Berbagi Inspirasi Archives - FSLDK Indonesia

e382aae38390e3839ee381aee3818ae8be9ee58480

Berlelah-Lelah di Tempat Yang Salah

By | Inspirasi, Puskomnas | No Comments
e382aae38390e3839ee381aee3818ae8be9ee58480

Sumber Gambar: copypastenih.files.wordpress.com

Penulis: M. Syukri Kurnia Rahman

Tadi pagi pas sholat ied, ada bocah ingusan lari-lari di sepanjang muka sajadah. Dari ujung shaff ke ujung yg lain, nabrakin apa aja yg jadi pengganggu “jogging” paginya. Asik kali ya, pas sholat lari-lari, selesai sholat liat orang nyembelih sapi. Hajar terus, son!

Lama-lama bocah ini mendekat ke sajadah saya. Di ujung sajadah itu udah ada kacamata yg saya lepas dari kepala. Kalo keinjek, lumayan juga. Lagian saya pikir, bocah ini harus segera dihentikan sebelum banyak korban yg berjatuhan. Maka tepat sebelum kakinya menjejak sajadah saya, saya hadang dia dengan tangan saya. “Udah dek, hentikan semua sandiwara ini!!” Kira-kira begitu. Haha.

Dia berhenti sejenak. Maju-mundur nggak jelas. Mau maju, kehadang tangan. Mau mundur, tengsin lah ya. Awkward moment tak bisa dihindarkan. Begitu tangan saya saya lepas, dia nyelonong aja tanpa dosa. Kabur. Setelah menghilang entah kemana, eh si unyil ini balik lagi, tapi sekarang doi nangis sambil manggil-manggil bapaknya.

“Aaaayyaaaahhh”

Ternyata dari tadi bocah ini mondar mandir nyari bapaknya. Baru ngeh gue. Masalahnya, ini baru permulaan rokaat kedua, dan imamnya lagi baca surah An-Naba’. Bakal panjang pencarian lu, nyil. Jadilah dia nangis sampai salam, sambil mondar mandir di sekitar shaff saya. Selesai salam, sang bapak segera berdiri dan menghampiri sang anak.

Ini yg membuat saya geleng2 kepala: tempat sholat sang bapak ternyata persis ada di depan shaff saya. Jadi sebenarnya sepanjang pencariannya tadi, bocah ini udah ngelewatin bapaknya berkali-kali! Tapi karena doi lewat di belakangnya, jadilah wajah sang bapak tak terdeteksi. Ketemunya cuma sama sarung. Dia hafal wajah bapaknya, tapi tidak dengan sarung yg beliau pakai pagi itu. Haha.

Nah selama ini, bisa jadi kita kayak gitu juga sama Allah. Kita kayak ngerasa lg nyari Allah, padahal kita salah jalur. Kita berlelah-lelah di tempat yang salah.

Saya pernah kenal sama mahasiswa semester 3 yang ngerasa hidupnya kok datar2 aja. Nggak ngerasain asiknya kejutan2 baru gitu. Dia pikiriiiiiin terus gimana caranya biar hidupnya berwarna. Tapi teteeeep aja nggak ketemu jawabannya. Akhirnya dia sadar kalo dia salah. Selama ini dia cuma ngandalin otak, padahal yg bisa ngabulin keinginannya adalah Allah, bukan itu otak. Maka dia putusin buat cari Allah. Datenglah dia ke ATM. Ngapain? Cari Allah di ATM? Bukan, tapi nguras duit. Diambil lah semua duit yg ada di atm nya. Abis itu dia sumbangin semua ke panti asuhan. Dia cari Allah disana. Eh, bener.. Nggak lama setelah itu, doi dapet kesempatan buat keliling indonesia gratis. Sama Allah diterbangin dari ujung barat sampai ke hampir ujung timur Indonesia. Kok bisa? Gimana caranya? Namanya juga keajaiban, yawis jangan dipikir. Jalani aja. Sama kayak ibrahim mau nyembelih ismail, mau dipikir kayak gimana juga tetep nggak masuk akal. Masa iya Allah nyuruh bapak nyembelih anaknya sendiri? Tapi ibrahim udah “ketemu” sama Allah. Dia yakin itu perintah Allah, jadi ya dia jalan aja. Dan bener kan, ibadah qurban kita saat ini berawal dari keajaiban yg dialami Nabi Ibrahim saat itu.

Jadi udahlah.. Saatnya kita berhenti untuk berlelah2 di tempat yang salah. Sekarang waktunya kita bersibuk ria di track yg tepat. Jalani saja kewajiban dari Allah, biar hidup kita enteng tapi berkelas. Santai tapi berkualitas.

Bayangin kalau kita sibuk kerja siang malem sampai lupa sholat. Begitu uang milyaran udah di depan mata, trus sama Allah kita dibuat kena stroke, mau apa lagi? Capek iya, nikmatin enggak.

Jare wong malang, lak yo tewur to sam.

Taxi

Yasin, Fauzi, dan Seorang Supir Taksi

By | Inspirasi, Puskomnas | No Comments

Oleh : Muhammad Syukri

“Itu tato sekujur tubuh gitu udah nggak bisa di-ilangin mas?”

Telisik saya ke supir taksi yang membawa kami ke bandara Adi Soemarmo. Perjalanan sore itu begitu berkesan. Saya dan istri belajar dari guru kehidupan kami yang ke-sekian. Bukan professor-professor seperti yang kami temui di kampus kami. ‘”Hanya” supir taksi lulusan SMA, yang bercerita tentang kesemrawutan kisah hidupnya. Masa kecil, usia remaja, hingga kini dewasa, kacau semuanya. Hanya masa depan yang saat ini dia punya, dan dia sedang bertarung mati-matian untuk itu.

Beberapa menit ngobrol ngalor-ngidul, tetiba saja dia berujar ke kami berdua.

“Kalau mau lebaran kayak gini saya harus kerja ekstra keras mas… istirahat paling berapa jam aja, trus narik lagi sampai pagi.”

“Lha emang ngapain?”

Saya pikir mah, palingan kalau mau lebaran penumpang taksi nggak sebanyak biasanya, wajar kalo dia musti kerja keras. Di luar dugaan kami berdua, dengan santainya mas-mas yang tak terhitung lagi berapa kali dia berzina ini berkata…

“Iya mas… belum beli sarung sama baju koko buat anak-anak panti, belum ngasih THR buat ereka juga. Kalau nggak nambah tarikan, nggak kekejar mas.”

Saya dan istri berpandangan. Mulia sekali orang ini. Jadi terharu :”

Kepeduliannya kepada panti membuat kejadian pekan lalu teringat kembali, saat seorang pemuda dengan determinasi luar biasa datang menemui saya. Namanya Yasin. Ahmad Yasin. Nama yang sama dengan seorang pejuang Palestina. Dia bilang, “Mas, aku pengen nyumbang ke panti asuhan.”

Saya tanya ke dia, “Ada duit berapa emangnya?”

Dia sebutkan nominal. Sekian ratus ribu. Saya katakan, “Uang segitu mah nggak cukup buat nyenengin anak panti. Wkwk. Tapi tenang, kamu punya sesuatu yang nilainya jauh lebih besar dari uang yang kamu punya. Coba lihat, Allah kasih kamu mulut, kasih kamu tangan, dan Allah juga kasih kamu banyak teman. Manfaatin itu semua. Pakai tangan dan mulut kamu buat ngajakin temen-temen kamu, biar mereka juga ikutan nyumbang. Nggak asik kalau manisnya kebaikan Cuma kamu nikmati sendirian. Gerakkan tangan sama mulut kamu, dan minta tolong sama Allah buat nge-gerakkin hati temen-temen kamu.”

