Dakwah Kampus Archives - FSLDK Indonesia

pray-islam-kyrgyzstan_12346_600x450

Aku Ingin Mengaji , Tapi Orangtuaku Curiga…

By | Gagasan | 2 Comments

 

al-quran-2

Sumber Gambar: Arrahmah.com

 

Saya adalah seorang mahasiswa sebuah universitas di kota Padang.  Saya berasal dari Riau, saya lahir dan besar di sana, orangtua dan keluarga saya juga berada disana. Saya merantau ke kota padang saat dinyatakan lulus di kampus saya sekarang, setelah mengikuti ujian seleksi perguruan tinggi negeri tahun 2011 lalu. Sebagai mahasiswa perantauan, praktis saya bisa hidup lebih bebas. Karena hidup sendiri jadi mengatur waktu dan kegiatan sendiri tanpa harus mengahadapi pantauan orang tua setiap saat. Hidup sendiri tentu saya harus betanggung jawab penuh atas apa saja yang saya lakukan.

Hidup sebagai mahasiswa perantauan memang terasa enak, tapi bukan berarti tidak ada tantangan. Justru sebagai mahasiswa perantauan kita dituntut untuk berpandai-pandai terutama dalam memilih pergaulan.  Inilah yang menjadi salah satu kecemasan para orangtua.  Karena hidup di kota besar semua serba ada, semua serba lengkap. Pergaulan pun juga bervariasi mulai anak kafe, club malam, anak alay suka nongkrong di mall, anak band, komunitas game online, juga ada komunitas  anak-anak pengajian kampus, pengajian luar kampus, dan sebagainya. Biasanya mahasiswa memilih dua sampai tiga komunitas dan mengombinasikannya, selain sebagai kesenangan juga sarana mencari pengalaman dan menambah teman.

Setiap diri mempunyai hak penuh terhadap diri sendiri untuk memilih pergaulan mana yang akan diikuti. Tetapi yang pasti setiap pilihan memiliki konsekuensi, baik untuk pendukung studi di kampus, maupun bekal jangka panjang dari pergaulan masa muda untuk pola pikir di masa depan.  Alhamdulillah saya cukup bersyukur, saya pikir saya memilih sebuah pilihan yang benar, yaitu memilih salah satu komunitas yang cukup bermanfaat bagi  diri saya, komunitas pengajian dakwah kampus.

Pengajian mahasiswa atau di kampus saya, dikenal dengan dakwah kampus merupakan aktivitas keagaman yang digalakkan oleh mahasiswa muslim dikampus. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan bekal ilmu pengetahuan agama baik aqidah, fiqih, ibadah, syariat, dan segala seluk beluk kehidupan manusia yang diatur dengan tingginya aturan Islam. Sehingga dengan mengikuti kajian rutin dan berkala, diharapkan kampus tidak hanya melahirkan generasi cerdas intelektual, tetapi juga generasi yang beriman dan memiliki pemahaman agama yang memadai untuk menyongsong kehidupan pasca kampus yang penuh dengan gejolak dan tantangan.

Kegiatan pengajian mahasiswa atau dakwah kampus ini bukanlah aktivitas yang illegal, dilakukan mahasiswa secara diam-diam atau tanpa sepengetahuan (izin) dari pihak pimpinan kampus. Justru kegiatan-kegiatan dakwah kampus merupakan aktivitas yang menjadi program yang didukung penuh oleh pihak pimpinan kampus, baik itu dukungan perizinan, fasilitas, dana, dan sebagainya.  Hal ini tentu karena pimpinan kampus sangat sadar akan pentingnya pendidikan karakter dan agama bagi generasi bangsa ini.  Bentuk komunitas pengajian dakwah kampus memiliki sarana yang cukup beragam.  Mulai dari lembaga yang formal  sebagai salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang disebut dengan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) atau di kampus saya dikenal Forum Studi Islam (FSI), aktivitas takmir masjid kampus yang diisi oleh para mahasiswa, selanjutnya juga ada kegiatan mentoring agama Islam yang diwajibkan oleh pihak kampus bagi seluruh mahasiswa baru, dan tentu masih banyak lagi.  

