Inspirasi Hijrah dr. Marijati, Menata Langkah Mengejar Prestasi

Berbekal semangat dari sepotong pesan ayahandanya, “Seseorang itu dihargai oleh orang lain karena 4 hal, yaitu karena harta, tahta, keturunan dan ilmu. Dokter Marijati seorang muslimah inspiratif penggerak dakwah bukan hanya berhenti di kampus namun hingga beberapa kota di Jawa Tengah terus mengibarkan semangat dakwahnya hingga detik ini. Karena beliau sadar beliau dibesarkan di sebuah keluarga sederhana yang serba kekurangan, maka hanya dengan ilmulah ia dapat dihargai di masyarakat. Ayahandanya “Bapak So’im” seorang pegawai percetakan buku selalu mengingatkan ia tentang pentingnya idealisme walapun mereka bukan sebuah keluarga berada. Sedangkan ibunya “Ibu Katiyem” seorang ibu rumah tangga. dr. Marijati merupakan anak perempuan satu-satunya di keluarga tersebut, anak ketiga dari tiga bersaudara. Semenjak kecil dr. Marjati dibesarkan dengan nilai-nilai Islam, orang tuanya selalu menyuruh beliau datang belajar mengaji dan tak pernah lupa menunaikan shalat 5 waktu. Walaupun latar belakang keluarga beliau adalah sebuah keluarga Islam KTP, keluarga yang mengakui Islam sebagai agamanya, namun tak pernah mejalankan syariat islam dalam kehidupan sehari-hari.

solo

“Jadi, saya dulu itu ya belajar ngaji, shalat 5 waktu, kalau Ramadhan juga berpuasa, walaupun semua anggota keluarga tidak ada yang menunaikan ibadah-ibadah tersebut. Kuncinya selalu menikmati setiap prosesnya, jadi gag pernah protes”, tutur dr. Marijati dengan senyum manis beliau. Beliau sadar setiap apapun yang diperintahkan dan dilarang oleh orang tuanya adalah hal baik, sebagai wujud cita-cita dan harapan orang tua agar kelak anak-anaknya tak seperti orang tuanya.

Semenjak sekolah dasar, beliau sudah menunjukkan prestasi-prestasi di bidang akademik maupun non akademik. Menjadi guru ngaji semenjak kelas 5 SD, aktif dalam pramuka sejak kelas 6 SD. Walaupun bersekolah di sekolah elit dan favorit tak pernah menjadikan dr. Marjati rendah diri dengan kondisi keluarganya ia tetap aktif berprestasi. Puncaknya adalah ketika beliau SMA, beliau mewakili SMA 2 madiun untuk lomba cerdas cermat, lomba pramuka se karesidenan Madiun dan masuk dalam anggota PASKIBRAKA kota Madiun, namun seminggu sebelum hari H lomba-lomba tersebut dr. Marijati mengalami kecelakaan hingga harus istirahat total karena fraktur tulang. Semenjak itu beliau mulai mengurangi berbagai aktivitas berat dibidang olahraga. Setelah lulus sekolah menengah atas, dr. Marjati memutuskan untuk masuk akademi keperawatan, sempat beberapa hari mengikuti OSPEK sebelum keluar pengumuman bahwa beliau diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.