Lalu, malam itu dia ajak satu rekannya. Rekan yang sama-sama luar biasa. Fauzi namanya. Fadlan Akhyar Fauzi. Dengan cekatan, mereka berdua bikin proposal, bikin jarkoman, dan ajak orang-orang untuk ikutan nyumbang. Kurang dari satu pekan, uang 8 jutadan 29 pack alat tulis berhasil mereka kumpulkan. Lantas mereka bergerak. Membeli pakaian, Al-Qur’an, dan apapun yang anak panti butuhkan menjelang lebaran. Lalu mereka gelar acara sederhana, dengan format acara sahur bersama dibantu beberapa rekan yang lainnya. And that’s it!

Sendunya pagi menjadi saksi betapa bahagia itu kini merekah dengan sangat indah. Bahagianya para donatur, bahagianya Yasin, dan Fauzi, bahagianya rekan-rekan yang membantu mereka berdua, dan bahagianya anak-anak panti mendapat kakak baru seperti mereka. saya sendiri, bahagia saya lebih karena melihat ada pemuda-pemuda yang membuat kebaikan sederhana ini nampak begitu sempurna. Dari niat awal berupa “kepedulian”, lalu berkembang menjadi sebuah gerakan kebaikan yang melibatkan banyak orang. Sederhana, namun penuh makna. Maka pertanyaannya, kebaikan sederhana apa yang telah kita telurkan bulan ini?

Tak perlu menunggu hebat untuk berbuat baik. Berbuat baiklah. Rebut cinta Allah, dan Allah akan menghebatkanmu karena itu.

Selamat Berpuasa…

eiffel1

Karena Eiffel Hanya Ada di Paris

By | Puskomnas | One Comment
eiffel1

Ilustrasi Menara Eiffel

Penulis: Syarif A. M. (Komisi D Puskomnas FSLDK Indonesia)

Sebuah kisah menarik muncul dari seorang remaja yang baru saja lulus pendidikan tingkat menengah atas (SMA dan setara). Ketika akan menghadapi ujian untuk masuk ke perguruan tinggi negeri, ia merancang mimpi-mimpinya. Ia targetkan kampus tujuan, fakultas tujuan, bahkan hingga organisasi dan komunitas yang akan ia ikuti. Dengan keseriusan level maksimal, ia belajar, ikut bimbel, bahkan hingga memanggil guru privat.

2 hari menjelang ujian masuk PTN, ia merasakan tekanan. Ketakutan akan gagal mulai muncul. Perasaan khawatir akan tidak diterima di universitas tujuan mulai menggantayangi pikiran si remaja. Ia berdoa agar lulus, ia belajar, minta doa dari orangtua, kakak, adik, dan orang-orang yang ada di sekitar dia. Semua ia lakukan dengan satu tujuan: diterima di universitas impian, fakultas impian, dengan target-target impian yang akan ia capai selama kuliah.

Hari penentuan tiba. Soal dibagikan. Bel tanda mulai berbunyi. Seluruh peserta ujian seleksi mengerjakan soal. Dengan kecerdasan rata-rata, dan ke-pede-an yang tidak seberapa, si remaja menjawab soal-soal semampunya. 1 soal. 2 soal. Hingga akhirnya bel istirahat berbunyi.

Setelah selesai istirahat, kegiatan ujian kembali berlangsung dengan suasana yang sama. Tegang. Tak bersuara. Sunyi sekali. Bahkan suara penghapus yang jatuh akan terdengar begitu keras. Peserta ujian pun tak kalah unik. Mereka mengerjakan soal dengan berbagai gaya. Ada yang santai. Tegang. Panik. Takut. Dan lain sebagainya. Hingga akhirnya bel selesai pun berbunyi, menandakan ujian telah berakhir.

Sekitar 1 bulan setelah ujian selesai, pengumuman pun muncul. Si remaja ini dengan sigap langsung membuka pengumuman ujian. Setelah memasukkan kode peserta, ia mulai melihat keterangan. Terbelalak lah matanya ketika ia melihat tulisan “MAAF, ANDA TIDAK LULUS”.

Bercampur aduk perasaan si remaja. Sedih, marah, kecewa. Semua berkumpul jadi satu. Hingga hanya satu ekspresi di guratan wajahnya. Tangis. Air mata mengalir membasahi pipi si remaja. Mata memerah. Mulut menggeram kesal. Tak habis pikir dia. Uang orangtua yang selama ini membiayai bimbel, privat, membeli buku. Impian-impian dan harapan-harapannya. Semua seakan runtuh karena kejadian ini. Dia merasa tak mampu memberi kebanggaan pada orangtuanya. Mempermalukan nama keluarganya.

Namun ternyata, luar biasa orangtua si remaja ini. Mereka menyemangati. Menasihati. Memberi masukan, dan lain sebagainya.

Akhirnya si remaja ini pun mencari-cari kembali ujian seleksi PTN yang mandiri. Hingga akhirnya dia mengikuti sampai 4 ujian. UTUL UGM, UM UNDIP, UMBPT, dan Ujian Mandiri UNJ. Dan luar biasanya, orangtua si remaja menyanggupi untuk membiayai seluruh administrasi yang harus diselesaikan.

Besar harapan si remaja akan kelulusannya. Ia kembali merancang target-target dan impian-impiannya. Ia membayangkan kuliah, berorganisasi, dan bertemu dengan kawan-kawan baru.

Hingga akhirnya, hari penentuan dari keempat ujian pun mulai berdatangan. Si remaja dengan tidak sabar membuka pengumuman kelulusan satu per satu. Dan dari pengumuman tersebut, si remaja mendapatkan kesimpulan. Dari 4 tes, 3 yang tidak menerimanya. Hanya 1 tes yang menerimanya. Itu pun diterima di pilihan yang paling akhir. Pilihan yang paling tidak direncanakan. Pilihan yang bahkan tidak masuk dalam impian si remaja.

Mulailah bergejolak jiwa si remaja. Bimbang antara melanjutkan atau tidak. Dia merasa, kalau ia memilih, prospek masa depan dari pilihan ini tidak jelas. Abstrak. Tidak akan membawa kesuksesan. Bayangan akan prestasi itu tidak tampak. Sementara kalau ia tidak memilih, ia harus ‘menganggur’ satu tahun untuk menunggu ujian selanjutnya.

Dia berdiskusi dengan orangtua. Berdoa. Istikharah. Hingga akhirnya dia berdiskusi dengan kakaknya. Ketika curhat tentang masalah dan kebimbangannya, kakak si remaja ini menyampaikan satu kalimat yang menyadarkan si remaja. “The world is so big. You can’t see the Eiffel Tower if you just sit on your bed.”

Akhirnya si remaja ini mulai hilang keraguannya. Mulai muncul pikiran “Mengapa tidak aku coba?” Dia pun memutuskan untuk kuliah di pilihan yang ia pikir menjadi ‘prospek suram’ baginya.

Dan ternyata, setelah si remaja mulai kuliah. Semua hal yang ia pikirkan ‘suram’, berubah 180 derajat. Ternyata ia tinggal di asrama yang berisi ‘petinggi-petinggi’ kampus. Kuliahnya terasa menyenangkan. Dia bertemu guru yang membuka pandangannya menjadi lebih luas. Hingga ia merasa bahwa “Inilah berkah Allah yang dihadiahkan buat saya.”

Begitulah teman-teman semua. Dalam menjalani kehidupan ini, kita biasanya berpikir untuk menjadi sangat ideal. Semua yang kita pilih adalah yang terbaik menurut kita. Dan apa yang menurut kita baik, akan membawa kesuksesan pada diri kita. Tapi ternyata tidak demikian. Kita seringkali melupakan satu faktor fundamental yang akan menentukan jalan hidup kita. Arahan dan kehendak Allah SWT.

