kaltim kaltara

Muslimah mengenali Potensi

By | Indonesia, Inspirasi, Prestasi, Puskomda | No Comments

“Muslimah adalah makhluk yang Allah ciptakan untuk beriman dan beramal sholeh, Beriman sempurnakan ibadah kepada Allah dan beramal sholeh sempurnakan kebaikan kepada manusia”
Seorang muslimah yang baik tidak hanya mampu membuat dirinya baik namun juga mampu membuat lingkungannya menjadi lebih baik dan bermanfaat, Ibu Dewi Husnul Khatimah adalah salah satu figur Muslimah inspiratif bagi muslimah lain untuk mampu mengembangkan potensi yang di miliki, beliau lahir di Balikpapan 17 November 1978 memiliki 3 orang anak yang semuanya laki – laki yaitu Hilmi Amanullah, Hanif Ihabullah, dan Harits Fadhullah Hisyam, suami ibu dewi yaitu bapak Adika Bayu Pratiyaksa yang bekerja sebagai arsitek. ibu Dewi bekerja di sekolah alam Balikpapan sebagai Litbank Sekolah yaitu bagian Penelitian dan Pengembangan sekolah, yang sebelumnya pada tahun 2008 – 2011 beliau menjabat sebagai kepala sekolah Sekolah Alam Balikpapan, pada 2011 – 2016 menjabat sebagai Direktur Sekolah Alam Balikpapan.

kaltim kaltara
Ketiga anak ibu dewi bersekolah di Sekolah Alam Balikpapan, mereka masing-masing memiliki potensi diri yang beda – beda. Ibu Dewi mengatakan bahwa sebuah prestasi bukan hanya dilihat dari sebuah penghargaan dan piagam – piagam namun bagaimana anak – anaknya mampu menjadi orang – orang yang bermanfaat bago orang lain. Contoh saja Hilmi yang sekarang berada di kelas 9, dia telah mampu menemukan potensi dirinya di bidang design grafis dan memiliki potensi memimpin yang baik sehingga menjadi asisten guru untuk kegiatan Ekspedisi, Survival dll. Contoh lain adalah Hanif yang sangat suka membaca membuatnya bersikap sangat kritis terhadap hal – hal di sekitarnya namun mampu menjadi mediator antara guru dengan teman – teman kelasnya, Hanif si adik bungsu merupakan sosok anak yang ramah, naturalis, dan teliti terhadap lingkungannya.
Aktivitas sekolah tidak menghalangi ibu dewi dalam berkegiatan di luar sekolah, beliau ikut aktif dalam RKI (Rumah Keluarga Indonesia) sebagai Konselor untuk pernikahan, keluarga, ibu dan anak, sehingga membuat beliau sering pergi keluar kota untuk memberikan seminar – seminar mengenai keluarga dan pernikahan ke daerah seperti Samarinda, Tarakan, Tanah Tidung, Bontang, Penajam, Nunukan, sepaku, dan Manado. Ibu Dewi ikut dalam struktur salah satu partai politik sebagai ketua BPKK dulu bernama bidang perempuan, dan terkadang masih sempat mengisi kajian – kajian yang ada di wilahyah Balikpapan seperti PKPU, Rumah Zakat, ataupun kepada TK yang ada di Balikpapan.
Dengan berbagai kegiatan yang dijalani oleh ibu Dewi beliau mampu membagi waktu dengan sangat baik untuk kerja dan keluarganya. “Yang penting memahamkan anak – anak apapun aktivitas yang dilakukan, serta adanya dukungan dan kerjasama dengan suami karena kita adalah satu tim untuk membangun keluarga, dakwah, dan ummat” ungkap bu Dewi. Dukungun keluarga yang besar dan kerjasama dalam pembagian tugas keluarga membuat segala aktifitas ibu Dewi dapat dilakukan dengan baik. Dalam mengatur seluruh kegiatannya, beliau selalu membuat Skedul untuk 2 bulan kedepannya sehingga maksimal dalam pembagian waktunya, untuk kegiatan sebagai konselor beliau bisa lakukakan disela-sela waktu kerjanya di Sekolah Alam Balikpapan atau setelah pulang kantor bisa melakukan konsultasi dirumah dan menemui klien karena ibu Dewi bekerja dari jam 8.00 – 16.00 sehingga masih memungkinkan adanya kegiatan setelah jam kerja.
“Seorang muslimah memiliki potensi di dalam dirinya yang mungkin belum ditemukan, muslimah yang telah mengetahui potensinya akan sangat membantu di dalam perkembangan peradaban islam karena telah mengetahui apa fungsinya sebagai sorang muslimah. Muslimah Indonesia semakin banyak kajian seharusnya menjadikan kita semakin kuat bukan semnakin terpecah – pecah, banyak muslimah yg beribadah baik namun di sisi lain ada beberapa muslimah yang mudah menjudge orang, menyalahkan orang, padahal banyak muslimah lain yang bisa dibantu untuk pengokohan keimanan dan amal sholihnya”. Tutur ibu Dewi

 

Komisi C FSLDK Kaltim-Kaltara

solo

Inspirasi Hijrah dr. Marijati, Menata Langkah Mengejar Prestasi

By | Uncategorized | No Comments

Berbekal semangat dari sepotong pesan ayahandanya, “Seseorang itu dihargai oleh orang lain karena 4 hal, yaitu karena harta, tahta, keturunan dan ilmu. Dokter Marijati seorang muslimah inspiratif penggerak dakwah bukan hanya berhenti di kampus namun hingga beberapa kota di Jawa Tengah terus mengibarkan semangat dakwahnya hingga detik ini. Karena beliau sadar beliau dibesarkan di sebuah keluarga sederhana yang serba kekurangan, maka hanya dengan ilmulah ia dapat dihargai di masyarakat. Ayahandanya “Bapak So’im” seorang pegawai percetakan buku selalu mengingatkan ia tentang pentingnya idealisme walapun mereka bukan sebuah keluarga berada. Sedangkan ibunya “Ibu Katiyem” seorang ibu rumah tangga. dr. Marijati merupakan anak perempuan satu-satunya di keluarga tersebut, anak ketiga dari tiga bersaudara. Semenjak kecil dr. Marjati dibesarkan dengan nilai-nilai Islam, orang tuanya selalu menyuruh beliau datang belajar mengaji dan tak pernah lupa menunaikan shalat 5 waktu. Walaupun latar belakang keluarga beliau adalah sebuah keluarga Islam KTP, keluarga yang mengakui Islam sebagai agamanya, namun tak pernah mejalankan syariat islam dalam kehidupan sehari-hari.

solo

“Jadi, saya dulu itu ya belajar ngaji, shalat 5 waktu, kalau Ramadhan juga berpuasa, walaupun semua anggota keluarga tidak ada yang menunaikan ibadah-ibadah tersebut. Kuncinya selalu menikmati setiap prosesnya, jadi gag pernah protes”, tutur dr. Marijati dengan senyum manis beliau. Beliau sadar setiap apapun yang diperintahkan dan dilarang oleh orang tuanya adalah hal baik, sebagai wujud cita-cita dan harapan orang tua agar kelak anak-anaknya tak seperti orang tuanya.

Semenjak sekolah dasar, beliau sudah menunjukkan prestasi-prestasi di bidang akademik maupun non akademik. Menjadi guru ngaji semenjak kelas 5 SD, aktif dalam pramuka sejak kelas 6 SD. Walaupun bersekolah di sekolah elit dan favorit tak pernah menjadikan dr. Marjati rendah diri dengan kondisi keluarganya ia tetap aktif berprestasi. Puncaknya adalah ketika beliau SMA, beliau mewakili SMA 2 madiun untuk lomba cerdas cermat, lomba pramuka se karesidenan Madiun dan masuk dalam anggota PASKIBRAKA kota Madiun, namun seminggu sebelum hari H lomba-lomba tersebut dr. Marijati mengalami kecelakaan hingga harus istirahat total karena fraktur tulang. Semenjak itu beliau mulai mengurangi berbagai aktivitas berat dibidang olahraga. Setelah lulus sekolah menengah atas, dr. Marjati memutuskan untuk masuk akademi keperawatan, sempat beberapa hari mengikuti OSPEK sebelum keluar pengumuman bahwa beliau diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.

Di awal-awal kuliah, beliau masih ingat bagaimana proses hijrah yang beliau lalui. Dari seorang remaja yang hobi memakai celana jeans dan kaos oblong hingga bermetamorfosis menjadi seorang akhwat anggun berjilbab, proses tersebut tak lepas dari peran Lembaga Dakwah Kampus di fakultas kedokteran. Memutuskan mengikuti FORSIL “Forum Silaturahmi” yaitu sebuah kegiatan yang dikhususkan untuk mahasiswa baru yang ingin bergabung dengan LDK, keputusan beliau untk mengikuti LDK dikarenakan hanya LDK lah kegiatan ekstra kurikuler dikampusnya yang tidak membutuhkan banyak aktifitas fisik, selain itu ia dan ketiga sahabat laki-lakinya menyusun strategi untuk mendekati senior untuk mencari tahu bagaimana belajar di kedokteran lewat forum tersebut. Beberapa bulan setelah bergabung di LDK, dr. Marijati semakin faham mengenai ajaran-ajaran islam termasuk menjaga interaksi ikhwan akhwat, dan memutuskan untuk memakai jilbab. Diawal memakai jilbab ia sempat diusir oleh kakaknya, yang tidak setuju dengan keputusan beliau untuk berhijab. Kiprah beliau di dakwah kampus terus berkibar, hingga beliau mendapat amanah menjadi kabid Nissa’ LDK Fakultasnya. Di semester 6 beliau memutuskan untuk menerima lamaran seorang kakak seniornya di fakultas kedokteran dan salah satu senior dalam LDK tersebut “dr. Aris (Aris Surawan Giriyanto)”. Saat beliau memutuskan menikah, dr. Marijati telah ditinggal wafat ayahanda tercintanya. Ada beberapa kisah lucu dan mengharukan sebelum akhirnya beliau menikah. Salah satunya adalah alasan pernikahan tersebut, tak lain dan tak bukan karena bermula dari misi dakwah. Melalui sebuah pernikahan yang berawal dari menentukan pasanganlah sebenarnya kita telah memulai mendesign seperti apa keluarga kita kelak, dari keluarga itulah akan lahir-lahir penerus-penerus estafet dakwah islam.
Setelah menikah dr. Marijati dan dr. Aris telah memutuskan untuk hidup mandiri. Tidak menggantungkan biaya hidup dan biaya kuliah beliau kepada keluarga. Banyak rintangan yang beliau hadapi di awal-awal pernikahan, bahkan ketika disemester akhir perkuliahan dan saat menempuh koas beliau harus berjuang membesarkan 2 orang putri (Zakiyah Arrohmah & Nadia Firdausi). Banyak kisah mengharukan yang terjadi, termasuk setelah kelahiran putri keduanya dr. Marijati divonis menderita kanker rahim dan hanya dapat bertahan hidup paling lama 1 tahun. Sedih kecewa dan terpukul ketika mengetahui kenyataan tersebut. Banyak hal yang ia fikirkan, bagaimana dengan keluarganya?, bagaimana dengan kedua anaknya? Dan bagaimana dengan amanah dari ayahandanya tentang ia yang harus lulus menjadi seorang dokter. Tapi beliau sadar semua yang terjadi dalam kehidupannya telah ditakdirkan oleh ALLAH SWT. Tugasnya hanyalah berikhtiar berusaha semaksimal mungkin untuk sembuh dan berusaha bagaimana menyiapkan kedua buah hatinya agar mandiri dan terus berusaha agar benar-benar bisa mewujudkan amanah ayahannya agar ia dapat lulus dengan gelar dokter sebelum kemungkinan terburuk terjadi. Selama setahun itu dr. Marjati menjalani terapi pengobatan kanker dan Allah benar-benar maha besar, dr. Marijati diberikan kesembuhan selain itu Allah juga memberikan kemudahan disetiap langkah beliau dalam mendapatkan gelar S.Ked.

Semangat dakwah beliau tidak terhenti hanya di lingkungan kampus UNS, beliau mendapat amanah untuk mengembangkan dakwah di Karanganyar, Sragen, Solo, Klaten seusai beliau lulus kuliah. Dengan berbekal sepeda motor, beliau terus berkeliling kampus dari satu kampus ke kampus yang lain di daerah-daerah kota tersebut untuk menyebarkan dakwah. Menjadi pengisi kajian dan membina halaqah. Hingga pada akhir tahun 90 an dr. Marijati memulai mengibarkan dakwah di Sragen yang pada waktu itu belum ada satupun kader dakwah di kota tersebut. Berkeliling ke masing-masing kecamatan hingga masuk ke plosok-plosok desa untuk mengisi pengajian dan membina halaqah di beberapa sekolah. Beliau juga aktif dalam banyak organisasi. Mendirikan beberapa organisasi penggerak dakwah. Banyak prestasi yang pernah beliau miliki seperti : Peraih Ummi Award Majalah Ummi Jakarta taun 2006, Dokter peduli anak dan Ibu versi salah satu partai politik, Pembangun Jejaring , serta Inspiring Woman salah satu lembaga politik dan sosial di Jawa Tengah. Beliau juga aktif mengisi acara di radio MQFM/MHFM rubrik Pra Nikah, dan sebagai konsultan Keluarga di majalah HADILA. Selain itu beliau juga pernah menjadi Dosen di Akper Yappi Sragen dan Stikes Aisyiyah Surakarta serta menjadi Ketua Bidang Wanita salah satu lembaga politik dan sosial di Jawa Tengah. Dokter Marijati juga sering beberapa kali diminta mengisi kajian-kajian dan seminar keislaman di beberapa kota di jawa bahkan diluar jawa.
Semenjak tahun 2012 dr. Marijati mendirikan dan mengelola klinik kesehatan “RIFDA MEDICA” di daerah perbatasan Sragen-Ngawi. Semangat berdakwahnya masih membara hingga detik ini, walaupun kata beliau usia boleh semakin tua tapi semangat untuk berdakwah jangan pernah surut. Karena ketika kita memutuskan untuk menjadi pengikut dibarisan pertama rosulullah tidak ada pilihan lain selain jalan dakwah.
Saat ini beliau lebih fokus dakwah melalui dakwah profesi, dakwah sesuai dengan profesi beliau seorang dokter. Melalui konsultasi dan edukasi mengenai kesehatan pasien-pasiennya dr. Marijati menyisipkan nilai-nilai islam. “Karena berdakwah itu perlu spesifikasi agar hasilnya maksimal” Kata beliau. Selain itu, ditengah-tengah kesibukannya yang luar biasa, beliau tetap menjalankan kodratnya sebagai seorang istri dan seorang ibu yang baik. Beliau selalu mengupayakan keseimbangan antara karir dakwah beliau dan keluarga. “ Meskipun dirumah ada pembantu, tetapi 1 hal yang saya pegang teguh bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab saya bukan tanggung jawab pembantu saya. Pembantu dirumah tugasnya untuk mengurus rumah” tutur dr. Marijati.
Setiap pagi beliau menjadwalkan untuk mengantarkan anaknya pergi kesekolah dan sembari diperjalanan beliau memanfaatkn waktu itu untuk membangun kedekatan dengan anak. Bagi beliau karakter anak terbentuk dari apa yang dicontohkan orang tua, anak bisa jadi salah dalam mencontoh ucapan tetapi tidak untuk tindakan. Beliau sering mengajak anak-anaknya ketika beliau mengisi kajian-kajian di beberapa tempat sehingga secara tidak langsung beliau menanamkan pendidikan pada anak bahwa mereka mempunyai tanggung jawab untuk meneruskan estafet dakwah islam.

