LDK.Saya! Archives - FSLDK Indonesia

7952520a-71f6-4427-8f13-10e66bd602b6

Terpaksa Ngamen Saat Jadi Mahasiswa, Kini Beliau jadi Pengusaha Sukses

By | Prestasi | No Comments

Fitra

Fitra Jaya Saleh

“Ya Allah, jika memang Kau menginginkanku mati hari ini, maka matikanlah aku sebagai syuhada. Dan jika Kau izinkan aku tetap hidup, maka jadikanlah hidupku penuh kemanfaatan bagi orang lain”

-Fitra Jaya Saleh, doa yang diucapkan sambil berlari di tengah buruan peluru, saat meletusnya Konflik Ambon-

Beliau asli orang timur. Lahir dan merasakan manisnya perjuangan dari tanah Maluku. Ayahnya seorang penjahit, dan ibunya seorang penjual baju. Tentu beliau bukan berasal dari keluarga kaya. Lihat saja perjuangan beliau yang harus turun tangan membantu perekonomian keluarga. Beliau yang waktu itu masih seumuran SD-SMP harus berbagi tugas dengan Ibunya. Sang Ibu menjual baju dengan cara kredit, dan beliau -yang terlahir dengan nama Fitra Jaya Saleh- bertugas menjadi penarik setoran dari mereka yang menghutang baju ke sang ibu. Tentu bukan pekerjaan yang ringan untuk anak seusia itu. Bayangkan saja, anak sekecil itu harus datang dari satu rumah ke rumah yang lain untuk menagih hutang. Tak jarang pula rumah yang beliau kunjungi –saking jauhnya- harus ditempuh dengan angkot. Tapi inilah hebatnya Mas Fitra. Beliau memilih jalan kaki, sejauh apapun rumah yang harus didatangi. Beliau tidak rela uang yang dikumpulkan dari rumah ke rumah –yang tak jarang juga dapet rumah zonk- itu harus berpindah tangan lagi ke sopir angkot. Hehe. Anak sekecil itu sudah benar-benar memahami arti sebuah perjuangan. Ini kan hebat!

Seperti itu kira-kira, gambaran singkat masa kecil yang dialami mantan presiden BEM Fakultas Ekonomi UNS ini. Sampai kemudian, ada dua tragedi beruntun yang menghampiri kehidupan beliau: sang ayah meninggal, lalu meletuslah Konflik Ambon. Beliau menceritakan dengan sangat detail bagaimana dulu keadaan yang beliau alami saat konflik. Mulai dari apa yang beliau lakukan saat meletusnya konflik tersebut, hingga sebuah cerita yang tak pernah beliau lupakan sampai saat ini. Waktu itu, di tengah-tengah medan peperangan yang sedang memanas, beliau bersama rekan-rekannya yang lain mendapatkan hujan peluru yang luar biasa. Sambil berlari ketakutan, beliau menyaksikan bahwa rekan-rekan di kanan-kirinya mulai bertumbangan. Satu persatu mereka kehilangan nyawa. Di tengah-tengah keadaan mencekam ini, beliau mengucapkan sebuah doa yang amat menakjubkan “Ya Allah, jika memang Kau menginginkanku mati hari ini, maka matikanlah aku sebagai syuhada. Dan jika Kau izinkan aku tetap hidup, maka jadikanlah hidupku penuh kemanfaatan bagi orang lain”

Dan, kata pemilik raihanshop.com kepada kami saat diskusi sore tadi, “Saya tidak tahu apa yang diinginkan Allah. Saya hanya ber-husnudzon bahwa kesempatan hidup ini diberikan agar saya bisa menebarkan manfaat kepada yang lainnya.” Beliau mengucapkan dengan penuh keyakinan. Dan saat itulah, kami terpesona. Hehehe.

Kita tahu bahwa konflik di Ambon waktu itu berlangsung cukup lama, dan tentu keadaan sangat tidak kondusif untuk aktivitas pendidikan. Maka Mas Fitra memutuskan untuk keluar dari Ambon. Kemana? Jakarta. Kenapa memilih Jakarta? Tidak tahu. Disana tinggal dengan siapa? Tidak tahu. Ke Jakarta dengan biaya siapa? Tidak tahu. Semua serba tidak tahu. Pokoknya, beliau hanya punya Allah, dan bagi beliau, modal itu sudah cukup untuk memulai sebuah perjalanan kehidupan.

Akhirnya beliau ke Jakarta sendirian tanpa kenalan. Bermodalkan uang tabungan sang nenek –entah ini tabungan beliau berapa tahun-, orang yang pernah menaikkan omset suatu perusahaan dari 2 Milyar menjadi 14 Milyar ini, berangkat ke Jakarta dengan kapal laut. Empat hari empat malam beliau di atas lautan. Begitu sampai di Jakarta, celingak-celinguk kanan kiri, tanya sana-sini, dipertemukanlah beliau seorang saudaranya dari Ambon. Saudaranya ini sangat membantu kehidupan Mas Fitra selama di Jakarta, hingga beliau berhasil masuk ke SMAN 13 Jakarta. Disana perjuangan beliau tidak berhenti walau sejenak. Tinggal di tempat saudara yang juga bukan orang kaya, beliau harus berjualan minyak di pasar dan menjadi loper koran kalau mau tetap hidup dan sekolah. Itu semua beliau alami, hingga suatu hari, saat sedang berjaga di kios, beliau melihat ada pengumuman UMPTN, dan nama beliau ada disana! Diterima di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta. Langsung saja, seisi pasar menyalami dan mengucapkan selamat kepada beliau. Ceritanya, ada lebaran dadakan hari itu. Hehe.

Lepas dari SMA, beliau ke Solo untuk melanjutkan pendidikan. Ternyata, episode perjuangan itu tak kunjung berakhir. Sekali lagi Mas Fitra menunjukkan, bahwa semua ini bukanlah tentang secepat apa kita berlari, tapi seberapa lama kita mampu bertahan untuk tetap berdiri. Tanpa modal apapun, beliau nekat kuliah di Solo. Yang unik adalah saat saya tanya bagaimana dulu membayar uang masuk dan keperluan lain untuk kuliah. Kata beliau “Saya lupa. Hehe”. Iya deh, mas.. Hehe.

Ini yang paling seru: karena harus tetap hidup, maka sejak semester dua beliau menjalankan dua aktivitas yang menghasilkan uang. Pertama, beliau dan 4 orang rekannya menjalankan usaha pembukuan untuk toko-toko di sekitar Solo. Hanya saja, pemasukan dari kantong ini hanya mengalir saat ada proyek. Di luar itu, beliau harus memutar otak. Dan, karena memang tidak ada pilihan lain, beliau terpaksa, sekali lagi, benar-benar terpaksa untuk menjadi seorang pengamen! Kisah mahasiswa semester 2 ngamen di hari pertamanya ini yang tadi membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Jadi ceritanya, Mas Fitra berangkat ke Terminal Tirtonadi dengan gitar pinjaman. Disana, dengan wajah tanpa dosa, langsung saja dia naik bis yang sedang berhenti. Lagu pertama selesai, dia lihat ke jendela. Dan, wow! Segelintir pengamen lain telah menunggunya di bawah. Ternyata, itu adalah lahan milik sekelompok pengamen! Dan beliau baru sadar bahwa sedang masuk ke dalam kandang singa. Gawat! Tapi beliau yakin bahwa selalu ada jalan keluar. Lalu apa yang beliau lakukan? Menyanyikan lagu kedua! Ternyata ini fatal. Selesai lagu kedua, komplotan pengamen itu justru semakin banyak. Karena tak tahu harus bagaimana lagi, beliau malah teruskan ke lagu yang ketiga! Sumpah ini benar-benar konyol. Jelas, justru semakin banyak pengamen yang berkumpul untuk siap-siap menghajar beliau.

Karena bis sudah mau berjalan, mau tak mau dia harus turun. Dan benar, di luar bis, pengamen-pengamen yang sejak tadi berkumpul itu sudah siap dengan bogem mereka masing-masing. Sebelum keluar dari bis, beliau berdoa untuk solusi yang sepertinya sudah tak mungkin datang lagi. Namun Allah tetaplah Allah Yang Maha Baik. Solusi itu akhirnya datang juga! Beliau tiba-tiba teringat cerita Hudzaifah Bin Yaman, sahabat Rasulullah Shalallaahu ‘Alayhi Wa Sallam yang diperintahkan untuk menjadi mata-mata. Dan itu yang beliau praktikkan. Maka begitu keluar dari bis, beliau katakan pada pengamen-pengamen yang mengerubunginya itu.

“Sebentar-sebentar. Saya ini mahasiswa, sedang penelitian. Mana bos kalian? Saya mau ketemu. Kamu, bosnya? Atau kamu? Atau kamu yang di belakang itu?” Dengan santainya beliau tunjuk muka mereka satu per satu. Yang awalnya emosi, kini mereka malah terkagum-kagum “Wah, ada mahasiswa. Mau penelitian, lagi! Kan keren.” begitu kira-kira. Maka akhirnya, beliau diantar ke bos para pengamen itu. Bocah semester dua ini pun sok-sok-an melakukan wawancara penelitian. Amanlah nasib beliau saat itu. Namun, uang hasil ngamen hari itu terpaksa diberikan karena si bos mengatakan “Mas, anda kan mahasiswa, udah nggak butuh duit itu kan? Sini, duitnya ditinggal aja”. Ya udah deh, 1500 melayang begitu saja. pasca kejaidan itu, beliau tak pernah ngamen di bis yang sedang berhenti. Jadi beliau selalu mencari bis yang sedang berjalan sebagai panggung beliau.

Sekali lagi, beliau melakukan semua ini karena terpaksa. Bagaimana tidak, beliau sering menangis sebelum tidur karena harus memaksa matanya terpejam dalam keadaan perut melilit karena lapar. Maka beliau berusaha melakukan apapun yang beliau bisa lakukan. Dan ngamen ini beliau lakukan sampai di semester tiga. Memasuki semester berikutnya, Mas Fitra mulai mendapatkan penghasilan lain dari bisnis dan beasiswa. Beliau juga mendapatkan beasiswa ikatan dinas dari sebuah BUMN yang sudah “menjamin” kehidupannya selepas lulus kuliah.

Satu hal besar yang tak bisa dilepaskan dari seorang Mas Fitra adalah: keberanian dalam membuat keputusan besar. Salah satu diantara keputusan besar itu adalah, menikah di semester enam! Bayangkan, pemuda dua puluh tahun yang belum lulus dan bukan anak orang kaya ini berani meminang perempuan dalam usia semuda itu. Keputusan besar lain yang beliau ambil selain itu adalah: keluar dari perusahaan setelah dua tahun bekerja karena ingin menjadi pengusaha! Coba kita lihat. Waktu beliau keluar itu, Mas Fitra harus menanggung seorang istri dan seorang anak! Bagaimana mungkin seorang pengangguuran harus menghidupi seorang istri dan seorang anak? Maka beliau harus bertindak. Lalu apa yang beliau lakukan?

Selama menjadi pengangguran, beliau selalu berdandan rapi dan keluar rumah sebelum jam 6 pagi. Kemana? Tidak tahu. sama seperti waktu beliau berangkat ke Jakarta. Beliau tidak tahu. Beliau hanya tahu bahwa beliau punya Allah yang siap menuntun jalan beliau. Bahkan saat di luar rumah pun, beliau bingung, “Hari ini gua jalan ke kanan apa ke kiri yak?” Ampun, deh. Jagoan banget abang kita ini. Kata beliau “Pokoknya jangan sampai kita itu diam. Bismillah, jalan aja dulu. Mau nanti akhirnya gimana, itu urusan Allah. Rezeki itu ada di depan kita. maka kita harus jalan ke depan agar bisa ketemu. Lha kalau kita diam, gimana mau ketemu?”

