Selesai Dengan Diri Kita!

Selesai Dengan Diri Kita!

 

Sumber Gambar: http://loo.me/2011/11/how-i-get-stuff-done/

Ikhwah fillah..

Satu hal yang harus benar-benar kita ingat adalah bahwa dulu, para pendiri bangsa ini telah menempatkan kata Tuhan Yang Maha Esa pada sila pertama sebelum empat sila yang lainnya. Mereka memilih kata Tuhan untuk menjadi pembuka dari apa yang tertulis setelahnya.

Kita tahu apa arti itu semua?

Itu artinya, para pendiri bangsa ini, mereka benar-benar memahami bahwa dalam kemerdekaan yang sedang mereka perjuangkan, ada campur tangan Tuhan yang ikut bermain di dalamnya.

Itu artinya, dengan sadar mereka menginsyafi bahwa ketika kemerdekaan itu benar-benar datang, hal itu semata-mata karena telah mendapat restu dari Tuhan mereka.

Dan uniknya, para pendiri bangsa ini menjatuhkan pilihan mereka pada kata-kata “Tuhan Yang Maha Esa”, bukan tuhan yang lainnya. Sekali lagi, Tuhan Yang Maha Esa.

Kita semua tahu, sampai nanti ketika akhirnya matahari terbit dari ufuk barat, hanya Islamlah agama yang seluruh pengikutnya mengakui bahwa Tuhan itu Maha Esa. Qul Huwallaahu ahad. Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa.

Itu berarti, sejak dari pertama bangsa ini berdiri, kita lah raja yang sejak dari awal ditakdirkan merawat indonesia! Allahuakbar!

Ikhwah fillah, karena kita adalah raja sejak dari awalnya, maka bersikaplah layaknya raja besikap. Berbicaralah layaknya raja berbicara, dan berfikirlah layaknya raja berfikir. Dan harus kita catat bahwa seorang raja hanya akan memikirkan hal-ha besar dalam kehidupan mereka.

Ikhwah fillah, mulai detik ini, mari bersama-sama kita ambil kembali takdir yang telah di alamatkan kepada kita sejak dari awalnnya. Mari kita ambil mahkota yang memang dipersiapkan untuk kepala kita. Allahuakbar!

Ikhwah fillah.. Ada sepenggal episode menarik dalam perhelatan piala dunia 2014 lalu. Sebuah cerita tentang supporter jepang yang mendukung timnya kebanggaannya. Begitu timnas negeri sakura itu selesai bertanding, para supporter jepang tidak segera berhamburan keluar lapangan. Dia tunggu hingga seisi stadion sepi. Setelah semua kosong, mereka berjalan pelan keluar lapangan, sambil memunguti sampah yang berserakan di sepanjang jalur keluar mereka. Mereka memunguti sampah yang bahkan tidak mereka buang!

Dari sini kita belajar sebuah hal, bahwa bangsa besar selalu menyimpan orang-orang besar yang hidup di dalamnya. Bangsa besar selalu memiliki  generasi-generasi terbaik yang akhirnya karena mereka lah, kebesaran bangsa itu diakui oleh bangsa yang lainnya.

Oleh karena itu, ketika kita berbicara tentang sebuah negeri, kita sebenarnya sedang berbicara tentang orang-orang yang ada di dalamnya. Kalau penduduknya baik, maka baik pulalah negeri itu. Pun juga sebaliknya.

Ikhwah fillah, berbicara tentang kemenangan indonesia adalah berbicara tentang perbaikan sifat serta karakter orang-orang yang ada di dalamnya, dan itu adalah diri kita masing-masing. Omong kosong ketika kita berbicara tentang kemajuan bangsa ini jika kita belum selesai dengan urusan kita mengatur waktu 24 jam yang kita punya. Omong kosong ketika kita berbicara tentang kemajuan bangsa ini kalau kita belum selesai dengan amal-amal dan karya-karya terbaik kita.

Maka saat kita bertanya sudah sejauh mana perkembangan bangsa indonesia, tanyakanlah sudah sejauh mana proses perbaikan sifat dan karakter diri kita masing-masing.