Nama   : dr. Marijati

TTL     : Madiun, 9 Maret 1971

Riwayat Pendidikan :

  • Tk Aisyah Bustanul Atfal Madiun lulus 1978
  • SDN Mojorejo 3 Madiun lulus 1984
  • SMPN 4 Madiun lulus 1987
  • SMAN 2 Madiun lulus 1990
  • Kedokteran umum UNS Surakarta lulus 1998

Riwayat Prestasi :

  • Peraih Umi Award Majalah Ummi Jakarta th 2006, Dokter peduli anak dan Ibu 

Riwayat Pekerjaan :

  • Konsultan Keluarga Majalah HADILA
  • Pengisi Radio MQFM/MHFM rubrik Pra Nikah
  • Dosen di Akper Yappi Sragen dan Stikes Aisyiyah Surakarta

Pekerjaan Sekarang :

  • Ibu Rumah Tangga
  • Dokter Umum
  • Direktur Klinik Rifda Medica Gondang, Sragen
WhatsApp Image 2017-04-06 at 06.28.53

PRESS RELEASE AKSI KEMANUSIAAN SUARA UNTUK SURIAH FSLDK INDONESIA

By | Indonesia, Puskomda, Puskomnas, Puskomnas, Rilis | No Comments

WhatsApp Image 2017-04-06 at 06.28.53

Kabar duka dari Suriah kembali menjadi nada sumbang omong kosong penegakan perdamaian dunia. Pada Selasa (3/4) kemarin, puluhan masyarakat sipil kembali menjadi korban serangan brutal pesawat yang diduga milik tentara suriah , melalui serangan udara menggunakan senjata kimia gas beracun di kota Idlib, Suriah. Penyerangan yang terjadi dini hari tersebut, telah menyebabkan 58 orang syahid, termasuk wanita dan 11 diantaranya anak-anak. Serangan gas beracun tersebut mengakibatkan puluhan korban menggeliat di tanah, tidak bisa bergerak dengan mata terbelalak, sesak napas akibat tersedak gas beracun yang mereka hirup.

Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia pada Kamis (6/4), melakukan aksi kemanusiaan “Suara untuk Suriah” sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas masyarakat Indonesia terhadap tragedi penyerangan masyarakat sipil yang terjadi di Suriah. Aksi kemanusiaan ini dilaksanakan serentak di 22 daerah di Indonesia, antara lain Lampung, Kalimantan Barat, Kepulauan Riau, Solo, Banten, Jambi, Aceh, Depok, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Bandung, Nusa Tenggara, Sumatera Selatan, Ternate, Malang, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Priyangan Timur, Kalimantan Barat, Surabaya, Bali, Sumatera Barat dan Bangka Belitung, dan masih akan disusul di beberapa daerah lainnya dalam beberapa hari kedepan.

Aksi kemanusiaan yang bertajuk “Suara untuk Suriah” ini berhasil melibatkan lebih dari 500 massa aksi dari berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa umum di masing-masing daerah. Serangkaian aksi berjalan lancar, diawali dengan orasi kemanusiaan oleh perwakilan Lembaga Dakwah Kampus (LDK), Puskomda dan Puskomnas, dilanjutkan dengan Freeze Mob oleh seluruh massa aksi, yang diikuti dengan pembacaan puisi kemanusiaan “Untukmu Suriah” , galang dana dan ditutup dengan doa bersama.

Hari ini kita berdiri menjawab panggilan sebagai bentuk pengabdian pada Allah.Tak peduli sengatan matahari dan guyuran hujan kita tegaskan bahwa anak kandung Indonesia berdiri bersama mujahidin Suriah menentang penjajahan asing dan rezim bashar alassad” Tegas Hanafi Ridwan Dwiatmojo, ketua Pusat Komunikasi Nasional FSLDK Indonesia.

#FSLDKIndonesia
#SuaraUntukSuriah
#SaveSuriah
========================
? Media FSLDK Indonesia ?

? Web: www.fsldkindonesia.org
? Fanspage: FSLDK Indonesia
? Instagram: @fsldkindonesia
? Twitter: @fsldkindonesia
? Line@: @yok1532s
? Youtube: FSLDK Indonesia
? Google+: FSLDK Indonesia
? Email: info@fsldkindonesia.org

malang

Sukses itu… Amah Nana Menjawab

By | Inspirasi, Kerjasama, Puskomnas | No Comments

Jadilah perempuan yang terbaik, berkeinginanlah dan niatkan dengan dakwah. Buatlah mindset perempuan adalah pencetak generasi bangsa yaitu peran sebagai ibu sendiri. Namun jangan lupakan peran kita sebagai anak untuk orang tua dan juga sebagai istri untuk suami.

malang
Ana Fikrotuz Zakiyah M.Pd lahir di Malang, 17 September 1970. Sapaan hangat beliau amah Nana. Amah Nana bersama suami Dr Jamal Lulail Yunus diiberikan amanah mendidik dan membentuk empat orang anak yang in syaa Allah akan menjadi generasi Rabbani penerus estafet dakwah. Keluarga kecil amah Nana yang harmonis dan bahagia memberikan banyak inspirasi bagi orang-orang disekitarnya.

Amah nana yang saat ini menjadi seorang pengajar di sebuah sekolah di kota Malang, bersama suami aktif di berbagai aktivitas pembinaan keluarga di Malang dan tentunya aktivitas menjadi ibu rumah tangga. Di tengah kesibukan yang mengiringi langkahnya, ia tidak pernah melupakan peran sebagai ibu rumah tangga dikeluarga kecilnya.
Berbicara tentang prestasi sosok seorang ibu, amah Nana menjadi salah satu contohnya. Anak pertama beliau Abdul Jabbar Jawwadurrohman menorehkan banyak prestasi dibidang akademik salah satunya menjadi Mahasiswa Berprestasi begitu pula dengan aktifitas diluar kampus. Jawwad sapaannya sering menjadi pemateri di agenda-agenda nasional. Bersama adeknya pula Silmy Kaffah Rohayna menerbitkan beberapa buku motivasi untuk anak muda.

Itulah sekilas cerita tentang buah hati amah Nana yang berprestasi, banyak cerita yang tak terungkap. Ada hal yang membuat itu bermakna. “Saya dan suami tidak memaksakan nilai dan apapun prestasi yang sudah ditorehkan, itu harus disyukuri. Jadi, bersyukurlah maka itu bisa menjadi proses yang in syaa Allah yang dikehendaki. Karena Allah tidak semata-mata menilai kepada hasil tetapi prosesnya pula. Di keluarga kami meyakini bahwa kesuksesan bukan berada pada penilaian sukses atau tidak. Maka sukses apabila sepeninggal kami masih tersisa manfaat-manfaat yang dulu pernah kami torehkan.” ucapnya dengan penuh senyum.

Di akhir cerita, amah Nana memberikan tips keluarga harmonis nih buat teman-teman. Memiliki persiapan sebelum menikah nantinya dengan memperbanyak doa dan selalu bersyukur dengan hal yang baik maupun buruk yang terjadi pada diri kita. Karena menikah itu ibadah, maka jangan menunggunya dengan keresahan. Lakukanlah proses memantaskan diri itu dengan segala persiapan. Ketika kelak menjalani pernikahan dan mengelola keluarga yaitu menjadi istri dan ibu maka kuncinya ada di komunikasi. Kurangi sikap perhitungan dan lapang dadalah. Selain itu tipsnya adalah diadakannya forum keluarga yang harus di agendakan secara khusus dimana setiap anggota keluarga hadir maka disitulah nanti akan berjalan komunikasi yang harmonis. Bukan hanya satu arah dari orangtua kepada anak, namun saling memberi feedback satu sama lain. Forum ini juga melatih kejujuran dan keterbukaan didalam keluarga. Inilah yang diterapkan amah nana bersama keluarga.

Komisi C Malang Raya

IMG-20170402-WA0042

Wujudkan Mimpi, Seimbangkan Hak dan Kewajiban

By | Indonesia, Inspirasi, Kerjasama, Prestasi, Puskomda | No Comments

Sebagian besar orang berfikir bahwa wanita tidak perlu berpendidikan tinggi karena toh kita akan kembali menjalani tugas sebagai ibu rumah tangga. Namun tidak dengan bu Efri, beliau berhasil menyelesaikan studi S3 nya dan kini menjabat sebagai ketua Program Studi S1 dan S2 Teknologi Industri Pertanian, Universitas Padjadjaran. Dr. Efri Mardawati, ST.,MT (39) yang akrab dipanggil Uni Efri ini berasal dari Agam, Sumatera Barat.

 

Pembawaan diri yang hangat dan bersahaja membuat semua orang betah untuk berlama-lama berbagi kisah dengannya. “Ya, saya kadang berfikir dibebankan oleh Allah sesuatu diluar batas kemampuan saya”, ujar beliau ketika mengawali kisah. Bagaimana tidak, disaat kelas 4 sekolah dasar, beliau dituntut untuk merawat kedua adiknya beserta seluruh pekerjaan rumah. Di masa kecilnya, beliau seringkali ditinggalkan kedua orang tuanya untuk berdagang dari satu daerah ke daerah lainnya.

Uni Efri di masa kecil tidak mengenal kata bermain layaknya anak biasa. Sepulang sekolah biasanya beliau langsung mengerjakan berbagai tugas rumah tangga dan belajar. Hebatnya, ditengah kesibukan mengurus rumah tangga, beliau tetap berprestasi . “Walaupun saya dari desa, amak selalu berpesan untuk sekolah setinggi-tingginya”, kata Bu Efri sambil mengenang masa lalu. Motivasi terbesar beliau memang dorongan dari kedua orang tuanya terutama sang ibu.

Setelah menyelesaikan studi di Sumatera Barat, beliau berhasil masuk ke salah satu perguruan tinggi Top di Indonesia yaitu Institut Pertanian Bogor. “Saya sempat mengalami culture shock saat sekolah di IPB”, tegas beliau. Perlu setidaknya 6 bulan bagi beliau untuk menyesuaikan diri. Lulus dari IPB selanjutnya beliau melanjutkan studi ke Institut Teknologi Bandung. Disana beliau menjalani studi dengan berlepas dari tunjangan finansial dari orang tua. Puncaknya adalah ketika usaha dari orang tua beliau bangkrut. Beliau ketar ketir mencari sumber penghasilan sampai akhirnya menjalani beberapa profesi yaitu guru les kecil-kecilan serta berjualan susu kedelai. Seringkali beliau menjajakan susu kedelai di pasar mingguan di sekitar pusdai atau gazibu.
“Pernah amak uni menangis karena melihat anaknya jualan susu kedelai padahal studi S2”, jelas beliau. Padahal pada saat itu, beliau masih memiliki tuntutan untuk membiayai saudara-saudaranya yang masih sekolah. Namun beliau tetap berusaha sampai akhirnya mendapatkan tunjangan untuk studi serta beberapa project yang dikerjakan bersama dosennya.

Belum usai ujian yang didapatkan, setelah lulus dari ITB kemudian dihadapkan pada realita pendidikan di perguruan tinggi swasta. Meskipun dengan gaji yang sangat kecil beliau bersyukur karena masih dipercayai Allah untuk tetap berbagi ilmu. Beberapa waktu berselang beliau bekerja di salah satu perusahaan kerudung ternama. Disana beliau menjadi kepala HRD dengan gaji yang memang bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Namun memang keinginan untuk menjadi pengajar masih besar. Bak gayung bersambut, pada waktu itu ada pembukaan bagi pendaftaran dosen di Fakultas Teknologi Industri Pertanian. Singkat cerita akhirnya beliau menjadi salah satu pengampu di FTIP Unpad. Pada awalnya memang cukup sulit untuk masuk kedalam lingkungan baru, terlebih beliau sama sekal tidak memiliki kolega di unpad dan bukan lulusan unpad. Keinginan belajar yang besar serta mencoba untuk beradaptasi membuat beliau mampu bertahan sampai sekarang. Terlepas dari jabatan yang kini dimiliki, mimpi besar beliau adalah menjadi seorang pengajar dan peneliti yang andal. “Disinilah ladang amal saya. Ilmu pengetahuan yang dikaji, mudah mudahan dapat dimanfaatkan bagi masyarakat sekitar”. 5 besar Finalis National Fellowship L’Oréal-UNESCO For Women in Science 2015 pada bidang lifescience ini aktif melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Baginya, amanah ini adalah ladang dakwah dan ikhtiar amal jariyah kedepannya.

Karir sebagai ibu rumah tangga, beliau selalu belajar dan berusaha membagi waktu bagi keluarga dan karirnya dikampus. Anak sulung beliau kini duduk dikelas 4 sekolah dasar dan mampu menghafal juz 30. Ibu dari 2 orang anak ini juga berpesan bahwa sudah menjadi sebuah keharusan bahwa wanita berpendidikan agar generasi yang dititipkan sang khaliq menjadi generasi terdidik. Tetap berbaik sangka atas ujian yang Allah berikan karena sesungguhnya dengan ujian itu Allah sedang mendidik kita agar siap menghadapi masa depan. Jalankan hak dan kewajiban sebagai seorang perempuan dan wujudkan mimpi tertinggi.
Komisi C FSLDK Bandung Raya

fsldk-logo

FSLDK Indonesia Mengecam Kriminalisasi Ulama dan Tindakan Inkonstitusional Aparat Negara

By | Indonesia, LDK, Puskomnas, Rilis | No Comments

fsldk-logo

Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus Indonesia (FSLDK Indonesia) menyatakan kekecewaannya terhadap Polda Metro Jaya yang pada Kamis kemarin (30/3/17) melakukan penangkapan terhadap Sekjend Forum Umat Islam (FUI) K.H Al-Khaththath, dan lima ulama lainnya dengan tuduhan makar. Penangkapan ini dilakukan pada malam hari, sebelum dilaksanakannya aksi 313.

K.H Al-Khaththath merupakan pimpinan aksi 313, yang dalam tuntuntannya hendak mendesak kembali pemerintah menuntaskan kasus penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang semakin kabur. Dugaan makar yang menjadi alasan kuat ditangkapnya ulama umat Islam, K.H Al-Khaththath, telah menunjukkan bahwa pemerintah semakin gentar dengan desakan umat Islam melalui aksi-aksi besar yang berkelanjutan menyerukan ketegasan sikap pemerintah terhadap penista agama.

Tertanggal 16 November 2016 Bareskrim Mabes Polri menetapkan Ahok sebagai tersangka dan pada sidang perdana yang digelar di Gedung Bekasi Pengadilan Jakarta Pusat menetapkan Ahok sebagai terdakwa dalam gelar perkara terbuka terbatas kasus penistaan agama. Namun hingga saat ini proses hukum berjalan lambat dan terkesan bertele-tele. Hal ini merupakan wujud penanganan hukum yang serampangan dan tidak segera, bahkan mengindikasikan aparat berlama-lama dan tidak tegas dalam menyelesaikan perkara tersebut, mengaburkan perkara dan melemahkan kekuatan hukum. Karena tak selayaknya seorang penista agama yang telah menodai kebhinnekaan dan keutuhan bangsa bebas melenggang dan bahkan bebas hukum.

Undang-undang No. 9 Tahun 1998 menyatakan tiap indvidu di Indonesia dapat mengemukakan aspirasinya sebagai perwujudan kebebabasan berpendapat. Hal tersebut adalah bukti shohih bahwa rakyat mengemukakan pendapat dijamin kebebasan dan keberadaannya secara konstitusi. Namun sikap represif aparat dan sikap inkonstitusional pemerintah yang dengan mudahnya menyematkan tuduhan makar pada rakyat, terlebih pada alim ulama dan para asatidz yang menjadi pewaris para nabi dan kepercayaan umat Islam, telah menodai demokrasi Indonesia dan mengganggu keutuhan berbangsa dan bernegara.

