Mari Berbenah Archives - FSLDK Indonesia

Three green darts pinned right on the center of dartboard

Belajar Konsisten

By | Puskomnas | No Comments
konsisten

Sumber Gambar: http://amidayrus-blog.blogspot.co.id/

Penulis: Ahmad Yasin (Komisi D Puskomnas FSLDK Indonesia)

Bismillahirrahmanirrahim.

Hari-hari yang begitu luar biasa dan selalu semakin luar biasa. Setiap detik menuju hulu, semakin benyak pelajaran ketika kita mau memperhatikan. Dan seperti yang seringkali terjadi, biasanya petir menyambar ketika badai sedang akan atau sedang deras-derasnya turun menghujam jarang sekali ketika langit sedang cerah-cerahnya, sebagaimana ujian kehidupan yang datang ketika kita dalam kondisi selemah-lemahnya.

Tapi benar juga. Kalau dalam keadaan terlemah kita bisa, bukankankah itu berarti kita telah naik ke level selanjutnya?

Dan Allah selalu memberikan sesuatu sesuai kadar kemampuan kita, cuma ….. memang kadang kitanya aja yang menyerah duluan atau melebih-lebihkan keadaan.

Dan ya ….. untuk sebuah prinsip, untuk sebuah kebiasaan, untuk sebuah nilai…… untuk sebuah konsistensi. Ujian hidup itu pasti akan datang pada titik terlemah kita. Karena berbagai godaan itu.. konsisten menjadi suatu angka berharga yang begitu mahal.

Bandingkan,

Ketika kita diharuskan membayar uang kas setiap minggu 1000 rupiah kemudian si A membayarnya dengan 1000 rupiah setiap pekannya secara rutin, tapi si B membayarnya sekaligus di 8000 di akhir pekan ke 8. Samakah?

Secara kasat mata dan secara nomina, mungkin sama, dua-duanya membayar lunas 8000. benar?

Tetapi ada nilai pembelajaran yang gak didapat si B. Suatu pembiasaan akan kedisiplinan, keteraturan, dan komitmen dari sebuah kesepakatan.

Ternyata, gak main-main ketika Allah lebih menyukai amalan kecil yang dilakukan secara terus-menerus (kontinu) dari pada amalan besar yang sesekali. Karena,  ya.. ada pembelajaran besar disana.

Hal yang lebih sulit dari memulai adalah, mempertahankan.

Repost from: ahmdysn.com

tumblr_n6rzpcsMk41st5lhmo1_12802 (1)

Berkah Amal Shalih

By | Puskomnas | No Comments

 

Amal Shalih

Sumber Gambar: www.visimuslim.com

 

Ini adalah kisah nyata. Pengalaman yang kualami sendiri. Bukan bermaksud sombong, tapi hanya ingin bercerita yang semoga bisa dijadikan sebuah pelajaran.

Saat itu adalah liburan semester 6, tepatnya setelah Idul Fitri. Suatu ketika, di suatu pagi setelah sehari sebelumnya aku membayar uang kuliahku untuk semester 7, aku mencoba untuk melakukan registrasi online di sistem akademikku. Tapi saat itu aku dikejutkan dengan sebuah tulisan : Akun Anda diblokir. Silakan hubungi bagian Pendidikan Pusat. Kira-kira begitu tulisan yang tertulis setelah aku melakukan input nomor induk mahasiswaku. Tertulis jelas dengan warna merah. Aku panik. Terkejut karena ini baru pertama kalinya terjadi. Tentu saja ini membuatku bingung, terlebih waktu itu aku tidak tahu kapan tanggal pengambilan mata kuliah. Takut telat ambil sehingga dianggap 0 sks.

Aku diam sejenak. Lalu berwudhu dan sholat istikharah. Aku saat itu benar-benar tak tahu harus melakukan apa, karena itu satu-satunya jalan yang kutahu adalah dengan memohon kepada Allah. Selesai sholat aku berdoa agar diberikan kemudahan dan kelancaran dalam urusan kuliahku yang memang sedikit bergelombang. Mungkin jika dianalogikan, jika kuliah adalah sebuah truk, maka teman-temanku kuliah dengan melalui jalan tol, sedangkan aku kuliah dengan melalui jalan perbatasan yang biasanya bergelombang dan tidak rata. Hal ini pun terjadi bukan begitu saja, tapi akar masalahnya jauh sebelum aku masuk ke kampus. Oke selesai sampai disini.

Beberapa hari berlalu, bahkan telah lewat dari seminggu sejak aku mengetahui akunku diblokir. Kemudian aku putuskan untuk menemui pembimbing akademikku. Pukul 16.40 aku menemui beliau di ruangannya di lantai 3 gedung 5 fakultas Teknik. Aku sampaikan apa yang terjadi kepadaku. Waktu itu aku menyampaikan masalahku dengan sedikitmbrebes, karena pikiranku sudah melayang kemana-mana membayangkan hal-hal yang negatif duluan. Kemudian beliau menyarankan memang harus ke bagian pendidikan pusat universitas.

Seminggu kemudian aku baru mengurusnya, padahal batas waktu input mata kuliah tinggal 5 atau 6 hari. Sebelumnya, setelah aku menemui pembimbingku, sore itu juga aku segera ke rumah temanku yang kuliahnya juga bermasalah. Entahlah apa sebenarnya masalahnya, entah karena kendala biaya atau karena masalah kesehatannya atau masalaha lain yang tak kutahu, tapi aku mencoba mencari tahu di rumahnya. Mungkin diantara teman-teman seangkatanku yang jumlahnya 100-an itu, akulah yang paling kenal dan paling tahu apa yang dia alami sampai dia menghilang 3 semester kemarin. Niatku sih, aku kesana sekalian mau mengajaknya untuk mengurus kuliahnya, mumpung masih ada waktu. Ayahnya pun sudah menyuruh untuk segera membayar kuliahnya.

Sekitar seminggu setelah aku silaturrahim ke rumah temanku itu, aku baru niat untuk ngurus masalahku. Kebetulan saat itu hari Jum’at. Setelah sholat Jum’at, aku ngobrol-ngobrol sebentar dengan teman satu jurusanku di masjid kampus. Dari dia, aku dapat informasi ternyata seniorku di organisasi juga ada yang mengalami masalah serupa. Lalu aku datangi dia dan bertanya. Kemudian dia sarankan untuk segera diurus di bagian pendidikan fakultas. Loh? Fakultas? Iya…

Aku pinjam sepatunya, soalnya sepatuku hilang. Lalu segera aku ke bagian pendidikan fakultas. Aku kesana bersama temanku yang mau menanyakan masalah KKN. Ketemu di jalan. Yaudah sekalian. Sampai disana, bayanganku soal dimarah-marahi sama karyawannya hilang. Hahahaha… Ternyata bapaknya baik juga, dan sabar. Kemudian aku dibuatkan surat permohonan untuk membuka akunku yang diblokir. Oiya, akunku diblokir, kalau di keterangannya karena status belajarku rendah, hahaha. Tapi… baca aja dulu deh…

Setelah suratnya dapat, aku segera menuju ke ruang pembimbing akademikku untuk minta tanda tangan. Tapi sayangnya, sampai disana beliau belum datang, baru datang sekitar jam 3 kurang dikit. Lah, aku harus jemput adekku kalo gitu. Akhirnya aku batalkan untuk minta tanda tangan hari itu, dengan konsekuensi, waktuku tinggal 2 hari untuk mengurus dan mengambil mata kuliah di siakad (sistem akademik). Aku ambil konsekuensinya, karena toh kalau tetap dipaksakan tak ada jaminan bahwa kantor bidang pendidikan akan tetap buka setelah aku dapat tanda tangan.

