Laksamana Malahayati, Muslimah Yang Menjadi Laksamana Wanita Pertama Di Abad Modern

Laksamana Malahayati, Muslimah Yang Menjadi Laksamana Wanita Pertama Di Abad Modern

laksamana malahayati

Dengan semangat para srikandi dari tanah perjuangan, Aceh loen sayang, Jaringan Muslimah Daerah FSLDK Aceh mempersembahkan sebuah tulisan mengenai seorang laksamana wanita pertama di abad modern, yang namanya bahkan disebutkan dalam literatur-literatur di Portugis, Belanda, Inggris hingga Perancis, dialah Laksamana Malahayati.

Laksamana Malahayati, lahir dengan nama Keumalahayati pada akhir abad 15. Beberapa sumber ada yang mengatakan pada awal abad ke-16. Laksamana Malahayati berasal dari golongan darah biru. Beliau adalah keturunan langsung dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530) yang merupakan pendiri Kerajaan Aceh Darussalam. Dari silsilah keturunan juga disebutkan bahwa ayah dan kakeknya juga seorang laksamana. Sehingga sudah dipastikan jiwa bahari seorang laksamana angkatan laut sudah dekat dengan beliau.

Setelah menyelesaikan pendidikan keagamaan di Meunasah (masjid kampung) dan Dayah (pesantren), Malahayati remaja mantap memilih melanjutkan pendidikannya di sebuah Akademi Militer yang dibangun oleh Kerajaan Aceh Darussalam, yaitu Akademi Militer Mahad Baitul Maqdis. Saat belajar di Mahad Baitul Maqdis ini, Malahayati berjumpa dan berkenalan dengan seorang taruna senior yang kelak menjadi suaminya.

Kecerdasan dan kepiawaian Malahayati membuatnya langsung diangkat menjadi Komandan Protokol Istana Darud-Dunia di Kesultanan Aceh Darussalam oleh Sultan Alaiddin Riyat Syah Al Mukammil (1589-1604) selepas pendidikannya. Jabatan ini menuntut Malahayati untuk menguasai soal etika dan keprotokolan istana. Suami Malahayati bekerja di istana sebagai seorang laksamana laut yang gagah berani.

Pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riyat Syah Al Mukammil ini, terjadi pertempuran laut yang dahsyat antara armada Selat Malaka dan armada Portugis di Teluk Haru. Di pertempuran ini suami Malahayati gugur bersama dengan 1000 prajurit lainnya. Lalu Malahayati memohon kepada Sultan untuk membentuk armada yang mana prajuritnya adalah para inong balee (janda) dari prajurit yang gugur di Teluk Haru. Maka Malahayati memimpin pasukan yang kemudian dikenal dengan nama Armada Inong Balee ini. Armada Inong Balee disebut-sebut sebagai salah satu armada terkuat di Asia Tenggara, meski prajuritnya terdiri dari para wanita.

Dalam perjalanannya, Armada Inong Balee berhasil memenangkan pertempuran melawan Belanda. Bahkan Laksamana Malahayati membunuh dengan rencongnya sendiri pemimpin pasukan Belanda, yakni Cornelis de Houtman, dalam pertempuran satu lawan satu. Setelah kejadian itu, Belanda mengirimkan utusan diplomatik untuk berdamai dengan Kerajaan Aceh. Perundingan ini dihadiri oleh Laksamana Malahayati. Sehingga Laksamana Malahayati juga dikenal sebagai seorang diplomat. Laksamana Malahayati juga pernah berdiplomasi dengan utusan Ratu Elizabeth II, sehingga hubungan Kerajaan Aceh dengan Inggris amat bagus pada masa itu.

Tak ada yang tahu pasti kapan Laksamana Malahayati wafat. Sebuah sumber mengatakan beliau gugur saat memimpin pertempuran melawan Portugis yang menyerbu pangkalan Armada Inong Balee di Krueng Raya. Sehingga kemudian Laksamana Malahayati dimakamkan di lereng bukit Lamkuta, sekitar 34 km dari Banda Aceh.

Demikianlah selintas kisah Laksamana Malahayati, seorang muslimah yang menjadi laksamana wanita pertama di abad modern. Laksamana Malahayati merupakan salah satu tokoh yang menunjukkan kita mengenai emansipasi wanita yang tidak sekedar teori, namun langsung berbuat dengan aksi. Dan sejarah juga telah mencatat bahwa perempuan Aceh sudah mendobrak batas-batas gender bahkan sejak dulu kala. Isu gender tak pernah menjadi masalah sejak zaman kesultanan di tanah rencong ini. Tertulis bahwa tidak sedikit perempuan Aceh yang menjadi Sultanah. Tertulis juga di dalam sejarah bahwa wanita-wanita Aceh berjuang langsung ke medan perang melawan penjajah. Kita tentu mengenal Cut Nyak Dhien. Lalu masih ada nama Teungku Fakinah, Cut Meutia, Pocut Baren, Pocut Meurah Intan, Pocut Biheu, Cutpo Fatimah dan lainnya.

Buya Hamka menyatakan, “Pikirkanlah dengan dalam! Betapa jauh perbedaan latar belakang wanita Aceh 358 tahun yang lalu itu dengan perjuangan wanita zaman sekarang. Mereka itu didorong oleh semangat jihad dan syahid karena ingin bersama menegakkan agama Allah dengan kaum laki-laki, jauh daripada arti yang dapat kita ambil dari gerakan emansipasi wanita atau feminisme zaman modern sekarang ini.”

Roma Itona
Ketua Jaringan Muslimah Daerah FSLDK Aceh 2016

Categories