Maka kami, FSLDK Indonesia dengan ini menyatakan sikap:

1. Pemerintah dan para aparat penegak hukum harus menyelesaikan perkara ini dengan segera dan tidak bertele-tele

2. Pemerintah dan aparat penegak hukum harus menegakkan hukum dengan seadil-adilnya

3. Mengecam keras tindakan Polda Metro Jaya atas tindakan penangkapan dan sikap represif aparat yang semena-mena

4. Mengecam keras tindakan pemerintah dan aparat negara yang dengan mudahnya menyematkan tuduhan makar pada rakyat yang menyampaikan aspirasinya secara benar sesuai hukum

5. Menghimbau kepada seluruh rakyat Indonesia, khususnya umat Islam agar berdoa dengan sebaik-baik doa untuk kebaikan Negara dan Bangsa Indonesia

Apabila pemerintah dan aparat penegak hukum tidak mengindahkan konstitusi dan peraturan yang berlaku, maka sesungguhnya telah terjadi penodaan terhadap supremasi hukum dan tindakan yang inkonstitusional dan sewenang-wenang.

Semoga Allah menjaga negeri ini dari tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab.

Allahu Akbar!

Surakarta, 1 April 2017
Ketua Puskomnas FSDLK Indonesia

Hanafi Ridwan Dwiatmojo

WhatsApp Image 2017-03-29 at 22.53.08

Membangun Generasi Penuh Berkah

By | Gagasan, Indonesia, Inspirasi, Kerjasama, Prestasi, Puskomda | No Comments

WhatsApp Image 2017-03-29 at 22.53.08

Nila Ristia Putri S.PdI. Ibu muda ini merupakan lulusan awal Intensif Putri LIPIA (2000-2003) bidang Bahasa Arab. Dilahirkan di Payakumbuah,22 Mei 1982, ibu muda ini akrab dipanggil dengan panggilan “Zah Nila”, beliau memiliki empat orang putri yang bernama Farhatha Adqiya’ (2004), Fadhila Azzakiyah (2006), Fudla Najiyah (2009), dan Fauzana Ramadhani (2012). Zah Nila merupakan sosok Ibu dan sosok guru yang menyenangkan bagi keluarga dan siswa-siswi nya. Dengan menerapkan metode “kemandirian” bagi anak-anak beliau, Zah Nila menjadi sosok ibu dan wanita supel serta mandiri sehingga anak-anak beliau pun menjadi ana-anak yang mandiri dan creative. Disamping tuntutan amanah beliau sebagai seorang guru dan menjadi ibu dari empat orang putri, beliau juga merupakan seorang da’iyah yang aktif mengisi majlis tahsin bagi perempuan.

Zah Nila bersyukur atas keberkahan yang diperoleh terhadap keluarganya, dengan dasar lingkungan (Bi’ah) yang baik, zah Nila tidak harus banyak mengontrol tahap belajar anak-anak nya karena secara otomatis anak-anak beliau telah mengikuti alur sesuai yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan Jargon “barang siapa yang menolong agama Allah, maka Allah akan menolong nya dan meneguhkan kedudukan nya” , Zah Nila sangat meyakini dan percaya dengan janji Allah tersebut. Dalam pekerjaan beliau menjadi guru, Zah Nila menjadi guru yang berteman dengan siswa-siswi nya

Menjadi seorang wanita di era peradaban hari ini, muslimah hendaklah menjadi sosok yang dengan setiap pekerjaan dan tanggung jawab yang dimiliki tetap memperhatikan hakikat beliau sebagai muslimah dalam menjaga nilai-nilai keislaman, menjadikan setiap kesempatan yang ada untuk menyebar nilai-nilai kebaikan dan menjadi yang terdepan dalam menjaga serta mengurusi keluarga nya.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.06.51

Ibu Yani: Harmonis di Tengah Kesibukan Karir

By | Indonesia, Inspirasi, Prestasi, Puskomda | No Comments

Feminisme merupakan kata yang sudah tak asing lagi dalam masyarakat. Kata feminisme berasal dari bahasa latin yang artinya perempuan. Feminisme telah didengungkan oleh kaum hawa pada abad ke 18. Pada umumnya gerakan feminisme diartikan sebagai gerakan untuk menuntut kesetaraan gender. Artinya, ingin diperlakukan sama dengan kaum laki-laki. Padahal pedoman hidup dalam Al-Quran sudah jelas digambarkan tidak adanya kesetaraan gender.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.06.51 

Perkembangan feminisme sangat signifikan dan bisa kita rasakan telah menjadi budaya tanpa kita sadari. Sebagian orang, menganggap feminisme adalah mutlak tanpa memperhatikan kodratnya sebagai wanita. Akibatnya, peran dan tanggungjawabnya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangaa menjadi terabaikan. Contohnya banyak TKW yang bekerja diluar negeri. Akibatnya anaknya yang harus mendapatkan kasih sayang dan pendidikan menjadi terlupakan. Bukankah madarasah terbaik adalah madrasah seorang ibu? Meskipun demikian, ada juga seorang wanita yang berkarir membantu meringankan beban suaminya namun tetap meprioritaskan keluarganya. Contohnya, seorang Guru di SMAN 1 Praya yang berkarir dibidang pendidikan, namun keluarga adalah yang utama.

Ibu Yani , lahir pada tanggal 2 januari 1970 kini telah memiliki 6 orang anak. Ia tinggal dan beraktivitas di alamat Jl Snokling 2 No 18 Perumnas Ampar Ampar Layar. Di SMA N 1 Praya ia berperan sebagai guru PNS mata pelajaran matematika. Selain menjadi seorang guru, beliau juga aktif mengikuti dan mengisi halaqah, bahkan beliau juga menjadi ketua Majelis Taklim As-Sakinah di lingkungan perumahannya. Baliau juga berperan sebagai pembina remaja muslimah. Meskipun demikian, beliau mampu fokus untuk bertanggung jawab terhadap keluarga sesuai dengan kodratnya. Bahkan beliau pernah meminta tidak diluluskan dalam TES PNS apabila ditempatkan jauh dari keluarga.

Sebut saja anak pertamanya Rasyid yang kini tengah menempuh Pendidikan Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Mataram. Anak keduanya Faruq pun kini tengah menempuh pendidikan di STAN Jakarta. Keberhasilannya dalam mendidik anak-anaknya tidak terlepas dari prinsipnya mengatakan bahwa sesibuk apapun hal yang dilakukan, namun tetap anak adalah prioritas utama. Beliau juga dengan senang hati membagikan tips dalam mengurus anak di tengah kesibukannya sebagai seorang guru. Ada 4 hal dasar yang harus ditanamkan kepada anak-anaknya yaitu ketelaudanan yang dapat dilihat oleh anaknya dari sosok seorang ibu, pembiasaan terhadap anak untuk melakukan hal-hal baik, reward sebagai bentuk penghargaan terhadap anak dan hukuman untuk menyadarkan kesalahan yang dilakukan anak.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.07.01

Menjadi wanita karir memang tak harus meninggalkan kewajiban dan tanggung jawab serta kodrat yang telah digariskan. Belajar dari Ibu Yani bahwa di tengah kesibukan, beliau mampu untuk membangun keluarga yang harmonis dan anak-anak yang berprestasi. Akhir kata, beliau tutup dengan pesan bahwa apabila kita mendahulukan urusan akhirat maka dunia akan mengikuti. Nasihat untuk wanita indonesia bahwa fenimisme merupakan adopsi dari nonmuslim bukan dari Al Quran. Bagi wanita yang kurang paham maka akan tergerus ikut dalam aliran fenimisme, tetapi tidak bagi wanita muslimah. Karena wanita muslimah memilih menjadi wanita terhormat tanpa meninggalkan kodrat.

Komisi C FSLDK Nusa Tenggara

WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.02.40

Selelah Apapun Kita di Tempat Kerja

By | Gagasan, Indonesia, Inspirasi, Prestasi, Puskomda | No Comments

Ahad, di sela waktu makan siang pada sebuah acara pelatihan media di kota Kembang, pertemuan saya dengan ibu tiga anak ini digariskan-Nya. Berawal dari percakapan ringan, tanpa diduga, menghasilkan satu prinsip hidup baru terutama bagi saya sebagai perempuan yang tengah bingung tentang isu feminisme, tentang ketercabikan posisi seorang perempuan ketika dipandang harus bekerja layaknya seorang laki-laki bekerja.

WhatsApp Image 2017-03-27 at 02.02.40

Teh Yani namanya. Usia 39, ibu tiga anak cerdas, aktif mengisi pengajian dan seorang dosen di Stikes Respati Tasikmalaya. Pertanyaan yang diajukan sebenarnya banyak, namun ringkasnya, seperti di bawah ini. 

Apa pendapat teteh tentang ibu yang bekerja di luar? kan waktu untuk anak terkuras tuh, bisa-bisa anak merasa kehilangan sosok ibunya. Belum lagi urusan rumah, beres-beres, masak, nyuci. Gimana teh?

Menurut saya, selama suami ridha, orangtua ridha, tak ada salahnya jika kita mengoptimalkan potensi kita berkarya di luar, kemudian selama kita tidak mengedepankan kepentingan pribadi seperti mengejar karir semata atau penghasilan untuk menandingi suami, saya pikir boleh saja kita bekerja, semua tergantung niat kan? dan tentu saja hal yang harus kita pegang adalah bahwa bekerja diluar itu boleh setelah kita benar-benar paham peran kita sebagai istri dan ibu di rumah, dengan begitu, selelah apapun kita saat kerja, kita akan tetap menyiapkan waktu, tenaga, perhatian dan senyum terbaik untuk anak kita. Mereka punya hak atas diri kita. Hal terpenting adalah konsep kualitas waktu, bukan kuantitas, meski tidak full 24 jam bersama anak, namun jika kita bisa memanfaatkan waktu yang sedikit itu dengan mencurahkan kasih sayang dengan baik, itu cukup membuat anak tidak merasa kehilangan ibunya. Tentang kedekatan saya kepada anak-anak, saya optimalkan moment sholat berjama’ah, tilawah Quran bada maghrib, dan beres-beres rumah bareng.

Mendidik anak memang penting, namun saya tidak mau ketinggalan ambil peran untuk mendidik ummat, mewarnainya dengan dakwah semampu saya, setidaknya cakupan mahasiswa yang saya ajar, bisa saya ajak pada kebaikan. Jadi dosen enak, semisal menginstruksikan mahasiswa sebelum masuk kelas harus duha dan tilawah dulu,kebijakan untuk berjilbab syar’i, kan mantap? Dakwah adalah cinta, dan tentu saja menuntut pengorbanan. Yang terpenting, kita tekan ego kita, saat lelah mendera, ingat niat, ingat tekad kita. Kita harus tetap menyediakan waktu terbaik untuk keluarga. Meski lelah, namun setelah sampai rumah, kita musti tetap ceria, dengarkan cerita anak selama di sekolah, membantu anak mengerjakan PR, bercerita, bermain bersama pokoknya penuhi hak anak.

Satu hal yang saya yakini, setiap hal yang ada di hadapan, baik anugerah maupun musibah, merupakan ladang amal untuk kita, setiap masalah itu tergantung bagaimana respon kita. Yang jelas, kita minta saja ke Allah, kita ingin jadi istri yang baik, jadi ibu yang baik dengan tetap bisa berdakwah semampu kita. Pasti Allah tolong. Pasti.

Komisi C FSLDK Priangan Timur

nurul hidayati

Menjadi Muslimah Profesional

By | Indonesia, Inspirasi, Prestasi | No Comments

Sering kali kita sebagai seorang muslimah ragu dan bimbang tentang apa yang akan terjadi ketika kita masuk ke dalam fase hidup yang lebih serius; yaitu menikah. Bayangan-bayangan mengerikan tentang aktivitas yang tidak lagi bisa ia kerjakan seperti dahulu pun juga kebebasan bepergian yang tidak lagi ia dapatkan seperti dahulu. Ketakutan-ketakutan itu sering sekali menghantui, dan membuatnya tidak menikmati setiap peran yang seharusnya dijalani. Berikut ada cerita seorang Ibu luar biasa, yang berhasil menjawab ketakutan-ketakutan itu dan tetap happy menjalani semua peran perempuan dalam keluarga beserta fase-fase hidup yang akan terus berjalan.

nurul hidayati

 

Nurul Hidayati istri dari Al Muzzamil Yusuf, terlahir dari sebuah keluarga aktivis dan berlatar belakang da’i membuat Ibu tiga anak ini belajar banyak hal sejak ia masih kecil. Mengikuti aktivitas Bapak dan Ibu adalah sebuah rutinitas yang terkadang membuatnya bisa menebak lanjutan kalimat yang akan diutarakan oleh ayahnya. Mendapatkan seorang suami yang juga berlatar belakang sama membuat keduanya melakukan “learning by doing”, melakukan analisa terhadap apa-apa saja kekurangan-kekurangan yang tidak sebaiknya terjadi dan mempertahankan nilai positif yang ada. Sebuah kunci utama yang dipegang dengan kuat ketika seorang anak masih berstatus anak adalah bagaimana mencari ridho Allah melalui ridho orang tua. Mengejar keberkahan hidup pra menikah dengan fokus kepada tujuan sederhana ridho orang tua. Pun setelah menikah, rumus hidup yang dulunya kepada ridho orang tua bukan kemudian dihilangkan, namun dipindahkan kepada ridho suami yang telah mengikat perjanjian kepada Sang Khaliq untuk menjadi sahabat dan pemimpin baginya. Ini bukanlah sebuah fase yang mudah dalam hidup beliau, aktivitas yang semula padat dengan jam terbang yang luar biasa harus disesauaikan dengan primary job beliau sebagai istri dan ibu.

Beliau menginsafi betul bahwa manisnya iman bukan terletak pada ketenaran, harta, kecantikan dan lain-lain, namun manisnya iman terletak jauh diatas itu semua; yaitu di dalam hati. Proses pemaknaan primary job inilah yang kemudian menjadi bekal seorang perempuan untuk melaksanakan sebuah praktik mengenai norma Islam tentang hak dan kewajiban perempuan. Karena ketika kita mengikuti fitrah kita sebagai seorang perempuan dengan kemuliaan yang telah Allah dan Rosul gariskan untuk kita, kita akan mendapatkan kebahagiaan yang menentramkan. Karena adil bukan berarti kita memakai sepatu yang keduanya adalah sisi kanan.

Setelah beliau menyadari, ada porsi primary job yang harus beliau selesaikan sebalum menyelesaikan pekerjaan yang lain di luar rumah. Dari sosok ibu beliau menyadari bahwa perempuan itu powerful; bisa melakukan banyak hal. Namun, tentu saja perempuan yang satu dengan yang lain tidak bisa disamakan. Ada fungsi yang harus disesuaikan antara primary dan secondary job. Ada keseimbangan kualitas yang harus dijaga antara keprofesionalan kita diluar rumah dan luar rumah. Kadar keseriusan seseorang menjalankan amanahnya di luar rumah haruslah sama dengan kadar keseriusannya menangani pekerjaan-pekerjaan domestik; berkebun, memasak, menjadi ibu dengan anak usia bayi, balita, pra remaja, remaja, dewasa, menikah, bagaimana menjadi mertua yang baik dan lain-lain. Karena disitulah kualitas anak-anak kita akan terbentuk. Maka titik usaha terbesarnya adalah berani menolak jika itu melebihi porsi dirinya. Karena perjuangannya adalah untuk menjaga keseimbangan agar tetap proporsional.