Malam harinya, aku dan beberapa teman di teknik silaturrahim ke rumah pembimbing akademikku, hha… Kebetulan sekali ya? Enggak juga, semua sudah diatur. Disana kami ngobrolin masalah perkembangan dakwah di fakultas, wesseeeehh… Ya kan ini temen-temenku orang-orang sholih semua.

Niatnya aku ingin sekalian minta tanda tangan beliau, tapi lagi-lagi aku batalkan karena momennya tidak pas. Kemudian paginya di hari Sabtu aku SMS beliau untuk tanya kapan ada waktu luangnya untuk minta tanda tangan. Awalnya beliau bisa sore harinya, tapi kemudian beliau SMS lagi untuk besok Senin saja di kantor jam 08.30. Aku iyakan, mau bagaimana lagi…

Senin, seperti kata beliau sebelumnya, aku segera menuju kampus. Jam 08.40 aku sampai di lantai 3, dan bertepatan juga ketika beliau datang. Jadi kita ketemu di luar kantor beliau. Segera aku erahkan suratnya, karena waktu itu beliau mau nguji mahasiswa yang mau pendadaran. Tapi belum juga ditandatangani, aku ditanya, “Mas, kalau gini ini berarti yang mengajukuan saya? Bukan kamu? Coba deh ditanyakan dulu ini maksudnya gimana…“. Duh… lalu aku tanyakan ke bagian pendidikan. Disana, tak lupa juga aku bertanya soal kasus temanku yang sampai saat itu belum membayar (itu, temanku yang kemarin aku kunjungi ke rumahnya). Aku turun ke lantai 1, lalu pergi dari gedung 5 ke gedung 3. Lalu setelah dapat penjelasan, aku ke gedung 2 lalu naik sampai lantai 3 dan menyeberang lewat jembatan penghubungnya ke lantai 3 gedung 5. Sampai disana, aku harus menunggu dulu, agak lama juga sampai aku ngantuk-ngantuk sambil baca buku tentang Sholahuddin Al Ayyubi. Akhirnya aku tertunduk, ngantuk banget, nggak kuat melek, lha kenapa ya? Hmm…

Setelah lama menunggu, akhirnya aku bisa bertemu beliau. Lho, tapi beliau dari kamar mandi. Berarti tadi pas keluar ke WC aku lagi merem. Setelah aku jelaskan, kemudian beliau tandatangani. Yes, berhasil. Alhamdulillah. Setelah itu aku bergegas menuju ke pendidikan pusat universitar. Nah ini ternyata maksudnya, jadi diurus ke bagian pendidikan fakultas dulu, baru dibawa ke bagian pendidikan pusat. Disana, aku ketemu temanku yang mengalami masalah hampir sama, alhamdulillah ada kawan. Setelah mengantri dengan antrian yang tidak jelas yang agak lama, akhirnya aku maju ke mas-mas yang mengurusi bagian registrasi dan pembayaran. Disana aku berikan surat itu dan sedikit menjelaskan masalahnya. Masnya dengan enteng cuma bilang, “Oh, ini autodebetnya gagal mas… Jadi kita nggak bisa macem-macem…“. Aku melongo. Kok autodebet? “Jadi semua masalah yang akun diblokir ini karena autodebetnya gagal ya mas?“. Kata masnya iya. Terus aku diberi nota BTN (karena universitasku pakai BTN-Bank Tabungan Negara untuk pembayaran kuliah). Setelah itu aku muter lagi menuju ke BTN kampus yang kukira masih di tempat yang sama. Sampai disana aku tanya satpam, ternyata BTN sudah pindah ke depan kampus, di kompleks Pusdiklat. Lalu aku segera kesana. Sampai sana aku bertanya ke pak satpamnya yang mukanya rada-rada mirip artis Korea tapi iteman dia, “Pak kalo mau ngurus akun yang diblokir karena katanya autodebetnya gagal gimana ya?“. Kata bapaknya ngurus lagi di bank. Tapi sayangnya waktu itu aku nggak bawa buku tabunganku dan jam sudah menunjukkan pukul 2 lebih sekian, padahal banknya tutup sekitar jam 3. Duhdek…

Lalu pak satpamnya menyarankan untuk ke bank yang terdekat saja. Aku akhirnya balik ke rumah. Sampai rumah, aku menelan obat sebentar, lalu pergi lagi. Ibuku heran. Ya biar. Terus aku ke bank yang lebih dekat. Disana banknya hampir tutup karena aku sampai disana hampir jam 3. Omaigat… Kemudian aku ceritakan apa masalahku kepada ibu-ibu pegawai disana, lalu ini momen yang menyentuh. Disana terdapat 4 orang; satu satpam laki-laki, satu ibu-ibu, satu namanya mba Ihda Azizah (semoga namanya bener), satu lagi namanya mba Dyah. Kemudian mereka berempat membantuku untuk menyelesaikan urusanku. Awalnya ibu-ibu itu yang mendengar ceritaku, lalu mba Ihda dimintai tolong untuk mengurus uang pembayaran yang ternyata belum disetor ke kampus karena gagal tadi. Lalu mba-nya mencoba membantu mendebet uangnya. Tapi ternyata, karena uangnya diatas satu juta, maka harus pakai ATM. Sayangnya karmas (kartu mahasiswa) punyaku ATM-nya tidak kuaktifkan. Akhirnya aku harus membuat ATM baru dulu. Pembuatan ATM dibantu oleh mba Dyah ini. Setelah jadi, mba Ihda mendebetkan uang di tabunganku dengan ATM baruku yang biaya untuk mengganti pembuatannya Rp 15.000,-. Tak apa, it’s okay

Selesai. Tabunganku berhasil didebet dan uangnya sudah masuk universitas. Aku lega. Satu simpul keruwetan telah diurai. Kemudian aku ucapkan terima kasih kepada semua yang ada disitu dengan senyum yang lebar dan bahagia. Saat itu aku merasa, disitulah tangan-tangan Allah menggerakkan hati-hati orang-orang di BTN itu untuk membantuku. Padahal saat itu bank akan segera ditutup, bahkan pintu besi (namanya apasih aku lupa) yang biasa dipakai kayak di toko-toko dan swalayan itu sudah ditutup setengahnya.