Boleh jadi kita merasa pilihan kita adalah yang terbaik buat kita. Tapi ternyata Allah memberi tahu kepada kita secara tersirat bahwa “Itu tidak baik buatmu”. Dan boleh jadi juga kita merasa pilihan lain itu buruk, tapi Allah berkata “Ini baik buat kamu”.

“…. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 216)

Kita boleh merencakan hidup kita. Sangat boleh. Bahkan saya menganjurkan. Kita boleh menuliskan impian kita. Sangat boleh. Kita boleh menentukan target-target masa depan untuk diri kita. Hal-hal tersebut sangat boleh. Kita pun bahkan harus berjuang untuk mencapai itu semua. Tapi, kita tidak boleh melupakan satu faktor. Yaitu kehendak Allah. Dialah Yang Mahatahu. Maka bila suatu saat impian kita tidak tercapai ketika sudah berusaha begitu keras, sadarlah, mungkin apa yang kita impikan bukanlah sesuatu yang baik di hadapan Allah. Mungkin Allah punya rencana yang lebih baik untuk kita, seperti si remaja tadi. Allah lah yang Mahatahu, dan kita tidak tahu.

Seperti yang dikatakan Edvan M. Kautsar dalam bukunya, Allah SWT lebih tahu mana pilihan yang paling tepat atas diri kita. Allah lebih tahu mana pilihan yang akan membuat diri kita lebih berkembang. Dan salah satu cara Allah untuk memberi tahu kita, kata kakak tingkat saya, adalah dengan ‘menggagalkan’ rencana dan pilihan kita yang telah kita buat.

Dan seperti takdir si remaja, sebenarnya Allah mengarahkan kita ke arah pilihan yang paling baik. Mungkin kita tidak sadar, tapi ternyata Allah mengarahkan kita ke sana. Seperti si remaja yang Allah arahkan lewat perantara kalimat sang kakak.

Dan satu lagi pelajaran yang ingin saya sampaikan adalah mari buka wawasan kita. Seringnya kita menutup diri dari sekitar dengan berbagai alasan. Takut lah. Malas lah. Itu adalah alasan yang sering kita pakai. Kita sering asyik dengan diri kita yang menyendiri. Kita selalu berpikir tentang masalah yang kita hadapi. Padahal salah satu kunci untuk mendapat solusi atas masalah kita adalah dengan ‘bermain’ keluar. Bertemu orang-orang. Berdiskusi. Jalan-jalan. Kita akan mendapat pandangan baru yang lebih luas. Lebih terang. Lebih solutif.

Maka, mari kita mencoba untuk ‘bermain’ keluar. Negeri kita mungkin indah. Tapi kita tidak akan pernah tahu indahnya negeri lain kalau kita berdiam diri.

So, the world is so big. You can’t see the Eiffel Tower if you just sit on your bed :)

Three green darts pinned right on the center of dartboard

Belajar Konsisten

By | Puskomnas | No Comments
konsisten

Sumber Gambar: http://amidayrus-blog.blogspot.co.id/

Penulis: Ahmad Yasin (Komisi D Puskomnas FSLDK Indonesia)

Bismillahirrahmanirrahim.

Hari-hari yang begitu luar biasa dan selalu semakin luar biasa. Setiap detik menuju hulu, semakin benyak pelajaran ketika kita mau memperhatikan. Dan seperti yang seringkali terjadi, biasanya petir menyambar ketika badai sedang akan atau sedang deras-derasnya turun menghujam jarang sekali ketika langit sedang cerah-cerahnya, sebagaimana ujian kehidupan yang datang ketika kita dalam kondisi selemah-lemahnya.

Tapi benar juga. Kalau dalam keadaan terlemah kita bisa, bukankankah itu berarti kita telah naik ke level selanjutnya?

Dan Allah selalu memberikan sesuatu sesuai kadar kemampuan kita, cuma ….. memang kadang kitanya aja yang menyerah duluan atau melebih-lebihkan keadaan.

Dan ya ….. untuk sebuah prinsip, untuk sebuah kebiasaan, untuk sebuah nilai…… untuk sebuah konsistensi. Ujian hidup itu pasti akan datang pada titik terlemah kita. Karena berbagai godaan itu.. konsisten menjadi suatu angka berharga yang begitu mahal.

Bandingkan,

Ketika kita diharuskan membayar uang kas setiap minggu 1000 rupiah kemudian si A membayarnya dengan 1000 rupiah setiap pekannya secara rutin, tapi si B membayarnya sekaligus di 8000 di akhir pekan ke 8. Samakah?

Secara kasat mata dan secara nomina, mungkin sama, dua-duanya membayar lunas 8000. benar?

Tetapi ada nilai pembelajaran yang gak didapat si B. Suatu pembiasaan akan kedisiplinan, keteraturan, dan komitmen dari sebuah kesepakatan.

Ternyata, gak main-main ketika Allah lebih menyukai amalan kecil yang dilakukan secara terus-menerus (kontinu) dari pada amalan besar yang sesekali. Karena,  ya.. ada pembelajaran besar disana.

Hal yang lebih sulit dari memulai adalah, mempertahankan.

Repost from: ahmdysn.com

gunung-lawu12

Sepertiga Malam di Lereng Lawu

By | Puskomnas | No Comments
gunung-lawu12

Gunung Lawu

Penulis: Muhammad Syukri Kurnia Rahman

Beberapa hari yang lalu Gunung Lawu terbakar. Para pendaki dan orang-orang yang sedang melakukan ritual “lelaku” terjebak di atas sana. Tanpa komando, para relawan dari berbagai macam lembaga sama-sama menyingsingkan lengan baju mereka. Turun bersama, merelakan waktu dan tenaga untuk mereka yang membutuhkan kehadirannya. Satu di antara mereka, izinkan saya memperkenalkannya pada anda. Namanya Angga Suryawinata, rekan saya di Fakultas Kedokteran UNS yang selama dua hari berada di sana untuk keperluan evakuasi. Dari tutur ceritanya lah tulisan ini dilahirkan.

Tapi, tapi. Kita tidak sedang berbincang tentang heroiknya proses evakuasi. Kita akan berbincang tentang cerita istimewa yang ada di sela-sela tugas utama para relawan di sana. Kata Angga, “Selalu ada cerita istimewa di antara momen-momen menegangkan saat proses evakuasi bencana.”

Dan cerita itu dimulai di sini.

Pukul 23.30, Angga dan timnya mencoba untuk istirahat. Mencoba? Iya, mencoba. Kita sama-sama mengerti, membuat mata terpejam di tengah-tengah dingin yang menghantam, tentu bukan pekerjaan gampang. Dan Angga adalah orang yang gagal dalam percobaan itu. Haha. Sampai menjelang shubuh, matanya tak kunjung terpejam. Molet-molet saja dari tadi. Namun, seolah-olah, skenarionya memang harus berjalan demikian. Angga sepertinya memang tidak boleh tidur. Karena tepat di jam 03.00, saat percobaan mata yang kesekian ribu kalinya gagal total, Angga melihat sebuah pemandangan yang aduhai! Wow! Menakjubkan!

Angga dan tim tidur di sebuah ambulans. Tim perempuan tidur di bagian depan, sedangkan laki-laki di bagian belakang. Angga mendengar suara berbisik di bagian depan. Percakapan dua orang perempuan. Semakin lama semakin terdengar. Dan pada akhirnya, telinga Angga menangkap satu di antara mereka berucap,

“Aku turun dulu ya. Mau shalat tahajjud.”

