Soal Momentum

Soal Momentum

momentum

Sumber Gambar: http://www.lkc.or.id/2014/09/05/momentum/

Apa itu momentum? Sebagian besar dari kita mungkin mengatakan: kesempatan!

Benarkah arti momentum sesederhana itu?

Coba kita teliti kasus ini. Misalkan saja minggu depan ada tes Calon Guru PNS. Bagi kita yang masih semester enam, tes itu jadi momentum kita atau bukan? Pasti semua kompak menjawab, bukan! Tapi bagi seorang lulusan sarjana FKIP, apakah itu momentum bagi dirinya? Iya! Jelas itu momentum bagi dirinya. Apalagi tes itu hanya ada setahun sekali. Maka pertanyaannya, antara mahasiswa dan si sarjana, apa yang membuat beda?

Itu kasus pertama. Sekarang coba lihat yang kedua.

Ini cerita tentang Hudzaifah. Hudzaifah bin yaman. Seorang sahabat yang diminta Rasulullah Saw. untuk menembus gelapnya malam, mencari tahu keadaan pasukan lawan saat Perang Khandaq berada di ujung kemenangan. Saat itu kendali pasukan lawan berada di tangan Abu Sufyan. Hudzaifah berhasil. Kini dia telah berada tepat di tengah-tengah kemah pasukan lawan. Berbaur dengan mereka sambil berusaha agar tak ada yang menyadari kehadirannya. Di saat-saat yang sangat menegangkan itu, ada sebuah plot kisah yang paling saya sukai: Hudzaifah sempat berada di sebuah posisi yang memungkinkan dia untuk membunuh Abu Sufyan saat itu juga. Dia mendapatkan momentum itu! Momentum untuk menghabisi nyawa Abu Sufyan. Tapi tidak dia lakukan, karena dia sadar, Rasulullah tidak mengutusnya kecuali hanya untuk mengintai.

Menarik. Bagaimana jika kita mengganti kata ‘momentum’ disana dengan ‘kesempatan’? Akankah maknanya juga turut berubah?

Sekilas mungkin akan nampak sama, tapi sejatinya mereka berbeda. Momentum dan kesempatan, dia adalah dua hal yang berbeda. Mirip mungkin iya, tapi momentum, dia lebih kompleks dari sekedar kesempatan.

Jadi, apa itu momentum?

Bertemunya kesempatan dengan kemampuan. Itulah momentum. Jadi bukan hanya perkara ada atau tidaknya kesempatan, tapi juga soal ada atau tidaknya kemampuan. Bagi mahasiswa, tes CPNS itu bukanlah momentum. Kenapa? Karena walaupun sudah ada kesempatan, tapi dia tidak punya kemampuan (terutama kemampuan administratif). Dia belum jadi sarjana. Mau ndaftar pun, juga tidak akan mendapatkan izin. Tapi bagi lulusan sarjana, jelas itu momentum baginya. Kesempatan sudah di depan mata, kemampuannya pun juga sudah ada. Saat Hudzaifah mau membunuh Abu Sufyan di Perang Khandaq, itu momentum. Misal ceritanya diganti. Hudzaifah tepat berada di sisi Abu Sufyan, tapi ternyata dia lupa nggak bawa pedang, kan nggak bisa juga disebut momentum. Kesempatan membunuhnya memang ada, tapi kemampuan untuk mengeksekusinya menjadi tidak ada.

Maka saat kita bicara momentum, kita sedang bicara bukan hanya tentang kapan kesempatan itu datang, tapi juga sudah sejauh mana kemampuan yang telah kita siapkan. Ada dua syarat yang harus digenapkan agar momentum itu tercipta: ada kesempatan dan ada kemampuan.

Kebanyakan dari kita hanya menunggu yang pertama, tapi lupa untuk mempersiapkan syarat keduanya, yaitu kemampuan (ability). Maka dalam konteks inilah, kita tidak boleh menunggu datangnya momentum. Kenapa? Karena kita tidak bisa melakukan itu. Momentum itu diciptakan, bukan dinantikan. Dia adalah perpaduan. Untuk menjadi sebuah momentum, kita perlu melakukan intervensi di dalamnya. Kita harus bertindak. Kita harus bergerak, menyiapkan kemampuan terbaik untuk menyambut datangnya kesempatan. Kalau kita masih saja berdiam diri dan mengatakan ‘saya belum sukses karena momentumnya belum datang’, maka sudah saatnya kita sadar. Yang kita tunggu itu kesempatan, bukan momentum. Dan kalau kita hanya berdiam diri, sampai nanti kiamat datang, kita tidak akan mendapatkan momentum kesuksesan kita.

Celakanya, kita juga sering lupa bahwa dalam menciptakan sebuah momentum, kita sebenarnya sedang “berbagi tugas” dengan Allah. Kesempatan -yang merupakan syarat pertama dari momentum itu- itu adalah domain Allah Swt. Allah lah yang berhak menghadirkannya. Nah baru yang syarat kedua, itu urusan kita. Maka jangan kebalik. Kita sering merisaukan kapan kita mendapat kesempatan, padahal itu bukan ranah yang seharusnya kita urusi. Itu kerjaannya Allah. Biarkan Dia yang mengatur urusan itu. Tugas kita hanyalah melewati detik demi detik dari perjalanan hidup kita dengan terus menerus meningkatkan kapasitas diri kita. Agar apa? Agar saat Allah telah selesai dengan urusan-Nya, kita juga telah selesai dengan urusan kita. Jadi match! Cocok.
Kita tidak seharusnya merisaukan kapan saatnya angin berhembus paling kencang, cukup bagi kita untuk terus menerus melepaskan anak panah kita.

Bergeraklah! Siapkan diri untuk menyambut datangnya kesempatan. Allah pasti punya itung-itunganNya sendiri untuk menghadirkan kesempatan terbaik di depan mata kita. Maka tak perlu risau jika diarasa kesempatan itu belum juga menyapa kita. Itung-itunganNya Allah pasti jauh lebih sempurna daripada itung-itungan kita! Wis to, percaya saja sama Allah.

Maka bertindaklah! Ciptakan momentummu sendiri!

Penulis: @densyukri

Categories