Maka menjadi seorang muslimah profesional adalah menjadi muslimah yang memiliki ilmu di setiap fase hidupnya. Memperbaiki mindset mengenai apa yang menjadi primary dan secondary job nya, menghargai dirinya serta peranannya terhadap keluarga. Maka membaca dan menuntut ilmu adalah hal yang tidak boleh ditinggalkan sama sekali oleh muslimah. Pemahaman yang mengakar mengenai peran-peran utamanya adalah kunci untuk menjadi muslimah paling bahagia. Berbahagia artinya tidak pernah lupa, bahwa semua aktivitas yang ia lakukan baik di dalam atau pun di luar rumah adalah untuk hujjahnya di hadapan Allah. Bukan untuk orang lain, maka me time seorang muslimah adalah aktivitas penuh keikhlasan agar semuanya Allah nilai sebagai ibadah. Jangan menjadi muslimah yang kehilangan kreativitas untuk menghargai waktu serta kehilangan daya kritis untuk memilah aktivitas apa saja yang harus ia konsumsi.
Biodata Singkat Narasumber :
Nama lengkap : Hj Nurul Hidayati SS MBA
TTL : Klaten, 19 Desember 1968
Alamat : Komp DPR Blok A7 No 101
Pendidikan : – FSUI/FIB UI
– STBA LIA
– Program MBA IPWI
Organisasi : Ketua Umum PP Salimah 2010-2015
Moto : Maju kembangkan diri, raih ridha Ilahi, berbuat terbaik untuk sesama

WhatsApp Image 2017-03-10 at 23.52.51 (2)

IBU, GURU PERTAMA DAN UTAMA BAGI ANAK

By | Inspirasi, Prestasi, Puskomda | No Comments

WhatsApp Image 2017-03-10 at 23.52.51 (2)

Ibu memilki peran yang sangat vital dalam keluarga. Faiqotul Himma Hamid berhasil memainkan peran ibu dengan baik tanpa melupakan tanggung jawab sosial. Peran keluarga sangat penting untuk menyiapkan generasi penerus yang berkualitas. Salah satu keluarga yang cukup sukses mencetak generasi berkualitas adalah keluarga pasangan ibu Hj. Faiqotul Himma, S.Pd , 62 dan bapak H. Abd. Hamid Chidlir, S.Pd, 67 yang beralamat rumah di Jl. Letjen Panjaitan No. 109 Jember.
Rumah tangganya selalu dilingkupi kebahagiaan dan kesuksesan. Letak kesuksesannya terlihat dengan keenam anaknya yang sudah sukses. “Alhamdulillah, semua anak saya sukses,” kata ibu yang akrab di panggil Bu Faiq tersebut. Kesuksesan tersebut bukan sebuah kebetulan. Walau dia mengaku biasa-biasa saja dalam mendidik anak, namun ada sesuatu yang banyak orang dianggap sepele, padahal bernilai tinggi. Ibu keenam anak tersebut mengaku selalu menjaga kebersamaan dan rasa saling menghormati. “Saya dan anak saya biasa-biasa saja, namun kami selalu terbuka dan tidak banyak menuntut mengenai masa depan mereka,” katanya. Keenam anak Bu Faiq kini menjadi orang sukses. “Ada yang masih menempuh study di Malaysia,” katanya. Dia menjelaskan, hanya ada seorang anaknya yang tinggal di Jember dan berprofesi sebagai dokter gigi. “Banyak orang bertanya kepada saya, bagaimana kok bisa sukses semua,” akunya.
Bu Faiq mengatakan, tidak ada yang spesial yang dilakukan untuk mendidik anaknya. hanya, sejak pertama berkeluarga, dia selalu membiasakan salat berjamaah dengan anaknya. “Saya selalu berjamaah jika sholat,” katanya. Selain berjamaah, dia selalu membudayakan makan bersama anak-anaknya. “Ini yang biasa memakan waktu lama,” akunya. makan bersama dalam keluarga adalah sesuatu yang “wajib”. Dalam makan bersama itulah setiap anggota keluarga bisa saling curhat, tukar pikiran, dan membangun kedekatan emosional.
Bu Faiq merupakan wanita yang berhasil mendidik anaknya di antara segudang aktivitas sosial yang dia jalani. Bu Faiq sejak lama dikenal sebagai aktivis sosial. Dia pernah menjadi guru MTs. Ashri, pengurus muslimat NU, pengurus Jamiyah Qurro’ wal Khuffat, dan aktivitas lain yang berhubungan dengan masyarakat sekitar. Namun, dalam kesibukannya tersebut, dirinya tidak lantas meninggalkan kewajibannya dalam mendidik anak dan mengurus keluarga. “Jika keluarga mengharuskan ada saya, maka saya harus ada,” katanya.
Dia meyakini, kesuksesan anak tidak lepas dari do’a seorang ibu. “Saya tidak lepas akan do’a untuk anak-anak saya, ” katanya. Selain itu, yang penting adalah jangan sampai ada sedikitpun makanan dan minuman haram yang diberikan kepada anak-anaknya. Sebab, jika seorang anak diberi makanan haram, akan jadi daging yang haram dan menyebabkan perilaku yang menyeleweng dari agama.Untuk menjadikan anak-anaknya berhasil mencapai cita-cita, ada beberapa tahapan yang ditempuhnya. Yaitu, pendidikan agama sejak dini, mengarahkan belajar anak sesuai dengan bakat dan minat, mengajarkan kemandirian dan bertanggung jawab, menanamkan rasa senang bersilaturrahim, menanamkan kepedulian, teladan dari orang tua, dan kerukunan, serta keharmonisan dalam keluarga. “Namun, yang sangat utama adalah kebersamaan dan keterbukaan dalam keluarga,” katanya.

FSLDK Jember Raya

5093b800-9fc5-44c1-b983-d9dc902c7b08

GSJN 18 : FSLDK Indonesia Selenggarakan Khataman Quran Serentak Perguruan Tinggi Se-Indonesia

By | Berita, LDK, Puskomda, Puskomnas, Rilis | No Comments
5093b800-9fc5-44c1-b983-d9dc902c7b08

GSJN #18

SOLO – Gerakan Subuh Jamaáh Nasional (GSJN) telah menginjak kali ke 18. Agenda yang rutin diselenggarakan oleh Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus se-Indonesia tersebut, selalu mengangkat permasalahan-permasalahan teraktual di Indonesia. Sebagaimana GSJN #18 yang dilaksanakan pada Jumat (10/03/2017), FSLDK Indonesia mengangkat tema “Membangun Generasi Pewaris Negeri Menuju Indonesia Jaya” dengan tajuk spesial Kampus Nusantara Mengaji.

Agenda berbeda dilangsungkan pada GSJN #18 kali ini, yaitu khataman qurán yang diselenggarakan secara serentak bersama 40 Perguruan Tinggi yang tergabung dalam FSLDK Indonesia. Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia, Hanafi Ridwan menyampaikan, “salah satu penyebab utama permasalahan muslim saat ini adalah kian menjauhnya umat dari nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang semestinya menjadi pedoman hidup. Maka dari itu, melalui agenda GSJN ini, kami mencoba untuk mengajak pemuda-pemudi Indonesia kembali dekat dengan al-qurán sebagai salah satu bekal menuju bangkitnya islam kembali.”

GSJN #18 yang diselenggarakan serentak di 40 Perguruan Tinggi se Indonesia ini, juga terhubung melalui Video Conference Sambutan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (MENRISTEKDIKTI) yang berpusat di Masjid Nurul Huda Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Selain itu, agenda ini didukung dengan hadirnya beberapa tokoh nasional yang turut memberikan sambutan diantaranya, Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, DEA, Prof. H.M. Mahfud M.D., S.H., S.U. dan Dr. (H.C) H. Ary Ginanjar Agustian. Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti) secara langsung memimpin khatmil qurán yang dilanjutkan doa oleh Ketua MUI Solo Prof. Zainal Arifin Adnan.

Antusiasme yang sangat baik ditunjukkan dari membludaknya peserta GSJN #18 hingga mencapai 1500 jamaáh menyesaki Masjid Nurul Huda UNS. Hal yang serupa tampak juga dari antusiasme jamaáh yang juga melaksanakan GSJN di 40 masjid kampus se-Indonesia. “Masa-masa keemasan yang dulunya menghiasi lembaran sejarah umat manusia, sekarang hanya menjadi nostalgia manis pengisi kenangan umat muslim. Kemudian, kita tidak bisa tinggal diam menyaksikan Islam berada di titik nadir. Pelaksanaan GSJN ini, menjadi wujud komitmen kami dan seluruh mahasiswa Indonesia untuk memuliakan al-qurán dan menjaga waktu subuh untuk menyongsong kebangkitan islam,” terang Hanafi Ridwan Dwiatmojo, Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia.

16788773_521140031416371_2365961822529388544_n

Rapimnas FSLDK Indonesia Deklarasikan Gerakan Nasional Peduli Negeri

By | Berita, Kerjasama, Puskomda, Puskomnas, Rilis | No Comments
16788773_521140031416371_2365961822529388544_n

FSLDK Indonesia Mendeklarasikan Generasi Peduli Negeri

Solo – FSLDK Indonesia sukses menyelenggarakan Rapimnas (Rapat Pimpinan Nasional) III pada tanggal 24-26 Februari 2017 bertempat di Surakarta. Agenda ini dihadiri oleh 120 peserta yang merupakan pimpinan dari 37 Pusat Komunikasi Daerah sebagai perwakilan dari Lembaga Dakwah Kampus se-Indonesia.

Rapat Pimpinan Nasional membahas arahan kerja serta evaluasi dari program-program FSLDK Indonesia dalam upayanya untuk membangun Indonesia. Tak hanya itu, pada kesempatan ini FSLDK Indonesia juga mendeklarasikan “Gerakan Nasional Peduli Negeri” yang akan fokus pada pencegahan narkoba dan miras serta membangun jiwa nasionalisme pada mahasiswa. Gerakan ini bekerja sama dengan DPR RI Komisi 1, Ganas Annar (Gerakan Nasional Anti Narkoba) MUI, Genam (Gerakan Anti Miras), dan DPD RI.

Salah satu poin penting dari simpul pergerakan ini adalah adanya advokasi kurikulum anti narkoba, anti miras, dan wawasan kebangsaan pada saat orientasi mahasiwa baru.

Narkoba dan miras adalah induk dari degradasi moral generasi muda Indonesia. “Miras adalah salah satu gerbang menuju kepada penggunaan narkoba. Sebagai generasi muda kita harus lawan miras dengan peran kita masing masing” tutur Fahira Idris selaku ketua Gerakan Nasional Anti Miras. Sedangkan Titik Haryati wakil pimpinan pusat Gerakan Nasional Anti Narkoba MUI menegaskan bahwa aktivis dakwah harus siap untuk melawah narkoba, bahkan Ganas Annar siap memfasilitasi pelatihan untuk menjadi satgas anti narkoba.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Komisi 1 DPR RI memaparkan tentang pentingnya peran pemuda untuk menjaga kedaulatan NKRI. “Apa yg anda kerjakan hari ini mungkin biasa-biasa saja.Tapi 20 tahun yang akan datang peristiwa ini akan menjadi sejarah dan kalian akan memimpin negeri ini. Karena kalian adalah pemilik sah negeri ini, “paparnya.

“Kita adalah anak kandung Indonesia, yang berhak mewarisi negeri ini adalah kita, bukan bangsa lain. Maka membangun dan menjaga Indonesia adalah tanggung jawab kita bersama”, tegas Hanafi Ridwan Dwiatmojo dalam akhir deklarasi.

Deklarasi ini ditandatangani oleh perwakilan dari masing-masing stakeholder dari berbagai elemen yaitu, Fahira Idris, S.E., M.H (Ketua Umum Gerakan Nasional Anti Miras), Dr. Hj. Titik Haryati, M.Pd (Wakil Ketua Pimpinan Pusat Gerakan Nasional Anti Narkoba), Dr. Abdul Kharis Almasyhari, S.E., M.Si., Akt., C.A (Ketua Komisi 1 DPR RI), serta perwakilan dr FSLDK Indonesia yang diwakili Hanafi Ridwan Dwiatmojo selaku Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia.

6a41b82e-9dc0-4424-9dc5-c474cb6236d1

FSLDK Indonesia Akan Ikut Berkontribusi Dalam Pemberantasan Narkoba dan Miras

By | Berita, Puskomnas, Rilis | No Comments
6a41b82e-9dc0-4424-9dc5-c474cb6236d1

Perwakilan FLSDK Indonesia bersama Fahira Idris (tengah)

Jakarta – FSLDK Indonesia pada hari Selasa (21/2)  mengadakan kunjungan ke GANAS ANNAR MUI Pusat. Dalam kunjunganya, FSLDK Indonesia menyampaikan keinginan untuk ikut berkontribusi dalam perjuangan pemberantasan narkoba dan minuman keras.  “Dengan sumber daya yang dimiliki FSLDK, kami yakin mampu melakukan tindakan preventif terhadap penyebaran narkoba dan minuman keras,” tegas Hanafi Ridwan Dwiatmojo, Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia.

“Gerakan ini akan disambut dengan baik oleh banyak elemen, karena sudah menjadi keresahan kita bersama dan harus segera dicegah khususnya untuk kalangan pemuda,” sambut Pak Burhan mewakili Ganas Annar.

Sebelum kunjungan ini, FSLDK Indonesia telah melakukan konsolidasi ringan bersama GENAM (Gerakan Nasional Anti Miras) yang dipimpin oleh Fahira Fahmi Idris. Dalam konsolidasi ini, FLSDK Indonesia mengangkat pembicaraan untuk menjadikan FSLDK Indonesia sebagai mitra dalam pemberantasan miras di Indonesia. 

“Kita dengan elemen yang ada harus terus berjuang melahirkan perda-perda anti miras dan anti narkoba di beberapa daerah yang belum memiliki perda tersebut,” jelas Fahira Idris yang juga menjadi bidan lahirnya perda-perda anti miras di Indonesia.

Tak hanya soal narkoba dan miras, FSLDK Indonesia akan melakukan launching Generasi Peduli Negeri sebagai upaya pencegahan degradasi moral pemuda Indonesia pada tanggal 24-26 Februari 2017 bertepatan dengan RAPIMNAS III yang akan bertempat di Surakarta.

Film-Nasionalisme

Mencinta Indonesia

By | Gagasan, Inspirasi | No Comments
Film-Nasionalisme

Sumber Gambar : blog.bukalapak.com

Oleh: Putra Abdi Ramadan
(Universitas Negeri Padang)

Tidak ada manusia yang sempurna. Memang itulah kenyataannya. Akan tetapi, pada waktu yang sama kita juga diperintahkan untuk berusaha menjadi sempurna. Atau, setidaknya mendekati kesempurnaan. Inilah masalahnya. Adakah kesalahan dalam perintah ini? Tidak! Namun, mengapa kita diperintahkan melakukan sesuatu yang tidak mungkin menjadi kenyataan? Jawabannya adalah kesempurnaan itu relatif. Ukuran kesempurnaan adalah batas maksimum dari kemampuan setiap individu untuk berkembang. Karena, “Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (AI-Baqarah: 286).”(Mencari Pahlawan Indonesia, Anis Matta).

Melihat wajah negeri Indonesia pada saat sekarang ini, mungkin akan membuat kita merasa kurang percaya diri. Kita tahu negeri kita saat ini sedang mengalami krisis dan masalah di segala bidang di dalam kehidupannya. Sesuai dengan kutipan pernyataan Anis Matta di atas tidak ada manusia yang sempurna namun kita diperintahkan untuk menjadi sempurna dan Allah telah berfirman, bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya. Begitu juga dengan sebuah negeri tidak ada negeri yang sempurna, namun kita diharapkan bisa memperbaiki negeri ini, karena Allah juga hendak melihat sesiapa hambaNya yang benar-benar beriman dan bertakwa kepadaNya dengan diberikannya ujian berupa permasalahan-permasalahan dalam kehidupannya. Tentu itu sebagai ladang amal untuk kita. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kehidupan suatu bangsa itu ditentukan oleh akhlak masyarakatnya.