Sebentar, sebentar. Nggak salah denger tuh? Seorang perempuan, di tengah-tengah dingin yang mendekap kuat di saat badan seharusnya diistirahatkan, bukannya merapatkan selimut, eh malah turun menyambut kabut. Tidak salahkah telinga Angga menangkap kata? Faktanya, memang itulah yang terjadi. Percakapan kecil itu berhenti, disusul langkah kaki menuruni lereng Gunung Lawu. Menyambut kedatangan Allah di langit dunia. Menganggungkan nama bersar-Nya, dan mempertegas kerendahan dirinya sebagai manusia.

Yang perlu digaris bawahi, ini bukanlah kisah tentang pria perkasa yang sedang bersiap untuk sholat malam di masjid megah mliknya. Ini adalah kisah sepertiga malam terakhir di lereng Lawu, yang diperankan oleh seorang relawan perempuan yang baru saja menyelesaikan peran kerelawanannya. Tentu dingin, tentu capek. Namun nyatanya, dua hal itu tak mampu menghentikan langkah kakinya untuk menyambut seruan Tuhannya.

Kata Angga, “Udah, ceritanya selesai.”

Kata saya, “Enak aja! Masak gitu doang. Lanjutin lah!”

Metode pemaksaan seperti ini biasanya berjalan efektif. Haha. Dan akhirnya, Angga melanjutkan ceritanya. Jadi di pagi harinya, tim relawan itu sarapan bareng. Membuat lingkaran kecil yang penuh kehangatan. Memang saat bersama-sama berjuang seperti itu, tak ada kehangatan yang bisa mengalahkan hangatnya persaudaraan. Dan sudah barang tentu, harus ada bumbu untuk menikmati kehangatan itu. Bumbunya apalagi kalau bukan cerita. Maka mereka segera melempar cerita, dan juga pastinya, melempar tawa, hingga sampailah pada perempuan yang sedang kita bicarakan ini.

Dia memperkenalkan diri. Namanya Bulan, anak dari ayah-ibu yang memilih untuk murtad, meninggalkan kenikmatan Islam yang telah sekian lama mereka rasakan. Lalu bagaimana dengan Bulan? Sang ayah tak pernah memaksakan agama anak-anaknya. Bagaimanapun, mereka mengerti bahwa Islam adalah agama yang baik. Maka dia bebaskan Bulan untuk memeluk Islam secara ‘wajar’.

“Kalau ke-Islam-an saya dipandang ekstim oleh mereka, saya diajak diskusi, mas. Mungkin beliau khawatir saya ikut aliran-aliran sesat yang mengatasnamakan Islam.”, begitu dia berujar.

Contohnya? Kerudung. Saat dia memutuskan untuk memakai kerudung panjang sesuai syariat Islam, sang ayah mengajaknya ‘diskusi’. Tentu agar Bulan kembali memangkas kerudung panjangnya. Namun pada akhirnya, sang putri dipersilahkan membuat keputusan sendiri. Nyatanya, Bulan juga menunjukkan bahwa semakin panjang kerudung yang dia kenakan, semakin besar bakti yang dia berikan.

Masih seputar kerudung, Bulan kembali menuturkan ceritanya. Setelah sekian lama berkutat dengan aktivitas perkuliahan, dia selipkanejn waktu sejenak untuk berkunjung ke kampung halaman. Perlu sekian jam perjalanan naik bus untuk sampai di kampungnya. Celakanya, begitu sampai di sana, matahari sudah berada di peraduannya. Malam telah menyapa. Tak ada lagi angkot yang bisa membawanya dari tempat sekarang ia berdiri ke depan pekarangan rumahnya sendiri. Dia hubungi ayah-ibunya. Memang malang, petang itu mereka sedang ada urusan. Namun, mereka menawarkan solusi,

“Coba kamu hubungi pastur kenalan ayah di deket situ, minta dianter sama dia saja. Tapi kamu juga harus menghormati beliau ya. Kamu lepas kerudungmu sebentar, nanti kalau sampai rumah boleh kamu lepas lagi.”

Lalu apa yang dilakukan Bulan? Kata dia pagi itu di depan rekan-rekannya,

“Mas, daripada saya disuruh melepas kerudung saya, mending saya jalan kaki!”

Berapa jauh? Entahlah. Kadang jarak tak lagi menjadi masalah jika yang kita pikirkan hanyalah melangkah dan terus melangkah.

Maka sebenarnya, sebelum lereng Lawu menjadi saksi ketaatan dia pada Tuhannya, debu-debu jalanan telah lebih dulu menjadi saksi akan keteguhannya dalam menjaga kehormatan. Kehormatan sebagai perempuan, dan tentu, sebagai muslimah yang beriman. Lalu, pertanyaannya bagi kita, siapa yang akan tampil menjadi saksi bahwa kita lebih mencintai Tuhan kita dibanding segala yang ada di depan mata kita?

Mari sejenak berpikir, dan terus menerus bertanya “Dengan ke-Islam-an kita, kita sudah ngapain aja?”

Ditulis di Villa Sandria, Tawangmangu.

1329075180649329

Selesai Dengan Diri Kita!

By | Puskomnas | No Comments

 

Sumber Gambar: http://loo.me/2011/11/how-i-get-stuff-done/

Ikhwah fillah..

Satu hal yang harus benar-benar kita ingat adalah bahwa dulu, para pendiri bangsa ini telah menempatkan kata Tuhan Yang Maha Esa pada sila pertama sebelum empat sila yang lainnya. Mereka memilih kata Tuhan untuk menjadi pembuka dari apa yang tertulis setelahnya.

Kita tahu apa arti itu semua?

Itu artinya, para pendiri bangsa ini, mereka benar-benar memahami bahwa dalam kemerdekaan yang sedang mereka perjuangkan, ada campur tangan Tuhan yang ikut bermain di dalamnya.

Itu artinya, dengan sadar mereka menginsyafi bahwa ketika kemerdekaan itu benar-benar datang, hal itu semata-mata karena telah mendapat restu dari Tuhan mereka.

Dan uniknya, para pendiri bangsa ini menjatuhkan pilihan mereka pada kata-kata “Tuhan Yang Maha Esa”, bukan tuhan yang lainnya. Sekali lagi, Tuhan Yang Maha Esa.

Kita semua tahu, sampai nanti ketika akhirnya matahari terbit dari ufuk barat, hanya Islamlah agama yang seluruh pengikutnya mengakui bahwa Tuhan itu Maha Esa. Qul Huwallaahu ahad. Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa.

Itu berarti, sejak dari pertama bangsa ini berdiri, kita lah raja yang sejak dari awal ditakdirkan merawat indonesia! Allahuakbar!

Ikhwah fillah, karena kita adalah raja sejak dari awalnya, maka bersikaplah layaknya raja besikap. Berbicaralah layaknya raja berbicara, dan berfikirlah layaknya raja berfikir. Dan harus kita catat bahwa seorang raja hanya akan memikirkan hal-ha besar dalam kehidupan mereka.

Ikhwah fillah, mulai detik ini, mari bersama-sama kita ambil kembali takdir yang telah di alamatkan kepada kita sejak dari awalnnya. Mari kita ambil mahkota yang memang dipersiapkan untuk kepala kita. Allahuakbar!

Ikhwah fillah.. Ada sepenggal episode menarik dalam perhelatan piala dunia 2014 lalu. Sebuah cerita tentang supporter jepang yang mendukung timnya kebanggaannya. Begitu timnas negeri sakura itu selesai bertanding, para supporter jepang tidak segera berhamburan keluar lapangan. Dia tunggu hingga seisi stadion sepi. Setelah semua kosong, mereka berjalan pelan keluar lapangan, sambil memunguti sampah yang berserakan di sepanjang jalur keluar mereka. Mereka memunguti sampah yang bahkan tidak mereka buang!

Dari sini kita belajar sebuah hal, bahwa bangsa besar selalu menyimpan orang-orang besar yang hidup di dalamnya. Bangsa besar selalu memiliki  generasi-generasi terbaik yang akhirnya karena mereka lah, kebesaran bangsa itu diakui oleh bangsa yang lainnya.