Tiga bulan mengalami fase-fase itu, akhirnya sampailah beliau pada sebuah kejadian unik. Oiya, saya lupa menyampaikan sesuatu. Jadi, Mas Fitra ini mempunyai kemampuan Interpersonal yang benar-benar diatas rata-rata. Easy going banget lah pokoknya. Saat mahasiswa saja, beliau bisa menjalin hubungan yang sangat dekat mulai dari satpam, sesama dosen, hingga kepada rektor. Pernah suatu kejadian, waktu jadi mahasiswa baru, yang seharusnya masih takut-takut sama dosen, beliau samperin seorang dosen yang badannya gemuk dan dengan santainya mengatakan “Pak, bapak nggak pernah olahraga ya?” Bayangkan. Mahasiswa baru sudah berani seperti itu. Dan apa yang terjadi setelahnya? Sang dosen justru minta diajari renang sama Mas Fitra! Kata Mas Fitra tadi “Alhamdulillah, sekarang beliau udah langsing. Haha.”

Baik, lanjut ke tiga bulan pasca mengalami fase-fase “pengangguran” tersebut. Suatu hari, beliau menghadiri sebuah seminar bisnis. Beliau duduk disamping dua pengusaha. Seperti biasa, beliau membuka obrolan ringan sebelum sesi materi dimulai. Beliau mulai dari orang di sebelah kirinya. Dari obrolan singkat itu, akhirnya beliau tahu bahwa orang ini adalah pengusaha yang omsetnya puluhan juta per bulan. Wah, hebat juga! Lalu beliau bergeser ke orang di samping kanannya. Namanya Pak Haryadi. Setelah ngobrol panjang lebar, Mas Fitra ini memberikan masukan bisnis kepada beliau –yang ternyata adalah pengusaha percetakan-. Kata Mas Fitra “baiknya perusahaan bapak begini dan begini. Karyawannya diberikan ini dan ini, lalu begini-begini” beberapa saran dan masukan bisnis beliau berikan. Pak Haryadi Pun mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan Mas Fitra. Hingga sampailah pada acara inti. Moderator membacakan CV pembicara. Menyebutkan bahwa pembicara yang akan tampil ini adalah seorang pengusaha dengan omset miliran rupiah per bulan. Lalu Moderator itu mengakhiri dengan “Mari kita sambut pembicara kita kali ini, Pak Haryadi! Beri tepuk tangan yang meriah!!”

Jederrr!!!!! Ibarat kena petir di siang bolong. Ternyata, orang yang tadi beliau “ajari” cara berbisnis itu adalah orang kaya raya yang di seminar itu menjadi pembicara! Jelas Mas Fitra malu. Tapi, beliau tidak lari. Selepas acara, beliau meminta maaf. Beliau katakan “Maaf pak, saya tidak tahu kalau ternyata bapak ini orang hebat”. Betapa terkejut Mas Fitra saat Pak Haryadi ini justru mengatakan “Nggak papa mas, Yang Mas Fitra sampaikan tadi benar kok. Besok main ke rumah saya ya.”

Besoknya Mas Fitra main ke rumah Pak Haryadi. Memang benar, beliau kaya raya nggak ketulungan. Gapura rumahnya saja udah kayak gapura RT. Besar luar biasa. Setelah ngobrol sana-sini, Mas Fitra ditanya, “Mas Fitra ada rencana bisnis apa?”. Lalu beliau menyampaikan bahwa ingin membangun Warung Internet. Setelah ditanya berapa biaya untuk membeli tempat dan sebagainya, Pak Haryadi ini mengeluarkan cek senilai 850 juta dan menyerahkannya langsung ke Mas Fitra! “Udah, segera buat warnet, nanti bagi hasilnya kita urus belakangan.”

Allahu Akbar! Rejeki anak sholeh bener dah, bang..

By the way, nama warnetnya adalah Spider Net. Anak UNS pasti tahu warnet ini lah ya. Tapi warnet ini udah beliau jual. Ke siapa? Ke anaknya Pak Haryadi. Balik lagi deh ke keluarga Haryadi. Hehe.

Rekan-rekan @FsdkIndonesia..

Dari bisnis warnet itulah karir pengusaha Mas Fitra dimulai. Mas Fitra kini menjalankan beberapa perusahaan. Satu milik beliau, sedangkan yang lainnya adalah perusahaan orang lain yang beliau garap dengan sangat luar biasa. Kini, Aktivis Dakwah Kampus yang dulu pernah aktif di Badan Pengamalan dan Pengembangan Islam (BPPI) UNS ini adalah pengusaha kaya raya yang telah menginspirasi ribuan orang melalui pelatihan, sekolah bisnis, dan kelas-kelas bisnis yang beliau buka baik melalui online maupun secara langsung.

Dua hal besar yang bisa kita pelajari dari seorang Mas Fitra:

  1. Yakinlah bahwa ketika kita tidak tahu jalan, kita selalu punya Allah Yang Maha Tahu. Maka, saat kita tidak tahu kemana harus melangkah, dekat-dekat saja sama Allah, biar dikasih tahu.
  2. Kekuatan membangun relasi itu adalah modal paling besar yang harus kita siapkan. Allah itu Maha Pemberi Rezeki. Tapi, Dia “perlu” orang lain sebagai sarana penyalurannya. Maka, jika kita mau dapet banyak rezeki, akrabi saja banyak orang, agar lebih banyak saluran rezeki yang terbuka untuk kita. Nah, Rasulullah Shalallaahu ‘Alayhi Wa Sallam paham betul konsep ini, dan beliau ingin agar umatnya juga merasakan manfaatnya. Maka, beliau Shalallaahu ‘Alayhi Wa Sallam perintahkan kita menjalin silaturrahim.

Aktor LDK.Saya! : Fitra Jaya Saleh

Penulis : Muhammad Syukri Kurnia Rahman, S.Ked

——————————————————- Media FSLDK Indonesia —————————————————-

Email : info@fsldkindonesia.org

Fanpage : FSLDK Indonesia

Twitter : @FsdkIndonesia | @JarmusnasFSLDKI

Line : @yok1532s

G+ : FSLDK Indonesia

11402927_1006908705986645_876222872962450174_o

Syukri, Keajaiban Di Balik Setiap Pengorbanan

By | Prestasi | 7 Comments
IMG-20150826-WA0011

Muhammad Syukri Kurnia Rahman

“Ya Allah, Kau telah menunjukkanku awal dari jalan ini. Maka perlihatkan pula padaku, bagaimana akhir dari ujungnya.” –Muhammad Syukri-

Sewaktu SMA, dia pernah menjadi bahan tertawaan seisi kelas lantaran Ujian Akhir Sekolah (UAS) matematikanya mendapat nilai terendah di sekolahnya. Gara-gara itu pula, orangtuanya harus rela dipanggil menghadap ke guru BP. Betapa malu dirinya saat itu, mengingat sang ayah adalah seorang kepala sekolah di sebuah SMA. Meskipun dia mengatakan kepada guru-gurunya bahwa dia mendapatkan nilai itu dengan kejujuran, tapi tak ada yang peduli dengan itu semua. Bahkan ada seorang guru yang juga ikut menertawakannya! Namun dia tetap berjalan. Dia hanya yakin bahwa ketika dia menjalankan apa yang Allah mau, pasti Allah juga akan memberi apa yang dia perlu. Dan memang Allah tak akan pernah tidur! Saat rekan-rekan yang lain kesusahan masuk PTN, Allah menghadiahkan untuknya sebuah tempat di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Tak hanya itu, dia juga mampu mencatatkan namanya menjadi salah satu diantara 8 orang Asisten Laboratorium Fisiologi dan merupakan satu-satunya mahasiswa FK UNS yang mendapat Beasiswa Aktivis Nusantara angkatan 4 dari Dompet Dhuafa. Selain itu, dia juga berhasil mendapatkan beasiswa Bank BRI, memperoleh beberapa penghargaan nasional dan menjadi pembicara tingkat nasional. Dia juga pernah ditunjuk oleh pihak kampus mewakili mahasiswa untuk menjadi pembicara dalam sebuah seminar nasional Al-Qur’an dan Sains bersama imam besar masjid kesultanan Brunei Darussalam di acara Pembukaan Dies Natalis UNS. Saat itu dia menjelaskan tentang Al-Qur’an dan kedokteran di depan rektor, para dekan, dan jajaran ulama jawa tengah. Sungguh sebuah kebanggaan yang luar biasa bagi pemuda yang kemarin sore ditertawakan oleh rekan-rekannya!

Pemuda yang selalu memberikan seluruh uang beasiswanya kepada orang lain itu, juga pernah menjual motornya untuk membelikan motor seorang sahabatnya. Dia kasihan karena sang sahabat harus mencari angkot untuk pergi kemana-mana. Dan Mas Syukri sendiri memilih untuk berjalan kaki! Kini, pemuda yang dulunya menyelesaikan skripsi dan menulis bukunya (bulan depan diterbitkan oleh penerbit ProYou, InsyaAllah) dengan laptop pinjaman ini merupakan mahasiswa fakultas kedokteran pertama yang memimpin forum mahasiswa muslim terbesar di Indonesia, FSLDK Indonesia.

Sobat muda @FsldkIndonesia.. Mari kita hadirkan seorang sosok inspiratif yang punya hobi memberikan uang kaget kepada orang lain ini. Please welcome, Mas Muhammad Syukri, S.Ked..

Merdeka!

Sepertinya akan seru jika kita memulai cerita seorang Mas Syukri dari sini. Berawal dari niatan dia dan empat orang temannya untuk tidak mencontek saat UAS dan UNAS, Mas Syukri membulatkan tekad untuk siap menerima segala konsekuensi logis dari keputusannya itu. Dia tahu kalau dia belum siap menghadapi UAS, apalagi UNAS. Dan dia sadar bahwa dia bukan orang pintar. Maka kalau dia mengandalkan kemampuannya sendiri, urusannya akan sangat panjang dan rumit. Namun dia yakin dengan kekuasaan Allah. Dan ternyata, “bencana” itu akhirnya datang juga. Nilai UAS matematika diumumkan di depan kelas. Disebutkanlah nama siswa dan nilai yang diperoleh. Satu persatu nilai rekan-rekannya dibacakan. Mayoritas mendapat nilai 90, atau setidaknya 80. Tibalah giliran dia. Namanya disebut. Muhammad Syukri Kurnia Rahman. Tak lama berselang, sang pembaca nilai meneriakkan “Merdeka!”. Seisi kelas terdiam sejenak. Hening. Ada sedikit kasak-kusuk tentang pertanyaan “Apa maksudnya merdeka?”. Lalu sang pembaca nilai yang juga temannya sendiri itu mengatakan “Tahun 45! Merdeka! Nilainya 45”. Mendadak kelas riuh. Tertawa terbahak-bahak menggema dimana-mana.

