GSJN Archives - FSLDK Indonesia

4032138d-0ddc-412e-96fc-00838d945704_orig

Islam dalam Sorotan Media

By | Berita, Indonesia, Puskomda, Puskomnas, Rilis | No Comments
media

Sumber Gambar : brusselmedia.be

Tanggal 4 November 2016 menjadi sejarah baru Indonesia. Lebih dari dua juta umat Islam turun ke jalan, memutih di Ibukota. Dibersamai dengan puluhan ribu massa di wilayah Indonesia lainnya, seperti Medan, Pangkalpinang, Palembang, Pekanbaru, Jambi, Banjarmasin, Samarinda, Balikpapan, Pontianak, Solo, Malang, Semarang, Jember, Purwokerto, Makassar, Kendari, Ambon, Bandung, Cirebon, Bogor, Tangerang, dan Madiun.

Mengadakan aksi damai, yang berikutnya disebut aksi damai 411. Tuntutan aksi jelas, massa meminta keadilan dan menuntut proses hukum terhadap pelaku penista agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang pada tanggal 27 September 2016 di Kepulauan Seribu telah menciderai kebhinnekaan bangsa ini. Terekam dengan jelas, dalam video yang dirilis oleh pemprov DKI Ahok telah menistakan Al Qur’an surat Al-Maidah ayat 51 sebagai alat untuk membohongi. Serta menghina ulama sebagai pembohong. Hal ini jelas melanggar setidaknya dua undang-undang, yaitu KUHP pasal 156a tentang Penistaan Agama dan UU No.1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. 

Namun media dan pihak yang bermain di belakangnya (man behind the gun) dengan provokatif mengatakan bahwa Ahok tidak melakukan penistaan dan salah kaprahnya media memberitakan soal aksi damai 411 dengan menggambarkan Islam anti nasionalisme dan agresif. Dan memelintir fakta jumlah massa yang turun ke jalan hanya berkisar dua ratus ribu.

Jakarta, 16 November 2016 gelar perkara penistaan agama menetapkan Ahok sebagai tersangka. Hal ini masih merupakan proses yang panjang dan tetap berjalan, pasca ini masih ada proses peradilan. Status Ahok masih tersangka, belum terdakwa, belum terpidana. Namun kami akan terus mengawal sampai keadilan ditegakkan. Khawatir ini adalah sarana penggembosan ummat. Dan gurita-gurita media yang memutarbalikkan fakta, memainkan opini masyarakat, bisa jadi untuk menuai simpatik publik terhadap Ahok.

Adanya fenomena demikian membuat Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia ikut menjadi garda terdepan mengawal isu yang beredar di media.

Salah satu usaha FSLDK Indonesia yaitu dengan memasukkan konten kajiannya yang dikemas dalam acara Gerakan Subuh Jama’ah Nasional (GSJN) Ke-14 dengan tema Islam dalam Sorotan Media: Membangun atau Merusak Citra. Tema ini menggambarkan suatu fenomena dari media, kekuatan terbesar di dunia modern dan para aktor yang bermain di depan atau di belakang layar dengan menyajikan informasi yang salah kaprah tentang Islam dan hasratnya untuk menyudutkan Islam.

Apa alasan dan siapa tokoh di balik itu semua? Dan pentingnya masyarakat membaca berita yang sehat.

 “Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang seorang yang fasik dengan membawa suatu informasi maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena suatu kebodohan, sehingga kalian menyesali perbuatan yang telah kalian lakukan.” (Al-Hujurat: 6)

GSJN ke-14 ini dilaksanakan pada tanggal 19-20 November 2016 serempak di lebih dari 10 titik di Indonesia. Diantaranya Kalbar (IAIN Pontianak), Aceh (Univ. Leuser Kutacane),  Solo (Univ. Sebelas Maret), Jakarta (Univ. Trilogi), Lampung (Univ Bandar Lampung), dan Riau (Univ. Lancang Kuning Pekanbaru).

Melalui tema GSJN kali ini, FSLDK Indonesia ingin menyampaikan pesan kepada ummat agar cerdas berita dan media. Semoga Allah senantiasa menguatkan dan membela.

whatsapp-image-2016-10-03-at-16-59-02

Satu Tahun FSLDK Indonesia Menyerukan Kebangkitan

By | Berita, LDK, Puskomda, Puskomnas, Rilis | No Comments
whatsapp-image-2016-10-03-at-16-59-02

Salah satu kegiatan GSJN di Kal-Bar bersama Walikota Pontianak

Surakarta (1-2/10) – Tanggal 1-2 Oktober 2016 menjadi sejarah bagi bangsa Indonesia, khususnya bagi Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia. Bertepatan dengan 1 Muharram 1438 H, FSLDK Indonesia telah genap satu tahun menyelenggarakan Gerakan Subuh Jamaah Nasional (GSJN) yang digelar serentak di berbagai titik penjuru Indonesia setiap bulannya. GSJN adalah satu gerakan yang menekankan pada keistiqomahan dalam menjalankan sholat subuh secara berjamaah.