Keluar dari bank aku lega. Sangat lega. Kemudian aku menuju ke sekolah adekku untuk menjemputnya. Sebelum itu, aku mampir ke sebuah masjid tak jauh dari sekolah adekku untuk sholat Ashar. Selesai sholat, aku benar-benar bersyukur. Aku menangis. Aku merasakan betapa nikmatnya sholat dengan perasaan penuh syukur itu. Kemudian aku segera ke sekolah adekku untuk menjemputnya dan pulang. Di rumah, aku baru bercerita apa masalah yang kualami kepada kedua orang tuaku. Sebelumnya, aku sama sekali tak menceritakan apa-apa karena kupikir nanti hanya akan membuat mereka panik. Aku hanya bercerita setelah masalahku mulai beres. Dan terakhir, saat aku akan mengumpulkan KRS-ku ke pengajaran fakultas, saat di fotokopian, saat aku memfotokopi nota pembayaran dari bank, masnya dengan muka datar bilang, “udah bawa aja…“, karena mungkin cuma 1 lembar, jadi sekalian aja nggak usah dibayar. Begitu.

Selasa, 25 Agustus, adalah batas terakhir input data mata kuliah. Setelah semalam aku lega karena berhasil mengaktifkan status mahasiswaku, paginya aku dibuat galau lagi dengan gagalnya loginku ke siakad. Tak kehabisan akal, aku kemudian menuju ke bagian pendidikan pusat lagi. Disana aku tanyakan kepada ibu-ibu tentang kegegalanku masuk siakad. Ternyata pin yang biasa kugunakan login telah berganti. Pin 6 digit yang sejak semester 1 kupakai sudah tak bisa digunakan, diganti pin baru 6 digit. Aku catat pinnya di tanganku, karena waktu itu mau mencatat di hp kelamaan. Lalu aku menuju spot wifi favoritku, masjid kampus, tepatnya di kamar takmirnya. Lalu disana aku login ke siakad dengan pin baru. Alhamdulillah berhasil. Aku segera mengisi Kartu Rencana Studi (KRS) milikku. Yang membuatku lebih terkejut adalah, ternyata IP-ku meningkat lagi. Jika dibuat grafik, IP-ku sejak semester 1 hingga 6 adalah naik grafiknya, tentu saja itu karena IP di semester awal jeblok, sangat-sangat jelek sampai kalau ditanya orang lain aku jawab “Aku lupa…“. Alhamdulillah, aku bisa mengambil SKS lebih banyak lagi. Tapi kali ini sengaja tidak aku ambil full, karena aku takut akan kewalahan untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Akhirnya dari 21 SKS, aku ambil 7 SKS saja. Yang lebih bikin seru lagi, setelah salah satu kakak tingkatku yang luar biasa kutanyai, aku dikirimi fileExcel yang isinya tentang pemanajemenan SKS dan waktu untuk lulus. Itu yang dia lakukan sehingga dia bisa mengontrol akademiknya. Oiya, btw, kenapa kakak tingkatku ini luar biasa adalah karena dia lulus cumlaude 4 tahun dengan IPK 4. Bulet 4. Terlebih, riwayat organisasinya segudang, dan dia juga peraih beasiswa aktivis. Luar biasa. Namanya, kami sering memanggilnya Mas Mantas. Rian Mantasa. Legenda baru di fakultas teknik, bahkan mungkin universitas. Tapi yaah, aku tak mungkin bisa sepertinya saat ini, karena sudah terlambat. Tapi, tentu saja ada jalan cerita lain yang bisa menjadi cerita heroik untuk diceritakan kemudian setelah aku lulus dari kuliahku ini nanti.

Disinilah cerita itu berakhir untuk saat ini. Maksudku, cerita bagaimana perjuanganku untuk mengembalikan status kuliahku yang mengambang menjadi aktif kembali. Sebuah hikmah besar yang kuambil adalah, bahwa amal-amal sholih kita membawa keberkahan di dalamnya. Aktivitas kita, ketika itu diiringi amal sholih, akan membawa kebaikan yang bahkan tak disangka-sangka. Aku benar-benar merasakan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan adalah disini. Dimana Allah turut campur membantu mengatasi masalah yang kuhadapi. Tentu hal itu bukan tana sebab, karena sebelumnya, aku juga memohon dengan sangat kepadaNya. Suatu malam aku pernah terbangun, kemudian sholat Tahajjud. Setelahnya, aku memohon, berdoa kepada Allah bahkan hingga menangis untuk sekedar memudahkan urusan duniaku ini. Kemudian, aku juga berusaha untuk berinfaq sebisaku. Sebelumnya, aku membaca sebuah threat di internet, seseorang yang memiliki masalah dengan kuliahnya. Kemudian kawan-kawannya mengomentari dan salah satu yang paling membekas untukku adalah dengan melakukan amal sholih itu. Temannya itu berpesan untuk menjaga sholatnya, berinfaq, berdzikir, dan sebagainya. Kemudian aku teringat juga dengan sebuah cerita, seorang direktur yang bangkrut habis-habisan. Kemudian dia berjualan nasi bungkus. Di depan warungnya dia membuat spanduk dengan tulisan bahwa dia akan berinfaq 100 juta. Sungguh ajaib bahwa akhirnya dia mampu berinfaq 100 juta pula. Kemudian dia tingkatkan menjadi 1 miliar. Luar biasa.

Yang ingin kukatakan disini adalah, bahwa jangan pernah berburuk sangka kepada Allah. Jangan pernah kamu menilai suatu masalah dengan sudut pandang negatif, karena masalah ada untuk diselesaikan. Dan jika kamu bisa menyelesaikan suatu masalah, maka itu tanda bahwa kamu pantas untuk naik tingkat. Semakin tinggi tingkat itu, semakin rumit masalahnya. Namun, bagi para pejuang dengan jiwa-jiwa yang kokoh, masalah itu tak lebih besar dari keagungan Tuhannya. Maka, jika mereka tertimpa masalah, jika mereka diuji dengan masalah, maka mereka mendekat kepada pemberi masalah, Allah. Karena hanya dariNya pula mereka akan mendapatkan jalan keluar. Mereka mengetahui bahwa diri mereka lemah, sehingga dengan begitu mereka menguatkan sandaran mereka kepada Allah. Ya, manusia itu lemah. Tapi bukan berarti manusia tak mampu menyelesaikan sebuah masalah. Jika dia kalah dengan masalah, maka dia lebih lemah dari masalah itu. Karena itu, bagi para pejuang, jiwanya adalah jiwa pemenang. Sekeras apa usaha yang dia lakukan, sebesar itu pula kemenangan atau kegagalan yang dia dapat. Ingatkah tentang nasehat, “man jadda wajada“, siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan (apa yang dia usahakan). Maka bagi para pejuang berjiwa pemenang, yang dipikirkannya bukan bagaimana menghindari masalah, tapi bagaimana dia bisa mencari jalan menyelesaikan masalah.

Dan inilah hikmah besar yang kuambil, sebuah benang merah antara amal sholih hingga mencapai keberhasilan adalah bahwa amal sholih yang dilakukan tanpa tercampuri niat buruk akan memberikan keberkahan kepada pelakunya. Ketika dia ditimpa ujian kesulitan, maka seperti kata Allah, Dia iringkan kesulitan itu dengan kemudahan. Maka jika dia bersungguh-sungguh menghadapi kesulitan itu, Allah bukakan jalan kemudahan untuknya, bahkan dari arah yang tak diduganya. Jika sudah begitu, takkan ada yang bisa menghalangi. Dan itulah keberkahan bagi para pelaku kebaikan.