Di awal-awal kuliah, beliau masih ingat bagaimana proses hijrah yang beliau lalui. Dari seorang remaja yang hobi memakai celana jeans dan kaos oblong hingga bermetamorfosis menjadi seorang akhwat anggun berjilbab, proses tersebut tak lepas dari peran Lembaga Dakwah Kampus di fakultas kedokteran. Memutuskan mengikuti FORSIL “Forum Silaturahmi” yaitu sebuah kegiatan yang dikhususkan untuk mahasiswa baru yang ingin bergabung dengan LDK, keputusan beliau untk mengikuti LDK dikarenakan hanya LDK lah kegiatan ekstra kurikuler dikampusnya yang tidak membutuhkan banyak aktifitas fisik, selain itu ia dan ketiga sahabat laki-lakinya menyusun strategi untuk mendekati senior untuk mencari tahu bagaimana belajar di kedokteran lewat forum tersebut. Beberapa bulan setelah bergabung di LDK, dr. Marijati semakin faham mengenai ajaran-ajaran islam termasuk menjaga interaksi ikhwan akhwat, dan memutuskan untuk memakai jilbab. Diawal memakai jilbab ia sempat diusir oleh kakaknya, yang tidak setuju dengan keputusan beliau untuk berhijab. Kiprah beliau di dakwah kampus terus berkibar, hingga beliau mendapat amanah menjadi kabid Nissa’ LDK Fakultasnya. Di semester 6 beliau memutuskan untuk menerima lamaran seorang kakak seniornya di fakultas kedokteran dan salah satu senior dalam LDK tersebut “dr. Aris (Aris Surawan Giriyanto)”. Saat beliau memutuskan menikah, dr. Marijati telah ditinggal wafat ayahanda tercintanya. Ada beberapa kisah lucu dan mengharukan sebelum akhirnya beliau menikah. Salah satunya adalah alasan pernikahan tersebut, tak lain dan tak bukan karena bermula dari misi dakwah. Melalui sebuah pernikahan yang berawal dari menentukan pasanganlah sebenarnya kita telah memulai mendesign seperti apa keluarga kita kelak, dari keluarga itulah akan lahir-lahir penerus-penerus estafet dakwah islam.
Setelah menikah dr. Marijati dan dr. Aris telah memutuskan untuk hidup mandiri. Tidak menggantungkan biaya hidup dan biaya kuliah beliau kepada keluarga. Banyak rintangan yang beliau hadapi di awal-awal pernikahan, bahkan ketika disemester akhir perkuliahan dan saat menempuh koas beliau harus berjuang membesarkan 2 orang putri (Zakiyah Arrohmah & Nadia Firdausi). Banyak kisah mengharukan yang terjadi, termasuk setelah kelahiran putri keduanya dr. Marijati divonis menderita kanker rahim dan hanya dapat bertahan hidup paling lama 1 tahun. Sedih kecewa dan terpukul ketika mengetahui kenyataan tersebut. Banyak hal yang ia fikirkan, bagaimana dengan keluarganya?, bagaimana dengan kedua anaknya? Dan bagaimana dengan amanah dari ayahandanya tentang ia yang harus lulus menjadi seorang dokter. Tapi beliau sadar semua yang terjadi dalam kehidupannya telah ditakdirkan oleh ALLAH SWT. Tugasnya hanyalah berikhtiar berusaha semaksimal mungkin untuk sembuh dan berusaha bagaimana menyiapkan kedua buah hatinya agar mandiri dan terus berusaha agar benar-benar bisa mewujudkan amanah ayahannya agar ia dapat lulus dengan gelar dokter sebelum kemungkinan terburuk terjadi. Selama setahun itu dr. Marjati menjalani terapi pengobatan kanker dan Allah benar-benar maha besar, dr. Marijati diberikan kesembuhan selain itu Allah juga memberikan kemudahan disetiap langkah beliau dalam mendapatkan gelar S.Ked.