Oleh karena itu, ketika kita berbicara tentang sebuah negeri, kita sebenarnya sedang berbicara tentang orang-orang yang ada di dalamnya. Kalau penduduknya baik, maka baik pulalah negeri itu. Pun juga sebaliknya.

Ikhwah fillah, berbicara tentang kemenangan indonesia adalah berbicara tentang perbaikan sifat serta karakter orang-orang yang ada di dalamnya, dan itu adalah diri kita masing-masing. Omong kosong ketika kita berbicara tentang kemajuan bangsa ini jika kita belum selesai dengan urusan kita mengatur waktu 24 jam yang kita punya. Omong kosong ketika kita berbicara tentang kemajuan bangsa ini kalau kita belum selesai dengan amal-amal dan karya-karya terbaik kita.

Maka saat kita bertanya sudah sejauh mana perkembangan bangsa indonesia, tanyakanlah sudah sejauh mana proses perbaikan sifat dan karakter diri kita masing-masing.

Kita harus selesai dengan diri kita sendiri! Kita harus selesai dengan urusan kita mengatur produktivitas kita selama 24 jam yang kita punya! Kalau seharian hanya kita habiskan untuk hal-hal yang tak ada hubungannya dengan masa depan kita, bagaimana mungkin kita berbicara tentang kemajuan indonesia? Kalau kita belum selesai dengan urusan amal-amal hairan terbaik kita, bagaimana mungkin kita berbicara tentang kemenangan agama kita?

Sekali lagi teruslah bertanya, untuk apa kita habiskan waktu seharian yang kita punya? Berapa banyak buku yang kita baca dalam seminggu? Berapa tulisan yang bisa kita hasilkan dalam waktu sepekan? Berapa sering kita meninggalkan jamaah shubuh kita? Qiyamul lail kita? Bacaan al-qur’an kita?

Kunci kemajuan sebuah bangsa terletak pada orang-orangnya. Selama bangsa itu hanya menyimpan orang-orang yang tidak bisa membuat negerinya semakin baik, maka jangan harap negeri itu benar-benar akan baik.

Termasuk juga dengan agama ini. Selama ini pesona islam pudar karena pemeluknya. Maka para pemeluknya lah yang bertanggung jawab mengembalikan pesona itu. Dan kita harus sadar, bahwa tanggung jawab itu adalah tanggung jawab kita semua! Allahuakbar!

Ikhwah fillah, FSLDK-D maupun FSLDK-N adalah ajang pertemuan dua hal. Pertama adalah ajang untuk mempertemukan keimanan-keimanan kita, dan kedua adalah ajang perumusan strategi-strategi terbaik kiita. Kita harus tahu, bahwa ketika berbicara tentang kemenangan, kita tidak hanya sekedar membutuhkan iman. Sekali lagi, ketika kita berbicara tentang kemenangan, kita tidak hanya sekedar membutuhkan iman. Andai kemenangan itu hanya sekedar membutuhkan iman, maka demi Allah, pasukan muslim di bukit uhud itu lebih pantas mendapatkan kemenangan!

Namun peristiwa itu seolah mengajari kita, bahwa ketika kita berbincang tentang kemenangan, jangan pernah lepaskan kata strategi dalam bahan perbincangan tersebut.

Ikhwah fillah. FSLDK tidak bisa dibangun hanya dengan satu Puskomnas. FSLDK tidak bisa dibesarkan hanya dengan 37 Puskomda. FSLDK tidak bisa dibangun -bahkan- dengan sekian banyak LDK yang sekarang bergabung dengan kita sekalipun. FSLDK dibangun dari diri kita masing-masing. Puncak kemenangan dakwah melalui FSLDK dibangun dengan cara membangun menara kebaikan dari seluruh anggotanya. Saat mereka mempesona, saat prestasi mereka menduinia, saat karya-karya mereka menghiasi zaman mereka, saat ide-ide mereka mampu melintasi usia mereka, dan saat amal-amal mereka semakin mendekatkan mereka kepada tuhan mereka, maka saat itulah kemenangan itu akan tiba, insyaallah.

Ikhwah fillah. Pesona masing-masing pribadi itulah yang sekarang sedang kita rangkum dalam sebuah LDK, lalu LDK-LDK itu kita rangkum melalui sebuah puskomda, dan 37 puskomda yang tergabung itu kita koordinasikan melalui satu puskomnas. Agar jalan kita sama, senada, dan seirama. Lalu setelah semua pesona itu terangkum, kita bagikan dia ke seluruh indonesia.

Begitulah ikhwah, begitulah cara kita membangun indonesia, insyaallah. Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!

Penulis : Muhammad Syukri Kurnia Rahman

Sumber : http://www.muhammadsyukri.com/2015/05/selesai-dengan-diri-kita.html

——————————————————- Media FSLDK Indonesia —————————————————-

Email : info@fsldkindonesia.org

Fanpage : FSLDK Indonesia

Twitter : @FsdkIndonesia | @JarmusnasFSLDKI

Line : @yok1532s

G+ : FSLDK Indonesia

tumblr_n6rzpcsMk41st5lhmo1_12802 (1)

Berkah Amal Shalih

By | Puskomnas | No Comments

 

Amal Shalih

Sumber Gambar: www.visimuslim.com

 

Ini adalah kisah nyata. Pengalaman yang kualami sendiri. Bukan bermaksud sombong, tapi hanya ingin bercerita yang semoga bisa dijadikan sebuah pelajaran.

Saat itu adalah liburan semester 6, tepatnya setelah Idul Fitri. Suatu ketika, di suatu pagi setelah sehari sebelumnya aku membayar uang kuliahku untuk semester 7, aku mencoba untuk melakukan registrasi online di sistem akademikku. Tapi saat itu aku dikejutkan dengan sebuah tulisan : Akun Anda diblokir. Silakan hubungi bagian Pendidikan Pusat. Kira-kira begitu tulisan yang tertulis setelah aku melakukan input nomor induk mahasiswaku. Tertulis jelas dengan warna merah. Aku panik. Terkejut karena ini baru pertama kalinya terjadi. Tentu saja ini membuatku bingung, terlebih waktu itu aku tidak tahu kapan tanggal pengambilan mata kuliah. Takut telat ambil sehingga dianggap 0 sks.

Aku diam sejenak. Lalu berwudhu dan sholat istikharah. Aku saat itu benar-benar tak tahu harus melakukan apa, karena itu satu-satunya jalan yang kutahu adalah dengan memohon kepada Allah. Selesai sholat aku berdoa agar diberikan kemudahan dan kelancaran dalam urusan kuliahku yang memang sedikit bergelombang. Mungkin jika dianalogikan, jika kuliah adalah sebuah truk, maka teman-temanku kuliah dengan melalui jalan tol, sedangkan aku kuliah dengan melalui jalan perbatasan yang biasanya bergelombang dan tidak rata. Hal ini pun terjadi bukan begitu saja, tapi akar masalahnya jauh sebelum aku masuk ke kampus. Oke selesai sampai disini.

Beberapa hari berlalu, bahkan telah lewat dari seminggu sejak aku mengetahui akunku diblokir. Kemudian aku putuskan untuk menemui pembimbing akademikku. Pukul 16.40 aku menemui beliau di ruangannya di lantai 3 gedung 5 fakultas Teknik. Aku sampaikan apa yang terjadi kepadaku. Waktu itu aku menyampaikan masalahku dengan sedikitmbrebes, karena pikiranku sudah melayang kemana-mana membayangkan hal-hal yang negatif duluan. Kemudian beliau menyarankan memang harus ke bagian pendidikan pusat universitas.

