Kita Muslim yang Bagaimana?

Kita Muslim yang Bagaimana?

helping-others

Sumber Gambar: http://3.bp.blogspot.com/-aE2JucFOfy4/VBAg8IN-AXI/AAAAAAAAAQE/ZSRr1_A2mzQ/s1600/helping-others.jpg

Beberapa waktu lalu, ketika kami sedang berkumpul dan berdiskusi (kalau itu disebut diskusi), guru kami membacakan kembali sebuah hadits yang sebenarnya tidak asing bagi kami, namun karena disampaikan dengan lafadz arabnya sementara kami hanya pernah mendengar terjemahannya, maka seolah kami pun merasa asing dengannya. Hadits itu adalah hadits yang membuat hatiku trenyuh.

Sebelumnya aku menyampaikan sebuah pesan tentang kematian. Seorang Arab Badui pernah bertanya kepada Rasul tentang kapan tibanya hari kiamat. Kemudian Rasulullah malah balik bertanya, “Apa yang kau persiapkan untuk menghadapinya?”. Orang Arab itu menjawab, “Cinta kepada Allah dan RasulNya”. Rasulullah berkata, “Engkau akan bersama yang kau cintai.”.

Guru kami melantunkan lafadz hadits itu. Man lam yahtamma bi amril muslimin, falaysa minhum. Siapa yang tidak mempunyai perhatian kepada urusan kaum Muslimin, maka bukanlah dia bagian darinya. Terdiam. Merenung. Berfikir. Menghayati.

Dahiku mengernyit, pandanganku lurus ke bawah. Jauh. Kemudian beberapa saat setelahnya aku ditanya oleh guruku, ketika diskusi akan berakhir. Apa kesimpulanmu? Aku diam sejenak. Mencoba merangkai kata dari lintasan pikiranku. Sebenarnya sudah sedari tadi kucoba merangkai kata hingga akhirnya mulutku berucap dengan lirih, seingatku, atau mungkin ini rangkaian baru yang baru saja terlintas, “Menjadi Muslim itu bukan menjadi egois. Siapa yang tak perhatikan urusan Muslim lain, tak pantaslah ia mengaku sebagai Muslim.”. Menghela nafas, “Jujur, diingatkan kembali tentang hadits itu membuat saya takut. Jangan-jangan saya bukan bagian dari kaum Muslimin. Jangan-jangan saya masih terlalu egois untuk memikirkan urusan orang lain.”.

Aku berhenti sejenak. Mencoba menata kembali suara dan intonasi yang mulai makin lirih dan terisak. Sambil menatap kearah guruku dan sesekali menatap ke bawah, aku selesaikan kalimat-kalimatku tadi. Hingga mataku berkaca-kaca. Namun semua itu kutahan agar tak sampai meluap menjadi tangis. Jaim-lah…

Gaes, cerita di atas bukan fiktif belaka. Bukan potongan dari cerpen atau novel. Ini kisah nyata yang terjadi di abad 20 (eh 20 apa 21 sih sekarang ini? Kalau Doraemon kan 22 ya…). Ini pula pertama kalinya aku bertingkah (sok) menghayati begitu.

Dua nasehat (nasehat tentang kematian dan nasehat dari hadits itu) yang kemudian dengan sendirinya merangkaikan sebuah kesadaran dalam diriku akan arti penting dari hidup dan kehidupan. Diawal aku sempat menceritakan (walau tak kutulis) kisah Umar bin Abdul aziz yang ‘berbicara’ dengan kubur yang memperlakukan penghuninya dengan sangat buruk akibat dosa-dosa yang dilakukan ahli kubur semasa hidupnya. Lalu Umar menangis dan berkata, “Bukankah dunia ini fana, yang mulia bisa jadi hina, yang kaya menjadi miskin, yang muda akan tua, dan yang hidup akhirnya mati”

