Atje Voorstad, Srikandi Terbaik di Samarinda

Atje Voorstad, Srikandi Terbaik di Samarinda

Atje Voorstad

Atje Voorstad, nama ini memang terdengar asing. Namun pemilik nama ini merupakan salah satu srikandi terbaik di Samarinda. Kisah perempuan berdarah Indo-Belanda ini tidak terlalu diketahui oleh banyak orang. Bliau merupakan tokoh yang berjasa dalam pendidikan di kota amplang ini.

Atje Voorstad memang tidak dibesarkan di Samarinda. Atje datang ke Samarinda bersama dengan suaminya Raden Rawan. Pada saat pindah ke Samarinda Atje menjadi seorang mualaf dan mengganti namanya menjadi Aminah. Pernikahanny tidak berlngsung langgeng, hingga akhirnya memutuskan untk berpisah.

Aminah kmudian menikah dengan seorang pria bernama M.Yacob, dari beberapa sumber menyatakan bahwa pernikahanny pun tidak bertahan. Namun bersma dengan M.Yacob, Aminah mendirikan Meisje School (Sekolah Kepandaian Putri). Sekolah yang bliau dirikan merupakan bentuk perlawanan pada intervensi kolonial Belanda (1928) yang mengambil alih Hollandsch Inlandsche School (sekolah ningrat pribumi).

Pada akhirnya aminah menikah lagi dengan Sjoekoer. Sehingga namanya menjadi Aminah Sjoekoer. Bersama dengan Sjoekoer Aminah semakin bersemangat untuk mengajar. Bliau wafat pada tanggal 3 Maret 1968 di Jakarta. Jasadny di pindahkan di Taman Makam Pahlawan Samarinda, pada saat Kadrie Oening menjadi Walikota Samarinda.

Tidak banyak literatur yang menceritakan sejarah perjuangan Aminah Sjoekoer. Namanya di abadikan sebagai nama jalan di salah satu ruas jalan Samarinda, dan juga sebagai nama sebuah sekolah, yang diperkirakan sebagai tempatny mengajar dulu.

“Bekerjalah kamu hingga Allah dan Rosulnya, serta orang2 muslim yang menyaksikan.”

Dari kisahnya ada pelajaran yang didapat, diantarany adalah kegigihan untuk terus berjuang di antara ujian2 hidup pribadi yg dihadapi. Butuh keuletan, kesabaran serta niat yg ikhlas dlm memperjuangkan sebuah kebaikan. Aminah Sjoekoer yg tak banyak di kenal riwayatnya, memberikan aksi nyata dengan mendirikan sekolah sebagai perlawananny terhadap Belanda.
Semoga menginspirasi untk terus berkarya.

Salam :
Nurvita Widya P.
Jarmusda Kaltim-Tara

Join the discussion 2 Comments

  • Ellie Hasan says:

    Salam,

    Baiknya tulisan ini dilengkapi referensi yang lengkap sebagai etika penulisan yang benar. Sayang sekali banyak penulis blog bahkan penulis di surat kabar harian dan media resmi lainnya yang sering mengabaikan pencantuman referensi, seakan-akan tulisan tersebut diolah berdasarkan usaha/upaya penelusuran dari penulisnya sendiri. Ayo jadi penulis yang memiliki integritas :)

    • admin says:

      Terima kasih atas masukannya.. InsyaAllah kami akan terus belajar dan memperbaiki tulisan-tulisan kami kedepannya.. Terima kasih sudah berkunjung ke web FSLDK Indonesia :)

Leave a Reply

Categories