Hanya satu, dari masalah ini yang belum bisa kuselesaikan dan membuatku sedih, adalah bahwa aku gagal menolong temanku untuk bisa kembali kuliah. Jika saja aku lebih serius menolongnya, mungkin dia bisa kembali kuliah. Tapi, itu sudah berlalu. Semoga ada kesempatan lain untukku menolongnya.

Adapun ketika aku menyebutkan kebaikan apa yang sudah kulakukan, bukan bermaksud untuk sombong atau pamer, tapi hanya semata-mata untuk saling berbagi dan memberikan pelajaran bahwa amal-amal kebaikan seperti itu mampu menolongmu menghadapi masalah. Temanku pernah berkata bahwa ketika kita dilanda masalah, coba carilah amal-amal unggulanmu, sehingga dengannya menjadi perantara Allah menolongmu keluar dari masalah. Bahkan, ketika kutahu bahwa dosa-dosaku masih menggunung, Allah seakan tak peduli dan tetap memberikan nikmatnya seluas lautan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Sungguh malu.

Tak lupa, kepada semua pihak yang sudah bersedia membantuku, dari temanku yang memberikan info, temanku yang meminjamkan sepatu, pak satpam di BTN, ibu-ibu pegawai, mba Ihda, mba Dyah, pembimbing akademikku, mas-mas dan bapak-bapak di bagian pendidikan fakultas maupun universitas, bahkan pegawai pom bensin yang mengisikan bensin ke motorku, dan semua yang Allah gerakkan untuk membantuku, kuucapkan terima kasih semua atas pertolongannya. Tak ada yang bisa kulakukan selain mendoakan kebaikan-kebaikan untuk kalian.

Penulis: Mahmud Nur Kholis (Komisi D Puskomnas FSLDK Indonesia)

Dikutip dari: http://alfaatih21.blogspot.co.id/2015/08/berkah-amal-sholih-bersama-kesulitan.html

——————————————————- Media FSLDK Indonesia —————————————————-

Email : info@fsldkindonesia.org

Fanpage : FSLDK Indonesia

Twitter : @FsdkIndonesia | @JarmusnasFSLDKI

Line : @yok1532s

G+ : FSLDK Indonesia

PalliativeCare_Img

Kita Muslim yang Bagaimana?

By | Puskomnas | No Comments
helping-others

Sumber Gambar: http://3.bp.blogspot.com/-aE2JucFOfy4/VBAg8IN-AXI/AAAAAAAAAQE/ZSRr1_A2mzQ/s1600/helping-others.jpg

Beberapa waktu lalu, ketika kami sedang berkumpul dan berdiskusi (kalau itu disebut diskusi), guru kami membacakan kembali sebuah hadits yang sebenarnya tidak asing bagi kami, namun karena disampaikan dengan lafadz arabnya sementara kami hanya pernah mendengar terjemahannya, maka seolah kami pun merasa asing dengannya. Hadits itu adalah hadits yang membuat hatiku trenyuh.

Sebelumnya aku menyampaikan sebuah pesan tentang kematian. Seorang Arab Badui pernah bertanya kepada Rasul tentang kapan tibanya hari kiamat. Kemudian Rasulullah malah balik bertanya, “Apa yang kau persiapkan untuk menghadapinya?”. Orang Arab itu menjawab, “Cinta kepada Allah dan RasulNya”. Rasulullah berkata, “Engkau akan bersama yang kau cintai.”.

Guru kami melantunkan lafadz hadits itu. Man lam yahtamma bi amril muslimin, falaysa minhum. Siapa yang tidak mempunyai perhatian kepada urusan kaum Muslimin, maka bukanlah dia bagian darinya. Terdiam. Merenung. Berfikir. Menghayati.

Dahiku mengernyit, pandanganku lurus ke bawah. Jauh. Kemudian beberapa saat setelahnya aku ditanya oleh guruku, ketika diskusi akan berakhir. Apa kesimpulanmu? Aku diam sejenak. Mencoba merangkai kata dari lintasan pikiranku. Sebenarnya sudah sedari tadi kucoba merangkai kata hingga akhirnya mulutku berucap dengan lirih, seingatku, atau mungkin ini rangkaian baru yang baru saja terlintas, “Menjadi Muslim itu bukan menjadi egois. Siapa yang tak perhatikan urusan Muslim lain, tak pantaslah ia mengaku sebagai Muslim.”. Menghela nafas, “Jujur, diingatkan kembali tentang hadits itu membuat saya takut. Jangan-jangan saya bukan bagian dari kaum Muslimin. Jangan-jangan saya masih terlalu egois untuk memikirkan urusan orang lain.”.

Aku berhenti sejenak. Mencoba menata kembali suara dan intonasi yang mulai makin lirih dan terisak. Sambil menatap kearah guruku dan sesekali menatap ke bawah, aku selesaikan kalimat-kalimatku tadi. Hingga mataku berkaca-kaca. Namun semua itu kutahan agar tak sampai meluap menjadi tangis. Jaim-lah…

Gaes, cerita di atas bukan fiktif belaka. Bukan potongan dari cerpen atau novel. Ini kisah nyata yang terjadi di abad 20 (eh 20 apa 21 sih sekarang ini? Kalau Doraemon kan 22 ya…). Ini pula pertama kalinya aku bertingkah (sok) menghayati begitu.

Dua nasehat (nasehat tentang kematian dan nasehat dari hadits itu) yang kemudian dengan sendirinya merangkaikan sebuah kesadaran dalam diriku akan arti penting dari hidup dan kehidupan. Diawal aku sempat menceritakan (walau tak kutulis) kisah Umar bin Abdul aziz yang ‘berbicara’ dengan kubur yang memperlakukan penghuninya dengan sangat buruk akibat dosa-dosa yang dilakukan ahli kubur semasa hidupnya. Lalu Umar menangis dan berkata, “Bukankah dunia ini fana, yang mulia bisa jadi hina, yang kaya menjadi miskin, yang muda akan tua, dan yang hidup akhirnya mati”

Gaes, hidup bukan sekedar hidup. Kalau hidup sekedar hidup, monyet di hutan juga hidup. Tapi kita ini manusia. Makhluk Allah yang paling sempurna dalam penciptaan. Kita diberi akal dan hati untuk merasai, bukan sekedar berlaku ala kadarnya. Maka seperti yang kukatakan diawal, kita tak perlulah tanyakan kapan kiamat itu akan datang. Yang lebih penting dari kiamat itu sendiri adalah apa yang kita persiapkan untuk menghadapinya? Kita tak usahlah tanyakan kapan ajal itu datang, karena cepat atau lambat ia akan menyapa. Tapi lebih dari itu, apa yang kita siapkan untuk menghadapinya? Sebuah kemalangan besar adalah ketika panjangnya umur beriringan dengan banyaknya dosa. Orang yang paling cerdas adalah orang yang mengetahui dia akan mati kemudian dia siapkan sebaik-baik perbekalan untuk dibawa pergi setelah kematiannya. Maka benarlah Rasulullah ketika bertanya, “Apa yang kamu persiapkan untuk menghadapinya?”. Karena kapan waktu kedatangannya tak jadi masalah jika kita telah siap menghadapinya. Dan beruntunglah orang badui itu yang menjawab “Cinta kepada Allah dan RasulNya”, karena jawaban ini akan mengantarkan diri kita kepada kesudahan yang baik.