Bentuk kegiatan pengajian dakwah kampus juga bervariasi, salah satu contohnya  adalah pengajian rutin di masjid kampus yang dilakukan setiap minggu. Di kampus saya kegiatan ini dikenal dengan OASIS (Obrolan Asyik Seputar Islam). Kegiatan ini dilakukan setiap jumat sore ba’da ashar, dengan mengundang para guru atau ustadz dari luar kampus. Biasanya dari dosen IAIN atau dari lembaga pendidikan agama yang lain. Para guru yang diundang biasanya lulusan dari Mesir, Madinah, atau perguruan tinggi di timur tengah lainnya, atau juga bisa para ustadz atau dosen dari kampus sendiri. Setiap minggunya membahas bahasan yang berbeda mulai dari kajian fiqih ibadah, kajian syariat, kajian hadist, sejarah rasul, pergerakan mahasiswa dalam pandangan Islam dan lainnya. Kegiatan ini sangat bagus untuk menambah wawasan dan pemahaman mahasiswa terhadap Islam. Kegiatan ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa setiap minggunya.

Salah satu kegiatan lainnya yaitu mentoring. Di Kampus saya, mentoring merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa baru, karena ini merupakan bentuk pratikum mata kuliah pendidikan agama Islam. Apakah itu mentoring? Mentoring merupakan aktivitas pengajian kelompok yang diisi oleh peserta mahasiswa baru dan dibimbing oleh seorang senior.  Biasanya setiap kelompok mentoring berisi 7-12 orang peserta mahasiswa baru (mente) dan satu orang senior pendamping (mentor).  Seorang senior pendamping mentoring (mentor) tentu sudah mengikuti pembekalan atau pelatihan.

Saya juga merupakan peserta mentoring sewaktu menjadi mahasiswa baru. Kegiatan mentoring dilakukan pada suatu jadwal luang di sela-sela jadwal kuliah. Pertemuan dilakukan setiap minggu selama satu semester.  Pada kegiatan mentoring ini memiliki kurikulum materi yang telah di rancang oleh LMAI (Lembaga Mentoring Agama Islam), sebuah lembaga yang berada dibawah bidang akademik kampus atau wakil rektor  satu (WR 1). Beberapa materi mentoring seperti aqidah, yang mencakup materi mengenal Allah Sang Pencipta (Ma’rifatullah), mengenal ajaran Islam (ma’rifatul Islam), mengenal kepribadian dan perjuangan Rasulullah (ma’rifaturrasul) dan lain sebagainya. Berikutnya materi yang mencakup fiqih  ibadah, seperti tata cara shalat, berwudhu, bersuci dan lain sebagainya. Juga materi-materi dasar Islam lainnya. Dalam mentoring juga dilakukan aktivitas tutorial baca al-qur’an bagi mahasiswa yang masih belum lancar membaca al-qur’an.

Inilah beberapa contoh aktivitas pengajian dakwah kampus. Aktivitas ini tentu sangat dibutuhkan oleh mahasiswa generasi bangsa ini. Melihat dekadensi moral dan merosotnya kepribadian generasi muda saat ini, tentu salah satu penyebabnya adalah karena minimnya sarana atau fasilitas bagi generasi muda untuk belajar agama. Jika mengharapkan hanya satu semester mata kuliah agama Islam di kampus tentu ini sangatlah tidak cukup. Para mahasiswa generasi bangsa ini sebagian besar adalah anak-anak muslim, tetapi sangat minim dalam belajar agama. Dengan aktivitas dakwah kampus ini tentu diharapkan orang tua dapat sedikit tenang dengan keikutsertaan anaknya.

Tetapi walaupun begitu, aktivitas dakwah kampus bukan tanpa hambatan. Dengan banyaknya isu yang berkembang terkait Islam garis keras membuat semua orang terutama para orangtua merasa was was jika anaknya mengikuti akvititas pengajian keIslaman.  Sebagai seorang mentor di kampus,  tak jarang saya menerima keluhan dari adik-adik peserta mentoring, terutama yang tinggal bersama orangtua. Mereka mengatakan bahwa orangtua mereka gelisah, jika mereka mengikuti suatu pengajian, nanti akan terjerumus pada ajaran Islam aliran sesat atau Islam garis keras (sebagian orang bilang Islam radikal). Apalagi banyak berkembang isu teroris, ISIS, aliran sesat, dan lain sebagainya.  Hal ini merupakan salah satu tantangan juga bagi para penggiat dakwah yang lurus di mana pun berada, termasuk di kampus.

