Bertanya Tentang Merdeka

Bertanya Tentang Merdeka

IMG-20150816-WA0022

Sumber Gambar: Dokumen Puskomnas FSLDK Indonesia

Satu hari menjelang peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus, elemen mahasiswa UNS yang terdiri dari Pusat Komunikasi Nasional Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Indonesia (Puskomnas FSLDK Indonesia), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seluruh UNS, Pusat Komunikasi Daerah Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Solo Raya (Puskomda FSLDK Solo Raya), Jama’ah Nurul Huda Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (JN UKMI), Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) UNS, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat UNS, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat UNS, serta berbagai elemen mahasiswa yang lain menggelar malam refleksi dengan tajuk “Bertanya Tentang Kemerdekaan”.

Refleksi 70 tahun kemerdekaan ini digagas oleh BEM UNS dan Puskomnas FSLDK Indonesia. Acara ini dilaksanakan di Gerbang Depan Kampus UNS pada pukul 19.30 hingga selesai. Acara ini diisi dengan kegiatan menyalakan lilin harapan 70 tahun Indonesia merdeka, pembacaan surat Al-Anfal, Al-Kahfi, dan Al-Fath bersama-sama, oras-orasi, teatrikal, dan refleksi kemerdekaan, serta doa penutup. Diharapkan dengan diadakannya acara ini bisa menggugah kesadaran dan memerdekakan pola pikir mahasiswa, sehingga kemerdekaan Indonesia yang hakiki bisa diperoleh di tangan mahasiswa yang sadar dan merdeka. Sadar dengan kewajibannya kepada Tuhan, agama, bangsa, dan sesama manusia, dan merdeka secara pola pikir, cara pandang, dan kreativitas.

Massa mulai berkumpul di Gerbang Depan Kampus UNS pada pukul 19.30, dengan membawa spanduk aksi dan lilin. Acaa diawali dan dipandu oleh MC dari BEM UNS, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ bersamaan dengan menyalakan lilin harapan. Kemudan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Kemudian, diteruskan dengan serangkaian orasi yang diawali oleh Muhammad Syukri Kurnia Rahman, selaku Ketua Puskomnas FSLDK Indonesia, yang menyampaikan bahwa kemerdekaan yang hakiki, akan dapat terjadi dengan mengubah cara pandang, tidak fokus berpikir dan merenungi masalah, tetapi berfokus pada solusi. Tentu saja, solusi kemerdekaan Indonesia ada di tangan generasi muda. Maka, generasi muda, para mahasiswa harus mampu menyelesaikan masalah-masalah mereka sendiri.

Setelah pembukaan dari orasi dan pembukaan dari pimpinan lembaga nasional, acara dilanjutkan dengan orasi dari Ketua Puskomda FSLDK Solo Raya, Nugroho Sunu  Pratama, yang menyampaikan urgensi pemuda dan mahasiswa secara khusus. Beliau mencontohkan bagaimana seorang lumpuh dari Palestina, Syaikh Ahmad Yasin berhasil menjadi inspirator bangsa Palestina guna memerdekakan diri dari cengkraman penjajah Zionis Israel. Kemudian dilanjutkan dengan orasi dari Ketua Komisariat KAMMI UNS, saudara Hisyam Latif, yang menyampaikan makna perjuangan dari para pemuda, yang harus dilakukan, dan direalisasikan. Dilanjutkan dengan orasi dari berbagai Badan Eksekutif Mahasiswa yang diawali orasi dari perwakilan BEM Fakultas Teknik, yang menyampaikan terjajahnya negeri ini dengan dirampoknya seluruh sumber daya alam dan kedaulatan bangsa.

Puncak acara adalah pelaksanaan teatrikal dan pembacaan puisi ‘Pahlawan Pemberani’ karya Chairil Anwar. Aksi teatrikal dan pembacaan puisi ini dilakukan oleh elemen-elemen Badan Eksekutif Mahasiswa, sekaligus puncak acara dan pembuka orasi dari Presiden BEM UNS, Eko Pujiyanto. Dalam orasinya, beliau menyoroti soal realitas yang bertentangan dengan makna kemerdekaan. Bahwa pada realitanya, kemerdekaan yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 hanyalah formalitas. Karena pada dasarnya, setiap jengkal negeri Indonesia masih berada dalam kungkungan asing dan Aseng. Mulai dari sektor kebutuhan pokok hingga industri berskala besar dan multinasional di berbagai bidang seperti minyak dan gas (migas), perhutanan, dan kelautan. Kemudian rangkaian orasi dilanjutkan kembali oleh perwakilan dari BEM Fakultas Pertanian, yang menyoroti penjajahan di sektor pangan. Lalu, diteruskan orasi dari perwakilan HMI Komisariat UNS, yang menyoroti peran mahasiswa Islam.

Di akhir acara, dilaksanakan refleksi 70 tahun Indonesia Merdeka, yang dipimpin oleh Hanafi Ridwan Dwiatmojo, selaku Ketua Komisi A Puskomnas FSLDK Indonesia dan koordinator lapangan. Dengan diiringi lagu ‘Darah Juang’ yang dinyanyikan seluruh peserta, beliau menyampaikan berbagai ironi yang terjadi di negeri ini, berbagai masalah, dan ditutup dengan solusi, bahwa pemuda merupakan solusinya, jika perjuangan yang dilakukan pemuda dilandasi dengan niat tulus pengabdian kepada Allah SWT, agama, bangsa, dan negara. Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Kholid Shibgatullah Rabbani, Wakil Presiden BEM UNS 2014, dan anggota Komisi A Puskomnas FSLDK Indonesia.

-FSLDK Indonesia-

Categories