Jika kita melihat sejarah peradaban manusia masyarakat memiliki peranan yang sangat besar dalam menentukan bagaimana keadaan bangsa dan negaranya. Dari diciptakannya manusia pertama Nabi Adam Alaihisallam hingga pada saat sekarang ini kita bisa melihat dan mengambil pelajaran yang sangat berharga mengenai hancur dan bangkitnya suatu bangsa akan sangat ditentukan oleh akhlak masyarakatnya. Salah satu contohnya kisah dari perbuatan keji kaum Nabi Luth Alaihisalam yang terdapat didalam al-Quran. Dikisahkan bahwa Kota Sodom yaitu kota kaum Nabi Luth Alaihisalam tinggal, disana masyarakatnya memiliki kebiasaan buruk yaitu homoseksual dan lesbian atau istilah sekarang lgbt, ketika sudah diingatkan dan didakwahi oleh Nabi Luth Alaihisalam agar tidak melakukan perbuatan tercela tersebut, namun kaumnya tidak menghiraukannya, maka Allah Subhana wa Taa’la mengazab mereka dengan suara yang keras, dibolak-balikkan negeri mereka, dan hujan batu membinasakan mereka semuanya.

Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala membinasakan kota Sodom karena kedzaliman penduduknya, agar menjadi i’tibar bagi orang-orang yang mau berfikir dan menambah keimanan mereka. Kita juga sama-sama mengetahui bahwa tujuan Allah Subhana wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidak lain untuk memperbaiki Akhlak manusia yang sudah rusak dan berjalan tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya. Untuk itu jika kita memang mencintai bangsa Indonesia, marilah kita sama-sama memperbaiki bangsa kita untuk masa depan yang indah, dalam setiap kesempatan yang ada, di saat waktu masih tersisa, kita dedikasikan diri untuk selalu melakukan yang terbaik, dimulai dari diri kita masing-masing dahulu. Mungkin orang tua kita hebat, mungkin pendahulu kita hebat, tetapi yeng lebih penting ialah sehebat apa diri kita. Mungkin kita bisa menikmati apa yang sudah diperoleh oleh para pendahulu kita, tetapi jika kita hanya menikmati dan membangga-banggakan hasil pendahulu kita, itu tidak ada artinya, karena yang hebat bukan diri kita, tetapi pendahulu kita. Kita tidak akan mendapatkan apa-apa atas yang dilakukan oleh pendahulu kita. Pahala mereka bagi mereka, kita tidak akan kebagian kecuali kita memanfaatkan apa yang telah diperoleh oleh pendahulu kita untuk tujuan yang baik. Kita boleh memanfaatkan yang sudah ada sebagai pijakan perjuangan selanjutnya. Islam menginginkan perbaikan secara terus menerus.

Kita tidak bisa mengandalkan pada apa yang sudah dicapai oleh pendahulu kita. Atau, jika pun pendahulu kita tidak baik. Itu bukan alasan kita untuk mengikuti jejak mereka. Apa yang mereka lakukan untuk mereka. Sekarang tinggal apa yang akan kita lakukan dan untuk diri kita sendiri. Kita tidak akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang diperlakukan oleh mereka. Jadi apapun yang dilakukan oleh pendahulu kita, baik atau buruk, kita harus tetap bertindak untuk diri kita. Karena Allah berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali ‘Imraan:110). Karena kita adalah umat yang terbaik, konsekuensinya kita harus menjadi pemimpin yang mengarahkan kepada kebaikan, kita harus memimpin dalam teknologi agar teknologi diarahkan untuk kebaikan. Kita harus memimpin dibidang informasi, agar informasi digunakan untuk kebaikan. Kita harus memimpin di bidang politik agar politik dimanfaatkan untuk kebaikan, dan kita harus memimpin di berbagai bidang lainnya agar bisa digunakan untuk kebaikan.

Kebaikan bukan hanya hasil bicara, kebaikan akan lebih nyata jika merupakan hasil kerja. Apalagi hanya bicara kritik sana kritik sini seperti seorang calo, banyak ngomong tetapi dia sendiri hanya diam saja. Kita harus bergerak, bertindak, dan berbuat agar negeri yang kta cintai ini diberkahi dan dilindungi oleh Allah Subhana wa Ta’ala. Sesuai dengan firmanNya dalam Al-Qur’an “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami itu), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Q.S. Al-A’raf : 96).

 

kewajiban-anak-laki-terhadap-ibunya

Untukmu, Ibu

By | Inspirasi, Puskomnas | No Comments
hadiah-terindah-di-hari-ibu

Sumber Gambar : kabarmakkah.com

Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Ku pandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku

Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang

Nada nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci
Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan

Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang

Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan slalu ada di dalam hatiku

Lirik lagu itu tak asing, bukan? Ya, Bunda judulnya. Lagu yang menggambarkan sosok ibu. Hari ini menjadi ramai pembicaraan tentang ibu. Karena hari ini Hari Ibu Nasional. Kenapa hanya satu hari dalam setahun? Kenapa tidak setiap hari adalah hari ibu?

Ibu, adalah wanita yang paling hebat. Mungkin yang nanti akan “menyaingi” kehebatanmu hanyalah istri. Istri? Ah itu nanti saja. Sembilan bulan sepuluh hari kata teori, engkau mengandung kami. Kemana-mana ikut. Aktivitasmu jadi tidak seleluasa biasanya. Tidur pun tidak bebas. Bahkan makan pun bisa jadi akan pilih-pilih. Kata orang, karena bawaan yang di dalam perut.

Semua tau pengorbananmu. Saat kami ingin menatap dunia, maka engkau akan mendekat gerbang maut. Menahan rasa yang amat sangat sakit. Hanya agar engkau bisa bertemu bayimu. Dan seketika sakit itu hilang saat kau lihat anakmu. Dari situ mulailah engkau rawat kami. Dengan segala kesusahan dan kerewelan yang ada. Yang kadang menguras kesabaran. Tak jarang pula memancing emosi. Namun, pasti engkau berusaha sabar sepenuh hati.

Engkau pastikan kami tidur nyenyak. Walau harus kau tahan kantukmu. Engkau pastikan kami kenyang dan makan enak. Walau harus kau tahan laparmu. Engkau pastikan kebutuhan kami tercukupi. Walau harus kau tahan lelahmu. Engkau pastikan kami dapat yang terbaik. Walau harus kau korbankan banyak hal. Lalu perlahan kami tumbuh besar, dan akan semakin jarang pulang. Semakin sedikit waktu untukmu.

Ibu, bagaimana perasaanmu saat kami jauh? Saat kami jarang memberi sapa. Jarang bertanya kabar. Bagaimana perasaanmu saat kau melepas kami pergi? Kau lepas dengan selalu menitipkan pesan. Mencoba tegar. Namun kadang kau tak mampu membendung air matamu. Bagaimana perasaanmu? Kami tak mampu membaca perasaanmu. Tak mampu merasa batinmu. Maafkan anakmu, Ibu. Maafkan.

Apa yang kami berikan padamu tak akan pernah sebanding dengan segala pemberianmu. Tak akan pernah. Lalu bagaimana andai kami belum bisa memberi apa-apa? Kecuali kenakalan yang membuatmu sedih. Dan segala beban yang membuatmu banyak pikiran. Ya Allah. Maafkan kami.

Saat kami sadar bahwa tiap detik berlalu berarti semakin dekat kita dengan senja. Kami tak mampu memberi apa-apa. Hanya bisa berharap dan berusaha, kelak suatu saat nanti kami bisa simpulkan senyum di bibirmu. Membuatmu bahagia. Dan, tentu kami selalu ingin menjadi hartamu yang paling berharga. Yang menjadi penyambung amal baikmu saat kau berpisah dengan dunia. Menjadi amal terbaikmu dan menjembatani hingga surga.

Ibu, walau mungkin jarak dan waktu mulai jarang mempertemukan kita, namun yakinlah bahwa harimu bukanlah satu diantara 365. Tapi harimu adalah satu diantara 7. Harimu bersama anakmu adalah sepanjang masa. Karena kami akan selalu bersamamu dalam doa. Seperti engkau yang tak luput menyebut kami setiap hari, dalam munajat pada Sang Mahakuasa.

Wahai Tuhan Pencipta dan Penguasa Alam Raya, Allah ‘azza wa jala, semoga tiap letih, tiap tetes peluh, air mata, bahkan darah yang dikorbankan ibu kami terbayarkan pada diri kami yang Kau ridhai untuk menjadi sebaik hartanya. Sebaik amalnya. Hingga nanti ia bertemu dengan-Mu di surga, dalam keabadian. Semoga hadirnya kami memang untukmu, Ibu.

Penulis,

@hanafiridwan

28children-superjumbo

Bertahanlah Aleppo!

By | Berita, Indonesia, LDK, Rilis | No Comments
main_900

Sumber Gambar : theatlantic.com

Surat Cinta dari Indonesia

Bertahanlah dan bersabarlah. Wahai Aleppo. Bangkit dan berjuanglah, wahai Bangsa Indonesia!

Senin (19/12) Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus Indonesia (FSLDK Indonesia) melakukan aksi kemanusiaan serentak untuk Aleppo. Aksi kemanusiaan dilakukan dalam rangka memprotes agresi yang dilakukan pasukan militer di bawah pemerintahan Bashar Al-Assad dan pasukan Rusia terhadap rakyat Suriah, terutama di kota Aleppo. Aksi ini juga bertujuan mengajak seluruh rakyat Indonesia dan masyarakat dunia pada umumnya untuk membuka hati nurani dan berperan aktif untuk membantu saudara kita di Aleppo melalui donasi dan doa.

Kegiatan aksi ini dilakukan di 14 kota di Indonesia,  diantaranya Aceh, Madiun, Palembang, Makassar, Tanjungpinang, Solo, Bandung, Jakarta, Ambon , Pontianak, Tasikmalaya, Malang, Pangkalpinang dan Gorontalo.

Pengumpulan donasi untuk Aleppo akan dilakukan pada 19-23 Desember 2016. Dana yang terkumpul akan diserahkan ke PKPU melalui rekening FSLDK Indonesia.

Sampai saat ini alhamdulillah telah terkumpul 25.178.400 rupiah yang terkumpul dari 3 lokasi di Indonesia yaitu Surakarta, Gorontalo dan Kalimantan Barat. Kami ucapkan terimakasih kepada masyarakat di daerah tersebut, atas kepedulian dan cintanya untuk Aleppo. Selait itu, mempertimbangkan jumlah FSLDK Daerah, jumlah tersebut masih bisa bertambah. Kami menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia, untuk dapat memberikan donasi nya dan semantiasa mendoakan keselamatan bagi Aleppo, dan kedamaian bagi Republik Indonesia.

Kondisi Aleppo sampai saat ini masih mencekam. Kondisi kian memburuk di musim dingin tanpa tempat tinggal, makanan dan pakaian hangat. Banyak yang menghabiskan malam tidur di jalan-jalan dalam suhu yang sangat ekstrim sambil menunggu giliran untuk dievakuasi.

“Kondisi di Aleppo timur tetap sangat mengerikan,” ujar reporter Al Jazeera.

Juru bicara Ahrar Al-Sham, di akun twitternya menyamakan kekejaman yang sedang berlangsung di Aleppo dengan pembantaian Srebrenica tahun 1995.

“#Aleppo adalah #Srebrenica baru di zaman kita, darah berada di tangan semua orang yang menonton dan tidak melakukan apa pun.” katanya.

Organisasi masyarakat dunia, Observatorium HAM untuk Suriah (SOHR), melaporkan jumlah korban tewas akibat perang yang berkecamuk di  Suriah selama empat tahun terakhir sudah mencapai 320.000 jiwa.

Sikap diam atas kejahatan kemanusiaan adalah bukti nyata pengkhianatan atas ras manusia. Kebiadaban ini harus dihentikan! Dunia hari ini tak mampu berbuat apa-apa saat darah semakin menggenang di Aleppo, Suriah. Korban dari warga sipil terus berjatuhan. Mereka disiksa dan dibantai.

Maka, hari ini kami dari FSLDK Indonesia atas nama hati nurani yang merdeka, berdiri menentang kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Aleppo, Suriah. Dan menggalang sebanyak mungkin rasa kemanusiaan yang masih tersisa di hati manusia. Merdeka!

4032138d-0ddc-412e-96fc-00838d945704_orig

Islam dalam Sorotan Media

By | Berita, Indonesia, Puskomda, Puskomnas, Rilis | No Comments
media

Sumber Gambar : brusselmedia.be

Tanggal 4 November 2016 menjadi sejarah baru Indonesia. Lebih dari dua juta umat Islam turun ke jalan, memutih di Ibukota. Dibersamai dengan puluhan ribu massa di wilayah Indonesia lainnya, seperti Medan, Pangkalpinang, Palembang, Pekanbaru, Jambi, Banjarmasin, Samarinda, Balikpapan, Pontianak, Solo, Malang, Semarang, Jember, Purwokerto, Makassar, Kendari, Ambon, Bandung, Cirebon, Bogor, Tangerang, dan Madiun.

Mengadakan aksi damai, yang berikutnya disebut aksi damai 411. Tuntutan aksi jelas, massa meminta keadilan dan menuntut proses hukum terhadap pelaku penista agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang pada tanggal 27 September 2016 di Kepulauan Seribu telah menciderai kebhinnekaan bangsa ini. Terekam dengan jelas, dalam video yang dirilis oleh pemprov DKI Ahok telah menistakan Al Qur’an surat Al-Maidah ayat 51 sebagai alat untuk membohongi. Serta menghina ulama sebagai pembohong. Hal ini jelas melanggar setidaknya dua undang-undang, yaitu KUHP pasal 156a tentang Penistaan Agama dan UU No.1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. 

Namun media dan pihak yang bermain di belakangnya (man behind the gun) dengan provokatif mengatakan bahwa Ahok tidak melakukan penistaan dan salah kaprahnya media memberitakan soal aksi damai 411 dengan menggambarkan Islam anti nasionalisme dan agresif. Dan memelintir fakta jumlah massa yang turun ke jalan hanya berkisar dua ratus ribu.

Jakarta, 16 November 2016 gelar perkara penistaan agama menetapkan Ahok sebagai tersangka. Hal ini masih merupakan proses yang panjang dan tetap berjalan, pasca ini masih ada proses peradilan. Status Ahok masih tersangka, belum terdakwa, belum terpidana. Namun kami akan terus mengawal sampai keadilan ditegakkan. Khawatir ini adalah sarana penggembosan ummat. Dan gurita-gurita media yang memutarbalikkan fakta, memainkan opini masyarakat, bisa jadi untuk menuai simpatik publik terhadap Ahok.

Adanya fenomena demikian membuat Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia ikut menjadi garda terdepan mengawal isu yang beredar di media.

Salah satu usaha FSLDK Indonesia yaitu dengan memasukkan konten kajiannya yang dikemas dalam acara Gerakan Subuh Jama’ah Nasional (GSJN) Ke-14 dengan tema Islam dalam Sorotan Media: Membangun atau Merusak Citra. Tema ini menggambarkan suatu fenomena dari media, kekuatan terbesar di dunia modern dan para aktor yang bermain di depan atau di belakang layar dengan menyajikan informasi yang salah kaprah tentang Islam dan hasratnya untuk menyudutkan Islam.

Apa alasan dan siapa tokoh di balik itu semua? Dan pentingnya masyarakat membaca berita yang sehat.

 “Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang seorang yang fasik dengan membawa suatu informasi maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena suatu kebodohan, sehingga kalian menyesali perbuatan yang telah kalian lakukan.” (Al-Hujurat: 6)

GSJN ke-14 ini dilaksanakan pada tanggal 19-20 November 2016 serempak di lebih dari 10 titik di Indonesia. Diantaranya Kalbar (IAIN Pontianak), Aceh (Univ. Leuser Kutacane),  Solo (Univ. Sebelas Maret), Jakarta (Univ. Trilogi), Lampung (Univ Bandar Lampung), dan Riau (Univ. Lancang Kuning Pekanbaru).

Melalui tema GSJN kali ini, FSLDK Indonesia ingin menyampaikan pesan kepada ummat agar cerdas berita dan media. Semoga Allah senantiasa menguatkan dan membela.

