Humanity Archives - FSLDK Indonesia

footballwallpapers-sepak-bola-daez

Sepak Bola dan Pesan Kemanusiaan

By | Gagasan, Puskomnas | No Comments
footballwallpapers-sepak-bola-daez

Sumber Gambar: www.iberita.com

Penulis: Hanafi Ridwan Dwiatmojo

Apa yang pertama kali terlintas di pikiran kita saat ditanya tentang sepak bola? Ya, sepak bola. Olah raga paling populer di planet ini. Olah raga ini tidak memandang “kasta”, dia bisa dimainkan siapa saja. Kembali ke pertanyaan tadi, pasti akan ada banyak jawaban tentang sepak bola. Mulai dari bola sampai piala dunia. Dari sekedar olah raga sampai gengsi yang bertaruh harga diri. Sepak bola memang membawa banyak arti. Lalu bagaimana awal mula olah raga ini dikenal manusia dan perkembagannya hari ini?

Diteliti oleh FIFA sebagai otoritas tertinggi sepak bola dunia, awal mula sepak bola berasal dari negeri China. Olah raga ini mulai ada pada abad ke-2 dimasa dinasti Han. Dikenal dengan nama Tsu Chu yang berarti bermain dengan menggiring bola kulit kemudian memasukkan bola kedalam jaring berukuran kecil. Dimasa itu tujuan sepak bola adalah untuk melatih fisik para tentara dan biasanya sepak bola juga dimainkan saat ulang tahun kaisar. Selain China, negara-negara yang memiliki sejarah tentang awal mula sepak bola diantaranya adalah Jepang, Inggris, dan Romawi.

Sepak bola terus berkembang melewati ruang dan waktu. Beradaptasi dengan zaman yang semakin modern. Perhelatan kompetisi pun lengkap dari sepak bola amatir level tarkam sampai level profesional di piala dunia. Piala dunia adalah kompetisi paling bergengsi yang memperebutkan mahkota raja sepak bola di level negara. Namun, dewasa ini ada hal “tidak biasa” yang mewarnai sepak bola. Sepak bola tidak lagi berkutat pada kompetisi. Memperebutkan piala maupun memuncaki klasemen. Hari ini sepak bola bisa menjadi sebuah alat pengirim pesan yang sangat efektif. Pesan ini bisa disampaikan oleh para pemain maupun mereka yang tergabung dalam tifosi.

Sejenak menengok tulisan sebelumnya pada “Omran, Celtic, dan Sekeping Kemanusiaan”, sudah ada sedikit contoh tentang fungsi baru sepak bola ini. Lalu setelahnya, peran baru yang diemban sepak bola ini semakin populer di mata publik. Peran sebagai pembawa pesan kemanusiaan. Salah satu pesan kemanusiaan yang dikirimkan adalah dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Celtic pada kemengangan 5-2 atas Hapoel Beer Sheva mungkin bukan yang mengawali, tapi boleh jadi mereka yang telah mempopulerkan. Bahkan ketika UEFA memberikan denda pun mereka tidak menggubris, malah melakukan galang dana untuk Palestina yang menghasilkan lebih dari 75 ribu pounds. Setelahnya ada St. Etiene dari Perancis yang mengikuti ketika melawan Beitar Jerusalem. Dan yang terbaru ditunjukkan oleh suporter tim nasional Indonesia.

Tertanggal 4 September 2016, untuk pertama kalinya setelah terbebas dari hukuman FIFA, akhirnya timnas Indonesia dapat menyelenggarakan pertandingan persahabatan. Kali ini yang menjadi sparing partner adalah negeri tetangga, Malaysia. Suasana rivalitas begitu kental ketika harus bertemu negeri jiran ini. Padahal Indonesia dan Malaysia adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim dan secara rumpun masih dekat dari garis persaudaraan melayu. Namun di pertandingan kemarin aroma perseteruan tidak terlalu tercium. Malah ada pertunjukan mengejutkan yang dipertontonkan oleh tifosi pasukan Garuda, kali ini dipelopori Pasoepati, suporter Persis Solo.

Memenuhi tiga tribun stadiun manahan, sekitar 20.000 manusia memperagakan koreografi yang mengundang decak kagum penonton yang lain. Peragaan kata Garuda menjadi tampilan pembuka, dilanjut dengan sang saka Merah-Putih yang disambut sorak sorai, lalu pertunjukan yang tidak diduga pun muncul di akhir, formasi bendera Palestina! Sontak riuh ramai tepuk tangan pun menyambutnya dan kamera-kamera handphone menjalankan tugasnya dengan sempurna. Sejenak setelah pertandingan berakhir, pesan yang disampaikan suporter Indonesia pun langsung viral di media sosial. Dari Solo untuk Indonesia dan Palestina.

Inilah fungsi baru sepak bola hari ini. Sekarang ia tak hanya berkaitan dengan kompetisi dan gengsi. Tapi merambah pada rasa hormat dan peduli. Football teach us about respect and humanity. Terlepas motif dan niat apa yang ada dibaliknya, entah psywar, sekedar mengikuti tren, atau benar-benar peduli dari dalam hati, bagi saya itu tidak terlalu penting. Karena yang lebih penting adalah, dunia melihat Palestina! Dan beriring harap berangkat dari sana, akan lebih banyak lagi hati yang tergerak untuk peduli.

Ditulis dalam perjalanan menuju Solo, dihari ke-10 bulan September.

Categories