Pemuda desa itu hanya bisa tersenyum pasrah diatas bangku kayunya. Menatap kosong entah kemana. Gejolak hatinya ingin berontak. Lisannya rasanya ingin sekali berteriak, “YA, NILAI SAYA JELEK! Tapi saya terhormat! Saya tidak mencontek seperti kalian!”. Tapi dia menyadari bahwa dia tak punya kuasa untuk mengatakan itu semua. Apalagi kejadian itu bukan yang terakhir. Masih ada nilai biologi, kimia dan pelajaran-pelajaran lain yang juga tak bisa membuatnya tersenyum bangga. Yang lebih menyedihkan, karena nilainya yang mengenaskan itulah, orangtuanya diberi surat panggilan untuk menghadap ke guru BP. Dan -sekali lagi-, itu diumumkan di depan kelas. Betapa malunya dia mengingat sang ayah adalah seorang kepala sekolah SMA. Tapi sekali lagi, dia tak punya kuasa apa-apa. Maka dia hanya bisa menangis di sujud-sujud panjangnya. Dia hanya bisa mengadu pada Allah, harus sampai kapan dia menanggung pahitnya sebuah kejujuran? Dan sebuah perjalanan tentang kejujuran itu ternyata justru ditutup dengan kabar bahwa Mas Syukri lulus UNAS dengan nilai yang benar-benar tidak bisa dibanggakan!

Keyakinan yang menemukan ujungnya.

Pasca itu, Mas Syukri berusaha bangkit perlahan. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa saat kita merapat ke jalan Allah, Dia pasti tak akan meninggalkan kita sendirian. Dia pasti akan menemani kita di jalan itu sampai ujung yang paling akhir. Mas Syukri sadar bahwa dia telah memiliih jalan kejujuran, dan itu adalah jalan Allah, maka pasti tak lama lagi cahaya terang itu akan segera datang. Dia lantas berhijrah ke Malang. Mengikuti persiapan SNMPTN di sana sendirian tanpa teman. Hanya belajar dan berdoa. Tiap hari itu saja yang dia lakukan. Tak pernah terpikir untuk menghabiskan sehari-dua hari untuk jalan-jalan ke suatu tempat hiburan. Dia berpikir sudah terlalu sering merepotkan ayah dan ibunya, maka dia memutuskan bahwa mulai detik itu, dia tak akan melakukan hal itu lagi. Untuk makan saja, dia berhemat habis-habisan. Beli makanan di malam hari, lalu di sisakan separuh untuk sarapan pagi. Begitu terus sampai akhirnya satu hari menjelang SNMPTN, dia mendapat kabar bahwa ada salah seorang saudara yang memerlukan uang untuk tambahan biaya operasi usus buntu. Karena berhemat habis-habisan itulah, uang yang dia punya masih tersisa 600 ribu. Tanpa berfikir panjang, dia kuras seluruh dompet dan uang itu diberikan kepada saudaranya, sambil terus berdoa “Ya Allah, Kau telah menunjukkan awal dari jalan ini. Maka perlihatkan pula padaku, bagaimana akhir dari ujungnya.”

Beberapa pekan berselang, kabar gembira itu benar-benar sampai kepadanya. Allah tidak hanya memberikan satu tempat baginya di perguruan tinggi negeri, tapi juga menempatkannya di fakultas yang menjadi incaran banyak orang, Fakultas Kedokteran. Bayangkan. Seorang Syukri yang baru saja kemarin sore ditertawakan rekan-rekannya, kini berada di tempat yang tak bisa dijangkau mereka yang kemarin menertawakannya. Dia resmi tercatat sebagai mahasiswa Pendidikan Dokter FK UNS angkatan 2011.

Sebuah lompatan besar.

Ternyata, menjalani kehidupan sebagai mahasiswa fakultas kedokteran itu tak semudah yang dibayangkan. Semester satu, dua, tiga, Mas Syukri selalu pulang dengan membawa kesedihan. Tak ada kebanggaan yang bisa dibawa pulang, tak ada kejutan yang bisa diceritakan. Yang ada hanyalah kabar bahwa ujiannya selalu mengulang dan mengulang. Bahkan di semester tiga, dia sudah mengatakan kepada orang tuanya untuk mundur dari FK UNS. Dia tak sanggup lagi menyusul kereta yang melaju begitu cepat ini. Tapi itulah hebatnya Mas Syukri. Dia bagkit sebanyak dia gagal. Maka di semester tiga itu dia berusaha mengoreksi kembali perjalanan hidupnya. Dan dia menemukan satu jawaban menarik: dia terlalu sibuk dengan urusan pribadinya sendiri! Dia teringat sebuah hadits yang mengatakan bahwa barangsiapa memudahkan urusan saudaranya, maka Allah akan memudahkan urusannya.

Dan akhirnya, lompatan besar itu benar-benar dia lakukan! Dia datangi mesin ATM, dan dia kuras semua tabungan yang dia punya. Ada hampir tiga juta waktu itu. Lalu, dia kunjungi satu persatu panti asuhan di Solo. Dia  bagi-bagi uang itu ke mereka, hingga uang di dompetnya tersisa 15 ribu saja! Pekan berikutnya, karena tak punya uang lagi, maka dia kumpulkan baju-baju yang dia punya, lalu dia berikan lagi ke panti asuhan yang sama. Pekan berikutnya lagi, dia belikan anak-anak yatim itu susu segar dan makanan ringan. Hampir setiap pekan dia mengunjungi panti asuhan. Menyapa mereka, mendengar ceritanya, dan memberikan apapun yang dia punya. Dan sekali lagi, Allah benar-benar tak akan menyalahi janjinya. Semenjak uang di dompetnya hanya tersisa 15 ribu itu, satu demi satu keajaiban mendatangi Mas Syukri.

Yang pertama adalah terpilihnya dia sebagai Asisten Laboratorium Fisiologi FK UNS. Sungguh tak menyangka bahwa orang yang sering mengulang ujian itu kini menjadi asisten laboratorium. Berikutnya, Mas Syukri terpilih untuk memimpin Lembaga Dakwah Fakultas SKI FK UNS yang beranggotakan 190-an orang. Pasca itu, dia mendapatkan beasiswa dari Bank BRI dan terpilih sebagai satu-satunya mahasiswa FK UNS yang mendapat beasiswa dari Dompet Dhuafa di angkatannya. Dia juga sempat menjadi juara tiga nasional dalam ajang Islamic Lesson and Essay Competition. Sebelum itu, dia juga terpilih sebagai The Best Participant Moslem Managerial And Leadership Camp mahasiswa muslim Fakultas Kedokteran Se-Indonesia. Mas Syukri sebenarnya juga memiliki kesempatan untuk berangkat ke Belanda dalam sebuah ajang presentasi ilmiah bersama rekannya, hanya saja karena suatu sebab, dia tidak jadi berangkat.  

Lambat laun, Mas Syukri terkenal sebagai seorang pembicara yang handal. Dia sering diundang untuk mengisi seminar di forum-forum pemuda, kepemimpinan dan juga yang lainnya. Bahkan beliau pernah ditunjuk oleh pihak kampus mewakili mahasiswa untuk menjadi pembicara dalam sebuah seminar nasional Al-Qur’an dan Sains bersama imam besar masjid kesultanan Brunei Darussalam di acara Pembukaan Dies Natalis UNS. Saat itu dia menjelaskan tentang Al-Qur’an dan kedokteran di depan rektor, para dekan dan jajaran ulama jawa tengah. Bayangkan. Pemuda yang tahun lalu selalu membawa kesedihan setiap kali pulang ke rumah itu, kini bisa pulang dengan kebanggaan. Pengalaman-pengalaman hidup yang dia lalui mengantarkannya menjadi seorang pembicara tingkat nasional yang telah menjejakkan kaki di berbagai pulau di Indonesia.

Episode-episode kehidupan Mas Syukri ternyata benar-benar unik dan menarik! Lihatlah bagaimana dia mempunyai kebiasaan memberikan “uang kaget”. Apa itu uang kaget? Jadi, tanpa ada hujan tanpa ada angin, langsung saja dia ngasih uang lebih kepada pedagang makanan yang dia beli. Kata beliau “Ya, misal kalau lagi beli sate ya. Harganya kan 10 ribu tuh, kasih aja duit 50 ribu dan gak usah minta kembalian. Pasti yang jualan bakalan kaget. Hehe”

Lanjut beliau “Kalau kita sering memberikan orang lain uang kaget, Insyaallah, Allah juga akan sering ngagetin kita dengan keajaiban-keajaiban-Nya”.

Dia juga punya kebiasaan menguras dompet untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan. “Coba deh, kita biasain nguras dompet kita. Cari tuh orang-orang yang berada di tempat pembuangan sampah. Coba malem-malem gitu kesana. Dengerin ceritanya, lalu kasih aja semua yang ada di dompet kita. Insyaallah justru semakin bertambah rezeki kita karena itu.”

Yang benar-benar unik adalah, Mas Syukri ini ternyata tidak pernah mengambil uang beasiswa yang dia terima. Selalu saja dia kasihkan ke mereka yang membutuhkan. Kadang sekali waktu juga dibelikan cincin untuk ibunya. Beliau mengatakan “I believe in something that cannot seen by eyes. Ada tangan-tangan lain yang bergerak menolong kita begitu kita menolong orang lain. Lihatlah saya. Di semester-semester awal berat badan saya 60 kilo. Sekarang, setelah terbiasa menguras dompet, berat badan saya justru nambah jadi 80 kilo. Haha. Tenang aja. Kalau kita ngasih makan orang lain, Allah yang bakalan ngasih makan kita. Nggak usah takut miskin kalau mau bantu orang.”

Ada cerita menarik juga yang mungkin bisa membuat kita kaget. Mas Syukri ternyata pernah menjual motor kesayangannya demi membelikan sahabatnya sebuah motor. Mas Syukri merasa kasihan kepada sahabatnya itu karena harus naik angkot setiap hari. Maka dia jual motornya, dan dia belikan sebuah motor bebek untuk sahabatnya itu. Lalu dia? Dia memutuskan untuk jalan kaki! Tapi subhanallah, tak lama setelah itu, Allah kembali menurunkan keajaiban untuknya. Dia mendapatkan sebuah motor yang jauh lebih bagus dan mewah dari motor yang dulu dia jual (lihat foto, hehe).  

Terkahir, kisah menarik dari mas syukri adalah saat dia menyelesaikan skripsi dan bukunya (Insyallah segera diterbitkan oleh ProYou media) dengan laptop pinjaman. Dia tak sampai hati untuk minta dibelikan laptop oleh ayahnya. Maka solusi yang paling memungkinkan adalah: meminjam. Dan hebatnya, bukan hanya bisa menyelesaikan skripsi, mas Syukri juga merampungkan pembuatan bukunya dengan laptop itu. Pelajaran juga nih buat kita yang lagi males ngerjain skripsi padahal udah punya laptop pribadi. Ayok, kapan mau diberesin tuh kak?

Kini, Ketua Pusat Komunikasi Nasional FSLDK yang menunda pendidikan profesi dokternya untuk menjadi ketua FSLDK ini sedang mengembangkan gerakan #BacaDuaLima bersama rekan-rekannya, yang Alhamdulillah mampu merubah seseorang dari tidak pernah membaca buku sama sekali menjadi orang yang mampu membaca 5 sampai enam buku dalam waktu tiga pekan saja! Dan ini sudah dijadikan gerakan nasional lho oleh FLSDK. Jadi, segera gabung yak! 

Sobat muda @FSLDKIndonesia.. Terakhir, mari kita simak pesan dari calon dokter ini kepada kita sebagai aktivis dakwah kampus. Kata beliau, “Ciptakanlah sebuah ruang dalam kehidupan kita agar Allah masuk dan mengisinya dengan keajaiban-keajaiban besar. Dan cara menciptakan ruang-ruang itu sederhana saja. Ringankanlah urusan orang lain!”