Kita harus selesai dengan diri kita sendiri! Kita harus selesai dengan urusan kita mengatur produktivitas kita selama 24 jam yang kita punya! Kalau seharian hanya kita habiskan untuk hal-hal yang tak ada hubungannya dengan masa depan kita, bagaimana mungkin kita berbicara tentang kemajuan indonesia? Kalau kita belum selesai dengan urusan amal-amal hairan terbaik kita, bagaimana mungkin kita berbicara tentang kemenangan agama kita?

Sekali lagi teruslah bertanya, untuk apa kita habiskan waktu seharian yang kita punya? Berapa banyak buku yang kita baca dalam seminggu? Berapa tulisan yang bisa kita hasilkan dalam waktu sepekan? Berapa sering kita meninggalkan jamaah shubuh kita? Qiyamul lail kita? Bacaan al-qur’an kita?

Kunci kemajuan sebuah bangsa terletak pada orang-orangnya. Selama bangsa itu hanya menyimpan orang-orang yang tidak bisa membuat negerinya semakin baik, maka jangan harap negeri itu benar-benar akan baik.

Termasuk juga dengan agama ini. Selama ini pesona islam pudar karena pemeluknya. Maka para pemeluknya lah yang bertanggung jawab mengembalikan pesona itu. Dan kita harus sadar, bahwa tanggung jawab itu adalah tanggung jawab kita semua! Allahuakbar!

Ikhwah fillah, FSLDK-D maupun FSLDK-N adalah ajang pertemuan dua hal. Pertama adalah ajang untuk mempertemukan keimanan-keimanan kita, dan kedua adalah ajang perumusan strategi-strategi terbaik kiita. Kita harus tahu, bahwa ketika berbicara tentang kemenangan, kita tidak hanya sekedar membutuhkan iman. Sekali lagi, ketika kita berbicara tentang kemenangan, kita tidak hanya sekedar membutuhkan iman. Andai kemenangan itu hanya sekedar membutuhkan iman, maka demi Allah, pasukan muslim di bukit uhud itu lebih pantas mendapatkan kemenangan!

Namun peristiwa itu seolah mengajari kita, bahwa ketika kita berbincang tentang kemenangan, jangan pernah lepaskan kata strategi dalam bahan perbincangan tersebut.

Ikhwah fillah. FSLDK tidak bisa dibangun hanya dengan satu Puskomnas. FSLDK tidak bisa dibesarkan hanya dengan 37 Puskomda. FSLDK tidak bisa dibangun -bahkan- dengan sekian banyak LDK yang sekarang bergabung dengan kita sekalipun. FSLDK dibangun dari diri kita masing-masing. Puncak kemenangan dakwah melalui FSLDK dibangun dengan cara membangun menara kebaikan dari seluruh anggotanya. Saat mereka mempesona, saat prestasi mereka menduinia, saat karya-karya mereka menghiasi zaman mereka, saat ide-ide mereka mampu melintasi usia mereka, dan saat amal-amal mereka semakin mendekatkan mereka kepada tuhan mereka, maka saat itulah kemenangan itu akan tiba, insyaallah.

Ikhwah fillah. Pesona masing-masing pribadi itulah yang sekarang sedang kita rangkum dalam sebuah LDK, lalu LDK-LDK itu kita rangkum melalui sebuah puskomda, dan 37 puskomda yang tergabung itu kita koordinasikan melalui satu puskomnas. Agar jalan kita sama, senada, dan seirama. Lalu setelah semua pesona itu terangkum, kita bagikan dia ke seluruh indonesia.

Begitulah ikhwah, begitulah cara kita membangun indonesia, insyaallah. Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!

Penulis : Muhammad Syukri Kurnia Rahman

Sumber : http://www.muhammadsyukri.com/2015/05/selesai-dengan-diri-kita.html

——————————————————- Media FSLDK Indonesia —————————————————-

Email : info@fsldkindonesia.org

Fanpage : FSLDK Indonesia

Twitter : @FsdkIndonesia | @JarmusnasFSLDKI

Line : @yok1532s

G+ : FSLDK Indonesia

Categories