Cinta kepada Allah dan RasulNya akan membawa kepada tindakan taat kepada perintah-perintahNya. Mentaati perintah-perintahNya juga termasuk ketika kita menjauhi larangan-laranganNya, karena menjauhi larangan termasuk mentaati perintah.

Jika diibaratkan sebuah domino, ketaatan akan memberikan efek domino yang berimplikasi kepada perilaku kehidupan kita. Orang yang mentaati aturan akan cenderung lebih tenang dalam hidup ketimbang orang yang selalu melanggar aturan. Karena aturan dibuat dan diberlakukan adalah untuk kebaikan, bukan keburukan kita.

Hadits diatas secara tidak langsung (mungkin) merupakan sebuah perintah agar kita peduli kepada urusan saudara kita, sehingga Rasulullah memperingatkan kepada umatnya bahwa siapa yang egois, tak peduli kepada urusan orang lain, maka dia bukan golongan kami (Muslim). Bukankah itu sebuah peringatan yang keras, yang mampu membuat air mata menetes karena takut?

Jika Rasul sudah tak mengakui status kemusliman kita, lantas apa yang bisa kita perbuat? Memohon kepada Allah? Bahkan Rasulullah adalah hambaNya yang paling dekat kepadaNya. Maka sebuah peringatan tak seharusnya disepelekan atau bahka tak dihiraukan. Celakalah yang tak menghiraukan peringatan Allah dan beruntunglah yang segera meresponnya dengan baik. Masih ingatkah tentang hadits yang mengatakan bahwa barangsiapa yang memudahkan urusan saudaranya dalam menuntut ilmu, maka ia akan mudahkan jalannya ke Surga? Itu merupakan bentuk perhatian kita terhadap urusan kaum Muslimin lain.

Ingatkah kita dengan surat cinta Allah kepada kita bahwa sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang Mukmin harta dan jiwa mereka dengan ganti Surga? (At Taubah : 111). Apa artinya? Artinya adalah diri kita ini bukan milik kita, seutuhnya. Kita adalah milik Allah. Maka dimanakah berhaknya kita untuk berlaku egois? Maka perhatikanlah urusan saudaramu…

Semoga Allah kuatkan kaki-kaki kita untuk senantiasa melangkah di jalan kebaikan, tegarkan jiwa-jiwa kita menghadapi cobaan, teguhkan hati-hati kita dalam keteguhan iman dan islam, serta satukan kita dalam ikatan suci aqidah islam . Dan semoga kita terhindar dari sifat-sifat buruk kaum Munafiqun seperti yang Allah ceritakan dalam Al Baqarah ayat 14, “Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, ‘kami telah beriman.’. Tetapi ketika mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya mengolok-olok saja.'”.

Wallahul muwafiq…

Penulis: @alfaatih21 (Mahmud Nur Kholis)

Sumber: http://alfaatih21.blogspot.com/2014/09/kita-muslim-yang-bagaimana.html

pendaki

Tugas Kita Hanya Berjuang

By | Puskomnas | One Comment
pendaki

Sumber Gambar: http://tekooo.com/nggak-nyampek-puncak-bukan-berarti-gagal-jadi-pendaki/

Lebih dari 1 tahun yang lalu kami memulai sebuah kepengurusan Lembaga Dakwah Fakultas di kampus kami. Ada banyak cerita menarik yang kami alami selama berada di lembaga ini. Salah satunya adalah ketika kami melakukan kegiatan outbond.

Begini ceritanya. Sebelum outbond dimulai, instruktur outbond menjelaskan permainan apa yang akan kita lakukan. Ia mengibaratkan permainan outbond ini seperti seorang pemborong yang akan mendirikan sebuah bangunan. Ada beberapa hal yang menjadi catatan dalam outbond ini. Pertama, kami harus membagi tim kami menjadi 6 tim kecil dan dibagi ke beberapa pos. Kedua, ada jangka waktu berapa lama bangunan ini harus diselesaikan. Apabila waktu berakhir sedangkan pembangunan belum selesai, maka kami akan mendapat denda. Ketiga, kami diberikan sejumlah modal tertentu untuk membeli alat dan bahan, sehingga kami harus benar-benar cermat dalam membeli alat. Tentu tiap alat memiliki harganya masing-masing.

Tujuan akhir dari game ini adalah mengeluarkan bola pingpong yang berada pada pipa air berdiri yang dilobangi. Kami harus mengisi pipa tersebut dengan air hingga bolanya keluar, bersamaan dengan tumpahya air. Untuk membawa air ini dari sungai menuju ke titik akhir permainan, kami harus melewati beberapa pos dan menggunakan beberapa cara. Tiap tim kecil yang dibentuk tadi memainkan 1 cara. Tim 1 mengambil air dari pos 1 ke pos 2. Tim 2 dari pos 2 ke pos 3 dan seterusnya. Mereka harus terus mengambil air tanpa berhenti.

Pada awalnya kami berhasil menjalankan game ini sesuai dengan rencana yang kami susun. Semuanya berjalan lancar. Bola sedikit lagi akan bisa dikeluarkan. Waktunya pun masih tersisa banyak. Melihat hal ini, ketua tim berpikir bahwa keberhasilan yang sudah di depan mata ini merupakan keberhasilan setiap elemen tim, sehingga ia merasa semua tim harus melihat dan merasakan keberhasilan ini. Akhirnya ia meminta seluruh tim kecuali tim 6 untuk berhenti bekerja dan bersama-sama menyaksikan tim 6 yang sebentar lagi akan mengeluarkan bola.

Lalu apa yang terjadi?

Fatal! Air di dalam pipa bocor! Padahal suplai air sedang terhenti. Akibatnya, air di dalam pipa justru semakin berkurang. Akhirnya, ketua tim memerintahkan semua tim untuk kembali ke posisinya dan melanjutkan pekerjaannya masing-masing. Beberapa waktu kemudian proyek ini berhasil diselesaikan. Bola berhasil dikeluarkan dari dalam pipa. Tapi waktu yang dibutuhkan melebihi batas yang ditentukan dan tidak semua tim menyaksikan bola keluar dari pipa.

***

Ikhwah fillah, ada 1 pelajaran berharga yang kami ambil dari permainan itu. Kita sering mendengar bahwa jalan dakwah adalah jalan yang panjang, bahkan lebih panjang dari usia kita. Bisa jadi kita tidak akan menyaksikan saat-saat dimana kemenangan dakwah datang. Apa yang kita lakukan saat ini, mungkin tidak akan kita rasakan hasilnya. Sebab, tugas kita memang hanya berusaha, dan berdoa atas usaha-usaha yang telah kita lakukan. Perkara hasil adalah murni hak Allah.

 “Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (QS. Al-Qashash: 56)

Namun, apakah dengan begitu kita akan menyurutkan semangat kita? Padahal berjuang saja sudah merupakan kemenangan. Kemenangan atas rasa takut, kemenangan atas sifat pengecut, kemenangan atas cinta dunia, dan kemenangan atas diri sendiri.

