GSJN #7: Nasionalisme dalam Perspektif Islam Seorang Tjokroaminoto

Pada bulan April, Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia kembali menggencarkan Gerakan Shalat Shubuh Berjamaah (GSJN) di berbagai lokasi di Indonesia. Gerakan yang dilaksanakan setiap bulan ini merupakan upaya untuk mengajak umat Muslim bersatu dalam barisan shalat Shubuh berjamaah, yang merupakan tolok ukur kejayaan agama Islam.

GSJN yang sudah memasuki kali ketujuh ini dilaksanakan pada tanggal 22-23 April 2016. Terhitung ada 34 masjid kampus di seluruh Indonesia yang mengadakan shalat Shubuh berjamaah.

Dalam GSJN #7 ini, FSLDK Indonesia mengambil tema “Nasionalisme dalam Perspektif Islam Seorang Tjokroaminoto.” Tema ini dipilih sebagai tanggapan atas kembali terhembusnya isu-isu yang mengobok-obok umat Islam. Melalui kisah perjuangan Hadji Oemar Said (H.O.S.) Tjokroaminoto, seorang tokoh pergerakan Islam yang memimpin organisasi Syarikat Islam (SI), FSLDK Indonesia mencoba meluruskan stigma yang menyandingkan Islam dengan radikalisme.

H.O.S. Tjokroaminoto adalah seorang pejuang yang memiliki garis darah ulama dari Ponorogo, Jawa Timur, yang bernama Kyai Haji Hasan Besari. Menyadari bahwa umat Islam tertindas oleh kenyamanan semu yang dihembuskan oleh para penjajah, Tjokroaminoto mencoba membangkitkan keinginan umat Islam untuk kembali menjadi umat yang merdeka. Berdasar kepada Al Qur’an dan Sunnah, Tjokroaminoto mencontoh kepemimpinan Rasulullah saw. yang membangkitkan kekuatan bangsa Arab ketika terjajah oleh Romawi dan Persia. Melalui paradigma lima-K, umat Islam kembali disadarkan agar bangkit menjadi bangsa yang merdeka. Kelima paradigma itu adalah: kemauan, kekuatan, kemenangan, kekuasaan, dan kemerdekaan. SI pimpinan Tjokroaminoto pun kemudian menyelenggarakan kongres pertama di Surabaya, yang menjadi cikal bakal Kongres Nasional Central Syarikat Islam di Bandung. Pada kongres inilah istilah nasional disosialisasikan.

Tjokroaminoto adalah penentang ideologi komunis yang pertama kali dikampanyekan oleh perserikatan komunis India. Beliau pula pencipta kopiah nasional sebagai pengganti blangkon, yang selanjutnya diikuti oleh menantunya, Ir. Soekarno. Dalam lambang yang pertama kali digunakan oleh SI, terlihat jelas nilai-nilai Islam yang menjadi dasar perjuangan SI dalam upaya mencapai kemerdekaan bangsa dan negara.

Dari kisah tersebut, telah menjadi fakta sejarah bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia didasarkan pada persatuan umat Islam. Radikalisme yang disandingkan dengan Islam pun menjadi tidak relevan dengan sikap nasionalis umat Islam yang tercermin dalam diri H.O.S. Tjokroaminoto.

Melalui GSJN kali ini, masyarakat Indonesia diharapkan dapat memperoleh pemahaman mendasar mengenai perjuangan ulama Muslim di masa lalu dalam meraih kemerdakaan nasional sehingga tidak mudah diombang-ambingkan oleh isu-isu yang beredar di media. Diharapkan pula masyarakat Indonesia kembali memahami pentingnya persatuan dan kesatuan dalam sebuah jamaah umat untuk mencapai kejayaan agama Islam.

Categories