Karena Eiffel Hanya Ada di Paris

Karena Eiffel Hanya Ada di Paris

eiffel1

Ilustrasi Menara Eiffel

Penulis: Syarif A. M. (Komisi D Puskomnas FSLDK Indonesia)

Sebuah kisah menarik muncul dari seorang remaja yang baru saja lulus pendidikan tingkat menengah atas (SMA dan setara). Ketika akan menghadapi ujian untuk masuk ke perguruan tinggi negeri, ia merancang mimpi-mimpinya. Ia targetkan kampus tujuan, fakultas tujuan, bahkan hingga organisasi dan komunitas yang akan ia ikuti. Dengan keseriusan level maksimal, ia belajar, ikut bimbel, bahkan hingga memanggil guru privat.

2 hari menjelang ujian masuk PTN, ia merasakan tekanan. Ketakutan akan gagal mulai muncul. Perasaan khawatir akan tidak diterima di universitas tujuan mulai menggantayangi pikiran si remaja. Ia berdoa agar lulus, ia belajar, minta doa dari orangtua, kakak, adik, dan orang-orang yang ada di sekitar dia. Semua ia lakukan dengan satu tujuan: diterima di universitas impian, fakultas impian, dengan target-target impian yang akan ia capai selama kuliah.

Hari penentuan tiba. Soal dibagikan. Bel tanda mulai berbunyi. Seluruh peserta ujian seleksi mengerjakan soal. Dengan kecerdasan rata-rata, dan ke-pede-an yang tidak seberapa, si remaja menjawab soal-soal semampunya. 1 soal. 2 soal. Hingga akhirnya bel istirahat berbunyi.

Setelah selesai istirahat, kegiatan ujian kembali berlangsung dengan suasana yang sama. Tegang. Tak bersuara. Sunyi sekali. Bahkan suara penghapus yang jatuh akan terdengar begitu keras. Peserta ujian pun tak kalah unik. Mereka mengerjakan soal dengan berbagai gaya. Ada yang santai. Tegang. Panik. Takut. Dan lain sebagainya. Hingga akhirnya bel selesai pun berbunyi, menandakan ujian telah berakhir.

Sekitar 1 bulan setelah ujian selesai, pengumuman pun muncul. Si remaja ini dengan sigap langsung membuka pengumuman ujian. Setelah memasukkan kode peserta, ia mulai melihat keterangan. Terbelalak lah matanya ketika ia melihat tulisan “MAAF, ANDA TIDAK LULUS”.

Bercampur aduk perasaan si remaja. Sedih, marah, kecewa. Semua berkumpul jadi satu. Hingga hanya satu ekspresi di guratan wajahnya. Tangis. Air mata mengalir membasahi pipi si remaja. Mata memerah. Mulut menggeram kesal. Tak habis pikir dia. Uang orangtua yang selama ini membiayai bimbel, privat, membeli buku. Impian-impian dan harapan-harapannya. Semua seakan runtuh karena kejadian ini. Dia merasa tak mampu memberi kebanggaan pada orangtuanya. Mempermalukan nama keluarganya.

Namun ternyata, luar biasa orangtua si remaja ini. Mereka menyemangati. Menasihati. Memberi masukan, dan lain sebagainya.

Akhirnya si remaja ini pun mencari-cari kembali ujian seleksi PTN yang mandiri. Hingga akhirnya dia mengikuti sampai 4 ujian. UTUL UGM, UM UNDIP, UMBPT, dan Ujian Mandiri UNJ. Dan luar biasanya, orangtua si remaja menyanggupi untuk membiayai seluruh administrasi yang harus diselesaikan.

Besar harapan si remaja akan kelulusannya. Ia kembali merancang target-target dan impian-impiannya. Ia membayangkan kuliah, berorganisasi, dan bertemu dengan kawan-kawan baru.

Hingga akhirnya, hari penentuan dari keempat ujian pun mulai berdatangan. Si remaja dengan tidak sabar membuka pengumuman kelulusan satu per satu. Dan dari pengumuman tersebut, si remaja mendapatkan kesimpulan. Dari 4 tes, 3 yang tidak menerimanya. Hanya 1 tes yang menerimanya. Itu pun diterima di pilihan yang paling akhir. Pilihan yang paling tidak direncanakan. Pilihan yang bahkan tidak masuk dalam impian si remaja.

Mulailah bergejolak jiwa si remaja. Bimbang antara melanjutkan atau tidak. Dia merasa, kalau ia memilih, prospek masa depan dari pilihan ini tidak jelas. Abstrak. Tidak akan membawa kesuksesan. Bayangan akan prestasi itu tidak tampak. Sementara kalau ia tidak memilih, ia harus ‘menganggur’ satu tahun untuk menunggu ujian selanjutnya.