15034849_1243127192392897_349378671653421056_n

Kunjungan FSLDK Indonesia ke MUI

By | Berita, Indonesia, Puskomda, Puskomnas, Rilis | No Comments
15034849_1243127192392897_349378671653421056_n

Kunjungan FSLDK Indonesia Ke MUI

 

 

Jakarta, 16 November 2016 bertempat di markas Polri, Kabareskrim Ali Dono Sukmanto menyampaikan hasil putusan gelar perkara terhadap kasus penistaan agama Islam oleh terduga Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Keputusan hasil penyelidikan adalah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ditetapkan sebagai tersangka dan penanganan kasus akan ditingkatkan menjadi penyidikan dan akan dilaksanakan peradilan terbuka. Namun sayang, setelah ditetapkan sebagai tersangka Ahok masih bebas, hanya dicegah untuk pergi keluar negeri. Sikap yang ditunjukkan Ahok pun tidak menunjukkan penyesalan. Alih-alih sesumbar dan terlihat arogan. 

Merespon hal tersebut FSLDK Indonesia mengunjungi kantor pusat MUI di jalan Proklamasi No. 51, Jakarta Pusat. FSLDK Indonesia diwakili oleh Puskomnas, Puskomda Jogja, Puskomda Semarang Raya, Puskomda Solo Raya, Puskomda Bandung Raya, dan Puskomda Jadebek. Sedangkan dari pihak MUI yang menyambut rombongan adalah Dr. H. Zainal Arifin Hoesein, S.H., M.H. selaku Sekretaris Komisi Hukum MUI dan Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, M.A. yang merupakan Ketua Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga. 

Kunjungan ini selain silaturahim adalah sebagai bentuk dukungan FSLDK Indonesia kepada MUI yang telah mengeluarkan sikap keagamaannya menanggapi isu penistaan agama oleh Ahok. Rombongan yang diwakili ketua Puskomnas, Hanafi Ridwan menyampaikan beberapa hal kepada perwakilan MUI “Kami mewakili Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus Indonesia ingin menyampaikan dukungan kami kepada MUI atas sikap keagamaan yang telah dikeluarkan dalam menyikapi isu penistaan agama beberapa waktu lalu, yang pagi tadi telah ditetapkan sebagai tersangka”. 

FSLDK Indonesia sebagai representasi aktivis mahasiswa muslim di ratusan kampus di seluruh Indonesia menegaskan posisinya berada dalam barisan ulama, dan siap mengawal kasus ini sampai selesai. Pihak MUI juga merespon baik sikap FSLDK Indonesia dan menerima pernyataan sikap yang disampaikan dan berkomitmen akan mengawal persoalan ini.

Terakhir FSLDK Indonesia melalui ketua Puskomnas menyampaikan “Kami menghimbau kepada seluruh umat Islam di Indonesia untuk terus mengawal keberjalanan isu ini dan memastikan bahwa keadilan dan supremasi hukum dapat ditegakkan. Jangan sampai ada pihak-pihak yang secara tidak bertanggung jawab melakukan tindakan yang menciderai sistem hukum itu sendiri. Sekali lagi keadilan harus tegak di bumi Indonesia”. 

fsldk-logo

Pernyataan Sikap FSLDK Indonesia

By | Berita, LDK, Puskomda, Puskomnas | No Comments

fsldk-logo

 

 

Nomor : 001/Eks/Puskomnas/FSLDK Indonesia/X/2016
Tentang: Aksi Damai Bela Islam II

Berdasarkan fatwa yang telah dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) tertanggal 11 Oktober 2016, tentang pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Kepulauan Seribu pada tanggal 27 September 2016 terkait Al Qur’an surat Al Maidah:51 yang dikategorikan: (1). menghina Al Qur’an dan/atau (2) menghina ulama yang memiliki konsekuensi hukum, maka FSLDK Indonesia menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Mendukung sepenuhnya fatwa yang telah dikeluarkan oleh MUI sebagai representasi alim ulama Indonesia.


2. Mendukung Aksi Damai Bela Islam II yang dilakukan oleh elemen umat Islam di seluruh Indonesia pada tanggal 4 November 2016, sebagai bentuk kepedulian terhadap persatuan bangsa dan penegakan supremasi hukum.


3. Menghimbau kepada seluruh aparat yang bertugas mengamankan jalannya Aksi Damai Bela Islam II pada tanggal 4 November 2016 untuk bisa bertugas dengan profesional, tidak terjebak dalam segala bentuk tindakan yang bersifat provokatif. Serta berpihak kepada kepentingan rakyat.


4. Menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk menjaga keharmonisan kehidupan beragama dan ikut aktif dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa serta tidak terpancing segala bentuk tindak laku provokasi dan arogansi yang mengancam keutuhan kehidupan berbangsa dan bernegara.


5. Menuntut supremasi hukum yang adil bagi setiap golongan. Serta menuntut aparat penegak hukum untuk kembali pada kedaulatan hukum dan aturan di Indonesia dengan mengusut dan mengadili terlapor pelaku penistaan agama dalam hal ini adalah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atas dugaan pelanggaran UU No.1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, serta pasal 156a KUHP tentang Penistaan Agama.


6. Menolak segala bentuk penistaan terhadap agama manapun atas nama apapun. Indonesia adalah negara hukum, maka apabila kita berdiam diri dari menegakkan keadilan hukum, hari ini kita telah menjadi penghianat negara. Ketika dagelan yang tidak lucu senantiasa dilakukan yang berakhir perpecahan, ketika hukum hanya jadi bahan tertawaan, maka Indonesia kita hari ini sedang terancam. Terjaganya Indonesia yang rukun dan damai akan kembali kepada tangan para pemuda yang tulus mencintainya.

Mari Berjuang! Karena Allah bersama kita,
ttd,


FSLDK Indonesia

fsldk-logo

Diam Adalah Penghianatan

By | Puskomnas, Rilis | No Comments

fsldk-logo

 

 

Pada hari Jum’at yang penuh barokah ini, 28 Oktober 2016 bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, kami FSLDK Indonesia kembali melakukan aksi turun ke jalan, setelah 10 hari yang lalu aksi kami tidak digubris. Aksi ini dilakukan di berbagai kota di Indonesia, diantaranya adalah Pangkalpinang, Bandung, Tasikmalaya, Semarang, Bandar Lampung, Jogjakarta, dan Solo. Yang kami ingin lakukan sederhana, untuk Menjaga Indonesia. Menjaga dari tindak arogansi yang mengancam keutuhan NKRI. Menjaga dari adab dan etika tercela seorang pejabat publik.

Aksi kami akan senantiasa dilakukan dengan tertib, sebagaimana W. R. Supratman menggesek biola untuk memainkan lagu Indonesia Raya. Namun tujuan kami jelas, tuntutan kami tegas. Sebagaimana teks sumpah pemuda 88 tahun lalu.

Kehadiran kami hari ini dilakukan untuk :
1.  Menjaga supremasi kebhinekaan yang mengayomi dan anti-provokasi
2. Menuntut sistem kepemimpinan yang beradab, bertata krama, serta mengutamakan persatuan dan kesatuan daripada ego individu atau golongan
3. Menyerukan penjagaan Indonesia bagi siapa yang mencintainya. Dengan cara menolak tindak laku provokatif dan arogan.
4. Supremasi hukum yang adil bagi setiap golongan. Serta menuntut aparat penegak hukum untuk kembali pada kedaulatan hukum dan aturan di Indonesia dengan mengadili secepatnya pelaku, penistaan agama dalam hal ini adalah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atas dugaan pelanggaran UU No.1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, serta pasal 156a KUHP tentang Penistaan Agama.

Indonesia adalah negara hukum, maka apabila kita berdiam diri dari menegakkan keadilan hukum, hari ini kita adalah penghianat negara. Ketika dagelan yang tidak lucu senantiasa dilakukan yang berakhir perpecahan, ketika hukum hanya jadi bahan tertawaan, maka Indonesia kita hari ini sedang terancam. Terjaganya Indonesia yang rukun dan damai akan kembali kepada tangan para pemuda yang tulus mencintainya.

Mari berjuang! Karena Allah bersama kita.

 

fsldk-logo

Pernyataan Sikap Aksi Nasional FSLDK Indonesia

By | Gagasan | No Comments

fsldk-logo

 

 

Pada hari Selasa (18/10), FSLDK Indonesia turun ke jalan untuk menyuarakan pendapat tentang kondisi di negeri ini sebagai aksi nyata dalam menjaga Indonesia. Menjaga Indonesia adalah semangat perjuangan yang sekaligus menjadi tema aksi yang digelar untuk mewakili suara masyarakat di berbagai kota di Indonesia.

Indonesia adalah perwujudan negara berperadaban luhur dengan ketinggian etika serta adab. Namun hari ini, negeri ini sedang berada dalam kondisi yang tidak baik. Seorang pejabat publik yang dibayar dengan uang rakyat tidak bersikap selayaknya seorang negarawan. Sikap, etika, dan adab yang baik seolah bukan lagi hal penting untuk dicontohkan, apalagi bagi pemimpin di ibu kota negara yang terkenal santun ini.

Apa yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama, saat berkunjung ke Pulau Seribu pada 6 Oktober yang lalu menyisakan luka mendalam di hati umat Islam. Dengan membawa ayat Al-Qur’an, ia memancing amarah umat. Bahkan banyak pihak menilai, tindakannya yang tidak hati-hati tersebut telah memicu provokasi. Ulama sepakat bahwa tindakan yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta tersebut sudah melewati batas. Tindakannya dianggap telah menistakan agama Islam dengan menuduh Al-Qur’an Surat Al Maidah: 51 sebagai alat untuk membohongi dan membodohi masyarakat. Dimana secara implisit hal ini juga menuduh ulama/ustadz sebagai pembohong yang menggunakan ayat Al Qur’an sebagai alat.

Maka, FSLDK Indonesia, ingin menyampaikan pesan ini kepada seluruh bangsa Indonesia bahwa :

1. FSLDK Indonesia mengecam keras tindakan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama, atas tindakannya menghina dan menistakan ayat Al-Qur’an sebagai alat untuk membohongi dan membodohi umat. Menjalankan tuntunan kitab suci adalah hak yang dijamin oleh negara, maka tidak pantas seorang warga negara apalagi seorang pejabat publik berpendapat yang mengintervensi keimanan umat yang berbeda keyakinan, apalagi menempatkannya sebagai alat untuk membohongi.

2. Mendesak aparat hukum untuk melanjutkan proses hukum secara tuntas, tegas, cepat, tepat, proporsional, dan profesional atas dugaan pelanggaran UU No.1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, serta KUHP 156a tentang penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama. Serta menghimbau aparat hukum untuk menindak segala penistaan terhadap agama apapun.

3. Menghimbau kepada seluruh umat Islam, dari golongan manapun, untuk mendukung penuh sikap atau putusan yang telah dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai representasi para alim ulama di Indonesia dan tetap menjaga keharmonisan kehidupan antarumat beragama, serta tidak mudah terpancing oleh perkataan atau sikap dari sumber-sumber yang tidak bertanggung jawab.

4. Umat Islam adalah umat yang menjaga kedamaian dan menjunjung tinggi toleransi beragama. Namun perlu diperhatikan bahwa umat Islam pun memiliki nilai dan prinsip dasar yang harus dihargai dan dihormati oleh pemeluk agama lainnya. Sebab toleransi bukanlah pekerjaan satu arah dari satu pihak, lebih-lebih jika sudah menyangkut akidah.

5. Menegaskan kembali bahwa :
a. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang menjunjung tinggi etika dan adab dengan jalan memberi teladan dan meneladani. Ing ngarso sung tuladha, yang di depan memberi teladan.
b. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang mengayomi, menghormati pendapat mayoritas, dan menjaga minoritas.
c. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang menolak provokasi, baik oleh kelompok atau perseorangan untuk memecah-belah persatuan Indonesia.
d. Perlu diingat kembali bahwa umat Islam memiliki andil besar dalam kemerdekaan bangsa dan negara ini melalui keterlibatan begitu banyak ulama dan santri dalam menggalang usaha dan doa untuk melawan kolonialisme di Indonesia.

Dan perlawanan kami atas hinaan terhadap agama Islam ini bukanlah bentuk arogansi, melainkan suatu kewajiban yang memang semestinya kami lakukan atas dasar iman. Sebagaimana tidak ada seorang pemeluk agama apapun yang rela agamanya dinistakan dan dihinakan di muka umum. Hal ini kami pahami dari apa yang Islam ajarkan untuk menghargai dan tidak menistakan agama manapun. Kami akan terus menyuarakan ketidakadilan dan melawan segala bentuk upaya memecah belah bangsa dan negara Indonesia.

fsldk-logo

Pernyataan Sikap FSLDK Indonesia

By | Gagasan | No Comments

fsldk-logo

 

Bismihirrahmanirrahim. Segala puji hanya untuk Allah ta’ala, Tuhan Yang Maha Esa. Shalawat beriring salam untuk baginda Rasulullah SAW. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, hari-hari ini tersiar kabar yang cukup mengusik telinga umat Islam. Tertanggal 5 Oktober 2016 ada sebuah video yang diunggah ke youtube dan menjadi viral dalam waktu singkat. Video itu adalah potongan dari pidato gubernur DKI Jakarta Basuki Thahaja Purnama, atau masyhur orang-orang mengenalnya dengan sebutan Ahok. Pidato itu disampaikan di depan warga Kepulauan Seribu. Dalam video tersebut bapak Ahok dengan jelas menyatakan “Bapak ibu ga bisa pilih saya. Dibohongin dengan surat Al Maidah: 51, macem-macem itu. Itu hak bapak ibu”. Entah dengan maksud apa, yang jelas pernyataan ini sudah terlanjur diketahui banyak pihak.

Selama dua hari kami mencoba menunggu sambil mencari informasi yang valid. Apakah video ini asli atau tidak. Dengan maksud agar tidak mengambil sikap yang semakin memperkeruh suasana. Karena memang yang tersebar hanya potongan saja. Akhirnya video lengkap bisa kami dapatkan dan bagian potongan yang tersebar itu memang asli. Rekaman penuh juga hasil dokumentasi dari tim pemprov, dilengkapi dengan lambang kota Jakarta. Dalam pernyataannya Q.S. Al Maidah: 51 diucapkan seolah-olah dijadikan sebagai alat untuk membohongi publik. Begini bapak Ahok, Al Qur’an itu kitab suci kami umat Islam. Keasliannya terjamin, isinya pun terjaga. Maka ketika ada pernyataan yang menyebutkan bahwa ada bagian dari Al Qur’an ini yang dijadikan sebagai alat membohongi maupun membodohi tentu hal ini begitu menyakiti kami sebagai umat Islam. Karena hal ini sudah menyentuh perihal keimanan kami. Dalam hemat kata kami menyimpulkan apa yang bapak ucapkan ini bagian dari tindakan yang melampaui batas. Yang apabila dikorelasikan dengan UU KUHP Pasal 156a hal ini bisa termasuk penodaan agama.

Sebagai umat muslim tentu kami marah dengan hal ini, bukankah bapak juga akan marah apabila agamanya dilecehkan? Namun, tanpa bermaksud menyinggung SARA, agama yang kami imani ini mengajarkan tentang sabar. Sabar itu tidak ada batasnya, petuah dari guru kami, namun bentuknya bisa dipilih. Maka inilah bentuk sabar kami pak Ahok, kami tidak rela agama kami dilecehkan, karena kami sadar saat kami dilarang melecehkan agama lain, berarti hal itu bisa berdampak pada cideranya hati. Inilah bentuk komitmen kami sebagai seorang muslim, sebagai seorang Indonesia. Kami akan menjaga persatuan bangsa dan negara. Seperti halnya yang diajarkan oleh Rasul kami Muhammad SAW, saat beliau sebagai pemimpin mampu mengayomi seluruh umat bergama di Madinah, mengatur hubungannya dalam Piagam Madinah yang lebih dulu ada sebagai konstitusi tertulis, mendahului Magna Carta kerajaan Inggris. Inilah Islam yang diajarkan kepada kami.