FSLDK Indonesia meyakini bahwa gerakan ini adalah syarat perubahan dan kebangkitan karena mendasarkan pada gerakan mahasiswa dengan ciri khas dan potensinya. Maka sudah saatnya masjid kampus adalah destinasi yang diutamakan menuju kebangkitan. Bukan berarti kami menutup mata dengan masyarakat umum dan masjid jami’ di luar kampus, tetapi pelan tapi pasti FSLDK Indonesia mencoba  menggandeng pemerintah dan ormas untuk ikut menginisiasi atau menyemarakkan agenda ini di seluruh elemen masyarakat.

Pada edisi satu tahun atau GSJN ke 13 ini , tema yang diusung adalah “Bangkit untuk Berjaya. Membangun Peradaban Indonesia”. Masih linier dengan tema satu tahun yang lalu saat gerakan ini di-launching, yaitu “Dari Masjid Peradaban Indonesia Bangkit”. Tema ini menggambarkan satu mimpi dari gerakan ini khususnya, bahwa peradaban emas Indonesia hanya akan bangkit saat Islam berdiri tegak di negeri ini. Walaupun secara de facto Indonesia adalah negara muslim terbesar, namun implementasi Islam sebagai jalan hidup masih sangat kurang. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai agent of change harus mengambil perannya, khususnya mahasiswa muslim (red: aktivis dakwah kampus). Maka tidak salah kiranya ketika gerakan ini pada awal kelahirannya dan sampai berkembangnya nanti InsyaAllah, akan tetap menitik beratkan masjid kampus dan mahasiswa sebagai representasi semangat juang Islam pada ranah akademisi, kaum intelektual, calon-calon pemimpin bangsa, dan tentunya penggerak perubahan.

GSJN kali ini diselenggarakan di 36 titik di Indonesia dengan lebih dari 40 masjid kampus penyelenggara yang diantaranya, Masjid Kampus Universitas Bangka Belitung, Universitas Mulawarman, Universitas Negeri Gorontalo, dan  Salman ITB Bandung. Tiga puluh enam titik penyelenggara ini merupakan jumlah terbanyak selama setahun penyelenggaraan. Lebih dari 3.000 jamaah yang hadir dalam GSJN kali ini. Hal ini menunjukkan meningkatnya kembali jumlah peserta dari GSJN sebelum-sebelumnya. Infaq yang terkumpul tidak kurang dari  Rp 7.000.000,- yang seperti biasa akan didonasikan untuk Palestina melalui Komisi Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP).

Seperti bulan-bulan sebelumnya , untuk menggaet massa masing-masing daerah memiliki cara yang berbeda-beda, mulai dari publikasi masif melalui media, sosialisasi ke beberapa komunitas atau forum, maupun dengan menambah pernak-pernik lain seperti sarapan gratis, doorprize dan sebagainya. Unsur pelaksananya pun telah berkembang, tidak hanya kampus saja namun juga sudah merambah ke pemerintah dan masyarakat. Dukungan positif untuk gerakan ini sudah mulai banyak terlihat, baik dari para tokoh seperti rektor, pejabat, hingga novelis sekelas Habiburrahman El Shirazy. Dukungan penuh dari para ulama, ormas, dan civitas akademika ikut menyemarakkan agenda gerakan subuh jamaah ini.

“Mengapa banyak manusia sebagai makhluk Allah yang notabene paling sempurna yang dilengkapi dengan akal fikir sempurna tidak mensyukuri nikmat, tidak tulus dan serius dalam beribadah dan memurnikan keimanan kepada sang pencipta-Allah SWT? Subuh on time pertanda syukur dan kuatnya iman seseorang, maka marilah kita mulai aktivitas sehari-hari dengan subuh berjamaah di masjid semoga keberkahan dan rahmat Allah selalu tercurahkan pada kita semua.”, terang Prof. Drs. Sutarno, M.Sc, Ph.D selaku Wakil Rektor Bidang Akademik UNS yang sangat adanya agenda GSJN ini.

