Cinta Indonesia Archives - FSLDK Indonesia

6a41b82e-9dc0-4424-9dc5-c474cb6236d1

FSLDK Indonesia Akan Ikut Berkontribusi Dalam Pemberantasan Narkoba dan Miras

By | Berita, Puskomnas, Rilis | No Comments
6a41b82e-9dc0-4424-9dc5-c474cb6236d1

Perwakilan FLSDK Indonesia bersama Fahira Idris (tengah)

Jakarta – FSLDK Indonesia pada hari Selasa (21/2)  mengadakan kunjungan ke GANAS ANNAR MUI Pusat. Dalam kunjunganya, FSLDK Indonesia menyampaikan keinginan untuk ikut berkontribusi dalam perjuangan pemberantasan narkoba dan minuman keras.  “Dengan sumber daya yang dimiliki FSLDK, kami yakin mampu melakukan tindakan preventif terhadap penyebaran narkoba dan minuman keras,” tegas Hanafi Ridwan Dwiatmojo, Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia.

“Gerakan ini akan disambut dengan baik oleh banyak elemen, karena sudah menjadi keresahan kita bersama dan harus segera dicegah khususnya untuk kalangan pemuda,” sambut Pak Burhan mewakili Ganas Annar.

Sebelum kunjungan ini, FSLDK Indonesia telah melakukan konsolidasi ringan bersama GENAM (Gerakan Nasional Anti Miras) yang dipimpin oleh Fahira Fahmi Idris. Dalam konsolidasi ini, FLSDK Indonesia mengangkat pembicaraan untuk menjadikan FSLDK Indonesia sebagai mitra dalam pemberantasan miras di Indonesia. 

“Kita dengan elemen yang ada harus terus berjuang melahirkan perda-perda anti miras dan anti narkoba di beberapa daerah yang belum memiliki perda tersebut,” jelas Fahira Idris yang juga menjadi bidan lahirnya perda-perda anti miras di Indonesia.

Tak hanya soal narkoba dan miras, FSLDK Indonesia akan melakukan launching Generasi Peduli Negeri sebagai upaya pencegahan degradasi moral pemuda Indonesia pada tanggal 24-26 Februari 2017 bertepatan dengan RAPIMNAS III yang akan bertempat di Surakarta.

Film-Nasionalisme

Mencinta Indonesia

By | Gagasan, Inspirasi | No Comments
Film-Nasionalisme

Sumber Gambar : blog.bukalapak.com

Oleh: Putra Abdi Ramadan
(Universitas Negeri Padang)

Tidak ada manusia yang sempurna. Memang itulah kenyataannya. Akan tetapi, pada waktu yang sama kita juga diperintahkan untuk berusaha menjadi sempurna. Atau, setidaknya mendekati kesempurnaan. Inilah masalahnya. Adakah kesalahan dalam perintah ini? Tidak! Namun, mengapa kita diperintahkan melakukan sesuatu yang tidak mungkin menjadi kenyataan? Jawabannya adalah kesempurnaan itu relatif. Ukuran kesempurnaan adalah batas maksimum dari kemampuan setiap individu untuk berkembang. Karena, “Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (AI-Baqarah: 286).”(Mencari Pahlawan Indonesia, Anis Matta).

Melihat wajah negeri Indonesia pada saat sekarang ini, mungkin akan membuat kita merasa kurang percaya diri. Kita tahu negeri kita saat ini sedang mengalami krisis dan masalah di segala bidang di dalam kehidupannya. Sesuai dengan kutipan pernyataan Anis Matta di atas tidak ada manusia yang sempurna namun kita diperintahkan untuk menjadi sempurna dan Allah telah berfirman, bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya. Begitu juga dengan sebuah negeri tidak ada negeri yang sempurna, namun kita diharapkan bisa memperbaiki negeri ini, karena Allah juga hendak melihat sesiapa hambaNya yang benar-benar beriman dan bertakwa kepadaNya dengan diberikannya ujian berupa permasalahan-permasalahan dalam kehidupannya. Tentu itu sebagai ladang amal untuk kita. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kehidupan suatu bangsa itu ditentukan oleh akhlak masyarakatnya.

