Menjadi Muslimah Profesional

Sering kali kita sebagai seorang muslimah ragu dan bimbang tentang apa yang akan terjadi ketika kita masuk ke dalam fase hidup yang lebih serius; yaitu menikah. Bayangan-bayangan mengerikan tentang aktivitas yang tidak lagi bisa ia kerjakan seperti dahulu pun juga kebebasan bepergian yang tidak lagi ia dapatkan seperti dahulu. Ketakutan-ketakutan itu sering sekali menghantui, dan membuatnya tidak menikmati setiap peran yang seharusnya dijalani. Berikut ada cerita seorang Ibu luar biasa, yang berhasil menjawab ketakutan-ketakutan itu dan tetap happy menjalani semua peran perempuan dalam keluarga beserta fase-fase hidup yang akan terus berjalan.

nurul hidayati

 

Nurul Hidayati istri dari Al Muzzamil Yusuf, terlahir dari sebuah keluarga aktivis dan berlatar belakang da’i membuat Ibu tiga anak ini belajar banyak hal sejak ia masih kecil. Mengikuti aktivitas Bapak dan Ibu adalah sebuah rutinitas yang terkadang membuatnya bisa menebak lanjutan kalimat yang akan diutarakan oleh ayahnya. Mendapatkan seorang suami yang juga berlatar belakang sama membuat keduanya melakukan “learning by doing”, melakukan analisa terhadap apa-apa saja kekurangan-kekurangan yang tidak sebaiknya terjadi dan mempertahankan nilai positif yang ada. Sebuah kunci utama yang dipegang dengan kuat ketika seorang anak masih berstatus anak adalah bagaimana mencari ridho Allah melalui ridho orang tua. Mengejar keberkahan hidup pra menikah dengan fokus kepada tujuan sederhana ridho orang tua. Pun setelah menikah, rumus hidup yang dulunya kepada ridho orang tua bukan kemudian dihilangkan, namun dipindahkan kepada ridho suami yang telah mengikat perjanjian kepada Sang Khaliq untuk menjadi sahabat dan pemimpin baginya. Ini bukanlah sebuah fase yang mudah dalam hidup beliau, aktivitas yang semula padat dengan jam terbang yang luar biasa harus disesauaikan dengan primary job beliau sebagai istri dan ibu.

Beliau menginsafi betul bahwa manisnya iman bukan terletak pada ketenaran, harta, kecantikan dan lain-lain, namun manisnya iman terletak jauh diatas itu semua; yaitu di dalam hati. Proses pemaknaan primary job inilah yang kemudian menjadi bekal seorang perempuan untuk melaksanakan sebuah praktik mengenai norma Islam tentang hak dan kewajiban perempuan. Karena ketika kita mengikuti fitrah kita sebagai seorang perempuan dengan kemuliaan yang telah Allah dan Rosul gariskan untuk kita, kita akan mendapatkan kebahagiaan yang menentramkan. Karena adil bukan berarti kita memakai sepatu yang keduanya adalah sisi kanan.

Setelah beliau menyadari, ada porsi primary job yang harus beliau selesaikan sebalum menyelesaikan pekerjaan yang lain di luar rumah. Dari sosok ibu beliau menyadari bahwa perempuan itu powerful; bisa melakukan banyak hal. Namun, tentu saja perempuan yang satu dengan yang lain tidak bisa disamakan. Ada fungsi yang harus disesuaikan antara primary dan secondary job. Ada keseimbangan kualitas yang harus dijaga antara keprofesionalan kita diluar rumah dan luar rumah. Kadar keseriusan seseorang menjalankan amanahnya di luar rumah haruslah sama dengan kadar keseriusannya menangani pekerjaan-pekerjaan domestik; berkebun, memasak, menjadi ibu dengan anak usia bayi, balita, pra remaja, remaja, dewasa, menikah, bagaimana menjadi mertua yang baik dan lain-lain. Karena disitulah kualitas anak-anak kita akan terbentuk. Maka titik usaha terbesarnya adalah berani menolak jika itu melebihi porsi dirinya. Karena perjuangannya adalah untuk menjaga keseimbangan agar tetap proporsional.

Maka menjadi seorang muslimah profesional adalah menjadi muslimah yang memiliki ilmu di setiap fase hidupnya. Memperbaiki mindset mengenai apa yang menjadi primary dan secondary job nya, menghargai dirinya serta peranannya terhadap keluarga. Maka membaca dan menuntut ilmu adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan sama sekali oleh muslimah. Pemahaman yang mengakar mengenai peran-peran utamanya adalah kunci untuk menjadi muslimah paling bahagia. Berbahagia artinya tidak pernah lupa, bahwa semua aktivitas yang ia lakukan baik di dalam atau pun di luar rumah adalah untuk hujjahnya di hadapan Allah. Bukan untuk orang lain, maka me time seorang muslimah adalah aktivitas penuh keikhlasan agar semuanya Allah nilai sebagai ibadah. Jangan menjadi muslimah yang kehilangan kreativitas untuk menghargai waktu serta kehilangan daya kritis untuk memilah aktivitas apa saja yang harus ia konsumsi.
Biodata Singkat Narasumber :
Nama lengkap : Hj Nurul Hidayati SS MBA
TTL : Klaten, 19 Desember 1968
Alamat : Komp DPR Blok A7 No 101
Pendidikan : – FSUI/FIB UI
– STBA LIA
– Program MBA IPWI
Organisasi : Ketua Umum PP Salimah 2010-2015
Moto : Maju kembangkan diri, raih ridha Ilahi, berbuat terbaik untuk sesama

Categories