Fatmawati, Ibu Negara Indonesia Pertama

Fatmawati, Ibu Negara Indonesia Pertama

#HeroineWeek #9

Fatmawati Soekarno

Fatmawati, ibu negara Indonesia pertama, yang lahir di sebuah rumah bergandeng, di Kampung pasar Malabro Bengkulu, anak dari pasangan Hassan din seorang tokoh Muhammadiyah di Bengkulu pada masanya dan Siti Chadijah yang merupakan keturunan putri kerajaan Indrapura, pesisir selatan, Sumatera Barat. Yang kerap dipangil sang bunga teratai dari sebuah kota kecil Bengkulu, Sumatera.

Fatmawati yang memiliki nama asli Fatimah adalah seorang sosok wanita yang sangat luar biasa, nama yang sama seperti Rasulullah berikan kepada anaknya yaitu Fatimah. Pengaruh sosialisasi melalui ajaran dan pengalaman dalam kehidupan keluarga dan lingkungan sosialnya telah mampu membentuk karakter dan budi pekertinya, sehingga ia tak hanya menjadi anak yang patuh kepada ke dua orangtuanya atau pun hanya menjadi seorang pemegang teguh tradisinya tetapi juga menjadi seseorang yang peka terhadap kehidupan dan keadaan di sekitarnya.

Pada 1 juni 1943 ia menikah dengan Soekarno. Pernikahan ini dikaruniai 5 orang anak yaitu, Guntur Soekarno Putra, Megawati Soekarno Putri, Rachmawati Soekarno Putri, Sukmawati Soekarno Putri, dan Guruh Soekarno Putra.

Akhlaq beliau ketika masa ia menjadi ibu negara jiwa kemanusiaanya kerap kali diuji, tak jarang ia memberikan pasokan makanan kepada para pejuang secara sembunyi-sembunyi pada malam harinya, ketika sidang BPUPKI ia pun ikut ambil andil. Ia menyediakan makan dan minum, selayaknya tuan rumah yang baik, tak jarang pula ia bersuara ketika ada hal-hal yang dirasaperlu dikoreksi dan kurang tepat, ia berusaha meluruskan dan memberikan ide-ide cemerlang yang ia miliki dan masih banyak lagi karya lainnya.

Ia wafat pada usia 57 tahun pada 14 Mei 1980, di Kuala Lumpur, Malaysia dan dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta. Feminisme dalam emansipasi wanita, harusnya bukan ajang untuk menutut hak seorang wanita agar benar-benar setara dengan kaum lelaki sehingga terkadang menuntut sesuatu yang tak masuk akal, inggin benar-benar berada di atas para kaum lelaki, sehingga melupakan fitrahnya sebagai wanita, dan tak lagi perduli dengan kewajiban-kewajiban serta batasan-batasan yang tertuju pada wanita. Dapat menyeimbangkan antara fitrah sebagai wanita, kewajiban sebagai seorang hamba, seorang anak, istri, ibu dan kedudukan atau setatus sosial di tengah masyarakat, itulah harusnya wujud dari feminisme dalam emansipasi wanita yang sesungguhnya. Fatmawati telah menunjukkan hal itu.

Categories