Duit Setan Dimakan Jin

Duit Setan Dimakan Jin

 

uang setan dimakan jin

Sumber Gambar: http://rahmiaziza.blogdetik.com/2013/10/22/dukung-pln-bersih-turut-kampanye-no-gratifikasi/

Beberapa waktu yang lalu kita sempat dihebohkan dengan berita besar –yang sebenarnya nggak penting- tentang pelacur papan atas bertarif ratusan juta. Konon kabarnya, sekali “ritual” saja, sang pelanggan harus merogoh kocek sampai ratusan juta. Sebagian orang berdecak keheranan, ‘hebat bener PSK-nya’. Tapi bagi saya, ‘hebat bener pelanggannya’. Hehe.

Lha, coba bayangkan. Cuma untuk urusan yang sebenarnya bisa dia lakukan dengan istri di rumah, dia rela menggelontorkan uang segitu banyaknya. Kan hebat tuh. Kalau nggak kaya banget, ya berarti kan edan banget. Hehe. Maka pertanyaan yang muncul di benak saya saat itu adalah, siapa pelanggannya?

Nah ini yang menarik. Berita yang selama ini beredar menyebutkan, para pelanggan setia itu bervariasi, mulai dari bos-bos kaya berhidung belang sampai om-om pejabat bermoral bejat. Sampai disini, pertanyaan saya yang tadi terjawab tuntas. Semua menjadi terang bahwa siapapun –asal punya duit banyak- memiliki kesempatan yang sama untuk menjerumuskan diri ke dunia gelap itu.

Namun ada pertanyaan lain yang masih juga abu-abu. Orang-orang itu, duit mereka dapet darimana? Pertanyaan ini sama dengan: duit yang mereka pakai buat beli PSK itu, itu duit halal apa haram?”

Saya belum menemukan jawaban ini. Sampai kemarin waktu berada di Jawa Timur, ada seseorang yang menceritakan tentang ini. Beliau bukan pelaku, tapi punya teman yang menjadi teman pelaku. Jadi, cerita yang saya dapat ini sudah dari mulut yang ke-sekian. Tapi Insyaallah masih valid kok. Hehe.

Kata beliau “Wis to, yang kayak gitu itu emang udah jadi lingkaran setan. Duit yang mereka pakai buat beli PSK itu juga bukan duit bener kok. Kata temen saya itu, rekan-rekan dia yang hobi maenan cewek-cewek mewah (berharga mahal, red.) itu semua pakai duit haram. Hasil proyekan sana-sini yang nggak jelas itu, duit-duit korupsi itu, ya itu yang mereka pake buat beli cewek. Jadi, sumber duitnya nggak jelas darimana, diterima sama orang yang nggak jelas akhlaknya, trus diberikan sama cewek yang nggak jelas hidupnya. Lengkap dah. Duit setan, dimakan jin. Sama-sama nggak bener.”

Nah! Ketemu sudah jawabannya. Ternyata, sejak dari awal sumbernya udah nggak bener, makanya larinya juga ke barang yang nggak bener.

Lho, jin kan ada yang bener juga? Bukan itu titik tekannya, kakak. Heuheu. Intinya begini, kalau sumbernya halal, insyaallah mengalirnya juga ke tempat yang halal. Dan, kalau sejak awal udah haram, larinya juga nggak akan jauh-jauh dari sesuatu yang haram. Sepakat?

Kata Sayyidina Utsman, sesuatu yang haram itu tidak akan menarik kecuali yang haram pula.

Sekarang coba cek diri kita. Seberapa sering kita melakukan hal-hal yang diharamkan Allah? Ah, rasanya sering sekali. Maka sudah saatnya nih kita memastikan, uang yang selama ini kita gunakan, sumbernya darimana? Kalau masih “nodong” ke orang tua, maka tanyakan, mereka dapet duit darimana?

Karena yang haram tidak akan menarik sesautu kecuali yang haram.

Organ-organ tubuh kita ini misalnya. Kalau sering sekali dipakai untuk sesuatu yang nggak bener: tangan buat nyuri, mulut buat ngehina orang, mata buat nonton film porno, jangan-jangan sumber glukosa yang dipakai sel-sel tubuh kita untuk melangsungkan aktivitasnya itu berasal dari sumber yang haram.  

Kan aktivitas sel itu memerlukan energi. Nah energinya dapet dari glukosa. Glukosa nya dapet dari makanan. Lha makanannya beli pake duit halal apa haram? Terus juga, status kehalalan makanan yang masuk ke tubuh kita itu gimana? Kalau haram, maka praktis, sampai ke bagian terkecil dari organ fungsional tubuh kita ini tersusun atas barang haram. Ini benar-benar bahaya. Selama di tubuh kita masih ada barang nggak bener, pasti kita juga akan lebih mudah tergerakkan untuk maen ke tempat yang nggak bener.

“Barangsiapa membeli sehelai baju dengan harga sepuluh dirham sedang di dalamnya ada satu dirham yang haram, maka Allah tidak menerima sholatnya selama yang haram itu masih ada padanya” (H.R. Ahmad)

Maka yok. Ramadhan ini adalah momentum paling tepat untuk melakukan transformasi besar-besaran. Kalau saat ini masih kerja di jaringan rentenir, keluar sekarang juga! Kalau masih sering korupsi, tobat segera! Kasihan anak-anakmu yang tidak berdosa itu, pak! Kalau dikasih uang saku dari duit haram, jangan diterima! (tentu tata kramanya tetep dijaga ya). Wis to, belum pernah ditemukan berita dengan headline begini: seorang mahasiswa mati kelaparan di kamar kos karena menolak pemberian uang saku dari orangtuanya. Hehe. Kalaupun ada, Insyaallah khusnul khotimah tuh. Tapi masak iya sih, kita ngikutin apa yang Allah mau, terus Allah ninggalin kita sendirian? Nggak mungkin lah ya. Nggak perlu repot-repot pakai cara curang. Cara-cara yang diberikan Allah itu pasti lebih menguntungkan!

Kakak tingkat saya, begitu dia tahu kalau ayahnya main judi, segera saja dia bilang ke ibunya (karena belum berani bilang langsung ke ayahnya) “Buk, ngapunten. Mulai hari ini, saya ndak usah dikirimi uang dari rumah lagi. Insyaallah saya bisa cari sendiri”. Tahu begitu, lama-lama ayahnya mulai menyadari, ‘kok anak gua nggak mau gua kasih duit yak’. Akhirnya ngobrol lah mereka. Dan apa yang terjadi setelah obrolan itu? Ayahnya berhenti main judi! Kan.. Malah jadi keren kan..   

Yok yok.. Kita cek bareng-bareng. Kalau selama ini ternyata hidup kita masih belum bener, segera kita benerin. Kalau udah bener, ingetin yang belum bener biar cepet berubah. “Barangsiapa memakan makanan yang haram, tidak akan diterima amalnya sedikitpun, baik yang sunnah maupun yang wajib” (H.R. Ad-Dailamy)

Penulis: @densyukri

Categories