Jejak Ketangguhan Pejuang Wanita dari Kalimantan, Ratu Zaleha

Jejak Ketangguhan Pejuang Wanita dari Kalimantan, Ratu Zaleha

Ratu Zaleha
Dengan semangat muslimah tangguh, Jaringan Muslimah Daerah FSLDK Kalimantan Barat mempersembahkan sepenggal kisah tentang Ratu Zaleha, pahlawan wanita dari Banjar.
Beliau adalah puteri dari Muhammad Seman bin Pangeran Antasari. Dilahirkan di Muara Lawung tahun 1880 dengan nama asli Gusti Zaleha, sangat gigih berjuang mengusir Belanda dalam perang Banjar, melanjutkan perjuangan kakeknya, Pangeran Antasari. Ratu Zaleha merupakan tokoh emansipasi wanita di Kalimantan.
Sejak kecil, Zaleha telah merasakan perjuangan bersama ayah dan kakeknya melawan penjajah Belanda. Ketika beranjak dewasa, Zaleha bersama ayahnya gencar melakukan perlawanan terhadap Belanda hingga sering dikejar Belanda sampai masuk dan keluar hutan. Ketika ayahnya meninggal, maka Zaleha menggantikan ayahnya sebagai Sultan dan Pemimpin Perang Tertinggi. Ratu Zaleha dapat menghimpun kekuatan dari suku-suku Dayak Dusun, Kenyah, Ngaju, Kayan, Siang, Bakumpai, Suku Banjar. Dia berjuang bersama seorang wanita pemuka Dayak Kenyah yang masuk Islam bernama Bulan Jihad atau Wulan Djihad. Ada juga nama Illen Masidah dan lain-lain.
Selama masa perjuangan fisik, Ratu Zaleha bersama Bulan Jihad memberikan pelajaran baca-tulis Arab Melayu dan ajaran agama Islam kepada anak-anak Banjar serta memberikan penyuluhan kepada perempuan-perempuan Banjar tentang peranan perempuan, ajaran agama Islam, & ilmu pengetahuan lainnya.
Ratu Zaleha menikah dengan Gusti Muhammad Arsyad yang merupakan sepupunya sendiri. Suami-istri tersebut melanjutkan perjuangan ayah Ratu Zaleha. Setelah Benteng Manawing jatuh, mereka bersembunyi ke Lahei dan selanjutnya ke Mia di tepi Sungai Teweh. Suaminya tertangkap dan menyerah kepada Belanda.
Ratu Zaleha lalu berlanjut berjuang seorang diri. Banyak sekali serangan yang ia rasakan selepas perpisahan dengan suaminya. Tembakkan, pembakaran, dan banyak lagi perjuangannya untuk mempertahankan daerahnya. Tapi ketegarannya sangat luar biasa. Tak ada kata menyerah dari perjuangannya walau lelah fisik dan pikirannya. Ia dianggap macan wanita yang tidak mau tunduk kepada Belanda.
Namun, karena kesehatannya memburuk, Belanda dapat melumpuhkannya dengan mudah pada 1905. Ia ditangkap dan diasingkan ke Bogor bersama ibunya, Nyai Salmah. Selama 31 tahun Ratu Zaleha bersama keluarganya di pengasingan. Mereka kemudian diizinkan kembali ke Banjarmasin, 1937.
Ratu Zaleha wafat pada tanggal 24 September 1953. Bulan Jihad yang baru turun dari gunung setelah 49 tahun mengasingkan diri, sangat sedih setelah empat bulan baru tahu Ratu Zaleha sahabatnya mendahuluinya. Walaupun Ratu Zaleha telah tiada, tetapi harum namanya tak pernah sirna di hati rakyat Kalimantan. Sehingga namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum di Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
“Aku pernah terjatuh, lalu kemudian bangkit. Bangkit bukan karena malu. Melainkan bangkit karena itulah satu-satunya pilihan yang takkan membuatku mati dalam raga yang bernafas.”
-Fariz Gobel-
Ditulis oleh:
Jarmusda FSLDK Kalbar.

Categories