Sepertiga Malam di Lereng Lawu

Sepertiga Malam di Lereng Lawu

gunung-lawu12

Gunung Lawu

Penulis: Muhammad Syukri Kurnia Rahman

Beberapa hari yang lalu Gunung Lawu terbakar. Para pendaki dan orang-orang yang sedang melakukan ritual “lelaku” terjebak di atas sana. Tanpa komando, para relawan dari berbagai macam lembaga sama-sama menyingsingkan lengan baju mereka. Turun bersama, merelakan waktu dan tenaga untuk mereka yang membutuhkan kehadirannya. Satu di antara mereka, izinkan saya memperkenalkannya pada anda. Namanya Angga Suryawinata, rekan saya di Fakultas Kedokteran UNS yang selama dua hari berada di sana untuk keperluan evakuasi. Dari tutur ceritanya lah tulisan ini dilahirkan.

Tapi, tapi. Kita tidak sedang berbincang tentang heroiknya proses evakuasi. Kita akan berbincang tentang cerita istimewa yang ada di sela-sela tugas utama para relawan di sana. Kata Angga, “Selalu ada cerita istimewa di antara momen-momen menegangkan saat proses evakuasi bencana.”

Dan cerita itu dimulai di sini.

Pukul 23.30, Angga dan timnya mencoba untuk istirahat. Mencoba? Iya, mencoba. Kita sama-sama mengerti, membuat mata terpejam di tengah-tengah dingin yang menghantam, tentu bukan pekerjaan gampang. Dan Angga adalah orang yang gagal dalam percobaan itu. Haha. Sampai menjelang shubuh, matanya tak kunjung terpejam. Molet-molet saja dari tadi. Namun, seolah-olah, skenarionya memang harus berjalan demikian. Angga sepertinya memang tidak boleh tidur. Karena tepat di jam 03.00, saat percobaan mata yang kesekian ribu kalinya gagal total, Angga melihat sebuah pemandangan yang aduhai! Wow! Menakjubkan!

Angga dan tim tidur di sebuah ambulans. Tim perempuan tidur di bagian depan, sedangkan laki-laki di bagian belakang. Angga mendengar suara berbisik di bagian depan. Percakapan dua orang perempuan. Semakin lama semakin terdengar. Dan pada akhirnya, telinga Angga menangkap satu di antara mereka berucap,

“Aku turun dulu ya. Mau shalat tahajjud.”

Sebentar, sebentar. Nggak salah denger tuh? Seorang perempuan, di tengah-tengah dingin yang mendekap kuat di saat badan seharusnya diistirahatkan, bukannya merapatkan selimut, eh malah turun menyambut kabut. Tidak salahkah telinga Angga menangkap kata? Faktanya, memang itulah yang terjadi. Percakapan kecil itu berhenti, disusul langkah kaki menuruni lereng Gunung Lawu. Menyambut kedatangan Allah di langit dunia. Menganggungkan nama bersar-Nya, dan mempertegas kerendahan dirinya sebagai manusia.

Yang perlu digaris bawahi, ini bukanlah kisah tentang pria perkasa yang sedang bersiap untuk sholat malam di masjid megah mliknya. Ini adalah kisah sepertiga malam terakhir di lereng Lawu, yang diperankan oleh seorang relawan perempuan yang baru saja menyelesaikan peran kerelawanannya. Tentu dingin, tentu capek. Namun nyatanya, dua hal itu tak mampu menghentikan langkah kakinya untuk menyambut seruan Tuhannya.

Kata Angga, “Udah, ceritanya selesai.”

Kata saya, “Enak aja! Masak gitu doang. Lanjutin lah!”

Metode pemaksaan seperti ini biasanya berjalan efektif. Haha. Dan akhirnya, Angga melanjutkan ceritanya. Jadi di pagi harinya, tim relawan itu sarapan bareng. Membuat lingkaran kecil yang penuh kehangatan. Memang saat bersama-sama berjuang seperti itu, tak ada kehangatan yang bisa mengalahkan hangatnya persaudaraan. Dan sudah barang tentu, harus ada bumbu untuk menikmati kehangatan itu. Bumbunya apalagi kalau bukan cerita. Maka mereka segera melempar cerita, dan juga pastinya, melempar tawa, hingga sampailah pada perempuan yang sedang kita bicarakan ini.

Dia memperkenalkan diri. Namanya Bulan, anak dari ayah-ibu yang memilih untuk murtad, meninggalkan kenikmatan Islam yang telah sekian lama mereka rasakan. Lalu bagaimana dengan Bulan? Sang ayah tak pernah memaksakan agama anak-anaknya. Bagaimanapun, mereka mengerti bahwa Islam adalah agama yang baik. Maka dia bebaskan Bulan untuk memeluk Islam secara ‘wajar’.

“Kalau ke-Islam-an saya dipandang ekstim oleh mereka, saya diajak diskusi, mas. Mungkin beliau khawatir saya ikut aliran-aliran sesat yang mengatasnamakan Islam.”, begitu dia berujar.

Contohnya? Kerudung. Saat dia memutuskan untuk memakai kerudung panjang sesuai syariat Islam, sang ayah mengajaknya ‘diskusi’. Tentu agar Bulan kembali memangkas kerudung panjangnya. Namun pada akhirnya, sang putri dipersilahkan membuat keputusan sendiri. Nyatanya, Bulan juga menunjukkan bahwa semakin panjang kerudung yang dia kenakan, semakin besar bakti yang dia berikan.

Masih seputar kerudung, Bulan kembali menuturkan ceritanya. Setelah sekian lama berkutat dengan aktivitas perkuliahan, dia selipkanejn waktu sejenak untuk berkunjung ke kampung halaman. Perlu sekian jam perjalanan naik bus untuk sampai di kampungnya. Celakanya, begitu sampai di sana, matahari sudah berada di peraduannya. Malam telah menyapa. Tak ada lagi angkot yang bisa membawanya dari tempat sekarang ia berdiri ke depan pekarangan rumahnya sendiri. Dia hubungi ayah-ibunya. Memang malang, petang itu mereka sedang ada urusan. Namun, mereka menawarkan solusi,

“Coba kamu hubungi pastur kenalan ayah di deket situ, minta dianter sama dia saja. Tapi kamu juga harus menghormati beliau ya. Kamu lepas kerudungmu sebentar, nanti kalau sampai rumah boleh kamu lepas lagi.”

Lalu apa yang dilakukan Bulan? Kata dia pagi itu di depan rekan-rekannya,

“Mas, daripada saya disuruh melepas kerudung saya, mending saya jalan kaki!”

Berapa jauh? Entahlah. Kadang jarak tak lagi menjadi masalah jika yang kita pikirkan hanyalah melangkah dan terus melangkah.

Maka sebenarnya, sebelum lereng Lawu menjadi saksi ketaatan dia pada Tuhannya, debu-debu jalanan telah lebih dulu menjadi saksi akan keteguhannya dalam menjaga kehormatan. Kehormatan sebagai perempuan, dan tentu, sebagai muslimah yang beriman. Lalu, pertanyaannya bagi kita, siapa yang akan tampil menjadi saksi bahwa kita lebih mencintai Tuhan kita dibanding segala yang ada di depan mata kita?

Mari sejenak berpikir, dan terus menerus bertanya “Dengan ke-Islam-an kita, kita sudah ngapain aja?”

Ditulis di Villa Sandria, Tawangmangu.

Categories