Jika kita melihat sejarah peradaban manusia masyarakat memiliki peranan yang sangat besar dalam menentukan bagaimana keadaan bangsa dan negaranya. Dari diciptakannya manusia pertama Nabi Adam Alaihisallam hingga pada saat sekarang ini kita bisa melihat dan mengambil pelajaran yang sangat berharga mengenai hancur dan bangkitnya suatu bangsa akan sangat ditentukan oleh akhlak masyarakatnya. Salah satu contohnya kisah dari perbuatan keji kaum Nabi Luth Alaihisalam yang terdapat didalam al-Quran. Dikisahkan bahwa Kota Sodom yaitu kota kaum Nabi Luth Alaihisalam tinggal, disana masyarakatnya memiliki kebiasaan buruk yaitu homoseksual dan lesbian atau istilah sekarang lgbt, ketika sudah diingatkan dan didakwahi oleh Nabi Luth Alaihisalam agar tidak melakukan perbuatan tercela tersebut, namun kaumnya tidak menghiraukannya, maka Allah Subhana wa Taa’la mengazab mereka dengan suara yang keras, dibolak-balikkan negeri mereka, dan hujan batu membinasakan mereka semuanya.

Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala membinasakan kota Sodom karena kedzaliman penduduknya, agar menjadi i’tibar bagi orang-orang yang mau berfikir dan menambah keimanan mereka. Kita juga sama-sama mengetahui bahwa tujuan Allah Subhana wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidak lain untuk memperbaiki Akhlak manusia yang sudah rusak dan berjalan tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya. Untuk itu jika kita memang mencintai bangsa Indonesia, marilah kita sama-sama memperbaiki bangsa kita untuk masa depan yang indah, dalam setiap kesempatan yang ada, di saat waktu masih tersisa, kita dedikasikan diri untuk selalu melakukan yang terbaik, dimulai dari diri kita masing-masing dahulu. Mungkin orang tua kita hebat, mungkin pendahulu kita hebat, tetapi yeng lebih penting ialah sehebat apa diri kita. Mungkin kita bisa menikmati apa yang sudah diperoleh oleh para pendahulu kita, tetapi jika kita hanya menikmati dan membangga-banggakan hasil pendahulu kita, itu tidak ada artinya, karena yang hebat bukan diri kita, tetapi pendahulu kita. Kita tidak akan mendapatkan apa-apa atas yang dilakukan oleh pendahulu kita. Pahala mereka bagi mereka, kita tidak akan kebagian kecuali kita memanfaatkan apa yang telah diperoleh oleh pendahulu kita untuk tujuan yang baik. Kita boleh memanfaatkan yang sudah ada sebagai pijakan perjuangan selanjutnya. Islam menginginkan perbaikan secara terus menerus.

Kita tidak bisa mengandalkan pada apa yang sudah dicapai oleh pendahulu kita. Atau, jika pun pendahulu kita tidak baik. Itu bukan alasan kita untuk mengikuti jejak mereka. Apa yang mereka lakukan untuk mereka. Sekarang tinggal apa yang akan kita lakukan dan untuk diri kita sendiri. Kita tidak akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang diperlakukan oleh mereka. Jadi apapun yang dilakukan oleh pendahulu kita, baik atau buruk, kita harus tetap bertindak untuk diri kita. Karena Allah berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali ‘Imraan:110). Karena kita adalah umat yang terbaik, konsekuensinya kita harus menjadi pemimpin yang mengarahkan kepada kebaikan, kita harus memimpin dalam teknologi agar teknologi diarahkan untuk kebaikan. Kita harus memimpin dibidang informasi, agar informasi digunakan untuk kebaikan. Kita harus memimpin di bidang politik agar politik dimanfaatkan untuk kebaikan, dan kita harus memimpin di berbagai bidang lainnya agar bisa digunakan untuk kebaikan.

Kebaikan bukan hanya hasil bicara, kebaikan akan lebih nyata jika merupakan hasil kerja. Apalagi hanya bicara kritik sana kritik sini seperti seorang calo, banyak ngomong tetapi dia sendiri hanya diam saja. Kita harus bergerak, bertindak, dan berbuat agar negeri yang kta cintai ini diberkahi dan dilindungi oleh Allah Subhana wa Ta’ala. Sesuai dengan firmanNya dalam Al-Qur’an “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami itu), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Q.S. Al-A’raf : 96).

 

Categories