Semoga kehadiran aktor LDK.Saya! ke-5 kali ini semakin membuat kita terinspirasi untuk menciptakan keajaiban-keajaiban baru dalam kehidupan kita. Simak terus cerita seru nan inspiratif dari serial LDK,Saya! Di web kesayangan ini ya.. Selamat beraktivitas kembali 

Terima kasih kepada:

Penulis : Ahmad Yasin, Komisi D Puskomnas FSLDK

Aktor LDK, Saya!: Muhammad Syukri Kurnia Rahman, S.Ked

Tim Komisi D Puskomnas FSLDK

Rumah Besar FSLDK Indonesia

*Mau gabung #BacaDuaLima? Klik Facebook.com/BacaDuaLima

——————————————————- Media FSLDK Indonesia —————————————————-

Email : info@fsldkindonesia.org

Fanpage : FSLDK Indonesia

Twitter : @FsdkIndonesia | @JarmusnasFSLDKI

Line : @yok1532s

G+ : FSLDK Indonesia

 

mas fadly

Bang Fadly, ADK Segudang Prestasi!

By | Prestasi | One Comment
mas fadly

Fadly Irmawan

Di semester satu kuliahnya, dia ditertawakan banyak orang hanya karena mengatakan bahwa dia ingin ke luar negeri. Mimpi yang terlalu muluk memang, untuk ukuran seorang anak wartawan yang harus membiayai kuliahnya dengan keringat dan usahanya sendiri. Namun bukan aktivis dakwah kampus namanya, kalau harus menangis di bawah tertawaan orang lain. Maka dia Bangkit! Membuktikan bahwa selama ada Allah di samping kita, kesuksesan hanyalah soal waktu. Saat ini, mantan ketua Pusat Komunikasi Daerah (Puskomda) FSLDK Kalimantan Barat ini telah berhasil menjejakkan kaki di 30 negara berbeda! Sebuah pembuktian telak bagi mereka yang selama ini menertawakannya.

Tidak hanya itu, aktivis dakwah kampus yang menguasai 5 bahasa ini juga pernah menorehkan namanya di ajang paling bergengsi di kalangan mahasiswa dengan menjadi Mahasiswa Berprestasi Ke-3 Tingkat Nasional! Benar-benar sebuah pencapaian yang membuat kita geleng-geleng kepala. Saat ini, pria yang tidak pernah meninggalkan sholat malamnya ini sedang menyelesaikan pendidikannya di program pasca sarjana ITB dengan mengantongi beasiswa LPDP.    

Waktu saya tanya apa tanggapan beliau kalau LDK disebut sebagai sarang teroris, beliau mengatakan “Udah, kasih senyum aja. Buktikan dengan prestasi dan karya-karya besar kita. Toh nyatanya, orang-orang besar yang lahir dari LDK itu jumlahnya udah nggak keitung lagi. Iya kan? Maka justru seharusnya, mereka berterimakasih kepada FSLDK!”

Sobat muda @fsldkindonesia.. Yuk, bercengkerama bareng aktivis dakwah kampus keren yang satu ini.. Please welcome, Bang Fadly..

Maaf menyela bentar, hehe. Sebelum kita mulai tulisan ini, FYI aja, akhir bulan ini Bang Fadly mau berangkat ke Swiss untuk sebuah acara yang berkaitan dengan studinya. Kalau jadi, insyaallah beliau juga sekalian nyiapin berbagai hal dalam rangka melanjutkan S3 nya disana. Kita doakan yak, semoga aktivis dakwah inspiratif yang satu ini mendapat kelancaran dalam urusan-urusannya.. Aammiiinn..

Well, kembali ke laptop! Sekarang saatnya kita kupas tentang Bang Fadly..

Segudang prestasi dan organisasi

Nama lengkap beliau Fadly Irmawan. Menguasai lima bahasa: Inggris, Jepang, Perancis, Arab, dan Hangeul. Ayah beliau seorang wartawan, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga. Beliau adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Nah, kita mulai perjalanan kesuksesan Bang Fadly ini dari diterimanya beliau di Fakultas MIPA Jurusan Biologi Universitas Tanjung Pura. Waktu ospek kampus, di tahun 2005, beliau sempat mengatakan kepada rekan-rekannya bahwa beliau ingin ke luar negeri. Sontak omongan itu menjadi bahan tertawaan bagi teman-temannya yang lain. Tapi anehnya, Bang Fadly justru semakin bersemangat untuk mengejar impiannya ini. Dengan modal doa dan tekad baja, di tahun yang sama, Bang Fadly berhasil menginjakkan kakinya di Vancouver, Kanada, untuk mengikuti pendidikan non gelar disana selama satu tahun. Maka praktis, cukup beberapa bulan untuk membuktikan apa yang selama ini orang lain tertawakan! Selama satu tahun disana, beliau menimba ilmu tentang bahasa prancis. Bagaimana kuliahnya di UNTAN? Ditinggal. Udah, gitu aja. Enteng banget yak. Hehe.

Satu tahun selepas dari Kanada, beliau mendapat kesempatan belajar Japanese Lietheracy di Hokkaido University dengan progam setara diploma satu. Satu tahun di Jepang, beliau kembali ke Indonesia. Apa yang beliau lakukan? Beliau datang ke Universitas Tanjung Pura, menanyakan status kemahasiswaannya, dan ternyata, masih berlaku! Detik itu pula, beliau memutuskan untuk melanjutkan studinya yang pernah berjalan satu tahun disana.

Sejak saat itulah kecemerlangan seorang Bang Fadly benar-benar terlihat. Bayangkan saja, hampir setiap tahun beliau selalu memegang posisi Top Level Manager di setiap UKM yang dia ikuti. Mulai dari presiden mahasiswa UNTAN, Ketua BKMI (Badan Kerohanian Mahasiswa Islam) UNTAN, sampai ke Ketua Pusat Komunikasi Daerah (Puskomda) FSLDK Kalimantan Barat. Tidak berhenti sampai disitu, beliau juga mendirikan dua lembaga Akademik dan Profesi (Akpro) di dua fakultas, yakni KOTAK PENSIL di FMIPA dan FORMASI di Fakulas Ekonomi. Yang terakhir ini yang menarik. Jadi, lembaga profesi yang beliau dirikan ini bertujuan untuk meningkatkan kultur keilmiahan mahasiswa FE UNTAN. Bagaimana ceritanya beliau bisa berkarya di Fakultas Ekonomi? Ternyata beliau kenal akrab dengan Pembantu Dekan III Fakulas Ekonomi. Nah, kemudian Bang Fadly dan PD III FE UNTAN waktu itu berusaha agar gimana caranya kultur keilmiahan mahasiswa FE saat itu menjadi tumbuh. Maka, mereka berdua berbagi tugas. Bang Fadly menjadi pelaksana teknis, PD III yang bertugas ngurusin birokrasi. Lalu mereka bekerja! Sang PD III membuat sebuah aturan yang mewajibkan semua mahasiswa baru FE untuk membuat PKM, dan Bang Fadly dengan FORMASI nya bertugas menjadi pelaksana teknis untuk penyeleksian dan semua yang berkaitan dengan urusan lapangan. Hasilnya luar biasa! Fakultas Ekonomi yang awalnya sepi dengan karya PKM, kini menjadi fakultas yang paling banyak meloloskan karyanya untuk didanai oleh DIKTI. Bahkan ada yang melenggang sampai ke PIMNAS. Jadi praktis, Bang Fadly ini menjadi staff ahli PD III Fakultas Ekonomi. Hebat!

Sisi menarik lain dari Bang Fadly adalah, dengan sekian banyak aktivitas organisasi, IPK beliau waktu lulus adalah 3,89! Praktis, IPK beliau tidak pernah nangkring di bawah 3,5 di tiap semesternya. Padahal, diluar aktivitas organsisasi dan akademik itu, Bang Fadly harus mencari pekerjaan untuk membiayai kuliahnya sendiri. Beliau menjadi pengajar bimbingan privat dengan jadwal yang benar-benar padat. Sore hari selepas kuliah dan menyelesaikan urusan organisasi, beliau harus segera estafetan ke pekerjaan lain: menjadi pengajar les. Ba’da maghrib sampai jam 10 malam beliau mengajar di beberapa tempat. Setelah semuanya beres, beliau baru pulang kembali ke rumahnya. Tentu saat malam sudah benar-benar larut.

Pertanyaannya, mengapa beliau harus repot-repot kayak gitu?

Kata beliau “Ya kalau nggak gini, saya nggak bsia kuliah dek. Hehe”

Qiyamul Layl yang Selalu Bersambung

Saya benar-benar penasaran waktu beliau mengatakan bahwa beliau sanggup tidur jam  satu pagi, bangun lagi sebelum subuh dan tidak istirahat di siang hari. Nggak mungkin orang ini nggak punya rahasia. Pasti ada! Awalnya beliau tidak bercerita tentang ini. Tapi akhirnya beliau buka suara juga. Hehe. Beliau mengatakan bahwa salah satu rahasianya adalah Qiyamul Layl atau sholat malam. Bagi beliau, Qiyamul Layl itu adalah kebutuhan primer. Itulah yang menjadi sumber kekuatan dan produktivitas dari waktu-waktu yang beliau lewati. Qiyamul Layl itu memberikan tenaga yang tidak bisa kita jelaskan, tapi benar-benar bisa kita rasakan. Beliau mengatakan, ibarat mobil yang harus diistirahatkan setelah dipakai seharian, maka manusia juga sama. Istirahatnya manusia itu ya di Qiyamul Layl itu. Begitu diistirahatkan disana, kita akan siap untuk melakukan kerja-kerja besar berikutnya. Kalau nggak Qiyamul Layl? Ya kita akan loyo.

Saya sela perkataan beliau “Tapi kenapa ada orang yang udah Qiyamul Layl tapi tetep gampang capek?”

Kata beliau “Mungkin mereka tidak menganggap bahwa Qiyamul Layl itu sebuah kebutuhan utama yang harus dijalani dengan gembira. Mungkin saja mereka merasa terpaksa melakukan itu semua. Coba kalau enjoy, pasti efeknya akan beda. Bagi saya, Qiyamul Layl itu benar-benar menenangkan dan menggembirakan. Qiyamul Layl itu, sesuatu banget. Hehe.”

Tiga sampai lima juz seharian!

Lagi-lagi, waktu saya ngobrol dengan beliau, beliau tidak menceritakan soal ini. Beliau hanya mengatakan “Begitu ada waktu kosong, ya udah langsung aja baca Al-Qur’an”. Sebatas itu. Beliau tidak menyebutkan jumlah ayat atau juz yang bisa beliau selesaikan dalam seharian. Sampai akhirnya ada seorang informan yang memberi tahu saya bahwa Bang Fadly ini dalam sehari baca qur’annya tidak kurang dari tiga juz. Tiga juz!! Setelah saya cek –dengan sedikit pemaksaan tentunya, hehe- beliau membenarkan. Bahkan, kalau tidak sedang banyak tugas, beliau bisa membaca lima juz seharian! Ini udah bukan ODOJ lagi. Ini ODFJ! Hehe.

Maka sekali lagi, Bang Fadly mengajari kita, bahwa seberapa besar kemudahan yang diberikan kepada kita dalam satu hari, itu sebanding lurus dengan jumlah bacaan alqur’an kita hari itu juga.

Coba kita lihat, aktivitas Bang Fadly selama ini udah bener-bener sebesar gudang penyimpanan cadangan beras indoensia selama lima belas  tahun (maaf, ini alay), tapi bagaimana mungkin beliau bisa menghandle semua pekerjaan itu dan selesai tepat pada waktunya?

Second hand! Itulah jawabannya. Ada tangan-tangan lain yang bergerak mengatur urusan Bang Fadly. Saat Bang Fadly beraktivitas, tangan-tangan itulah yang membukakan jalan keluar satu demi satu sampai akhirnya pekerjaan Bang Fadly yang seharusnya terasa berat itu tiba-tiba saja menjadi terasa ringan dan mudah untuk diselesaikan.