Seminggu kemudian aku baru mengurusnya, padahal batas waktu input mata kuliah tinggal 5 atau 6 hari. Sebelumnya, setelah aku menemui pembimbingku, sore itu juga aku segera ke rumah temanku yang kuliahnya juga bermasalah. Entahlah apa sebenarnya masalahnya, entah karena kendala biaya atau karena masalah kesehatannya atau masalaha lain yang tak kutahu, tapi aku mencoba mencari tahu di rumahnya. Mungkin diantara teman-teman seangkatanku yang jumlahnya 100-an itu, akulah yang paling kenal dan paling tahu apa yang dia alami sampai dia menghilang 3 semester kemarin. Niatku sih, aku kesana sekalian mau mengajaknya untuk mengurus kuliahnya, mumpung masih ada waktu. Ayahnya pun sudah menyuruh untuk segera membayar kuliahnya.

Sekitar seminggu setelah aku silaturrahim ke rumah temanku itu, aku baru niat untuk ngurus masalahku. Kebetulan saat itu hari Jum’at. Setelah sholat Jum’at, aku ngobrol-ngobrol sebentar dengan teman satu jurusanku di masjid kampus. Dari dia, aku dapat informasi ternyata seniorku di organisasi juga ada yang mengalami masalah serupa. Lalu aku datangi dia dan bertanya. Kemudian dia sarankan untuk segera diurus di bagian pendidikan fakultas. Loh? Fakultas? Iya…

Aku pinjam sepatunya, soalnya sepatuku hilang. Lalu segera aku ke bagian pendidikan fakultas. Aku kesana bersama temanku yang mau menanyakan masalah KKN. Ketemu di jalan. Yaudah sekalian. Sampai disana, bayanganku soal dimarah-marahi sama karyawannya hilang. Hahahaha… Ternyata bapaknya baik juga, dan sabar. Kemudian aku dibuatkan surat permohonan untuk membuka akunku yang diblokir. Oiya, akunku diblokir, kalau di keterangannya karena status belajarku rendah, hahaha. Tapi… baca aja dulu deh…

Setelah suratnya dapat, aku segera menuju ke ruang pembimbing akademikku untuk minta tanda tangan. Tapi sayangnya, sampai disana beliau belum datang, baru datang sekitar jam 3 kurang dikit. Lah, aku harus jemput adekku kalo gitu. Akhirnya aku batalkan untuk minta tanda tangan hari itu, dengan konsekuensi, waktuku tinggal 2 hari untuk mengurus dan mengambil mata kuliah di siakad (sistem akademik). Aku ambil konsekuensinya, karena toh kalau tetap dipaksakan tak ada jaminan bahwa kantor bidang pendidikan akan tetap buka setelah aku dapat tanda tangan.

Malam harinya, aku dan beberapa teman di teknik silaturrahim ke rumah pembimbing akademikku, hha… Kebetulan sekali ya? Enggak juga, semua sudah diatur. Disana kami ngobrolin masalah perkembangan dakwah di fakultas, wesseeeehh… Ya kan ini temen-temenku orang-orang sholih semua.

Niatnya aku ingin sekalian minta tanda tangan beliau, tapi lagi-lagi aku batalkan karena momennya tidak pas. Kemudian paginya di hari Sabtu aku SMS beliau untuk tanya kapan ada waktu luangnya untuk minta tanda tangan. Awalnya beliau bisa sore harinya, tapi kemudian beliau SMS lagi untuk besok Senin saja di kantor jam 08.30. Aku iyakan, mau bagaimana lagi…

Senin, seperti kata beliau sebelumnya, aku segera menuju kampus. Jam 08.40 aku sampai di lantai 3, dan bertepatan juga ketika beliau datang. Jadi kita ketemu di luar kantor beliau. Segera aku erahkan suratnya, karena waktu itu beliau mau nguji mahasiswa yang mau pendadaran. Tapi belum juga ditandatangani, aku ditanya, “Mas, kalau gini ini berarti yang mengajukuan saya? Bukan kamu? Coba deh ditanyakan dulu ini maksudnya gimana…“. Duh… lalu aku tanyakan ke bagian pendidikan. Disana, tak lupa juga aku bertanya soal kasus temanku yang sampai saat itu belum membayar (itu, temanku yang kemarin aku kunjungi ke rumahnya). Aku turun ke lantai 1, lalu pergi dari gedung 5 ke gedung 3. Lalu setelah dapat penjelasan, aku ke gedung 2 lalu naik sampai lantai 3 dan menyeberang lewat jembatan penghubungnya ke lantai 3 gedung 5. Sampai disana, aku harus menunggu dulu, agak lama juga sampai aku ngantuk-ngantuk sambil baca buku tentang Sholahuddin Al Ayyubi. Akhirnya aku tertunduk, ngantuk banget, nggak kuat melek, lha kenapa ya? Hmm…

Setelah lama menunggu, akhirnya aku bisa bertemu beliau. Lho, tapi beliau dari kamar mandi. Berarti tadi pas keluar ke WC aku lagi merem. Setelah aku jelaskan, kemudian beliau tandatangani. Yes, berhasil. Alhamdulillah. Setelah itu aku bergegas menuju ke pendidikan pusat universitar. Nah ini ternyata maksudnya, jadi diurus ke bagian pendidikan fakultas dulu, baru dibawa ke bagian pendidikan pusat. Disana, aku ketemu temanku yang mengalami masalah hampir sama, alhamdulillah ada kawan. Setelah mengantri dengan antrian yang tidak jelas yang agak lama, akhirnya aku maju ke mas-mas yang mengurusi bagian registrasi dan pembayaran. Disana aku berikan surat itu dan sedikit menjelaskan masalahnya. Masnya dengan enteng cuma bilang, “Oh, ini autodebetnya gagal mas… Jadi kita nggak bisa macem-macem…“. Aku melongo. Kok autodebet? “Jadi semua masalah yang akun diblokir ini karena autodebetnya gagal ya mas?“. Kata masnya iya. Terus aku diberi nota BTN (karena universitasku pakai BTN-Bank Tabungan Negara untuk pembayaran kuliah). Setelah itu aku muter lagi menuju ke BTN kampus yang kukira masih di tempat yang sama. Sampai disana aku tanya satpam, ternyata BTN sudah pindah ke depan kampus, di kompleks Pusdiklat. Lalu aku segera kesana. Sampai sana aku bertanya ke pak satpamnya yang mukanya rada-rada mirip artis Korea tapi iteman dia, “Pak kalo mau ngurus akun yang diblokir karena katanya autodebetnya gagal gimana ya?“. Kata bapaknya ngurus lagi di bank. Tapi sayangnya waktu itu aku nggak bawa buku tabunganku dan jam sudah menunjukkan pukul 2 lebih sekian, padahal banknya tutup sekitar jam 3. Duhdek…

Lalu pak satpamnya menyarankan untuk ke bank yang terdekat saja. Aku akhirnya balik ke rumah. Sampai rumah, aku menelan obat sebentar, lalu pergi lagi. Ibuku heran. Ya biar. Terus aku ke bank yang lebih dekat. Disana banknya hampir tutup karena aku sampai disana hampir jam 3. Omaigat… Kemudian aku ceritakan apa masalahku kepada ibu-ibu pegawai disana, lalu ini momen yang menyentuh. Disana terdapat 4 orang; satu satpam laki-laki, satu ibu-ibu, satu namanya mba Ihda Azizah (semoga namanya bener), satu lagi namanya mba Dyah. Kemudian mereka berempat membantuku untuk menyelesaikan urusanku. Awalnya ibu-ibu itu yang mendengar ceritaku, lalu mba Ihda dimintai tolong untuk mengurus uang pembayaran yang ternyata belum disetor ke kampus karena gagal tadi. Lalu mba-nya mencoba membantu mendebet uangnya. Tapi ternyata, karena uangnya diatas satu juta, maka harus pakai ATM. Sayangnya karmas (kartu mahasiswa) punyaku ATM-nya tidak kuaktifkan. Akhirnya aku harus membuat ATM baru dulu. Pembuatan ATM dibantu oleh mba Dyah ini. Setelah jadi, mba Ihda mendebetkan uang di tabunganku dengan ATM baruku yang biaya untuk mengganti pembuatannya Rp 15.000,-. Tak apa, it’s okay

Selesai. Tabunganku berhasil didebet dan uangnya sudah masuk universitas. Aku lega. Satu simpul keruwetan telah diurai. Kemudian aku ucapkan terima kasih kepada semua yang ada disitu dengan senyum yang lebar dan bahagia. Saat itu aku merasa, disitulah tangan-tangan Allah menggerakkan hati-hati orang-orang di BTN itu untuk membantuku. Padahal saat itu bank akan segera ditutup, bahkan pintu besi (namanya apasih aku lupa) yang biasa dipakai kayak di toko-toko dan swalayan itu sudah ditutup setengahnya.