Selanjutnya kami sampaikan bahwa, posisi bapak sekarang adalah sebagai seorang Gubernur DKI Jakarta. Pemimpin dari sebuah kota yang merepresentasikan Indonesia. Pemimpin adalah perwajahan dari mereka yang dipimpin. Tentu kita tidak ingin dinilai sebagai warga yang akhlaknya buruk, tindakannya sering melampaui batas, yang -boleh jadi- intoleran, hanya karena tindakan bapak yang di mata umum tidak mencerminkan sikap sebagai seorang pemimpin. Orang akan semakin sadar bahwa teko yang berisi teh hanya akan mengeluarkan teh. Teko yang berisi susu hanya akan berisi susu. Teko yang berisi comberan? Tidak mungkin mengeluarkan yang lain.

Terakhir kami meminta kepada bapak untuk meminta maaf secara terus terang kepada seluruh umat Islam khususnya dan umumnya kepada seluruh masyarakat Indonesia atas tindakan yang menciderai sebagian besar bangsa ini. Karena klarifikasi yang bapak sampaikan di media hari ini tidak akan menyelesaikan masalah. Kami tunggu keberanian bapak. Salam.

Surakarta Hadiningrat, 7 Oktober 2016
Atas nama FSLDK Indonesia

Hanafi Ridwan Dwiatmojo

whatsapp-image-2016-10-03-at-16-59-02

Satu Tahun FSLDK Indonesia Menyerukan Kebangkitan

By | Berita, LDK, Puskomda, Puskomnas, Rilis | No Comments
whatsapp-image-2016-10-03-at-16-59-02

Salah satu kegiatan GSJN di Kal-Bar bersama Walikota Pontianak

Surakarta (1-2/10) – Tanggal 1-2 Oktober 2016 menjadi sejarah bagi bangsa Indonesia, khususnya bagi Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia. Bertepatan dengan 1 Muharram 1438 H, FSLDK Indonesia telah genap satu tahun menyelenggarakan Gerakan Subuh Jamaah Nasional (GSJN) yang digelar serentak di berbagai titik penjuru Indonesia setiap bulannya. GSJN adalah satu gerakan yang menekankan pada keistiqomahan dalam menjalankan sholat subuh secara berjamaah.

FSLDK Indonesia meyakini bahwa gerakan ini adalah syarat perubahan dan kebangkitan karena mendasarkan pada gerakan mahasiswa dengan ciri khas dan potensinya. Maka sudah saatnya masjid kampus adalah destinasi yang diutamakan menuju kebangkitan. Bukan berarti kami menutup mata dengan masyarakat umum dan masjid jami’ di luar kampus, tetapi pelan tapi pasti FSLDK Indonesia mencoba  menggandeng pemerintah dan ormas untuk ikut menginisiasi atau menyemarakkan agenda ini di seluruh elemen masyarakat.

Pada edisi satu tahun atau GSJN ke 13 ini , tema yang diusung adalah “Bangkit untuk Berjaya. Membangun Peradaban Indonesia”. Masih linier dengan tema satu tahun yang lalu saat gerakan ini di-launching, yaitu “Dari Masjid Peradaban Indonesia Bangkit”. Tema ini menggambarkan satu mimpi dari gerakan ini khususnya, bahwa peradaban emas Indonesia hanya akan bangkit saat Islam berdiri tegak di negeri ini. Walaupun secara de facto Indonesia adalah negara muslim terbesar, namun implementasi Islam sebagai jalan hidup masih sangat kurang. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai agent of change harus mengambil perannya, khususnya mahasiswa muslim (red: aktivis dakwah kampus). Maka tidak salah kiranya ketika gerakan ini pada awal kelahirannya dan sampai berkembangnya nanti InsyaAllah, akan tetap menitik beratkan masjid kampus dan mahasiswa sebagai representasi semangat juang Islam pada ranah akademisi, kaum intelektual, calon-calon pemimpin bangsa, dan tentunya penggerak perubahan.

GSJN kali ini diselenggarakan di 36 titik di Indonesia dengan lebih dari 40 masjid kampus penyelenggara yang diantaranya, Masjid Kampus Universitas Bangka Belitung, Universitas Mulawarman, Universitas Negeri Gorontalo, dan  Salman ITB Bandung. Tiga puluh enam titik penyelenggara ini merupakan jumlah terbanyak selama setahun penyelenggaraan. Lebih dari 3.000 jamaah yang hadir dalam GSJN kali ini. Hal ini menunjukkan meningkatnya kembali jumlah peserta dari GSJN sebelum-sebelumnya. Infaq yang terkumpul tidak kurang dari  Rp 7.000.000,- yang seperti biasa akan didonasikan untuk Palestina melalui Komisi Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP).

Seperti bulan-bulan sebelumnya , untuk menggaet massa masing-masing daerah memiliki cara yang berbeda-beda, mulai dari publikasi masif melalui media, sosialisasi ke beberapa komunitas atau forum, maupun dengan menambah pernak-pernik lain seperti sarapan gratis, doorprize dan sebagainya. Unsur pelaksananya pun telah berkembang, tidak hanya kampus saja namun juga sudah merambah ke pemerintah dan masyarakat. Dukungan positif untuk gerakan ini sudah mulai banyak terlihat, baik dari para tokoh seperti rektor, pejabat, hingga novelis sekelas Habiburrahman El Shirazy. Dukungan penuh dari para ulama, ormas, dan civitas akademika ikut menyemarakkan agenda gerakan subuh jamaah ini.

“Mengapa banyak manusia sebagai makhluk Allah yang notabene paling sempurna yang dilengkapi dengan akal fikir sempurna tidak mensyukuri nikmat, tidak tulus dan serius dalam beribadah dan memurnikan keimanan kepada sang pencipta-Allah SWT? Subuh on time pertanda syukur dan kuatnya iman seseorang, maka marilah kita mulai aktivitas sehari-hari dengan subuh berjamaah di masjid semoga keberkahan dan rahmat Allah selalu tercurahkan pada kita semua.”, terang Prof. Drs. Sutarno, M.Sc, Ph.D selaku Wakil Rektor Bidang Akademik UNS yang sangat adanya agenda GSJN ini.

Noval Abuzarr, S.Pd (Koordinator Presidium Pemuda Djayakarta) juga memberikan apresiasinya kepada FSLDK Indonesia yang telah mengawal syiar subuh ini dan berkembang sampai berusia satu tahun penyelenggaraan  melalui penyampaiannya “Apresiasi besar buat FSLDK yang mengadakan GSJN, di tengah anak muda yang makin hedonis masih ada anak-anak muda Muslim yang makin religius dan komitmen menegakkan nilai-nilai Tauhid dan bermasyarakat”.

Terdapat hal yang berbeda pada edisi milad satu tahun ini yaitu adanya video conference penyampaian progress pelaksanaan GSJN sejak Oktober 2015 lalu. Surakarta (Solo) yang merupakan salah satu titik pelaksana GSJN sekaligus sebagai Pusat Komunikasi Nasional (Puskomnas) FSLDK Indonesia dipilih menjadi tempat diselenggarakannya video conference tersebut.  Video conference yang dilaksanakan pada pukul 20.00 WIB ini saksikan pula oleh 35 FSLDK yang lainnya. Dalam laporannya, Hanafi Ridwan sebagai Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia menyampaikan bahwa “Grafik menunjukkan bahwa jumlah peserta/jamaah GSJN di semua masjid penyelenggara terjadi fluktuasi di tiap bulannya selama setahun ini. Tinggi pada awal dilaunchingnya, sempat turun, naik lagi di pertengahan, dan saat ini mulai naik lagi. Inilah yang akan tetap kita pantau, keistiqomahan menjadi poin yang harus dimiliki oleh seorang aktifis muslim. Kita berharap hingga suatu saat nanti, gerakan subuh jamaah ini berjalan sebagai sebuah kebiasaan sebagai salah satu sarana mencetak pemimpin besar bangsa ini. Mohon doa dari asatidz, rektor, pimpinan perguruan tinggi, dan umat Islam pada umumnya agar 15-20 tahun lagi kami siap memimpin Indonesia. Saatnya berproses bangkit. Bangkit untuk berjaya. Membangun peradaban Indonesia.”

Melalui keistiqomahan inilah, FSLDK Indonesia ingin menyampaikan bahwa sholat shubuh di masjid menjadi salah satu sarana terbaik untuk menumbuhkan semangat juang dan kepemimpinan seorang muslim. Maka kelak, harapannya oang-orang yang menjadi bagian dari GSJN ini nantinya siap inisiator-inisiator kebaikan di lingkungannya dan memegang peranan sentral bagi bangkit jayanya peradaban di Indonesia.

Lihat juga rilis lainnya di :

1 Tahun Gerakan Subuh Jamaah Nasional FSLDK serukan kebangkitan Islam

http://www.kiblat.net/2016/10/03/1-tahun-gerakan-subuh-jamaah-nasional-fsldk-serukan-kebangkitan-islam/

Satu Tahun FSLDK Serukan Kebangkitan

http://m.hidayatullah.com/none/read/2016/10/03/101924/satu-tahun-fsldk-indonesia-menyerukan-kebangkitan.html

FSLDK Peringati Setahun Konsistensi Gerakan Subuh Jamaah Berjamaah

http://solo.tribunnews.com/2016/10/01/fsldk-peringati-setahun-konsistensi-gerakan-subuh-berjamaah-di-masjid-nurul-huda-uns

FSLDK Gelorakan Gerakan Subuh Jamaah Nasional

http://www.timlo.net/baca/68719685888/fsldk-gelorakan-gerakan-subuh-jamaah-nasional/

FSLDK Gelorakan Gerakan Subuh Jamaah Nasional

http://news.babe.co.id/8598471⁠⁠⁠⁠

whatsapp-image-2016-09-28-at-13-32-02

Satu Tahun Gerakan Subuh Jamaah Nasional, FSLDK Indonesia Menyerukan Kebangkitan

By | Berita, LDK, Puskomda, Puskomnas, Rilis | No Comments

whatsapp-image-2016-09-28-at-13-32-02

Sabtu-Ahad, 1-2 Oktober akan menjadi sejarah bagi bangsa Indonesia umumnya, dan khususnya bagi Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia. Karena tepat pada tanggal tersebut bersamaan dengan 1 Muharram 1438H, satu tahun telah berlangsung Gerakan Subuh Jamaah Nasional (GSJN). GSJN adalah satu gerakan yang menekankan pada keistiqomahan dalam menjalankan sholat subuh berjamaah, dan karena mendasarkan pada gerakan mahasiswa maka masjid kampus adalah destinasi yang diutamakan. Bukan berati menutup mata dengan masyarakat umum dan masjid jami’ di luar kampus, karena pelan tapi pasti FSLDK Indonesia mencoba untuk menggandeng pemerintah dan ormas untuk ikut menginisiasi atau menyemarakkan agenda ini.

Pada edisi milad satu tahun GSJN ini, tema yang diusung adalah “Bangkit untuk Berjaya. Membangun Peradaban Indonesia”. Masih linier dengan tema satu tahun yang lalu saat gerakan ini di-launching, yaitu “Dari Masjid Peradaban Indonesia Bangkit”. Tema ini menggambarkan satu mimpi dari gerakan ini khususnya, bahwa peradaban emas Indonesia hanya akan bangkit saat Islam berdiri tegak di negeri ini. Walaupun secara de facto Indonesia adalah negara muslim terbesar, namun implementasi Islam sebagai jalan hidup masih sangat kurang. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai agent of change harus mengambil perannya, khususnya mahasiswa muslim (red: aktivis dakwah kampus). Maka tidak salah kiranya ketika gerakan ini pada awal kelahirannya dan sampai berkembangnya nanti InsyaAllah, akan tetap menitik beratkan masjid kampus dan mahasiswa sebagai representasi semangat juang Islam pada ranah akademisi, kaum intelektual, calon-calon pemimpin bangsa, dan tentunya penggerak perubahan.

GSJN ke-13 kali ini diselenggarakan di 35 titik di Indonesia diantaranya Jambi, Pontianak, Sulawesi Tenggara, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. GSJN kali ini diselenggarakan *di lebih dari 40 kampus diantaranya Universitas Bangka belitung, STEI SEBI, ITB, STKIP PGRI Ngawi, IKIP PGRI Pontianak, Universitas Mulawarman, dan Universitas Siliwangi. Jumlah tersebut adalah yang terbanyak selama setahun penyelenggaraan. Unsur pelaksananya pun telah berkembang, tidak hanya kampus saja namun juga sudah merambah ke pemerintah dan masyarakat. Dukungan positif untuk gerakan ini sudah mulai banyak terlihat, baik testimoni langsung dari para tokoh seperti Rektor Universitas Bangka Belitung, Rektor STIKES Mandala Waluya Kendari, Rektor IKIP PGRI Pontianak, Kepala Kawil Kemenag Sulawesi Tenggara, Walikota Pontianak, sampai Novelis Habiburrahman El Shirazy. Dukungan penuh dari para ulama, ormas, dan civitas akademika ikut menyemarakkan agenda gerakan subuh jamaah ini. Untuk menggaet massa masing-masing daerah memiliki cara yang berbeda-beda, mulai dari publikasi masif melalui media, pencerdasan, maupun dengan menambah pernak-pernik lain seperti sarapan gratis, doorprize dan sebagainya.

Melihat antusias warga kampus maupun masyarakat dan pemerintah pada umumnya sudah mulai marak terhadap gerakan ini, maka FSLDK Indonesia akan lebih giat dalam berupaya mewujudkan mimpi untuk membangkitkan peradaban Indonesia melalui ruh keislaman,khususnya pada Gerakan Subuh Jamaah Nasional ini. Tentu untuk membangun peradaban Indonesia yang begitu besar, satu forum mahasiswa saja tidak akan cukup. Oleh karena itu FSLDK Indonesia mengajak semua unsur ormas islam, gerakan mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam menyemarakkan gerakan ini, bukan hanya sebulan sekali tetapi harapannya bisa setiap hari. Dengan demikian langkah terakhir hanya tinggal memasrahkan semua hasil pada Allah atas segala usaha. Semoga Allah ta’ala meridhai dan menolong bangsa ini.

no image added yet.

Kami Menolak Lupa!

By | Gagasan | No Comments

Penulis: Hanafi Ridwan D.

Hari ini tertanggal 30 September, tepat saat sholat jumat hujan deras mengguyur kota Surakarta. Menganalogikan langit menangis mungkin berlebihan. Tapi tak bisa dipungkiri hari ini (seharusnya) menjadi hari berduka bagi bangsa Indonesia, khususnya umat Islam. Tepat 51 tahun yang lalu telah pecah pemberontakan PKI terhadap pemerintah Indonesia. Mahsyur pada ingatan bangsa Indonesia bahwa pada 30 September 65 adalah dibantainya dengan biadab jendral dan perwira TNI. Sebelum dibunuh, mereka disiksa dan diperlakukan lebih rendah dari binatang. Jasadnya ditumpuk bagai sampah pada lubang sumur sempit di Lubang Buaya.

Namun sebagai seorang muslim, seharusnya ingatan kita terbuka lebar ke belakang. Fakta tidak bisa ditutupi, sejarah tidak bisa dihapus, bahwa dalam parade pemberontakan kaum komunis yang menjadi tumbal mayoritas adalah kaum muslimin. Ini memang bukan sebuah perwujudan ungkapan “mata dibalas dengan mata”. Tapi ini adalah bentuk kemarahan terhadap kebiadaban yang menimpa kaum muslimin. Saat genangan darah menyentuh mata kaki. Saat tubuh digergaji, diterjang palu arit, disiksa sampai mati. Juga saat patriot yang dituduh penghianat negara untuk sebuah legalisasi eksekusi.