Dan tidakkah kita tergiur dengan janji-Nya? Padahal tidak ada yang lebih menepati janji selain Allah.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. .” (QS. At-Taubah : 111)

Ikhwah fillah, jalan dakwah tidak ditaburi dengan bunga-bunga. Tetapi, ia merupakan satu jalan yang panjang dan penuh halang rintang. Hal yang kita perlukan adalah usaha dan kerja keras yang terus berkelanjutan. Hasilnya terserah kepada Allah di waktu yang dikehendaki-Nya. Mungkin kita tidak akan dapat melihat natijah serta hasilnya ketika kita masih hidup. Sesungguhnya kita hanya disuruh beramal dan berusaha, tidak disuruh melihat hasil dan buahnya. (Mustafa Masyhur – Tariq Ad Dakwah)

Penulis: Aristiawan

IMG-20150817-WA0025

Memperingati 70 Tahun Kemerdekaan Indonesia

By | Puskomnas | No Comments

IMG-20150817-WA0025

“Atas nama bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta.” Riuh dan sorak-sorai bergema begitu keras menyambut usainya dibacakan kalimat terakhir dari naskah Proklamasi itu oleh The Founding Father bangsa Indonesia, Ir. Soekarno.

Radio-radio di seluruh nusantara pun tak ketinggalan menyiarkan sebuah berita besar bagi dunia. Berita yang menyatakan bahwa sebuah bangsa baru telah lahir. Negara baru telah didirikan. Semua masyarakat di Indonesia menyambut gembira ‘kemenangan’ ini. ‘Kemenangan’ yang telah lama dinantikan setelah lebih dari 350 tahun mengalami penjajahan dan penyiksaan yang pahit oleh berbagai bangsa dan negara.

Rempah-rempah direbut. Pribumi dipaksa bekerja keras tanpa bayaran. Kekayaan alam ‘dilucuti’. Banyak masyarakat yang mati karena kelaparan. Banyak pula yang mati karena siksaan dan penindasan yang tak terpikirkan kapan akan berakhir.

Namun ditengah perihnya penindasan itu, muncullah orang-orang yang ingin menyudahi rasa sakit di bumi pertiwi. Mereka mulai menampakkan diri sebagai wujud perlawanan bangsa Indonesia. Mereka tak hanya bertarung dengan fisik, tetapi mereka juga bertarung dengan akal pikiran. Mereka merumuskan strategi. Mereka memikirkan bagaimana cara untuk menghentikan dan membebaskan negeri tercinta ini dari penjajahan. Mereka adalah orang-orang yang kita kenal sebagai Pahlawan Kemerdekaan.

Tokoh-tokoh besar dan peristiwa-peristiwa besar lahir pada zaman perjuangan ini. Bung Tomo dengan perjuangannya di Surabaya, perang gerilya Jenderal Soedirman, Soekarno dengan perumusan dasar negaranya, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh yang mungkin bahkan belum kita kenal sama sekali. Mereka adalah pahlawan bagi negeri ini. Dengan gigihnya mereka mempertaruhkan pikiran, waktu, tenaga, harta, bahkan nyawa hanya untuk satu kata, MERDEKA.

Hingga pada akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945, tercapailah sudah cita-cita mereka. Kemerdekaan dikumandangkan. Penantian panjang dan perjuangan tak sia-sia dilakukan. Lahirlah sebuah negara dengan nama INDONESIA, dengan bendera MERAH PUTIH sebagai identitasnya.

Kini, tak terasa 70 tahun sudah kita merasakan kebebasan. Kebebasan akan penindasan, kebebasan akan penjajahan fisik, kebebasan akan kekejaman bangsa lain. Saat ini, kita berada pada masa-masa yang menyenangkan. Tak perlu lah mengangkat senjata, melempar bom, apalagi sampai memikirkan bagaimana caranya esok kita berjuang.

Kita sekarang berada pada masa-masa yang begitu nyaman. Cukuplah memikirkan hidup sendiri. Tak perlu bersusah-susah membantu orang lain, apalagi sampai memikirkan bagaimana caranya mengurangi penderitaan mereka.

Namun, ada satu hal yang kita abaikan. Berada pada masa yang nyaman ini, seringkali membuat kita terlena. Seringkali membuat kita lupa. Merasa tenang karena tak perlu ada darah yang tumpah demi perjuangan. Hidup dijalani dengan santai. Dengan seadanya. Tak ada effort lebih untuk memaksimalkan hari. Padahal waktu tak bisa kembali. Dengan ringannya kita mengatakan, “Masih ada besok. Santai saja….” Hingga pada akhirnya hilanglah kesadaran bahwa dalam setiap hari ada kewajiban yang harus kita lakukan, yang apabila ditinggal, kewajiban itu akan menumpuk dan tak kunjung selesai dikerjakan.

Dengan berada pada masa yang nyaman ini kita lupa, bahwa bangsa ini tidak lahir dengan sendirinya. Negara ini tidak berdiri dengan sendirinya. Ada banyak darah yang tumpah. Ada banyak air mata yang mengalir. Ada banyak peluh yang menetes dari tubuh. Ada banyak ide-ide yang berkecamuk dalam pikiran.

Jika kita benar-benar berpikir dengan jernih, kita akan merasakan perasaan malu dalam diri kita. Kita akan merasa malu, karena kita berpikir, betapa lancangnya kita ‘berdiri’ di atas banjir darah dan tulang belulang para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan, tanpa melakukan pekerjaan-pekerjaan besar yang memajukan negeri ini.

Tanpa kita sadari, mungkin ternyata apa yang lakukan hanyalah hal-hal yang membuat diri kita bahkan negeri ini makin terpuruk. Kita mungkin tidak menyadari bahwa ternyata selama ini kita menjadi part of the problem bukan part of the solution.

Teringat sebuah kata-kata penyemangat dari presiden pertama kita, Bapak Ir. Soekarno. Beliau mengatakan, “Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncangkan dunia!”

Sebuah kalimat yang berisikan penyadaran kepada kita, bahwa setiap diri kita mempunyai potensi. Apalagi sebagai pemuda. Jika menggunakan kalimat yang disampaikan Bung Karno, kita dapat menghitung, besarnya potensi yang dimiliki seorang pemuda adalah seratus kali lipatnya potensi orang tua. Dengan potensi seeratus kali lebih besar ini, maka tidak mungkin kita diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya untuk tugas yang remeh temeh.

“ Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:

 “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” …” (Q. S. Al-Baqarah: 30)

‘Khalifah’. Sebuah kata yang mengingatkan kita akan misi besar yang kita bawa. Kata yang kita identikkan dengan arti pemimpin. Maka, seperti apa kita memaknai kata pemimpin? Pemimpin bukanlah orang yang sekedar memegang jabatan tertinggi dan berkuasa. Bukan. Itu adalah pimpinan, bukan pemimpin. Pemimpin bukan pula orang yang sekedar menyuruh, lalu bila ada kesalahan menghukum. Bukan. Itu inspektur namanya, bukan pemimpin.

Dalam buku-buku kepemimpinan, pemimpin diartikan sebagai seorang yang memberi pengaruh kepada orang lain. Oleh karena itu, syarat-syarat untuk menjadi pemimpin yang baik pun tak mudah. Karena seorang pemimpin harus bisa memberikan 4 hal pada orang yang dipimpinnya. Pertama keteladanan. Kedua kompetensi. Ketiga visi. Keempat inspirasi. Selain itu, pemimpin adalah ‘wajah’ dari masyarakat dan negeri yang dipimpinnya. Bagaimana kondisi masyarakat dalam sebuah negeri, dapat dilihat dari pemimpinnya.