Keluar dari bank aku lega. Sangat lega. Kemudian aku menuju ke sekolah adekku untuk menjemputnya. Sebelum itu, aku mampir ke sebuah masjid tak jauh dari sekolah adekku untuk sholat Ashar. Selesai sholat, aku benar-benar bersyukur. Aku menangis. Aku merasakan betapa nikmatnya sholat dengan perasaan penuh syukur itu. Kemudian aku segera ke sekolah adekku untuk menjemputnya dan pulang. Di rumah, aku baru bercerita apa masalah yang kualami kepada kedua orang tuaku. Sebelumnya, aku sama sekali tak menceritakan apa-apa karena kupikir nanti hanya akan membuat mereka panik. Aku hanya bercerita setelah masalahku mulai beres. Dan terakhir, saat aku akan mengumpulkan KRS-ku ke pengajaran fakultas, saat di fotokopian, saat aku memfotokopi nota pembayaran dari bank, masnya dengan muka datar bilang, “udah bawa aja…“, karena mungkin cuma 1 lembar, jadi sekalian aja nggak usah dibayar. Begitu.

Selasa, 25 Agustus, adalah batas terakhir input data mata kuliah. Setelah semalam aku lega karena berhasil mengaktifkan status mahasiswaku, paginya aku dibuat galau lagi dengan gagalnya loginku ke siakad. Tak kehabisan akal, aku kemudian menuju ke bagian pendidikan pusat lagi. Disana aku tanyakan kepada ibu-ibu tentang kegegalanku masuk siakad. Ternyata pin yang biasa kugunakan login telah berganti. Pin 6 digit yang sejak semester 1 kupakai sudah tak bisa digunakan, diganti pin baru 6 digit. Aku catat pinnya di tanganku, karena waktu itu mau mencatat di hp kelamaan. Lalu aku menuju spot wifi favoritku, masjid kampus, tepatnya di kamar takmirnya. Lalu disana aku login ke siakad dengan pin baru. Alhamdulillah berhasil. Aku segera mengisi Kartu Rencana Studi (KRS) milikku. Yang membuatku lebih terkejut adalah, ternyata IP-ku meningkat lagi. Jika dibuat grafik, IP-ku sejak semester 1 hingga 6 adalah naik grafiknya, tentu saja itu karena IP di semester awal jeblok, sangat-sangat jelek sampai kalau ditanya orang lain aku jawab “Aku lupa…“. Alhamdulillah, aku bisa mengambil SKS lebih banyak lagi. Tapi kali ini sengaja tidak aku ambil full, karena aku takut akan kewalahan untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Akhirnya dari 21 SKS, aku ambil 7 SKS saja. Yang lebih bikin seru lagi, setelah salah satu kakak tingkatku yang luar biasa kutanyai, aku dikirimi fileExcel yang isinya tentang pemanajemenan SKS dan waktu untuk lulus. Itu yang dia lakukan sehingga dia bisa mengontrol akademiknya. Oiya, btw, kenapa kakak tingkatku ini luar biasa adalah karena dia lulus cumlaude 4 tahun dengan IPK 4. Bulet 4. Terlebih, riwayat organisasinya segudang, dan dia juga peraih beasiswa aktivis. Luar biasa. Namanya, kami sering memanggilnya Mas Mantas. Rian Mantasa. Legenda baru di fakultas teknik, bahkan mungkin universitas. Tapi yaah, aku tak mungkin bisa sepertinya saat ini, karena sudah terlambat. Tapi, tentu saja ada jalan cerita lain yang bisa menjadi cerita heroik untuk diceritakan kemudian setelah aku lulus dari kuliahku ini nanti.

Disinilah cerita itu berakhir untuk saat ini. Maksudku, cerita bagaimana perjuanganku untuk mengembalikan status kuliahku yang mengambang menjadi aktif kembali. Sebuah hikmah besar yang kuambil adalah, bahwa amal-amal sholih kita membawa keberkahan di dalamnya. Aktivitas kita, ketika itu diiringi amal sholih, akan membawa kebaikan yang bahkan tak disangka-sangka. Aku benar-benar merasakan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan adalah disini. Dimana Allah turut campur membantu mengatasi masalah yang kuhadapi. Tentu hal itu bukan tana sebab, karena sebelumnya, aku juga memohon dengan sangat kepadaNya. Suatu malam aku pernah terbangun, kemudian sholat Tahajjud. Setelahnya, aku memohon, berdoa kepada Allah bahkan hingga menangis untuk sekedar memudahkan urusan duniaku ini. Kemudian, aku juga berusaha untuk berinfaq sebisaku. Sebelumnya, aku membaca sebuah threat di internet, seseorang yang memiliki masalah dengan kuliahnya. Kemudian kawan-kawannya mengomentari dan salah satu yang paling membekas untukku adalah dengan melakukan amal sholih itu. Temannya itu berpesan untuk menjaga sholatnya, berinfaq, berdzikir, dan sebagainya. Kemudian aku teringat juga dengan sebuah cerita, seorang direktur yang bangkrut habis-habisan. Kemudian dia berjualan nasi bungkus. Di depan warungnya dia membuat spanduk dengan tulisan bahwa dia akan berinfaq 100 juta. Sungguh ajaib bahwa akhirnya dia mampu berinfaq 100 juta pula. Kemudian dia tingkatkan menjadi 1 miliar. Luar biasa.

Yang ingin kukatakan disini adalah, bahwa jangan pernah berburuk sangka kepada Allah. Jangan pernah kamu menilai suatu masalah dengan sudut pandang negatif, karena masalah ada untuk diselesaikan. Dan jika kamu bisa menyelesaikan suatu masalah, maka itu tanda bahwa kamu pantas untuk naik tingkat. Semakin tinggi tingkat itu, semakin rumit masalahnya. Namun, bagi para pejuang dengan jiwa-jiwa yang kokoh, masalah itu tak lebih besar dari keagungan Tuhannya. Maka, jika mereka tertimpa masalah, jika mereka diuji dengan masalah, maka mereka mendekat kepada pemberi masalah, Allah. Karena hanya dariNya pula mereka akan mendapatkan jalan keluar. Mereka mengetahui bahwa diri mereka lemah, sehingga dengan begitu mereka menguatkan sandaran mereka kepada Allah. Ya, manusia itu lemah. Tapi bukan berarti manusia tak mampu menyelesaikan sebuah masalah. Jika dia kalah dengan masalah, maka dia lebih lemah dari masalah itu. Karena itu, bagi para pejuang, jiwanya adalah jiwa pemenang. Sekeras apa usaha yang dia lakukan, sebesar itu pula kemenangan atau kegagalan yang dia dapat. Ingatkah tentang nasehat, “man jadda wajada“, siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan (apa yang dia usahakan). Maka bagi para pejuang berjiwa pemenang, yang dipikirkannya bukan bagaimana menghindari masalah, tapi bagaimana dia bisa mencari jalan menyelesaikan masalah.