Untuk setiap darah yang tertumpah. Untuk setiap air mata yang mengalir, membanjir. Untuk setiap jiwa yang direnggut paksa. Kami menolak lupa! Karena dalam jiwa dan pikiran kami, bendera setengah tiang akan tetap berkibar sebagai tanda duka. Pemalang Siantar, Jakarta, Semarang, Madiun, Solo, adalah satu diantara sekian banyak saksi sejarah yang telah melintas zaman. Kami tidak akan diam berpangku tangan untuk setiap ancaman pada keutuhan dan kedaulatan NKRI. Karena negeri ini adalah warisan perjuangan para pejuang, ulama, dan santri. Semogalah engkau para pejuang muslim, ulama dan santri yang telah gugur dalam pembelaan tercatat sebagai syahid fi sabilillah dan Allah berkenan menerima ruh yang kembali dalam kedamaian.

whatsapp-image-2016-09-28-at-13-32-02

GSJN #3 Spesial 1 Tahun

By | Berita, GSJN, LDK, Puskomda, Puskomnas | No Comments

whatsapp-image-2016-09-28-at-13-32-02

Assholatu khoirun min an-naum
Sholat lebih baik dari tidur

Tidak umum terdengar, paling hanya sehari sekali. Terdengar saat dini hari, banyak mata terpejam dan tidak peduli.

Tetapi, sebuah istana megah bernama madain dibuka oleh kaum muslimin, dibawah pimpinan seorang khalifah yang gagah perkasa namun sederhana. Kota berbenteng, tidak tertaklukan dalam pertempuran berabad abad, dibuka oleh pemuda tanggung pemberani. Di masa itu, ummat muslim sangat akrab dengan seruan itu, sangat sering mendengar lantunan khusus dalam adzan tersebut.

Ummat merindukan kejayaan, memimpikan terwujudnya cita era gemilang. Maka kami hadirkan sebuah inspirasi dan cinta kami untuk ummat, Gerakan Shubuh Jamaah Nasional (GSJN).

Hampir genap setahun FSLDK Indonesia berusaha menjaga ruh semangat GSJN bersama 37 FSLDK daerah sebagai usaha untuk melangkah menuju peradaban mulia yang bermula dari masjid.

Dan kali ini, FSLDK Indonesia kembali hadir dengan GSJN #13 yang bertajuk Milad GSJN 1 Muharram 1438 H dengan tema “Bangkit Untuk Berjaya, Membangun Peradaban Indonesia”. GSJN#13 ini akan dilaksanakan pada tanggal 1-2 Oktober 2016 serentak di 35 titik di Indonesia.

Mari kita terus sambut seruan suci ini. Untuk bangkit. Untuk berjaya. Untuk peradaban Indonesia.

e382aae38390e3839ee381aee3818ae8be9ee58480

Berlelah-Lelah di Tempat Yang Salah

By | Inspirasi, Puskomnas | No Comments
e382aae38390e3839ee381aee3818ae8be9ee58480

Sumber Gambar: copypastenih.files.wordpress.com

Penulis: M. Syukri Kurnia Rahman

Tadi pagi pas sholat ied, ada bocah ingusan lari-lari di sepanjang muka sajadah. Dari ujung shaff ke ujung yg lain, nabrakin apa aja yg jadi pengganggu “jogging” paginya. Asik kali ya, pas sholat lari-lari, selesai sholat liat orang nyembelih sapi. Hajar terus, son!

Lama-lama bocah ini mendekat ke sajadah saya. Di ujung sajadah itu udah ada kacamata yg saya lepas dari kepala. Kalo keinjek, lumayan juga. Lagian saya pikir, bocah ini harus segera dihentikan sebelum banyak korban yg berjatuhan. Maka tepat sebelum kakinya menjejak sajadah saya, saya hadang dia dengan tangan saya. “Udah dek, hentikan semua sandiwara ini!!” Kira-kira begitu. Haha.

Dia berhenti sejenak. Maju-mundur nggak jelas. Mau maju, kehadang tangan. Mau mundur, tengsin lah ya. Awkward moment tak bisa dihindarkan. Begitu tangan saya saya lepas, dia nyelonong aja tanpa dosa. Kabur. Setelah menghilang entah kemana, eh si unyil ini balik lagi, tapi sekarang doi nangis sambil manggil-manggil bapaknya.

“Aaaayyaaaahhh”

Ternyata dari tadi bocah ini mondar mandir nyari bapaknya. Baru ngeh gue. Masalahnya, ini baru permulaan rokaat kedua, dan imamnya lagi baca surah An-Naba’. Bakal panjang pencarian lu, nyil. Jadilah dia nangis sampai salam, sambil mondar mandir di sekitar shaff saya. Selesai salam, sang bapak segera berdiri dan menghampiri sang anak.

Ini yg membuat saya geleng2 kepala: tempat sholat sang bapak ternyata persis ada di depan shaff saya. Jadi sebenarnya sepanjang pencariannya tadi, bocah ini udah ngelewatin bapaknya berkali-kali! Tapi karena doi lewat di belakangnya, jadilah wajah sang bapak tak terdeteksi. Ketemunya cuma sama sarung. Dia hafal wajah bapaknya, tapi tidak dengan sarung yg beliau pakai pagi itu. Haha.

Nah selama ini, bisa jadi kita kayak gitu juga sama Allah. Kita kayak ngerasa lg nyari Allah, padahal kita salah jalur. Kita berlelah-lelah di tempat yang salah.

Saya pernah kenal sama mahasiswa semester 3 yang ngerasa hidupnya kok datar2 aja. Nggak ngerasain asiknya kejutan2 baru gitu. Dia pikiriiiiiin terus gimana caranya biar hidupnya berwarna. Tapi teteeeep aja nggak ketemu jawabannya. Akhirnya dia sadar kalo dia salah. Selama ini dia cuma ngandalin otak, padahal yg bisa ngabulin keinginannya adalah Allah, bukan itu otak. Maka dia putusin buat cari Allah. Datenglah dia ke ATM. Ngapain? Cari Allah di ATM? Bukan, tapi nguras duit. Diambil lah semua duit yg ada di atm nya. Abis itu dia sumbangin semua ke panti asuhan. Dia cari Allah disana. Eh, bener.. Nggak lama setelah itu, doi dapet kesempatan buat keliling indonesia gratis. Sama Allah diterbangin dari ujung barat sampai ke hampir ujung timur Indonesia. Kok bisa? Gimana caranya? Namanya juga keajaiban, yawis jangan dipikir. Jalani aja. Sama kayak ibrahim mau nyembelih ismail, mau dipikir kayak gimana juga tetep nggak masuk akal. Masa iya Allah nyuruh bapak nyembelih anaknya sendiri? Tapi ibrahim udah “ketemu” sama Allah. Dia yakin itu perintah Allah, jadi ya dia jalan aja. Dan bener kan, ibadah qurban kita saat ini berawal dari keajaiban yg dialami Nabi Ibrahim saat itu.

Jadi udahlah.. Saatnya kita berhenti untuk berlelah2 di tempat yang salah. Sekarang waktunya kita bersibuk ria di track yg tepat. Jalani saja kewajiban dari Allah, biar hidup kita enteng tapi berkelas. Santai tapi berkualitas.

Bayangin kalau kita sibuk kerja siang malem sampai lupa sholat. Begitu uang milyaran udah di depan mata, trus sama Allah kita dibuat kena stroke, mau apa lagi? Capek iya, nikmatin enggak.

Jare wong malang, lak yo tewur to sam.

whatsapp-image-2016-09-12-at-07-21-56

Menuju 30.000 Generasi Baru FSLDK Indonesia

By | Puskomnas | 2 Comments

whatsapp-image-2016-09-12-at-07-21-56

Penulis: Hanafi Ridwan Dwiatmojo

Memasuki usia 30 tahun, Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia bertekad untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas anggotanya untuk lebih istiqomah dalam mencetak calon pemimpin bagi bangsa Indonesia. Dalam usia 30 tahun ini, FSLDK memproklamirkan suatu program yang diharapkan dapat menambah kapabilitas para anggotanya dalam kebermanfaatan bagi umat. Program tersebut diberi nama 30.000 Generasi Baru FSLDK Indonesia. Program ini adalah suatu program yang dicanangkan oleh FSLDK Indonesia dalam rangka untuk meningkatkan semangat dan kreativitas kaderisasi LDK seluruh Indonesia dalam menjaring mahasiswa-mahasiswa muslim baru agar bergabung bersama FSLDK Indonesia.

Mengapa program ini penting untuk setiap LDK? Karena kaderisasi bisa diibaratkan sebagi jantungnya sebuah organisasi, tanpa adanya kaderisasi rasanya sulit dibayangkan suatu organisasi mampu bergerak maju dan dinamis. Sebagai salah satu lembaga yang menginisiasi perubahan bangsa, FSLDK Indonesia bergerak melaju dalam ranah perbaikan pemuda khususnya mahasiswa. FSLDK Indonesia melalui bermacam tahapan telah menorehkan berbagai prestasi di lebih dari 700 Lembaga Dakwah Kampus dan 32.000 Aktivis Dakwah Kampus yang tersebar diseluruh penjuru Indonesia. Mereka telah mampu menciptakan perubahan-perubahan perbaikan di seluruh baik kecil maupun besar.

Banyak aktifis dakwah yang mendapat prestasi yang membanggakan. Ada yang mendapat IPK 4,00 yaitu Rian Mantasa Salve, aktivis JN UKMI UNS angkatan 2011, atau Akhmad Rapiudin aktivis LDK UKMI Ad-Dakwah Universitas Sumatera Utara meraih The 1st Best Essay Presentations diselenggarakan oleh World Universal Peace Federation di Historic Manila Hotel, Philipinnes pada Asian Summit 2015 yang diikuti 112 Negara dari seluruh Asia, ada juga nama Puguh dari LDK Jama’ah Al-Anhar UMY yang melancong ke berbagai penjuru negeri, termasuk Bali dan Lombok dengan 100.000 – 250.000, serta masih banyak aktivis-aktivis LDK lainnya yang memiliki segudang prestasi baik akademik maupun non-akademik lainnya. Selain itu banyak juga aktifis dakwah kampus yang menjadi Presiden Mahasiswa di berbagai universitas di tanah air. Mereka yang bertugas menjaga dan mengadvokasi hal-hal yang berkaitan dengan nilai maupun syariat Islam di tengah mahasiswa umum. Ini semua membuktikan bahwa mereka semua layak dan siap untuk memimpin negeri ini. Inilah yang disebut sebagai Ruh Pembaharu di tanah air Indonesia.

“Berkarya untuk Indonesia” merupakan slogan bagi FSLDK Indonesia untuk dapat lebih berkontribusi pada negeri ini. Maka dari itu diharapkan Program 30.000 Generasi Baru FSLDK Indonesia akan dapat membuat mahasiswa-mahasiswa muslim Indonesia berlomba untuk bergabung dengan FSLDK Indonesia.

footballwallpapers-sepak-bola-daez

Sepak Bola dan Pesan Kemanusiaan

By | Gagasan, Puskomnas | No Comments
footballwallpapers-sepak-bola-daez

Sumber Gambar: www.iberita.com

Penulis: Hanafi Ridwan Dwiatmojo

Apa yang pertama kali terlintas di pikiran kita saat ditanya tentang sepak bola? Ya, sepak bola. Olah raga paling populer di planet ini. Olah raga ini tidak memandang “kasta”, dia bisa dimainkan siapa saja. Kembali ke pertanyaan tadi, pasti akan ada banyak jawaban tentang sepak bola. Mulai dari bola sampai piala dunia. Dari sekedar olah raga sampai gengsi yang bertaruh harga diri. Sepak bola memang membawa banyak arti. Lalu bagaimana awal mula olah raga ini dikenal manusia dan perkembagannya hari ini?

Diteliti oleh FIFA sebagai otoritas tertinggi sepak bola dunia, awal mula sepak bola berasal dari negeri China. Olah raga ini mulai ada pada abad ke-2 dimasa dinasti Han. Dikenal dengan nama Tsu Chu yang berarti bermain dengan menggiring bola kulit kemudian memasukkan bola kedalam jaring berukuran kecil. Dimasa itu tujuan sepak bola adalah untuk melatih fisik para tentara dan biasanya sepak bola juga dimainkan saat ulang tahun kaisar. Selain China, negara-negara yang memiliki sejarah tentang awal mula sepak bola diantaranya adalah Jepang, Inggris, dan Romawi.

Sepak bola terus berkembang melewati ruang dan waktu. Beradaptasi dengan zaman yang semakin modern. Perhelatan kompetisi pun lengkap dari sepak bola amatir level tarkam sampai level profesional di piala dunia. Piala dunia adalah kompetisi paling bergengsi yang memperebutkan mahkota raja sepak bola di level negara. Namun, dewasa ini ada hal “tidak biasa” yang mewarnai sepak bola. Sepak bola tidak lagi berkutat pada kompetisi. Memperebutkan piala maupun memuncaki klasemen. Hari ini sepak bola bisa menjadi sebuah alat pengirim pesan yang sangat efektif. Pesan ini bisa disampaikan oleh para pemain maupun mereka yang tergabung dalam tifosi.

Sejenak menengok tulisan sebelumnya pada “Omran, Celtic, dan Sekeping Kemanusiaan”, sudah ada sedikit contoh tentang fungsi baru sepak bola ini. Lalu setelahnya, peran baru yang diemban sepak bola ini semakin populer di mata publik. Peran sebagai pembawa pesan kemanusiaan. Salah satu pesan kemanusiaan yang dikirimkan adalah dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Celtic pada kemengangan 5-2 atas Hapoel Beer Sheva mungkin bukan yang mengawali, tapi boleh jadi mereka yang telah mempopulerkan. Bahkan ketika UEFA memberikan denda pun mereka tidak menggubris, malah melakukan galang dana untuk Palestina yang menghasilkan lebih dari 75 ribu pounds. Setelahnya ada St. Etiene dari Perancis yang mengikuti ketika melawan Beitar Jerusalem. Dan yang terbaru ditunjukkan oleh suporter tim nasional Indonesia.

Tertanggal 4 September 2016, untuk pertama kalinya setelah terbebas dari hukuman FIFA, akhirnya timnas Indonesia dapat menyelenggarakan pertandingan persahabatan. Kali ini yang menjadi sparing partner adalah negeri tetangga, Malaysia. Suasana rivalitas begitu kental ketika harus bertemu negeri jiran ini. Padahal Indonesia dan Malaysia adalah negara dengan penduduk mayoritas muslim dan secara rumpun masih dekat dari garis persaudaraan melayu. Namun di pertandingan kemarin aroma perseteruan tidak terlalu tercium. Malah ada pertunjukan mengejutkan yang dipertontonkan oleh tifosi pasukan Garuda, kali ini dipelopori Pasoepati, suporter Persis Solo.

Memenuhi tiga tribun stadiun manahan, sekitar 20.000 manusia memperagakan koreografi yang mengundang decak kagum penonton yang lain. Peragaan kata Garuda menjadi tampilan pembuka, dilanjut dengan sang saka Merah-Putih yang disambut sorak sorai, lalu pertunjukan yang tidak diduga pun muncul di akhir, formasi bendera Palestina! Sontak riuh ramai tepuk tangan pun menyambutnya dan kamera-kamera handphone menjalankan tugasnya dengan sempurna. Sejenak setelah pertandingan berakhir, pesan yang disampaikan suporter Indonesia pun langsung viral di media sosial. Dari Solo untuk Indonesia dan Palestina.

Inilah fungsi baru sepak bola hari ini. Sekarang ia tak hanya berkaitan dengan kompetisi dan gengsi. Tapi merambah pada rasa hormat dan peduli. Football teach us about respect and humanity. Terlepas motif dan niat apa yang ada dibaliknya, entah psywar, sekedar mengikuti tren, atau benar-benar peduli dari dalam hati, bagi saya itu tidak terlalu penting. Karena yang lebih penting adalah, dunia melihat Palestina! Dan beriring harap berangkat dari sana, akan lebih banyak lagi hati yang tergerak untuk peduli.

Ditulis dalam perjalanan menuju Solo, dihari ke-10 bulan September.

Categories