Sekali lagi, second hand! Ada malaikat-malaikat Allah yang diperbantukan untuk mengawal segala urusan Bang Fadly. Dan itu terjadi karena beliau terus menerus melantukan bacaan Qur’annya tanpa henti.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan janganlahh kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada nya.“ (Q.S. Fushilat 41;30)

Setelah Qiyamul Layl yang selalu bersambung, maka sekarang kita belajar tentang lantunan Al-Qur’an yang tak pernah terputus!

Doa Tanpa Jeda

Menarik ketika kita mengikuti perjuangan beliau menjadi warga Bandung. Selepas dari UNTAN, beliau sebenarnya sudah diterima sebagai seorang kepala sekolah di salah satu SMA di kalimantan barat, namun beliau kembali merenungi apa yang ingin beliau lakukan di masa depan. Dan jawaban itu adalah: mengembangkan dakwah kampus sampai mati. Kenapa dakwah kampus? Karena bagi beliau, dakwah kampus lah yang paling strategis mencetak pemimpin-pemimpin terbaik bangsa ini. Oleh karena itu, jika beliau berlama-lama di sekolah, beliau justru akan semakin jauh dari dunia kampus. Maka pilihan berat itu diambil. Beliau mundur dari jabatan barunya, dan melanjutkan ke jenjang S2. Dimana? ITB. Beliau mendaftar, tes, dan diterima! Permasalahan baru muncul. Biayanya bagaimana? Tidak tahu. Beliau juga tidak bisa menjawab itu. Tapi beliau yakin, pasti ada yang bisa menjawab persoalan ini. Siapa? Allah. Maka, beliau berdoa. Berdoa saja. Terus menerus tanpa putus. Dan akhirnya, walau harus memulai kehidupan di Bandung dengan “terlunta-lunta”, kini beliau mendapatkan beasiswa LPDP untuk menyelesaikan pendidikannya disana. Hebat!

Bukankah saat kita butuh, Allah selalu hadir? Dan bukankah ketika Allah telah hadir, semuanya akan berakhir indah? Maka, berdoalah. Katakan pada Allah bahwa kita benar-benar membutuhkan pertolongan-Nya. Agar Dia hadir, dan menjadikan indah segala yang ada di depan mata kita.    

Sobat muda @fsldkindonesia.. Kalau kita cermat membaca perjalanan kehidupan Bang Fadly, maka kita akan melihat satu rumus besar yang beliau terapkan dalam kehidupannya: kalau ingin mendapatkan kecemerlangan di dalam urusan-urusan dunia, maka sempurnakanlah urusan akhirat kita! Beliau bisa sebesar itu karena beliau tidak pernah meninggalkan Qiyamul Layl-nya. Beliau secemerlang itu karena tidak pernah putus bacaan qur’annya. Dan lagi, beliau bisa seperkasa itu karena doa-doa yang selalu diucapkannya tanpa jeda. Maka sekarang apa lagi yang perlu dibuktikan? Semua sudah benar-benar nyata, bahwa orang-orang yang dekat dengan Allah, mereka akan menjadi raja untuk urusan dunianya.

Jangan menunggu bukti lebih banyak lagi, tapi jadilah bagian dari bukti itu sendiri!

Oya ada satu lagi yang masih kurang. Sengaja saya sampaikan di akhir agar menjadi penyempurna catatan kegemilangan seorang Fadly Irmawan. Apa itu? Coba catat. Bang Fadly tidak pernah absen menjadi seorang murobbi! Beliau adalah pahlawan-pahlawan mentoring atau liqo atau halaqoh, atau apapun itu kita menyebutnya. Beliau adalah seorang pendidik ulung dari lingkaran-lingkaran kecil itu, karena beliau juga menyadari, bahwa apa yang beliau dapatkan saat ini adalah hasil dari proses pendidikan di mentoring-mentoring seperti itu.

Maka akhirnya, melalui tulisan ini saya ingin mengajak kepada seluruh sobat muda @fsldkindonesia di seluruh penjuru tanah air.. Kalau seorang Fadly Irmawan saja bisa melakukan itu semua, itu artinya kita juga mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan itu semua. Maka, lakukan apa yang telah dilakukan oleh Bang Fadly. Jadilah hebat, jadilah besar, jadilah menawan! Karena aktivis dakwah kampus itu, mereka selalu mempesona sejak dari awalnya!

*Terimakasih kepada:

Aktor LDK.Saya! @Fadlyirmawan

Penulis: @densyukri

Rumah Besar FSLDK Indonesia : fsldkindonesia.org, @fsldkindonesia, FSLDK Indonesia

#BerkaryaUntukIndonesia

#MainKeRumah

Edisi Sebelumnya:

– Rian Mantasa, ADK Ber-IPK Sempurna!

– Syayma, Sebuah Mahkota Untuk Orangtuanya

– Puguh, ADK Penjelajah Nusantara

Rian-Mantasa-SP

Rian Mantasa, ADK Ber-IPK Sempurna!

By | Prestasi | 13 Comments

47301de23ab7f07fde6014e562ca03ed_400x400

Rian Mantasa Salve

Hanya di semester enam, IPK nya tidak benar-benar bulat. Sisanya, di semester satu, dua, tiga, empat, lima, dan tujuh, indeks prestasi Aktivis Dakwah Kampus UNS asal Pati ini berada tepat di angka 4.00! Maka tak heran, rekan-rekannya kini menjulukinya ‘Sang Professor’.

Bukan hanya itu, pemuda berkacamata yang menjadikan stasiun, terminal, tangga proyek hingga meja laboratorium hidrolika sebagai tempat tidur favoritnya ini adalah penerima salah satu beasiswa paling bergengsi di kalangan mahasiswa, Beasiswa Aktivis Nusantara dari Dompet Dhuafa.

Beberapa kali dia juga menyabet penghargaan tingkat nasional di bidang yang dia tekuni saat ini, Teknik Sipil. Dia juga merupakan Runner Up Mahasiswa Berprestasi Fakultas Teknik UNS. Selama di kampus, dia mendapat julukan “The King of Asdos” atau Raja Asdos (Asisten Dosen) karena menjadi asisten dosen hampir di semua mata kuliah! Menariknya, pemuda yang dulu –semasa SMA- pernah sangat membenci Kerohanian Islam (Rohis) dan menganggap Rohis sebagai sarang teroris ini, kini justru aktif di Lembaga Dakwah Kampus dan menjadi pengurus inti di dalamnya. Dia ingin membayar kesalahan yang dia buat selama ini -yang telah menganggap Rohis atau semisalnya sebagai tempat yang sangat mengerikan- dan menunjukkan kepada dunia bahwa Lembaga Dakwah Kampus adalah rumah paling tepat untuk melahirkan prestasi dan karya-karya besar.

Menarik untuk mengikuti perjalanan ‘Professor’ Rian Mantasa Salve (ini namanya imut banget ya) yang punya hobi foto selfie ini. Mari kita undang beliau di tengah-tengah kita @FsdkIndonesia.

Please Welcome, Mas Professor…

Ajaib Sejak Ingusan

Mantas tidak suka saya sebut sebaagai bocah ajaib. Tapi, ya memang begitu faktanya. Hehe. Bagaimana tidak, keistimewaan yang dia miliki sudah dia tunjukkan sejak masih imut-imut. Saat itu dia belajar di sebuah Taman Pembelajaran Qur’an atau TPQ. Disana dia belajar  membaca iqro’, lalu berlanjut belajar al-qur’an, tajwid dan gharib. Mantas kecil -dengan kecerdasan yang dia miliki-, berhasil melangsungkan wisuda saat baru menginjak kelas 3 SD. Padahal untuk ukuran anak-anak yang lain, mereka baru diwisuda saat berada di kelas 6 SD atau SMP. Praktis, Mantas melakukan akselerasi 4 tahun!

Prestasi akademiknya di Sekolah Dasar juga jangan ditanya lagi. Banyak orang  yang mengurungkan impiannya untuk mendapat ranking satu setelah melihat Mantas berada disampingnya. Pokoknya jika ada Mantas, jangan tanya lagi siapa yang mendapat ranking satu. 

Memasuki SMP, “kegilaan” calon professor ini semakin menjadi. Dengan modal prestasi yang mentereng saat SD, dia berhasil masuk ke SMPN 3 Pati yang merupakan sekolah terbaik di Kabupaten Pati. Disana, dia masuk ke kelas IMERSI, kelas paling istimewa. Awalnya dia merasa minder dengan pergaulan di kelas IMERSI yang mayoritas adalah anak-anak kota (Mantas sendiri terpaksa in de kos karena jarak rumahnya yang di desa ke SMPN 3 adalah 39 km), namun karena semangatnya yang terus menggebu, dia bukan hanya bisa beradaptasi, tapi justru menjadi raja di kelas IMERSI. Dengan sistem pembelajaran yang memakai bahasa pengantar  bahasa inggris, tentu kelas IMERSI terkesan sangat angker bagi yang lain. Tapi lain halnya dengan Mantas. Di semester 1 dan 2, ujian semester bahasa inggrisnya berturut-turut mendapat nilai 98,5 dan 100. Sempurna! Maka tak heran, anak desa ini menjadi primadona di sekolahnya. Memang benar, ini bocah adalah bocah ajaib!

Diusir dari kost-an dan Kebencian Terhadap Rohis

Ada yang menarik –kalau kita tidak mau menyebutnya memalukan- dari perjalanan hidup Rian Mantasa. Jadi waktu kelas 8 SMP, anak desa ini akhirnya mengenal dunia yang lebih luas. Dia kenal dengan bermacam-macam orang, dengan pergaulan yang tentu sangat beragam. Nah, karena masih cupu, dia tidak bisa membedakan mana pergaulan yang baik dan mana yang buruk. Akhirnya dia terjebak dalam pergaulan yang tidak beres. Dia sering kongkow-kongkow nggak jelas sampai jam 1 pagi. Itu tidak hanya berlangsung satu dua hari, tapi bertahun-tahun. Setiap kali ditanya ibu kos, dia menjawab dengan enteng “belajar kelompok”. Hingga suatu waktu, di beberapa hari menjelang ujian nasional SMP, sang ibu kos yang lagi-lagi memergoki Mantas pulang jam 1 pagi tidak lagi percaya dengan omongan Mantas. Dia naik pitam! Dini hari itu juga, Mantas diseret ke sekolahan, dihadapkan dengan satpam dan 2 guru BP yang kebetulan tinggal di sekolah itu. Di malam yang dingin itu, Mantas dipaksa mengakui kebohongan yang selama ini dia sembunyikan. Tangis penyesalan pecah dari pelupuk matanya. Dan yang membuat Mantas lebih menyesal adalah karena saat itu, justru sang guru BP yang sangat dia hormatilah yang memintakan maaf untuk Mantas.

Namun beruntung, Mantas berhasil membayar kesalahannya ini dengan sebuah torehan yang sangat membanggakan: mendapatkan NEM terbaik Se-Jawa Tengah dengan nilai matematika 10.00! Bahkan prestasi ini diliput oleh beberapa media cetak. Setidaknya, pengorbanan guru BP-nya malam itu terbayar dengan kebanggan yang dia hadiahakn kepada beliau. Untung otak elu encer, prof..

Memasuki SMA, ternyata Mantas tidak bisa terbebas begitu saja dengan pergaulan SMP nya. Dia masih berkawan dengan rekan-rekan yang dulu sering mengajaknya kongkow-kongkow. Dan dari mereka, dia mendapat sebuah paradigma tentang Rohis. Paradigma itu berbunyi “Rohis dan mentoring itu sesat! Kamu jangan dekat-dekat sama Rohis!”