Maka dari itu, kita sebagai pemuda Indonesia adalah harapan-harapan baru. Kita adalah ‘wajah’ masa depan Indonesia. Kita adalah ‘potret’ masa depan Indonesia. Bagaimana keadaan Indonesia di masa mendatang dan bagaimana dunia memandang Indonesia di masa depan, ditentukan oleh para pemudanya saat ini.

Mengingat dua pertanyaan di atas, marilah kita menjawab sepasang pertanyaan lagi. Jika dua keadaan tadi ditentukan oleh kondisi pemudanya, apakah ada alasan bagi kita saat ini untuk bersantai-santai dan meninggalkan tugas besar kita? Adakah alasan bagi kita untuk tidak mengalami perkembangan setiap harinya?

Kita sebagai pemuda Indonesia adalah ‘arsitek-arsitek’ baru, yang akan merancang sebuah Indonesia yang indah dan maju. Indonesia yang bukan hanya mampu menyelesaikan berbagai krisis yang ada dalam negerinya, tetapi juga menjadi kontributor bagi peradaban dunia.

Maka dari itu, di momen mengingat kemerdekaan yang sudah berjalan 70 tahun ini, marilah kita sama-sama melakukan sebuah refleksi. Kita menyadarkan kembali diri kita akan sejarah masa lalu yang penuh dengan perjuangan, dan kita jadikan itu sebagai ‘bahan bakar’ semangat kita untuk membangun Indonesia yang maju dan sejahtera.

Marilah sama-sama kita mengembangkan potensi diri kita. Kita sama-sama membangun negeri tercinta. Meskipun dengan pemikiran yang berbeda-beda, kita tetap berada dalam satu semangat yang sama. Karena hanya ada satu kata, INDONESIA.

Sebuah kalimat indah meluncur dari lisan seorang bijak, Umar Ibn Al-Khattab radhiyallaahu’anhu. Beliau mengatakan, “Setiap kali aku menemui masalah-masalah besar, yang aku panggil adalah anak muda.”

Negeri kita sedang menghadapi masalah-masalah yang serius, dan yang mampu menyelesaikannya adalah para pemudanya. Oleh karena itu, marilah kita berada dalam satu semangat, yaitu semangat membangun Indonesia. Dan mari dengan lantang kita bersama meneriakkan, “BANGKIT NEGERIKU! HARAPAN ITU MASIH ADA!”

-FSLDK INDONESIA

BACA 25

Gebrakan Terdahsyat Sepanjang 70 Tahun Indonesia Merdeka

By | Puskomnas | No Comments

BACA 25
 

Program ini sudah kami uji cobakan sebelumnya. Dan hasilnya? Program ini bisa menjadikan seseorang yg awalnya tidak pernah membaca buku sama sekali menjadi mampu melahap 5 buku Dalam 3 minggu dengan ketebalan rata-rata 225 halaman!

Beginilah kondisi bangsa kita. Mengutip apa yg disampaikan sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia, Retno Lestyart,  berdasarkan hasil survei Unesco di tahun 2014, anak-anak Indonesia hanya membaca 27 halaman buku per-tahun! Itu artinya, mereka perlu 15 hari untuk membaca 1 halaman saja! Sedangkan anak-anak Finlandia? Mereka hanya perlu 5 hari untuk melahap 300 halaman buku! Maka tak heran, di tahun 2014 lalu, saat UNDP merilis Human Developement Index negara2 di dunia, Indonesia terpuruk di urutan 108 dari 187 negara di dunia! Pertanyaannya, akankah kita berharap banyak dg kondisi seperti ini?

Rekan-rekan sekalian, bangsa besar selalu menyimpan orang2 besar yg ada di dalamnya. Jangan dulu berbicara tentang Indonesia berkualitas  kalau kita blm selesai dg urusan kita meningkatkan kualitas diri kita. Tentu bukanlah tanpa alasan, saat Allah memilih kata “iqro'” sebagai wahyu pertama yg dihadiahkan kepada kita. Karena Allah menjawab sendiri di surat yang lainnya, bahwa Dia akan meninggikan orang2 yg berilmu pengetahuan beberapa derajat. Itu artinya, saat kita bertanya bagaimana cara mengangkat derajat suatu negara, maka pastikan bahwa negara itu diisi oleh orang-orang yang berilmu pengetahuan! Dan kita semua sepakat, bahwa buku adalah jendela ilmu. Sehingga, kalau mau negara kita maju, dekatkan saja rakyatnya kepada buku!

Rekan-rekan sekalian.. Dalam rangka mensyukuri karunia 70 tahun kemerdekaan bangsa ini, kami Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia ingin memberikan kado terbaik kami, yang kami harap mampu menjadi solusi untuk masalah yg sedang melanda negeri ini. Kami jg mengajak kepada seluruh masyarakat khususnya mahasiswa untuk turut menghadiahkan kado ini untuk Indonesia. Apa kadonya?

Ini dia! Gerakan Nasional Terdahsyat Sepanjang Indonesia merdeka! Gerakan Nasional “#BacaDuaLima”

Apa itu #BacaDuaLima? Ini adalah gerakan membaca buku duapuluh lima halaman perhari. Coba bayangkan. Usia produktif bangsa kita saat ini sekitar 112 juta jiwa. Jika setiap orang membaca buku 25 halaman perhari dan rata-rata satu buku adalah 300 halaman, maka rakyat  Indonesia bisa membaca lebih dari 3 milyar buku pertahun! Bandingkan dengan sekarang. Bukankah ini hebat?  

Lalu, Kapan kita mulai? Sekarang juga! 

Caranya? Klik Link berikut ini: http://twibbon.com/Support/bacadualima. Rubah profil picture sosmed kita, dan siarkan kepada seluruh dunia, bahwa mulai tanggal 17 Agustus 2015, rakyat Indonesia telah bertekad untuk meningkatkan budaya membacanya dan siap untuk menyongsong takdir kemenangannya!

Yok, rame rame sukseskan gerakan ini! InsyaAllah, tak lama lagi bangsa kita benar-benar menjadi raja!

Atas nama FSLDK Indonesia,

Muhammad Syukri Kurnia Rahman

*more info: Facebook.com/bacadualima

no image added yet.

Bercakap Tentang Adab

By | Gagasan | No Comments

Munajat-UN_MAN-Tambakberas-Jombang
(MAN Tambakberas Jombang)
 

Ceritanya hari itu seorang professor masuk ke kelas kami. Mengajar sebuah pelajaran sederhana: pengukuran tekanan darah. Bahasa awamnya, tensi.

Beliau cukup sepuh dibanding kami yang baru semester satu. Ekspektasi kami sederhana: ini orang pasti jagoan.

Izinkan saya potong sejenak. Secara umum, di dunia kami ada dua cabang besar dalam pembagian jalur kelimuan. Pertama jalur akademik, dan kedua jalur profesi. Yang pertama ini berkutat dengan pendidikan dan penelitian. Mereka yang memilihnya akan menjadi akademisi atau peneliti. Dan yang kedua akan berkutat dengan kasus-kasus di lapangan. Mereka yang menekuninya akan menjadi seorang klinisi. Seorang calon dokter bisa memilih satu jalur atau dua-duanya. Menjadi peneliti, klinisi, atau klinisi yang terus meneliti.