Dia berdiskusi dengan orangtua. Berdoa. Istikharah. Hingga akhirnya dia berdiskusi dengan kakaknya. Ketika curhat tentang masalah dan kebimbangannya, kakak si remaja ini menyampaikan satu kalimat yang menyadarkan si remaja. “The world is so big. You can’t see the Eiffel Tower if you just sit on your bed.”

Akhirnya si remaja ini mulai hilang keraguannya. Mulai muncul pikiran “Mengapa tidak aku coba?” Dia pun memutuskan untuk kuliah di pilihan yang ia pikir menjadi ‘prospek suram’ baginya.

Dan ternyata, setelah si remaja mulai kuliah. Semua hal yang ia pikirkan ‘suram’, berubah 180 derajat. Ternyata ia tinggal di asrama yang berisi ‘petinggi-petinggi’ kampus. Kuliahnya terasa menyenangkan. Dia bertemu guru yang membuka pandangannya menjadi lebih luas. Hingga ia merasa bahwa “Inilah berkah Allah yang dihadiahkan buat saya.”

Begitulah teman-teman semua. Dalam menjalani kehidupan ini, kita biasanya berpikir untuk menjadi sangat ideal. Semua yang kita pilih adalah yang terbaik menurut kita. Dan apa yang menurut kita baik, akan membawa kesuksesan pada diri kita. Tapi ternyata tidak demikian. Kita seringkali melupakan satu faktor fundamental yang akan menentukan jalan hidup kita. Arahan dan kehendak Allah SWT.

Boleh jadi kita merasa pilihan kita adalah yang terbaik buat kita. Tapi ternyata Allah memberi tahu kepada kita secara tersirat bahwa “Itu tidak baik buatmu”. Dan boleh jadi juga kita merasa pilihan lain itu buruk, tapi Allah berkata “Ini baik buat kamu”.

“…. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 216)

Kita boleh merencakan hidup kita. Sangat boleh. Bahkan saya menganjurkan. Kita boleh menuliskan impian kita. Sangat boleh. Kita boleh menentukan target-target masa depan untuk diri kita. Hal-hal tersebut sangat boleh. Kita pun bahkan harus berjuang untuk mencapai itu semua. Tapi, kita tidak boleh melupakan satu faktor. Yaitu kehendak Allah. Dialah Yang Mahatahu. Maka bila suatu saat impian kita tidak tercapai ketika sudah berusaha begitu keras, sadarlah, mungkin apa yang kita impikan bukanlah sesuatu yang baik di hadapan Allah. Mungkin Allah punya rencana yang lebih baik untuk kita, seperti si remaja tadi. Allah lah yang Mahatahu, dan kita tidak tahu.

Seperti yang dikatakan Edvan M. Kautsar dalam bukunya, Allah SWT lebih tahu mana pilihan yang paling tepat atas diri kita. Allah lebih tahu mana pilihan yang akan membuat diri kita lebih berkembang. Dan salah satu cara Allah untuk memberi tahu kita, kata kakak tingkat saya, adalah dengan ‘menggagalkan’ rencana dan pilihan kita yang telah kita buat.

Dan seperti takdir si remaja, sebenarnya Allah mengarahkan kita ke arah pilihan yang paling baik. Mungkin kita tidak sadar, tapi ternyata Allah mengarahkan kita ke sana. Seperti si remaja yang Allah arahkan lewat perantara kalimat sang kakak.

Dan satu lagi pelajaran yang ingin saya sampaikan adalah mari buka wawasan kita. Seringnya kita menutup diri dari sekitar dengan berbagai alasan. Takut lah. Malas lah. Itu adalah alasan yang sering kita pakai. Kita sering asyik dengan diri kita yang menyendiri. Kita selalu berpikir tentang masalah yang kita hadapi. Padahal salah satu kunci untuk mendapat solusi atas masalah kita adalah dengan ‘bermain’ keluar. Bertemu orang-orang. Berdiskusi. Jalan-jalan. Kita akan mendapat pandangan baru yang lebih luas. Lebih terang. Lebih solutif.

Maka, mari kita mencoba untuk ‘bermain’ keluar. Negeri kita mungkin indah. Tapi kita tidak akan pernah tahu indahnya negeri lain kalau kita berdiam diri.

So, the world is so big. You can’t see the Eiffel Tower if you just sit on your bed :)

Join the discussion One Comment

Leave a Reply

Categories