Semangat dakwah beliau tidak terhenti hanya di lingkungan kampus UNS, beliau mendapat amanah untuk mengembangkan dakwah di Karanganyar, Sragen, Solo, Klaten seusai beliau lulus kuliah. Dengan berbekal sepeda motor, beliau terus berkeliling kampus dari satu kampus ke kampus yang lain di daerah-daerah kota tersebut untuk menyebarkan dakwah. Menjadi pengisi kajian dan membina halaqah. Hingga pada akhir tahun 90 an dr. Marijati memulai mengibarkan dakwah di Sragen yang pada waktu itu belum ada satupun kader dakwah di kota tersebut. Berkeliling ke masing-masing kecamatan hingga masuk ke plosok-plosok desa untuk mengisi pengajian dan membina halaqah di beberapa sekolah. Beliau juga aktif dalam banyak organisasi. Mendirikan beberapa organisasi penggerak dakwah. Banyak prestasi yang pernah beliau miliki seperti : Peraih Ummi Award Majalah Ummi Jakarta taun 2006, Dokter peduli anak dan Ibu versi salah satu partai politik, Pembangun Jejaring , serta Inspiring Woman salah satu lembaga politik dan sosial di Jawa Tengah. Beliau juga aktif mengisi acara di radio MQFM/MHFM rubrik Pra Nikah, dan sebagai konsultan Keluarga di majalah HADILA. Selain itu beliau juga pernah menjadi Dosen di Akper Yappi Sragen dan Stikes Aisyiyah Surakarta serta menjadi Ketua Bidang Wanita salah satu lembaga politik dan sosial di Jawa Tengah. Dokter Marijati juga sering beberapa kali diminta mengisi kajian-kajian dan seminar keislaman di beberapa kota di jawa bahkan diluar jawa.
Semenjak tahun 2012 dr. Marijati mendirikan dan mengelola klinik kesehatan “RIFDA MEDICA” di daerah perbatasan Sragen-Ngawi. Semangat berdakwahnya masih membara hingga detik ini, walaupun kata beliau usia boleh semakin tua tapi semangat untuk berdakwah jangan pernah surut. Karena ketika kita memutuskan untuk menjadi pengikut dibarisan pertama rosulullah tidak ada pilihan lain selain jalan dakwah.
Saat ini beliau lebih fokus dakwah melalui dakwah profesi, dakwah sesuai dengan profesi beliau seorang dokter. Melalui konsultasi dan edukasi mengenai kesehatan pasien-pasiennya dr. Marijati menyisipkan nilai-nilai islam. “Karena berdakwah itu perlu spesifikasi agar hasilnya maksimal” Kata beliau. Selain itu, ditengah-tengah kesibukannya yang luar biasa, beliau tetap menjalankan kodratnya sebagai seorang istri dan seorang ibu yang baik. Beliau selalu mengupayakan keseimbangan antara karir dakwah beliau dan keluarga. “ Meskipun dirumah ada pembantu, tetapi 1 hal yang saya pegang teguh bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab saya bukan tanggung jawab pembantu saya. Pembantu dirumah tugasnya untuk mengurus rumah” tutur dr. Marijati.
Setiap pagi beliau menjadwalkan untuk mengantarkan anaknya pergi kesekolah dan sembari diperjalanan beliau memanfaatkn waktu itu untuk membangun kedekatan dengan anak. Bagi beliau karakter anak terbentuk dari apa yang dicontohkan orang tua, anak bisa jadi salah dalam mencontoh ucapan tetapi tidak untuk tindakan. Beliau sering mengajak anak-anaknya ketika beliau mengisi kajian-kajian di beberapa tempat sehingga secara tidak langsung beliau menanamkan pendidikan pada anak bahwa mereka mempunyai tanggung jawab untuk meneruskan estafet dakwah islam.

Nama   : dr. Marijati

TTL     : Madiun, 9 Maret 1971

Riwayat Pendidikan :

  • Tk Aisyah Bustanul Atfal Madiun lulus 1978
  • SDN Mojorejo 3 Madiun lulus 1984
  • SMPN 4 Madiun lulus 1987
  • SMAN 2 Madiun lulus 1990
  • Kedokteran umum UNS Surakarta lulus 1998

Riwayat Prestasi :

  • Peraih Umi Award Majalah Ummi Jakarta th 2006, Dokter peduli anak dan Ibu 

Riwayat Pekerjaan :

  • Konsultan Keluarga Majalah HADILA
  • Pengisi Radio MQFM/MHFM rubrik Pra Nikah
  • Dosen di Akper Yappi Sragen dan Stikes Aisyiyah Surakarta

Pekerjaan Sekarang :

  • Ibu Rumah Tangga
  • Dokter Umum
  • Direktur Klinik Rifda Medica Gondang, Sragen

Categories