Noval Abuzarr, S.Pd (Koordinator Presidium Pemuda Djayakarta) juga memberikan apresiasinya kepada FSLDK Indonesia yang telah mengawal syiar subuh ini dan berkembang sampai berusia satu tahun penyelenggaraan  melalui penyampaiannya “Apresiasi besar buat FSLDK yang mengadakan GSJN, di tengah anak muda yang makin hedonis masih ada anak-anak muda Muslim yang makin religius dan komitmen menegakkan nilai-nilai Tauhid dan bermasyarakat”.

Terdapat hal yang berbeda pada edisi milad satu tahun ini yaitu adanya video conference penyampaian progress pelaksanaan GSJN sejak Oktober 2015 lalu. Surakarta (Solo) yang merupakan salah satu titik pelaksana GSJN sekaligus sebagai Pusat Komunikasi Nasional (Puskomnas) FSLDK Indonesia dipilih menjadi tempat diselenggarakannya video conference tersebut.  Video conference yang dilaksanakan pada pukul 20.00 WIB ini saksikan pula oleh 35 FSLDK yang lainnya. Dalam laporannya, Hanafi Ridwan sebagai Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia menyampaikan bahwa “Grafik menunjukkan bahwa jumlah peserta/jamaah GSJN di semua masjid penyelenggara terjadi fluktuasi di tiap bulannya selama setahun ini. Tinggi pada awal dilaunchingnya, sempat turun, naik lagi di pertengahan, dan saat ini mulai naik lagi. Inilah yang akan tetap kita pantau, keistiqomahan menjadi poin yang harus dimiliki oleh seorang aktifis muslim. Kita berharap hingga suatu saat nanti, gerakan subuh jamaah ini berjalan sebagai sebuah kebiasaan sebagai salah satu sarana mencetak pemimpin besar bangsa ini. Mohon doa dari asatidz, rektor, pimpinan perguruan tinggi, dan umat Islam pada umumnya agar 15-20 tahun lagi kami siap memimpin Indonesia. Saatnya berproses bangkit. Bangkit untuk berjaya. Membangun peradaban Indonesia.”

Melalui keistiqomahan inilah, FSLDK Indonesia ingin menyampaikan bahwa sholat shubuh di masjid menjadi salah satu sarana terbaik untuk menumbuhkan semangat juang dan kepemimpinan seorang muslim. Maka kelak, harapannya oang-orang yang menjadi bagian dari GSJN ini nantinya siap inisiator-inisiator kebaikan di lingkungannya dan memegang peranan sentral bagi bangkit jayanya peradaban di Indonesia.

Lihat juga rilis lainnya di :

1 Tahun Gerakan Subuh Jamaah Nasional FSLDK serukan kebangkitan Islam

http://www.kiblat.net/2016/10/03/1-tahun-gerakan-subuh-jamaah-nasional-fsldk-serukan-kebangkitan-islam/

Satu Tahun FSLDK Serukan Kebangkitan

http://m.hidayatullah.com/none/read/2016/10/03/101924/satu-tahun-fsldk-indonesia-menyerukan-kebangkitan.html

FSLDK Peringati Setahun Konsistensi Gerakan Subuh Jamaah Berjamaah

http://solo.tribunnews.com/2016/10/01/fsldk-peringati-setahun-konsistensi-gerakan-subuh-berjamaah-di-masjid-nurul-huda-uns

FSLDK Gelorakan Gerakan Subuh Jamaah Nasional

http://www.timlo.net/baca/68719685888/fsldk-gelorakan-gerakan-subuh-jamaah-nasional/

FSLDK Gelorakan Gerakan Subuh Jamaah Nasional

http://news.babe.co.id/8598471⁠⁠⁠⁠

whatsapp-image-2016-09-28-at-13-32-02

Satu Tahun Gerakan Subuh Jamaah Nasional, FSLDK Indonesia Menyerukan Kebangkitan

By | Berita, LDK, Puskomda, Puskomnas, Rilis | No Comments

whatsapp-image-2016-09-28-at-13-32-02

Sabtu-Ahad, 1-2 Oktober akan menjadi sejarah bagi bangsa Indonesia umumnya, dan khususnya bagi Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia. Karena tepat pada tanggal tersebut bersamaan dengan 1 Muharram 1438H, satu tahun telah berlangsung Gerakan Subuh Jamaah Nasional (GSJN). GSJN adalah satu gerakan yang menekankan pada keistiqomahan dalam menjalankan sholat subuh berjamaah, dan karena mendasarkan pada gerakan mahasiswa maka masjid kampus adalah destinasi yang diutamakan. Bukan berati menutup mata dengan masyarakat umum dan masjid jami’ di luar kampus, karena pelan tapi pasti FSLDK Indonesia mencoba untuk menggandeng pemerintah dan ormas untuk ikut menginisiasi atau menyemarakkan agenda ini.