Waktu cerita ke saya, doi bilang “Aku terjebak sama pemikiran sempit itu. Karena banyak yang bilang Rohis dan mentoring itu sesat, aku jadi kemakan omongan mereka. Padahal sejak dari kelas X aku tinggal satu kos sama mas-mas Rohis yang mereka semua sering ikut olimpiade sains. Mereka pinter-pinter dan baik banget sama aku. Tapi kebaikan-kebaikan mereka ketutup gara-gara aku udah kemakan omongan orang lain. Bodo banget emang. Dan aku benar-benar menyesal kenapa dulu aku nggak ikut Rohis.”

Dia lantas menceritakan awal dari perubahan paradigma nya tentang Rohis “Aku punya temen deket. Di akhir SMA, kita pernah ngobrol panjang lebar. Ngalor ngidul kesana kemari. Nah, dari obrolan itu aku tersadar. Aku aja belum pernah ikut Rohis, bagaimana bisa aku menilai buruk terhadap Rohis? Dan kemudian, hidayah itu datang. Hehe. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk membayar kesalahan yang telah aku perbuat ini!”

Dia juga mengatakan –ini yang membuat saya merinding- “Jadi sekarang kalau ada yang bilang Rohis sesat, mentoring sesat, mereka harus berhadapan sama aku dulu.”

Segudang Kesibukan dan LDK Sebagai Tempat Berpulang

Bertekad untuk membayar segala kesalahan, Mantas membuktikan diri dengan ikut salah satu UKM yang justru tidak direkomendasikan oleh kakak tingkatnya, Lembaga Dakwah Kampus. Atau di Fakultas Teknik UNS dia menyebutnya Sentra Kegiatan Islam (SKI).

“Semua UKM yang aku ikuti di semester satu itu adalah rekomendasi kakak tingkat, kecuali satu, SKI. Tapi justru disana aku menemukan kebahagiaan. Di semester-semester berikutnya, saat semua kerjaan udah numpuk, SKI atau lembaga Dakwah Kampus bener-bener jadi rumah buat kembali. Saat udah capek dengan semua permasalahan, LDK bener-bener ngasih nutrisi yang bisa bikin aku semangat lagi. Pokoknya kalau lagi capek, aku pengennya main sama anak SKI. Bodo amat mau kemana yang penting main sama mereka. Gatau kenapa, seneng aja rasanya kalau lagi bareng-bareng sama mereka. Beban-beban yang selama ini numpuk tiba-tiba luntur. Benar-benar tempat kembali yang nyaman. Ketemu mereka itu sama artinya dengan ketemu sama kebahagiaan. Pokoknya, LDK itu sesuatu banget.”

Mau tahu bagaimana sibuknya seorang Mantas?

 “Jadi waktu itu, pas aku jadi ketua Biro AAI (mentoring) Fakultas Teknik, pas banget sama aku lagi magang proyek di jogja. Waktu itu juga aku lagi megang banyak asisten dosen. Jadi asdos di banyak mata kuliah. Aku nggak mau ngorbanin akademik, tapi aku juga nggak mau ngorbanin organisasi. Jam 2 pagi aku harus udah bangun, ngerjain tugas, deadline asisten dosen. Terus jam 6 pagi udah harus berangkat ke jogja, muterin proyek-proyek sambil kepanasan sampek jam satu siang. Begitu nyampek solo, rapat-rapat langsung menanti. Udah gitu, adek-adek tingkat juga udah pada tanya, mas bisa konsultasi jam berapa? Karena nggak cuma satu mata kuliah yang harus aku cover dan karena nggak ada waktu selain malem, akhirnya jadwal konsultasi itu bisa sampai jam 1 pagi. Ya Allah.. Kadang stres banget. Harus tidur jam satu dan bangun lagi jam dua. Rasanya Cuma pas sholat aja aku bisa istirahat. Tidur setengah jam, sejam, udah alhamdulillah banget. Waktu itu tempat tidur favoritku adalah bus, kereta, stasiun, terminal, tangga proyek, sampai meja lab hidrolika. Bahkan sering adek-adek mahasiswa yang mau minta konsultasi, mereka ngantre di luar lab karena nungguin aku yang ketiduran di atas meja lab. Haha. ”

Awal Kecemerlangan

Memulai kehidupan kampusnya sebagai aktivis dakwah kampus, Mantas membuktikan bahwa saat kita bergabung dalam kereta dakwah, semua urusan dunia dan impian-impian kita –atas izinNya- justru akan mudah kita gapai.

Sebelum menjadi asisten dosen, Mantas terlebih dulu menjadi Asisten Agam Islam, atau kita akrab menyebutnya sebagai “kakak mentoring”. Pasca itu, di semester yang sama, Mantas menjadi asisten fisika dasar dan fisika terapan. Hal ini berlanjut ke semester-semesster berikutnya, hingga dia mendapat julukan “The King of Asdos”. Sebagai contoh, di semester tujuh dia menjadi asisten di tujuh mata kuliah! Apa saja? Hidrolika, hidrolika dan saluran terbuka, mekanika fluida dan jaringan perpipaan, struktur beton, struktur kayu dan alaisis struktur dengan metode matriks! Hebat bener kan?

Dan yang lebih mengagumkan, di semester-semester tersebut dia sedang memegang amanah dakwah dengan jam terbang yang sangat tinggi: koordinator fakultas Biro Asistensi Agama Islam, atau ketua mentoring Fakultas Teknik! Bayangkan, dengan kesibukan dakwah yang tinggi, dia masih sempat menjadi asisten dosen di berbagai mata kuliah, yang tidak jarang memaksa dia memberikan konsultasi kepada adik tingkat sampai jam 1 pagi.

Tidak berhenti disana, kecemerlangan Mantas terus berlanjut hingga dia menjadi juara III dalam lomba Desain Kawasan Navigasi Sungai di Universitas Hasanuddin Makassar. Karya tulisnya yang lain juga pernah lolos ke dalam top 10 Finalis dalam lomba Green Innovation yang diselenggarakan Univeritas Riau. Mengikuti prestasi yang lainnya, pada tahun 2014 Mantas memperoleh predikat sebagai runner-up Mahasiswa Berprestasi Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret. Dan yang terakhir, dia menjadi satu diantara 8 penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.  

Saat ini, Mantas sedang mewakafkan dirinya untuk ngopenin Biro AAI (Mentoring) Tingkat Universitas sebagai kepala departmen pengelolaan peserta asistensi dan kaderisasi. Dia juga sedang memperbaikai IPK nya di semester enam yang “hanya” 3,98 agar bisa sempurna menjadi 4.00 saat lulus nanti. Kita doakan Calon Sarjana Teknik Sipil ini bisa lulus dengan IPK bulat 4.00 yak..

Terkahir, apa pesan Mantas untuk kita sobat muda @FsdkIndonesia?

“Teruslah berada di sana, di Lembaga Dakwah Kampus. Berikan yang terbaik untuknya, dan lihatlah, hanya soal waktu untuk mendapatkan apa yang selama ini kita impikan. Hidup adalah pilihan. Pada akhirnya, jika kita memilih menjadi penggerak dakwah kampus, maka setiap langkah kita adalah pengorbanan, setiap goresan pena adalah pengabdian, dan setiap detak jantung yang membuat kita masih bernafas menandakan bahwa tanggung jawab kita belum usai. Maka, teruslah bergerak, dan menggerakkan yang lain dalam kebaikan!”

Sobat muda @FsdkIndonesia.. Semoga kita menjadi bagian dari rangkaian inspirasi-inspirasi yang membuat negeri ini terus melaju menuju puncak kejayaannya, seperti Mantas dan para aktor “LDK.Saya!” lainnya. Maka, teruslah hidup dan teruslah menginspirasi!

Terimakasih kepada:

Rumah besar @FsdkIndonesiaFSLDK Indonesia,  dan Fsldkindonesia.org

Aktor LDK.Saya! @RianMantasaSP

Penulis @densyukri

#BerkaryaUntukIndonesia

#MainKeRumah

#LDK.Saya!

Edisi sebelumnya:

http://fsldkindonesia.org/syayma-sebuah-mahkota-untuk-orangtuanya/

http://fsldkindonesia.org/puguh-adk-penjelajah-nusantara/

Cinderella-tiara

Syayma, Sebuah Mahkota Untuk Orangtuanya

By | Prestasi | 6 Comments

kate's crown

Saat masih duduk di kelas XII, dia punya mimpi yang -mungkin- hanya bisa menjadi bahan tertawaan: menghafal Al-qur’an satu juz sehari. Bermodal doa, keyakinan, dan kerelaan untuk melakukan perubahan ekstrem: tidur setengah jam sehari! Dia membuktikan bahwa tak ada yang mustahil jika Allah mengizinkan hal itu terjadi. Dia mengantongi sertifikat hafidzah sebelum ijazah SMA dia terima.

Kini, mahasiswi Fakultas Kedokteran semester 6 ini adalah juragan kerudung dengan omset 15-20 juta per bulan. Infaq rutin yang dia keluarkan setiap bulannya berada pada angka tiga juta! Bukan hanya itu, dia adalah satu diantara 43 penerima beasiswa aktivis nusantara dari seluruh indonesia. Kini, dengan segala aktivitas dan pencapaiannya, dia masih sempat menjadi Wakil Ketua Umum sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa tingkat kampus.

Mau tahu bagaimana ADK (Aktivis Dakwah Kampus) yang baru saja menginjak 21 tahun tepat sembilan hari yang lalu ini mendapatkan berbagai pencapaiannya di usia semuda itu?

Yuk mari, belajar banyak dari seorang ADK luar biasa bernama Syayma Karimah.

Berawal dari menjadi bahan tertawaan sampai ke jajaran penghafal Al-Qur’an

Sepertinya akan seru kalau kita memulai kisah keberhasilan Syayma ini dari perjuangan dia menjadi seorang hafidzah. Bagaimana dia memulai segalanya?

Ceritanya, Syayma dulu menghabiskan masa SMP di sebuah boarding school, dimana di sekolah tersebut ada program untuk menambah hafalan Al-Qur’an. Target hafalan yang biasanya diselesaikan oleh para siswa disana adalah 3 juz.

Namun karena tidak semua murid mempunyai kemampuan yang sama dalam membaca dan menghafal Al-Qur’an, maka dibuatlah pembagian kelompok. Ada tiga kelompok saat itu, yakni kelompok tahsin, tahfizh reguler dan takhossus.

Kelompok tahsin adalah kelompok dengan grade paling bawah, yang mana anak-anak di kelompok tersebut harus mendapat bimbingan ekstra karena bacaannya masih perlu diperbaiki. Anak-anak yang yang masuk di dalam kelompok tahfizh reguler adalah mereka yang menghafal 5 baris sehari, dan anak-anak yag berada pada kelompok takhossus adalah mereka yang menghafal satu halaman per hari.

Anda tahu, calon bu dokter ini masuk ke kelompok mana?

Syayma, dia masuk ke kelas tahsin! Grade paling rendah dari tiga grade yang ada saat itu. Tapi bukan Syayma namanya kalau nggak ngeyelan. Dengan Pede nya, dia menuliskan di sebuah kertas bahwa dia akan masuk ke kelompok takhossus. Bukan cuma itu, dia menarget dirinya sendiri untuk bisa menyetor hafalan satu halaman per hari  (nggak tahu diri banget ya, padahal cuma masuk kelompok tahsin, udah lagak jadi anak takhossus. Hehe). Praktis, dia menjadi bahan tertawaan bagi beberapa rekannya yang lain.

