Pahlawan Perempuanku, Siti Walidah Ahmad Dahlan

Pahlawan Perempuanku, Siti Walidah Ahmad Dahlan

#HeroineWeek #8

 

Siti Walidah Ahmad DahlanSiti Walidah merupakan sang Istri dari seorang pendiri Muhammadiyah yakni K.H Ahmad Dahlan yang  lahir pada tahun 1872 di Kauman Yogyakarta.  Ayahnya seorang pedaganga batik yang bernama Kiai Haji Muhammad Fadlil, dan Ibunya akrab disapa Nyai Fadlil. Dan Ia pun akrab di sapa sebagai Nyai Ahmad Dahlan.

Islam datang menerangi kota Jogja sudah cukup lama, dan Siti Walidah pun sejak kecil sudah terbiasa untuk mempelajari agama islam, Ayahnya dan juga orang-orang tua kala itu pun sangat memberi apresiasi terhadap anaknya yang gemar belajar agama, walau di sisi lain, sudut Jogja pun masih teriris dosa-dosa kemusyrikan yang tak kunjung reda sampai pahlawan menghentikannya. Siti Walidah pun mendapatka kepercayaan dirinya yang tinggi, Ia pun mulai menapaki jejak sang Ayah yang tidak hanya sebaga saudagar batik, tapi juga sebagai Kiai yang menyebarkan Islam melalui lisannya di sanggar miliknya.

Siti Walidah pun tumbuh menjadi gadis yang sholehah nan cerdas, dan pada tahun 1889 Ia pun menikah dengan Ahmad Dahlan secara kekeluargaan, karena Ahmad Dahlan merupakan saudara sepupunya. Ahmad Dahlan pun memberi kekuatan baru dalam jalan dakwahnya, tahun 1912 Ia mendirikan Muhammadiyah, setelahnya Ia memiliki tekad  memberikan dukungan untuk didirikanya Aisiyah sebagai apresiasi kemajuan kaum perempuan. Tak hanya sampa pada Ahmad Dahlan, namun getar darah perjuagan pun dirasakan oleh Siti Walidah, dengan kepandaiannya dalam dakwah dan mengajar sejak kecil, Siti Walidah merintis kaum perempuan dari pengajian-pengajian yang digelar di Kauman sebagai pendidik generasi bangsa.

Pengajiannya pun dimulai dengan memahami makna surah al-ma’un dengan sebaik-baiknya, karena erat katannya denga kondiri Kauman kala itu. Mendustkana agama masih menjadi hal yang lumarah, menghadir anak yatim dan kemiskianan masih menyelimuti. Selain itu, pengajian yang diadaka setelah shalat Magrib ini tidak hanya tentang agama, melanka juga tentang membaca dan menulis.

Pada tahun 1918, Aisiyah pun di dirikan walau belum adanya anggaran dan tatakelola organisasi, namun jihadnya telah di mulai dengan mengasuh anak yatim, selaras dengan pengamalan surah Al-ma’un. Adapun Siti Walidah hadir sebagai penasehat dengan sejuta tutur kata yang sarat mana kebaikan. Meski rintangan yang di hadapinya sangat berliku bahkan nyawa menjadi taruhannya.

Siti Walidah, berkortibusi di jalan dakwahnya dengan berupaya turut serta mengembangkan Muhammadiyah untuk berdakwah hingga pelosok-pelosok nusantara. Ia juga memperjuangkan persamaan hak antara perempuan dan laki-laki, serta mendirikan sebuah asrama untuk para pelajar yang giat mencari ilmu dan Siti Walidah menanamkan kepada mereka semua rasa cinta kebangsaan kaum perempuan untuk berperan aktif dalam peregerakan nasional, mengiringi Muhammadiyah.

Di Era revolusi, siti Walidah menggerakan seluruh perempuan untuk mendirikan sebauh dapur umum, sebaga bentuk dukungan kepada para tentara yang kala itu tengah berperang, tak hanya berupa jihad secara fisik karena kecerdasannya membawa Siti Walidah di kenal sebagai perempuan yang rajin bertukar pikiran dengan petinggi negara.

Siti Walidah pun tiba pada masa renta, di usianya yang menginjak 74 tahun tepatnya pada tanggal 31 Mei 1946 Ia menghembuskan napas terakhirnya di langit Jogja. Namun,  napas-napas perjuagannya masih mampu dirasakan oleh penerus ‘Aisyiyah dan perempuan pada umumnya, bahkan negara menghormatinya dengan memberinya gelar pahlawan nasional pada tanggal 22 september 1971.

Muslimah, kisah teladanya Siti Walidah tak lekang oleh waktu, hidupnya di tertulis di atas batu yang memiliki keabadian. Mari berkaca pada diri ini, sudah sejauh manakah perjuagan yang telah di jalani? Seberapa banyakkah orag lain yang terbantu dengan kehadira kita. Berjuang bersama, lakuan dengan kerja Keras, kerja Cerdas, tak lupa Kerja Ikhlas. Allahu Akbar.

Categories