Memperingati 70 Tahun Kemerdekaan Indonesia

Memperingati 70 Tahun Kemerdekaan Indonesia

IMG-20150817-WA0025

“Atas nama bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta.” Riuh dan sorak-sorai bergema begitu keras menyambut usainya dibacakan kalimat terakhir dari naskah Proklamasi itu oleh The Founding Father bangsa Indonesia, Ir. Soekarno.

Radio-radio di seluruh nusantara pun tak ketinggalan menyiarkan sebuah berita besar bagi dunia. Berita yang menyatakan bahwa sebuah bangsa baru telah lahir. Negara baru telah didirikan. Semua masyarakat di Indonesia menyambut gembira ‘kemenangan’ ini. ‘Kemenangan’ yang telah lama dinantikan setelah lebih dari 350 tahun mengalami penjajahan dan penyiksaan yang pahit oleh berbagai bangsa dan negara.

Rempah-rempah direbut. Pribumi dipaksa bekerja keras tanpa bayaran. Kekayaan alam ‘dilucuti’. Banyak masyarakat yang mati karena kelaparan. Banyak pula yang mati karena siksaan dan penindasan yang tak terpikirkan kapan akan berakhir.

Namun ditengah perihnya penindasan itu, muncullah orang-orang yang ingin menyudahi rasa sakit di bumi pertiwi. Mereka mulai menampakkan diri sebagai wujud perlawanan bangsa Indonesia. Mereka tak hanya bertarung dengan fisik, tetapi mereka juga bertarung dengan akal pikiran. Mereka merumuskan strategi. Mereka memikirkan bagaimana cara untuk menghentikan dan membebaskan negeri tercinta ini dari penjajahan. Mereka adalah orang-orang yang kita kenal sebagai Pahlawan Kemerdekaan.

Tokoh-tokoh besar dan peristiwa-peristiwa besar lahir pada zaman perjuangan ini. Bung Tomo dengan perjuangannya di Surabaya, perang gerilya Jenderal Soedirman, Soekarno dengan perumusan dasar negaranya, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh yang mungkin bahkan belum kita kenal sama sekali. Mereka adalah pahlawan bagi negeri ini. Dengan gigihnya mereka mempertaruhkan pikiran, waktu, tenaga, harta, bahkan nyawa hanya untuk satu kata, MERDEKA.

Hingga pada akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945, tercapailah sudah cita-cita mereka. Kemerdekaan dikumandangkan. Penantian panjang dan perjuangan tak sia-sia dilakukan. Lahirlah sebuah negara dengan nama INDONESIA, dengan bendera MERAH PUTIH sebagai identitasnya.

Kini, tak terasa 70 tahun sudah kita merasakan kebebasan. Kebebasan akan penindasan, kebebasan akan penjajahan fisik, kebebasan akan kekejaman bangsa lain. Saat ini, kita berada pada masa-masa yang menyenangkan. Tak perlu lah mengangkat senjata, melempar bom, apalagi sampai memikirkan bagaimana caranya esok kita berjuang.

Kita sekarang berada pada masa-masa yang begitu nyaman. Cukuplah memikirkan hidup sendiri. Tak perlu bersusah-susah membantu orang lain, apalagi sampai memikirkan bagaimana caranya mengurangi penderitaan mereka.

Namun, ada satu hal yang kita abaikan. Berada pada masa yang nyaman ini, seringkali membuat kita terlena. Seringkali membuat kita lupa. Merasa tenang karena tak perlu ada darah yang tumpah demi perjuangan. Hidup dijalani dengan santai. Dengan seadanya. Tak ada effort lebih untuk memaksimalkan hari. Padahal waktu tak bisa kembali. Dengan ringannya kita mengatakan, “Masih ada besok. Santai saja….” Hingga pada akhirnya hilanglah kesadaran bahwa dalam setiap hari ada kewajiban yang harus kita lakukan, yang apabila ditinggal, kewajiban itu akan menumpuk dan tak kunjung selesai dikerjakan.

Dengan berada pada masa yang nyaman ini kita lupa, bahwa bangsa ini tidak lahir dengan sendirinya. Negara ini tidak berdiri dengan sendirinya. Ada banyak darah yang tumpah. Ada banyak air mata yang mengalir. Ada banyak peluh yang menetes dari tubuh. Ada banyak ide-ide yang berkecamuk dalam pikiran.

Jika kita benar-benar berpikir dengan jernih, kita akan merasakan perasaan malu dalam diri kita. Kita akan merasa malu, karena kita berpikir, betapa lancangnya kita ‘berdiri’ di atas banjir darah dan tulang belulang para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan, tanpa melakukan pekerjaan-pekerjaan besar yang memajukan negeri ini.