Dengan doa dan keyakinan yang tinggi, impian Syayma terwujud! Dia berhasil masuk ke kelompok takhossus dan lulus SMP dengan mengantongi hafalan 7 juz. Hebat ya.

Selepas dari SMP, Syayma melanjutkan ke SMA di yayasan yang sama, SMAIT Al Kahfi. Sewaktu di SMA, semangatnya justru menurun. Apa sebab? Jadi selama di SMP, dia terbiasa menghafal bersama rekan-rekannya. Tapi begitu masuk SMA, rekan-rekan yang selama ini menadi partner menghafalnya ini ternyata pindah sekolah. Ditambah persaingan menghafal yang tidak se-ketat di SMP, Syayma kini berada di titik terjenuh dalam perjalanannya menghafal Al-Qur’an. Seolah-olah semangat dan modal “nggak tahu diri” nya yang dulu dia miliki kini menghilang begitu saja.

Di tengah-tengah spiritnya yang semakin kendur itu, Syayma teringat akan orang tuanya. Hanya satu yang dia fikirkan saat itu: dia ingin memakaikan jubah dan mahkota kemuliaan untuk orangtuanya di syurga. Fikiran itu muncul di kelas XII, sebuah masa –yang kita ingat sendiri- apa yang kita lakukan di saat-saat itu. Belajar, ujian, belajar, ujian lagi! Itu saja aktivitas rutin anak-anak kelas XII. Iya kan?

Maka sekali lagi, inilah hebatnya Syayma. Saat yang lain berfikir “gimana caranya memaksimalkan waktu agar bisa lulus ujian dengan nilai terbaik?” Syayma justru berfikir “gimana caranya di sisa waktu ini bisa menyelesaikan hafalan Al-Qur’an”.

Lantas apa yang dia lakukan?

Saat saya menulis biografi tentang diriya ini, berkali-kali dia menekankan agar tidak mencantumkan kejadian ini. Dia tidak ingin orang lain menganggap dia sebagai robot atau manusia super yang bisa melakukan hal-hal mustahil. Tapi saya katakan kepada dia, cerita ini harus ditulis, agar orang-orang di luar sana mengerti bahwa tidak ada yang mustahil selama kita mau dan Allah mengizinkan. Maka, jangan anggap Syayma manusia super ya. Nanti saya yang kena marah. Hehe.

So, what did Syayma do?

Dengan keterbatasan waktu yang dia punya (karena mendekati ujian nasional), dia merencakana sesuatu yang -mungkin- mustahil untuk dilakukan. Syayma menghafal satu juz perhari! Sekali lagi, satu juz perhari! Caranya? Dia menghafal mulai dari ba’da maghrib sampai jam setengah 12 malam, lalu dia tidur setengah jam, bangun lagi, dan menghafal sampai subuh.

Ba’da subuh dia setoran setengah juz. Di waktu dhuhur dia memuroja’ah (mengulang) hafalannya. Ba’da isya, dia setor lagi setengah juz. Jadi praktis satu hari, dia bisa setor hafalan satu juz, dengan konsekuensi, dia harus tidur setengah jam sehari!

Ini hebat, sobat muda @FsdkIndonesia.. Mengingat dia juga harus fokus dengan ujian-ujian yang akan dia hadapi. Belum lagi, dia juga harus bertarung untuk memperebutkan satu kursi di perguruan tinggi negeri.

Bagaimana dia bisa seyakin itu untuk memilih menyelesaikan hafalannya daripada berfokus kepada ujian seperti kebanyakan orang?

Kata dia “aku yakin Allah nggak akan menyia-nyiakan semua ini, mas. Dan alhamdulillah, dengan segala kekuasaan yang Dia miliki, setelah masa perjuangan itu selesai dan setifikat hafidzah itu aku pegang, Allah mengistirahatkanku dengan menempatkan aku di Fakultas Kedokteran UNS melalui jalur SNMPTN Undangan”

Hebat ya, sobat muda @FsdkIndonesia.. Ini bocah emang bener-bener keren.

Sekarang mari berbincang tentang bagaimana Syayma mengatur waktunya.

Dengan segala kesibukan di kedokteran, bagaimana Syayma mengatur produktivitas waktunya? (Sekedar informasi, waktu jaman saya masih jadi mahasiswa dulu, beberapa kali kita anak-anak FK ini berangkat ke kampus sebelum jam 5 pagi. Jadi waktu yang lain berangkat ke masjid pakai sarung, kita berangkat ke kampus dengan pakaian lengkap dari kemeja tanpa dasi sampai kaos kaki. Hehe).

Saat ditanya tentang bagaimana dia mengatur waktu, mengingat dia juga adalah Wakil Ketua Umum sebuah UKM tingakt univ (UKM Ilmu Qur’an), Syayma mengatakan “Kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia. Jadi kita harus menutup keran-keran yang bocor dari waktu-waktu yang terbuang itu. Kalo selama ini aku mengaturnya dengan mengurangi waktu tidur aku. Biasanya aku tidur jam 11, dan bangun jam 1 atau 2. Nah kuncinya harus seneng ngelakuin semua yang kita lakuin. Kan hidup cuman sekali, kalo sesuatu yang kita lakuin terpaksa, ya rugi banget hidupnya. Nah tapi kalo kita kita menikmati perjuangan kita, capek yang seharusnya kita terima pun menjadi tidak terasa.”

Dia kemudian menambahkan sedikit cerita inspiratif. Jadi, Syayma ini kenal dengan seorang dosen dari FMIPA UNS. Beliau adalah doktor yang lulus dengan predikat cumlaude, menjadi ketua salah satu lembaga sosial terbesar di Solo, dan mempunyai kesibukan yang benar-benar padat luar biasa. Beliau belum menjadi seorang hafidz, tapi beliu pernah mengatakan hal ini ke Syayma “ Mbak Syayma tolong doain saya ya, sampai hari ini masih berusaha menjadi seorang hafidz qur’an, saya setiap hari menghafal satu ayat.”

Pesan dari Syayma adalah “Jadi, kita yang cuman jadi mahasiswa doang, belom ada tanggung jawab keluarga, masih muda, harusnya ngga ada alasan buat kita ngga ngehafal qur’an. Jadi sekarang ataupun nanti, kita harus tetap berusaha menjadi peghafal Al-Qur’an”.

Ckckck.. Hebat yak!

Menjadi juragan kerudung

Titik awal dari torehan Syayma yang satu ini terjadi saat ummi-nya terkena stroke. Dia melihat betapa sang Abi harus mengeluarkan banyak uang biaya pengobatan. Maka saat itu juga, dia mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa: Nggak boleh lagi ngrepotin Abi! Walau sebenarnya, Syayma ini bukan berasal dari keluarga yang tidak mampu. Kakak kandungya saja, Mas Marwan Hadid, beliau adalah CEO Sop Durian yang kini memiliki ratusan outlet di seluruh indonesia. Omsetnya? Miliaran! Jadi, Syayma ini adalah adik seorang miliarder. Ayah Syayma? Beliau seorang anggota dewan!

Ketika saya tanya, alasan apa lagi yang membuat dia tergerak menjadi seorang entrepreneur, kata dia “Hm.. selain karena kebutuhan pengobatan Ummi, aku sering lihat tumpukan proposal permintaan bantuan di meja nya Abi. Nah daripada duitnya Abi buat aku, mending buat dikasih ke orang-orang yang ngajuin proposal-proposal itu aja.”

Maka setelah itu, dia memutuskan menjadi juragan kerudung (merek kerudungnya “Afra”, Red. Tapi ini sensor ya. Di situs resmi tidak boleh ada iklan. Hehe.). Syayma ini menjadi reseller di surakarta. Ketika ditanya mengapa memilih kerudung, sebuah jawaban cerdas mengalir dari mulutnya “Karena kerudung itu kebutuhan primer setiap muslimah, Mas.”

Dengan bisnis yang dikelolanya saat ini, Syayma bisa memperoleh omzet hingga 15-20 juta per bulan. Hebatnya lagi, infaq yang dia keluarkan per bulan menembus angka 3 juta! Bayangkan, untuk ukuran mahasiswi semester enam, bukankah itu jumlah yang luar biasa?

Jadi bagian dari Beasiswa Aktivis Nusantara!

Sebelum bercerita tentang Syayma, sedikit saya ceritakan tentang Beasiswa Aktivis Nusantara, atau kami biasa menyebutnya BAKTINUSA. Ini adalah porogram dari divisi pendidikan Dompet Dhuafa yang memberikan beasiswa kepada 7 kampus (UI, UNS, ITB, UNPAD, UGM, UNSRI, IPB). Dimana dengan seleksi yang sangat-sangat ketat, dipilih beberapa aktivis dari kampus masing-masing untuk mendapat beasiswa selama dua tahun. Meliputi uang bulanan 800 ribu perbulan selama satu tahun, pendampingan karier pasca kampus, proyek sosial, training value, temu nasional, dan sekian banyak program lainnya. Beasiswa ini merupakan salah satu beasiswa paling bergengsi di kalangan mahasiswa diantara beberapa beasiswa lainnya.

Dan sekali lagi, Syayma membutikan kapasitasnya dengan menjadi salah satu diantara para penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara. Saat ditanya bagaimana proses seleksi dan persiapannya, dia mengatakan bahwa awalnya dia minder, tapi kemudian dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa setiap orang pasti punya potensi dan keunikan yang bisa membuat orang lain tertarik dengannya. Nah, potensi dan keunikan itu yang harus dimaksimalkan dan kita buktikan kepada dunia bahwa kita memang istimewa sejak dari awalnya!

Mungkin tulisan ini tidak bisa mewakili semua pencapaian dan sepak terjang seorang Syayma, namun semoga saja tulisan kecil ini bisa memberikan kita inspirasi dan meneguhkan kedudukan kita bahwa sampai kapanpun, orang-orang yang dekat dengan Allah itu adalah manusia terbaik yang siap menjadi permata untuk zamannya. Maka sudah seharusnya, para Aktivis Dakwah Kampus itu menjadi permata yang menghiasi zamannya. Karena itulah takdir milik kita yang harus kita songsong bersama-sama!

Terkahir, ada pesan nih dari seorang Syayma buat kita-kita…

“Hidup kita cuman sekali, kalo misalkan segala inspirasi yang kita hasilkan itu tidak menjadi bagian dari ketaatan kita kepada Allah, itu percuma. Kan perintah kita hidup di dunia ini untuk bertaqwa dan beribadah pada Allah. Pemuda itu ibarat matahari tepat jam 12, paling kuat sinarnya. Maka berikan sinar itu untuk saudaramu, tapi kamu juga harus memastikan bahwa kamu tetap kokoh. Tetap dekat dengan Allah dan tetaplah menjadi isnpirasi untuk yang lainnya.”

Demikian, sobat muda @FsdkIndonesia.. Selamat istirahat ya.. Pasca kita menebar kebaikan dalam agenda #1000AgenFSLDK di puluhan kota di Indonesia hari ini, sepertinya sudah saatnya untuk istirahat.. Semoga kedepannya, FSLDK dan orang-orang di dalamnya selalu menjadi inspirasi untuk indonesia! Aamiin…

Terimakasih untuk:

Rumah besar: @FsdkIndonesia, FSLDK Indonesia, dan Fsldkindonesia.org

Aktris FLDK.Saya! : @Syayma

Penulis: @densyukri dan @zlinuzli79

#BerkaryaUntukIndonesia

#LDK.Saya!

#MainKeRumah

MAS PUGUH 3

Puguh, ADK Penjelajah Nusantara

By | Prestasi | 5 Comments

MAS PUGUH 4

Assalamualaikum, sobat muda @FsdkIndonesia..