Pada edisi milad satu tahun GSJN ini, tema yang diusung adalah “Bangkit untuk Berjaya. Membangun Peradaban Indonesia”. Masih linier dengan tema satu tahun yang lalu saat gerakan ini di-launching, yaitu “Dari Masjid Peradaban Indonesia Bangkit”. Tema ini menggambarkan satu mimpi dari gerakan ini khususnya, bahwa peradaban emas Indonesia hanya akan bangkit saat Islam berdiri tegak di negeri ini. Walaupun secara de facto Indonesia adalah negara muslim terbesar, namun implementasi Islam sebagai jalan hidup masih sangat kurang. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai agent of change harus mengambil perannya, khususnya mahasiswa muslim (red: aktivis dakwah kampus). Maka tidak salah kiranya ketika gerakan ini pada awal kelahirannya dan sampai berkembangnya nanti InsyaAllah, akan tetap menitik beratkan masjid kampus dan mahasiswa sebagai representasi semangat juang Islam pada ranah akademisi, kaum intelektual, calon-calon pemimpin bangsa, dan tentunya penggerak perubahan.

GSJN ke-13 kali ini diselenggarakan di 35 titik di Indonesia diantaranya Jambi, Pontianak, Sulawesi Tenggara, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. GSJN kali ini diselenggarakan *di lebih dari 40 kampus diantaranya Universitas Bangka belitung, STEI SEBI, ITB, STKIP PGRI Ngawi, IKIP PGRI Pontianak, Universitas Mulawarman, dan Universitas Siliwangi. Jumlah tersebut adalah yang terbanyak selama setahun penyelenggaraan. Unsur pelaksananya pun telah berkembang, tidak hanya kampus saja namun juga sudah merambah ke pemerintah dan masyarakat. Dukungan positif untuk gerakan ini sudah mulai banyak terlihat, baik testimoni langsung dari para tokoh seperti Rektor Universitas Bangka Belitung, Rektor STIKES Mandala Waluya Kendari, Rektor IKIP PGRI Pontianak, Kepala Kawil Kemenag Sulawesi Tenggara, Walikota Pontianak, sampai Novelis Habiburrahman El Shirazy. Dukungan penuh dari para ulama, ormas, dan civitas akademika ikut menyemarakkan agenda gerakan subuh jamaah ini. Untuk menggaet massa masing-masing daerah memiliki cara yang berbeda-beda, mulai dari publikasi masif melalui media, pencerdasan, maupun dengan menambah pernak-pernik lain seperti sarapan gratis, doorprize dan sebagainya.

Melihat antusias warga kampus maupun masyarakat dan pemerintah pada umumnya sudah mulai marak terhadap gerakan ini, maka FSLDK Indonesia akan lebih giat dalam berupaya mewujudkan mimpi untuk membangkitkan peradaban Indonesia melalui ruh keislaman,khususnya pada Gerakan Subuh Jamaah Nasional ini. Tentu untuk membangun peradaban Indonesia yang begitu besar, satu forum mahasiswa saja tidak akan cukup. Oleh karena itu FSLDK Indonesia mengajak semua unsur ormas islam, gerakan mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam menyemarakkan gerakan ini, bukan hanya sebulan sekali tetapi harapannya bisa setiap hari. Dengan demikian langkah terakhir hanya tinggal memasrahkan semua hasil pada Allah atas segala usaha. Semoga Allah ta’ala meridhai dan menolong bangsa ini.

whatsapp-image-2016-09-28-at-13-32-02

GSJN #3 Spesial 1 Tahun

By | Berita, GSJN, LDK, Puskomda, Puskomnas | No Comments

whatsapp-image-2016-09-28-at-13-32-02

Assholatu khoirun min an-naum
Sholat lebih baik dari tidur

Tidak umum terdengar, paling hanya sehari sekali. Terdengar saat dini hari, banyak mata terpejam dan tidak peduli.

Tetapi, sebuah istana megah bernama madain dibuka oleh kaum muslimin, dibawah pimpinan seorang khalifah yang gagah perkasa namun sederhana. Kota berbenteng, tidak tertaklukan dalam pertempuran berabad abad, dibuka oleh pemuda tanggung pemberani. Di masa itu, ummat muslim sangat akrab dengan seruan itu, sangat sering mendengar lantunan khusus dalam adzan tersebut.

Ummat merindukan kejayaan, memimpikan terwujudnya cita era gemilang. Maka kami hadirkan sebuah inspirasi dan cinta kami untuk ummat, Gerakan Shubuh Jamaah Nasional (GSJN).