Nah, professor kami tadi, beliau murni seorang peneliti. Sama sekali tidak bersentuhan dengan urusan klinis. Mungkin tersebab tidak pernah lagi memegang tensimeter –karena bukan klinisi-, beliau sedikit gelagapan saat mengajarkan tentang cara mengukur tekanan darah. Sesuatu yang –bahkan sebenarnya-, anda tidak harus menjadi dokter untuk bisa melakukannya.

Begitu beliau selesai dengan kelasnya, mulailah satu persatu reaksi bermunculan. “Amarah” yang dipendam selama pelajaran berlangsung kini seperti menemukan muaranya.

“Gimana sih, masak iya jadi dosen ngajarnya kayak gitu?”. Atau “Masak iya sih ngajar tensi aja nggak bisa?” Dan berbagai macam “umpatan-umpatan” lain yang sepertinya sudah tak kuasa ditahan lebih lama lagi.

Wajar sebenarnya. Toh professor itu memang tidak bisa memenuhi ekspektasi murid-muridnya. Tapi petanyaannya, apakah pantas? Nah, mari kita pelajari.

——

Kita tahu apa itu adab. Sederhananya, adab adalah bagaimana kita menempatkan diri kita pada sesuatu yang sedang kita hadapi. Itu adab.

Seberapa penting pembahasan adab ini kita masukan pada saat kita membahas tentang tema menuntut ilmu?

Maka jawabannya adalah persis seperti apa yang disampaikan oleh abddullah ibnul mubarak. Kata beliau, “belajarlah adab sebelum belajar ilmu, karena ilmu tidak akan berguna tanpa adab. Demi allah, jika suatu saat kita mati saat mempelajari adab meskipun kita belum selesai mempelajari ilmu, maka itu sudah cukup bagi kita untuk menghadap Allah.”

Suatu hari ibnu sina sedang mendengarkan gurunya menyampaikan pengajarannya. Dengan kepandaian tingkat dewa yang dia punya, dia ajukan pertanyaan kepada sang guru, dengan maksud untuk menguji pemahaman gurunya. Jadi sebenarnya dia tahu apa jawabannya, namun dia ingin menguji seberapa hebat kemampuan gurunya. Tiba-tiba berdirilah seorang murid senior dan mengatakan tepat di depan ibnu sinna              

“perbaikilah adabmu, wahai putra sinna. Demi Allah aku sendiri yang akan menjawab pertanyaanmu. Tidak perlu guru yang turun tangan menjawab pertanyaanmu!”

Berbicara tentang adab menuntut ilmu, maka sebenarnya kita sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih penting daripada ilmu itu sendiri.

Imam syafi’i dengan sangat cemerlang mengajari kita tentang hal ini. Beliau mempunyai dua guru. Imam malik di madinah, dan Muslim bin Khalid Az-Zanji di makkah. Di dua tempat ini, seperti umumnya orang yang sedang berguru, imam syafi’i diberi kesempatan “magang” mengajar di majelis sang guru, dengan didampingi oleh beliau. Ada dua kursi disana. Satu untuk imam syafi’i, satu untuk sang guru. Di tengah-tengah beliau mengajar, beliau selalu menoleh ke arah sang guru, memastikan bahwa apa yang beliau ucapkan sudah tepat, dan meminta koreksi jika apa yang beliau sampaikan ternyata keliru. Itu waktu gurunya masih hidup.

Hebatnya, begitu kedua gurunya meninggal, beliau sama sekali tidak merubah kebiasaan itu. Tetap ada dua kuris di sana. Yang satu kursi diduduki beliau, yang satu kursi dibiarkan kosong (seolah-olah sang guru akan datang dan menduduki kursi itu). Bahkan saat tengah asik mengajar, beberapa kali beliau menoleh ke kursi kosong itu, meminta persetujuan dan koreksi, seolah-olah sang guru sedang ada di sana mendampinginya. Hebat bukan?

Pada akhirnya kita mengerti. Kunci rahasia mengapa imam syafi’i begitu dihormati adalah karena beliau juga sangat menghormati guru-gurunya. Menempatkan mereka pada posisi dimana seharusnya mereka ditempatkan. Memperlakukan mereka dengan sebaik-baik perlakuan, dan memberi penghormatan dengan setulus-tulus penghormatan.

Mungkin akan selalu segar di ingatan kita bagaimana seorang Syafi’i Muda, dengan azzam kuat yang beliau miliki, beliau membeli kitab al muwatho’ karangan imam malik. Lalu, begitu kitab itu ada di genggaman tangan, dia hafalkan kitab itu dari awal hingga akhir. Setelah itu dia pergi ke imam malik. Untuk apa? Untuk belajar al muwatho’ yang sudah dia hafal di luar kepala.

Namun Syafi’i muda bukanlah kita, yang –jangankan hafal-, tau sedikit tentang sesuatu saja, kadang kita merasa tidak perlu belajar lagi. Sekali lagi Syafi’i muda bukanlah seperti kita. Walau dia hafal betul semua detail tulisan di al muwatho’, dia tetap dengan seksama mendengar penjelasan imam malik. Sebenarnya dia sudah tahu kata-kata apa yang akan disampaikan sang guru, namun dengan tekun dia dengarkan apa yang diajarkan gurunya itu, tanpa merasa sudah serba tahu. Hingga akhirnya imam malik yang justru menyadari “kejanggalan” ini

“nak, sepertinya kamu sudah tidak perlu aku ajari lagi. Sekarang gantian, kamu saja yang mengajar disini”

Dan ini yang menarik. Imam malik, sang pengarang kitab al muwatho’ itu, beliau masih “membutuhkan” catatan saat mengajarkan kitabnya sendiri. Sedangkan syafi’i? Dia tak perlu catatan lagi untuk mengajarkan kitab yang bahkan bukan karangannya.     

Ikhwah, dari Imam syafi’i kita belajar tentang sebuah hal besar. Ada sebuah rangkaian paling penting dalam keberjalanan kita menuntut ilmu. Dia dinamakan adab, utamanya adalah adab terhadap guru-guru kita yang dengan rela membagi ilmu yang mereka punya.

Tolak ukur kebermanfaatan ilmu kita adalah, dengan adanya ilmu yang kita punya, kita semakin dekat kepadaNya. Maka otomatis, kita akan semakin rendah hati, karena kita benar-benar menyadari bahwa kita tidak akan menjadi apa-apa kalau Allah tidak mengizinkannya. Oleh karena itu, ketika ilmu yang kita punya justru membuat kita berani seenaknya menghina yang lainnya, menganggap rendah guru-guru kita, dan merasa tidak perlu lagi mendapat nasihat dari saudaranya, masihkah ia bisa dikatakan memberi manfaat untuk kita? Mari bertanya kepada diri kita masing-masing. Bisa jadi, belum manfaatnya ilmu kita selama ini hanya karena sebuah hal sederhana: buruknya adab kita. Maka, #MariBerbenah.

@FsldkIndonesia

@densyukri

Categories