Apa kabar nih? Udah ngapain aja seharian ini? Udah ngasih makan berapa anak yatim? Udah berbagi sama berapa orang miskin? Udah baca buku berapa lembar? Udah ngaji berapa juz? Banyak bener pertanyaannya ya. Hehe. Cuma ngingetin aja, dengan segala ke-keren-an yang kita buat hari ini, jangan sampai lupa buat nuntasin amal-amal harian kita yak. Muslim itu, orang keren dari surga yang lagi jalan-jalan di dunia. Aseek.

Sore ini kita kedatangan tamu istimewa nih, sob. Doi orang Yogya. Aktivis Dakwah Kampus (ADK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Namanya Puguh. Puguh Prasetyo Mulyo. Kan, namanya jawa banget. Pakai “O” semua. Haha. Ngomong-ngomong, kemaren waktu Aksi #SaveRohingya di simpang lima semarang, doi orasi pakai bahasa inggris loh. Wiihh..mantap!! Ngomong-ngomong lagi, alumni Forum Indonesia Muda 17 ini adalah ketua Lembaga Dakwah Kampus Uniersitas Muhammadiyah Yogyakarta. Tambah keren aja ni bocah.

Sobat muda @FsldkIndonesia.. Pada pernah main ke Bali sama lombok belum? Tentu ini pertanyaan bukan buat orang Bali sama lombok yak. Hehe. Nah, kalau udah pernah, berapa duit tuh yang musti kita keluarin buat kesana? 2 juta? 3 juta? Atau bahkan lebih? Nah, beda cerita kalau yang berangkat kesana adalah si puguh. Doi pernah ke bali dan lombok dengan modal super duper minimalis to the max. Bisa tebak berapa? 100 ribuan buat ke bali dan 200 ribuan buat ke lombok! Wiih..Kayak beli kacang aja lu, guh. Kok bisa sih? Gimana caranya? Baiklah, daripada penasaran, langsung kita samperin aja pelakunya. Hehe.

Misi ndan, apa kabar ente?

Alhamdulillah, sehat bos.

Kabar-kabarnya, ente udah sering melalangbuana kemana-mana dengan biaya murah meriah ya? Gimana tuh ceritanya? Boleh dong bagi satu dua cerita ke kita-kita.

Hehe. Belum banyak sih. Cuma, setiap liburan semester, ane sempetin melancong ke nun jauh disana. Baiklah. Kita mulai dari bali ya. Perjalanan ini ane tempuh di awal 2013. Jadi awalnya, ane sama kakak tingkat ane pengen banget melancong ke bali. Tapi ya biasa, mahasiswa. Duit kita kan terbatas. Akhirnya, kita putusin buat jadi backpacker (apa itu backpacker bisa tanya kak google). Awalnya kita gabung dulu sama komunitas Backpacker indonesia (BPI). Niatnya cuma mau nyari info terkait perjalanan yang murah tapi tetep “wah”. Habis dapet modal ilmu dikit-dikit dari temen-temen BPI dan tentunya modal nekat, perjalanan itu pun kita mulai..

Terus terus?

Nah gokilnya, karena kita fikir perjalanan bakal suram dan menyeramkan, plus takut mati kelaparan, kita putuskan buat ngangkut Rice Coocker kos-kosan, beras 3kg dan.. abon! Jadilah carrier kami penuh dengan barang-barang dapur itu. Walaupun akhirnya kami menyadari, membawa peralatan “perang” seperti itu adalah tindakan bodoh. Haha. Mengapa? Karena ternyata perjalanan ini tidak se-menyeramkan yang kami bayangkan. Bermodal link dari BPI dan dari teman-teman Lembaga Dakwah Kampus (LDK), kami dapat tempat tinggal yang nyaman dan aman di bali. Dimana? Di kontrakan ketua LDK Universitas udayana 2012. Dan ternyata, di rumah kontrakan beliau, semuanya tersedia. Mulai dari kompor, rice cooker, beras, bahkan sampai lauk-pauknya. Jadilah peralatan perang kami jadi pengangguran abadi. Disinilah kadang saya merasa kesal. Haha.

Haha. Bisa aja lu. Btw, perjalanan ke bali habis berapa juta?

Berapa juta gimana. Kita cuman habis seratus ribuan, bro. Mantep kan? Naek kereta dari Jogja ke banyuwangi habis 50 ribu, trus ke ketapang habis 7 ribu, trus ke denpasar nya 20 ribu. Dari denpasar ke udayana habis 3 ribu. Jadi total ya Cuma 80 ribu. Udah sampek bali, cuy.

Wih. Sangar. Gimana ceritanya ente kenal sama anak LDK udayana itu?

Awalnya nggak kenal sih. Nggak ada yang kenal sama sekali. Kita sotoy aja cari-cari di Facebook, kita kepoin dikit-dikit, terus langsung pedekate.. Ujung-ujungnya, numpang nginep. #yeaaa

Haha. Cakep juga cara ente. Hari pertama di bali ngapain?

Nah, hari pertama di bali kita maen ke GWK. Garuda Wisnu Kencana. Sama si empunya rumah tempat kita nginep dikasih tau, kalau mau ke GWK, kesananya abis sholat subuh, biar nggak bayar. Nggak sabar, abis sholat subuh kita langsung cus kesana. Dan ternyata bener, disana masih sepi. Nggak ada orang sama sekali! Bener-bener kayak punya kita sendiri. Jadilah kita puas-puasin maen disana. Apalagi buat berangkat kesana, kita dipinjemin motor sama temen-temen LDK udayana. Jadi nggak perlu repot-repot cari angkutan umum. Beeh..lengkap sudah kebahagiaan kita.

Manttaap!! Terus hari kedua?

Hari kedua kita maen ke ulu watu sama dream land. Di ulu watu ini, tempatnya kece punya. Banyak bule jalan-jalan sampai monyet-monyet berkeliaran (bukan bermaksud menyamakan bule sama monyet lho). Yah, namanya juga orang masih udik, nggak tahan juga buat foto sama bule yang keliahatan “cling”. Udah kenalan juga sebelumnya, dan ternyata dia dari rusia #eaa. Nah, begitu udah pose foto (berdua aja), tiba-tiba ada monyet yang loncat ke kepala ane, terus nyerang ane dengan membabi buta gitu. Kaca mata ane diambil, terus digigit sampek pecah berkeping-keping. Masyaallah, baru mau berbuat nyeleneh dikit aja udah ditegur sama Allah. Alhasil, sisa hari di bali ane lalui tanpa kacamata. Dan, semuanya buram.

Hahah. Salah elu sih, aneh-aneh. Udah terimakasih belom sama tu monyet? Wkwk. Sekarang coba ceritain perjalanan ente ke lombok dong.

Haha. Baiklah. Lombok. Pulau ini indahnya minta ampun. Yang paling terkenal dari pulau ini adalah pasir putih pantainya, misalnya pantai Gili Trawangan, gili kondo, dan masih banyak yang indah-indah lainnya. Ada lagi yang kece dari lombok. Apa itu? Gunung rinjani! Thats a wonderful mountain! Gunung rinjani ini juga masuk ke “Seven Summits of Indonesia” lho. Dan waktu ane maen ke lombok, ane berkesempatan naek ke puncak tertinggi dari gunung ini. Masyaallah, kerennya nggak ketulungan! Saking kerennya pulau ini, kalau para pelancong ditanya, “bukannya lebih keren bali ya, daripada lombok?” mereka pasti menjawab “Apa yang ada di Bali, juga ada di Lombok, tapi yang ada di Lombok belum tentu ada di Bali”.

Wah. Wah. Seru nih. Gimana tu awalnya ente ke lombok?

Nah, awal perjalanan ane ke lombok begini. Waktu itu di tahun 2014, ane ada duit Rp.1.100.000. Dengan duit segitu, ane pengen banget bisa maen ke lombok dan naek Rinjani. Mungkin nggak tuh kira-kira? Kalau naik pesawat, bisa-bisa ane pindah kuliah di lombok sob, karena gak bisa balik ke jogja lagi. Hehe. Akhirnya, ane muter otak. Gimana caranya dengan duit segitu ane bisa sampai ke lombok dan naek ke puncak rinjani. And the game start now! Ane putusin pakai jalur darat! Biar greget! Berapa duit habisnya? Ini rinciannya. Dari stasiun Jogja Lempuyangan ke stasiun banyuwangi Baru habis 50 ribu (taun 2013, sob). Terus dari banyuwangi ke Pelabuhan Gilimanuk habis 7000 perak. Lanjut lagi, dari Pelabuhan Gilimanuk ke Padang Bay habis 45 ribu. Masih ada lagi. Dari padang Bay ke P. Lembar juga habis 45.000. Terus lanjut dari P. Lembar ke Mataram 30 ribu.

Berapa tuh totalnya? 177 ribu! Ane udah bisa menghirup udara lombok dengan 177 ribu! Murah banget kan?

Wih. Trus disana nginep dimana?

Nah, di lombok itu ada rumah singgah “lombok backpacker”. Ane stay disana sejak dari awal tiba di lombok. Jadi waktu naek ke rinjani, barang yang nggak perlu dibawa ane tinggal disitu. Rumah ini unik, milik pasangan suami istri yang kami panggil mama-papa. Beliau ini mewakafkan rumahnya untuk dijadikan rumah singgah backpacker yang melancong ke lombok. Beliau tidak memungut biaya sepeser pun. Walaupun ini rumah singgah, tapi rumah ini bersih dan tertata rapi, karena setiap yang nginep disana punya kesadaraan untuk menjaga kerapihan rumah ini bareng-bareng. Yang keren, kalau malam jumat, rumah ini biasa kita buat yasinan bareng-bareng, trus makan-makan sama temen-temen backpacker yang lainnya. Bahkan yang non islam pun kadang ikut nimbrung, Hehe.

Kalau perjalanan ke lombok ane ini ane detailin, bakalan panjang banget bro. Apalagi waktu perjalanan ane ke rinjani nya. Benar-benar berkesan.

Oke dah. Ane rasa cukup perbincangan kita. Walaupun masih banyak perjalanan lain yang bisa ente ceritain ke kita, tapi ini aja udah Inspiring banget, sob! Terakhir, apa nih pesen ente buat kita-kita di @FsdkIndonesia?

Ane ingin mengajak sobat muda @FsdkIndonesia untuk sekali-kali meluangkan waktu sejenak, mengintip indahnya pesona nusantara yang luar biasa hebatnya. Makin kesini ane makin sadar betapa kayanya bangsa kita ini. Namun sayang, terkadang justru mereka, orang-orang nun jauh di luar sana itulah yang berbondong-bondong menikmati kecantikan negeri kita. Sedangkan kita? Mungkin kalau ditanya, anda pernah ke wakatobi? Kita justru bertanya, dimana itu wakatobi?

Berikutnya, jadikan @FsdkIndonesia ini sebagai Rumah Besar yang, dimana pun kita berada, seolah-olah kita selalu berada rumah kita sendiri. Kenapa? Karena dimanapun kita berada, disana selalu ada saudara kita @FsdkIndonesia.

Indonesia adalah Sepenggal Firdaus yang dihadirkan Allah ke dunia, maka pergilah kesana, dan Pujilah Dia disetiap jengkal tanahnya.

Ini dia foto-foto si puguh…

MAS PUGUH 6
MAS PUGUH
MAS PUGUH 4
MAS PUGUH 3
MAS PUGUH 5
MAS PUGUH 8
Thanks to:

Our Sweet Home: @FsdkIndonesia Fsldkindonesia.org FSLDK Indonesia

Actor #LDK,Saya!: @maspuguh

Author: @densyukri

#BerkaryaUntukIndonesia

#MainKeRumah

Categories