Hampir genap setahun FSLDK Indonesia berusaha menjaga ruh semangat GSJN bersama 37 FSLDK daerah sebagai usaha untuk melangkah menuju peradaban mulia yang bermula dari masjid.

Dan kali ini, FSLDK Indonesia kembali hadir dengan GSJN #13 yang bertajuk Milad GSJN 1 Muharram 1438 H dengan tema “Bangkit Untuk Berjaya, Membangun Peradaban Indonesia”. GSJN#13 ini akan dilaksanakan pada tanggal 1-2 Oktober 2016 serentak di 35 titik di Indonesia.

Mari kita terus sambut seruan suci ini. Untuk bangkit. Untuk berjaya. Untuk peradaban Indonesia.

no image added yet.

GSJN #7: Nasionalisme dalam Perspektif Islam Seorang Tjokroaminoto

By | Rilis | No Comments

Pada bulan April, Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia kembali menggencarkan Gerakan Shalat Shubuh Berjamaah (GSJN) di berbagai lokasi di Indonesia. Gerakan yang dilaksanakan setiap bulan ini merupakan upaya untuk mengajak umat Muslim bersatu dalam barisan shalat Shubuh berjamaah, yang merupakan tolok ukur kejayaan agama Islam.

GSJN yang sudah memasuki kali ketujuh ini dilaksanakan pada tanggal 22-23 April 2016. Terhitung ada 34 masjid kampus di seluruh Indonesia yang mengadakan shalat Shubuh berjamaah.

Dalam GSJN #7 ini, FSLDK Indonesia mengambil tema “Nasionalisme dalam Perspektif Islam Seorang Tjokroaminoto.” Tema ini dipilih sebagai tanggapan atas kembali terhembusnya isu-isu yang mengobok-obok umat Islam. Melalui kisah perjuangan Hadji Oemar Said (H.O.S.) Tjokroaminoto, seorang tokoh pergerakan Islam yang memimpin organisasi Syarikat Islam (SI), FSLDK Indonesia mencoba meluruskan stigma yang menyandingkan Islam dengan radikalisme.

H.O.S. Tjokroaminoto adalah seorang pejuang yang memiliki garis darah ulama dari Ponorogo, Jawa Timur, yang bernama Kyai Haji Hasan Besari. Menyadari bahwa umat Islam tertindas oleh kenyamanan semu yang dihembuskan oleh para penjajah, Tjokroaminoto mencoba membangkitkan keinginan umat Islam untuk kembali menjadi umat yang merdeka. Berdasar kepada Al Qur’an dan Sunnah, Tjokroaminoto mencontoh kepemimpinan Rasulullah saw. yang membangkitkan kekuatan bangsa Arab ketika terjajah oleh Romawi dan Persia. Melalui paradigma lima-K, umat Islam kembali disadarkan agar bangkit menjadi bangsa yang merdeka. Kelima paradigma itu adalah: kemauan, kekuatan, kemenangan, kekuasaan, dan kemerdekaan. SI pimpinan Tjokroaminoto pun kemudian menyelenggarakan kongres pertama di Surabaya, yang menjadi cikal bakal Kongres Nasional Central Syarikat Islam di Bandung. Pada kongres inilah istilah nasional disosialisasikan.

Tjokroaminoto adalah penentang ideologi komunis yang pertama kali dikampanyekan oleh perserikatan komunis India. Beliau pula pencipta kopiah nasional sebagai pengganti blangkon, yang selanjutnya diikuti oleh menantunya, Ir. Soekarno. Dalam lambang yang pertama kali digunakan oleh SI, terlihat jelas nilai-nilai Islam yang menjadi dasar perjuangan SI dalam upaya mencapai kemerdekaan bangsa dan negara.

Dari kisah tersebut, telah menjadi fakta sejarah bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia didasarkan pada persatuan umat Islam. Radikalisme yang disandingkan dengan Islam pun menjadi tidak relevan dengan sikap nasionalis umat Islam yang tercermin dalam diri H.O.S. Tjokroaminoto.

Melalui GSJN kali ini, masyarakat Indonesia diharapkan dapat memperoleh pemahaman mendasar mengenai perjuangan ulama Muslim di masa lalu dalam meraih kemerdakaan nasional sehingga tidak mudah diombang-ambingkan oleh isu-isu yang beredar di media. Diharapkan pula masyarakat Indonesia kembali memahami pentingnya persatuan dan kesatuan dalam sebuah jamaah umat untuk mencapai kejayaan agama Islam.

Categories