Gaes, hidup bukan sekedar hidup. Kalau hidup sekedar hidup, monyet di hutan juga hidup. Tapi kita ini manusia. Makhluk Allah yang paling sempurna dalam penciptaan. Kita diberi akal dan hati untuk merasai, bukan sekedar berlaku ala kadarnya. Maka seperti yang kukatakan diawal, kita tak perlulah tanyakan kapan kiamat itu akan datang. Yang lebih penting dari kiamat itu sendiri adalah apa yang kita persiapkan untuk menghadapinya? Kita tak usahlah tanyakan kapan ajal itu datang, karena cepat atau lambat ia akan menyapa. Tapi lebih dari itu, apa yang kita siapkan untuk menghadapinya? Sebuah kemalangan besar adalah ketika panjangnya umur beriringan dengan banyaknya dosa. Orang yang paling cerdas adalah orang yang mengetahui dia akan mati kemudian dia siapkan sebaik-baik perbekalan untuk dibawa pergi setelah kematiannya. Maka benarlah Rasulullah ketika bertanya, “Apa yang kamu persiapkan untuk menghadapinya?”. Karena kapan waktu kedatangannya tak jadi masalah jika kita telah siap menghadapinya. Dan beruntunglah orang badui itu yang menjawab “Cinta kepada Allah dan RasulNya”, karena jawaban ini akan mengantarkan diri kita kepada kesudahan yang baik.

Cinta kepada Allah dan RasulNya akan membawa kepada tindakan taat kepada perintah-perintahNya. Mentaati perintah-perintahNya juga termasuk ketika kita menjauhi larangan-laranganNya, karena menjauhi larangan termasuk mentaati perintah.

Jika diibaratkan sebuah domino, ketaatan akan memberikan efek domino yang berimplikasi kepada perilaku kehidupan kita. Orang yang mentaati aturan akan cenderung lebih tenang dalam hidup ketimbang orang yang selalu melanggar aturan. Karena aturan dibuat dan diberlakukan adalah untuk kebaikan, bukan keburukan kita.

Hadits diatas secara tidak langsung (mungkin) merupakan sebuah perintah agar kita peduli kepada urusan saudara kita, sehingga Rasulullah memperingatkan kepada umatnya bahwa siapa yang egois, tak peduli kepada urusan orang lain, maka dia bukan golongan kami (Muslim). Bukankah itu sebuah peringatan yang keras, yang mampu membuat air mata menetes karena takut?

Jika Rasul sudah tak mengakui status kemusliman kita, lantas apa yang bisa kita perbuat? Memohon kepada Allah? Bahkan Rasulullah adalah hambaNya yang paling dekat kepadaNya. Maka sebuah peringatan tak seharusnya disepelekan atau bahka tak dihiraukan. Celakalah yang tak menghiraukan peringatan Allah dan beruntunglah yang segera meresponnya dengan baik. Masih ingatkah tentang hadits yang mengatakan bahwa barangsiapa yang memudahkan urusan saudaranya dalam menuntut ilmu, maka ia akan mudahkan jalannya ke Surga? Itu merupakan bentuk perhatian kita terhadap urusan kaum Muslimin lain.

Ingatkah kita dengan surat cinta Allah kepada kita bahwa sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang Mukmin harta dan jiwa mereka dengan ganti Surga? (At Taubah : 111). Apa artinya? Artinya adalah diri kita ini bukan milik kita, seutuhnya. Kita adalah milik Allah. Maka dimanakah berhaknya kita untuk berlaku egois? Maka perhatikanlah urusan saudaramu…

Semoga Allah kuatkan kaki-kaki kita untuk senantiasa melangkah di jalan kebaikan, tegarkan jiwa-jiwa kita menghadapi cobaan, teguhkan hati-hati kita dalam keteguhan iman dan islam, serta satukan kita dalam ikatan suci aqidah islam . Dan semoga kita terhindar dari sifat-sifat buruk kaum Munafiqun seperti yang Allah ceritakan dalam Al Baqarah ayat 14, “Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, ‘kami telah beriman.’. Tetapi ketika mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya mengolok-olok saja.'”.

Wallahul muwafiq…

Penulis: @alfaatih21 (Mahmud Nur Kholis)

Sumber: http://alfaatih21.blogspot.com/2014/09/kita-muslim-yang-bagaimana.html

Categories