Tanpa kita sadari, mungkin ternyata apa yang lakukan hanyalah hal-hal yang membuat diri kita bahkan negeri ini makin terpuruk. Kita mungkin tidak menyadari bahwa ternyata selama ini kita menjadi part of the problem bukan part of the solution.

Teringat sebuah kata-kata penyemangat dari presiden pertama kita, Bapak Ir. Soekarno. Beliau mengatakan, “Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncangkan dunia!”

Sebuah kalimat yang berisikan penyadaran kepada kita, bahwa setiap diri kita mempunyai potensi. Apalagi sebagai pemuda. Jika menggunakan kalimat yang disampaikan Bung Karno, kita dapat menghitung, besarnya potensi yang dimiliki seorang pemuda adalah seratus kali lipatnya potensi orang tua. Dengan potensi seeratus kali lebih besar ini, maka tidak mungkin kita diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya untuk tugas yang remeh temeh.

“ Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:

 “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” …” (Q. S. Al-Baqarah: 30)

‘Khalifah’. Sebuah kata yang mengingatkan kita akan misi besar yang kita bawa. Kata yang kita identikkan dengan arti pemimpin. Maka, seperti apa kita memaknai kata pemimpin? Pemimpin bukanlah orang yang sekedar memegang jabatan tertinggi dan berkuasa. Bukan. Itu adalah pimpinan, bukan pemimpin. Pemimpin bukan pula orang yang sekedar menyuruh, lalu bila ada kesalahan menghukum. Bukan. Itu inspektur namanya, bukan pemimpin.

Dalam buku-buku kepemimpinan, pemimpin diartikan sebagai seorang yang memberi pengaruh kepada orang lain. Oleh karena itu, syarat-syarat untuk menjadi pemimpin yang baik pun tak mudah. Karena seorang pemimpin harus bisa memberikan 4 hal pada orang yang dipimpinnya. Pertama keteladanan. Kedua kompetensi. Ketiga visi. Keempat inspirasi. Selain itu, pemimpin adalah ‘wajah’ dari masyarakat dan negeri yang dipimpinnya. Bagaimana kondisi masyarakat dalam sebuah negeri, dapat dilihat dari pemimpinnya.

Maka dari itu, kita sebagai pemuda Indonesia adalah harapan-harapan baru. Kita adalah ‘wajah’ masa depan Indonesia. Kita adalah ‘potret’ masa depan Indonesia. Bagaimana keadaan Indonesia di masa mendatang dan bagaimana dunia memandang Indonesia di masa depan, ditentukan oleh para pemudanya saat ini.

Mengingat dua pertanyaan di atas, marilah kita menjawab sepasang pertanyaan lagi. Jika dua keadaan tadi ditentukan oleh kondisi pemudanya, apakah ada alasan bagi kita saat ini untuk bersantai-santai dan meninggalkan tugas besar kita? Adakah alasan bagi kita untuk tidak mengalami perkembangan setiap harinya?

Kita sebagai pemuda Indonesia adalah ‘arsitek-arsitek’ baru, yang akan merancang sebuah Indonesia yang indah dan maju. Indonesia yang bukan hanya mampu menyelesaikan berbagai krisis yang ada dalam negerinya, tetapi juga menjadi kontributor bagi peradaban dunia.

Maka dari itu, di momen mengingat kemerdekaan yang sudah berjalan 70 tahun ini, marilah kita sama-sama melakukan sebuah refleksi. Kita menyadarkan kembali diri kita akan sejarah masa lalu yang penuh dengan perjuangan, dan kita jadikan itu sebagai ‘bahan bakar’ semangat kita untuk membangun Indonesia yang maju dan sejahtera.

Marilah sama-sama kita mengembangkan potensi diri kita. Kita sama-sama membangun negeri tercinta. Meskipun dengan pemikiran yang berbeda-beda, kita tetap berada dalam satu semangat yang sama. Karena hanya ada satu kata, INDONESIA.

Sebuah kalimat indah meluncur dari lisan seorang bijak, Umar Ibn Al-Khattab radhiyallaahu’anhu. Beliau mengatakan, “Setiap kali aku menemui masalah-masalah besar, yang aku panggil adalah anak muda.”

Negeri kita sedang menghadapi masalah-masalah yang serius, dan yang mampu menyelesaikannya adalah para pemudanya. Oleh karena itu, marilah kita berada dalam satu semangat, yaitu semangat membangun Indonesia. Dan mari dengan lantang kita bersama meneriakkan, “BANGKIT NEGERIKU! HARAPAN ITU MASIH ADA!”

-FSLDK INDONESIA

Categories