panjang dan penuh halang rintang. Hal yang kita perlukan adalah usaha dan kerja keras yang terus berkelanjutan. Hasilnya terserah kepada Allah di waktu yang dikehendaki-Nya. Mungkin kita tidak akan dapat melihat natijah serta hasilnya ketika kita masih hidup. Sesungguhnya kita hanya disuruh beramal dan berusaha, tidak disuruh melihat hasil dan buahnya. (Mustafa Masyhur – Tariq Ad Dakwah)

Penulis: Aristiawan

no image added yet.

Soal Momentum

By | Puskomnas | No Comments
momentum

Sumber Gambar: http://www.lkc.or.id/2014/09/05/momentum/

Apa itu momentum? Sebagian besar dari kita mungkin mengatakan: kesempatan!

Benarkah arti momentum sesederhana itu?

Coba kita teliti kasus ini. Misalkan saja minggu depan ada tes Calon Guru PNS. Bagi kita yang masih semester enam, tes itu jadi momentum kita atau bukan? Pasti semua kompak menjawab, bukan! Tapi bagi seorang lulusan sarjana FKIP, apakah itu momentum bagi dirinya? Iya! Jelas itu momentum bagi dirinya. Apalagi tes itu hanya ada setahun sekali. Maka pertanyaannya, antara mahasiswa dan si sarjana, apa yang membuat beda?

Itu kasus pertama. Sekarang coba lihat yang kedua.

Ini cerita tentang Hudzaifah. Hudzaifah bin yaman. Seorang sahabat yang diminta Rasulullah Saw. untuk menembus gelapnya malam, mencari tahu keadaan pasukan lawan saat Perang Khandaq berada di ujung kemenangan. Saat itu kendali pasukan lawan berada di tangan Abu Sufyan. Hudzaifah berhasil. Kini dia telah berada tepat di tengah-tengah kemah pasukan lawan. Berbaur dengan mereka sambil berusaha agar tak ada yang menyadari kehadirannya. Di saat-saat yang sangat menegangkan itu, ada sebuah plot kisah yang paling saya sukai: Hudzaifah sempat berada di sebuah posisi yang memungkinkan dia untuk membunuh Abu Sufyan saat itu juga. Dia mendapatkan momentum itu! Momentum untuk menghabisi nyawa Abu Sufyan. Tapi tidak dia lakukan, karena dia sadar, Rasulullah tidak mengutusnya kecuali hanya untuk mengintai.

Menarik. Bagaimana jika kita mengganti kata ‘momentum’ disana dengan ‘kesempatan’? Akankah maknanya juga turut berubah?

Sekilas mungkin akan nampak sama, tapi sejatinya mereka berbeda. Momentum dan kesempatan, dia adalah dua hal yang berbeda. Mirip mungkin iya, tapi momentum, dia lebih kompleks dari sekedar kesempatan.

Jadi, apa itu momentum?

Bertemunya kesempatan dengan kemampuan. Itulah momentum. Jadi bukan hanya perkara ada atau tidaknya kesempatan, tapi juga soal ada atau tidaknya kemampuan. Bagi mahasiswa, tes CPNS itu bukanlah momentum. Kenapa? Karena walaupun sudah ada kesempatan, tapi dia tidak punya kemampuan (terutama kemampuan administratif). Dia belum jadi sarjana. Mau ndaftar pun, juga tidak akan mendapatkan izin. Tapi bagi lulusan sarjana, jelas itu momentum baginya. Kesempatan sudah di depan mata, kemampuannya pun juga sudah ada. Saat Hudzaifah mau membunuh Abu Sufyan di Perang Khandaq, itu momentum. Misal ceritanya diganti. Hudzaifah tepat berada di sisi Abu Sufyan, tapi ternyata dia lupa nggak bawa pedang, kan nggak bisa juga disebut momentum. Kesempatan membunuhnya memang ada, tapi kemampuan untuk mengeksekusinya menjadi tidak ada.

Maka saat kita bicara momentum, kita sedang bicara bukan hanya tentang kapan kesempatan itu datang, tapi juga sudah sejauh mana kemampuan yang telah kita siapkan. Ada dua syarat yang harus digenapkan agar momentum itu tercipta: ada kesempatan dan ada kemampuan.

Kebanyakan dari kita hanya menunggu yang pertama, tapi lupa untuk mempersiapkan syarat keduanya, yaitu kemampuan (ability). Maka dalam konteks inilah, kita tidak boleh menunggu datangnya momentum. Kenapa? Karena kita tidak bisa melakukan itu. Momentum itu diciptakan, bukan dinantikan. Dia adalah perpaduan. Untuk menjadi sebuah momentum, kita perlu melakukan intervensi di dalamnya. Kita harus bertindak. Kita harus bergerak, menyiapkan kemampuan terbaik untuk menyambut datangnya kesempatan. Kalau kita masih saja berdiam diri dan mengatakan ‘saya belum sukses karena momentumnya belum datang’, maka sudah saatnya kita sadar. Yang kita tunggu itu kesempatan, bukan momentum. Dan kalau kita hanya berdiam diri, sampai nanti kiamat datang, kita tidak akan mendapatkan momentum kesuksesan kita.

Celakanya, kita juga sering lupa bahwa dalam menciptakan sebuah momentum, kita sebenarnya sedang “berbagi tugas” dengan Allah. Kesempatan -yang merupakan syarat pertama dari momentum itu- itu adalah domain Allah Swt. Allah lah yang berhak menghadirkannya. Nah baru yang syarat kedua, itu urusan kita. Maka jangan kebalik. Kita sering merisaukan kapan kita mendapat kesempatan, padahal itu bukan ranah yang seharusnya kita urusi. Itu kerjaannya Allah. Biarkan Dia yang mengatur urusan itu. Tugas kita hanyalah melewati detik demi detik dari perjalanan hidup kita dengan terus menerus meningkatkan kapasitas diri kita. Agar apa? Agar saat Allah telah selesai dengan urusan-Nya, kita juga telah selesai dengan urusan kita. Jadi match! Cocok.
Kita tidak seharusnya merisaukan kapan saatnya angin berhembus paling kencang, cukup bagi kita untuk terus menerus melepaskan anak panah kita.

Bergeraklah! Siapkan diri untuk menyambut datangnya kesempatan. Allah pasti punya itung-itunganNya sendiri untuk menghadirkan kesempatan terbaik di depan mata kita. Maka tak perlu risau jika diarasa kesempatan itu belum juga menyapa kita. Itung-itunganNya Allah pasti jauh lebih sempurna daripada itung-itungan kita! Wis to, percaya saja sama Allah.

Maka bertindaklah! Ciptakan momentummu sendiri!

Penulis: @densyukri

Categories