Kita kembali ke dakwah kampus. Sebagai mahasiswa tahun akhir yang sudah cukup lama di kampus,  dari awal ikut kegiatan dakwah kampus. Saya berani katakan, bahwa hal-hal yang diisukan tersebut InsyaAllah tidak ada pada aktivitas dakwah kampus. Dakwah kampus merupakan aktivitas yang terintegrasi dengan kegiatan kampus, tentu pengelolaan dan programnya berada dalam pantauan pihak kampus. Serta pengevaluasian dan kontrol kegiatannya juga dilakukan secara berkala, sehingga sangat kecil kemungkinan adanya  pengaruh dari paham-paham yang dikhawatirkan teresbut.

Saya ingin sampaikan kepada para orangtua, bahwasanya kita menyadari Islam memang sedang diuji dengan adanya  gerakan-gerakan kekerasan yang mengatasnamakan Islam. Tetapi hal ini, tentu tidak dengan serta merta kita menelan bulat-bulat seluruh isu yang ada, dan menyamaratakan persepsi negatif kepada seluruh aktivitas dakwah Islam. Karena jika ini terjadi, akan timbul keadaan yang miris saat ini, yaitu para orangtua justru lebih nyaman jika anak-anaknya mengikuti aktivitas kelalaian bersama teman-temannya seperti acara-acara anak muda yang dekat dengan pergaulan bebas, narkoba, hiburan-hiburan, pacaran dan sebagainya, ketimbang melihat anaknya rajin beribadah dan ikut pengajian remaja/mahasiswa. Karena takut anaknya mengikuti pengajian yang salah.

Sebenarnya kekhatiwaran para orangtua sungguh wajar, tetapi tentu jangalah serta merta melarang anaknya untuk menjadi taat dalam beragama. Berikut ada beberapa tips, untuk menguji aktivitas pengajian yang diikuti oleh seorang anak:

  1. Pastikan sang anak jujur menyatakan perihal suatu pengajian yang diikutinya dimana tempatnya, materi kajiannya, dan pengisi kajiannya. Berikan kepercayaan kepada anak.
  2. Sesekali minta sang anak mengajak teman-teman pengajiannya untuk ke rumah bersama ustadz atau guru pengajiannya. Pada kesempatan ini para orang tua bisa lebih dekat mengenal dan memahami apakah pengajian yang diikuti anaknya ini lurus atau tidak. Jika sang anak menolak atau terkesan menghindar maka ini patut dicurigai.
  3. Sesekali para orangtua ikut ke lokasi pengajian, baik atas sepengatahuan sang anak atau diam-diam dalam rangka mencari tahu.
  4. Ciri khas mahasiswa yang mengikuti pengajian dakwah kampus, mereka akan lebih rajin ibadahnya. Shalat ke masjid, membaca al qur’an secara teratur dan sebagainya, dan ini tentu positif.
  5. Doakan sang anak agar diberikan petunjuk jalan yang lurus oleh Allah Swt.

Beberapa hal ini tentu lebih adil dilakukan dibanding langsung memvonis sang anak sehingga  dia tidak diberikan kesempatan untuk belajar mendekatkan diri kepada Allah Swt. Karena anak yang sholeh tentu juga menjadi dambaan setiap orangtua.

Dakwah kampus telah lahir dan tumbuh di kampus-kampus di seluruh Indonesia. Ia telah banyak berjasa melahirkan para sarjana yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki kepribadian yang unggul. Dakwah kampus dilahirkan dari para pemuda yang mencintai agamanya. Merekalah para pemuda yang jernih pikirannya, bersih hatinya, dan cerdas akhlaknya. Ia lahir semata-mata hanya sebagai bentuk jawaban akan segenap permasalahan moral generasi bangsa ini. Ia dibesarkan dari jiwa-jiwa muda yang semangat berjuang tanpa pamrih. Hanya secercah harapan Indonesia bangkit dan jaya di masa depan dengan para pemuda cerdas dan shalih, sebagaimana dulu para pendiri bangsa ini berjuang mengorbankan diri, diiringi oleh lantunan takbir dan kedekatan dengan Al-Qur’an. Kedekatan dengan Rabb-nya dengan kedekatan yang sedekat-dekatnya.

Penulis: Muhammad Shadri (Ketua Puskomda FSLDK Sumatera Barat)

——————————————————- Media FSLDK Indonesia —————————————————-

Email : info@fsldkindonesia.org

Fanpage : FSLDK Indonesia

Twitter : @FsdkIndonesia | @JarmusnasFSLDKI

Line : @yok1532s

G+ : FSLDK Indonesia

Categories