Dan inilah hikmah besar yang kuambil, sebuah benang merah antara amal sholih hingga mencapai keberhasilan adalah bahwa amal sholih yang dilakukan tanpa tercampuri niat buruk akan memberikan keberkahan kepada pelakunya. Ketika dia ditimpa ujian kesulitan, maka seperti kata Allah, Dia iringkan kesulitan itu dengan kemudahan. Maka jika dia bersungguh-sungguh menghadapi kesulitan itu, Allah bukakan jalan kemudahan untuknya, bahkan dari arah yang tak diduganya. Jika sudah begitu, takkan ada yang bisa menghalangi. Dan itulah keberkahan bagi para pelaku kebaikan.

Hanya satu, dari masalah ini yang belum bisa kuselesaikan dan membuatku sedih, adalah bahwa aku gagal menolong temanku untuk bisa kembali kuliah. Jika saja aku lebih serius menolongnya, mungkin dia bisa kembali kuliah. Tapi, itu sudah berlalu. Semoga ada kesempatan lain untukku menolongnya.

Adapun ketika aku menyebutkan kebaikan apa yang sudah kulakukan, bukan bermaksud untuk sombong atau pamer, tapi hanya semata-mata untuk saling berbagi dan memberikan pelajaran bahwa amal-amal kebaikan seperti itu mampu menolongmu menghadapi masalah. Temanku pernah berkata bahwa ketika kita dilanda masalah, coba carilah amal-amal unggulanmu, sehingga dengannya menjadi perantara Allah menolongmu keluar dari masalah. Bahkan, ketika kutahu bahwa dosa-dosaku masih menggunung, Allah seakan tak peduli dan tetap memberikan nikmatnya seluas lautan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Sungguh malu.

Tak lupa, kepada semua pihak yang sudah bersedia membantuku, dari temanku yang memberikan info, temanku yang meminjamkan sepatu, pak satpam di BTN, ibu-ibu pegawai, mba Ihda, mba Dyah, pembimbing akademikku, mas-mas dan bapak-bapak di bagian pendidikan fakultas maupun universitas, bahkan pegawai pom bensin yang mengisikan bensin ke motorku, dan semua yang Allah gerakkan untuk membantuku, kuucapkan terima kasih semua atas pertolongannya. Tak ada yang bisa kulakukan selain mendoakan kebaikan-kebaikan untuk kalian.

Penulis: Mahmud Nur Kholis (Komisi D Puskomnas FSLDK Indonesia)

Dikutip dari: http://alfaatih21.blogspot.co.id/2015/08/berkah-amal-sholih-bersama-kesulitan.html

——————————————————- Media FSLDK Indonesia —————————————————-

Email : info@fsldkindonesia.org

Fanpage : FSLDK Indonesia

Twitter : @FsdkIndonesia | @JarmusnasFSLDKI

Line : @yok1532s

G+ : FSLDK Indonesia

three small tree isolated on white

Perlu Yang Kecil Untuk Menjadi Besar

By | Puskomnas | No Comments

Sumber Gambar: http://ekokusnur.com/bisnis-kecil-untung-besar.html

“Bersiaplah mendapatkan yang besar, dengan terlebih dulu menyelesaikan yang kecil-kecil.”

Namanya Christoper L. Jr. Cerita tentang kesuksesan dirinya menyebar begitu luar biasa. Bukan karena predikat yang dia sandang sebagai General Manager Costumer Satisfaction and Public Relation di Mercedez Benz, tapi cerita bagaimana dia mendapatkan semua itu lah yang membuat namanya dikenang banyak orang.

Berada di level setinggi itu, tak ada yang menyangka bahwa Chris memulai karirnya sebagai tukang ledeng! Semua bermula saat Mr.. Benz, bos perusahaan mobil terkemuka Mercedes Benz itu mempunyai masalah dengan kran air di rumahnya. Singkat cerita, atas rekomendasi seorang kawan, dia menghubungi Chris untuk menyelesaikan masalah yang dia alami. Setelah atur-mengatur jadwal, maka disepakati bahwa Chris akan datang ke rumah Mr. Benz dua hari lagi. Yang menarik adalah, keesokan harinya, Mr.. Benz menerima telfon dari Chris. Dia mengucapkan terimakasih karena Mr. Benz mau bersabar menunggunya satu hari lagi. Chris tidak tahu dengan siapa dia sedang berbicara. Benar-benar tidak tahu. Maka ucapan terima kasih yang dia sampaikan melalui telepon itu semata-mata dia lakukan karena sikap professionalnya dalam bekerja. Tak ada maksud untuk memperlakukakan istimewa salah satu pelanggannya. Dia mengistimewakan semua pelanggan-pelanggannya.

Tentu Mr. Benz terkejut dengan “hal kecil” yang dilakukan oleh Chris. Walaupun sekali lagi, ini pekerjaan sederhana. Dia hanya sekedar menelfon, dan mengungkapkan terimakasihnya karena Mr. Benz bersedia menunggu. Hai! Bukankah sejak awal mereka telah bersepakat untuk menunggu hingga dua hari? Bukankah kesepakatan itu sudah cukup hingga tak perlu lagi Chris repot-repot menelfon Mr. Benz?

Tepat! Memang benar, sebenarnya Chris tak perlu melakukan itu. Dia tak perlu lagi repot-repot menghubungi Mr. Benz. Lha, wong sudah kesepekatan diawal, ya sudah. Tapi itulah yang membedakannya dengan tukang ledeng lain. Dia istimewa! Dan keistimewaan itu muncul karena hal kecil yang tak dilakukan oleh tukang ledeng lainnnya.

Namun ternyata, keistimewaan Chris tidak hanya berhenti disana. Setelah berhasil menyelesaikan masalah kran air itu, dua minggu berselang, Chris kembali menghubungi Mr. Benz. Dia menanyakan apakah kran airnya mengalami masalah lagi.  Tentu ini bukan hal biasa bagi Mr. Benz yang telah hafal seluk beluk pengelolaan perusahaan. Apa yang dilakukan oleh Chris ini adalah salah satu aspek yang selalu dia tekankan di dalam perusahaannya. Costumer satisfaction! Maka akhirnya dia menyadari bahwa dia tidak sedang berbicara dengan tukang ledeng biasa. Dia sedang berbicara dengan orang hebat!

Dan akhirnya kita tahu, beberapa bulan berikutnya, Mr. Benz mengajak Chris bergabung dan menjadi bagian penting dari Mercedes Benz!

Mereka yang mampu memperhatikan hal kecil, biasanya adalah orang-orang besar. Maka jangan pernah meremehkan hal-hal kecil dalam kehidupan kita. Pekerjaan besar tidak melulu soal kehebohan sekali waktu, tapi juga soal hal-hal sederhana yang dilakukan terus menerus tanpa jeda. Yang menulis tidak lebih jagoan daripada yang membaca. Maka mari, sama-sama kita belajar. Kerjakan hal-hal kecil dengan maksimal. Lalu lihatlah, keajaiban itu menyapa dari arah yang tak kita duga-duga.

Penulis: Muhammad Syukri Kurnia Rahman (Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia)

Komunitas Produktif #BacaDuaLima

——————————————————- Media FSLDK Indonesia —————————————————-

Email : info@fsldkindonesia.org

Fanpage : FSLDK Indonesia

Twitter : @FsdkIndonesia | @JarmusnasFSLDKI

Line : @yok1532s

G+ : FSLDK Indonesia

Categories